Browsing Category:

Parenting

  • Life as Mom, Parenting

    Kekhawatiran Seorang Ibu

     Sejak jadi mama, saya jadi sering khawatir. Tentunya mengenai hal yang berkaitan dengan Cinta atau saya. Mulai dari takut Cinta makan-makanan yang nggak bergizi trus kena penyakit macam-macam, khawatir kakinya Cinta terjepit di eskalator dan masih banyak lagi. Nggak jarang bayangan buruk itu melintas seketika di pikiran saya dan menjadikan ketakutan tak beralasan itu nampak nyata.

    Belakangan ini lagi ramai mendengar orang bicara soal bencana, pun beritanya marak di koran dan televisi. Sebut saja kecelakaan pesawat, tanah longsor, gempa, kecelakaan kereta sampai kecelakaan mobil. Jujur aja, buat saya yang gampang kepikiran ini, berita-berita itu selain menimbulkan simpati untuk para korban, juga memunculkan kecemasan baru. What if it happen to us.

    Pagi ini saya membaca berita tentang seorang anak yang terpisah selama 7 tahun dari orang tuanya karena musibah tsunami di Aceh. Dalam jangka waktu itu dia diasuh oleh seseorang yang ternyata memanfaatkannya untuk mengemis. Hidup terlunta-lunta di jalan, dipukuli, tidur di emperan toko, makan seadanya sampai akhirnya setelah diusir oleh si ibu angkat ia bisa pulang ke kampung dan bertemu orang tua kandungnya. Huaaaa, sedih banget. Langsung terbayang Cinta yang saat itu lagi asik main sambil nonton tv.

    Seandainya something bad happen to me, gimana nasib Cinta nanti. Akankah ada orang yang bisa mengurusnya lebih baik dari saya? Bagaimana kalau hidupnya jadi susah dan tidak bahagia. Bisakah dia tetap makan enak, sekolah dan bermain dengan ceria seperti sekarang?

    Gara-gara kekhawatiran itu pula, tiap bepergian saya selalu membekali Cinta dengan tanda pengenal berisi nama, alamat dan no telpon orang yang bisa dihubungi selain saya. Norak ya? But that’s what my mom did to us when we travelling without her. Saya berharap kalau sesuatu terjadi pada saya dalam perjalanan itu, siapapun yang menemukan Cinta bisa lekas menghubungi keluarga kami. Supaya Cinta bisa kembali ke rumah, tempat paling aman dan nyaman buat dia.

    Kecemasan itu pula yang tertuang dalam setiap doa, memintaNya supaya selalu melindungi Cinta. Doa  yang tak pernah putus, Insya Allah, selama hayat dikandung badan.

    Nah, sejak marak prediksi terjadinya koronasi matahari pada akhir tahun 2012 nanti pun banyaknya bencana yang terjadi, saya jadi berpikir untuk menyiapkan survival kit untuk kami. Seperti baju, uang, bahan makanan kering, air, obat-obatan penting untuk waktu tertentu. Bahkan mulai sounding ke keluarga untuk menyiapkan hal yang sama. Yah, setidaknya kalau sesuatu terjadi minimal sudah  ada persiapan sampai bisa beradaptasi dengan keadaan baru. Meski saya tahu, Tuhan tetaplah menjadi penentu usia kita.

    Well, nggak tahu deh, apakah semua ibu punya ketakutan berlebihan seperti ini atau saya aja yang terlalu paranoid, ya?

  • Life as Mom, Parenting

    From A Mother’s Eye

    Ngikutin berita tentang aksi Suster Ngesot yang ditendang satpam akhir-akhir ini bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan, saya nggak mau ikut-ikutan ngebully si Mega atau membela pak satpam. Buat saya jelas, Mega yang salah. Titik! #sikap.

    Dalam kasus Mega, sebagai seorang ibu, saya pun memetik banyak pelajaran dari kejadian itu. Bahwa ada orang yang mudah sekali mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hanya karena dia ingin, tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, apalagi efeknya untuk orang lain.

