Browsing Category:

Parenting

  • Daily Stories, Parenting

    Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

    PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

    Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

    Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

    PhotobucketPhotobucket

    Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

    Photobucket

    Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

    PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

    Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

    -foto-foto adalah koleksi pribadi-

  • Life as Mom, Parenting

    The Urban Mama: Berbagi Dalam Perbedaan

    PhotobucketSebagai keluarga yang menjalani Long Distance Marriage, tugas mengasuh anak otomatis sebagian besar menjadi tanggung jawab saya. Meski dalam mengambil keputusan penting selalu saya diskusikan dengan suami, tapi dalam menentukan pola asuh bisa dibilang saya yang memutuskan. Bukan hal yang mudah tentunya, karena saya belum pernah punya pengalaman mengasuh anak sendiri. Mau tidak mau saya pun belajar otodidak, mulai dari menggali lagi ingatan masa kuliah, buku-buku sampai situs parenting. Beruntung walaupun (tadinya) tinggal serumah dengan orang tua, beliau mendukung penuh apapun yang saya lakukan meski tetap memberikan saran demi kebaikan si kecil.

    Saya kenal The Urban Mama sebenarnya sudah hampir setahun ini, bermula dari kehebohan di timeline Twitter yang ngomongin tentang situs baru ini. Awalnya saya kira sama aja sama beberapa situs parenting yang sudah lebih dulu ada, tapi ternyata The Urban Mama memang berbeda. Salah satu perbedaannya adalah adanya forum tempat para urban mama dan papa berbagi cerita dan ilmu. Sehingga situs ini tidak hanya bersifat satu arah. Bahkan artikel-artikel di situs TUM sendiri banyak diisi oleh para pembaca atau anggota forum.

    Jujur aja pertama kali bergabung di forum TUM ini benar-benar membuat saya terkejut. Meskipun saya juga bergabung dalam sebuah forum gosip dan beberapa forum yang membahas sebuah gadget, untuk ilmu parenting saya banyak mengandalkan beberapa milis yang diikuti oleh peer group saya. Sehingga tuntunan dan dunia yang saya tahu dalam mengasuh anak ya seputar milis tersebut. Apa yang tidak sesuai dengan itu saya anggap aneh. Sampai suatu ketika saya sendiri merasa inferior berada di lingkungan tersebut karena tidak bisa sehebat para ibu yang lain.

    Banyak kekurangan saya dalam membesarkan si semata wayang. Hal ini seringkali membuat saya merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Cinta kondisi yang ideal atau merasa “kalah” dari ibu-ibu lain. Sampai ketika sedang browsing, saya menemukan salah satu topik di TUM yang membahas tentang “mistake we made“, dari situ saya sadar kalau saya nggak sendirian. Banyak juga para ibu yang kalau bisa mengulang waktu akan berusaha lebih baik dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Everybody made mistake but it’s oke coz we’re human. And it’s fine not to be a perfect mom nor a super mom. Saya, suami dan Cinta adalah tiga individu yang sedang belajar menjalani peran kami masing-masing sebagai istri dan ibu, suami dan ayah dan anak. Inilah sekolah kami yang sesungguhnya dengan mata pelajaran seumur hidup sebagai orang tua. Mungkin kami tidak akan pernah dapat nilai 100 untuk pelajaran ini tapi yang penting selalu berusaha untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik.

    Saat ini saya dan Cinta sedang belajar untuk hidup mandiri, jauh dari nenek dan kakeknya juga ayahnya. Selain itu kami masih berjuang dengan toilet training di usia Cinta yang hampir 3,5 tahun. Hah! Yang bener aja! Juga berusaha mengenalkan makanan lain terutama sayur kepada bocah kesayangan saya dan berdamai dengan GTM. Berhubung Cinta sudah masuk usia pra sekolah, saya dan dia juga mulai belajar tentang metode pendidikan yang paling cocok untuk diterapkan di rumah atau memilih sekolah yang bagus. Belum lagi beradaptasi dengan sekolah baru di lingkungan baru. Meski belum sepenuhnya berhasil dan masih ups and downs, but I always try not to push her or myself.

