Browsing Category:

Parenting

  • Daily Stories, Family Health, Parenting

    Membujuk Anak untuk Imunisasi

    Semakin besar, Cinta semakin susah diajak imunisasi. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan pernah pengalaman diimunisasi paksa, sehingga tiap diingetin jadwalnya imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, bulan ini pas ulang tahunnya ke-5, waktunya dia booster DTP, MMR dan Hep. A tapi masih bingung cara bujuknya. Nanya ke twitternya mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, beliau memberikan saran seperti ini:

    Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ / ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan. Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D. Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi. Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian ‘wah kamu pasti tambah kuat & sehat sekarang’ atau ‘mama bangga sama kamu’.

    Saran ini sedang saya praktikkan dan tadi malam sudah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu.hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah. Doakan kami berhasil di hari H ya 😀

  • Parenting

    What We Learn From Our Mom

    Dulu, jaman saya remaja, saya sering menganggap mama saya tuh nggak gaul karena sering menasihati ini itu atau melarang begitu begini. Mama saya juga suka bilang kalau anak-anak generasi saya (dan adik-adik) beda sekali dengan beliau waktu kecil dulu. Selera musik yang aneh, skala prioritas.yang bukan lagi soal pelajaran, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, semakin jauh gap antara saya dan mama sampai akhirnya saya menikah dan punya anak.

    Nggak sedikit pertentangan yang saya alami dengan mama soal merawat bayi, meskipun banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, misalnya soal memandikan bayi, cara membedong anak sampai cara menggendong anak. Yang paling seru (menurut saya nih ya) ya soal ASI vs sufor dan pengobatan. Generasi mama saya masih percaya bahwa susu formula adalah asupan terbaik bagi anak, sedangkan saya merasa sebaliknya. Begitu pula dengan pengobatan, setelah belajar dari sebuah milis dan sharing dengan beberapa teman, saya berusaha mengadopsi sistem rational use medicine, sedangkan orang tua saya ya masih beranggapan bahwa bayi sakit wajib hukumnya ke dokter.


    Ternyata nggak cuma saya yang mengalami pertentangan seperti itu dengan orang tua. Banyak lho, mamah mamah muda yang bernasib sama. Bahkan sampai ada yang benar-benar bertengkar dan memusuhi ibunya karena perbedaan pendapat ini. Sedih banget ya. Saya pun dulu sering merasa kesal karena pada pagi hari tiba-tiba Cinta sudah selesai mandi dan diberi susu formula oleh mama dan nenek saya, padahal saya ingin sekali bisa ASI eksklusif. Atau saat batuk pilek baru sehari dua hari sudah disuruh-suruh ke dokter. Tapi, setelah kami bisa berbicara dari hati ke hati, alasan beliau adalah kasihan melihat saya yang lelah karena begadang semalaman mengurus Cinta. Atau nggak tega melihat bayi kecil terus-terusan sakit. Ternyata semua itu beliau lakukan sebagai bentuk sayangnya pada kami berdua kok.

    Sejak itu saya berusaha mencari jalan terbaik untuk bisa berkompromi dengan mama. Menunjukkan artikel-artikel tentang ASI, mencari dokter anak yang se”aliran” dengan saya. Hebatnya, mama saya juga seakan berusaha untuk bisa mengerti dan memahami keinginan saya, sampai akhirnya beliau menjadi salah satu pendukung ASI yang hebat dan bahkan bisa ikut mempromosikan kebaikan ASI di kantornya. My mom is cool, right?

    Di ulang tahun Cinta ini, saya mengenang kembali perjalanan 5 tahun menjadi ibu dan menyadari bahwa mama saya (dan suami tentu saja) adalah sosok terpenting di belakang perjuangan kami menjalani peran sebagai ibu dan anak. Tanpa beliau mungkin saya tidak bisa survive dari post partum depression, tanpa beliau juga mungkin saya tidak bisa maksimal untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi Cinta. 

