Browsing Category:

Parenting

  • Life as Mom, Parenting

    Aku Sudah Besar, Ma

    PhotobucketSiang ini, saya lagi mengedit beberapa foto di laptop dan Cinta sedang bermain dengan boneka-boneka dan buku-bukunya. Tiba-tiba dia memanggil,

    “Ma, tolong ambilin gunting.”
    “Buat apa, Cin?”
    “Ini lho, buat gunting gambar yang di majalah Elmo (majalah Sesame Street)”

    Setelah ngambil gunting, saya kembali berkutat dengan laptop sedangkan Cinta asik dengan majalahnya. Nggak lama kemudian dia ke lemari mencari sesuatu. Karena tempatnya tinggi dia ambil kursi dan naik ke atasnya. Tapi ternyata yang dicari nggak ada. Lalu dia menghampiri saya.

    “Ma. lemnya Cinta abis. Cinta beli di warung Opa ya. Minta uang buat beli lem.”
    “Mama anterin ya?”
    “Nggak usah, Cinta aja.”
    “Berani?”
    “Berani dong. Kan Cinta udah besar.”

    Akhirnya saya bawakan uang Rp 5.000,00 lalu saya antar sampai depan pagar dan Cinta pergi sendiri ke warung yang cuma berjarak 2 rumah dari rumah kami. Nggak lama kemudian dia kembali dengan lem kertas dan sebotol Yakult dingin 🙂

    Cinta pergi ke warung sendiri memang bukan untuk yang pertama kalinya sih, tapi kalimatnya yang menegaskan bahwa dia sudah besar dan bisa pergi sendiri entah kenapa mengusik saya siang ini. Nggak terasa anak kecil itu tahun ini akan berusia 4 tahun dan akan masuk TK. Jujur aja selama ini saya memang agak protektif dan terlalu banyak membantu dia dalam hampir setiap aktivitasnya. Bukan apa-apa sih, cuma karena saya suka nggak sabar atau takut kotor kalau dia melakukan sesuatu sendiri.

    Padahal, menurut teori perkembangan psikososialnya Erik Erikson, anak usia  18 bulan – 3-4 tahun berada pada fase Otonomi vs Perasaan Malu/Ragu-ragu. Di mana tugas yang harus diselesaikan pada tahap ini adalah kemandirian. Sebagai orangtua seharusnya saya memberikan lebih banyak kesempatan buat Cinta untuk mengeksplorasi lingkungan dan kemampuannya sendiri, supaya dia bisa mengembangkan rasa percaya diri bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Kalau tahap ini berhasil dengan baik, anak akan mandiri. Sedangkan kalau orangtua nggak memanfaatkan momen ini dengan baik, anak akan cenderung merasa dirinya nggak bisa melakukan sesuatu dan tergantung pada orang lain.

    Untungnya sejak sekolah Cinta terbiasa untuk melakukan beberapa hal sendiri dan itu terbawa sampai di rumah, sehingga saya pun akhirnya belajar untuk membiarkan Cinta melakukan hal-hal sederhana tanpa bantuan. Misalnya memilih dan memakai baju atau sepatu, menyabuni badannya dan sikat gigi sendiri saat mandi, ambil minum, sendok, bermain sendiri dan lain-lain. Walaupun akhirnya waktu yang dibutuhkan jadi lebih lama atau rumah jadi lebih berantakan. Agak terlambat sih memang tapi better late than never kan ya 😀

  • Parenting

    Menyiapkan Pendidikan Internasional dari Rumah

    “Apa sih yang terpikir dalam benak kita kalau mendengar kata SBI atau Sekolah Bertaraf Internasional?”  tanya Ibu Ines Setiawan seorang guru dan aktivis pendidikan dalam Seminar “Menimbang dan Mempersiapkan Homeschooling” di Hostel Pradana (SMK 57) Jakarta, hari Sabtu, 12 Februari 2011 yang lalu. “Mahal”, “kurikulum internasional”, “canggih”, “guru bule”, “bahasa Inggris”, “prestisius” adalah sebagian besar jawaban para peserta seminar yang diamini oleh Ibu Ines.