    PR saya sebagai orang tua masih banyak sekali. Dan dari The Urban Mama, meskipun hanya sebagai silent reader karena jarang posting di forum, saya banyak dapat ilmu yang bisa saya serap dan terapkan apa yang saya rasa cocok untuk Cinta. Tapi yang terpenting adalah di TUM, saya belajar untuk menerima kekurangan saya sebagai ibu, berusaha menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter saya dan Cinta tanpa takut akan dihakimi karena berbeda. Sebaliknya saya juga berusaha untuk tidak menganggap orang tua lain yang memiliki pola asuh berbeda dengan kami, sebagai sesuatu yang aneh. Because there is always a different story in every parenting style. Selamat ulang tahun pertama The Urban Mama, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi saya sekaligus teman yang bisa diandalkan dalam mengasuh anak.

  • Life as Mom, Parenting

    Anakku Guruku

    family Baca postingan bundanya Padma di blog rame-rame kami CeritaBundas, benar-benar mengingatkan saya akan apa yang saya dan Cinta alami selama hampir 3,5 tahun usianya. Mungkin waktu hamil Cinta saya hanya membayangkan yang indah soal punya anak. Lupa bahwa mengasuh anak itu bukan cuma soal senyuman yang menggemaskan. Maka, di hari pertama bayi mungil itu tiba di rumah setelah sempat di fototerapi selama 2 hari karena bilirubin yang rendah, saya pun terkaget-kaget. Baby blues bahkan bisa dibilang postpartum depression, ASI yang cuma keluar sedikit sementara “tekanan” untuk bisa memberi ASIX berbenturan dengan desakan untuk memberi sufor, colic adalah sedikit dari hal-hal yang sering bikin saya terduduk lemas dan ikut menangis bersama Cinta.

    Semakin besar, tantangannya semakin banyak. Ya, saya memang tipe orang yang hidup di masa sekarang. Tidak mempersiapkan diri untuk apa-apa yang kiranya akan terjadi saat Cinta bertambah usia. Maka ketika berhadapan dengan masa-masa batita itu mulai punya keinginan sendiri, lagi-lagi saya terkejut. Padahal ilmu psikologi perkembangan anak sudah saya pelajari saat kuliah. Entah kenapa saat mengasuh anak sendiri, semua ilmu itu lenyap begitu saja.

    Saya adalah orang yang keras, selalu berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan dan mengatur orang. Ternyata bocah kecil kesayangan saya pun mewarisi sifat itu. Yup, sifat keras itu memang genetik, diturunkan langsung dari generasi ke generasi keluarga besar saya. Maka terjadilah adu ego dan emosi, dia berontak, saya keras. Dia mempertahankan keinginannya, saya tidak kalah keras kepala. Biasanya berakhir dengan (lagi-lagi) tangisan dan pelukan.

    Sampai beberapa bulan belakangan ini, entah mungkin karena sudah usai masa tantrumnya atau pola asuh yang saya terapkan sudah mulai menunjukkan hasil, sikap Cinta mulai melunak. Dia sudah jarang ngamuk karena keinginannya tidak terpenuhi, bisa menerima saat keadaan tidak seperti yang dia inginkan. Bahkan saat saya mulai marah karena dia tidak menuruti perkataan saya, Cinta akan bilang, “Ma, senyum aja Ma, jangan marah.”

