Browsing Category:

Review

  • Review, Traveling

    Cinta dan Princess Fairytale di SMS

    PhotobucketBeberapa waktu yang lalu, papanya Cinta ngajak jalan-jalan ke Summarecon Mall Serpong yang ada di Gading Serpong itu. Tiap pulang ke Jakarta, si papa suka banget jalan-jalan ke sana dan memang kami ke sana cuma kalo beliau ada di sini, karena saya malas harus bermacet-macet ria di depan Giant Serpong itu. Begitu mendekati SMS, banyak sekali baliho gambar Princess dengan background pink. Cinta yang suka banget sama sesuatu yang berbau-bau princess Disney dan pink langsung semangat pengen liat Princess. Ternyata memang di SMS lagi ada acara Disney Princess Fairytale Princess mulai tanggal 2 Desember 2010 – 9 Januari 2011.

    Setelah membaca sekilas baliho yang ada, kami langsung menuju lobi selatan SMS untuk melihat magic mirror. Booth ini menampilkan 2 buah “cermin ajaib” yang diletakkan di depan kastil kecil. Setelah daftar dan antri sebentar, giliran Cinta untuk mencoba pun tiba. Dia diminta untuk berdiri di depan cermin lalu dipakaikan semacam celemek setelah itu mbak SPG memencet-mencet semacam joystick dan voila, yang muncul di cermin adalah bayangan Cinta mengenakan baju princess lengkap dengan rambutnya. Cinta seneng banget, apalagi baju yang muncul di kaca berganti-ganti, mulai dari Snow White, Aurora, Cinderella dan Belle. Setelah Cinta selesai, SPGnya menawarkan saya untuk mencoba, ternyata nggak cuma untuk anak kecil, orang dewasa pun bisa mencoba bercentil-centil di cermin ajaib. Gratis lagi.


    PhotobucketPhotobucket

    PhotobucketPhotobucket
    Selesai ngaca, Cinta tertarik sama dekorasi kereta labu a la Cinderella yang ada di sebelah booth magic mirror. Rupanya ada stan foto a la Princess. Dengan membayar sebesar Rp 60.000,00 kita bisa foto memakai kostum princess yang sudah disediakan plus make up dan dapat hasil cetak foto sebesar 6R. Kalau mau menyimpan file-file foto di CD bisa nambah Rp 15.000,00 per 3 foto. Hasil foto dan copy CD bisa ditunggu selama 30 menit. Dasarnya Cinta emang suka banget foto apalagi a la Princess, dia pun dengan senang hati berpose di dalam kereta labu dan di depan pohon terang. Sayang, kostum untuk anak seukuran seumuran Cinta sangat terbatas, cuma ada gaun Ariel yang dipakai Cinta ini dan Snow White.

    Abis foto-foto, sambil nunggu hasilnya kami main di Timezone. Selagi Cinta dan papanya main, saya berjalan-jalan di sekeliling Timezone dan melihat ada panggung seperti istana para putri negeri dongengnya Disney di atrium SMS, bagus banget. “Istana” ini nantinya akan jadi tempat meet and greet para princess dan panggung Princess Competition. Sayang waktu kita ke sana nggak pas jadwal meet and greet yang diadakan mulai tanggal 12 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011 tiap hari Minggu mulai jam 16.30 WIB.

    Tadinya saya pengen mendaftarkan Cinta ikut Princess Competition, kebetulan kami punya kostum Aurora yang dipakai Cinta waktu ulang tahunnya yang ke-3. Tapi ternyata lomba itu diperuntukkan untuk anak usia 6-12 tahun. Padahal hadiahnya seru, jalan-jalan ke Hongkong Disneyland. Yah, mungkin 3 tahun lagi ya Cin.

