Bertemu Pak Joko Widodo di Brunei

Tanggal 8-9 Februari yang lalu, Presiden RI ke-7, Joko Widodo mengadakan lawatan ke Brunei Darussalam. Beberapa minggu sebelumnya beredar undangan di grup bapak-bapak KB Seria untuk ramah tamah bersama pak Presiden dan rombongan dari Jakarta di Kedutaan Indonesia di Bandar Seri Begawan. Berhubung malas jauh-jauh ke Bandar, kami pun melewatkan kesempatan itu.

Tak dinyana, 3 hari sebelum hari H, suami dapat kabar dari temannya kalau pak Jokowi akan mengunjungi Brunei LNG (BLNG) plant di Lumut. Nggak cuma itu beliau juga ngajak suami untuk datang. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyambut kehadiran pak Jokowi di BLNG dengan membawa serta dua krucil.

Pas hari H, sesampainya di BLNG, kami diminta untuk meninggalkan tas di mobil dan menunggu di bawah tenda di depan main hall BLNG. Saat itu lumayan sepi. Hanya ada 4 keluarga dari KB Seria dan beberapa pekerja profesional Indonesia yang kerja di BSP, BLNG dan kontraktornya hadir di sana.

Setelah menunggu hampir 1 jam, tiba-tiba datanglah rombongan BMI entah dari mana dengan jumlah yang lumayan banyak, ikut menyambut kedatangan Presiden RI. Menurut cerita suami sih, karena penyambutnya sedikit akhirnya Public Relation BLNG mengunjungi sebuah staff house suatu perusahaan yang terletak di depan jalan masuk BLNG dan mengajak pekerja berkebangsaan Indonesia untuk memeriahkan penyambutan beliau.

 photo D504A0AE-FA61-424B-987B-3BCC633FCA95_zpsu5aosxne.jpg  photo 47309E7E-3048-4473-BBA8-364A4FA380F9_zpsr7enkznq.jpg  photo F699E900-73C9-4BE7-BAD5-4F0EE6B25E26_zpsentdq8lm.jpg

Saking lamanya nunggu, beberapa orang mulai menikmati hidangan yang sudah disediakan staf BLNG, sementara Keenan sudah bangun dari tidurnya dan mulai berlari-lari di sekitar area parkir.

Tak lama kemudian rombongan mobil dinas kedutaan dan tamu kerajaan mulai berdatangan. Kami pun mulai sibuk menerka di mobil yang mana pak Jokowi berada. Sayangnya sampai semua mobil parkir tak ada tanda-tanda pak Presiden turun dari mobil. Beredar kabar kalau sebenarnya pak Jokowi sudah tiba sebelum kami datang lantas keliling plant dulu dan saat itu sudah berada di main hall untuk berbincang-bincang dengan petinggi-petinggi BLNG.

Setelah 1,5 jam sejak kami sampai BLNG akhirnya kami diminta berbaris di pinggir pintu masuk main hall (iya, di luar pintu masuk!) karena pak Jokowi akan segera keluar dan menemui kita sebelum naik kendaraan dinasnya kembali ke Bandar. Oh, Mak. Jadi nunggu sekian lama itu cuma buat ketemu sekilasan doang. Tapi nggak papalah yang penting bisa liat dan salaman sama pak Presiden. Kapan lagi gitu kan. Kesempatan langka ini.

Jadi diatur oleh security BLNG, berbaris dengan manis lah kita, dan saya serta 3 orang ibu-ibu yang lain (yang mana ibu-ibunya ya cuma kami berempat) berbaris dekat pintu keluar. Cari posisi strategis biar gampang salamannya. Beberapa belas menit kemudian yang diisi dengan tangisan Keenan, pak Presiden akhirnya keluar dari main hall dan mulai menghampiri kami. Beliau berusaha menyambut uluran tangan beberapa orang sambil bertanya, "Sudah berapa lama di sini?" dan "Ada kesulitan apa selama di sini?" Ternyata kesempatan beliau berhenti sejenak untuk ngobrol ini membuat barisan acak adul. Para BMI merangsek mendekati pak Jokowi dan berebut salaman dan foto bareng. Kami pun merasa kalah tenaga akhirnya mundur dengan teratur.

