Browsing Category:

Parenting

  • Wounded children, broken home, divorce
    Life as Mom, Parenting

    I Thought I’m a Survivor

    Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

    Wounded children, broken home, divorce

    Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

    Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

    Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

    Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

    alissa wahid broken home

    Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome – @AlissaWahid

    Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar, I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

    Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

    moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    By: @AlissaWahid

  • Parenting

    Menyusui di Tempat Umum

    Seperti kata @sabai di sini, minggu ini adalah World Breastfeeding Week dimana organisasi ibu menyusui di seluruh dunia termasuk AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggunakan momen ini untuk berkampanye semaksimal mungkin mengenai manfaat-manfaat menyusui bagi ibu dan anak. Tahun ini tema kampanye WBW yang diusung oleh AIMI adalah “Menyusui: Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi,” dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI”.

    Kenapa menyusui saja perlu dikampanyekan dan disosialisasi? Bukankah menyusui itu proses alamiah seorang ibu memberi makan untuk anaknya? Well, banyak alasan kenapa banyak ibu yang tidak mau menyusui, mulai dari ASI-nya tidak keluar, takut bentuk payudaranya berubah menjadi tidak bagus, promosi susu formula yang berlebihan sampai malas karena tidak praktis. Tidak praktis? Iya, antara lain karena ibu harus membawa anaknya kemana-mana supaya dapat disusui setiap si anak menginginkan, malu jika harus menyusui di tempat umum sehingga ia harus “terkurung” di rumah sampai anak disapih, padahal yang namanya menyusui nggak cuma sampai ASI Eksklusif 6 bulan tapi berlanjut sampai 2 tahun atau lebih tergantung kesepakatan anak dan ibu.

    Soal menyusui di tempat umum ini yang paling sering dipersoalkan oleh banyak pihak, bahkan dari kaum perempuan sendiri seringkali memandang risih kegiatan ini. Bahkan ada juga yang menganggap menyusui di tempat umum dan tanpa sengaja memperlihatkan payudara adalah pornoaksi. Padahal, banyak ibu yang mau tidak mau harus menyusui di tempat umum karena terbatasnya ruangan ibu dan anak atau nursery room. Anak yang minum ASI tidak seperti anak yang diberi susu formula yang bisa diperkirakan waktu minum susunya. Kadang anak minta menyusu bukan saja karena ia haus atau lapar tapi juga karena merasa tidak nyaman.

    Sebagai mantan ibu menyusui yang tidak menggunakan jasa babysitter sampai Cinta berusia 6 bulan, sejak ia berusia 1 bulan sudah saya ajak kemana-mana; bank, mall, arisan, dsb. Kalau dibilang egois ya bolehlah. Tapi sekedar membela diri, saya pun tidak bisa hanya diam di rumah sampai anak saya selesai masa menyusui. Bahkan seorang ibu pun punya hak untuk melihat dunia luar kan? Sementara anak tidak bisa ditinggal di rumah karena tidak ada yang menjaga.

    Awalnya tentu saya merasa risih harus menyusui di tempat umum, sayangnya tidak semua lokasi yang saya datangi menyediakan tempat khusus menyusui. Di Surabaya, hanya 2 mall yang ada nursery roomnya di tiap lantai, yaitu di Galaxy Mal dan CITO (City of Tomorrow) itu pun yang di Galaxy Mal jadi satu dengan toilet untuk anak. Untuk mengantisipasi hal itu biasanya Cinta saya susui dulu di mobil selama perjalanan dan menyelesaikan segala urusan sebelum tiba saat menyusu berikutnya. Tapi kadang tidak selalu berjalan lancar, saat sedang makan atau belanja tiba-tiba dia menangis minta minum, mau tidak mau harus diberi. Saking malunya, saya beberapa kali menyusui Cinta di toilet umum tapi kemudian saya sadar bahwa anak saya tidak layak menyusu di tempat seperti itu. Hei, kita pun nggak mau kan makan di kamar mandi? Memerah ASI dan menyimpannya di botol untuk diberikan saat di tempat umum juga pernah saya lakukan, sayang Cinta lebih suka minum ASI langsung dari kemasan aslinya daripada botol.

