Browsing Category:

Life in Brunei

  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []
  • Life in Brunei

    Belajar dari Bazar

    Hari Minggu tanggal 9 November 2014 yang lalu, Indonesia Section Panaga Club dibantu oleh ibu-ibu dari komunitas keluarga Indonesia yang berdomisili di daerah Kuala Belait dan Seria, Brunei Darussalam atau yang biasa disebut komunitas KB Seria mengadakan Indonesian Bazaar. Acara ini memadukan bazar kerajinan, makanan khas Indonesia dengan permainan-permainan tradisional yang biasa digelar saat acara tujuh belasan di Indonesia. Selain itu juga ada berbagai macam aktivitas menarik untuk anak-anak dan nail art serta workshop angklung dan bikin artwork dari janur.

    Untuk bazar seni dan kerajinan, tema yang kami pilih adalah keragaman budaya Indonesia dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan barang seni dan kerajinan itu. Untuk itu ibu-ibu yang terlibat dalam bazar ini dibebaskan memilih barang apa yang mau mereka jual. Uniknya dari 6 pedagang hampir semua jenis jualannya berbeda. Seperti mba Evita yang fokus pada jualan batik baik kain maupun aksesoris, mba Dewi dengan pernak-pernik batiknya dan Anggy yang memilih kain sasirangan sebagai barang dagangannya.

    Berbagai kain dan kerajinan khas Indonesia di Art & Craft Corner Indonesian Bazaar 2014, Brunei Darussalam

    Alasan memilih kain ini adalah karena belum banyak orang asing yang mengenalnya. Kebanyakan orang hanya tahu batik dari Jawa dan tenun, sementara masih banyak motif kain tradisional lain yang belum terekspos seperti kain sasirangan yang berasal dari Banjarmasin ini. Apalagi daerah asal kain Sasirangan terletak satu pulau dengan Malaysia bagian Sabah dan Sarawak serta Brunei Darussalam, di mana kedua negara ini juga berbagi kebudayaan dengan Indonesia. Begitu pula dengan songket. Pasti banyak yang belum tahu kan kalau Malaysia dan Brunei pun punya kain songket? Untuk itulah motif-motif unik ini diperkenalkan supaya kita dan orang asing tahu ini milik Indonesia. Jangan sampai kelak diakui oleh tetangga sebelah baru kita marah-marah.

    Sementara yang lain meski sama-sama berjualan tenun ada yang khusus berupa kain dan ada yang sudah dalam bentuk tas dan pernak-pernik ukiran.  Tak ketinggalan aksesoris dari bahan perak, batu dan manik-manik yang cantik.

    Karena kebanyakan barang yang dijual berupa kain, saya meminta teman-teman yang berjualan untuk membuat semacam katalog dalam bahasa Inggris yang berisi keterangan asal kain tersebut, cara pembuatannya dan dapat digunakan sebagai apa saja. Tujuan awalnya sih untuk menarik pembeli, karena berdasarkan info yang saya dapat, tidak banyak orang asing yang tertarik membeli kain karena mereka tidak mengenal makna dari motif-motif kain tersebut dan bisa dibuat apa.

    Pengetahuan tentang Indonesia di dalam sebuah kerajinan

    Ternyata, hasil eksekusinya jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan. Enggak sekadar membuat katalog, teman-teman penjual ada yang membuat standing banner, ada juga yang diletakkan dalam pigura dan dijadikan hiasan meja untuk mempercantik display jualannya. Tapi highlight saya adalah kreativitas mba Ika yang dengan telaten membuat semacam tag berisi keterangan bahan lengkap dengan peta Indonesia yang menunjukkan pulau asal bahan tersebut. Hebatnya, dia membuat tag tersebut untuk masing-masing barang jualannya yang berbeda-beda. Salut banget sama ketelatenan mba Ika. Padahal dia selain berjualan juga mengkoordinir pelaksanaan acara Indonesian Bazaar. Ah, keren bener ibu satu itu.

