Browsing Category:

Review

  • Books, Life as Mom

    Satu Hari untuk Ibu

    Hari Minggu kemarin, saya dan Cinta juga adik dan adik ipar, nemenin mama datang ke acara Hari Ibu yang diselenggarakan komunitas Perempuan Menulis, sekaligus launching buku antologi mereka di Royal Plaza, Surabaya. Komunitas ini terdiri dari para alumni Sirikit School of Writing yang didirikan oleh seorang sastrawan, jurnalis dan peneliti idola saya, Sirikit Syah. Bu Sirikit ini 10 tahun yang lalu pernah menjadi dosen penguji tamu saat saya sidang skripsi. Dan dulu saya mengidolakan ibu yang super aktif ini, makanya seneng banget bisa ketemu beliau lagi. Apalagi beliau juga ingat saya sebagai salah satu mahasiswa yang pernah diujinya, meski universitas tempat beliau mengajar berbeda dengan tempat saya belajar.

    Oke, kembali ke topik. Di acara ini banyak kegiatan menarik. Ada lomba menggambar, yang kemudian diprotes Cinta karena menurutnya, “This is not a drawing competition. This is a coloring competition!”

    Sambil nunggu anak-anaknya menggambar mewarnai, para orang tua diajak mendengarkan talkshow tentang pengasuhan anak oleh Psikolog dari sebuah rumah sakit swasta di Surabaya yang juga ikut berpartisipasi dalam antologi “Let’s Talk About Mom.” Lumayan lah, buat refreshing karena sudah lamaaaaaa sekali nggak ikut talkshow gitu.

    Setelah acara untuk anak selesai dan sambil menunggu pengumuman pemenang lomba, ada talkshow tentang kecantikan dan kesehatan kulit dengan topik, “Apakah Kulit Putih Identik dengan Sehat dan Cantik?” dari Derma Estethic Centre. Tapi saya nggak ikut nih karena Cinta dan Yasmine, sepupunya pengen foto-foto di fotobox yang ada di sekitar area tersebut.

    Saat saya dan mama yang juga jadi panitia acara peringatan Hari Ibu ini kembali dari makan siang, talkshow “Membentuk Karakter Anak Lewat Menulis” yang dibawakan oleh pak Sutanto Leo sudah berlangsung hampir separuh jalan. Pak Sutanto Leo adalah penulis dari Bandung yang sudah menelurkan banyak buku. Beliau juga writing trainer dan konsultan penerbitan.

    Acara diakhiri dengan bagi-bagi doorprize dan foto bersama para panitia dan pembicara. Senang juga seharian ikut mama di acara komunitasnya. Jadi ikut tahu orang-orang baru. Bangga melihat mama dengan aktivitas barunya menjelang pensiun ini. Selamat Hari Perempuan, Indonesia. Semoga semakin banyak para perempuan yang mewariskan kearifan dan nilai-nilai hidupnya melalui tulisan.

  • Life Hacks, Review

    Perpanjang SIM, Nggak Repot Lagi

    Yelloooow… *lap lap blog*

    Huaaa sudah lama ya nggak nulis di sini. Sebenarnya banyak banget yang mau diceritain tapi apa daya antara keluarnya ide sama ketersediaan waktu untuk nulis tuh jarang sinkron (baca: malas). Tapi mumpung lagi mudik nih dan banyak santai karena nggak harus berkutat dengan antar jemput sekolah, laundry dan rumah dan piring kotor mau coba nulis dikit-dikit lagi.

    Kali ini mau cerita tentang pengalaman perpanjangan SIM alias surat ijin mengemudi yang akan habis masa berlakunya bulan Juli 2014. Masih lama sih tapi mumpung mudik lah jadi diurus sekalian daripada nunggu tahun depan takut keburu mati malah repot.

