Kekhawatiran Seorang Ibu

 Sejak jadi mama, saya jadi sering khawatir. Tentunya mengenai hal yang berkaitan dengan Cinta atau saya. Mulai dari takut Cinta makan-makanan yang nggak bergizi trus kena penyakit macam-macam, khawatir kakinya Cinta terjepit di eskalator dan masih banyak lagi. Nggak jarang bayangan buruk itu melintas seketika di pikiran saya dan menjadikan ketakutan tak beralasan itu nampak nyata.

Belakangan ini lagi ramai mendengar orang bicara soal bencana, pun beritanya marak di koran dan televisi. Sebut saja kecelakaan pesawat, tanah longsor, gempa, kecelakaan kereta sampai kecelakaan mobil. Jujur aja, buat saya yang gampang kepikiran ini, berita-berita itu selain menimbulkan simpati untuk para korban, juga memunculkan kecemasan baru. What if it happen to us.

Pagi ini saya membaca berita tentang seorang anak yang terpisah selama 7 tahun dari orang tuanya karena musibah tsunami di Aceh. Dalam jangka waktu itu dia diasuh oleh seseorang yang ternyata memanfaatkannya untuk mengemis. Hidup terlunta-lunta di jalan, dipukuli, tidur di emperan toko, makan seadanya sampai akhirnya setelah diusir oleh si ibu angkat ia bisa pulang ke kampung dan bertemu orang tua kandungnya. Huaaaa, sedih banget. Langsung terbayang Cinta yang saat itu lagi asik main sambil nonton tv.

Seandainya something bad happen to me, gimana nasib Cinta nanti. Akankah ada orang yang bisa mengurusnya lebih baik dari saya? Bagaimana kalau hidupnya jadi susah dan tidak bahagia. Bisakah dia tetap makan enak, sekolah dan bermain dengan ceria seperti sekarang?

Gara-gara kekhawatiran itu pula, tiap bepergian saya selalu membekali Cinta dengan tanda pengenal berisi nama, alamat dan no telpon orang yang bisa dihubungi selain saya. Norak ya? But that’s what my mom did to us when we travelling without her. Saya berharap kalau sesuatu terjadi pada saya dalam perjalanan itu, siapapun yang menemukan Cinta bisa lekas menghubungi keluarga kami. Supaya Cinta bisa kembali ke rumah, tempat paling aman dan nyaman buat dia.

Kecemasan itu pula yang tertuang dalam setiap doa, memintaNya supaya selalu melindungi Cinta. Doa  yang tak pernah putus, Insya Allah, selama hayat dikandung badan.

Nah, sejak marak prediksi terjadinya koronasi matahari pada akhir tahun 2012 nanti pun banyaknya bencana yang terjadi, saya jadi berpikir untuk menyiapkan survival kit untuk kami. Seperti baju, uang, bahan makanan kering, air, obat-obatan penting untuk waktu tertentu. Bahkan mulai sounding ke keluarga untuk menyiapkan hal yang sama. Yah, setidaknya kalau sesuatu terjadi minimal sudah  ada persiapan sampai bisa beradaptasi dengan keadaan baru. Meski saya tahu, Tuhan tetaplah menjadi penentu usia kita.

Well, nggak tahu deh, apakah semua ibu punya ketakutan berlebihan seperti ini atau saya aja yang terlalu paranoid, ya?

Dec 26, 2011
Previous Post Next Post

You may also like