    Belakangan ini memang SBI sedang menjadi favorit para orangtua yang ingin menyekolahkan anak(-anak)nya. Meskipun biayanya lebih mahal daripada kelas reguler tapi menjadi kebanggaan tersendiri bila anaknya bisa masuk kelas atau sekolah tersebut. Apa sih SBI itu sebenarnya? Menurut Departemen Pendidikan Nasional, SBI adalah sekolah yang menyiapkan peserta didik berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusan memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan visi tersebut, Diknas pun menetapkan prinsip-prinsip tertentu dalam mengembangkan SBI di Indonesia.

    Sayangnya, pendidikan yang bagus ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial sangat baik alias menengah ke atas karena fasilitas-fasilitas yang diberikan dianggap bernilai lebih tinggi sehingga lantas dihargai lebih mahal. Lalu, bagaimana dengan keluarga menengah? Tidak bisakah kita memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk bisa cerdas dan kompetitif secara internasional? Bisa! Jangan salah, pendidikan bertaraf internasional bukan hanya monopoli siswa SBI. Murid kelas reguler bahkan siswa homeschooling pun bisa disiapkan menjadi lulusan yang mampu berkompetisi di dunia luas.

    The International Baccalaureate® (IB), sebuah lembaga yang memberikan sertifikasi kepada sekolah-sekolah bertaraf internasional mendefinisikan Pendidikan Internasional sebagai berikut:

    • Developing citizens of the world in relation to culture, language and learning to live together
      Mengembangkan warga dunia untuk saling mengenal budaya, bahasa, dan belajar untuk hidup berdampingan.
    • Building and reinforcing students’ sense of identity and cultural awareness
      Membangun dan mempertahankan identitas dan kesadaran siswa akan budaya lokalnya sendiri.
    • Fostering students’ recognition and development of universal human values
      Menumbuhkan kesadaran siswa akan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan pengembangannya.
    • Stimulating curiosity and inquiry in order to foster a spirit of discovery and enjoyment of learning
      Merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan bertanya supaya bisa menumbuhkan semangat penemuan dan kesenangan belajar.
    • Equipping students with the skills to learn and acquire knowledge, individually or collaboratively, and to apply these skills and knowledge accordingly across a broad range of areas
      Membekali siswa dengan kemampuan belajar dan memperoleh pengetahuan baik secara individu maupun berkelompok, dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan tersebut dengan tepat di berbagai bidang.
    • Providing international content while responding to local requirements and interests
      Menyediakan konten internasional sembari tetap tanggap akan kebutuhan dan kepentingan lokal.
    • Encouraging diversity and flexibility in teaching methods
      Mendorong keanekaragaman dan fleksibilitas metode pengajaran.
    • Providing appropriate forms of assessment and international benchmarking
      Menyediakan bentuk penilaian yang sesuai atau tepat dan pembanding internasional

    Dari 8 kriteria tersebut, hampir semuanya bisa dilakukan di rumah. Mengenalkan anak akan budaya internasional, cinta akan budayanya sendiri, belajar hidup dalam keanekaragaman, menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, merangsang rasa ingin tahu, menumbuhkan semangat untuk meneliti dan senang belajar, memfasilitasi anak untuk memperoleh pengetahuan apapun yang dia inginkan, memiliki metode belajar yang fleksibel dan akhirnya menilai perkembangan anak secara keseluruhan bukan hanya berdasarkan nilai yang berupa angka.

    Bagaimana dengan bahasa asing yang menjadi syarat kemampuan untuk berinteraksi di dunia internasional? Saat ini sudah banyak lembaga kursus bahasa asing yang bagus. Bahkan nggak sedikit anak yang bisa bahasa asing dari rumah, karena orangtuanya terbiasa menggunakan bahasa tersebut, belajar dari tv, komputer dan sebagainya. Fasilitas untuk belajar seperti percobaan science, art, dan sebagainya bisa diperoleh dengan mengikuti klub-klub belajar seperti Klub Oase, Klub Sinau dan sebagainya. Banyak juga orang tua dan siswa yang mencoba membuat sendiri eksperimen-eksperimen atau prakarya berdasarkan video-video tutorial yang bisa diunduh dengan mudah dari internet.