    Ketika perbuatannya itu dianggap salah, seribu satu alasan pun keluar. Ia pun tidak menyadari kesalahan yang dia buat. Kalau nggak sadar dia salah, gimana mau minta maaf ke orang yang benar-benar sudah dia rugikan. Bahkan memposisikan diri sebagai korban.

    Satu lagi, meskipun anak adalah harta yang paling berharga, orang yang paling kita sayangi, saat dia salah ya kita harus menerima kenyataan itu. Tegur dia, ajak dia minta maaf dan membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahannya. Bukannya tutup mata dan mati-matian membela anak atas nama cinta.

    Toh, sayang anak tidak berarti melimpahinya dengan materi, memanjakannya dengan mengiyakan semua keinginan dan membela setiap perilakunya. Sebagai orang tua, tugas kita mengarahkan anak mana yang bermanfaat, mana yang benar dan salah. PR kita juga mengajarkan anak berpikir bahwa setiap perbuatan ada risikonya, ajak mereka mempertimbangkan matang-matang segala kemungkinan yang bisa terjadi sebelum melakukan sesuatu.

    Yah, semoga kasus suster ngesotnya Mega ini, nggak semakin merugikan pak satpam dan keluarganya. Jangan sampai karena ulah konyol anak baru gede ini membuat sebuah keluarga kehilangan periuk nasinya.

  • Parenting

    #IndonesiaJujur: Semua Berawal dari Rumah

    Sejak anak saya mulai bisa bisa diajak bicara dan diberi pemahaman, salah satu nilai yang saya tanamkan adalah kejujuran. Mulai dari hal yang sederhana saja seperti tidak berbohong atau pergi diam-diam karena saya harus bekerja atau menghadiri suatu urusan di luar rumah dan dia menangis minta ikut. Juga tidak menjanjikan sesuatu yang kira-kira tidak bisa atau tidak ingin saya tepati hanya untuk menghibur hatinya yang sedang sedih. Memang sepertinya kejam ya, apa sih salahnya bilang, “Mama cuma pergi ke depan sebentar kok, Dek” padahal kita akan pergi ke kantor selama 8 jam, atau berkata, “Ayo makan yang pinter, nanti mama belikan Barbie kalo makannya habis” padahal cuma isapan jempol. Tapi tahukah kalau dari kebohongan kecil seperti itu efeknya besar sekali seperti hilangnya kepercayaan anak kepada orang tua dan anak tidak akan menurut lagi pada orang tuanya. Dan yang dikhawatirkan adalah kelak anak akan menganggap bohong dan curang adalah perilaku yang wajar, well they learnt from the best, their parents 🙂

    Dalam perilaku sehari-hari pun saya berusaha memberi contoh dan mengajarkan dia untuk berkata sebenarnya dan menghindari kecurangan. Tentu dengan bahasa dan contoh yang mudah dipahami oleh balita. Hal ini saya terapkan dengan harapan kelak anak saya bisa menjadi pribadi yang tahu apa yang baik dan benar, tidak mudah tergoda hal-hal yang buruk dan menghargai hasil kerjanya sendiri juga orang lain. Saya juga berharap lingkungan sekitar kami terutama sekolah di mana anak bisa menghabiskan sampai 1/3 waktunya dalam sehari memiliki konsep yang sejalan dengan apa yang kami praktikkan di rumah. Sehingga meski masih usia Kelompok Bermain dan akan masuk TK, saya sangat berhati-hati memilih sekolah untuk putri semata wayang saya. Jangan sampai apa yang terjadi di sekolah mematahkan prinsip-prinsip yang ditanamkan ke anak.