    Jujur aja sebenarnya agak malas ngurus kartu-kartu identitas yang berhubungan dengan pegawai pemerintahan atau aparat keamanan. Berdasarkan pengalaman nggak ada tuh yang cepat, nyaman dan menyenangkan. Apalagi ingat pas suami ngurus SIM yang sudah mati beberapa tahun dan alamat di SIM lama berbeda dengan alamat di KTP sekarang. Beuuuuh, harus cabut berkas lah, masukin berkas, lantas disuruh bikin baru, tes tulis, tes praktik, nggak lulus. Ulang tes lagi. Sampai akhirnya minta tolong “orang dalam” untuk urusin baru deh dapat tuh SIM.

    Makanya supaya nggak kejadian seperti itu saya berusaha perpanjang sebelum habis masa berlaku. Dan supaya cepat saya cari informasi tentang SIM corner atau SIM keliling karena banyak yang bilang proses di sana lebih mudah dan bebas calo.

     photo 1279B596-D9C7-43C9-95B9-F3A247EDF409_zpsse11qtll.jpg

    Masalahnya alamat di SIM lama saya masih Sidoarjo, sementara e-KTP sudah ikut alamat mertua di Tuban. Padahal kalau mudik ya domisilinya lebih sering di Sidoarjo daripada Tuban. Ketika saya coba tanya ke twitter @polressidoarjo disarankan untuk mutasi SIM aja ke alamat baru. Walah, repot bener sih. Mana ke Tubannya juga belum jelas kapan.

    Tiba-tiba saya teringat masih punya KTP beralamat Sidoarjo yang memang sengaja saya simpan meski pernah berKTP Bogor dan sekarang punya e-KTP Tuban. Setelah dicek alhamdulillah masih berlaku sampai tahun depan. Hahaiii, nekat lah berangkat ke SIM Corner di Sun City Sidoarjo untuk perpanjang surat ijin mengemudi.

    Alhamdulillah sampai di sana, counter yang saya tuju sepi. Langsung kasih SIM lama dan KTP ke petugas pendaftaran untuk dicatat dan dilampirkan ke formulir lalu bayar asuransi sebesar Rp 55.000,- Setelah itu formulir beserta lampirannya diserahkan ke petugas yang lain untuk diproses dan bayar Rp 80.000,- untuk biaya perpanjangan SIM A. Sebentar kemudian disuruh masuk ke ruangan untuk kelengkapan data, tanda tangan, cap jempol dan foto. Nggak sampai 5 menit setelah itu SIM sudah jadi dan saya bisa pulang. Huaaaa seneng banget. Cepat, nyaman dan praktis.

    Salut untuk kepolisian yang berusaha memudahkan masyarakat untuk mengurus SIM. Dengan adanya SIM keliling dan SIM corner nggak harus panas-panas antri di Polres setempat dan berebut dengan para calo. Pelayanan yang diberikan pun cepat. Biaya yang harus dibayar juga jelas tanpa ada pungutan liar.

    Ada yang punya pengalaman bikin SIM baru atau perpanjangan SIM juga? Mau dong baca ceritanya 🙂

  • Review

    Mudahnya Menyiapkan MPASI Rumahan

    Sebelum punya anak saya selalu berpikir bahwa urusan memberi makan anak itu mudah. Gimana enggak, di supermarket banyak sekali bertebaran susu formula dan makanan bayi instan yang bisa dikonsumsi sesuai dengan umurnya. Bahan pembicaraan rekan sekantor yang sudah lebih dulu berkeluarga pun nggak jauh dari harga susu murah, susu formula yang bagus dan bubur bayi merek apa yang lebih disukai anak-anak mereka.

    Sampai ketika hamil Cinta, 7 tahun lalu saya berkenalan dengan milis AIMI kemudian bergabung dengan milis Sehat. Dari sana saya mulai belajar banyak tentang ASI dan cara membuat makanan bayi rumahan. Menjelang Cinta berusia 6 bulan, mulailah saya rajin mencatat dan menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan pendamping ASI untuk kemudian dipraktikkan… oleh si mbak hahaha. Iyalah, dulu masih ada babysitter yang mengurus semua keperluan Cinta termasuk makan. Saya cuma bertugas mengajari dan memberi contoh lalu dengan sigap si mbak yang mengerjakan.

