Browsing Category:

Parenting

  • Daily Stories, Parenting

    Kidal atau Tidak?

    Sejak bayi, Cinta lebih banyak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Sampai guru-gurunya di Baby School dulu bertanya apakah Cinta ada kecenderungan kidal. Kami pun pernah menduga demikian, tapiĀ dari beberapa referensi yang pernah saya baca, batita memang punya kecenderungan untuk menggunakan kedua tangannya secara aktif yang menunjukkan bahwa otak kanan yang berkaitan dengan kemampuan matematik dan otak kirinya yang mempengaruhi kemampuan tata bahasa sedang berkembang. Tapi di usia 2-3 tahun mulai tampak tangan mana yang lebih dominan dan akan permanen di usia 6 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan ciri-ciri anak kidal sudah ada sejak ia berusia 6-7 bulan, sementara kecenderungannya sudah terbentuk ketika anak dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga berpengaruh.

    Namun, sejak masuk sekolah saya perhatikan Cinta lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan motorik halusnya seperti menggunting, membentuk sesuatu dari playdoh, memegang alat tulis, dsb. Tapi untuk melempar, memegang atau membawa sesuatu yang agak berat masih dengan tangan kiri. Mungkin karena pengaruh guru dan teman-temannya di sekolah atau karena memang dia lebih nyaman dengan cara seperti itu.

    Saya dan keluarga sendiri tidak pernah mempermasalahkan tangan sebelah mana yang lebih dominan di Cinta. Hanya saja pelan-pelan dan tanpa paksaan, kami mengajarkan Cinta untuk bersalaman, memberi dan menerima sesuatu, juga makan dengan tangan kanan karena budaya di sini masih menganggap tangan kanan sebagai “tangan manis”. Apapun jadinya nanti, mau kidal atau tidak, yang penting Cinta nyaman dengan dirinya dan bahagia dengan keadaannya šŸ™‚

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Family Health, Parenting

    KulTwit Tentang Broken Home oleh @AlissaWahid

    Kalau di postingan I Thought I Was A Survivor,Ā saya mengutip beberapa twit tentang broken home dari kultwit mbak @AlissaWahid tentang apa itu broken home, dampaknya bagi anak dan bagaimana supaya bisa survive dalam keadaan itu. Nah, di postingan ini versi lengkapnya. Yuk belajar mengerti, memahami dan menolong serta mendampingi para “korban” broken home supaya menjadi survivor yang sukses.

    The responsibility of a Mother to her children is to love their Dad, the responsibility of a Father is to love their MomĀ #brokenhome

    The foremost & basic need of a humanbeing is security. After being born, the first psychological development is basic trust#brokenhome

    This need for security is the foundation for the next psycho.development: autonomy, initiative, identity & so on..#brokenhome

    When a baby learns that she can trust her Mother/othercaregiver, she will have a sense of security that others care for her#brokenhome

    Buat manusia, finding his place in this world & having meaningful relationship adl hal dasar utk kesehatan jiwaĀ #brokenhome

    Hubungan ayah ibu mrpkn model hubungan yg tdekat utk anak. Dr sini anak belajar bgmn bangun hubungan bmakna dg org lain#brokenhome

    Saat basic trust tcapai, anak mrs secured. Saat lihat hubungan orgtua, anak mbangun konsepnya ttg hubungan yg bermakna#brokenhome

    Jd kl ayah-ibu bertengkar di depan anak2, apa kira2 yg sedang dipelajari si anak?Ā #brokenhome

    Saat orgtua berantem, anak belajar problemsolving, cinta, hubungan, etika, komunikasi, managing differences..Ā #brokenhome

    Kl saat berantem, orgtua tdk pamer kemarahan dg teriakan, pukulan, lemparbarang.. Anak belajar utk tdk umbar emosi #brokenhome

    Kl ibu teriak2, lempar piring ke ayah, lalu ayah menyembah2, anak belajar cara efektif mengalahkan org adl dg sikap agresif #brokenhome

    Kl tiap berantem, ayah mjelek2an ibu kpd anak2, mrk blajar bhw begitulah cara membela diri dr ptikaian: umbar salah org lain #brokenhome