Beberapa security yang tahu kami sudah datang lamaaaaa sekali berusaha membantu supaya bisa bertatap muka dengan pak Presiden. Tapi ya mungkin belum rejeki ya, susah menembus kerumunan dengan menggendong anak. Akhirnya pasrah aja menjauh dari kerumunan sambil ngomel-ngomel bertiga hahaha.

Setelah gagal foto-foto dengan pak Jokowi, kami pun memutuskan foto dengan petingginya BLNG dan berfoto di depan gedung BLNG. Sayang ih, karena suami yang ambil foto jadi nggak ada dia di foto bersama ini. Padahal bisa jadi kenang-kenangan ya secara selama 4 tahun kantornya mengerjakan proyek di BLNG. Tapi alhamdulillah di tengah-tengah padatnya kerumunan orang, suami sempat memotret pak Jokowi, bahkan seorang teman dapat berfoto bersama beliau. Haaaa, lucky her not so lucky us hahaha.

Belajar Science di OGDC

Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

Informasi

HTM/Admission Charges:

PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
TEEN (13-17 years old) : BND 2
ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

Operating Hours:

Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
Sunday : 9:30am to 6:00pm
Public Holiday : CLOSED

Food Challenge, Day 5

Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

#Day5FoodChallenge

Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

 photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

Bahan:
2 cangkir beras, cuci bersih
1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
1 siung bawang putih dicincang
Sejumput garlic granule7 (optional)
Sejumput mixed herbs8 (optional)
Garam
1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
Brokoli sesuai selera
500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
1 cup susu uht plain
Tuna kaleng sesuai selera
1 sdm Margarin untuk menumis
75 gram keju cheddar parut

Cara membuat:
• Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
• Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
• Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
• Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
• Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
• Sajikan dengan taburan keju parut.

Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

  1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
  2. kepala sekolah []
  3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
  4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
  5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
  6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
  7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
  8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []

Belajar dari Bazar

Hari Minggu tanggal 9 November 2014 yang lalu, Indonesia Section Panaga Club dibantu oleh ibu-ibu dari komunitas keluarga Indonesia yang berdomisili di daerah Kuala Belait dan Seria, Brunei Darussalam atau yang biasa disebut komunitas KB Seria mengadakan Indonesian Bazaar. Acara ini memadukan bazar kerajinan, makanan khas Indonesia dengan permainan-permainan tradisional yang biasa digelar saat acara tujuh belasan di Indonesia. Selain itu juga ada berbagai macam aktivitas menarik untuk anak-anak dan nail art serta workshop angklung dan bikin artwork dari janur.

Untuk bazar seni dan kerajinan, tema yang kami pilih adalah keragaman budaya Indonesia dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan barang seni dan kerajinan itu. Untuk itu ibu-ibu yang terlibat dalam bazar ini dibebaskan memilih barang apa yang mau mereka jual. Uniknya dari 6 pedagang hampir semua jenis jualannya berbeda. Seperti mba Evita yang fokus pada jualan batik baik kain maupun aksesoris, mba Dewi dengan pernak-pernik batiknya dan Anggy yang memilih kain sasirangan sebagai barang dagangannya.

Berbagai kain dan kerajinan khas Indonesia di Art & Craft Corner Indonesian Bazaar 2014, Brunei Darussalam

Alasan memilih kain ini adalah karena belum banyak orang asing yang mengenalnya. Kebanyakan orang hanya tahu batik dari Jawa dan tenun, sementara masih banyak motif kain tradisional lain yang belum terekspos seperti kain sasirangan yang berasal dari Banjarmasin ini. Apalagi daerah asal kain Sasirangan terletak satu pulau dengan Malaysia bagian Sabah dan Sarawak serta Brunei Darussalam, di mana kedua negara ini juga berbagi kebudayaan dengan Indonesia. Begitu pula dengan songket. Pasti banyak yang belum tahu kan kalau Malaysia dan Brunei pun punya kain songket? Untuk itulah motif-motif unik ini diperkenalkan supaya kita dan orang asing tahu ini milik Indonesia. Jangan sampai kelak diakui oleh tetangga sebelah baru kita marah-marah.

Sementara yang lain meski sama-sama berjualan tenun ada yang khusus berupa kain dan ada yang sudah dalam bentuk tas dan pernak-pernik ukiran.  Tak ketinggalan aksesoris dari bahan perak, batu dan manik-manik yang cantik.