    Untuk itulah, saya membuat giveaway  bertemakan ajaran orang tua yang masih kita gunakan dalam mengasuh anak-anak kita sekarang. Sekadar mengingatkan bahwa meskipun masa berganti, ilmu berubah dan kita saat ini merasa lebih pintar dari ibu, masih banyak ajaran-ajaran beliau yang timeless. Mengasuh anak bukan cuma soal ASI vs sufor, RUM vs IRUM, MPASI rumahan vs MPASI instan. Masih banyak hal yang harus kita pelajari dan seringkali orang tua adalah guru terbaik.

    Dan saya terharu sekali melihat banyak wisdom dari para nenek atau kakek yang diamalkan oleh mamah papah jaman sekarang. Semuanya bagus menurut saya, seperti mengajarkan kejujuran, kemandirian, menghargai barang atau makanan, menghindari labeling sampai soal mengajarkan sebab akibat pada anak. Itu adalah ilmu-ilmu parenting yang mungkin dipelajari mama-papa kita secara otodidak, dilakukan dari hati dan sekarang dianut oleh banyak ahli parenting.

    Karena semuanya bagus sehingga saya bingung memilih pemenang, akhirnya saya menggunakan caranya om Warm untuk menentukan 2 orang yang mendapatkan paket buku “Rumah Cokelat” dan seri buku anak “Sejuta Warna Pelangi“. Dan yang beruntung adalah Myra Anastasia dan Titut Ismail, silakan kirim alamat pengiriman ke: alfa(dot)kurnia(at)ymail(dot)com atau via akun FB/Twitter. Terima kasih banyak atas partisipasi dan ucapan teman-teman semua untuk Cinta, doa terbaik untuk semua 🙂

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

  • Daily Stories, Parenting

    Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

    Question:

    Anakku (5T) sudah 3 bulan ini adaptasi dengan lingkungan & bahasa baru. Dia pernah ngeluh nggak punya teman di sekolah and she looks happier at home than at school. Katanya kalo di rumah lebih menyenangkan.
    Dia di sekolah pernah dibully temen ceweknya & dijauhi. Sejak itu jadi galak banget, digoda sedikit sama teman marah padahal tadinya mereka main bareng dan dia sempat senang karena sudah punya teman. sekarang seperti ulang dari awal lagi proses adaptasi di kelas

    Gimana cara bantu dia ya mbak?

    @alfakurnia – 24 April 2012

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Biasanya anak yg masih adaptasi dengan lingkungan bener-bener baru memang stres banget, cenderung nyari situasi aman. Syukurlah itu adalah rumah.

    Mau gak mau emang trus diperkenalkan dgn lingkungan & bahasa baru ini, dengan menyenangkan, supaya dia bisa adaptasi lebih baik

    Tentang temen-temennya, kasih tahu bahwa temen-temennya mungkin malu untuk mengajak dia berteman, misalnya karena bingung mau bicara apa, bukan tidak mau.

    Jadi ajarkan untuk banyak senyum di sekolah, supaya teman-teman mau mendekat & ajak dia bermain. Dorong anak untuk ikuti permainan teman

    Kalau ada komunitas menyenangkan yang bisa diikuti bersama anak, ikuti aja, biar dia belajar bergaul dengan senang.

    Untuk diperkenalkan budaya & bahasa baru itu bisa banyak-banyak jalan-jalan ke pasar tradisional di sana, ikut kegiatan-kegiatan masyarakat, dll

    Bantu carikan kegiatan-kegiatan masyarakat daerah yang banyak anak-anaknya & bantu dia utk ikut terlibat di sana. Lama-lama bisa adaptasi lebih ok

    Gak papa, lebih baik ulang lagi proses adaptasi daripada dipaksa tp nggak bagus hasilnya. Prinsipnya kayak terapi, yang masih kurang dikuasai perlu diulang belajarnya dengan benar. Ditemenin aja dalam proses adaptasi ulang ini, lebih banyak lagi kenalin temen lain.