    Tak lama berselang, saya menemukan milis mpasirumahan. Didirikan oleh Dian Prima Zahrial dan didukung para moderator kecenya, milis ini jadi acuan saya membuat makanan rumahan yang bergizi untuk anak. Bahkan sampai traveling pun saya bela-belain bawa panci elektrik, kompor kecil yang biasa buat berkemah sampai telenan, pisau dan bahan makanan supaya tetap bisa menyajikan makanan segar buatan tangan untuk Cinta.

    Begitu Keenan lahir, saya pun berusaha untuk melakukan hal yang sama. Tapi sayang semua catatan tentang makanan bayi tak terdokumentasi dengan baik. Sedangkan untuk mulai mengumpulkan dari awal rasanya malas nggak ada lagi waktu dan tenaga tersisa. Untungnya mak Depe dan komunitas mpasirumahannya bekerja sama dengan Asha Book menerbitkan buku MPASI Perdana Cihuy.

    Buku ini berisi tentang segala hal yang perlu diketahui tentang makanan pendamping ASI. Mulai dari apa yang paling cocok diberikan pertama kali pada bayi; serealia, buah atau sayur? Bagaimana tekstur yang sesuai? Berapa banyak porsi yang diperlukan? Kenapa harus menunggu sampai 4 hari sebelum mengenalkan menu baru pada bayi? Sampai cara membekukan makanan untuk para mama kece (sebutan untuk member milis mpasirumahan) yang bekerja tapi tetap ingin memberikan sentuhan cinta di makanan buatan sendiri.

    Di buku yang ditulis oleh Dian Prima dan Yudith Mangiri ini juga bisa ditemui peralatan apa saja yang perlu disiapkan saat akan memulai pemberian MPASI, resep-resep sedap meski tanpa gula garam apalagi msg dan contoh skema & menu mpasi awal. Pokoknya mah, dengan buku ini para mama yang bayinya mulai memasuki masa perkenalan dengan makanan padat nggak akan kebingungan lagi. Semua yang ingin kita ketahui ada di sini.

    Masih belum puas dengan isi bukunya? Ingin sesuatu yang lebih advance? Gabung aja dengan komunitas Mama Koki Handal di milis mpasirumahan, follow twitter dan channel youtubenya. Percaya deh kata MamaKece, masak makanan bayi itu lebih gampang dari bikin rendang Padang.

  • Foods and Places

    Asiknya Foto di Fox Studio

    Waktu mudik lebaran kemarin, Cinta berkali-kali minta foto studio dengan kostum a la princess Disney.

    Ya sih, biasanya setahun sekali, tepatnya saat dia ulang tahun saya selalu ajak dia foto studio. Seru-seruan aja untuk dokumentasi pertumbuhan Cinta tiap tahunnya.

    Sayang, sejak pindah ke Brunei belum pernah foto di studio lagi. Sebenarnya ada studio foto yang tampaknya lumayan oke di Kuala Belait, jadi satu dengan toko mainan Nanyang di Jalan Pretty. Tapi entah kenapa kok belum merasa tergerak untuk bawa Cinta foto di sana.

    Beberapa hari sebelum pulang ke Brunei, saya dan Cinta menyempatkan diri ke Supermal Pakuwon Indah ditemani adik dan ipar yang bela-belain nggak kerja demi entertain ponakan tercintanya itu. Makasih ya, paman Bayu dan tante Mer. We heart you so much.

    Berbekal petunjuk dari saudara, kami pun menemukan tempat foto yang terletak di Pakuwon Trade Center. Meski jauh dari bayangan saya, Cinta tetap senang bisa berfoto dengan kostum a la Cinderella dan tiaranya serta berpose sesuka hati. Hutang terlunasi sudah!

