Gonna Be Around: Celebrating Motherhood Through Song

gonna be around; song; lagu; widi mulia, the sasono family, motherhood, song about motherhood, lagu tentang pengalaman menjadi ibu

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng ngeklik satu link Youtube yang dibagi oleh teman saya hanya karena ada Widi Mulia di sampul link tersebut. Maklum, saya penggemar berat B3 sejak mereka masih SMA dan bernama AB3. Perpaduan suara yang bagus, anggota yang cantik-cantik, kemampuan menari yang keren bikin saya yang saat itu juga masih SMA terkagum-kagum sama trio beranggotakan Widi, Lusi dan Nola. Apalagi karena saat itu di usia yang masih muda, ketiga gadis jebolan kompetisi nyanyi Asia Bagus ini sudah meraih banyak prestasi di berbagai ajang nyanyi di luar negeri. Lebih ngefans lagi karena waktu itu banyak yang bilang saya mirip Nola AB3 huahahaha. Iya, iyain aja ya, bikin bahagia orang itu berpahala lho hihihi, lagian itu kan 20 tahun dan 25kg yang lalu. Sekarang sih kasian Nola kalau saya masih dibilang mirip sama dia >_<

Kekaguman saya berlanjut sampai mereka menjadi ibu. Lusi yang sempat menjadi single parent dan sekarang telah menikah lagi dan membesarkan anak-anaknya di luar negeri, Nola yang masih aktif nyanyi dengan B3 dan berhasil mengorbitkan anak-anaknya menjadi penyanyi cilik berkualitas di Indonesia, Cynthia (dan suami) yang berjuang dengan IVFnya serta Widi yang peduli dengan dunia parenting dan kesehatan anak. Sepertinya saya tumbuh bersama mereka, mulai dari remaja unyu-unyu sampai menjadi ibu-ibu beranak lebih dari satu.

Jadi, ketika mendapati link tersebut adalah video klip dari single terbarunya Widi yang bertema motherhood jelas saya merasa bahagia. Apalagi setelah mendengar lagunya yang enak didengar dengan lirik yang menyentuh dan video yang menggambarkan kehangatan keluarga Widi Mulia dan Dwi Sasono. Seketika itu saya jatuh cinta.

Lagu Gonna Be Around seakan mewakili perasaan saya sebagai ibu. Di mana menjadi ibu itu rasanya campur aduk ya, kadang kita bisa terhibur melihat polah anak yang lucu, di lain waktu rasanya pengen meledak karena tingkah mereka yang “menggemaskan” dan di akhir hari yang melelahkan memandangi wajah damai mereka saat tertidur dapat membuat kita bahagia dan bersyukur sekali memiliki mereka di samping kita. Overall, jadi ibu itu menyenangkan. Karena itulah selelah apapun kita eh saya, rasanya ingin bisa selalu berada di sisi anak-anak sampai mereka dewasa nanti. Membacakan cerita sebelum tidur, memeluk mereka saat merasa takut dan menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara seadanya. Mencintai mereka selama mungkin. Merekam semua momen tawa dan tangis mereka dalam hati dan menyimpannya sebagai salah satu harta terindah saya.  

Seperti itulah isi lagunya Widi. Emak-emak banget kan. Lalu saya pun mewek. Beneran deh, lagu ini bikin baper. Ketika akhirnya muncul di iTunes, saya mengunduhnya dan mengajak anak-anak mendengarkan lagu ini bersama-sama sebelum mereka tidur malam.

Saking ear catchynya, anak-anak saya pun senang mendengarnya. Bahkan mereka ikut tertawa riang dan menari mengikuti irama lagu dan minta supaya diputar berulang-ulang. Lantas kami pun menari bersama, kakak berdansa dengan Papa, saya dengan Keenan, Keenan dengan Kakak berputar-putar sampai pusing sambil tertawa riang. Malam itu, kami tidur dengan hati yang hangat dan riang. 

Thanks Widi, your song helped me create a beautiful moment that my kids might forget but I will treasure it forever in my heart.

3 KDrama Populer Untuk Pemula

K-Drama, Drama Korea, Drakor, arisan link, ranirtyas.com, blogger

Judulnya gitu banget ya hihihi. Maklumin aja deh, abis yang nulis ini bukan pecinta drama Korea tapi penasaran pengen nonton serial tv yang akhir-akhir ini sering diobrolin mamak-mamak di linimasa media sosial saya. Sebenarnya sudah 4 tahun ini saya jarang sekali nonton serial tv yang saya suka karena channel tv selalu dikuasai oleh anak-anak dan suami. Jadi tontonannya ya seputar Disney Channel, Disney Jr, NatGeo, dan sejenisnya. Kadang aja kalau pagi lagi agak santai saya suka nonton Criminal Minds, NCIS dan Castle atau seri tentang baju-baju pengantin gitu di TLC. Kalau malam dan nggak bisa tidur, baru deh nonton serial Sherlock berulang-ulang atau marathon Gilmore’s Girls yang diputar ulang di Netflix.