Karena kebanyakan barang yang dijual berupa kain, saya meminta teman-teman yang berjualan untuk membuat semacam katalog dalam bahasa Inggris yang berisi keterangan asal kain tersebut, cara pembuatannya dan dapat digunakan sebagai apa saja. Tujuan awalnya sih untuk menarik pembeli, karena berdasarkan info yang saya dapat, tidak banyak orang asing yang tertarik membeli kain karena mereka tidak mengenal makna dari motif-motif kain tersebut dan bisa dibuat apa.

Pengetahuan tentang Indonesia di dalam sebuah kerajinan

Ternyata, hasil eksekusinya jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan. Enggak sekadar membuat katalog, teman-teman penjual ada yang membuat standing banner, ada juga yang diletakkan dalam pigura dan dijadikan hiasan meja untuk mempercantik display jualannya. Tapi highlight saya adalah kreativitas mba Ika yang dengan telaten membuat semacam tag berisi keterangan bahan lengkap dengan peta Indonesia yang menunjukkan pulau asal bahan tersebut. Hebatnya, dia membuat tag tersebut untuk masing-masing barang jualannya yang berbeda-beda. Salut banget sama ketelatenan mba Ika. Padahal dia selain berjualan juga mengkoordinir pelaksanaan acara Indonesian Bazaar. Ah, keren bener ibu satu itu.

Pada akhirnya, pengunjung bazar kami selain melihat berbagai kerajinan khas Indonesia juga memiliki pengetahuan baru yang bisa mereka bagi ke orang lain. Jangankan mereka, saya saja belajar banyak kalau tenun itu ternyata banyak jenisnya, begitu pula dengan songket yang termasuk dalam salah satu jenis kain tenun dan tentu saja kain sasirangan. Pembeli pun mendapatkan tips memanfaatkan kain-kain tersebut. Selain jadi baju  ternyata juga bisa digunakan sebagai runner meja, sarung bantal, aplikasi tas, hiasan dinding dan masih banyak lagi. Jadi enggak cuma batik saja yang bisa dipamerkan dari Indonesia, kain-kain lain juga banyak sekali yang dapat dibanggakan.

Beruntung sekali saya terlibat dalam bazar tahun ini. Bisa mengenal ibu-ibu yang kreatif dan memiliki semangat besar mengenalkan keragaman budaya Indonesia. Semoga dengan begini makin banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi negara tercinta kami itu dan melihat langsung pembuatan kerajinan-kerajinan yang mereka beli lalu ikut mempromosikan Indonesia ke kerabatnya.

Yuk, selalu bangga dan mempromosikan kerajinan asli buatan negara sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi. Betul?

Pics koleksi pribadi Anggy & Alfa.

PS: Jangan cari saya di foto ini, bagian mondar-mandir enggak sempat foto-foto hiks.

Counting the Blessings

Yellooooow (bukan Dijah Yellow), how are you apa kabar? Lama tak jumpa yah. Kangeeeen *lap debu di laptop*

Jadi gini ceritanya, baru-baru ini saya ditag dua orang teman baik dari situs Ngerumpidotcom yang sekarang sudah nggak aktif lagi (situsnya, bukan orangnya), Yayas dan bun Vei untuk ikutan Chain of Happiness. Itu lho, tantangan untuk menuliskan minimal 3 saja hal yang bikin kamu bahagia dalam satu hari. Awalnya sih males, apalagi pas ditag lagi sumpek kelas berat. Rasanya seperti jadi orang paling merana di dunia. Apa-apa nggak enak.

Tapi baca chain of happiness yang lain ternyata kok sederhana sekali. Masa bisa minum teh hangat yang enak di sela-sela kesibukan kerja bisa bikin bahagia. Masa dapet senyuman dari orang lansia yang dikasih tempat duduk di kereta penuh sesak bisa bikin senang. Biasa aja keleeuuss.

Setelah dipikir-pikir, seharusnya memang kebahagiaan itu datang dari hal-hal sederhana, yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya. Yang mungkin luput dari kesadaran karena terlalu sibuk merutuki kemalangan kita.