    Sebelum pulang, saat menuju lobby mall, tiba-tiba saya melihat ada sebuah studio foto baru di sebelah Bread Talk. Seingat saya terakhir ke sana tahun lalu, studio yang tampak bagus sekali dengan beberapa booth foto beraneka tema belum ada. Dan benar saja, Fox Studio ini baru soft opening dan saat saya iseng lihat-lihat contoh foto, mbak pramuniaganya memberi tahu kalau saat itu sedang ada promo untuk paket-paket foto tertentu. Yihaaaa!

    Akhirnya, saya ambil dua paket foto yang per paketnya terdiri dari 2 foto ukuran 4R + 1 background + CD plus ekstra sewa kostum untuk Cinta. Wuaaa, Cinta senang sekali dalam satu hari bisa dua kali foto studio dengan 2 kostum princess yang berbeda.

    Sedangkan untuk Keenan sengaja nggak saya sewakan kostum meski pilihan kostum untuk bayinya lucu-lucu sekali. Mulai dari pumpkin, ulat, siput sampai kacang polong. Saya pikir Keenan baru belajar tengkurap jadi daripada nanti repot ngatur kostum dan dia malah bete nggak mau difoto biarlah pakai baju yang dipakai saat itu saja.

    Ternyata sama fotografernya, Keenan disarankan hanya pakai popok sehingga fokus ke wajahnya aja. Ketelatenan mas fotografer dan kehebohan gaya dan atraksinya untuk menarik perhatian Keenan bikin anak bayi betah difoto. Apalagi liat lampu blitz yang menyala-nyala.

    Sementara itu bagian kostum dengan sigap membantu Cinta ganti baju sambil memilihkan aksesoris yang sesuai. Dia juga helpful sekali merapikan kostum, rambut saat fotografer memotret Cinta.

    Meski masih muda, mas fotografernya sabar lho mengarahkan gaya anak-anak ini. Dia juga nggak pelit memotret sampai berhasil mendapatkan foto yang cukup bagus menurutnya.

    Setelah selesai, kami diminta memilih foto-foto untuk dicetak. Huaaa bingung karena bagus-bagus hasilnya. Tapi karena nggak mungkin dicetak semua, saya dan Cinta pun sepakat memilih empat foto terbaik* menurut kami ini.

    20130929-235616.jpg

    Senangnya lagi, hasil foto bisa diambil pada hari yang sama. Kami hanya diminta menunggu satu jam untuk proses cetak.

    Sayang, foto yang kami terima benar-benar hasil mentah jepretan kamera tanpa diedit. Bahkan tanpa tusir atau minimal dicerahkan sedikit. Tapi nggak masalah sih karena hasilnya sudah cukup bagus. Yah, worth the pricelah. Yang penting Cinta senang koleksi foto a la princessnya bertambah lagi. Dan saya juga hepi punya foto bayi Keenan untuk disandingkan dengan foto bayinya Cinta dulu.

    Jadi teman-teman yang ingin sekadar foto narsis dengan latar belakang dan properti foto lucu atau bikin dokumentasi foto teman satu grup untuk diupload di media sosial, boleh lah coba ke Fox Studio. Lumayan kan sambil jalan-jalan di mall bisa pulang bawa foto keren dengan harga terjangkau.

    *foto yang diupload di sini sudah diedit sedikit tingkat keterangannya dengan aplikasi moldiv for iphone

  • Review

    Cloth Diaper Week, Day 3: Zigie Zag

    Akhirnya hari ini memberanikan diri memakaikan clodi ke Keenan untuk pergi keluar rumah. Meski cuma mengantar suami ke kantor dan Cinta ke sekolah, jaraknya cukup jauh. Selama 1,5 jam perjalanan, kira-kira 45 km lah total jarak yang kami lalui pergi dan pulang.