    Seringkali saya berpikir, anak 3,5 tahun ini sudah belajar mengendalikan diri dan emosinya di usia sangat muda. Kenapa saya yang 27 tahun lebih tua dari dia, tidak bisa lebih baik dari itu. Bersyukurnya saya, dikaruniai anak yang mengajarkan saya banyak hal. Memang jadi ibu itu pelajaran seumur hidup. Bukan cuma belajar mengurus anak, tapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Life as Mom, Parenting

    Kiddos 2.0: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

    seminarSekitar 5 tahun yang lalu, saya sempat terkejut mendengar cerita anak-anak kelas 6 SD swasta ternama di Surabaya sudah diharuskan membawa laptop sendiri untuk pelajaran komputer. Padahal waktu itu harga laptop termurah masih hampir 3x lipat gaji saya sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Masih belum habis rasa penasaran mengapa sekolah itu meminta muridnya membawa laptop padahal mereka punya laboratorium komputer, saya kembali terkagum-kagum melihat anak-anak SD sudah membawa telepon genggam dengan fasilitas lengkap ke sekolah. Makin geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tidak sedikit anak usia 10-12 tahun itu sudah dibekali Blackberry  dan anak SMP diberi iPad yang saya mimpi punya aja nggak berani oleh orangtuanya.

    Ya, saat ini kita memang hidup di era digital, di mana banyak sekali gadget atau perangkat teknologi yang bisa mempermudah kegiatan kita sehari-hari dan akses menuju sumber informasi. Apalagi sekarang perangkat tersebut bisa didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebut saja, telepon genggam, play station, laptop, televisi, vcd yang hampir ada di setiap rumah kelas menengah. Bahkan mungkin tidak sedikit yang masing-masing penghuni rumah memiliki ke-5 perangkat tersebut di kamarnya. Sayangnya, penggunaan media hiburan dan informasi ini seringkali tidak dibarengi dengan kecerdasan dan pengawasan dari orang dewasa. Hal inilah yang membuat saya mengikuti seminar “Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” hari Sabtu, 30 Oktober 2010 yang lalu di Kemang Village.

    Seperti yang saya utarakan di atas, anak SD sudah dikasih blackberry, telepon genggam canggih, laptop dengan akses internet tak terbatas merupakan hal yang umum kita jumpai saat ini. Padahal, Ibu Elly Risman mengingatkan bahwa banyak orang tua yang tidak awas akan banyaknya ancaman pornografi yang bisa diakses anak dari perangkat-perangkat tersebut. Bahkan games seperti The Sims atau film kartun macam Naruto pun mengandung konten pornografi dan kekerasan yang tidak pantas dimainkan atau ditonton oleh anak tapi tetap kita biarkan mereka menonton dan memainkannya. Padahal menurut data yang dihimpun oleh Kelompok Peduli Anak dan Buah Hati, pornografi bisa merusak 5 bagian otak anak, dan selama ini kita mengira bahwa narkoba lah ancaman terbesar bagi generasi muda.

    Nggak ada salahnya kok memberikan perangkat canggih kepada anak selama kita yakin bahwa bagian prefrontal cortex yang berfungsi sebagai direkturnya otak sudah benar-benar matang. Karena di bagian otak inilah tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai. Masih menurut ibu Elly, untuk mematangkan direktur ini, kita sebagai orang tua harus mengasuh anak dengan benar, yaitu dengan komunikasi yang baik, hangat dan mengutamakan perasaan. Selama ini mungkin banyak orang tua yang cuma peduli apakah anak sudah mengerjakan PR atau belum, ranking berapa di sekolah, kalo belum bikin PR atau ulangan dapat 80 dan bukannya 100 langsung dimarahin. Padahal anak butuh validasi atau penerimaan, penghargaan dan pujian atas usaha yang telah ia lakukan. Mereka perlu kita memahami perasaannya.

    Dan yang terpenting adalah menghadirkan Tuhan dalam diri anak. Sebagai orang tua, kita harus menanamkan pada diri sendiri bahwa anak adalah amanah dan ajaran agama juga moral harus kita lakukan sendiri, bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah berbasis agama, guru agama, tempat pendidikan agama dan sebagainya. Pola pengasuhan Dual Parenting pun sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi anak yang matang. Peran Ayah sama pentingnya dengan peran ibu sehingga ayah juga harus hadir secara emosional dan spiritual. Dalam seminarnya, ibu Elly Risman memberi contoh anak laki-laki yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya akan cenderung agresif, sedangkan anak perempuan yang tidak mendapatkan penerimaan dari ayah akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain di sekitarnya dengan membabi buta.