Padahal ya, dulu waktu masih tinggal di Jakarta Bogor, jam 7-9 malam itu jatahnya saya menguasai tv. Mulai dari Glee, Desperate Housewives, Grey’s Anatomy, Private Practice, Bones, CSI, sampai segala Next Top Model itu saya ikutin semua. Buat saya, setelah berkutat dengan kesibukan sehari-hari, nonton tv itu salah satu me time yang mudah dan murah. Lagian dulu juga kan LDRan ya sama suami, jadi daripada bengong mending nonton aja.

Nah, berhubung sekarang udah nggak punya banyak waktu untuk nonton dari tv dan terlalu malas untuk download, akhirnya ketinggalan serial-serial kesayangan. Tapi kok ya lama-lama penasaran sama drama Korea ini, karena kayanya penggemarnya banyak banget, mulai dari remaja tanggung sampai emak-emak macam teman-teman saya. Sementara sekalinya saya nonton drakor sudah sepuluh tahun yang lalu kayanya, dan sempat ikut berderaiairmata ngeliat akting Song Hye-kyo dan Rain di serial Full House.

Daripada bingung memilih serial drama Korea yang layak tonton, saya pun ngulik blognya Rani R Tyas, seorang lifestyle blogger yang saya kenal lewat grup Arisan Link Blogger Perempuan. Awalnya, saya justru main ke blog Coretan Ran ini untuk mencari cara menyimpan video dari Facebook tanpa harus menggunakan aplikasi tertentu. Tapi malah jadi ngubek-ngubek baca yang lain juga.

ranirtyas, lifestyle blogger, arisan link, blogger perempuan, blogger, coretan ran

Memang sih, blog ibu 1 putra ini bikin betah pembacanya. Selain tampilannya yang rapi, tulisan-tulisan di blognya juga sudah dipilah-pilah dalam berbagai kategori. Sehingga nggak susah nyarinya. Tinggal klik aja label yang menarik menurut kita di bagian atas blog dan munculah artikel-artikel yang sesuai. Kalau malas mencari satu per satu, kita juga bisa memasukkan kata kunci dari tulisan yang ingin kita baca di kolom “Looking for Something”. Dengan berbagai kemudahan bagi pembaca, bahasan menarik serta tulisan yang enak dibaca, nggak heran kan kalau akhirnya blog dengan tagline berbahasa Jawa Genggem Donya Langkung Seratan ini memiliki Alexa Traffic Rank 520,962.

Selain aneka kisah keseharian yang menurutnya absurd, di blog Coretan Ran juga terdapat beberapa postingan sponsor. Tapi jangan khawatir, sesuai dengan disclosurenya, semua resensi produk baik yang berbayar maupun tidak tetap berpijak pada opini jujur dari Rani sebagai pengguna produk dan penulis blog. Sehingga Insya Allah nggak akan misleading ya info-info di blognya Rani.

Balik lagi ke drama Korea, isi tulisan dalam kategori ini di blog mamanya Han memang belum terlalu banyak tapi bagi saya sudah cukup untuk menyebut beliau sebagai penggemar K Drama. Sehingga saya pun meminta Rani memberikan rekomendasi beberapa drama Korea yang kira-kira cocok ditonton pemula seperti saya.

Menurut Rani, banyak hal yang menyebabkan serial dari negara Korea Selatan ini menjadi sangat populer akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Mudah diakses. Selain bisa ditonton di RCTI, drama Korea ini juga dengan mudah dapat kita tonton secara streaming atau download. Malas menghabiskan kuota internet? DVDnya pasti banyak kita temukan di luar sana.
  2. Pemerannya ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Yeah, terlepas dari isu operasi plastik yang dilakukan para aktor dan aktris di negara yang beribukotakan Seoul ini, nggak bisa dipungkiri kalau tampang mereka menarik untuk dilihat. Yang cowok ganteng, imut dan putih, sementara yang cewek cantik dan kulitnya bagus-bagus. Coba aja itu Song Hye-Kyo meski usianya cuma lebih muda 2 tahun dari saya tapi masih seperti awal 20an.
  3. Episodenya sedikit. Lelah nggak sih ngikutin sinetron Indonesia yang sampai bertahun-tahun ceritanya nggak kelar-kelar? Mendingan nonton drakor deh, episodenya paling antara 10-25 aja sehingga nggak membosankan.
  4. Muncul pada saat yang tepat. Kayanya di Indonesia drama Korea mulai booming bersamaan dengan populernya genre musik K-Pop, sehingga nggak cuma boyband dan girlband dari Korea Selatan yang ikut digemari, segala sesuatu yang berbau negara ginseng termasuk serial tv, makanan dan produk perawatan kulitnya pun ikut mendunia.
  5. Paket lengkap. Biasanya dalam satu seri cerita yang disajikan cukup lengkap, persahabatan, percintaan, komedi romantis, dipadu dengan karakter yang kuat dan plot yang berhasil bikin penonton baper.
  6. Banyak pilihannya. Mau drama, komedi, aksi, horor atau drama kolosal, tinggal pilih sesuai selera. Nah, saking banyaknya pilihan, saya pun bingung memilih mana satu yang sebaiknya saya tonton terlebih dahulu. Untuk itu, Rani menyarankan agar saya mencari drama dengan rating tertinggi di situs myasiantv.se/drama. Drama dengan rating tinggi tentu memiliki penggemar yang banyak ya, sehingga dijamin alur cerita dan akting pemerannya tidak mengecewakan. Namun, karena nggak puas hanya lihat di situs itu, saya pun mencoba browsing ke sana sini dan menemukan 3 serial ini selalu menduduki peringkat tertinggi di setiap artikel yang memberi rekomendasi drama Korea terbaik. Apa saja?