     zigie zag

    Sebagai percobaan pertama saya pilih clodi Zigie Zag hadiah kuis dari @milispopokkain beberapa waktu lalu karena bahan outernya yang waterproof. Pertama kali pegang popok nampaknya besar dan terbayang akan bulky saat dipakai. Tapi ternyata enggak lho. Meski cuttingnya besar, Zigie Zag cukup tipis sehingga nggak kebesaran waktu dipakai. Cuma ya memang kelihatan sedikit mengkangkang gitu lah kaki si bayi. Daya serapnya juga cukup bagus. Biasanya sih baru bocor setelah minimal 2 jam dan selama ini nggak pernah mengalami bocor samping karena ada leg gussetnya.

    zigie zag

    zigie zag

    Untuk jaga-jaga, pagi tadi saya meletakkan alas ompol di atas carseat. Tapi ternyata aman sampai kami kembali ke rumah. Popok baru basah setelah lebih dari 3 jam pemakaian. Selama pemakaian Keenan juga nyaman. Nggak merasa panas.

    Sayang di antara kelebihannya itu saya pribadi kurang suka karena pesing. Entah ya, mungkin karena sudah terlalu lama pakainya atau karena pipisnya terlalu banyak. Insertnya yang terbuat dari juga agak kaku dan meleot setelah beberapa kali cuci. Memang sih nyucinya pakai mesin cuci tapi sudah dimasukkan dalam laundry net. Apa faktor pencucian yang hanya menggunakan laundry deterjennya Pigeon dan bukan sabun khusus untuk clodi ya?

    Oya, karena clodi ini hadiah dan saat saya cari spesifikasi motif yang seperti punya saya nggak ada, daripada salah info kalau ada yang ingin tahu lebih jelas tentang Zigie Zag cloth diaper silakan langsung ke web Zigie Zag aja ya.

    Hari ini si kecil pakai clodi apa, Moms?

  • Review

    Cloth Diaper Week, Day 2: Cluebebe Coveria Petite

    Di hari kedua Cloth Diaper Week, saya memakaikan Keenan popok kain modern dari Cluebebe. Kalau kemarin modelnya pocket diaper, kali ini pakai yang diaper cover. Popok kain jenis ini lebih cocok sebenarnya untuk orangtua yang punya newborn yang masih sering pipis dan pup karena cukup mengganti innernya saat basah atau kotor selama lapisan luarnya nggak kotor. Tapi sebaiknya sih waktu ganti inner, covernya dilap juga lalu diangin-angin sebentar untuk kemudian dipakai lagi.

    CDW Day 2: Cluebebe coveria petite

    Salah satu hal yang saya suka dari Cluebebe Coveria Petite ini adalah ukurannya yang kecil sehingga saat dipakai nggak bulky. Selain itu covernya yang terbuat dari true waterproof Polyurethane Laminate (PUL) dan bersifat breathable bikin kulit bayi tetap kering dan sejuk. Bahan PUL ini juga lentur sekali serta cepat kering saat dicuci. Sedangkan stay dry insertnya tahan dipakai sampai sekitar 2-3 jam. Dalam meresensi popok kain modern saya memang menggunakan patokan jam karena nggak tahu berapa kali anak bayi pipis sampai clodinya terasa lembab. Pokoknya saat Keenan sudah mulai gelisah dan merasa nggak nyaman ya saya ganti popoknya.

    Hari ini adalah kali kesekian saya memakaikan Cluebebe Coveria Petite pada Keenan. Selama ini masih suka bocor samping meski outer sudah menggunakan leg gusset atau jahitan kerut di daerah paha yang berfungsi menjaga lingkar paha tertutup sempurna untuk mencegah kebocoran samping. Mungkin karena kurang pas saat memakaikan atau bisa juga karena insertnya sudah jenuh sehingga nggak bisa lagi menyerap pipis. Insert bawaan dari Cluebebe coveria petite ini dibuat dari 3 lapis microfiber yang dijahit menyatu dengan 1 helai microfleece (stay dry soaker pad) dan dilengkapi kancing supaya nggak mudah bergeser. Tapi kalau mau bisa juga digunakan dengan insert merek lain atau alas ompol yang dilipat-lipat sehingga lebih ekonomis.