    (Source: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitternya @AnnaSurtiNina)

  • Life as Mom, Parenting

    Soon to be Five: Pojok Mungil’s Giveaway

    Nggak terasa bocah kecil saya sebentar lagi akan meninggalkan masa balitanya. 5 tahun sudah saya ditempa oleh guru terhebat ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, supaya layak menyandang gelar orang tua. Selama 5 tahun ini pula, banyak sekali pelajaran mengenai pola asuh anak yang saya peroleh dari buku, internet, teman dan tentu saja orang tua.

    Meskipun kadang merasa bahwa cara orang tua mengasuh kita dulu sudah tidak cocok lagi diterapkan saat ini, ternyata masih banyak yang masih bisa ditiru. Salah satu yang saya pelajari dari mama adalah menyayangi anak bukan berarti selalu memanjakan dan menuruti apa yang ia mau. Dan saat kita tidak dapat memenuhi keinginan anak, sampaikan terus terang alasannya, tentu dengan bahasa yang mereka mengerti.

    Nah, dalam rangka ulang tahun ke-5 Cinta, saya ingin mengadakan giveaway untuk pembaca PojokMungil. Caranya gampang banget, cukup menceritakan apa saja ajaran, pesan atau pola asuh yang dipelajari dari orang tua kita dan diterapkan dalam mengasuh anak saat ini di kolom komentar. Untuk 2 orang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 buah MomLit Rumah Cokelat karangan Sitta Karina dan 1 paket buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” karangan Clara Ng.

    Yuk, mari berbagi cerita… Ditunggu sampai tanggal 13 Juni 2012 ya, pengumuman pemenang akan dilakukan pada hari ulang tahun Cinta tanggal 17 Juni 2012.

    Ps: gambar buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” diambil dari situs kutukutubuku.com

  • Daily Stories, Parenting

    Renungan Saat Hujan di Pagi Hari

    Hadiah yang ditunggu-tunggu anak adalah kesabaran: “Aku akan berusaha memperlambat langkah agar aku bisa berjalan di sebelahmu & biarkanmu jadi diri sendiri.” – @donobaswardono

    image

    *setelah naik turun tangga apartemen untuk kedua kalinya dan sudah terlambat berangkat sekolah*

    Cinta: *turun tangga pelan-pelan sambil nyanyi-nyanyi*
    Me: Go… Go… Go… We’re running late *dengan nada tinggi*
    Cinta: *berhenti nyanyi* Mami, aku kaget kalau ngomongnya keras gitu
    Me: Mama harus bicara keras karena tadi mama bicara pelan nggak didengerin sama kakak.
    Cinta: ….
    *setelah setengah perjalanan turun tangga*
    Cinta: Yah! Aku lupa bawa bandoku!
    Me: *membayangkan tantrum di pagi hari* Trus gimana? Masa mau naik lagi ambil bando? (dengan nada tinggi)
    Cinta: Eh, kan aku sudah pakai baju cantik ya jadi nggak papa nggak pakai bando.
    Me: *serasa disiram segalon air es*

    Pernah nggak menghadapi situasi seperti itu? Saat kita sedang emosi dan nggak bisa mengontrol nada suara atau ekspresi wajah eh korban pelampiasan emosi kita malah menunjukkan sikap tenang dan tersenyum.

    Saya sering sih, justru saat seperti itu Cinta menunjukkan sikap yang jauh lebih dewasa daripada mamanya yang berusia 6x lebih tua dari dia. Saat saya meragukan kemampuannya mengatasi kecewa malah bocah kecil ini membuktikan sebaliknya.

    Memang benar yah, anak itu guru bagi orang tuanya. Dari merekalah kita belajar memberi, percaya dan mengolah diri supaya layak menjadi orang tua. Dan selama hampir 5 tahun jadi ibu, entah kenapa belakangan ini saya merasa sering sekali menuntut Cinta untuk bersikap atau melakukan apa yang saya mau bukannya mendampingi dia untuk belajar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. And suddenly I feel that I’m not good enough to be a mother and I’m so lucky to have such a wonderful girl who still loves me no matter how bad I treat her.