    Yuk, kita siapkan pendidikan internasional untuk anak dari rumah supaya nanti ia mampu berkompetisi dan hidup berdampingan dengan warga di belahan dunia manapun ia berada. Percaya deh bahwa pendidikan terbaik itu berawal dari rumah bersama orang tua. Because education is not for sale, it’s our rights.

  • Daily Stories, Parenting

    Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

    PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

    Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

    Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

    PhotobucketPhotobucket

    Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

    Photobucket

    Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

    PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

    Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

    -foto-foto adalah koleksi pribadi-

  • Life as Mom, Parenting

    The Urban Mama: Berbagi Dalam Perbedaan

    PhotobucketSebagai keluarga yang menjalani Long Distance Marriage, tugas mengasuh anak otomatis sebagian besar menjadi tanggung jawab saya. Meski dalam mengambil keputusan penting selalu saya diskusikan dengan suami, tapi dalam menentukan pola asuh bisa dibilang saya yang memutuskan. Bukan hal yang mudah tentunya, karena saya belum pernah punya pengalaman mengasuh anak sendiri. Mau tidak mau saya pun belajar otodidak, mulai dari menggali lagi ingatan masa kuliah, buku-buku sampai situs parenting. Beruntung walaupun (tadinya) tinggal serumah dengan orang tua, beliau mendukung penuh apapun yang saya lakukan meski tetap memberikan saran demi kebaikan si kecil.

    Saya kenal The Urban Mama sebenarnya sudah hampir setahun ini, bermula dari kehebohan di timeline Twitter yang ngomongin tentang situs baru ini. Awalnya saya kira sama aja sama beberapa situs parenting yang sudah lebih dulu ada, tapi ternyata The Urban Mama memang berbeda. Salah satu perbedaannya adalah adanya forum tempat para urban mama dan papa berbagi cerita dan ilmu. Sehingga situs ini tidak hanya bersifat satu arah. Bahkan artikel-artikel di situs TUM sendiri banyak diisi oleh para pembaca atau anggota forum.

    Jujur aja pertama kali bergabung di forum TUM ini benar-benar membuat saya terkejut. Meskipun saya juga bergabung dalam sebuah forum gosip dan beberapa forum yang membahas sebuah gadget, untuk ilmu parenting saya banyak mengandalkan beberapa milis yang diikuti oleh peer group saya. Sehingga tuntunan dan dunia yang saya tahu dalam mengasuh anak ya seputar milis tersebut. Apa yang tidak sesuai dengan itu saya anggap aneh. Sampai suatu ketika saya sendiri merasa inferior berada di lingkungan tersebut karena tidak bisa sehebat para ibu yang lain.

    Banyak kekurangan saya dalam membesarkan si semata wayang. Hal ini seringkali membuat saya merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Cinta kondisi yang ideal atau merasa “kalah” dari ibu-ibu lain. Sampai ketika sedang browsing, saya menemukan salah satu topik di TUM yang membahas tentang “mistake we made“, dari situ saya sadar kalau saya nggak sendirian. Banyak juga para ibu yang kalau bisa mengulang waktu akan berusaha lebih baik dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Everybody made mistake but it’s oke coz we’re human. And it’s fine not to be a perfect mom nor a super mom. Saya, suami dan Cinta adalah tiga individu yang sedang belajar menjalani peran kami masing-masing sebagai istri dan ibu, suami dan ayah dan anak. Inilah sekolah kami yang sesungguhnya dengan mata pelajaran seumur hidup sebagai orang tua. Mungkin kami tidak akan pernah dapat nilai 100 untuk pelajaran ini tapi yang penting selalu berusaha untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik.

    Saat ini saya dan Cinta sedang belajar untuk hidup mandiri, jauh dari nenek dan kakeknya juga ayahnya. Selain itu kami masih berjuang dengan toilet training di usia Cinta yang hampir 3,5 tahun. Hah! Yang bener aja! Juga berusaha mengenalkan makanan lain terutama sayur kepada bocah kesayangan saya dan berdamai dengan GTM. Berhubung Cinta sudah masuk usia pra sekolah, saya dan dia juga mulai belajar tentang metode pendidikan yang paling cocok untuk diterapkan di rumah atau memilih sekolah yang bagus. Belum lagi beradaptasi dengan sekolah baru di lingkungan baru. Meski belum sepenuhnya berhasil dan masih ups and downs, but I always try not to push her or myself.