    Latih anak untuk mampu berpikir kritis dan memiliki konsep diri yang kuat dengan selalu menanyakan pendapat anak tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Penerimaan, cinta kasih sayang dan penghargaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh anak. Dan jadilah teladan yang baik karena anak belajar dari contoh bukan ucapan. Pemberian fasilitas kepada anak pun harus jelas tujuannya, jangan cuma karena “semua temennya juga pake” atau “biar gampang hubungin anak”. Capai kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaannya, dan jelaskan dampak positif dan negatif gadget tersebut. Biarkan anak berpikir, memilih dan mengambil keputusan mengenai perangkat tersebut.

    Nggak mudah jadi orang tua di era digital ini, banyak sekali ancaman dan tantangannya. Nggak sekedar sekolah mahal tapi juga pergaulan yang semakin menggila. Anak sekarang jauh lebih pintar dari orang tuanya tapi kita sebagai orang tua juga harus lebih kreatif dalam memahami anak. Selamat menjadi orang tua 2.0 yang cerdas dan tanggap 🙂

  • Parenting

    (Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

    upin ipinSiapa yang tak kenal dengan 2 tokoh di samping? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah. Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

    Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan. Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

    Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda. Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba. Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif. Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

    Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu. Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai. Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

    Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.

  • Parenting

    Siapkah untuk Anak Kedua?

    Semalam, entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba si bocah bilang, “Ma, aku ini kan adik kecil, aku mau punya adik bayi.” Padahal biasanya dia kalau ditanya mau punya adik atau enggak pasti jawabannya enggak. Tapi memang belakangan ini pertanyaan, “Kapan mau punya anak lagi?” sering diajukan ke kami dan sedikit banyak sempat mengganggu pikiran saya. Walaupun sudah dijawab dengan diplomatis yang menyiratkan bahwa kami terutama saya belum siap dengan kehadiran seorang bayi lagi, selalu muncul argumen-argumen seperti “Kan Cinta sudah besar,” “Kasian nanti kalau nggak punya adik”, “Kalau cuma sendirian nanti Cinta jadi anak manja, lho.” membuat saya berpikir ulang tentang keputusan untuk punya 1 anak saja.

    family

    Kalau dari segi usia anak pertama sih, memang saat Cinta berusia 3 tahun seperti sekarang adalah waktu yang ideal untuk mulai hamil anak kedua. Pertama karena saat adiknya lahir nanti, ia berusia 4 tahun dimana anak di usia ini dianggap telah cukup menikmati perhatian dari orangtuanya, dan biasanya pada usia ini mereka telah memiliki banyak aktivitas dan kegiatan sendiri. Kedua, jarak waktu 4 tahun juga menguntungkan dari segi ekonomi karena tidak bersamaan saat harus masuk sekolah, misalnya saat si kakak masuk SMA, adiknya belum akan masuk SMP, dan seterusnya kecuali si adik ikut kelas akselerasi dan memperpendek jarak pendidikannya :p

    Kepengen sih hamil lagi, kangen juga sama bau bayi dan menyusui. Tapiiiii, kehidupan pernikahan jarak jauh seperti yang sedang kami jalani sekarang adalah hal utama yang membuat saya ingin menunda dulu untuk punya anak kedua. Belum lagi post partum depression yang pernah saya alami setelah melahirkan Cinta dulu. Rasanya baru aja saya bisa menikmati tidur malam dengan nyenyak dan belum siap menghadapi malam-malam kurang tidur, tumpukan popok kotor, kolik, dan sebagainya. Lagipula, mumpung Cinta sudah sekolah, saya sedang berpikir untuk kembali bekerja di luar rumah. Nggak mungkin kan saya baru masuk kerja trus hamil lagi? Nanti nasibnya sama seperti waktu hamil Cinta dulu, cuti melahirkan pas habis kontrak, akhirnya malah nggak diperpanjang. Egois ya saya? Tapi saya yakin kok Tuhan akan memberikan adik untuk Cinta pada saat yang tepat, saat yang terbaik untuk kami.