    Ya, modal utama jadi orang tua memang cinta tak bersyarat, kesediaan memberi dan kesabaran. Sekarang saya jadi ragu, apakah saya sudah punya ketiga hal itu?

  • Daily Stories, Parenting

    Beradaptasi di Sekolah Baru

    Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

    Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

    Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin grin. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan tepok jidat.

    Mau memilih sekolah yang lain pun, kondisinya bisa dipastikan hampir sama. Jadilah dengan bismillah Cinta memulai petualangannya di situ.

    Awalnya aku kepikiran banget membayangkan apakah Cinta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas di sana. Khawatir kalau terlampau berat untuknya yang waktu sekolah di Jakarta begitu diperhatikan dan dimanja guru-guru.

    But somehow she survived. Selama 2 minggu ini bersekolah belum pernah malas berangkat, malah sempat ngambek karena dilarang sekolah waktu dia pilek. Bahkan hari ini waktu diminta untuk tinggal di rumah karena mamanya sakit, dia maksa untuk berangkat berdua aja sama si papa, meskipun masih batuk. Tapi akhirnya menyerah nggak sekolah setelah batuk-batuk sampai muntah dan pusing. Mungkin karena pelajaran yang diberikan mengulang apa yang sudah pernah dia dapat di kelompok bermain dan TK A. Bisa juga karena aktivitasnya lebih menyenangkan daripada sekedar main dan nonton tv di rumah sendirian.

    Namun belakangan aku mendapati Cinta kembali suka menggigit kuku dan benda-benda lain, bahkan tutup botol minum sampai gripis pinggirannya karena digigitin. Entah karena dia bosan atau sebagai ekspresi cemas dan tidak nyaman.

    Cinta sendiri kalau ditanya, “Are you happy at school?” selalu menjawab, “Yes, I’m happy!” dengan semangat. Meski belum punya teman dan waktu aku tanya apakah gurunya baik, dia jawab, “not really, mom. sambil cengar-cengir. Soal kurangnya aktivitas luar ruang juga dia pernah bilang, “Main di dalam juga menyenangkan, kok.” waktu aku mengkhawatirkan dia yang nggak pernah main di luar ruang.

    Hmmm… Kita lihat dululah perkembangannya sampai tahun ajaran ini berakhir. Apakah Cinta memang benar-benar cocok di sekolahnya sekarang ataukah kami harus cari sekolah lain untuk mengobati kekhawatiran ibunya ini. Well, for this time hang in there, Cinta. We’ll always by your side.

  • Daily Stories, Parenting

    Temani Aku Selamanya, Ma

    Cinta: Ma, temani aku selamanya ya

    Aku: Kenapa?

    Temani aku selama-lamanya ya Ma

    Emang kenapa kak?

    Aku takut ditinggal mama

    Emang mama mau kemana?

    Aku takut mama pergi jauh

    Kakak kenapa kok ngomong gitu?

    Soalnya mama yang terbaik

    Pergi jauh itu kemana kak?

    Aku takut kalo mama pergi aku ketinggalan

    Pergi ke mana?

    Ke Jakarta, Brunei, Sidoarjo. Kalo mama pergi selamanya, aku juga mau ikut mama selamanya

    Insya Allah ya Kak, mama temenin Cinta selama mungkin

    Ah kakak, maaf ya Mama nggak bisa janji akan menemani Cinta selamanya, Nak.
    Tapi kalau Allah mengijinkan, Mama akan selalu ada untukmu, menemani Cinta semampuku, selama hayat dikandung badan.