    cluebebecluebebe

    Tapi pagi tadi alhamdulillah lancar. Nggak bocor samping dan selama 2,5 jam pemakaian baik cover bagian luar nggak basah serta microfleece tetap kering. Keenan pun tetap nyaman dalam wrapnya, nggak risih atau kepanasan. Namun, karena harus jemput kakaknya sekolah clodinya saya ganti dengan pospak. Maklum belum pede pakai clodi untuk pergi-pergi, secara harus nyetir sendiri dan nggak punya asisten untuk bantuin Keenan kalau harus ganti popok di jalan. Juga khawatir popoknya bocor lalu membasahi carseat.

    Ternyata setelah clodi dibuka baru ketahuan kalau lapisan microfiber dan bagian dalam cover sudah basah kuyup hehehe. Mungkin itu ya untungnya mengganti popok minimal 3 jam sekali, anak jadi terhindar dari perasaan risih karena basah juga mengurangi resiko infeksi saluran kencing. Akhirnya jadi membandingkan deh kalau menerapkan sistem ganti tiap tiga jam saat pakai pospak, bisa sehari minimal 8 popok, sebulan 240 popok. Wheeew, selain sampahnya yang menggunung berapa pengeluaran kita sebulan ya, Moms.

    Setelah cover dilap, saya jemur dan ditinggal pergi. Sedangkan innernya dikucek dan dimasukkan keranjang pakaian kotor untuk dicuci besok. Sore tadi cover yang sudah kering saya pakai lagi dengan menggunakan insert bamboo terry yang terdiri dari 1 layer serat bamboo alami + 3 layer microfiber terry produksi Pumpkins Baby Cloth Diaper. Dan aman sampai 3 jam lho. Insertnya nggak bergeser karena bayi 2 bulan 4 minggu juga belum terlalu banyak gerak ya. Tapi mau tidur tadi saya ganti lagi dengan pospak. Yah, lumayan hari ini saya mengurangi 2 sampah pospak. Semoga besok bisa lebih banyak lagi.

    Bagaimana pengalaman berclodi ria hari ini, Moms?

  • Review

    Cloth Diaper Week, Day 1: GG Original Clodi

    Dalam rangka Cloth Diaper Weeknya milis popokkain, saya ikutan nyoba memakaikan 1 popok kain modern atau yang bahasa kerennya clodi (cloth diaper) selama seminggu. Sebenarnya sebelum ini pun sudah pernah dipakai tapi emak pemalas sibuk ini nggak punya waktu untuk mendokumentasikannya. Lagipula masih lebih sering pakai pospak alias popok sekali pakai daripada si clodi karena lebih praktis hehehe.

    Minggu-minggu pertama usia Keenan, saya sempat rajin memakaikan clodi ini tapi lama-lama nggak kuat juga bolak-balik ganti dan nyuci popok karena pipis dan pupnya masih sering sekali. Sehingga Keenan tidurnya kurang akibat risih dengan popok basahnya. Yang lucu, seringkali popoknya kering tapi baju dan alas tidurnya basah kena air kencing. Nha lho, keluar lewat mana coba airnya. Akhirnya kembali deh pakai pospak.

    Berhubung sekarang umurnya sudah 2 bulan, pipis dan pupnya pun sudah nggak terlalu sering meski termasuk heavy weter, saya kepingin mulai rutin pake clodi secara harga pospak lama-lama terasa juga menggerogoti uang belanja. Eh, kebetulan milis popokkain bikin acara CDW, ya udah biar semangat ikutan sekalian deh diposting di blog pengalaman sekaligus review pakai clodi selama 1 minggu ini. Mommies yang punya cerita tentang merek yang sama, boleh lho berbagi di kolom komentar.