    Meski nggak bisa naik panggung karena ditutup, kami cukup puas dengan melihat-lihat dan menikmati berbagai benda-benda khas princess yang dijual di sekitar panggung. Mulai dari baju, perlengkapan sekolah dan makan sampai sandal, CD dan aksesoris. Cinta pun dapat jatah beli satu buah cincin bergambar tempel Aurora yang sayangnya sekarang sudah copot dari cincinnya. Berhubung Cinta sudah ngantuk, yang ditandai dengan tangisan meminta dibelikan buku lah, mainan lah, kami pun memutuskan untuk pulang sebelum tantrumnya bertambah hebat. Tapi saya berjanji akan mengajak Cinta ke sana lagi tanggal 9 Januari untuk meet and greet with all Princess. Sampai jumpa tahun depan Princesses.

  • Movies & Music

    The Chronicle of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

    PhotobucketSaya memang bukan fan berat Narnia bahkan belum pernah baca bukunya, tapi setelah melihat beberapa filmnya di saluran HBO, saya berniat untuk nonton sequel yang ini. Apalagi suami mau menemani, jadi inilah kesempatan untuk pacaran berdua tanpa Cinta. Itupun pakai acara nyaris terlambat dan dapat kursi di barisan nomor 2 dari depan yang lumayan bikin pegal leher dan mata. Dan ternyata saya menaruh harapan terlalu tinggi terhadap film ini, apalagi karena sebelumnya nonton Harry Potter. Saya pikir, minimal selevel dengan HarPot. Meskipun demikian banyak yang bisa dipelajari dari The Voyage of the Dawn Treader. Tapi hal yang paling menyenangkan adalah bisa nonton berdua suami setelah sekian tahun 😀

    Back to Narnia, semua orang pasti punya comfort zone, sebuah tempat atau kondisi di mana kita selalu merasa nyaman dan aman. Lingkungan yang selalu menyenangkan dan membuat kita merasa terlindungi serta bisa dikendalikan. Buat saya, mungkin comfort zone itu adalah rumah mama saya, tempat yang selalu saya rindukan saat sedang gundah dan merasa keadaan terlalu berat atau menjemukan. Lucy dan Edmund Pevensie selalu punya Narnia sebagai “rumah” yang mereka rindukan. Apalagi di sequel terbaru ini mereka harus tinggal di rumah paman dan bibi bersama sepupu Eustace Scrubb yang menyebalkan.

    PhotobucketLucy, Edmund dan Eustace terlibat dalam petualangan baru bersama King Caspian X dan kapal Dawn Treader untuk mencari 7 bangsawan Narnia yang hilang. Ternyata pencarian itu membawa mereka dalam pertempuran melawan kekuatan jahat yang ada di balik Dark Island. Eustace yang awalnya adalah anak manja, usil dan menyebalkan berubah menjadi seekor naga karena keserakahannya ketika melihat tumpukan emas di Deathwater Island. Tapi perubahan itu justru membuat Eustace menjadi pribadi yang lebih baik berkat bimbingan tikus yang bisa ngomong Reepicheep.

    “Before you defeat the darkness out there, first you have to defeat the darkness inside yourself” – Coriakin

    Caspian, Lucy dan Edmund juga harus berperang melawan “kegelapan” dalam diri mereka. Caspian yang begitu ingin membanggakan ayahnya sangat khawatir ketika bayangan sang ayah berkata bahwa ia mengecewakan. Sedangkan Lucy sangat berharap bisa menjadi secantik Susan, kakaknya yang anggun, sehingga ia mencuri mantra dari kastil Coriakin. Edmund sendiri merasa lelah menjadi “orang nomor dua” dalam keluarga maupun Narnia. Dia dibayangi oleh White Witch yang berjanji menjadikannya raja di Narnia jika Edmund mau ikut dengannya.