    PR saya sebagai orang tua masih banyak sekali. Dan dari The Urban Mama, meskipun hanya sebagai silent reader karena jarang posting di forum, saya banyak dapat ilmu yang bisa saya serap dan terapkan apa yang saya rasa cocok untuk Cinta. Tapi yang terpenting adalah di TUM, saya belajar untuk menerima kekurangan saya sebagai ibu, berusaha menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter saya dan Cinta tanpa takut akan dihakimi karena berbeda. Sebaliknya saya juga berusaha untuk tidak menganggap orang tua lain yang memiliki pola asuh berbeda dengan kami, sebagai sesuatu yang aneh. Because there is always a different story in every parenting style. Selamat ulang tahun pertama The Urban Mama, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi saya sekaligus teman yang bisa diandalkan dalam mengasuh anak.

  • Life as Mom, Parenting

    Anakku Guruku

    family Baca postingan bundanya Padma di blog rame-rame kami CeritaBundas, benar-benar mengingatkan saya akan apa yang saya dan Cinta alami selama hampir 3,5 tahun usianya. Mungkin waktu hamil Cinta saya hanya membayangkan yang indah soal punya anak. Lupa bahwa mengasuh anak itu bukan cuma soal senyuman yang menggemaskan. Maka, di hari pertama bayi mungil itu tiba di rumah setelah sempat di fototerapi selama 2 hari karena bilirubin yang rendah, saya pun terkaget-kaget. Baby blues bahkan bisa dibilang postpartum depression, ASI yang cuma keluar sedikit sementara “tekanan” untuk bisa memberi ASIX berbenturan dengan desakan untuk memberi sufor, colic adalah sedikit dari hal-hal yang sering bikin saya terduduk lemas dan ikut menangis bersama Cinta.

    Semakin besar, tantangannya semakin banyak. Ya, saya memang tipe orang yang hidup di masa sekarang. Tidak mempersiapkan diri untuk apa-apa yang kiranya akan terjadi saat Cinta bertambah usia. Maka ketika berhadapan dengan masa-masa batita itu mulai punya keinginan sendiri, lagi-lagi saya terkejut. Padahal ilmu psikologi perkembangan anak sudah saya pelajari saat kuliah. Entah kenapa saat mengasuh anak sendiri, semua ilmu itu lenyap begitu saja.

    Saya adalah orang yang keras, selalu berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan dan mengatur orang. Ternyata bocah kecil kesayangan saya pun mewarisi sifat itu. Yup, sifat keras itu memang genetik, diturunkan langsung dari generasi ke generasi keluarga besar saya. Maka terjadilah adu ego dan emosi, dia berontak, saya keras. Dia mempertahankan keinginannya, saya tidak kalah keras kepala. Biasanya berakhir dengan (lagi-lagi) tangisan dan pelukan.

    Sampai beberapa bulan belakangan ini, entah mungkin karena sudah usai masa tantrumnya atau pola asuh yang saya terapkan sudah mulai menunjukkan hasil, sikap Cinta mulai melunak. Dia sudah jarang ngamuk karena keinginannya tidak terpenuhi, bisa menerima saat keadaan tidak seperti yang dia inginkan. Bahkan saat saya mulai marah karena dia tidak menuruti perkataan saya, Cinta akan bilang, “Ma, senyum aja Ma, jangan marah.”