    Kl tiap berantem, ibu lari dr rumah, atw ayah mabuk2an, maka anak belajar utk lari dr masalah, bukan menyelesaikanĀ #brokenhome

    Jd, the way orgtua berantem bukan hanya menyangkut si orgtua. Tp itu adl pbelajaran bharga utk anakĀ #brokenhome

    Isu yg diributkan orgtua tdk begitu penting utk anak. Dia tdk bs lihat siapa yg salah atw benar. Apalagi dia sayang keduanya#brokenhome

    Menurut sy sih anakĀ #brokenhome tdk hrs dr kelg bcerai. Bs juga dr orgtua yg stay together tp keluarganya gak tentram, tll sering ribut

    Byk anak dr kelg bcerai tumbuh jd org dewasa yg baik & sukses. It’s bcoz the parents handle the process in empowering manner #brokenhome

    Byk orgtua tdk bcerai tp anak2nya tumbuh jd org dewasa yg ‘kurang sehat’ krn ia belajar cara2 hubungan yg justru tdk sehat #brokenhome

    Pceraian orgtua membawa dampak loss of security pd diri anak. Selalu. Tp ada dinamika keseluruhan pengalaman hidup anak.. #brokenhome

    ada 3 jenis ptanyaan nih: how to survive, how to help survivor, how to be the best divorced-parents. satu2 dibahas ya

    how to help survivorĀ #brokenhome dulu, sdh kadung mulai bahas soalnya. yg tpenting pastikan kita bs mjd pdamping yg tepat. kita hrs kuat

    how to help survivorĀ #brokenhome : fokus beri dia unconditional love, tdk tseret saat dia moody, justru mampu seret dia balik

    berat lho helping survivorĀ #brokenhome tapi it’s worth it. kl bener2 pengen bantu, kitanya juga perlu effort ekstra utk belajar & tumbuh

    RT @arifnofiyanto: That happens, b4 he was born. One of his parent left & doesn’t have those calld responsibility. Yep, his dad#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: This man, grow “almost normal”, happy, excitd until somehow he dropped down into very bad sentimental life#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: Yes, he realized his life is not complete and have a big anger to his parent for being irresponsible#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: he life in his own way, create his own world, his own imagination abt a good family, sometime he living there too much

    RT @arifnofiyanto: Then, one day, the man whose shud be his father coming back & asked to be called as dad. The new man refuseĀ #brokenhome

    RT @arifnofiyanto: This guy have all in his life: intelligence, friends, confidence, except feeling the loveĀ #brokenhome

    to surviveĀ #brokenhome the man needs to search inside himself, replacing old beliefs about love & relationships with new empowering beliefs

    semua masalah mengandung benih2 kebahagiaan/kesuksesan utk masadepan. ourĀ #brokenhome past is a starting point to turn back our lives!

    how to erase the anger & forget the pain? you can’t. you can only handle the emotions. it’s a part of you. it is what it is.Ā #brokenhome

    we can make the anger & the pain of beingĀ #brokenhome as fuels to take steps necessary in building a happy future. that’s called forgiveness

    RT @kopiholico: Stars glow because of the dark. Our child would learn to always grow out of adversities & bcome winners too!#brokenhome

    seriously confused with lots of questions & responds on#brokenhome.. sdh malam pulak ini.. kita simpulkan dikit dulu ya..

    as parents, we should realize the way we fight & handle conflicts is very influential to our children and the adults they become#brokenhome

    #brokenhome does not refer only to divorce. staying together in unhealthy relationship will give the children unhealthy environment to grow

    #brokenhome is not an end of the world. it can be a start for something better, if we truly want to change or help someone change

    handling a situation ofĀ #brokenhome as the survivor, helping a survivor, or the surviving parent is not easy, but it’s worth the fight

    Let’s be grateful of whatever the life we have now,Ā #brokenhome or not, for now we have a reason to build better lives!

    RT @willwesley: For those from aĀ #brokenhome, do remember that if it didn’t happen you wouldn’t be who you are now

    RT @nuuii: Berdamai dgn masa lalu..memaafkan situasi,lingk,orang2 yg ikut andil adalah cara jitu keluar dr trauma#brokenhome

    To start twitcussionĀ #brokenhome tonite, I’ll share a friend’s experience as a survivor.. Thanks for allowing us to learn, dear someone..