    Setiap tahun, saya sering miris membaca berita tentang kecurangan-kecurangan yang dilakukan murid maupun pihak sekolah saat menghadapi Ujian Nasional. Seringkali saya berpikir apakah para pengajar tidak percaya diri dengan ilmu yang sudah diberikan kepada murid-muridnya atau orang tua tidak memiliki kepercayaan bahwa anaknya mampu lulus dengan baik sehingga merasa harus curang dalam ujian. Yayaya, jaman sekolah dulu saya juga pernah nyontek demi sebuah nilai bagus tapi itu adalah aksi individu, untuk kepentingan saya sendiri. Lagipula saya nggak bangga dengan perilaku itu dan biasanya selalu ketahuan lalu dihukum, baik oleh guru, peer group maupun orang tua. Belum pernah saya mendapati guru-guru saya dari SD sampai SMA atau dosen saya membuat skenario nyontek berjamaah saat ujian seperti yang dilakukan oleh wali kelas 6 SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya yang memaksa siswanya untuk memberi contekan kepada teman-temannya saat Ujian Nasional.

    Lebih terkejut lagi saat mendengar anak yang dipaksa memberi contekan itu dan Ibunya yang mengadukan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan malah diusir dari kampungnya dan dianggap mencemarkan nama baik sekolah dan kampung *tepokjidat*. Jika memang wali murid menganggap AL bisa membantu teman-temannya lulus ujian kenapa tidak meminta AL dan ibu Siami mengajak teman-teman sekelasnya belajar bersama atau mengerjakan latihan soal, bukannya disuruh berlaku curang. Dan jika perilaku mencontek massal sudah dianggap sebagai hal yang wajar demi sebuah kesuksesan bersama, bahkan sampai dibela oleh orang sekampung tentu ada yang salah dengan pola pengasuhan anak dan sistem pendidikan kita.

    Semoga Ibu Siami tidak patah arang dalam menanamkan kejujuran kepada anak-anaknya, perilaku yang dianggap menyimpang dalam masyarakat yang sudah mulai kehilangan nilai-nilai moralnya. Saya juga berharap kasus ini mengingatkan banyak pihak untuk kembali mengajarkan pentingnya nilai-nilai baik kepada anak dan lingkungannya demi #IndonesiaJujur dan masa depan yang lebih baik.

    Gambar diambil dari sini.

     

  • Family Health, Parenting

    ASI is The Best

    “Dan apakah ASI pasti jadi pilihan yang paling tepat?”

    Kutipan itu saya ambil dari sebuah tulisan di salah satu media online yang sedang membahas tentang ASI vs Sufor. Yayaya topik itu memang nggak ada matinya, yes. Di tengah gencarnya kampanye bawah tanah tentang pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun, kubu sebaliknya juga nggak mau kalah. Semakin banyak iklan-iklan susu formula dengan formatnya yang bikin ibu-ibu meyakini bahwa sufor pun tak kalah baiknya dari ASI. Bahkan nggak sedikit tenaga kesehatan dan rumah sakit yang langsung memberikan susu formula kepada bayi baru lahir tanpa persetujuan ibunya dengan alasan air susu ibu belum keluar sampai bayi kuning.

    Kenapa saya bilang kampanye ASI adalah gerakan bawah tanah? Karena meski didukung oleh dinas kesehatan tapi pelaksanaannya masih berupa sosialisasi dari mulut ke mulut. Via penyuluhan di posyandu, kelas-kelas edukasi oleh organisasi nirlaba pendukung pemberian ASI, support group dan media online. Belum ada dana besar yang dikucurkan untuk pembuatan iklan ASI eksklusif seperti halnya susu formula.

    Saya sendiri nggak anti susu formula, Cinta juga nggak sukses-sukses amat ASI eksklusifnya karena 2 minggu pertama masih minum susu formula. Bahkan ketika saya bekerja, di usia 9 bulan, Cinta terpaksa diberi tambahan susu formula karena stok ASI Perah saya nggak cukup. Kesalahan yang saya sesali adalah tidak mempersiapkan stok ASIP ini dari awal, sehingga meski dalam perjalanan berangkat kerja, di kantor dan pulang kerja saya bisa memompa 4x tapi tetap saja nggak bisa memenuhi kebutuhannya akan susu.