  • Daily Stories, Parenting

    Kidal atau Tidak?

    Sejak bayi, Cinta lebih banyak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Sampai guru-gurunya di Baby School dulu bertanya apakah Cinta ada kecenderungan kidal. Kami pun pernah menduga demikian, tapi dari beberapa referensi yang pernah saya baca, batita memang punya kecenderungan untuk menggunakan kedua tangannya secara aktif yang menunjukkan bahwa otak kanan yang berkaitan dengan kemampuan matematik dan otak kirinya yang mempengaruhi kemampuan tata bahasa sedang berkembang. Tapi di usia 2-3 tahun mulai tampak tangan mana yang lebih dominan dan akan permanen di usia 6 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan ciri-ciri anak kidal sudah ada sejak ia berusia 6-7 bulan, sementara kecenderungannya sudah terbentuk ketika anak dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga berpengaruh.

    Namun, sejak masuk sekolah saya perhatikan Cinta lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan motorik halusnya seperti menggunting, membentuk sesuatu dari playdoh, memegang alat tulis, dsb. Tapi untuk melempar, memegang atau membawa sesuatu yang agak berat masih dengan tangan kiri. Mungkin karena pengaruh guru dan teman-temannya di sekolah atau karena memang dia lebih nyaman dengan cara seperti itu.

    Saya dan keluarga sendiri tidak pernah mempermasalahkan tangan sebelah mana yang lebih dominan di Cinta. Hanya saja pelan-pelan dan tanpa paksaan, kami mengajarkan Cinta untuk bersalaman, memberi dan menerima sesuatu, juga makan dengan tangan kanan karena budaya di sini masih menganggap tangan kanan sebagai “tangan manis”. Apapun jadinya nanti, mau kidal atau tidak, yang penting Cinta nyaman dengan dirinya dan bahagia dengan keadaannya 🙂

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Family Health, Parenting

    KulTwit Tentang Broken Home oleh @AlissaWahid

    Kalau di postingan I Thought I Was A Survivor, saya mengutip beberapa twit tentang broken home dari kultwit mbak @AlissaWahid tentang apa itu broken home, dampaknya bagi anak dan bagaimana supaya bisa survive dalam keadaan itu. Nah, di postingan ini versi lengkapnya. Yuk belajar mengerti, memahami dan menolong serta mendampingi para “korban” broken home supaya menjadi survivor yang sukses.

    The responsibility of a Mother to her children is to love their Dad, the responsibility of a Father is to love their Mom #brokenhome

    The foremost & basic need of a humanbeing is security. After being born, the first psychological development is basic trust#brokenhome

    This need for security is the foundation for the next psycho.development: autonomy, initiative, identity & so on..#brokenhome

    When a baby learns that she can trust her Mother/othercaregiver, she will have a sense of security that others care for her#brokenhome

    Buat manusia, finding his place in this world & having meaningful relationship adl hal dasar utk kesehatan jiwa #brokenhome

    Hubungan ayah ibu mrpkn model hubungan yg tdekat utk anak. Dr sini anak belajar bgmn bangun hubungan bmakna dg org lain#brokenhome

    Saat basic trust tcapai, anak mrs secured. Saat lihat hubungan orgtua, anak mbangun konsepnya ttg hubungan yg bermakna#brokenhome

    Jd kl ayah-ibu bertengkar di depan anak2, apa kira2 yg sedang dipelajari si anak? #brokenhome

    Saat orgtua berantem, anak belajar problemsolving, cinta, hubungan, etika, komunikasi, managing differences.. #brokenhome

    Kl saat berantem, orgtua tdk pamer kemarahan dg teriakan, pukulan, lemparbarang.. Anak belajar utk tdk umbar emosi #brokenhome