    RT @arifnofiyanto: baca timeline @alissawahid lumayan mengaduk emosi. Alhamdulillah ak sdh masuk dlm tahap menerima#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: & memaafkan masa lalu. meskipun sejarah tak mungkin dihapus tp bdamai dg masa lalu & mcoba u mencintai ..#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. & menerima orangtua kt apapun kondisi & kekurangan mrk adl lebih baik dibanding terus menerus ….#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. dibanding terus menerus btanya *kenapa* stop berpura2 hidup dlm keluarga sempurna.Ā #brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. walau tak terlahir dlm keluarga yg sempurna, tetapkan dlm hati bahwa kt berhak u bahagiaĀ #brokenhome

    Sharing dari ms.Survivor teman @arifnofiyanto tadi menunjukkan bhw coping withĀ #brokenhome is not so easy..

    RT @rkalski:Ā #brokenhome sbg anak, mungkin awalnya efeknya gak kerasa, seiring waktu berjalan, efeknya jadi dahsyat,

    Buat kita yg bukan produkĀ #brokenhome so easy to use logic & commonsense to cope with these ‘disaster’ but for the ones living with

    Keluarga kandung adl lingkungan utama & pertama. How we sense the world comes from our early-start in the familyĀ #brokenhome

    Ada 2 jenis survivor dari situasiĀ #brokenhome : produk sukses dan produk gagal. Bedanya spt bumi & langit, walau tampak luarnya sama

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluargaĀ #brokenhome

    RT @abekanatalia: being close to some1 who survive from#brokenhome & now has broken family is quite hard for me 2 ustand

    RT @abekanatalia: I don’t understand whyĀ #brokenhome stimes like a curse in family. Kadang terjadi turun menurun.

    RT @abekanatalia: from my experience being close to#brokenhome survivor. He’s so self oriented and overprotected to his family.

    RT @abekanatalia: and unconsiously he create another#brokenhome family. I deeply sad bout this coz I can’t do much to help. .

    RT @fuadfahrudin: Sbgian produkĀ #broken home kdg bs bsikap manis&baik d dpn smua org,tp kl sdr biasany tlihat aslinya. Mdh marah&emosian..

    di alam bawahsadarnya, produkĀ #brokenhome meyakini bhw tdk ada jaminan ia akan bs hidup bahagia, punya hubungan bmakna dg seseorang

    RT @arifnofiyanto: menurut pengamatanku anak yg tlahir dari kelg#brokenhome ketika berhubungan dgn pasangannya punya 2 sikap yg jauh

    RT @arifnofiyanto: @AlissaWahid ketika berhubungan dgn pasangannya punya 2 sikap yg jauh bertolak belakang. [1] overprotected [2] supercuek.

    RT @arifnofiyanto: Knp overprotected? Karena ketika dia merasa ada orang yg sayang sm dia, dia tdk ingin sedetikpun kehilangan ..

    RT @arifnofiyanto: dia tdk ingin sedetikpun kehilangan rasa cinta dari pasangan yg selama ini tdk ditemukan dlm keluarga.#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: kdg itu jd pemicu ptengkaran ketika pasangannya bkn berasal dari kelgĀ #brokenhome & tdk terlalu tahu kondisi & mau dia.

    RT @arifnofiyanto: Yg kedua supercuek: karena telah terbiasa tdk mendapat kasih sayang dr keluarga, biasanya anakĀ #brokenhometdk terlalu ..

    RT @arifnofiyanto: @AlissaWahid biasanya anakĀ #brokenhome tdk terlalu cepat percaya dgn pasangannya akibatnya timbul perasaan cuek…

