No More, Please

No… No… No…
Don’t treat her like she’s the bad guy.
Stop those mean words.
She’s not the one who made a mistake.

It’s you, keep on doing those things to her.
All that she want is you say you’re sorry.
Hug her and tell her it won’t happen again.
That’s it.

Would you? Could you?

What’s Up, World?

Haiii… Hellooo… Apa kabaar?

Huah, sudah 3 minggu nggak nengokin blog tercinta ini. Been on vacation, tepatnya sih pulang kampung. Kumpul keluarga, ketemu teman-teman. Menyenangkan sekali. Banyak hal menarik yang terjadi dan pengen diposting tapi karena sibuk ngider ke sana ke mari jadi ga punya waktu buka laptop. Maklum, mumpung di kampung halaman jadi pengennya jalan-jalan mulu. Jangankan posting, nengokin workshop online menulis cerita anak di Blogfam aja nggak sempat. Apalagi ngerjain tugasnya. Duh, kalo itu sekolahan mungkin saya sudah diskors.

Selain itu juga abis pindahan hosting. Pas ada waktu online, saya pakai untuk bener-benerin blog, pindahin postingan, cari themes yang cocok, install plugins. Time flies dan baru sadar kalo masih punya utang ngerjain laporan keuangan dan rekap peserta Seminar PESAT 5 Jatim yang lalu, juga postingan di blog bareng ibu-ibu keren CeritaBundas. Many things to do but today I’m to lazy to do anything :D. Selamat hari Sabtu, mari bersenang-senang dengan orang-orang tercinta.

Coretan Iseng

I need to write…
I need to talk…
To release all these crazy feelings

But…

Don’t know what to write
Already ran out of words
Can’t talk anymore

Aaaarrrgggghhhh!!!!

Stop coming back to me
Stop haunting me!
I just wanna be free
Be happy
Just like I used to be

Jangan Asal Posting

Baca tulisannya MbakDos di blognya yang keren itu, membuat saya teringat pada percakapan dengan suami beberapa malam lalu. Waktu itu saya sedang kesal karena timeline Twitter penuh dengan RT-an twit seorang public figure yang sedang menerangkan suatu hal. Kalau sekedar RT, saya nggak masalah tapi kali ini dan tiap kali orang tersebut ngetwit mengenai suatu hal, pasti banyak sekali RT-an twit dia yang ditambah dengan caci maki. Sayangnya kebanyakan orang yang nge-RT itu nggak follow bapak itu.

Kebetulan saya follow beliau, jujur saya suka baca twit-twitnya tentang banyak hal. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tiap beliau membahas sesuatu. Setuju atau tidak dengan pendapat beliau, itu lain soal. Karena saya mengikuti kicauannya, jelas saya tahu apa yang dia maksud. Sedangkan mereka-mereka yang tidak mengikuti beliau cuma sekedar meneruskan RT dari temannya, temannya lagi tanpa mau bersusah payah menengok timeline bapak itu. Sehingga pesan yang didapat hanya separuh dan yang separuh itu kadang bisa menyesatkan lalu muncul caci maki dan sumpah serapah di timeline saya.

Saya kesal bukan karena ngefans sama beliau sehingga nggak terima beliau dicacimaki gitu. Asli enggak! Saya kesal karena para pekicau itu hanya mau membaca apa yang mereka mau baca. Sama seperti kesal karena memperoleh broadcast message atau email atau sms berantai, dimana si pengirim tidak mau sedikit berupaya konfirmasi kebenaran, yang belakangan ternyata salah. Kalau tidak merugikan pihak lain sih mungkin nggak papa, anggap saja iseng tapi jika lantas ada yang merasa tersakiti lalu menuntut kita atas pesan-pesan itu bagaimana?

Seruan Pikir Sebelum Publish dari MbakDos ini merupakan pengingat bagi saya juga untuk berhati-hati dalam menuliskan sesuatu di tempat yang bisa diakses umum, termasuk disini, Facebook, Twitter, Plurk dan jaringan sosial lainnya.

Mimpi

Semalam saya bermimpi, mimpi yang aneh dengan akhir yang indah. Mimpi tentang seorang perempuan, lelaki dan seorang gadis. Adegan-adegannya begitu indahnya hingga cocok dibuat video klip lagu tentang cinta.

Dimulai dari perempuan itu yang memergoki lelakinya di atas ranjang dengan seorang gadis. Ia marah, meradang, mengamuk dan memaksa si lelaki pergi bersamanya. Lelaki itu tampak sedih dan ragu, ia memandangi gadisnya yang tertidur. Membisikkan kalimat, “Selamat tidur sayang” lalu turun dan membereskan barang-barangnya. Si perempuan masih mengumbar emosinya, dia memaki dan mengancam gadis itu. Ia tumpahkan semua sakit hati, marah dan kecewa kepada perebut suaminya.

Gadis itu terbangun dan mendapati lelakinya pergi. Saat tidur pun ia bisa mendengar caci maki dan teriakan itu. Hatinya sakit tapi ia terlalu mencintai lelaki itu untuk bisa melepasnya pergi.

Di sebuah apartemen, seorang perempuan dan lelakinya turun tergesa melalui lift. Lelaki itu diam, seribu pikiran berkecamuk di benaknya. Si perempuan tampak lesu. Keluar dari lift mereka menuruni tangga dan ternyata gadis itu telah menunggu di ujung tangga. Lelaki itu terhenti langkahnya, ia termangu di tengah tangga. Pun gadisnya tak bergerak dan perempuan itu berhenti beberapa langkah di belakang lelakinya. Waktu seakan berhenti, tak ada yang bergerak. Semua diam dicekam keraguannya.

Perempuan itu mendesah lelah, ia menatap gadis itu dan punggung lelakinya. Ia tahu seandainya lelaki itu bisa ia ajak pulang hatinya masih tinggal disini bersama gadisnya. Perempuan itu berjalan melewati mereka, entah darimana seorang anak kecil menyambutnya. Ia memeluknya erat. Tinggal ini hartanya saat ini. Ia membisikkan dan menyerahkan sesuatu kepada anak itu lalu memintanya berjalan ke lelaki itu. Anak itu menghampiri ayahnya, memeluknya dengan penuh rasa sayang. Menyerahkan barang yang diberikan ibunya. Lalu berlari kembali kepada perempuan itu yang kemudian menggendongnya.

Perempuan itu menoleh ke belakang, memandang lelakinya dan tatapan mereka bertemu. Ia tersenyum indah sekali. Wajahnya menyiratkan kelegaan dan kebahagiaan walaupun duka masih nampak di matanya. Anaknya melambaikan tangan & memberikan ciuman jauh. Mereka lalu menghilang di balik pintu lobby diiringi dengan hembusan angin yang menerpa rambut perempuan itu.

Lelaki itu tertegun, lalu memandangi cincin kawin istrinya yang tergantung bersama kunci mobil yang tadi diserahkan anak kecil itu. Ia tahu kini mereka telah pergi, keluarganya telah hilang.