    Kita juga pasti punya ketakutan atau sisi gelap dalam diri masing-masing, seringkali hal itu yang menghambat kita untuk melangkah ke arah yang lebih baik atau bahkan menjadikan kita pribadi yang tidak menyenangkan. Tapi ketika kita bisa mengenali ketakutan itu dan mengatasinya, change might happen, either it become better or worse but always worth taking. Pun, senyaman-nyamannya kita berada di comfort zone, untuk bisa maju mau nggak mau harus keluar dari lingkungan tersebut. Pasti dibutuhkan banyak usaha, keberanian, kepedihan untuk bisa keluar dari situ. Ketika menghadapi tantangan tersebut pun ada dua pilihan, yang pertama adalah berhenti dan terus mengeluh atas hidup yang kita jalani. Atau terus berjuang sampai bisa merasa nyaman akan diri sendiri sehingga di manapun berada, kita akan selalu bisa menemukan zona nyaman itu.

  • Movies & Music

    [Movie Review] Motherhood: Saya Banget

    Sebenarnya sudah lama banget punya DVD film Motherhood ini tapi baru hari Rabu kemarin sempat nonton itupun sambil setrika, memanfaatkan waktu luang ketika Cinta lagi di sekolah *grin*. Tertarik beli DVD ini karena tawaran mas penjaga lapak yang liat saya kerepotan pilih pilih film sambil ngawasin Cinta yang lari ke sana ke mari. Liat sinopsis di balik bungkus DVD sepertinya menarik, juga tagline filmnya yang berbunyi “There are no time-outs in Motherhood”.

    movie,motherhood

    Baru liat 5 menit pertama aja udah ngerasa kalo karakter Eliza Welsh yang diperankan oleh Uma Thurman ini gue banget, urban mama (cieee ngaku ngaku lo) tanpa ART (baru beberapa minggu aja padahal) yang berkutat dengan kesibukan mengurus rumah dan anak, punya parenting blog (eh kalo saya daily blog aja sih), suami yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga jarang banget bisa dimintain bantuan. Bedanya Eliza tinggal di kawasan hip New York sementara saya tinggal di sebuah perumahan yang ada di pinggiran Bogor dan nyaris tak tersentuh koneksi internet (curcol), dia punya 2 anak sedangkan saya baru punya 1, suami Eliza punya pekerjaan yang waktunya fleksibel, lha saya sudah cukup bersyukur bisa ketemu suami tiap 2 bulan *jadi curhat beneran*

    Intinya sih, film ini benar-benar mengisahkan tentang kehidupan ibu rumah tangga yang super ribet, mulai dari bangun pagi, nyuri nyuri waktu untuk bisa ngeblog ketika semua anggota keluarga masih tidur di pagi hari atau sambil nemenin anak main di taman, nyiapin pesta ulang tahun anak sendiri, punya tetangga yang nyebelin, punya sahabat yang bisa diajak ngobrol tentang anak. Tepat di hari ulang tahun anaknya, Eliza pengen ikutan kontes menulis esai tentang motherhood yang berhadiah ribuan dolar dan kesempatan untuk jadi kolomnis di sebuah majalah parenting. Di sela sela kesibukannya itu, shit happened dan Eliza yang sudah kelelahan dan jenuh dengan kegiatan sehari-harinya memutuskan untuk kabur dari rumah (well, who wouldn’t?)

    Motherhood is about accepting the limitations of time and energy, which stretch behind you, even if sometimes it feels they could consume you. Search for and hold on to your own true self. If you lose that, what kind of mother can you be?

    Kalau pengen tahu akhir ceritanya harus nonton sendiri, it’s worth to see kok meski bukan termasuk salah satu film yang masuk box office. Kalau perlu ajak suami untuk nonton biar dia paham apa yang kita hadapi sehari-hari dan mengerti kalau sesekali kita butuh me time, kangen dicintai suami seperti waktu masih pengantin baru, perlu sesuatu untuk dikerjakan di luar aktivitas mommy things dan yang penting adalah kita, eh saya aja deng, juga harus bisa memahami keterbatasan saya dalam menghandle semua hal. It’s okay to pause and sit down a bit, beri waktu untuk diri sendiri bernafas dan menikmati hidup. Lakukan sesuatu yang disuka sebagai keseimbangan jiwa, entah itu bekerja di rumah, bekerja di luar rumah, sekedar menulis atau apapun lah.