    Kl ibu teriak2, lempar piring ke ayah, lalu ayah menyembah2, anak belajar cara efektif mengalahkan org adl dg sikap agresif #brokenhome

    Kl tiap berantem, ayah mjelek2an ibu kpd anak2, mrk blajar bhw begitulah cara membela diri dr ptikaian: umbar salah org lain #brokenhome

    Kl tiap berantem, ibu lari dr rumah, atw ayah mabuk2an, maka anak belajar utk lari dr masalah, bukan menyelesaikan #brokenhome

    Jd, the way orgtua berantem bukan hanya menyangkut si orgtua. Tp itu adl pbelajaran bharga utk anak #brokenhome

    Isu yg diributkan orgtua tdk begitu penting utk anak. Dia tdk bs lihat siapa yg salah atw benar. Apalagi dia sayang keduanya#brokenhome

    Menurut sy sih anak #brokenhome tdk hrs dr kelg bcerai. Bs juga dr orgtua yg stay together tp keluarganya gak tentram, tll sering ribut

    Byk anak dr kelg bcerai tumbuh jd org dewasa yg baik & sukses. It’s bcoz the parents handle the process in empowering manner #brokenhome

    Byk orgtua tdk bcerai tp anak2nya tumbuh jd org dewasa yg ‘kurang sehat’ krn ia belajar cara2 hubungan yg justru tdk sehat #brokenhome

    Pceraian orgtua membawa dampak loss of security pd diri anak. Selalu. Tp ada dinamika keseluruhan pengalaman hidup anak.. #brokenhome

    ada 3 jenis ptanyaan nih: how to survive, how to help survivor, how to be the best divorced-parents. satu2 dibahas ya

    how to help survivor #brokenhome dulu, sdh kadung mulai bahas soalnya. yg tpenting pastikan kita bs mjd pdamping yg tepat. kita hrs kuat

    how to help survivor #brokenhome : fokus beri dia unconditional love, tdk tseret saat dia moody, justru mampu seret dia balik

    berat lho helping survivor #brokenhome tapi it’s worth it. kl bener2 pengen bantu, kitanya juga perlu effort ekstra utk belajar & tumbuh

    RT @arifnofiyanto: That happens, b4 he was born. One of his parent left & doesn’t have those calld responsibility. Yep, his dad#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: This man, grow “almost normal”, happy, excitd until somehow he dropped down into very bad sentimental life#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: Yes, he realized his life is not complete and have a big anger to his parent for being irresponsible#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: he life in his own way, create his own world, his own imagination abt a good family, sometime he living there too much

    RT @arifnofiyanto: Then, one day, the man whose shud be his father coming back & asked to be called as dad. The new man refuse #brokenhome

    RT @arifnofiyanto: This guy have all in his life: intelligence, friends, confidence, except feeling the love #brokenhome

    to survive #brokenhome the man needs to search inside himself, replacing old beliefs about love & relationships with new empowering beliefs

    semua masalah mengandung benih2 kebahagiaan/kesuksesan utk masadepan. our #brokenhome past is a starting point to turn back our lives!

    how to erase the anger & forget the pain? you can’t. you can only handle the emotions. it’s a part of you. it is what it is. #brokenhome

    we can make the anger & the pain of being #brokenhome as fuels to take steps necessary in building a happy future. that’s called forgiveness

    RT @kopiholico: Stars glow because of the dark. Our child would learn to always grow out of adversities & bcome winners too!#brokenhome

    seriously confused with lots of questions & responds on#brokenhome.. sdh malam pulak ini.. kita simpulkan dikit dulu ya..

    as parents, we should realize the way we fight & handle conflicts is very influential to our children and the adults they become#brokenhome

    #brokenhome does not refer only to divorce. staying together in unhealthy relationship will give the children unhealthy environment to grow

    #brokenhome is not an end of the world. it can be a start for something better, if we truly want to change or help someone change

    handling a situation of #brokenhome as the survivor, helping a survivor, or the surviving parent is not easy, but it’s worth the fight

    Let’s be grateful of whatever the life we have now, #brokenhome or not, for now we have a reason to build better lives!