    Saya setuju bahwa tidak bisa memberikan ASI bukan berarti saya ibu yang kurang baik dibandingkan ibu-ibu yang sukses memberikan air susunya untuk bayi mereka. Masih banyak faktor lain yang harus diperhitungkan untuk menilai seorang ibu itu ibu yang baik atau bukan. Ada pola asuh, pemberian nutrisi & asupan gizi, dll. Dan menurut saya yang berhak menilai pun anaknya sendiri, bukan sesama orang tua. Apa yang baik menurut kita belum tentu cocok untuk diterapkan di keluarga lain, bukan.

    Para ibu yang sudah berusaha memberi ASI namun gagal juga tak perlu rendah diri. Yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Tapi saya tetap percaya bahwa ASI adalah pilihan yang terbaik. No question, about it. Kegagalan sekarang bisa jadi pemacu untuk belajar lebih banyak lagi tentang ilmu dan manajemen ASI. Apalagi saat ini sudah semakin banyak konselor laktasi yang siap membantu. Semangat!

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Lewat Lagu

    Sejak bayi, Cinta paling suka kalau diajak “ngobrol” dengan suara yang dilagukan seperti bernyanyi, ngaji atau dibacakan doa-doa dan surat pendek. Jadi meskipun saya ini buta nada dan bersuara fals nggak mengurangi kepercayaan diri ketika bernyanyi untuk Cinta, apalagi menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, bagi bayi suara ibunya adalah suara yang paling merdu. Yah, walaupun fals kan nyanyinya penuh cinta ya ngeles.

    Saya sendiri yang awalnya cuma nyanyi lagu-lagu anak yang sudah umum sebagai cara berkomunikasi dan menghibur Cinta, akhirnya jadi iseng mengganti lirik lagu-lagu itu dan menjadikannya sarana penyampai pesan atau belajar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kami saat itu. Misalnya lagu Nina Bobo yang sudah sangat kondang itu, diganti liriknya jadi “Cinta bobo… oh Cinta bobo, hari sudah malam, waktunya tidur. Bobo bobo Cintaku sayang, besok pagi kita bermain lagi” untuk mengenalkan konsep pagi dan malam.

    Lagu yang sama juga bisa diganti liriknya menjadi, “Cinta cantik, oh Cinta pintar, kalau sudah besar jadi anak sholehah. Mama sayang dan papa sayang, anak baik hati si Nadja Aluna” sebagai doa sekaligus menanamkan afirmasi positif. Dua lagu itu jadi lagu pengantar tidur wajib dan kesukaan Cinta sejak dia masih bayi banget. Selain itu juga bisa menenangkan saat saya sudah lelah, sedih dan marah karena Cinta yang kolik suka nangis nggak brenti-brenti waktu malam. Dengan menyanyikan lagu itu sambil mengayun-ayunkan dia di gendongan, saya bisa ikut tenang. Dan ketika saya tenang, biasanya Cinta juga ikut berhenti nangis lalu tertidur. See, bahkan sebuah lagu sederhana pun bisa membawa efek yang luar biasa.

    Saat ingin menyampaikan sesuatu seperti pentingnya gosok gigi, asiknya mandi dan sudah kehabisan cara karena dikasih tahu tetap nggak mau mandi misalnya, saya ajak aja nyanyi lagu “Aku Gigi” yang jadi jingle Pepsodent atau “Bangun tidur”. Sering juga mengganti lirik lagu Mandi Pagi menjadi “Mandi pagi cibang cibung, pakai sabun asik banget. Cuci muka, gosok badan, jangan lupa pake shampo.” Kalau lagi belajar mengenal huruf dan membaca selain menyanyi lagu “ABC” yang sudah umum itu, kami juga suka bernyanyi lagu “I N I ini, I B U ibu, B U bu D I di Budi, dibaca Ini Ibu Budi” Kadang kami mengarang lagu sendiri dengan nada suka-suka sesuai dengan abjad dan kosakata yang lagi dipelajari. Jadi aneh emang, maklum wong bukan komposer lagu tapi tetap seru lho. Lagipula bernyanyi bisa bikin suasana ceria buat kami berdua dan aktivitas jadi sangat menyenangkan.