    Eliza: It means mommy might get a real job.
    Clara: But I don’t want you to get a real job.
    Eliza: Why not? It’s good when mommies work. It keeps mommies happy. It keeps them from being mean, nasty, yelling mommies. What about daddies? Should daddies not work, too? Why moms and not dads, hmm? Elighten me.
    Clara: ‘Cause moms do everything. Dads only do some things. It’s different.

    Oya, jangan lupakan komunikasi dengan suami. Itu yang penting, kadang kita *eerrrr elu aja kali Fla* merasa kok kita saya aja sih yang ngerjain semuanya, kok suami ga mau bantu bantu. Ngerti gak sih dia kalo saya capek? Lha gimana mau ngerti kalau nggak bilang, cuma ngomel nggak jelas, manyun seharian. Suami bukan pembaca pikiran toh? Siapa tahu setelah ngobrol, malah dapat pencerahan kalau ternyata nggak cuma kita sebagai ibu dan istri yang sudah mengorbankan banyak hal untuk keluarga. Suami pun begitu. Seperti suami saya sering bilang, seandainya bisa, dia pengennya ya ada dekat kami setiap saat, tapi apa yang dia kerjakan sekarang sampai bela belain jauh dari keluarga, ketemu anak kesayangannya cuma 2 minggu tiap 2 bulannya ya demi kami, anak dan istrinya.

  • Movies & Music

    Buntut Tom Yam dan Soto Betawi Rumah Mode

    Waktu ke Bandung 2 minggu yang lalu sebelum belanja belanji di Rumah Mode, kami menyempatkan makan di Food Courtnya. Karena baru pertama kali ke situ, saya bertanya kepada pramusaji makanan apa yang jadi favorit di sana dan ia menyarankan Buntut Tom Yam. Sedangkan mama dan Cinta makan Soto Betawi semangkuk berdua. Kebetulan waktu itu sedang hujan deras sehingga makanan berkuah hangat rasanya pas untuk mengisi perut yang keroncongan dan kedinginan.

    Buntut Tom Yam

    eatandbake

    Dari tampilan dan baunya serta asap yang mengebul dari mangkuk sepertinya Buntut Tom Yam ini rasanya enak. Apalagi disajikan dengan nasi hangat di tengah dinginnya kota Bandung. Menjanjikan sekali. Pertama kali mencicipi kuahnya rasanya cukup segar, mirip dengan seafood tom yam tapi terasa pahit. Awalnya agak samar tapi setelah diaduk malah rasa pahit itu semakin kuat. Malah rasa khas tom yamnya tertutup oleh pahitnya. Entah memang begitu rasanya atau ada kesalahan dalam peracikan bumbu hari itu. Tapi daging buntutnya enak, gurih dan empuk sekali jadi rasa aneh karena makan kuah pahit jadi terobati dengan banyak makan dagingnya.

    Buntut Tom Yam

    Soto Betawi

    Soto Betawi

    Mama saya suka sekali Soto Betawi sehingga di tempat ini tanpa pikir panjang langsung pilih menu ini. Begitu datang langsung menyuapi Cinta yang lahap sekali makan nasi dan kuah Soto sampai habis lebih dari separuh porsi nasi. Setelah Cinta selesai makan, kami mencoba Soto Betawi ini yang ternyata rasanya mirip Opor bukannya seperti kebanyakan Soto Betawi di Jakarta.

    Ulasan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak bermaksud mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.

  • Books

    Majalah Favorit

    majalah

    Memilih majalah yang cocok dan disukai Cinta ternyata gampang-gampang susah. Sejak usianya 1 tahun, saya sudah suka membelikan majalah  dan buku untuk Cinta, sekedar mengenalkan tentang buku dan sebagai bahan bacaan atau kegiatan saya dan Cinta. Awalnya sih semua majalah dicoba, mulai dari Playhouse Disney, majalah Disney Princess (ada dua seri setiap bulannya), Bobo, Mentari dan Bona. Sampai lama-lama semua karakter Disney ada majalahnya; Winnie the Pooh, Tinkerbell dan yang terakhir Toy Story. Begitu juga dengan karakter dari CBeebies ada Charlie and Lola dan In The Night Garden. Kurang Barney and Friends, The Backyardigans, Thomas dan Strawberry Shortcake yang belum ada 😀