    Seringkali saya berpikir, anak 3,5 tahun ini sudah belajar mengendalikan diri dan emosinya di usia sangat muda. Kenapa saya yang 27 tahun lebih tua dari dia, tidak bisa lebih baik dari itu. Bersyukurnya saya, dikaruniai anak yang mengajarkan saya banyak hal. Memang jadi ibu itu pelajaran seumur hidup. Bukan cuma belajar mengurus anak, tapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Life as Mom, Parenting

    Kiddos 2.0: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

    seminarSekitar 5 tahun yang lalu, saya sempat terkejut mendengar cerita anak-anak kelas 6 SD swasta ternama di Surabaya sudah diharuskan membawa laptop sendiri untuk pelajaran komputer. Padahal waktu itu harga laptop termurah masih hampir 3x lipat gaji saya sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Masih belum habis rasa penasaran mengapa sekolah itu meminta muridnya membawa laptop padahal mereka punya laboratorium komputer, saya kembali terkagum-kagum melihat anak-anak SD sudah membawa telepon genggam dengan fasilitas lengkap ke sekolah. Makin geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tidak sedikit anak usia 10-12 tahun itu sudah dibekali Blackberry  dan anak SMP diberi iPad yang saya mimpi punya aja nggak berani oleh orangtuanya.

    Ya, saat ini kita memang hidup di era digital, di mana banyak sekali gadget atau perangkat teknologi yang bisa mempermudah kegiatan kita sehari-hari dan akses menuju sumber informasi. Apalagi sekarang perangkat tersebut bisa didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebut saja, telepon genggam, play station, laptop, televisi, vcd yang hampir ada di setiap rumah kelas menengah. Bahkan mungkin tidak sedikit yang masing-masing penghuni rumah memiliki ke-5 perangkat tersebut di kamarnya. Sayangnya, penggunaan media hiburan dan informasi ini seringkali tidak dibarengi dengan kecerdasan dan pengawasan dari orang dewasa. Hal inilah yang membuat saya mengikuti seminar “Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” hari Sabtu, 30 Oktober 2010 yang lalu di Kemang Village.

    Seperti yang saya utarakan di atas, anak SD sudah dikasih blackberry, telepon genggam canggih, laptop dengan akses internet tak terbatas merupakan hal yang umum kita jumpai saat ini. Padahal, Ibu Elly Risman mengingatkan bahwa banyak orang tua yang tidak awas akan banyaknya ancaman pornografi yang bisa diakses anak dari perangkat-perangkat tersebut. Bahkan games seperti The Sims atau film kartun macam Naruto pun mengandung konten pornografi dan kekerasan yang tidak pantas dimainkan atau ditonton oleh anak tapi tetap kita biarkan mereka menonton dan memainkannya. Padahal menurut data yang dihimpun oleh Kelompok Peduli Anak dan Buah Hati, pornografi bisa merusak 5 bagian otak anak, dan selama ini kita mengira bahwa narkoba lah ancaman terbesar bagi generasi muda.

    Nggak ada salahnya kok memberikan perangkat canggih kepada anak selama kita yakin bahwa bagian prefrontal cortex yang berfungsi sebagai direkturnya otak sudah benar-benar matang. Karena di bagian otak inilah tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai. Masih menurut ibu Elly, untuk mematangkan direktur ini, kita sebagai orang tua harus mengasuh anak dengan benar, yaitu dengan komunikasi yang baik, hangat dan mengutamakan perasaan. Selama ini mungkin banyak orang tua yang cuma peduli apakah anak sudah mengerjakan PR atau belum, ranking berapa di sekolah, kalo belum bikin PR atau ulangan dapat 80 dan bukannya 100 langsung dimarahin. Padahal anak butuh validasi atau penerimaan, penghargaan dan pujian atas usaha yang telah ia lakukan. Mereka perlu kita memahami perasaannya.

    Dan yang terpenting adalah menghadirkan Tuhan dalam diri anak. Sebagai orang tua, kita harus menanamkan pada diri sendiri bahwa anak adalah amanah dan ajaran agama juga moral harus kita lakukan sendiri, bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah berbasis agama, guru agama, tempat pendidikan agama dan sebagainya. Pola pengasuhan Dual Parenting pun sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi anak yang matang. Peran Ayah sama pentingnya dengan peran ibu sehingga ayah juga harus hadir secara emosional dan spiritual. Dalam seminarnya, ibu Elly Risman memberi contoh anak laki-laki yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya akan cenderung agresif, sedangkan anak perempuan yang tidak mendapatkan penerimaan dari ayah akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain di sekitarnya dengan membabi buta.