    RT @willwesley: For those from a #brokenhome, do remember that if it didn’t happen you wouldn’t be who you are now

    RT @nuuii: Berdamai dgn masa lalu..memaafkan situasi,lingk,orang2 yg ikut andil adalah cara jitu keluar dr trauma#brokenhome

    To start twitcussion #brokenhome tonite, I’ll share a friend’s experience as a survivor.. Thanks for allowing us to learn, dear someone..

    RT @arifnofiyanto: baca timeline @alissawahid lumayan mengaduk emosi. Alhamdulillah ak sdh masuk dlm tahap menerima#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: & memaafkan masa lalu. meskipun sejarah tak mungkin dihapus tp bdamai dg masa lalu & mcoba u mencintai ..#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. & menerima orangtua kt apapun kondisi & kekurangan mrk adl lebih baik dibanding terus menerus ….#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. dibanding terus menerus btanya *kenapa* stop berpura2 hidup dlm keluarga sempurna. #brokenhome

    RT @arifnofiyanto: .. walau tak terlahir dlm keluarga yg sempurna, tetapkan dlm hati bahwa kt berhak u bahagia #brokenhome

    Sharing dari ms.Survivor teman @arifnofiyanto tadi menunjukkan bhw coping with #brokenhome is not so easy..

    RT @rkalski: #brokenhome sbg anak, mungkin awalnya efeknya gak kerasa, seiring waktu berjalan, efeknya jadi dahsyat,

    Buat kita yg bukan produk #brokenhome so easy to use logic & commonsense to cope with these ‘disaster’ but for the ones living with

    Keluarga kandung adl lingkungan utama & pertama. How we sense the world comes from our early-start in the family #brokenhome

    Ada 2 jenis survivor dari situasi #brokenhome : produk sukses dan produk gagal. Bedanya spt bumi & langit, walau tampak luarnya sama

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome

    RT @abekanatalia: being close to some1 who survive from#brokenhome & now has broken family is quite hard for me 2 ustand

    RT @abekanatalia: I don’t understand why #brokenhome stimes like a curse in family. Kadang terjadi turun menurun.

    RT @abekanatalia: from my experience being close to#brokenhome survivor. He’s so self oriented and overprotected to his family.

    RT @abekanatalia: and unconsiously he create another#brokenhome family. I deeply sad bout this coz I can’t do much to help. .

    RT @fuadfahrudin: Sbgian produk #broken home kdg bs bsikap manis&baik d dpn smua org,tp kl sdr biasany tlihat aslinya. Mdh marah&emosian..

    di alam bawahsadarnya, produk #brokenhome meyakini bhw tdk ada jaminan ia akan bs hidup bahagia, punya hubungan bmakna dg seseorang

    RT @arifnofiyanto: menurut pengamatanku anak yg tlahir dari kelg#brokenhome ketika berhubungan dgn pasangannya punya 2 sikap yg jauh

    RT @arifnofiyanto: @AlissaWahid ketika berhubungan dgn pasangannya punya 2 sikap yg jauh bertolak belakang. [1] overprotected [2] supercuek.

    RT @arifnofiyanto: Knp overprotected? Karena ketika dia merasa ada orang yg sayang sm dia, dia tdk ingin sedetikpun kehilangan ..

    RT @arifnofiyanto: dia tdk ingin sedetikpun kehilangan rasa cinta dari pasangan yg selama ini tdk ditemukan dlm keluarga.#brokenhome

    RT @arifnofiyanto: kdg itu jd pemicu ptengkaran ketika pasangannya bkn berasal dari kelg #brokenhome & tdk terlalu tahu kondisi & mau dia.

    RT @arifnofiyanto: Yg kedua supercuek: karena telah terbiasa tdk mendapat kasih sayang dr keluarga, biasanya anak #brokenhometdk terlalu ..