    Sampai akhirnya saya berusaha masa bodoh, saat anak minta disusui dimanapun saya berada pasti berusaha mencari tempat senyaman mungkin untuk menyusui. Pakai baju yang cukup sopan sehingga ketika dibuka tidak (terlalu) menampakkan tubuh, ditutupin pakai selimut, mojok, dan masih banyak trik-trik lain. Lalu berkenalanlah saya dengan nursing apron, nursing dress, nursing shirt yang membuat saya bisa menyusui kapanpun, dimanapun tanpa khawatir ada bagian tubuh saya yang akan terekspos. Yayaya, tidak dipungkiri beberapa kali saya mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat, tapi saya tak peduli. Yang penting anak nyaman, kenyang & bahagia karena mendapatkan kebutuhannya.

    Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia, semoga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh haknya yaitu ASI dan semakin banyak ibu yang tahu trik-trik menyusui di tempat umum dengan elegan.

  • Life as Mom, Parenting

    We’re Moving

    Yes, we’re moving to the new city, leaving my almost 30 years hometown.
    Memulai hidup baru di lingkungan baru dengan tantangan baru.
    Semoga berkah dan lebih baik dari sebelumnya.
    Amin…

  • Parenting

    Pemuda Kecil Itu

    Namanya Irvan*, waktu itu usianya 10 tahun, kelas 4 SD swasta ternama di Surabaya. Saya mengenalnya 7 tahun yang lalu saat masih bekerja sebagai asisten di lembaga konsultasi Psikologi. Dia klien kami, dibawa ibunya karena obsesif impulsif terhadap AC (iya, AC yang Air Conditioner itu), mencuri, berbohong, memberontak, bertengkar dengan teman-temannya, nilai sekolah jelek.

    Tidak mudah bagi saya mendekati Irvan saat itu. Penolakan demi penolakan saya terima. Di satu sesi terapi tiba-tiba ia lari keluar ruangan dan setelah mencari kemana-mana ternyata duduk di salah satu sudut gedung untuk mengamati kompresor AC. Di sesi lain hanya ingin menggambar AC, bercerita tentang AC dan berlangsung selama 1 jam. Kadang ia mogok, diam duduk di sudut ruangan tanpa melakukan apa-apa. Butuh waktu cukup lama sampai ia merasa nyaman dengan saya. Dan ketika waktu itu tiba sesi terapi mendadak menjadi mudah dan menyenangkan.

    Ia pun mulai berkisah. Mama papanya tak akur di rumah, papanya acuh tak acuh atas mama dan dirinya. Sedangkan mamanya terlalu sibuk dengan masalah rumah tangganya. Sementara bocah malang yang sehari-hari diasuh neneknya ini dituntut untuk selalu bersikap sesuai dengan keinginan orangtuanya. Hardikan, kata-kata “goblok”, “nakal” kerap ia terima begitu juga hukuman fisik saat tidak mau mengikuti kata-kata papa dan mama.

    Sesi terapi pun selalu menjadi hal yang ia nantikan kata mamanya. “Kok bisa sih selalu nyariin mba? Sama saya aja nggak begitu.” tanyanya suatu ketika. Bahkan kadang Irvan berusaha mengulur waktu selesainya terapi. Sampai akhirnya ia menjadi posesif. Saat bersamanya, saya tidak boleh berbicara dengan orang lain, menerima telpon. Begitupun dia tidak mau didekati oleh siapa-siapa bahkan atasan saya sekalipun. Irvan bisa mendadak ngambek ketika kami berjalan-jalan di area kampus dan saya menyapa satu dua orang teman.

    Saya terpaksa berpisah dengan Irvan walaupun terapinya belum selesai. Orangtuanya tak mampu lagi membayar biaya terapi. Atasan saya menyerahkan Irvan ke grup mahasiswa yang melakukan terapi gratis di bawah bimbingannya dan itu tidak termasuk saya *mahasiswamatre*. Tapi kemajuan Irvan saat itu cukup menggembirakan. Obsesinya terhadap AC sudah mulai berkurang, ia tidak lagi bermasalah di sekolah. Bahkan ketika kami mengunjunginya di sekolahnya ia tampak bangga dan senang sekali. Irvan juga mulai mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.

    Sesi terakhir kami diwarnai ketegangan emosi. Ia menyebut saya jahat, tidak sayang kepadanya. Dia bilang benci sama saya. I feel him. I really do. Saya hanya bisa minta maaf dan mengatakan saya tidak berniat meninggalkannya. Tapi ia terlanjur marah.