    RT @arifnofiyanto: Dan berperinsip kalo benar pasangan cinta, harus ngerti dia kalo td ya lupakan saja šŸ˜€Ā #brokenhome

    yg sy RT dr The SurvivorĀ #brokenhome mrpk contoh klasik perilaku yg keluar dari keyakinan kuat di tingkat bawahsadar tentang insecurity

    survivorĀ #brokenhome supersensitif thd hal2 yg kira2 bs meruntuhkan ego-nya. pdhal kesehatan jiwa ditentukan oleh kesehatan ego

    semua org ingin melindungi egonya. ego yg intact/sehat membuat org punya keseimbangan mhadapi ‘cuaca’ kehidupan: ada badai, ada musim bunga #brokenhome

    ego yg tdk sehat melihat ‘cuaca’ kehidupan: badai, musim hujan, musim gugur.. musim lain hanya pengantar menuju masa gelap #brokenhome

    proses menyembuhkan kesehatan ego pd survivorĀ #brokenhomememang lama & tdk mudah. to forgive is one step ahead, but not enough

    struggle yg luarbiasa utk survivorĀ #brokenhome .. utk btahan saja berat, merasakan pahit bkepanjangan, tak tahu kapan usainya..

    saat jatuhcinta pd seseorang, alam bawahsadar survivor#brokenhome btanya: “apa iya aku bisa bahagia? would she stay with forever?”

    krn ingin melindungi ego dr kemungkinan kecewa itu, survivor #brokenhome biasanya overprotektif. & testing the limit of her spouse..

    tanpa sadar, si survivorĀ #brokenhome melakukan hal2 yg di mata org normal aneh. mis. cinta kok cuek. pdhal itu krn dia takut terluka lagi..

    now let’s move on to Produk Sukses drĀ #brokenhome .. ini orang2 yg, despite their situation&struggle, comes out as winners of life..

    RT @AlandaKariza: (#brokenhome) … it shows how human has the power to be resilient. Bounce back higher when pushed.

    dengan proses yg tepat semua survivorĀ #brokenhome bisa kok melewati masa2 “produk gagal” to turn around and become “produk sukses”

    sekali lagi, kunci kesehatan jiwa adl ego yg sehat. disaster spt#brokenhome kl dihadapi dg ego yg sehat dampaknya akan berbeda

    ada dinamika proses hidup yg juga besar pengaruhnya thd kesehatan ego survivorĀ #brokenhome bukan hanya saat2 konflik itu

    si A yg bahagia saat ia balita, orgtua mulai konflik saat remaja akan beda kesehatan jiwanya dg si B yg dr kecil hidup dlmĀ #brokenhome

    si C ygĀ #brokenhome tp dekat dg ayahnya & melihat kematangan ayahnya, beda situasi jiwanya dg si D yg lihat ayah mabuk, ibu depresi ..

    all I’m saying is: be wise memandang/menilai org2 yg struggling dg#brokenhome .. they’re hurting, & they haven’t known any better

    RT @NenoNeno: Mba makasih ya tweets nya malam ini. The only wishes from aĀ #brokenhome is to be listened, understood & loved unconditionally

    moving from Failure to Success fromĀ #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknaiĀ #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibatĀ #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, fromĀ #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtuaĀ #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknolĀ #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that isĀ #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero ofĀ #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    #brokenhome RT @GreatestQuotes: “At the center of yr being you have the answer; you know who you are & you know what you want..” – Lao Tsu

    and when it’s time, my dear survivor friends, I believe you hv the bigger capacity to love & shine, all bcoz of yrĀ #brokenhome past..

    Only the strong admit their fears.. kata Barry Manilow.. but someday someone will make you glad you survive! …Ā #brokenhome

    so have a great journey to find your palce in the sun, all my#brokenhome survivor friends … thanks for sharing..

    RT @IndahWiyoga: @AlissaWahid so, to a survivor from the#brokenhome, whatever ur cross, whatever ur pain, just believe.. (1)

    RT @IndahWiyoga: @AlissaWahid so, to a survivor from the#brokenhome, just believe..There will always be a sunshine after the rain (2)

  • Wounded children, broken home, divorce
    Life as Mom, Parenting

    I Thought I’m a Survivor

    Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

    Wounded children, broken home, divorce

    Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

    Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

    Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

    Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

    alissa wahid broken home

    Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluargaĀ #brokenhome – @AlissaWahid

    Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar,Ā I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

    Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

    moving from Failure to Success fromĀ #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknaiĀ #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibatĀ #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, fromĀ #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtuaĀ #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknolĀ #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that isĀ #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero ofĀ #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    By: @AlissaWahid

  • Parenting

    Menyusui di Tempat Umum

    Seperti kata @sabai di sini, minggu ini adalah World Breastfeeding Week dimana organisasi ibu menyusui di seluruh dunia termasuk AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggunakan momen ini untuk berkampanye semaksimal mungkin mengenai manfaat-manfaat menyusui bagi ibu dan anak. Tahun ini tema kampanye WBW yang diusung oleh AIMI adalah “Menyusui: Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi,” dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI”.