 

K-Drama, Drama Korea, Drakor, arisan link, ranirtyas.com, blogger

 

Descendants of The Sun

Meski saya belum pernah nonton serial ini, tapi drama yang dibintangi oleh Song Hye-Kyo dan Song Joong Ki ini pada suatu periode rajin sekali melintas di linimasa media sosial saya dan sukses membuat beberapa teman merelakan jam tidur malamnya berkurang demi menonton kisah cinta berlatar belakang dunia militer dan medis ini.

Bergenre aksi-komedi-romantis, drama ini berkisah tentang seorang kapten tentara kesatuan yang bertugas di UN Peacekeeper, Yo Si Jin dan seorang dokter andal, Kang Mo Yeon yang bertemu pada sebuah peristiwa lucu dan akhirnya saling jatuh cinta. Pekerjaan Yo Si Jin yang sarat akan konflik dan bahaya membuat hubungan kedua tidak berjalan mulus, bahkan sempat berpisah sampai takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah negara yang sedang dilanda konflik.

Plot yang anti mainstream, unsur komedi romantis yang kental dan isi yang lengkap membuat drama ini jadi favorit banyak orang. Apalagi episodenya nggak panjang, jadi nggak repot-repot amat kalau mau streaming atau download kan. Tapi, supaya lebih mantap, bisa juga lho kita baca kesan Rani setelah menonton serial yang satu ini di blognya.

Uncontrollably Fond

Drama ini bercerita tentang hubungan antara Shin Joon-Young dan No Eul yang dimulai sejak mereka remaja. Sayang, pertemanan antara mereka terpaksa berakhir karena No Eul yang diperankan oleh Suzy Miss-A (Bae Suzy) mengalami kecelakaan yang hampir menyebabkan ia kehilangan nyawanya. Namun, ternyata Shin Joon-Young yang diperankan dengan apik oleh Kim Woo Bin nggak bisa melupakan cinta masa remajanya. Sampai suatu saat mereka dipertemukan lagi ketika No Eul telah menjadi produser sebuah film dokumenter yang money oriented karena terlilit hutang  dan Shin Joon-Young menjadi aktor dan penyanyi terkenal di Korea Selatan.

 

Hubungan keduanya yang diliputi rahasia Shin Joon-Young tentang kondisi kesehatannya serta drama keluarga yang sangat komplek, seakan-akan sulit untuk bersatu. Tapi menurut bocoran dari blognya Rani, drama ini happy ending kok (eh, kayanya sih hihihi) jadi bolehlah ditonton sebagai hiburan di kala senggang.

Doctors

Kayanya nggak boleh membayangkan Grey’s Anatomy atau Private Practice apalagi House, M.D ya kalau mau nonton drama yang satu ini meski keempatnya berlatar belakang dunia medis.

Bercerita tentang Yoo Hye-jung (Park Shin-hye), seorang gadis yang dibesarkan di lingkungan preman sehingga tumbuh menjadi gangster. Karena memiliki banyak luka batin dari berbagai peristiwa di masa kecilnya, Yoo Hye-jung menutup diri dan hatinya dari orang lain karena tidak mau terluka lagi. Namun, setelah bertemu dengan mentornya,  Hong Ji-hong (Kim Rae-won), gadis itu pelan-pelan bertranformasi dari anak nakal yang tidak memiliki masa depan menjadi calon dokter yang penuh kasih dan berdedikasi. Seperti dua cerita di atas, kedua pasangan ini sempat berpisah selama 13 tahun sampai akhirnya berjumpa lagi ketika Yoo Hye-jung telah menjadi dokter.

Menarik ya sepertinya. tapi karena sampai tulisan ini tayang serial Doctors masih tayang, belum bisa memperkirakan akhirnya bakal seperti apa. Apalagi serial ini diproduksi oleh SBS yang menurut Rani, berdasarkan bocoran yang ia terima dan survey kecil-kecilan yang pernah dilakukannya, sering memberikan ending yang tidak terduga. Jadi agak deg-degan mau nontonnya, takut baper hahaha. Namun, kalau penasaran, yuk ah nonton aja dan baper bersama.

Kalau kamu, apa serial drama Korea favoritmu?

