Kamu dan Lelakimu

Posted in Uncategorized by

Kamu yang sedang termenung di teras rumah, memandangi langit malam yang tak berbintang. Riang menanti kedatangan lelakimu.

Lihatlah, minidress warna salem yang kau kenakan, serasi sekali dengan kulit putihmu. Pulasan lipstik tipis menyegarkan wajahmu yang lelah setelah seharian berkutat dengan meeting. Dua porsi lasagna bikinanmu sudah terhidang di meja makan. Hangat. Semua demi menyenangkan lelakimu.

Ya, hari ini dia berjanji datang ke rumahmu. Kau tak sabar untuk bisa bercengkerama berdua, bercerita tentang sepinya hari tanpanya, berkisah tentang rindu yang tertahan. Apa? Oh, kamu berharap malam ini dia akan mengajakmu pergi. Tentu kau tak sabar ingin memamerkan lelaki tampan itu pada dunia. Membuat iri perempuan lain atas keberuntunganmu.

Hei, kenapa tiba-tiba raut wajahmu berubah sendu setelah menerima telfon? Apakah dia tak jadi datang? Ah, yaaa… Kali ini kau harus mengalah lagi. Ada pilu di senyummu saat berkata, “Ya sudah, tak apa. Mereka memang lebih penting dariku. Tapi datanglah esok ya, aku rindu,” pintamu menahan isak.

Hhhhh… Lagi-lagi begini, sampai kapan kau akan bertahan?

Pikiranmu melayang, menyusuri sebuah kenangan di suatu waktu.

Aku mencintaimu, sayang.

Bagaimana dengan dia?

Ah, aku menikahinya karena terpaksa. Ia hamil padahal aku tak serius dengannya.

Lalu, kenapa tak kau ceraikan saja dia? Dan hidup bersamaku. Kamu pasti akan lebih bahagia bersamaku.

Aku tak bisa, cintaku.

Kenapa?

Bagaimana dengan anak-anakku? Hidupku? Dia pernah berkata jika aku pergi aku akan kehilangan semua. Lagipula penghasilannya lebih besar dariku. Bagaimana aku mampu hidup tanpanya?

Tapi percayalah, sejak bersamamu tak pernah aku menyentuhnya lagi. Hatiku, tubuhku, jiwaku, hanya untukmu.

Lelakimu menutup pembicaraan malam itu dengan menciumi tanganmu, lehermu, lalu bibirmu, dan kamupun terbuai dengan cumbunya. Senyummu lebar, penuh kebahagiaan. Ya, kamu menang. Kamulah cinta sejatinya, bukan perempuan itu. I’m a happy mistress, pikirmu waktu itu.

Tapi malam ini kamu mulai ragu, mungkinkah ia benar mencintaimu. Atau hanya ucapan manis di bibir untuk mendapatkanmu, seperti ia membuai ibu dari anak-anaknya dulu.

Gambar diambil dari sini.

Jan 31, 2013
Previous Post Next Post

Yuk baca ini juga