Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Dear Mama,

Selamat Hari Ibu atau Hari Perempuan atau apapunlah namanya.

Selamat atas peluncuran buku antologi-nya bersama komunitas Perempuan Menulis para alumnus Sirikit School of Writing. I’m a very proud daughter, as always.

Mama,

Terima kasih telah menyintaiku tanpa batas. Terima kasih selalu mengingatkanku bahwa untuk bisa menyayangi keluarga, aku harus bisa menyintai diriku sendiri. Kalau kata pramugari di maskapai penerbangan sih, “Safe yourself before helping others.”

Terima kasih selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan aku curhat walaupun kita dibatasi oleh laut. Untuk selalu memberiku semangat, saran dan kritik. Tak bosan menyuruhku untuk bersujud kepadaNya saat semua terasa melelahkan.

Dear Mama,

Mungkin semilyar kata terima kasih tak akan cukup membalas semua kasih sayangmu terhadapku maupun cucu-cucumu. Sungguh, aku bersyukur karena Tuhan mengijinkanmu membantuku melewati masa post partum depression. Entah apa yang akan terjadi padaku dan cucumu, kalau mama tak sigap menolongku waktu itu.

Aku tahu kita tak selalu sejalan tapi cintamu yang begitu besar membuatmu mau berusaha memahami kami. Bahkan saat kami tak layak dicintai sekalipun.

Darimu aku belajar bahwa cinta itu tidak berarti memberi semua, tidak selalu melayani. Disiplin dan tegas adalah caramu mendidik kami. Cobaan yang kita hadapi bersama dulu, menjadikanmu keras supaya kami bisa tetap hidup layak meski tanpa sosok seorang ayah mendampingi kita.

Masih teringat saat mama membelikan sepatu bermerk untuk Keenan. “Dulu, mamamu mau beli sepatu aja susah, Nak. Alhamdulillah sekarang anak-anaknya bisa dapat semua yang bagus,” ujarmu kala itu.

Ya, limpahan kasih kepada ketiga cucu mama mungkin merupakan caramu menebus apa yang tidak mampu kita lakukan dulu. Bukan hanya soal materi tapi juga hal yang sederhana, seperti pelukan.

“Mama dulu kan nggak ngalamin sama kalian peluk-peluk. Ya agak kaget juga tidur sama Cinta tahu-tahu dia meluk mama. Oh, gini to rasanya dipeluk tangan kecil,” kenangmu saat mengunjungi kami di Brunei.

Ya Ma, mungkin kita dulu tak banyak bersentuhan secara fisik. Tidak pula mengumbar kata sayang. Tapi aku tahu mama selalu menyayangi kami. Selamanya. Tanpa pernah berakhir. Semoga.

Dec 22, 2013
Previous Post Next Post

You may also like