Cara mainnya sih gampang, tulis di status facebook atau Path atau sosmed mana ajalah yang kita sukai minimal 3 hal yang bikin kita bahagia hari ini, lebih juga boleh, selama 3 hari berturut-turut. Lalu tag 3 orang teman untuk ikutan main, kalau kita tulis 4 hal ya tag 4 orang dan seterusnya.

Tapi terus saya ditanya oleh seorang sahabat, “Gimana kalau yang ditag nggak lagi bahagia? Apa nggak jadi seperti dipaksa bahagia?” Menurut saya, nggak ada paksaan sih untuk ikutan main. Bebas aja. Kalau cuma pengen main sehari pun juga boleh. Yang penting sudah ikut menyebarkan spiritnya. Lagipula lebih baik menulis status yang positif dan bahagia kan daripada galau tak berujung atau copras capres yang meski sudah selesai tapi masih banyak yang belum move on.

Nah, ini dia 3 hal yang bikin saya bahagia kemarin:

 photo 69150EB0-E492-4993-A936-656339DC936D_zpsttrb3jhy.jpg

1. Sarapan bareng sama teman-teman baik sambil ngobrol ngalor ngidul. Senang banget. Pas lagi jenuh sekali sama rutinitas sehari-hari yang bikin hati sumpek dan emosi terus, bisa keluar rumah dan berbagi cerita sama teman-teman bisa bikin cerah ceria. Apalagi selama puasa, lebaran dan summer holiday ini jarang ketemu karena pada mudik ke Indonesia. Lumayan, jadi mood booster dalam menjalani rutinitas minggu ini.

2. Ngeliat Cinta belajar untuk ejaan Rumi bahasa Melayu dengan hati riang. Biasanya tiap disuruh belajar selalu ngomel tapi kali ini sambil nunggu pesanan makanan kita datang, dibawain buku dan pensil, dicoba belajar pas lagi makan di restoran. Jadi nggak buang waktu percuma.

3. Dengar Keenan yang lagi senang bilang, “Horeee,” “Bye bye,” “Makasih,” “Thank you,” eeerrr setidaknya begitulah terjemahan kata-kata bayinya menurut saya. Eh, juga baru sadar giginya sudah tumbuh 3 lagi. 2 gigi taring atas kanan kiri dan 1 gigi di sebelah kiri atas. Jadi total dia punya 11 gigi sekarang. Asiiik…

Gitu deh, cerita tentang kebahagiaan saya kemarin. Sederhana kan? Kalau mau ikut main silakan tag diri masing-masing ya…

Teguran

Berdasarkan peraturan sekolah, anjuran seragam untuk siswi muslim adalah baju kurung. Sejak Cinta masih di KG 3 sudah dikasih tahu dan dia setuju untuk pakai seragam model baju kurung dengan syarat cuma mau bertudung saat matpel Ugama.

Tapi pada praktiknya, banyak temannya sesama siswi muslim yang pakai seragam lengan dan rok pendek. Cinta yang dari awal beberapa kali mengeluh nggak nyaman berbaju kurung pun protes, “My friends A, B, C wear short skirt and short sleeves uniform. I know they are moslem but they don’t wear baju kurong. Why should I?”

Hmmm… Mamanya nggak bisa ngasih argumen yang kuat, seperti baju panjang dan tudung itu wajib untuk muslimah. Lha wong sendirinya belum melakukan hal yang sama. Atau bahwa itu aturan sekolah yang wajib diikuti kalau banyak yang tidak patuh.

Akhirnya diputuskan Cinta bisa pakai baju seragam biasa hanya di hari Sabtu saat nggak ada pelajaran Ugama. And she’s very happy.

 photo 005D51E5-47FF-411B-BB5B-6E343CEED894_zpsefy2x4n0.jpg

Memang benar ya, monkey see monkey do. Eh, bukan berarti Cinta monyet. Maksudnya, anak belajar dari melihat dan menyontoh orang tua. Mau berbusa-busa nyuruh anak taat agama; pakai jilbab; rajin ngaji kalau ortunya sendiri masih banyak melanggar dan nggak melakukan hal yang dia bilang, ya nggak masuk akal.

Mungkin ini teguran juga buatku untuk memperbaiki diri. Semoga bisa, sebelum terlambat. Aamiin..