Zootopia. Film Seru Sarat Makna

zootopia, resensi film zootopia

Ada yang belum nonton Zootopia?

 photo 2_zpsadjnmcaw.jpg

Saya akhirnya nonton juga minggu kemarin, padahal kakak Cinta masih ada ujian catur wulan pertama hari Senin dan Keenan sedang demam karena batuk pilek. Tapi sudah terlanjur janji karena hampir semua temannya si kakak sudah nonton, begitu pula teman-teman saya di Path. Jadi, sebagai mamak mamak yang kompetitif harus ikut nonton juga hahaha.

Nggak ding, becanda. Akhirnya tertarik nonton karena baca cerita teman-teman yang sudah nonton duluan dan mereka bilang film ini bagus banget. Selain itu ketika saya browsing, saya mendapati informasi bahwa film yang dirilis tanggal 17 Februari 2016 di Indonesia ini sudah menjadi film no. 1 di dunia hanya 4 hari setelah penayangannya di Amerika tanggal 4 Maret 2016 lalu. Nah jadi penasaran kan. Akhirnya angkut deh anak-anak nonton. Dan alhamdulillah, kami sangat terhibur dengan film ini.

Zootopia is the World'z #1 Movie! – In Theatres NOW!

Thank you to the fanz for making Zootopia the world'z #1 movie! Get tickets: http://di.sn/6000BbvgY

Posted by Zootopia on Monday, 7 March 2016

Bagi yang sudah nonton pasti tahu lah apa yang bikin film ini merajai box office di beberapa negara, tapi buat yang masih ragu untuk nonton, yuk simak resensinya di bawah ini.

Zootopia adalah film animasi besutan Disney yang disutradarai oleh Byron Howard (Tangled, 2010; Bolt, 2008) dan Rich Moore (Wreck-It-Ralph, 2012; The Simpson, 1989). Film ini bercerita tentang usaha seekor rubah penipu dan seekor kelinci yang baru lulus dari akademi polisi untuk mengungkap misteri hilangnya 14 ekor predator dari Zootopia, sebuah kota di mana para binatang bersifat dan memiliki kehidupan dan pekerjaan seperti manusia.

Di Zootopia, semua orang eh binatang dapat mewujudkan apapun impian mereka, menjadi apapun yang mereka inginkan. Hal inilah yang mendorong seekor kelinci kecil, Judy Hoops (disuarakan oleh Ginnifer Goodwin) untuk berusaha keras mencapai cita-citanya menjadi polisi meskipun mendapat tantangan dari banyak pihak, termasuk dari orangtuanya sendiri. Dan ketika ia berhasil lulus dari akademi polisi pun, hambatan tidak berakhir begitu saja.

Stereotip kelinci sebagai binatang kecil yang imut-imut, lemah dan kurang pandai membuat Judy diremehkan oleh atasannya, Chief Bogo (Idris Elba). Tapi bukan Judy namanya kalau pantang menyerah. Dari tugas awal sebagai petugas parkir, Judy didukung oleh asisten walikota, Mrs. Bellwether, berusaha mencari seekor otter yang hilang ketika tidak ada seekor polisi pun yang mau menangani kasusnya. Akibat kekurangan sokongan dari rekan-rekannya di kepolisian, Judy pun meminta dengan paksa bantuan dari seekor rubah licik, Nick Wilde untuk menuntaskan kasus tersebut dalam 48 jam.

Selama itu, Judy dan Nick mengalami berbagai petualangan yang luar biasa. Dari yang mengesalkan bagi Judy (tapi lucu menurut kami) bersama para sloth sampai yang menegangkan dengan Mr. Big. Dan semuanya membawa mereka ke sebuah konspirasi yang lebih besar dan seru.

zootopia, resensi film zootopia

Film yang berdurasi 2 jam 46 menit ini benar-benar membawa anak-anak merasakan berbagai emosi. Senang, terinspirasi, kesal, sedih, senang lagi, lega, tegang, tenang, haru, tegang lagi, sampai berakhir bahagia. Juga mengajarkan anak akan banyak hal. Kalau mau mengenalkan anak pada diskriminasi gender dan stereotip budaya atau suku, nonton deh film ini. Kalau ingin mengajarkan anak untuk tidak putus asa dalam meraih cita-cita mereka, bawa mereka menyaksikan usaha Judy mewujudkan mimpinya.

Dan para orangtua, film ini bisa menjadi materi belajar parenting lho. Di sini kita bisa lihat betapa Judy bekerja keras dari kecil supaya dapat menjadi kelinci pertama dalam kesatuan Zootopia Police Department, meski kedua orangtuanya menentangnya. Bukan menentang karena mereka nggak sayang Judy, tapi justru karena mereka sayang. Bonnie dan Stu Hoops takut Judy akan kecewa jika ia keukeuh dengan cita-citanya sehingga mereka terus berkata bahwa kelinci itu takdirnya hidup dalam perkebunan dan menjadi petani. Karena sikap seperti itulah, dari 200 sekian saudara kelincinya, hanya Judy yang dapat mendobrak stereotip dumb bunny serta keluar dari Bunnyburrow untuk merantau di Zootopia. Bayangkan, Ma, Pa, kasih sayang dan kekhawatiran berlebihan kita ternyata dapat membunuh mimpi seorang anak.