    Favorit Cinta sih majalah Princess dan sejak rajin baca itu dia ingin sekali jadi seorang Princess, mulai dari pilihan bajunya yang harus serba pink dan terusan, sepatu yang feminin sampai memanggil dirinya Princess Cinta 😀 Sayangnya di antara sekian banyak majalah isinya ya serupa, pasti ada cergam, mewarnai, mencari perbedaan gambar. Ada sih majalah National Geographic for Kids tapi Cinta kurang tertarik waktu ditunjukin dan akhirnya nggak jadi beli. Yah, namanya juga majalah untuk anak-anak balita juga aktivitas di dalamnya begitu-begitu aja.

    majalah

    Sampai akhirnya waktu belanja di Giant, liat edisi pertama majalah Charlie and Lola dan iseng beli walaupun udah skeptis duluan paling isinya nggak jauh beda dari yang lain. Ternyata banyak sekali prakarya yang bisa dikerjakan di majalah itu. Mulai dari menggunting, menempel, bikin bunga, menghias “rumah”nya Charlie dan Lola dan masih banyak lagi. Saya suka karena bisa mengajak Cinta berkreasi dengan majalah itu, Cinta juga suka karena dia bisa menggunting dan menempel sesukanya sampai tembok rumah jadi korban :'( Bahkan saking ngefans-nya sama majalah ini sampe dibelain jauh-jauh ke M&B Fair cuma untuk ikut Children Art & Creativity with Charlie & Lola.

    Sekarang sih sudah nggak terlalu kalap beli majalah lagi. Yang rutin ya si Charlie & Lola dan Playhouse Disney karena ceritanya banyak, ada Little Einstein, Higgly Town Heroes, Handy Manny sampai Mickey Mouse dan teman-temannya. Majalah Princess masih sesekali, kalau pas liat di kios majalah pasti majalah ini yang dipilih sama Cinta. Apapun pilihan majalahnya sih, sebenarnya bagi saya semuanya bagus, tinggal mana yang paling cocok untuk kebutuhan dan kesukaan si kecil aja. Selamat membaca.

  • Review, Traveling

    Mother & Baby Fair 2010

    Majalah Mother & Baby Indonesia tahun ini menyelenggarakan event tahunannya Mother & Baby Fair untuk yang ke-3 kalinya. Dari tahun pertama, saya udah pengen banget bisa datang apalagi waktu itu baru-barunya punya bayi dan masih langganan majalahnya, jadi gema acara itu terasa banget. Tapi apa daya, rumah yang jauh dari lokasi acara membuat saya mundur teratur. Nggak mungkin dong ya jauh-jauh dari Sidoarjo ke Jakarta cuma buat lihat pameran Mother & Baby.

    Berhubung tahun ini sudah pindah ke daerah urban ibukota, akhirnya rasa penasaran itu bisa dipenuhi. Sempat bingung juga mau naik apa ke Balai Kartini Gatot Subroto tempat acara berlangsung secara belum berani bawa mobil sendiri ke tengah kota. Mau naik taksi tapi kok ya jauh banget, dari rumah ke CITOS aja kena 150 ribuan apalagi ke Gatot Subroto, pulang pergi pula 😀 Akhirnya memberanikan diri naik TransBSD, feeder busway dari BSD ke Ratu Plaza sama Cinta dan si mbak.

