Siapa yang tidak kenal dengan kak Ros dan Opah? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah.

Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. 

Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan.

Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda.

Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba.

Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif.

Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu.

Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai.

Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

One thought on “(Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top
error: Content is protected !!