    Setiap kali melihat Irvan saya seakan melihat diri saya belasan tahun sebelumnya. Saat saya masih seumur Irvan. Luka hati yang sama, pola didik keluarga yang sama, orangtua yang berpisah. Hanya saja saya jauh lebih beruntung dari Irvan. Hari ini saya sedang mengingatnya, pertemuan dengan Irvan adalah salah satu hal yang memberi banyak pelajaran bagi saya. Semoga saat ini ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

  • Daily Stories, Parenting

    Semua Ada Waktunya

    Sudah hampir 2 bulan ini batita saya mulai bisa mau menggunakan kloset untuk buang air kecil. Buat sebagian orang tua mungkin itu hal yang biasa bahkan bisa dibilang terlambat tapi bagi saya merupakan kemajuan yang cukup besar.

    Sejak usia 6 bulan, Cinta mulai ditatur alias toilet training tapi sekonsisten apapun saya dan pengasuhnya mengajari dia tetap tidak mau pipis di potty-nya. Menginjak usia 1 tahun, saya bebaskan dari pospak di siang hari kecuali saat pergi dan tidur tapi yang ada malah ngompol kemana-mana. Bahkan suatu ketika ia tidak mau bisa buang air baik kecil maupun besar di siang hari. Ketika tiba waktunya akan tidur dan saya pakaikan pospak langsung BAB dan BAK. Well, ternyata dia menahan keinginan buang airnya selama beberapa jam.

    Kejadian itu berlangsung selama beberapa waktu, setelah saya telusuri mungkin karena dia malu atau takut dimarahi atau diejek oleh asisten dan om tantenya karena mengompol. Saking nahannya, kadang dia pipis sambil menangis. Saya pikir karena ISK tapi setelah melakukan tes urin ternyata bukan. Oke, ternyata dia hanya merasa risih buang air tanpa diaper.

    Akhirnya saya pakaikan pospak lagi, bagi saya kenyamanan Cinta lebih utama dari latihan penggunaan toilet ketika ia belum siap. Namun, tetap saya ajari cara pipis di toilet, kadang saat mandi bersama saya beri contoh (kebetulan saya termasuk orang tua yang permisif soal mandi bersama) cara pipis di toilet, termasuk saya pasangkan dudukan toiletnya yang ia beri nama skuter dan biasanya dibuat main skuter-skuteran :p

    Entah saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba ia meminta saya untuk menaikkannya ke toilet dan berkata ingin pipis. Dan benar ia pun akhirnya buang air dengan sukses. Kesuksesan itu rupanya meningkatkan kepercayaan dirinya dan sejak itu jika sedang tidak memakai pospak Cinta selalu minta untuk pipis di toilet. Belum rutin memang, kadang masih keduluan ngompol karena terlambat bilang. Tapi bagi saya that’s a one big step for us.

    Saya kebetulan adalah tipe orang tua yang percaya bahwa perkembangan anak itu berbeda dan tidak mau memaksakan Cinta untuk mengikuti suatu tahapan tertentu ketika ia belum siap. Yang penting adalah tetap mengajari tanpa ada unsur paksaan. Sama seperti sejak sebelum genap 1 tahun Cinta sudah bisa memegang krayon dan pensil warna dengan baik. Saya tidak pernah memaksa, hanya menyediakan aneka alat tulis dan buku gambar atau kertas, mengajarinya cara memegang krayon dengan nyaman lalu mulailah ia mencorat-coret apa saja.

    Pun ketika Cinta belum bisa berjalan di usianya yang kesatu dan dokter bilang tidak ada kelainan saya tidak panik dan melakukan hal-hal tradisional seperti memukul kaki dengan belut atau sejenisnya. Tetap saya titah, saya biarkan dia merambat, saya jarangkan menggendong. Dan tepat di usia 15 bulan Cinta bisa berjalan. Saat ini ia belum hafal semua huruf saat anak seusianya sudah banyak yang bisa menulis. Saya juga hanya mengajarinya mengenal huruf, angka sambil membaca buku, mewarna, menggambar, bermain Baby Go di blackberry.

    Semua selalu ada waktunya, yang harus dilakukan orang tua hanyalah memberikan stimulus atau rangsangan dan percayalah anak akan belajar dan berkembang dengan sendirinya.