    Pada akhirnya, pengunjung bazar kami selain melihat berbagai kerajinan khas Indonesia juga memiliki pengetahuan baru yang bisa mereka bagi ke orang lain. Jangankan mereka, saya saja belajar banyak kalau tenun itu ternyata banyak jenisnya, begitu pula dengan songket yang termasuk dalam salah satu jenis kain tenun dan tentu saja kain sasirangan. Pembeli pun mendapatkan tips memanfaatkan kain-kain tersebut. Selain jadi baju  ternyata juga bisa digunakan sebagai runner meja, sarung bantal, aplikasi tas, hiasan dinding dan masih banyak lagi. Jadi enggak cuma batik saja yang bisa dipamerkan dari Indonesia, kain-kain lain juga banyak sekali yang dapat dibanggakan.

    Beruntung sekali saya terlibat dalam bazar tahun ini. Bisa mengenal ibu-ibu yang kreatif dan memiliki semangat besar mengenalkan keragaman budaya Indonesia. Semoga dengan begini makin banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi negara tercinta kami itu dan melihat langsung pembuatan kerajinan-kerajinan yang mereka beli lalu ikut mempromosikan Indonesia ke kerabatnya.

    Yuk, selalu bangga dan mempromosikan kerajinan asli buatan negara sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi. Betul?

    Pics koleksi pribadi Anggy & Alfa.

    PS: Jangan cari saya di foto ini, bagian mondar-mandir enggak sempat foto-foto hiks.

  • Life in Brunei

    Counting the Blessings

    Yellooooow (bukan Dijah Yellow), how are you apa kabar? Lama tak jumpa yah. Kangeeeen *lap debu di laptop*

    Jadi gini ceritanya, baru-baru ini saya ditag dua orang teman baik dari situs Ngerumpidotcom yang sekarang sudah nggak aktif lagi (situsnya, bukan orangnya), Yayas dan bun Vei untuk ikutan Chain of Happiness. Itu lho, tantangan untuk menuliskan minimal 3 saja hal yang bikin kamu bahagia dalam satu hari. Awalnya sih males, apalagi pas ditag lagi sumpek kelas berat. Rasanya seperti jadi orang paling merana di dunia. Apa-apa nggak enak.

    Tapi baca chain of happiness yang lain ternyata kok sederhana sekali. Masa bisa minum teh hangat yang enak di sela-sela kesibukan kerja bisa bikin bahagia. Masa dapet senyuman dari orang lansia yang dikasih tempat duduk di kereta penuh sesak bisa bikin senang. Biasa aja keleeuuss.

    Setelah dipikir-pikir, seharusnya memang kebahagiaan itu datang dari hal-hal sederhana, yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya. Yang mungkin luput dari kesadaran karena terlalu sibuk merutuki kemalangan kita.

    Cara mainnya sih gampang, tulis di status facebook atau Path atau sosmed mana ajalah yang kita sukai minimal 3 hal yang bikin kita bahagia hari ini, lebih juga boleh, selama 3 hari berturut-turut. Lalu tag 3 orang teman untuk ikutan main, kalau kita tulis 4 hal ya tag 4 orang dan seterusnya.

    Tapi terus saya ditanya oleh seorang sahabat, “Gimana kalau yang ditag nggak lagi bahagia? Apa nggak jadi seperti dipaksa bahagia?” Menurut saya, nggak ada paksaan sih untuk ikutan main. Bebas aja. Kalau cuma pengen main sehari pun juga boleh. Yang penting sudah ikut menyebarkan spiritnya. Lagipula lebih baik menulis status yang positif dan bahagia kan daripada galau tak berujung atau copras capres yang meski sudah selesai tapi masih banyak yang belum move on.

    Nah, ini dia 3 hal yang bikin saya bahagia kemarin:

     photo 69150EB0-E492-4993-A936-656339DC936D_zpsttrb3jhy.jpg

    1. Sarapan bareng sama teman-teman baik sambil ngobrol ngalor ngidul. Senang banget. Pas lagi jenuh sekali sama rutinitas sehari-hari yang bikin hati sumpek dan emosi terus, bisa keluar rumah dan berbagi cerita sama teman-teman bisa bikin cerah ceria. Apalagi selama puasa, lebaran dan summer holiday ini jarang ketemu karena pada mudik ke Indonesia. Lumayan, jadi mood booster dalam menjalani rutinitas minggu ini.