    M&B Fair

    Berangkat dari rumah jam 8.45, mobil diparkir di Taman Jajan BSD trus naik TransBSD yang jam 9.15. Sampai di Ratu Plaza sekitar jam 10 trus lanjut naik taksi ke Balai Kartini. Sampai disana masih lumayan sepi, beli tiket dulu untuk saya dan si mbak seharga Rp 5,000.00/orang, sementara Cinta nggak bayar alias gratis karena masih masuk usia balita. Dari awal tujuan ke Mother & Baby Fair cuma mau lihat-lihat dan ikut acara Creativity Art Children with Charlie & Lola salah satu karakter kartun anak-anak kesukaan kami dan janjian ketemu sama temen kuliah. Sambil nunggu acara Creativity Art kami keliling dulu lihat-lihat booth, eh sampai di stan-nya MRA Kids ada foto ala cover Charlie & Lola dan In The Night Garden. Langsung deh daftar untuk paket yang Rp 35,000.00 dapat 1 foto ala cover, 1 free activity dan majalah In The Night Garden. Setelah daftar langsung menuju panggung untuk ikut kegiatan MRA Kids. Cinta seneng banget naik panggung sama anak-anak lain, langsung duduk di sofa, trus kursi kecil sambil minta difoto. Tiba-tiba muncul Iggle Piggle salah satu karakter In The Night Garden, Cinta kaget, semangat sekaligus takut sampai nggak mau salaman tapi ngoceh dan ngeliatin si Iggle Piggle terus.

    M&B Fair

    Setelah kemunculan Iggle Piggle, acara membuat prakarya ala Charlie & Lola dimulai, kami pun dengan tekun menghias pot dan bunga dari kertas. Sayang nggak masuk 10 terbaik. Nggak apa-apa lah, yang penting sudah senang berpartisipasi dan ketemu Iggle Piggle. Lalu kami kembali ke booth MRA Kids untuk foto ala cover, sambil nunggu giliran, Cinta mewarnai dulu ditungguin si mbak sementara mamanya lihat-lihat stan yang nggak jauh dari situ. Pas kembali, pas waktunya Cinta difoto. Alhamdulillah, cukup gampang diarahkan, langsung berpose dengan sendirinya, yang rada susah adalah menyuruh dia lihat ke arah kamera. Sambil nungguin hasilnya, BBM-an sama mamanya Fayyadh dan kami janjian di depan panggung. Begitu ketemu langsung menuju ke food court, makan Bakmi GM sambil ngobrol.

    M&B Fair

    Ternyata Fay dan Cinta nggak betah lama-lama duduk untuk makan, mereka minta turun dan main di playground corner. Sambil nungguin mereka main, mampir di boothnya Little Bhubu dan akhirnya pesan satu kaos yang bertuliskan, “I’m Cute, My Mom’s Cute. My Daddy’s Lucky” buat Cinta. Abis itu muter-muter lagi sementara Fay dan mamanya Antik masih di arena bermain. Di antara sekian banyak stan, cuma nyantol di boothnya PlayDoh, mainan favoritnya Cinta. Sempat nyari foto saya dan Cinta yang pernah saya kirim ke majalah Mother & Baby di antara ribuan foto ibu & anak yang dipajang di pameran tapi nggak ketemu. Pengen beli karpet karet yang lagi diskon abis seharga Rp 50,000.00 tapi batal karena bingung bawanya. Nggak bisa lagi mampir ke stan satu-satu dengan santai karena arena pameran sudah padat, bahkan untuk jalan aja harus pelan-pelan.

    m,M&B Fair

    Nggak tahu harus merasa bersyukur atau aneh ketika keluar dari Mother & Baby Fair nyaris nggak bawa tentengan apa-apa kecuali setumpuk brosur dan 3 tabung PlayDoh
    yang lagi diskon buy 2 get 1. Sementara banyak barang diskonan, mulai dari mainan seperti Lego dan V-Tech yang diskon 20%, cloth diaper, kaos-kaos Made in Heaven¸
    Zaralde, piyama babyGAP yang lagi banyak dijual di toko online, tas popok HDY, bantal-bantal lucu dan masih banyak lagi. Yang menarik perhatian saya ya hanya MRA Kids, PlayDoh dan First Media. Tapi yang penting kami bersenang-senang di sana. Mengalami banyak hal yang menarik selama perjalanan berangkat dan pulang termasuk kehujanan di halte Ratu Plaza saat menunggu bis TransBSD selama 1 jam. Kalau ditanya apakah tahun depan kesana lagi atau enggak, hmmm… tergantung apakah di dalam perut sudah ada calon adeknya Cinta atau belum 😀