    RT @arifnofiyanto: @AlissaWahid biasanya anak #brokenhome tdk terlalu cepat percaya dgn pasangannya akibatnya timbul perasaan cuek…

    RT @arifnofiyanto: Dan berperinsip kalo benar pasangan cinta, harus ngerti dia kalo td ya lupakan saja 😀 #brokenhome

    yg sy RT dr The Survivor #brokenhome mrpk contoh klasik perilaku yg keluar dari keyakinan kuat di tingkat bawahsadar tentang insecurity

    survivor #brokenhome supersensitif thd hal2 yg kira2 bs meruntuhkan ego-nya. pdhal kesehatan jiwa ditentukan oleh kesehatan ego

    semua org ingin melindungi egonya. ego yg intact/sehat membuat org punya keseimbangan mhadapi ‘cuaca’ kehidupan: ada badai, ada musim bunga #brokenhome

    ego yg tdk sehat melihat ‘cuaca’ kehidupan: badai, musim hujan, musim gugur.. musim lain hanya pengantar menuju masa gelap #brokenhome

    proses menyembuhkan kesehatan ego pd survivor #brokenhomememang lama & tdk mudah. to forgive is one step ahead, but not enough

    struggle yg luarbiasa utk survivor #brokenhome .. utk btahan saja berat, merasakan pahit bkepanjangan, tak tahu kapan usainya..

    saat jatuhcinta pd seseorang, alam bawahsadar survivor#brokenhome btanya: “apa iya aku bisa bahagia? would she stay with forever?”

    krn ingin melindungi ego dr kemungkinan kecewa itu, survivor #brokenhome biasanya overprotektif. & testing the limit of her spouse..

    tanpa sadar, si survivor #brokenhome melakukan hal2 yg di mata org normal aneh. mis. cinta kok cuek. pdhal itu krn dia takut terluka lagi..

    now let’s move on to Produk Sukses dr #brokenhome .. ini orang2 yg, despite their situation&struggle, comes out as winners of life..

    RT @AlandaKariza: (#brokenhome) … it shows how human has the power to be resilient. Bounce back higher when pushed.

    dengan proses yg tepat semua survivor #brokenhome bisa kok melewati masa2 “produk gagal” to turn around and become “produk sukses”

    sekali lagi, kunci kesehatan jiwa adl ego yg sehat. disaster spt#brokenhome kl dihadapi dg ego yg sehat dampaknya akan berbeda

    ada dinamika proses hidup yg juga besar pengaruhnya thd kesehatan ego survivor #brokenhome bukan hanya saat2 konflik itu

    si A yg bahagia saat ia balita, orgtua mulai konflik saat remaja akan beda kesehatan jiwanya dg si B yg dr kecil hidup dlm #brokenhome

    si C yg #brokenhome tp dekat dg ayahnya & melihat kematangan ayahnya, beda situasi jiwanya dg si D yg lihat ayah mabuk, ibu depresi ..

    all I’m saying is: be wise memandang/menilai org2 yg struggling dg#brokenhome .. they’re hurting, & they haven’t known any better

    RT @NenoNeno: Mba makasih ya tweets nya malam ini. The only wishes from a #brokenhome is to be listened, understood & loved unconditionally

    moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    #brokenhome RT @GreatestQuotes: “At the center of yr being you have the answer; you know who you are & you know what you want..” – Lao Tsu

    and when it’s time, my dear survivor friends, I believe you hv the bigger capacity to love & shine, all bcoz of yr #brokenhome past..

    Only the strong admit their fears.. kata Barry Manilow.. but someday someone will make you glad you survive! … #brokenhome

    so have a great journey to find your palce in the sun, all my#brokenhome survivor friends … thanks for sharing..

    RT @IndahWiyoga: @AlissaWahid so, to a survivor from the#brokenhome, whatever ur cross, whatever ur pain, just believe.. (1)

    RT @IndahWiyoga: @AlissaWahid so, to a survivor from the#brokenhome, just believe..There will always be a sunshine after the rain (2)