    2. Ngeliat Cinta belajar untuk ejaan Rumi bahasa Melayu dengan hati riang. Biasanya tiap disuruh belajar selalu ngomel tapi kali ini sambil nunggu pesanan makanan kita datang, dibawain buku dan pensil, dicoba belajar pas lagi makan di restoran. Jadi nggak buang waktu percuma.

    3. Dengar Keenan yang lagi senang bilang, “Horeee,” “Bye bye,” “Makasih,” “Thank you,” eeerrr setidaknya begitulah terjemahan kata-kata bayinya menurut saya. Eh, juga baru sadar giginya sudah tumbuh 3 lagi. 2 gigi taring atas kanan kiri dan 1 gigi di sebelah kiri atas. Jadi total dia punya 11 gigi sekarang. Asiiik…

    Gitu deh, cerita tentang kebahagiaan saya kemarin. Sederhana kan? Kalau mau ikut main silakan tag diri masing-masing ya…

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Teguran

    Berdasarkan peraturan sekolah, anjuran seragam untuk siswi muslim adalah baju kurung. Sejak Cinta masih di KG 3 sudah dikasih tahu dan dia setuju untuk pakai seragam model baju kurung dengan syarat cuma mau bertudung saat matpel Ugama.

    Tapi pada praktiknya, banyak temannya sesama siswi muslim yang pakai seragam lengan dan rok pendek. Cinta yang dari awal beberapa kali mengeluh nggak nyaman berbaju kurung pun protes, “My friends A, B, C wear short skirt and short sleeves uniform. I know they are moslem but they don’t wear baju kurong. Why should I?”

    Hmmm… Mamanya nggak bisa ngasih argumen yang kuat, seperti baju panjang dan tudung itu wajib untuk muslimah. Lha wong sendirinya belum melakukan hal yang sama. Atau bahwa itu aturan sekolah yang wajib diikuti kalau banyak yang tidak patuh.

    Akhirnya diputuskan Cinta bisa pakai baju seragam biasa hanya di hari Sabtu saat nggak ada pelajaran Ugama. And she’s very happy.

     photo 005D51E5-47FF-411B-BB5B-6E343CEED894_zpsefy2x4n0.jpg

    Memang benar ya, monkey see monkey do. Eh, bukan berarti Cinta monyet. Maksudnya, anak belajar dari melihat dan menyontoh orang tua. Mau berbusa-busa nyuruh anak taat agama; pakai jilbab; rajin ngaji kalau ortunya sendiri masih banyak melanggar dan nggak melakukan hal yang dia bilang, ya nggak masuk akal.

    Mungkin ini teguran juga buatku untuk memperbaiki diri. Semoga bisa, sebelum terlambat. Aamiin..

  • Life in Brunei

    Counting The (Small) Blessings

    Sudah hampir semingguan ini rasanya body not delicious. Nggak tahu apa penyebabnya, sering sakit kepala, perut kembung dan badan gampang kedinginan. Mana tiap bangun tidur bukannya terasa segar, malah seperti habis digebukin orang. Karena nggak enak badan yang berlarut-larut ini, akhirnya mood pun ikut berantakan. Bawaannya jadi kemrungsung. Gampang marah, cepat capek. Serba nggak enak deh. Senggol bacok aja gitu >_<

    Dan seperti lingkaran setan, saat emak cranky anakpun jadi ikutan rewel. Karena anak rewel, emak jadi makin sutris. Gitu terus. Sampai 2 hari yang lalu rasanya udah burnt out, nggak tahan lagi.

    Kalau nggak inget punya tanggung jawab ngurusin dua krucil tersayang yang nggemesin itu, udah pengen kabur menyendiri kaya yang dilakukan tokoh Eliza Welsh yang diperankan Uma Thurman di film Motherhood biar bisa total mengistirahatkan badan dan pikiran.