  • Books

    Tentang Jampi Jampi Varaiya dan Penyihir

    Ulang tahun kemarin dikasih kado buku Jampi Jampi Varaiya karangannya Clara Ng sama kakak ipar. Seneng banget dapat kado buku bacaan dan langsung habis dalam semalam 😀 Selain si JJV ini saya juga punya 2 buku karangannya Clara Ng yang lain, yaitu Malaikat Jatuh dan Cerita Lain sama Tiga Venus. Dibandingkan dengan 2 buku itu, menurut saya JJV bukan salah satu karya terbaiknya Clara Ng.

    Berbeda dengan Malaikat Jatuh yang gloomy atau Tiga Venus yang walaupun ringan tapi isi ceritanya bagus banget, Jampi Jampi Varaiya yang berkisah tentang petualangan 3 penyihir; Oryza, Xander dan Pax mencari ramuan anti racun untuk kakak dan adik Oryza: Zea dan Solantum di Pulau Varaiya ini agak cheesy. Mungkin karena kebanyakan dialog atau karakter Xander yang annoying sekali. Tapi ya lumayan lah buat hiburan, untung nggak beli sendiri hihihi dibalang lemari buku

    JJV memang lebih down to earth daripada Harry Potter, mungkin karena para tokohnya yang penyihir hidup dan bergaul di tengah masyarakat biasa. Dan ini mengingatkan saya pada cita-cita masa lalu untuk jadi penyihir. Beneran, gara-gara suka baca cergam Juwita, Nirmala, dan pak Janggut di majalah Bobo saya pernah sangat ingin jadi penyihir. Malah kadang berkhayal kalau saya ini sebenarnya adalah seorang penyihir. Tapi lantas cita-cita itu musnah karena baca di salah satu ramalan zodiac yang menyebutkan kalau kemungkinan orang berbintang Leo memiliki sixth sense atau kekuatan gaib itu paling kecil di antara zodiac yang lain. sigh

    Sampai sekarang masih suka segala sesuatu yang berhubungan dengan penyihir. Mulai dari serial Charmed, buku Harry Potter, komik-komik tentang penyihir pasti saya ikuti. Kehidupan penyihir itu sepertinya unik dan menarik. Di tengah kemudahannya melakukan sesuatu kalau kepingin apa-apa tinggal ucapin mantra atau ayunkan tongkat, sim salabim terwujudlah, mereka juga harus menyembunyikan jati dirinya, menjadi pribadi yang misterius tapi selalu dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya.

    Ada yang pernah ingin jadi penyihir juga? 🙂

  • Foods and Places

    Dinner @ Dome Supermal

    Yaaaiiiyyy… Paling seneng jalan-jalan malam minggu begini. Kali ini aku mau “women’s time” sama mama & adek. Tujuannya sih pengen cari buku resep & webcam lalu nongkrong di Dome. Sementara Cinta ditinggal di rumah dulu sama mbak.

    Sayangnya webcam nggak dapet, malah dapat hem muscle fit buat suami tercinta. Hope u’ll like it honz. Milihnya dengan cinta lho, dijamin makin ganteng deh kalau pakai itu huehehehe.

    Tujuan terakhir pasti Dome, duh liat menunya bikin bingung mau makan apa karena semua uenak. Berhubung lapar sekali akhirnya pilih pasta: fettucine carbonara, sedangkan mama & adek makan beef steak with mashed potato *nama aslinya lupa abis susah banget*

    Minumnya strawberry shake untukku, jasmine tea buat mama dan mineral water aja pesanan adek.

    Delicioso!!!! Bon apetite ☺

    Bekerja dari rumah bukan lagi mitos!

    Buktikan bersama jaringan full fasilitas d’BC Network! http://www.dbc-network.com/index.php?id=mybeautysecret