Meskipun durasinya panjang, film ini jauh dari membosankan kok. Bahkan kalau liat beberapa resensinya di IMDB, kebanyakan memberikan komentar positif. Secara keseluruhan ratingnya 8,4 dari 10. Cinta, anak saya berusia 8 tahun, sepanjang film nggak bisa melepaskan perhatiannya dari layar. Sedangkan Keenan ya lebih memilih main naik turun tangga dan berkeliling di dalam gedung bioskop bersama teman seusianya. Tapi kebanyakan anak-anak yang berusia di atas 3 tahun sudah dapat menikmati film ini dari awal sampai akhir.

resensi film zootopia
resensi singkat dari Cinta

Selain skenario yang bagus dan mengaduk emosi, lagu-lagu dalam film Zootopia juga bagus-bagus. Hitnya pastilah Try Everything yang dibawakan oleh Shakira sebagai Gazelle. Semoga lagu ini bisa menjadi pengganti Let It Go yang sudah berkumandang di dalam rumah saya selama 2 tahun terakhir ini ya. Tapi mama papa generasi 80an pasti akan tersenyum mengenali potongan lagu seperti All By Myself dan Everybody Hurts.

Jadi, kalau belum ada rencana mengisi akhir pekan ini, saya sarankan nonton Zootopia deh. Tapi tetap jangan biarkan anak-anak nonton sendiri ya. Film ini ratingnya Parental Guidance, masih perlu kehadiran orangtua untuk mendiskusikan tentang isi film supaya anak nggak salah paham, karena ada beberapa adegan di mana para binatang telanjang di sebuah klub kebugaran. Juga penampilan Gazelle yang layaknya artis masa kini dengan kostum dengan gerakan tari orang dewasa. Serta beberapa adegan kekerasan seperti ketika seekor binatang kecil dibully temannya sampai terluka dan seekor binatang diserang oleh binatang lain sampai matanya terluka.

But overall, film ini seperti kebanyakan film Disney lain, aman bagi anak. Selama kita, sebagai orangtua mengarahkan fokus anak kepada hal-hal positif yang ada dalam film.

Selamat menonton ya.

Dan kalau ada yang sudah nonton, yuk, bagi kesannya di sini 🙂

Inside Out: Ketika Emosi Punya Perasaan

Jujur aja meski berkali-kali lihat trailernya di Disney Channel awalnya saya nggak tertarik untuk nonton film terbaru dari Disney Pixar ini. Apalagi baca resensinya di IMDB banyak yang ngasih kurang dari 5 bintang, bahkan ada yang 1! Beberapa top review bilang film ini membosankan, nggak seperti film-film Disney Pixar yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa film ini bukan untuk anak-anak dan masih banyak kritikan lain.

Tapi karena di minggu pertama penayangannya di Indonesia –yang kebetulan bertepatan dengan waktu penayangan di Brunei– banyak yang posting nonton Inside Out dan rata-rata bilang film yang dibintangi oleh Amy Poehler dan Phyllis Smith ini bagus, saya pun tergoda untuk nonton. Biar kekinian gitu lah.

Karena rating film IO adalah PG1 saya coba cek dulu di Parents Guide for Inside Out di IMDB untuk mengetahui apakah ada yang kurang sesuai ditonton oleh anak seumur Cinta. Setelah yakin semuanya cukup aman baru deh saya mengajak kakak Cinta untuk movie date nonton film Inside Out di PSB Dualplex Seria.

Dan ternyata film ini menguras air mata, sodara-sodara. Asli mulai dari 15 menit film ditayangkan sampai akhir berkali-kali saya harus diam-diam mengusap mata yang basah karena terharu melihat adegan-adegan di dalamnya.

 photo AC4D118E-2DB2-473B-9D70-E1FDF6437650_zpskgfrjgru.jpg

Cerita dimulai saat Riley baru lahir dan muncul Joy yang mengontrol perasaannya bersama dengan keempat rekannya Sadness, Anger, Fear dan Disgust. Kemudian waktu pun bergulir dengan menampilkan Riley yang tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, punya hubungan emosional yang erat dengan ortunya, suka hoki dan melakukan hal-hal konyol berkat dominasi Joy, sampai suatu saat Riley harus pindah ke San Fransisco bersama ayah dan ibunya.

Di sinilah konflik perasaan mulai muncul. Joy, Sadness, Anger, Fear dan Disgust berganti-ganti memainkan peran pada emosi Riley yang harus beradaptasi pada banyak hal. Rumah baru, moving van yang nggak kunjung datang, sekolah baru dan pekerjaan ayah yang menyita waktunya.

Kebingungan menghadapi keadaan ini, Joy berusaha mengontrol perasaan, ia setengah memaksa teman-temannya untuk selalu bergembira. Joy meminta Fear untuk membuat daftar hal buruk yang bisa terjadi pada hari pertama sekolah dan berusaha mengantisipasinya. Bahkan ia berusaha mengisolasi Sadness yang beberapa kali membuat Riley sedih. Joy ingin Riley selalu senang apalagi saat Ibu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung karena pada kondisi yang penuh tekanan seperti ini keceriaan Riley memberikan semangat bagi orangtuanya.