    Tapi tiba-tiba, begitu keluar rumah untuk nganter Cinta sekolah dapat banyak sekali kejutan kecil yang manis dari Tuhan. Mulai dari pengemudi-pengemudi yang murah hati ngasih jalan di persimpangan waktu buru-buru dan harus nyetir sendiri. Matahari yang bersinar hangat dan bikin badan yang sejak semalam kedinginan jadi nyaman. Keenan yang selama beberapa hari terakhir cuma mau makan pisang, eh hari itu mau makan nasi butter keju untuk sarapan; beberapa sendok nasi + sup ayam dan sebiji pisang untuk maksi, seperempat potong buah pir untuk camilan sore dan separuh mangkuk nasi campur sayur, ayam cincang & keju untuk makan malam.

    Cinta yang belakangan pulang sekolah dengan wajah cemberut, kemarin berseri-seri. Mau makan siang banyak dan telaten banget nemenin adeknya main sehingga si mamak sempat leyeh-leyeh ngeliatin mereka sambil menyelesaikan proyek crochetnya. Juga mbak-mbak pelayan di restoran Almalabar yang mau bantu gendong dan ajak main Keenan sehingga mamanya bisa makan dengan santai dan masih banyak lagi. Mungkin kalau dihitung satu per satu nggak cukup 20 jari tangan.

    Pengalaman sehari itu bikin saya sadar, memang paling benar itu mengeluh dan ngadu sama Tuhan. Mungkin Dia nggak langsung menyelesaikan masalah saya tapi pasti ada hal-hal yang Tuhan kasih untuk membantu saya melewati hari yang terasa berat. Asal mau buka mata dan hati menerima hadiah-hadiahNya ketimbang hanya fokus pada masalah yang kita hadapi. Bahkan saat berada di titik terendah pun setidaknya Dia masih memberi kita kesempatan untuk bernafas dan melakukan sesuatu, sementara di tempat lain seseorang tengah menghembuskan nafas terakhirnya.

    So, sudahkah Anda bersyukur hari ini, temans?

  • Life in Brunei

    Tea O Ping

    Pertama kali menginjakkan kaki di Brunei 4 tahun yang lalu, saya sempat terbengong-bengong mendengar pelayan resto menanyakan detil minuman yang saya pesan. Suam? Ping? Hah… Teh warna pink macam mana pula itu. Suam itu juga apa varian teh seperti Earl Grey, Jasmine atau Peppermint? Dan semakin nggak paham ketika yang muncul di hadapan saya adalah segelas teh panas dengan susu di bawahnya. Padahal saya nggak minta teh tarik lho. Cuma ingin teh biasa, semacam Sariwangi, Lipton atau Dilmah.

    UntitledTea Suam

    tea tarikUntitled

    Melihat tampang saya, barulah suami menjelaskan tentang aneka teh yang biasa disajikan di kedai-kedai makan tradisional Brunei. Ternyata si pelayan nggak salah mengantarkan minuman karena saat kita menyebut teh di sini, yang dimaksud adalah teh dengan susu. Kalau ingin teh tanpa susu silakan minta ‘Tea O‘ atau tea only. Sedangkan suam dan ping adalah suhu minumannya. Suam berarti hangat dan ping kebalikannya, alias dingin. Jadi saat memesan es teh yang biasa kita minum di Indonesia, mintalah tea o ping. Dan kalau nggak suka manis sebutkan, “tea o ping kurang manis.”

    Selain itu ada juga teh dengan jahe. Orang sini menyebutnya Teh Halia dan tetap ada pilihan pakai susu atau tidak. Sebutan ini berlaku juga untuk kopi. Para pecinta kopi hitam berarti harus minta kopi o dan bukan hanya sekadar menyebut, “kopi” karena yang akan keluar pasti kopi dengan susu.

    Lha kalau sama-sama mengandung susu apa bedanya teh biasa dengan teh tarik? Ternyata selain dari jenis teh yang digunakan juga terletak di proses pembuatannya. Kalau teh tarik memakai teh hitam, susu evaporasi dan ditarik-tarik gitu saat dituang di gelas sampai muncul busa. Teh yang kabarnya berasal dari Malaysia ini adalah salah satu jenis teh favorit saya, apalagi kalau gandengannya roti telur kuah kari ikan. Teh tarik suam maupun ping, enak banget untuk sarapan. Yuuumm.