    CDW Day 1

    Nah, untuk hari pertama saya memakaikan Keenan GG Clodi Original. Clodi ini merek lokal dan hampir semua clodi yang saya punya buatan dalam negeri. Sengaja milih itu karena bugdet nggak cukup untuk beli clodi import untuk menghargai hasil karya anak bangsa sekaligus memperpendek jejak karbon, sesuai tujuan memakai popok kain yaitu Go Green.

    Kembali ke GG, clodi berbentuk pocket diaper ini termasuk favorit saya karena daya serapnya bagus dan nggak bulky. Keenan juga nyaman pakainya karena lapisan dalam yang bersifat stay dry bisa tetap kering selama 3 jam meski dia sering pipis dan terasa lembab di bagian luar clodi. Awalnya saya kira pasti sudah basah semua nih tapi ternyata enggak, cuma di bagian belakang insert yang terbuat dari microfiber. Menurut produsennya sih GG tipe ini bisa menampung sampai 220 ml cairan. Dan lapisan dalamnya lembut serta mudah dibersihkan. Pengalaman pakai ini waktu Keenan pup sih tinggal semprot kotorannya ke dalam kloset trus dikucek sedikit sudah hilang tak berbekas.

    Ukuran GG yang nggak terlalu besar karena diperuntukkan bayi dengan berat kurang dari 15kg; memiliki lingkar perut maksimal 55cm serta lingkar paha lebih kecil dari 32cm, pas banget untuk si Keenan yang termasuk mungil. Dan selama beberapa kali pakai ini belum pernah mengalami bocor samping seperti yang saya singgung sebelumnya.

    Agak nyesel juga sih cuma beli satu karena pengalaman pakai diaper cover Lil G dari produsen yang sama agak kurang memuaskan. Tapi GG pocket diaper ini lumayan banget deh buat bayi kecil mulai usia newborn. Apalagi harganya nggak bikin kantong bolong hehehe. Kalau sudah memutuskan untuk pakai popok kain modern sepenuhnya, mungkin akan memperbanyak koleksi si GG original clodi.

    Hmmm… Besok pakai clodi yang mana ya?

  • Foods and Places, Life in Brunei

    LLRC Waterpark

    LLRC Waterpark

    Pas ngulik Flickr, teringat ada set foto waterpark yang belum sempat diposting di sini. Waterpark ini termasuk baru dan satu-satunya di kawasan Belait, Brunei Darussalam. Ada sih kolam renang umum lain di BSRC Panaga dan satu lagi di Kuala Belait. Tapi yang ada mainannya ya cuma ini.

    Liang Lumut Recreation ClubDSC09609

    DSC09598DSC09600

    Dibangun mulai pertengahan tahun 2012, kolam renang yang terletak di area Liang Lumut Recreation Center ini resmi dibuka saat libur akhir tahun ajaran sekolah bulan Desember tahun lalu. Seperti umumnya tempat wisata yang baru buka, minggu-minggu pertama selalu ramai. Tiap lewat sana parkiran LLRC dan pantai di depannya penuh banget.

    Sampai akhirnya bisa memenuhi janji ajak Cinta ke sana ya saat libur sekolah hampir selesai. Itu pun di hari Jumat pagi saat kebanyakan orangtua masih kerja.

    Awalnya sempat ragu pergi cuma berdua dengan Cinta ke waterpark. Maklum waktu itu usia kehamilan sudah masuk trimester ketiga dan nggak punya baju renang yang cukup besar. Lalu saya minta ijin sama Cinta untuk menemani dia dari pinggir kolam aja dan nggak ikut berenang. Saking inginnya berenang, Cinta pun setuju dan janji mau selalu pakai pelampungnya.

    DSC09597DSC09603

    Sampai di sana ternyata kolamnya cetek, sodara sodara. Cuma setinggi lehernya Cinta atau sekitar 80cm. Meski begitu Cinta yang baru pertama kali masuk kolam renang sendiri tetap pakai pelampungnya wong dia belum bisa berenang hehehe.