    Karena terbiasa bernyanyi, mendengar lagu dan mengganti-ganti lirik lagu, Cinta jadi suka juga melakukan hal serupa. Musik yang sekali dua kali dia dengar bisa diganti-ganti liriknya sesuai apa yang sedang dia pikirkan. Cinta juga pede aja nyanyi lagu ciptaannya sendiri di depan orang banyak sambil nari-nari a la ballerina. Nggak nyangka deh, dari aktivitas sederhana seperti bernyanyi dengan hati bisa mengasah kreativitas, keberanian dan kepercayaan diri.

    Belakangan saya baru tahu kalau informasi yang disampaikan lewat lagu dan musik lebih mudah dicerna dan diingat oleh bayi dan balita. Mungkin nih ya karena saat bernyanyi kita biasanya dalam keadaan senang dan (mengutip kata-kata ibu Elly Risman) otak menyerap lebih banyak saat hati senang. Jadi jangan heran kalau anak lebih banyak diajak menyanyi dan menari sama guru-gurunya di kelompok bermain dan taman kanak-kanak, karena itu memang cara belajar yang paling efektif sekaligus menyenangkan. Kok bisa? Secara ilmiahnya, tingkat konsentrasi anak-anak usia balita masih rendah dan mereka mudah sekali teralih perhatiannya ke hal-hal yang lebih menarik. Nah dengan menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan tema pelajaran membuat anak jadi tertarik untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    Bernyanyi sama anak juga bisa meningkatkan ikatan batin antara orangtua atau pengasuh dengan anak lho. Serta membuat anak merasa nyaman akan dirinya sendiri karena mereka bisa mengekspresikan perasaan dan melatih komunikasi. Jadi lupakan suara fals, anak nggak peduli kok, yang penting bersenang-senang bersama. Mari bernyanyi 🙂

  • Life as Mom, Parenting

    Komunikasi dalam Mengasuh Anak

    Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
    Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
    Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
    Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
    Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
    Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
    Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
    Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
    Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

    Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

    Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

    Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

    • Melemahkan konsep diri
    • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
    • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
    • Kemampuan berfikir menjadi rendah
    • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
    • Iri terus

    Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

    Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

    Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

    1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
    2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
    3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
    4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
      Anak: “Haus ma,”
      Mama: “Minum susu.”
      Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
      Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
    5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
    6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
      Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
      Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
      Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
      Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
      Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
      Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
      Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
      Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
      Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
      Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
      Mama: “Kesel dong kak, digituin”
      Anak: “Iya ma… blablabla”
      Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
    7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
    8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
    9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
    10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

    Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

    Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

    Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

    Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

    *Gambar diambil dari sini*

  • Life as Mom, Parenting

    Mau Masuk TK Mana?

    Tahun ajaran 2011-2012 nanti, Cinta mau masuk TK. Pas umurnya 4 tahun. Sebagai ibu yang (ngakunya) bertanggung jawab dan peduli soal pendidikan anak, saya mulai pusing mikirin TK mana yang cocok buat Cinta. Bayangkan, ini baru masuk TK lho ya. TAMAN KANAK KANAK! Tadinya sih saya mau Cinta ngelanjutin di sekolahnya yang sekarang. Secara lokasi, fasilitas sekolah, kurikulum dan kualitas guru-gurunya sudah paling cocok deh.

    Playgroupnya Cinta sekarang emang deket dari rumah. Tinggal ngesot sama beberapa kali koprol aja udah sampai. Lokasinya yang di dalam perumahan juga bikin kita tenang karena anak-anak nggak akan main di pinggir jalan besar dan nggak ada tukang jualan jajanan nggak sehat. Sekolahnya cukup besar, terdiri dari 6 sentra dan moving class. Kurikulumnya pun cocok buat Cinta yang tipe belajarnya kinestetis alias nggak bisa diam. Dan yang penting uang pangkal dan SPP-nya masih terjangkau. Meskipun belum termasuk uang sumbangan komite sekolah, uang iuran makan sehat dan yang lain-lain -_-!