    Apa teh kesukaan kalian?

  • Foods and Places, Life in Brunei

    LLRC Waterpark

    LLRC Waterpark

    Pas ngulik Flickr, teringat ada set foto waterpark yang belum sempat diposting di sini. Waterpark ini termasuk baru dan satu-satunya di kawasan Belait, Brunei Darussalam. Ada sih kolam renang umum lain di BSRC Panaga dan satu lagi di Kuala Belait. Tapi yang ada mainannya ya cuma ini.

    Liang Lumut Recreation ClubDSC09609

    DSC09598DSC09600

    Dibangun mulai pertengahan tahun 2012, kolam renang yang terletak di area Liang Lumut Recreation Center ini resmi dibuka saat libur akhir tahun ajaran sekolah bulan Desember tahun lalu. Seperti umumnya tempat wisata yang baru buka, minggu-minggu pertama selalu ramai. Tiap lewat sana parkiran LLRC dan pantai di depannya penuh banget.

    Sampai akhirnya bisa memenuhi janji ajak Cinta ke sana ya saat libur sekolah hampir selesai. Itu pun di hari Jumat pagi saat kebanyakan orangtua masih kerja.

    Awalnya sempat ragu pergi cuma berdua dengan Cinta ke waterpark. Maklum waktu itu usia kehamilan sudah masuk trimester ketiga dan nggak punya baju renang yang cukup besar. Lalu saya minta ijin sama Cinta untuk menemani dia dari pinggir kolam aja dan nggak ikut berenang. Saking inginnya berenang, Cinta pun setuju dan janji mau selalu pakai pelampungnya.

    DSC09597DSC09603

    Sampai di sana ternyata kolamnya cetek, sodara sodara. Cuma setinggi lehernya Cinta atau sekitar 80cm. Meski begitu Cinta yang baru pertama kali masuk kolam renang sendiri tetap pakai pelampungnya wong dia belum bisa berenang hehehe.

    Tadinya dia cuma jalan-jalan aja di dalam kolam sambil main semprotan air di sekitarnya. Lama-lama lihat teman-teman sebayanya main perosotan jadi tertarik mau juga dan minta ijin untuk ikut main. Setelah saya lihat nggak terlalu tinggi dengan pertimbangan kolamnya juga nggak dalam akhirnya saya perbolehkan. Tapi rupanya dia masih belum pede sehingga nggak mau lepas dari pelampungnya.

    Sambil deg-degan saya menunggu dari pinggir kolam saat dia mulai meluncur. Wuiiii… Percobaan pertama berhasil! Cinta seneng banget. Saya pun mengabulkan permintaannya untuk bisa berseluncur sekali lagi. Sayang di kali kedua ini waktu menyentuh kolam hidungnya kemasukan air yang bikin dia nangis dan kapok perosotan. Jadilah selanjutnya Cinta cuma berenang di kolam atau kejar-kejaran di pinggir kolam sama kawan-kawannya sampai saya ajak pulang.

    Well, untuk waterpark dengan HTM seharga B$ 2 bagi dewasa di hari kerja (B$ 3 di hari Sabtu-Minggu dan libur nasional) dan B$ 1 bagi anak-anak (B$ 2 pada hari Sabtu-Minggu dan public holiday), fasilitasnya cukup bagus meski kecil dan minimalis sekali. Dibandingkan sama SunCity Waterpark Sidoarjo aja masih kalah besar dan bagus apalagi sama Ciputra Waterpark di Surabaya.

    Di sini nggak boleh bawa makanan dari luar, tapi di area kolam disediakan tempat makan yang dikelola oleh restorannya LLRC. Menunya ya semacam burger, sandwich gitu.

    Ruang ganti dan kamar mandinya bersih dan semoga tetap bersih karena berdasarkan pengamatan saya entah kenapa toilet umum di Brunei ini kurang bersih.

    Secara keseluruhan sih tempatnya nggak terlalu istimewa tapi lumayanlah sebagai tempat hiburan di dekat rumah saat kangen pengen main air. Kalau buat anak-anak kan yang penting mereka bisa bersenang-senang. Tentu di bawah pengawasan ketat orang tua ya terutama untuk balita dan yang belum bisa berenang karena nggak ada lifeguardnya.