  • Daily Stories, Parenting

    Tidur Siang

    Sudah hampir 1 minggu ini bermasalah dengan jadwal tidur siangnya Cinta. Biasanya selesai makan siang, Cinta langsung cuci muka, tangan, kaki dan pipis lalu minum susu lanjut tidur siang. Nah, seminggu ini bisa dibilang rutinitas itu kacau semua. Susah bener deh kalau diajak tidur. Kadang sampai emaknya ketiduran, eh dia asik main iPad, baca buku, berantakin mainan di kamar. Atau kalau pas ada temannya seperti sekarang, tiba-tiba aja saya bangun tidur, dia udah main di luar kamar. Kalaupun bisa tidur siang, itu baru di atas jam 3 sore dan bangunnya pun bisa lebih dari jam 5 sore. Lha, mau tidur malam jam berapa kalau gitu coba.

    Memang sih, ada ibu-ibu yang nggak mempermasalahkan waktu tidur anak. Mau tidur siang kek, enggak kek, tidur jam berapa, bangun sore, tidur tengah malam, nggak masalah. Tapi buat saya itu masalah.

    Saya dan Cinta ini dari dia bayi terbiasa dengan rutinitas: bangun tidur, mandi, sarapan, sekolah/main, makan siang, tidur, mandi, main, makan malam, main, ngemil, tidur. Kecuali saat kami sedang berlibur atau travelling, ketika salah satu jadwalnya itu kacau, terutama kebutuhan akan tidur dan makannya kurang terpenuhi, dia akan cranky. Nah, saya yang nggak cukup punya energi dan kemauan untuk menghadapi kecrankyannya itu.

    Jadi gimana dong?

    Masalah tidur ini memang kepentingan emaknya kok. Saya paham sekali, tidur siang itu nggak enak buat Cinta, karena  berarti waktunya bermain berkurang. Tapi, saat Cinta tidur, saya bisa melakukan hal lain yang nggak ada hubungannya dengan dia. Nulis, baca buku, ikut tidur siang juga atau kalau pas lagi di rumah sendiri dan nggak ada pembantu, ya waktunya saya bersih-bersih rumah, setrika, masak buat makan malam, dll.

    Berdasarkan teknik dagangnya Toge Aprilianto sih, saat kita ingin anak melakukan sesuatu yang bukan kepentingannya, sebagai orang tua kita harus siap bayar. Masalahnya (lagi), saya nggak mau berdagang untuk hal yang satu ini dan makan. Kalau berdagang pun, bukan sesuatu yang menguntungkan anak. Hahaha emak serakah ya. Mau enaknya aja. Yaeyalah, kan manusia emang awalnya hidup berdasarkan prinsip enak-tidak enak. ketahuan emaknya Cinta belum lulus tahap ini waktu kecil dulu :p

    Mending saya beli keinginan supaya Cinta kembali rutin tidur siang tanpa susah payah ini dengan cara lain. So far, saya sudah mengijinkan dia untuk main iPad 15 menit sebelum tidur, membacakan tidur, menutup semua korden supaya nggak silau (sesuai permintaannya), peluk-cium dan usap-usap perut mamanya sambil bermanja-manja. Eh, itu juga termasuk menguntungkan Cinta dong ya 😀

    Cara terakhir yang cukup efektif adalah dengan mengacuhkan Cinta. Biasanya kalau mau tidur tuh, dia suka ngajak ngobrol, becanda, nyanyi-nyanyi, dll. Mungkin itu cara Cinta untuk mencari perhatian atau menyamankan diri sebelum tidur. Tapi beneran deh kalau diturutin, bisa nggak tidur-tidur. Jadi saya suka pura-pura tidur, baca buku atau mainan gadget. Lama-lama tidur sendiri dia.

    Tapiiiii, saya kok ngerasa cara itu jahat, yah? Dengan mengacuhkan Cinta seperti itu saya merasa jadi menempatkan Cinta di posisi yang kurang penting dibanding kebutuhan saya untuk tidur, baca buku dan gadget. Serba salah ih. Ada ide lain nggak sih yang bisa membuat rutinitas tidur siang ini kembali seperti semula tapi kiranya nyaman buat saya dan Cinta?

    Picture by: Awie R.
    Model: Cinta