    Tadinya dia cuma jalan-jalan aja di dalam kolam sambil main semprotan air di sekitarnya. Lama-lama lihat teman-teman sebayanya main perosotan jadi tertarik mau juga dan minta ijin untuk ikut main. Setelah saya lihat nggak terlalu tinggi dengan pertimbangan kolamnya juga nggak dalam akhirnya saya perbolehkan. Tapi rupanya dia masih belum pede sehingga nggak mau lepas dari pelampungnya.

    Sambil deg-degan saya menunggu dari pinggir kolam saat dia mulai meluncur. Wuiiii… Percobaan pertama berhasil! Cinta seneng banget. Saya pun mengabulkan permintaannya untuk bisa berseluncur sekali lagi. Sayang di kali kedua ini waktu menyentuh kolam hidungnya kemasukan air yang bikin dia nangis dan kapok perosotan. Jadilah selanjutnya Cinta cuma berenang di kolam atau kejar-kejaran di pinggir kolam sama kawan-kawannya sampai saya ajak pulang.

    Well, untuk waterpark dengan HTM seharga B$ 2 bagi dewasa di hari kerja (B$ 3 di hari Sabtu-Minggu dan libur nasional) dan B$ 1 bagi anak-anak (B$ 2 pada hari Sabtu-Minggu dan public holiday), fasilitasnya cukup bagus meski kecil dan minimalis sekali. Dibandingkan sama SunCity Waterpark Sidoarjo aja masih kalah besar dan bagus apalagi sama Ciputra Waterpark di Surabaya.

    Di sini nggak boleh bawa makanan dari luar, tapi di area kolam disediakan tempat makan yang dikelola oleh restorannya LLRC. Menunya ya semacam burger, sandwich gitu.

    Ruang ganti dan kamar mandinya bersih dan semoga tetap bersih karena berdasarkan pengamatan saya entah kenapa toilet umum di Brunei ini kurang bersih.

    Secara keseluruhan sih tempatnya nggak terlalu istimewa tapi lumayanlah sebagai tempat hiburan di dekat rumah saat kangen pengen main air. Kalau buat anak-anak kan yang penting mereka bisa bersenang-senang. Tentu di bawah pengawasan ketat orang tua ya terutama untuk balita dan yang belum bisa berenang karena nggak ada lifeguardnya.

    Kalau mommies biasanya suka bawa anak-anak berenang di mana nih?

    See more pictures here.

  • waterfront, playgroud, kuala belait, brunei
    Foods and Places, Life in Brunei

    Waterfront Park, KB

    view from the waterfront bay

    Terletak di pinggir Jalan Sungai, Kuala Belait, Waterfront Park ini termasuk salah satu playground favoritnya Cinta, apalagi kalau cuaca lagi nggak terlalu panas. Permainannya nggak terlalu banyak sih tapi cukup menarik untuk anak-anak. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan dan lain-lain.

    Di sore hari atau pagi saat weekend, tempat ini cukup ramai dikunjungi keluarga muda dengan anak-anak balitanya dan orang-orang yang ingin berolahraga atau sekadar kumpul-kumpul. Maklum, selain fasilitas permainan anak, taman ini juga menyediakan jogging track dan alat olahraga sederhana.

    Saat anak-anak asik main, para orang tua bisa duduk-duduk sambil menikmati pemandangan sungai dan hutan di seberangnya. Kalau lapar bisa buka bekal dan piknik di meja-meja yang sudah disediakan atau beli makanan di beberapa gerai yang ada di lokasi itu.

    Toilet umum yang ada di Waterfront Park juga cukup terawat, dari beberapa kali ke sana. Cuma siap-siap tisu basah dan kering aja serta kantong plastik sendiri karena di dalam bilik nggak disediakan tempat sampah sehingga ada aja orang yang buang tisu di dalam kloset.

    Waterfront KB Playground

    IMG_0489
    IMG_0503

    IMG_0507

    more picture of Waterfront Park, Kuala Belait