    Kalau mommies biasanya suka bawa anak-anak berenang di mana nih?

    See more pictures here.

  • Life as Mom, Life in Brunei

    Family Day Celebration

    Setiap minggu pertama di bulan Mei, Brunei memperingati Hari Keluarga Kebangsaan atau National Family Day. Nah, untuk merayakannya sekaligus Mother’s Day yang jatuh di minggu kedua Mei, sekolahnya Cinta bikin aktivitas yang melibatkan anak dan orangtua.

    Children's Crafts

    Bertempat di aula sekolah, anak-anak, orangtua dan guru berkumpul untuk menikmati beberapa penampilan dari para murid KG 1, 2 dan 3. Dimulai dengan mengucapkan salam untuk para guru dan dilanjutkan dengan morning exercise yang dipandu oleh guru-guru dan diikuti orangtua dan siswa. Hihihi seru sih, sayang masih banyak orangtua yang malu-malu atau malas ngikutin gerakannya. Kita sih pede aja goyang-goyang sambil gendong si Keenan dalam Bobita wrap.

     greeting to teachersteachers doing morning exercise on the stage

    parents and children doing togetherteachers and students doing morning exercise together

    kg 2 students performs songs and poem on the stagei love you mother and father

    On The StageUnder the Stage

    Setelah itu beberapa murid dari KG 2 naik panggung untuk baca puisi dan nyanyi tentang cinta pada orang tua dan keluarga. Lucu liat anak-anak kecil semangat perform meski suaranya nggak kedengeran sampai bangku tempat kita duduk di belakang.

    Aktivitas di dalam aula ditutup oleh penampilan beberapa anak KG 1 and KG 3 yang nyanyi sebuah lagu cina. Meski Cinta sering nyanyi juga di rumah tapi nggak paham lagunya tentang apa, wong dia tiap ditanya selalu dengan cueknya jawab, “Aku nggak tahu.”

    Setelah itu orangtua dan murid-murid KG 3 yang ikut aktivitas menghias kue berkumpul di depan aula yang sudah tertata rapi meja-meja dan perlengkapan menghias kue. Lainnya kembali ke kelas untuk makan snack pagi dan melanjutkan pelajaran seperti biasa.

    patiently waiting for the instruction while the baby sleeping peacefully inside his bobita wrapStart with her favorite shape: heart

    Cake Decoration ActivityA Little Help from Daddies

    UntitledtadaaaaThis is it. Mother's day cake by Cinta

    Anak-anak semangat banget menghias kuenya, sampai pada langsung tancap gas meski belum disuruh mulai dan bikin staf Sunny Bee Bakery berkali-kali bilang, “Please wait for the instruction. Don’t start before we ask you to start.” Tapi ya namanya anak-anak (dan orangtua juga sih) tetap aja ada yang curi-curi mainan icing, tempel-tempel hiasan dan colek-colek kue hihihi.

    Begitu diperbolehkan mulai langsung semua beraksi. Ada yang nggak mau dibantuin termasuk Cinta, ada juga yang heboh menghias adalah ibu atau neneknya! Iya, nenek. Namapun family day ya, nenek pun termasuk keluarga kan. Apalagi di sini karena kebanyakan kedua orangtua kerja, sehari-hari anak ya diasuh dan antarjemput ke sekolah sama nenek kakeknya.

    Hasilnya, keliatan deh mana yang murni buatan anak atau hanya dengan sedikit bantuan papa mamanya dengan yang banyak dibantu. Ah, tapi yang penting bersenang-senang sama keluarga ya. Bahkan anak bayi pun banyak yang dibawa merayakan hari keluarga ini termasuk Keenan yang selama hampir 3 jam tidur terus meski suasananya ramai.

    Bagus deh sekolahnya Cinta bikin acara beginian. Sederhana tapi berkesan. Anak senang, papa mamapun hepi karena bisa terlibat dalam kegiatan bersama-sama di sekolah. Happy Family Day, parents and happy Mother’s Day.

    Some pictures taken from CCMS KG’s FB page and my friend’s collection. See more pictures here.