    Tapi oh tapi, sejak pendaftaran dibuka awal Januari kemarin, ibu-ibu yang lain udah mulai mengeluarkan testimoni negatif tentang sekolah ini. Yang nggak diajarin baca tulis lah, yang ada siswa nggak lulus tes masuk SD, yang muridnya kebanyakan, yang kemahalan, yang anaknya nggak maju-maju lah, yang inilah itulah. Berasaplah kepala saya. Akhirnya saya tanya ke Kepala Sekolahnya, mencoba mengklarifikasi gosip-gosip itu. Dan menurut beliau apa yang dibilang itu hampir semuanya kurang tepat. Okelah, mari kita lihat lagi dengan kepala yang lebih jernih.

    Baca tulis sih diajarin meski bukan pelajaran yang utama, karena ada aturan dari Diknas bahwa TK nggak boleh ngajarin baca tulis. Dari sekian siswa TK B yang ikut tes masuk SD cuma 1 yang nggak lulus tes. Soal murid emang 1 kelas isinya 25 orang dengan guru 2 orang. Dari sisi perkembangan siswa emang masing-masing beda. Saya pribadi sih melihat perkembangan Cinta selama sekolah di sana cukup bagus. Tapi semakin dekat hari terakhir pendaftaran sekolah kok saya makin ragu ya. Pertama karena jumlah murid 1 kelas yang terlalu banyak. Di kelas Kelompok Bermain aja sekarang 19 orang dengan 2 guru padahal rasio yang baik 1 guru : 7 siswa. Saya pikir kalau masih KB sih nggak terlalu masalah karena toh tujuan utamanya bermain dan bersosialisasi. Lain lagi kalo udah TK, porsi belajar (meski tetap dalam rangka bermain) sudah lebih banyak. Khawatirnya dengan jumlah murid sebanyak itu, guru nggak bisa fokus ke masing-masing murid. Kedua karena jam belajarnya lebih lama dari kebanyakan TK lain, yaitu 4 jam, dari jam 7.30 sampai 11.30. Lama banget ya. Ini masih TK lho.

    Selain sekolah ini, ada 1 lagi incaran saya di kompleks perumahan sebelah. Udah sempat nanya-nanya dan agak cocok. Kelebihannya antara lain lokasi cukup dekat, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, calistung (baca tulis berhitung) diajarin secara intensif, gedung sekolah yang cukup luas dan bersih, jam belajar 3,5 jam, 1 kelas berisi maksimal 15 anak dengan 2 guru, uang pangkal terjangkau walaupun sedikit lebih mahal dari yang pertama. Sayangnya sekolah ini nggak menganut sistem BCCT atau sentra dan nggak moving class, yang mana kurang cocok buat Cinta yang gampang bosan. Sekolahnya juga sekolah nasional, bukan berbasis agama Islam.

    Mengingat kelebihan dan kekurangan 2 sekolah ini, rencananya akan minta trial dulu, supaya bisa memutuskan mana yang lebih cocok dan nyaman buat Cinta karena dia yang akan menjalani 2 tahun bersekolah di situ. Duh, milih sekolah ternyata emang bikin pusing ya. Baru TK nih, belum SD nanti. Semoga cepat bisa memutuskan yang terbaik buat Cinta.

  • Life as Mom, Parenting

    Aku Sudah Besar, Ma

    PhotobucketSiang ini, saya lagi mengedit beberapa foto di laptop dan Cinta sedang bermain dengan boneka-boneka dan buku-bukunya. Tiba-tiba dia memanggil,

    “Ma, tolong ambilin gunting.”
    “Buat apa, Cin?”
    “Ini lho, buat gunting gambar yang di majalah Elmo (majalah Sesame Street)”

    Setelah ngambil gunting, saya kembali berkutat dengan laptop sedangkan Cinta asik dengan majalahnya. Nggak lama kemudian dia ke lemari mencari sesuatu. Karena tempatnya tinggi dia ambil kursi dan naik ke atasnya. Tapi ternyata yang dicari nggak ada. Lalu dia menghampiri saya.