    Kenapa menyusui saja perlu dikampanyekan dan disosialisasi? Bukankah menyusui itu proses alamiah seorang ibu memberi makan untuk anaknya? Well, banyak alasan kenapa banyak ibu yang tidak mau menyusui, mulai dari ASI-nya tidak keluar, takut bentuk payudaranya berubah menjadi tidak bagus, promosi susu formula yang berlebihan sampai malas karena tidak praktis. Tidak praktis? Iya, antara lain karena ibu harus membawa anaknya kemana-mana supaya dapat disusui setiap si anak menginginkan, malu jika harus menyusui di tempat umum sehingga ia harus “terkurung” di rumah sampai anak disapih, padahal yang namanya menyusui nggak cuma sampai ASI Eksklusif 6 bulan tapi berlanjut sampai 2 tahun atau lebih tergantung kesepakatan anak dan ibu.

    Soal menyusui di tempat umum ini yang paling sering dipersoalkan oleh banyak pihak, bahkan dari kaum perempuan sendiri seringkali memandang risih kegiatan ini. Bahkan ada juga yang menganggap menyusui di tempat umum dan tanpa sengaja memperlihatkan payudara adalah pornoaksi. Padahal, banyak ibu yang mau tidak mau harus menyusui di tempat umum karena terbatasnya ruangan ibu dan anak atau nursery room. Anak yang minum ASI tidak seperti anak yang diberi susu formula yang bisa diperkirakan waktu minum susunya. Kadang anak minta menyusu bukan saja karena ia haus atau lapar tapi juga karena merasa tidak nyaman.

    Sebagai mantan ibu menyusui yang tidak menggunakan jasa babysitter sampai Cinta berusia 6 bulan, sejak ia berusia 1 bulan sudah saya ajak kemana-mana; bank, mall, arisan, dsb. Kalau dibilang egois ya bolehlah. Tapi sekedar membela diri, saya pun tidak bisa hanya diam di rumah sampai anak saya selesai masa menyusui. Bahkan seorang ibu pun punya hak untuk melihat dunia luar kan? Sementara anak tidak bisa ditinggal di rumah karena tidak ada yang menjaga.

    Awalnya tentu saya merasa risih harus menyusui di tempat umum, sayangnya tidak semua lokasi yang saya datangi menyediakan tempat khusus menyusui. Di Surabaya, hanya 2 mall yang ada nursery roomnya di tiap lantai, yaitu di Galaxy Mal dan CITO (City of Tomorrow) itu pun yang di Galaxy Mal jadi satu dengan toilet untuk anak. Untuk mengantisipasi hal itu biasanya Cinta saya susui dulu di mobil selama perjalanan dan menyelesaikan segala urusan sebelum tiba saat menyusu berikutnya. Tapi kadang tidak selalu berjalan lancar, saat sedang makan atau belanja tiba-tiba dia menangis minta minum, mau tidak mau harus diberi. Saking malunya, saya beberapa kali menyusui Cinta di toilet umum tapi kemudian saya sadar bahwa anak saya tidak layak menyusu di tempat seperti itu. Hei, kita pun nggak mau kan makan di kamar mandi? Memerah ASI dan menyimpannya di botol untuk diberikan saat di tempat umum juga pernah saya lakukan, sayang Cinta lebih suka minum ASI langsung dari kemasan aslinya daripada botol.

    Sampai akhirnya saya berusaha masa bodoh, saat anak minta disusui dimanapun saya berada pasti berusaha mencari tempat senyaman mungkin untuk menyusui. Pakai baju yang cukup sopan sehingga ketika dibuka tidak (terlalu) menampakkan tubuh, ditutupin pakai selimut, mojok, dan masih banyak trik-trik lain. Lalu berkenalanlah saya dengan nursing apron, nursing dress, nursing shirt yang membuat saya bisa menyusui kapanpun, dimanapun tanpa khawatir ada bagian tubuh saya yang akan terekspos. Yayaya, tidak dipungkiri beberapa kali saya mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat, tapi saya tak peduli. Yang penting anak nyaman, kenyang & bahagia karena mendapatkan kebutuhannya.

    Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia, semoga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh haknya yaitu ASI dan semakin banyak ibu yang tahu trik-trik menyusui di tempat umum dengan elegan.

  • Life as Mom, Parenting

    We’reĀ Moving

    Yes, we’re moving to the new city, leaving my almost 30 years hometown.
    Memulai hidup baru di lingkungan baru dengan tantangan baru.
    Semoga berkah dan lebih baik dari sebelumnya.
    Amin…

  • Parenting

    Pemuda Kecil Itu

    Namanya Irvan*, waktu itu usianya 10 tahun, kelas 4 SD swasta ternama di Surabaya. Saya mengenalnya 7 tahun yang lalu saat masih bekerja sebagai asisten di lembaga konsultasi Psikologi. Dia klien kami, dibawa ibunya karena obsesif impulsif terhadap AC (iya, AC yang Air Conditioner itu), mencuri, berbohong, memberontak, bertengkar dengan teman-temannya, nilai sekolah jelek.

    Tidak mudah bagi saya mendekati Irvan saat itu. Penolakan demi penolakan saya terima. Di satu sesi terapi tiba-tiba ia lari keluar ruangan dan setelah mencari kemana-mana ternyata duduk di salah satu sudut gedung untuk mengamati kompresor AC. Di sesi lain hanya ingin menggambar AC, bercerita tentang AC dan berlangsung selama 1 jam. Kadang ia mogok, diam duduk di sudut ruangan tanpa melakukan apa-apa. Butuh waktu cukup lama sampai ia merasa nyaman dengan saya. Dan ketika waktu itu tiba sesi terapi mendadak menjadi mudah dan menyenangkan.

    Ia pun mulai berkisah. Mama papanya tak akur di rumah, papanya acuh tak acuh atas mama dan dirinya. Sedangkan mamanya terlalu sibuk dengan masalah rumah tangganya. Sementara bocah malang yang sehari-hari diasuh neneknya ini dituntut untuk selalu bersikap sesuai dengan keinginan orangtuanya. Hardikan, kata-kata “goblok”, “nakal” kerap ia terima begitu juga hukuman fisik saat tidak mau mengikuti kata-kata papa dan mama.

    Sesi terapi pun selalu menjadi hal yang ia nantikan kata mamanya. “Kok bisa sih selalu nyariin mba? Sama saya aja nggak begitu.” tanyanya suatu ketika. Bahkan kadang Irvan berusaha mengulur waktu selesainya terapi. Sampai akhirnya ia menjadi posesif. Saat bersamanya, saya tidak boleh berbicara dengan orang lain, menerima telpon. Begitupun dia tidak mau didekati oleh siapa-siapa bahkan atasan saya sekalipun. Irvan bisa mendadak ngambek ketika kami berjalan-jalan di area kampus dan saya menyapa satu dua orang teman.

    Saya terpaksa berpisah dengan Irvan walaupun terapinya belum selesai. Orangtuanya tak mampu lagi membayar biaya terapi. Atasan saya menyerahkan Irvan ke grup mahasiswa yang melakukan terapi gratis di bawah bimbingannya dan itu tidak termasuk saya *mahasiswamatre*. Tapi kemajuan Irvan saat itu cukup menggembirakan. Obsesinya terhadap AC sudah mulai berkurang, ia tidak lagi bermasalah di sekolah. Bahkan ketika kami mengunjunginya di sekolahnya ia tampak bangga dan senang sekali. Irvan juga mulai mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.

    Sesi terakhir kami diwarnai ketegangan emosi. Ia menyebut saya jahat, tidak sayang kepadanya. Dia bilang benci sama saya. I feel him. I really do. Saya hanya bisa minta maaf dan mengatakan saya tidak berniat meninggalkannya. Tapi ia terlanjur marah.