Tapi saking inginnya Joy membuat Riley merasa bahagia, kecelakaan pun terjadi. Joy dan Sadness tanpa sengaja terlempar dari markas dan terdampar di tempat penyimpangan long term memory. Mereka pun berusaha kembali ke markas dengan membawa core memories ((The core memories are objects of major importance inInside Out. Like all memory orbs, core memories represent past events of Riley‘s life. However, they have a much greater importance than usual memories. They represent key moments that have defined Riley’s current personality. Core memories appear brighter than any other memory and power each Island of Personality. – source: Pixar Wikia)) .

Dalam perjalanan ini Joy dan Riley menyaksikan bagian-bagian masa lalu Riley yang membentuk kepribadiannya runtuh satu persatu. Sementara di markas keadaan semakin memburuk karena Fear, Anger dan Disgust kebingungan dan kendali emosi membuat Riley melakukan hal-hal di luar kebiasaannya.

Kondisi inilah yang saya sadari sering muncul dalam perilaku Cinta saat ia harus menghadapi pengalaman baru atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Perubahan kepribadian dan perilaku yang tidak biasa. Seringkali saya bilang meminta ia untuk tetap ceria, nggak terima saat dia merasa sedih atau marah, bahkan takut. Padahal semua perasaan itu ya harus diterima apa adanya.

Kita nggak bisa terus-menerus menekan dan menyembunyikan kesedihan, nggak bagus juga menahan marah dan takut. Konon merepresi perasaan negatif ini akan membuat kita mudah sakit ya.

Ternyata boleh kok merasa sedih, marah dan takut, hanya saja harus disalurkan dalam perilaku yang aman dan nyaman.

Saat berduka boleh sedih dan menangis karena itu akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dilakukan oleh Sadness ketika Bing Bong merasa sedih. Alih-alih mengabaikan kesedihannya seperti yang dilakukan Joy, Sadness berempati dan menggali kesedihan Bing Bong sambil duduk di sampingnya sampai Bing Bong merasa lega. Persis pekerjaan psikolog.

Film ini benar-benar jadi pengingat bagi saya. Setelah beberapa waktu lalu membaca cuplikan buku “Kata Siapa Tidak Boleh Marah” karya Zhizhi Siregar di Instagram fufuelmart tentang perbedaan reaksi anak ketika ia marah dan diabaikan dengan dipeluk saat ia merasa marah. Kali ini saya diajari untuk menerima perasaan sedih. Tahu nggak benang merahnya adalah pada acceptance.

Menerima dan mengenali perasaan diri kita dan anak adalah hal yang penting. Sesungguhnya yang diperlukan saat kita berada pada kondisi yang tidak nyaman adalah, “Hey, saya mengerti kamu sedih/marah/takut/kecewa. Wajar kok kamu merasa seperti ini. Saya juga pasti akan merasakan hal yang sama,” plus pelukan hangat. Seringkali sebuah pelukan erat tanpa kata-kata saja sudah bisa mengungkapkan hal tersebut. Dan itu cukup.

Buat mahasiswa psikologi wajib banget deh nonton ini. Kalian akan tahu tentang short term memories, long term memories, subconcious, sampai imaginary friend yang selama ini nampak abstrak. Buat para orangtua film ini bagus untuk memahami kondisi emosi anak. Sedangkan untuk anak-anak, mereka akan terhibur dengan cerita penuh warna, mengetahui pulau-pulau yang ada dalam peta emosi mereka. Cinta pun terpesona sambil bilang, “Is this what really happen inside my brain?”

Bahkan dia bisa merecall salah satu pulau ketika kami bepergian hari Minggu kemarin dan Keenan asik menunjuk-nunjuk keluar mobil sambil mengoceh, “Dinosaurs.” Saat saya dan papanya mengomentari hal tersebut, Cinta berujar, “He’s imaginating you know. Kids do that.” “Oh iya, seperti Imagination Land-nya Riley ya, Kak.” “Yes, it’s a fun land,” jawabnya.

9 bintang deh buat film Inside Out.

Kalau menurut kalian bagaimana?

  1. Parental Guidance Suggested: Parents urged to give “parental guidance.” May contain some materials parents might not like for their young children []

Disney Descendants

Sudah sebulan ini Disney Channel jor joran menayangkan iklan Disney Channel Original Movie terbaru: Descendants yang akan tayang tanggal 13 September 2015 di Disney Channel Asia. Ngeliat trailer dan cerita para pemeran utamanya sih sepertinya lumayan juga nih untuk ditonton. Cuma kok ya masih lama tayangnya.

Tapi hari Jumat lalu waktu Cinta pulang dari playdate di rumah temannya, dia cerita abis nonton Descendants. Lha jadi penasaran kan saya. Coba nyari di filmbagus21 eh ada. Ternyata film ini memang sudah tayang tanggal 31 Juli di Amerika.