    “Ma. lemnya Cinta abis. Cinta beli di warung Opa ya. Minta uang buat beli lem.”
    “Mama anterin ya?”
    “Nggak usah, Cinta aja.”
    “Berani?”
    “Berani dong. Kan Cinta udah besar.”

    Akhirnya saya bawakan uang Rp 5.000,00 lalu saya antar sampai depan pagar dan Cinta pergi sendiri ke warung yang cuma berjarak 2 rumah dari rumah kami. Nggak lama kemudian dia kembali dengan lem kertas dan sebotol Yakult dingin 🙂

    Cinta pergi ke warung sendiri memang bukan untuk yang pertama kalinya sih, tapi kalimatnya yang menegaskan bahwa dia sudah besar dan bisa pergi sendiri entah kenapa mengusik saya siang ini. Nggak terasa anak kecil itu tahun ini akan berusia 4 tahun dan akan masuk TK. Jujur aja selama ini saya memang agak protektif dan terlalu banyak membantu dia dalam hampir setiap aktivitasnya. Bukan apa-apa sih, cuma karena saya suka nggak sabar atau takut kotor kalau dia melakukan sesuatu sendiri.

    Padahal, menurut teori perkembangan psikososialnya Erik Erikson, anak usia  18 bulan – 3-4 tahun berada pada fase Otonomi vs Perasaan Malu/Ragu-ragu. Di mana tugas yang harus diselesaikan pada tahap ini adalah kemandirian. Sebagai orangtua seharusnya saya memberikan lebih banyak kesempatan buat Cinta untuk mengeksplorasi lingkungan dan kemampuannya sendiri, supaya dia bisa mengembangkan rasa percaya diri bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Kalau tahap ini berhasil dengan baik, anak akan mandiri. Sedangkan kalau orangtua nggak memanfaatkan momen ini dengan baik, anak akan cenderung merasa dirinya nggak bisa melakukan sesuatu dan tergantung pada orang lain.

    Untungnya sejak sekolah Cinta terbiasa untuk melakukan beberapa hal sendiri dan itu terbawa sampai di rumah, sehingga saya pun akhirnya belajar untuk membiarkan Cinta melakukan hal-hal sederhana tanpa bantuan. Misalnya memilih dan memakai baju atau sepatu, menyabuni badannya dan sikat gigi sendiri saat mandi, ambil minum, sendok, bermain sendiri dan lain-lain. Walaupun akhirnya waktu yang dibutuhkan jadi lebih lama atau rumah jadi lebih berantakan. Agak terlambat sih memang tapi better late than never kan ya 😀

  • Parenting

    Menyiapkan Pendidikan Internasional dari Rumah

    “Apa sih yang terpikir dalam benak kita kalau mendengar kata SBI atau Sekolah Bertaraf Internasional?”  tanya Ibu Ines Setiawan seorang guru dan aktivis pendidikan dalam Seminar “Menimbang dan Mempersiapkan Homeschooling” di Hostel Pradana (SMK 57) Jakarta, hari Sabtu, 12 Februari 2011 yang lalu. “Mahal”, “kurikulum internasional”, “canggih”, “guru bule”, “bahasa Inggris”, “prestisius” adalah sebagian besar jawaban para peserta seminar yang diamini oleh Ibu Ines.

    Belakangan ini memang SBI sedang menjadi favorit para orangtua yang ingin menyekolahkan anak(-anak)nya. Meskipun biayanya lebih mahal daripada kelas reguler tapi menjadi kebanggaan tersendiri bila anaknya bisa masuk kelas atau sekolah tersebut. Apa sih SBI itu sebenarnya? Menurut Departemen Pendidikan Nasional, SBI adalah sekolah yang menyiapkan peserta didik berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusan memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan visi tersebut, Diknas pun menetapkan prinsip-prinsip tertentu dalam mengembangkan SBI di Indonesia.

