Ketika Hal Buruk Terjadi

Posted in Life Hacks by

Kemarin mamak Astri Kunto melalui akun twitternya ngomongin tentang perempuan yang hidupnya tergantung penuh pada suami, alias nggak punya penghasilan sendiri. Yang dibahas adalah, bagaimana seandainya suami meninggal lebih dahulu? Ini tentu berat karena untuk ibu rumah tangga seperti saya kehilangan suami selain kehilangan pasangan hidup, orang yang saya cintai, berarti hilang juga pencari nafkah utama dalam keluarga.

financial planning

Akhir-akhir ini jujur saja hal itu sering terlintas dalam pikiran saya. Hidup cuma bertiga di negeri orang dengan kendali penuh rekening keluarga pada suami, gimana kalau terjadi sesuatu padanya. How will we survive? Can we?

Begitu juga seandainya suami memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan kita memilih hidup dengan anak-anak daripada menjalani poligami (amit-amit jabang bayi *ketok meja 3x), sampai kapan kita mampu bertahan hidup dari harta gono gini.

Maka itu penting sekali merencanakan safety steps dalam menghadapi keadaan darurat ini. Toh, yang namanya umur dan jodoh itu meski kita sudah berusaha sebaik mungkin tetap saja ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa saja sih? Ini adalah beberapa yang terpikir oleh saya, silakan menambahkan jika ada yang kurang:


Bekerja

Bekerja nggak harus di kantor. Membuat online shop seperti yang banyak dilakukan ibu rumah tangga belakangan ini, menggeluti MLM, menjadi paid blogger juga termasuk bekerja. Istilah kerennya working at home mom. Minimal kita punya penghasilan sendiri yang rutin agar tidak 100% tergantung secara finansial kepada suami.

Nggak tahu mau kerja apa? Nah hobinya apa? Masak? Bikin kue? Fotografi? Nulis? Ngetwit dan punya ribuan follower? Semua itu bisa jadi lahan pekerjaan lho kalau ditekuni dengan serius. Suka masak bisa bikin katering, hobi bikin kue bisa dikembangkan jadi toko kue online. Nggak sedikit kok ibu-ibu yang sukses di bidang ini.

Saving for Rainy Days

Dilarang bekerja oleh suami? Marilah kita menyisihkan sebagian uang belanja untuk ditabung. Tentu harus didiskusikan lebih dulu sama suami ya, karena saya baru diingatkan seorang teman bahwa harta suami yang diamanahkan ke kita itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Tabungan ini penting. WAJIB punya, apalagi kalau kendali keuangan sepenuhnya dipegang oleh suami. Usahakan minimal kita punya tabungan minimal sebesar 3 kali pengeluaran bulanan. Masukkan dalam pos dana darurat yang hanya bisa digunakan benar-benar saat keadaan darurat. Ingat, The Great Singapore Sale saat lagi bokek berat bukan termasuk kondisi darurat, meski tas idaman diskon 70% dan yang kita punya sudah butut sekalipun.

Keadaan darurat ya berarti yang saya sebutkan di atas, saat kehilangan pencari nafkah (suami di PHK, meninggal atau bercerai) atau orang tua sakit dan butuh biaya perawatan.

Asuransi Jiwa

Ketika pencari nafkah utama kita meninggal dalam kondisi kita tidak bekerja, uang yang didapat dari asuransi jiwa ini bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara sampai kita mendapatkan pekerjaan. Please remember bahwa nggak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini, apalagi kalau sudah sekian tahun tidak bekerja. Dengan adanya asuransi jiwa ini minimal kita nggak akan langsung jatuh miskin meski pasti harus mengetatkan beberapa pos pengeluaran. Biaya anak-anak sekolah pun tetap bisa tercover.

Nah, yuk mari berdiskusi dengan suami, menyiapkan tindakan preventif jika terjadi kondisi darurat. Belajar mengatur keuangan sebaik mungkin, jangan boros untuk hal-hal yang sifatnya tersier *ngomong sama kaca*.

Sedangkan untuk para suami yang lebih suka istrinya di rumah, total menjadi ibu rumah tangga mengurus Anda dan anak, please make sure orang-orang yang menyayangi Anda ini tidak terlantar saat Anda diPHK, meninggal atau memilih untuk bercerai.

Mar 16, 2012
Previous Post Next Post

You may also like