Jadi Descendants ini bercerita tentang anak-anak para penjahat terhebatnya Disney yaitu Mal, anak perempuan dari Maleficent; Evie, putrinya The Evil Queen; Carlos, anak tunggalnya Cruella De Vil dan Jay, anaknya Jafar. Masih pada inget kan di cerita klasik Disney mana para penjahat ini muncul?

Keempat anak yang selama ini tinggal di Isle of the Lost, pulau terasing tempat para orangtua mereka dibuang, tiba-tiba diberi kesempatan untuk sekolah dan tinggal di The United Kingdom of Auradon, kerajaan para Disney princes dan princesses. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para evil villains untuk membalas dendam dengan memberikan misi rahasia kepada anak-anak mereka yang awalnya disambut dengan antusias.

Ternyata setelah Mal, Evie, Carlos dan Jay tinggal di Auradon, mereka menyadari bahwa nggak mudah melaksanakan misi itu. Terutama karena kata hati mereka berperang melawan keinginan untuk membuat orangtua mereka bangga. Nah, mana yang menang? Harus liat sendiri filmnya hehehe.

Tapi gampang ketebak kok. Ya, memang agak cheesy filmnya. Mungkin karena ditujukan untuk anak-anak ya. Karakter-karakternya juga kurang kuat kecuali Mal. Dan yang paling bikin sedih adalah those great villains look so pathetic. Hiks. Nggak ada deh sisa-sisa kepongahan dan keserakahan Jafar, kelicikan the Evil Queen dan kekejaman Cruella De Vil. Sungguh mereka tampak konyol. Karakter Maleficent agak mendingan ya meski masih kurang aura jahatnya.

Lagi-lagi ya penonton dewasa seperti saya harus memaklumi bahwa ‘ini film anak-anak’. Meski demikian banyak kok pesan moralnya untuk para orangtua, seperti kita nggak bisa memaksakan anak untuk mengikuti jejak kita. Atau ada masa-masa di mana anak akan mengalami dilema antara mengikuti kata orangtua atau lingkungan, di saat seperti ini hubungan yang harmonis antara anak dengan ortu memegang peranan penting. Dan anak harus diberi kesempatan membuat keputusan penting, sekaligus berani menghadapi risikonya dan belajar mempertanggungjawabkan keputusannya.

Sementara buat anak-anak film ini lumayan kok buat hiburan sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh film klasik Disney. Cinta bilang dia suka nontonnya, menurutnya jalan ceritanya bagus meski dia nggak kenal Cruela De Vil dan Jafar. Karakter favoritnya adalah Mal, “Because she has purple hair. No, actually because she’s the best of them all.” Lagu-lagunya juga cukup menarik terutama yang dinyanyikan solo oleh Mal. Meski kalau dibandingkan dengan High School Musical dan Teen Beach Movie masih jauh lah.

Mungkin kalau dibuat lebih serius lagi dan dikurangi nyanyian dan tariannya (udah mirip sama film India aja gitu) film dengan jalan cerita yang unik ini bisalah tayang di bioskop. Sementara ini mumpung nontonnya nggak bayar layak kok buat tontonan di akhir pekan sambil makan popcorn rame-rame di ruang keluarga. Selamat menikmati.

Minions. Just Enjoy The Fun.

[Spoiler alert]

Sejak muncul trailernya di youtube beberapa bulan yang lalu, anak-anak terutama Cinta semangat sekali ingin nonton prekuelnya Despicable Me ini. Maklum, mereka adalah pecinta berat Gru, the girls dan para minions. Apalagi Keenan, mungkin dia sudah nonton sebanyak 77 kali film-film Despicable Me yang tersimpan di file video Galaxy Note milik papanya. Bahkan dia bisa ngomong “banana” dan “apple” saya rasa juga belajar dari para Minions ini.

Jadi begitu PSB Dualplex Cinema Seria mulai menayangkan film Minions sejak tanggal 18 Juni yang lalu, kami pun mulai merencanakan untuk nonton bersama. Iya, bersama dalam arti semua ikut nonton. Termasuk Keenan. Biasanya sih cuma saya dengan Cinta, Cinta dengan papanya atau saya dengan suami (yang jarang sekali terjadi sejak punya anak. Hiks). Tapi kali ini kami ingin mengajak Keenan juga. Apalagi liat ratingnya di IMDB adalah PG atau Parental Guidance yang artinya film ini bisa ditonton oleh segala umur dengan pendampingan orang tua karena ada materi-materi yang mungkin tidak cocok untuk anak-anak terutama di bawah 13 tahun seperti adegan kekerasan, humor yang kasar atau adegan telanjang1. Jadi rasanya okelah sebagai percobaan membawa Keenan nonton bioskop untuk pertama kalinya. Toh, kalau ternyata nanti dia nggak suka salah satu dari kami bisa membawa Keenan keluar studio.