    Setiap kali melihat Irvan saya seakan melihat diri saya belasan tahun sebelumnya. Saat saya masih seumur Irvan. Luka hati yang sama, pola didik keluarga yang sama, orangtua yang berpisah. Hanya saja saya jauh lebih beruntung dari Irvan. Hari ini saya sedang mengingatnya, pertemuan dengan Irvan adalah salah satu hal yang memberi banyak pelajaran bagi saya. Semoga saat ini ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

  • Daily Stories, Parenting

    Semua AdaĀ Waktunya

    Sudah hampir 2 bulan ini batita saya mulai bisa mau menggunakan kloset untuk buang air kecil. Buat sebagian orang tua mungkin itu hal yang biasa bahkan bisa dibilang terlambat tapi bagi saya merupakan kemajuan yang cukup besar.

    Sejak usia 6 bulan, Cinta mulai ditatur alias toilet training tapi sekonsisten apapun saya dan pengasuhnya mengajari dia tetap tidak mau pipis di potty-nya. Menginjak usia 1 tahun, saya bebaskan dari pospak di siang hari kecuali saat pergi dan tidur tapi yang ada malah ngompol kemana-mana. Bahkan suatu ketika ia tidak mau bisa buang air baik kecil maupun besar di siang hari. Ketika tiba waktunya akan tidur dan saya pakaikan pospak langsung BAB dan BAK. Well, ternyata dia menahan keinginan buang airnya selama beberapa jam.

    Kejadian itu berlangsung selama beberapa waktu, setelah saya telusuri mungkin karena dia malu atau takut dimarahi atau diejek oleh asisten dan om tantenya karena mengompol. Saking nahannya, kadang dia pipis sambil menangis. Saya pikir karena ISK tapi setelah melakukan tes urin ternyata bukan. Oke, ternyata dia hanya merasa risih buang air tanpa diaper.

    Akhirnya saya pakaikan pospak lagi, bagi saya kenyamanan Cinta lebih utama dari latihan penggunaan toilet ketika ia belum siap. Namun, tetap saya ajari cara pipis di toilet, kadang saat mandi bersama saya beri contoh (kebetulan saya termasuk orang tua yang permisif soal mandi bersama) cara pipis di toilet, termasuk saya pasangkan dudukan toiletnya yang ia beri nama skuter dan biasanya dibuat main skuter-skuteran :p

    Entah saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba ia meminta saya untuk menaikkannya ke toilet dan berkata ingin pipis. Dan benar ia pun akhirnya buang air dengan sukses. Kesuksesan itu rupanya meningkatkan kepercayaan dirinya dan sejak itu jika sedang tidak memakai pospak Cinta selalu minta untuk pipis di toilet. Belum rutin memang, kadang masih keduluan ngompol karena terlambat bilang. Tapi bagi saya that’s a one big step for us.

    Saya kebetulan adalah tipe orang tua yang percaya bahwa perkembangan anak itu berbeda dan tidak mau memaksakan Cinta untuk mengikuti suatu tahapan tertentu ketika ia belum siap. Yang penting adalah tetap mengajari tanpa ada unsur paksaan. Sama seperti sejak sebelum genap 1 tahun Cinta sudah bisa memegang krayon dan pensil warna dengan baik. Saya tidak pernah memaksa, hanya menyediakan aneka alat tulis dan buku gambar atau kertas, mengajarinya cara memegang krayon dengan nyaman lalu mulailah ia mencorat-coret apa saja.

    Pun ketika Cinta belum bisa berjalan di usianya yang kesatu dan dokter bilang tidak ada kelainan saya tidak panik dan melakukan hal-hal tradisional seperti memukul kaki dengan belut atau sejenisnya. Tetap saya titah, saya biarkan dia merambat, saya jarangkan menggendong. Dan tepat di usia 15 bulan Cinta bisa berjalan. Saat ini ia belum hafal semua huruf saat anak seusianya sudah banyak yang bisa menulis. Saya juga hanya mengajarinya mengenal huruf, angka sambil membaca buku, mewarna, menggambar, bermain Baby Go di blackberry.

    Semua selalu ada waktunya, yang harus dilakukan orang tua hanyalah memberikan stimulus atau rangsangan dan percayalah anak akan belajar dan berkembang dengan sendirinya.