    Sayangnya, pendidikan yang bagus ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial sangat baik alias menengah ke atas karena fasilitas-fasilitas yang diberikan dianggap bernilai lebih tinggi sehingga lantas dihargai lebih mahal. Lalu, bagaimana dengan keluarga menengah? Tidak bisakah kita memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk bisa cerdas dan kompetitif secara internasional? Bisa! Jangan salah, pendidikan bertaraf internasional bukan hanya monopoli siswa SBI. Murid kelas reguler bahkan siswa homeschooling pun bisa disiapkan menjadi lulusan yang mampu berkompetisi di dunia luas.

    The International Baccalaureate® (IB), sebuah lembaga yang memberikan sertifikasi kepada sekolah-sekolah bertaraf internasional mendefinisikan Pendidikan Internasional sebagai berikut:

    • Developing citizens of the world in relation to culture, language and learning to live together
      Mengembangkan warga dunia untuk saling mengenal budaya, bahasa, dan belajar untuk hidup berdampingan.
    • Building and reinforcing students’ sense of identity and cultural awareness
      Membangun dan mempertahankan identitas dan kesadaran siswa akan budaya lokalnya sendiri.
    • Fostering students’ recognition and development of universal human values
      Menumbuhkan kesadaran siswa akan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan pengembangannya.
    • Stimulating curiosity and inquiry in order to foster a spirit of discovery and enjoyment of learning
      Merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan bertanya supaya bisa menumbuhkan semangat penemuan dan kesenangan belajar.
    • Equipping students with the skills to learn and acquire knowledge, individually or collaboratively, and to apply these skills and knowledge accordingly across a broad range of areas
      Membekali siswa dengan kemampuan belajar dan memperoleh pengetahuan baik secara individu maupun berkelompok, dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan tersebut dengan tepat di berbagai bidang.
    • Providing international content while responding to local requirements and interests
      Menyediakan konten internasional sembari tetap tanggap akan kebutuhan dan kepentingan lokal.
    • Encouraging diversity and flexibility in teaching methods
      Mendorong keanekaragaman dan fleksibilitas metode pengajaran.
    • Providing appropriate forms of assessment and international benchmarking
      Menyediakan bentuk penilaian yang sesuai atau tepat dan pembanding internasional

    Dari 8 kriteria tersebut, hampir semuanya bisa dilakukan di rumah. Mengenalkan anak akan budaya internasional, cinta akan budayanya sendiri, belajar hidup dalam keanekaragaman, menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, merangsang rasa ingin tahu, menumbuhkan semangat untuk meneliti dan senang belajar, memfasilitasi anak untuk memperoleh pengetahuan apapun yang dia inginkan, memiliki metode belajar yang fleksibel dan akhirnya menilai perkembangan anak secara keseluruhan bukan hanya berdasarkan nilai yang berupa angka.

    Bagaimana dengan bahasa asing yang menjadi syarat kemampuan untuk berinteraksi di dunia internasional? Saat ini sudah banyak lembaga kursus bahasa asing yang bagus. Bahkan nggak sedikit anak yang bisa bahasa asing dari rumah, karena orangtuanya terbiasa menggunakan bahasa tersebut, belajar dari tv, komputer dan sebagainya. Fasilitas untuk belajar seperti percobaan science, art, dan sebagainya bisa diperoleh dengan mengikuti klub-klub belajar seperti Klub Oase, Klub Sinau dan sebagainya. Banyak juga orang tua dan siswa yang mencoba membuat sendiri eksperimen-eksperimen atau prakarya berdasarkan video-video tutorial yang bisa diunduh dengan mudah dari internet.

    Yuk, kita siapkan pendidikan internasional untuk anak dari rumah supaya nanti ia mampu berkompetisi dan hidup berdampingan dengan warga di belahan dunia manapun ia berada. Percaya deh bahwa pendidikan terbaik itu berawal dari rumah bersama orang tua. Because education is not for sale, it’s our rights.