Sengaja memilih nonton jam 16.30 dengan pertimbangan durasi film selama 91 menit memberi kami cukup waktu untuk menanti buka puasa. Sekalian ngabuburit gitulah. Sayangnya, karena masih dalam waktu puasa kami nggak bisa membelikan popcorn untuk Keenan karena ada larangan bagi muslim dan non-muslim untuk makan dan minum di dalam gedung bioskop selama fasting hours. Tapi nggak apa-apalah, toh sebelum berangkat Keenan sudah sempat makan sedikit.

Secara keseluruhan film ini menurut saya cukup menghibur meski nggak semenarik Despicable Me walaupun digarap oleh sutradara yang sama, yaitu Pierre Coffin. Hanya saja di film Minions, Pierre bekerja sama dengan Kyle Balda, co-director film The Lorax instead of Chris Renauld seperti dua film Despicable Me.

Minions berkisah tentang para makhluk kecil berwarna kuning yang hidup sejak mula terbentuknya bumi ini memiliki tujuan hidup mengabdi para orang-orang terjahat pada jamannya. Mulai dari T-Rex, manusia prasejarah, Anubis, Count Dracula sampai Napoleon Bonaparte (eerrr, Napoleon termasuk evil villain kah?). Sayang karena kecerobohan mereka para tokoh jahat ini tidakberumur panjang sehingga pada akhirnya para minions membangun dunia mereka sendiri dalam gua es. Sampai akhirnya kehidupan terasa tidak berarti bagi mereka dan Kevin dibantu oleh Stuart dan Bob mencoba pergi dari gua untuk mencari bos terjahat pada jaman itu.

Trivia

These three minions (Kevin, Stuart and Bob) were designed to resemble Gru’s daughters Margo, Agnes and Edith.2

Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan keluarga Nelson yang berprofesi sebagai perampok bank. Keluarga inilah yang memberi tumpangan untuk mereka ke Orlando demi menghadiri villain-con dan bertemu dengan Scarlet Overkill. Long story short, Kevin, Stuart dan Bob pun bekerja untuk Scarlet dan suaminya Herb Overkill dan diberi tugas mencuri mahkota Ratu Inggris.

Usaha mereka melaksanakan tugas tersebut pada akhirnya justru menjadi bumerang. Minions dianggap berkhianat oleh Scarlet dan diburu oleh para penjahat lain. Kevin pun berusaha untuk melindungi teman-temannya sekaligus melawan para musuh.

Pada awal film, Keenan nampak ketakutan tapi kemudian dia mulai menikmati suasana bioskop yang gelap dan tingkah para makhluk kuning kesukaannya sambil berpindah-pindah dari pangkuan saya ke kursi sebelah yang kosong untuk duduk sendiri. Sementara kakak Cinta seperti biasa duduk tenang menikmati film ini.

Sejujurnya bagi saya film ini agak membosankan. Keseruan dan kelucuan sudah keluar di awal film saat menceritakan sejarah hidup para minions sampai mereka bertemu Nelson family sedangkan ke belakangnya justru terasa datar. Bahkan Scarlet Overkill yang suaranya diisi oleh Sandra Bullock pun kurang memberi kesan bagi film ini, di beberapa review bahkan menyebut ia sebagai penjahat yang membosankan yang terpaksa saya setujui. Bahkan karakter Lucy Wilde di Despicable Me 2 juga karakter Queen Elizabeth dan the Nelson family lebih menarik daripada Scarlet.

Dalam film ini pun ada beberapa kata yang mungkin tidak pantas didengar oleh anak-anak seperti ‘imbecile3 dan beberapa becandaan yang agak kasar. Juga ada beberapa adegan para minions telanjang dan menampakkan seluruh bagian belakang tubuhnya, adegan berpelukan antara Scarlet dan Herb, salah satu minions mandi berendam sambil memeluk hidran air. Juga adegan berantemnya minions dengan para penjahat termasuk Scarlet yang meski kurang greget tapi mungkin bisa jadi pertimbangan orangtua untuk membawa anak-anak menonton film ini.

Salah satu yang bagus dari Minions adalah pelajaran untuk menyayangi dan melindungi serta berkorban bagi orang-orang yang kita sayangi. Bagaimana kita harus bekerja keras untuk memperbaiki bukan hanya hidup kita tapi juga orang banyak dan meski kadang nggak mudah kita nggak boleh putus asa. Juga betapa mudahnya media membuat kita mengambil asumsi dan mempercayainya tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Serta obsesi yang berlebihan seringkali membuat kita pada akhirnya kehilangan segala yang telah diusahakan bertahun-tahun.

But however, film ini cukup menghibur terutama bagi pecinta Minions. Tapi di luar itu, saya sarankan nonton mini moviesnya aja deh. Bisa dibeli di iTunes atau nonton di youtube. Lebih lucu dan menghibur menurut saya hehehe. Enjoy!

  1. http://www.parentalguide.org/movieratingsguide.html []
  2. http://www.imdb.com/title/tt2293640/trivia?ref_=tt_trv_trv []
  3. meaning: stupid; idiotic []