    Latih anak untuk mampu berpikir kritis dan memiliki konsep diri yang kuat dengan selalu menanyakan pendapat anak tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Penerimaan, cinta kasih sayang dan penghargaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh anak. Dan jadilah teladan yang baik karena anak belajar dari contoh bukan ucapan. Pemberian fasilitas kepada anak pun harus jelas tujuannya, jangan cuma karena “semua temennya juga pake” atau “biar gampang hubungin anak”. Capai kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaannya, dan jelaskan dampak positif dan negatif gadget tersebut. Biarkan anak berpikir, memilih dan mengambil keputusan mengenai perangkat tersebut.

    Nggak mudah jadi orang tua di era digital ini, banyak sekali ancaman dan tantangannya. Nggak sekedar sekolah mahal tapi juga pergaulan yang semakin menggila. Anak sekarang jauh lebih pintar dari orang tuanya tapi kita sebagai orang tua juga harus lebih kreatif dalam memahami anak. Selamat menjadi orang tua 2.0 yang cerdas dan tanggap 🙂

  • Parenting

    (Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

    upin ipinSiapa yang tak kenal dengan 2 tokoh di samping? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah. Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

    Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan. Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

    Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda. Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba. Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif. Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

    Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu. Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai. Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

    Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.

  • Parenting

    Siapkah untuk Anak Kedua?

    Semalam, entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba si bocah bilang, “Ma, aku ini kan adik kecil, aku mau punya adik bayi.” Padahal biasanya dia kalau ditanya mau punya adik atau enggak pasti jawabannya enggak. Tapi memang belakangan ini pertanyaan, “Kapan mau punya anak lagi?” sering diajukan ke kami dan sedikit banyak sempat mengganggu pikiran saya. Walaupun sudah dijawab dengan diplomatis yang menyiratkan bahwa kami terutama saya belum siap dengan kehadiran seorang bayi lagi, selalu muncul argumen-argumen seperti “Kan Cinta sudah besar,” “Kasian nanti kalau nggak punya adik”, “Kalau cuma sendirian nanti Cinta jadi anak manja, lho.” membuat saya berpikir ulang tentang keputusan untuk punya 1 anak saja.

    family

    Kalau dari segi usia anak pertama sih, memang saat Cinta berusia 3 tahun seperti sekarang adalah waktu yang ideal untuk mulai hamil anak kedua. Pertama karena saat adiknya lahir nanti, ia berusia 4 tahun dimana anak di usia ini dianggap telah cukup menikmati perhatian dari orangtuanya, dan biasanya pada usia ini mereka telah memiliki banyak aktivitas dan kegiatan sendiri. Kedua, jarak waktu 4 tahun juga menguntungkan dari segi ekonomi karena tidak bersamaan saat harus masuk sekolah, misalnya saat si kakak masuk SMA, adiknya belum akan masuk SMP, dan seterusnya kecuali si adik ikut kelas akselerasi dan memperpendek jarak pendidikannya :p

    Kepengen sih hamil lagi, kangen juga sama bau bayi dan menyusui. Tapiiiii, kehidupan pernikahan jarak jauh seperti yang sedang kami jalani sekarang adalah hal utama yang membuat saya ingin menunda dulu untuk punya anak kedua. Belum lagi post partum depression yang pernah saya alami setelah melahirkan Cinta dulu. Rasanya baru aja saya bisa menikmati tidur malam dengan nyenyak dan belum siap menghadapi malam-malam kurang tidur, tumpukan popok kotor, kolik, dan sebagainya. Lagipula, mumpung Cinta sudah sekolah, saya sedang berpikir untuk kembali bekerja di luar rumah. Nggak mungkin kan saya baru masuk kerja trus hamil lagi? Nanti nasibnya sama seperti waktu hamil Cinta dulu, cuti melahirkan pas habis kontrak, akhirnya malah nggak diperpanjang. Egois ya saya? Tapi saya yakin kok Tuhan akan memberikan adik untuk Cinta pada saat yang tepat, saat yang terbaik untuk kami.