Browsing Category:

Parenting

  • Life as Mom, Parenting

    Tentang Rapor

    Sejak minggu lalu banyak teman yang menulis status tentang rapor anak-anaknya dalam sosial medianya. Sebagian ada yang mengeluh karena ketiadaan nilai dalam rapor, hanya deskripsi perilaku anak di kelas. Guru-guru pun sepertinya belum terbiasa dengan rapor tanpa nilai dan ranking ini. “Seperti rapor anak TK,” demikian komentar yang sering saya dengar dalam pembicaraan tentang bentuk rapor baru tersebut.

    Iya sih, memang benar seperti rapor anak TK atau mungkin kelompok bermain. Belasan tahun yang lalu, waktu masih jadi asisten di TK yang dikelola kampus tempat saya kuliah dulu, kami terbiasa bikin rapor dengan sistem seperti itu. Jujur saja rapor seperti itu lebih menantang dan membutuhkan perhatian lebih karena kami sebagai pengajar harus benar-benar dekat dan memperhatikan anak-anak untuk bisa memberikan deskripsi yang sesuai.

    2 tahun belakangan ini juga rapor anak saya enggak ada ranking, cuma berisi rata-rata nilai yang diambil dari ujian, PR dan tugas-tugas sekolah. Selain itu masing-masing guru matpel ngasih deskripsi pencapaian berdasarkan skala 1-3 untuk anak. Persis seperti yang saya bikin dulu. Namun, seperti yang dijelaskan oleh gurunya Cinta, guru tetap pegang ranking cuma nggak dikasih tahu ke orang tua murid kecuali yang ranking 1-3 dari satu angkatan. Murid-murid inilah yang akan menerima trofi saat perayaan kelulusan murid TK dan primary school yang diadakan tiap akhir tahun ajaran.

     photo C377B32C-F896-4A3F-ACF5-F5F9E224903D_zpstgknbh96.jpg

    Saya pribadi lebih suka sistem seperti ini karena informatif dan membantu orang tua melihat lebih jelas kelebihan dan kekurangan anak dalam masing-masing mata pelajaran. Dengan begini ke depannya bisa lebih fokus mengawal anak memperbaiki apa yang dirasa kurang dan mengapresiasi prestasinya sekecil apapun itu.

    Guru pun akan lebih memahami kekuatan dan kelemahan siswa-siswanya baik secara akademis maupun proses belajar. Sehingga dapat mendorong guru dalam mencari strategi mengajar yang lebih tepat untuk memaksimalkan potensi anak-anak. Yah, idealnya sih begitu meski saya yakin masih banyak sekolah yang belum peduli dengan hal ini *grin*.

    Namun, ada anak dan orang tua yang menganggap nilai dan ranking itu penting. Dengan adanya ranking bisa memacu mereka untuk lebih semangat belajar dan meraih prestasi lebih baik. Jadi sistem rapor deskripsi seperti itu tentu tidak cocok.

    Mana saja sama baiknya asal sesuai dengan kebutuhan anak dan orang tua. Asal tidak membuat anak menjadi tertekan dengan hasil yang ia peroleh. Asal tidak membuat orang tua membanding-bandingkan anaknya dengan siswa lain yang mendapat nilai lebih baik tanpa mau melihat usaha yang telah mereka lakukan. Asal tidak menjadi satu-satunya alat penilaian siswa. Karena siswa bukan karyawan yang tiap tahun perlu dinilai hasil kerjanya untuk kemudian diputuskan apakah ia layak dipertahankan sebagai karyawan, layak mendapatkan merit increase atau dipecat.

    Anak adalah individu yang sedang berkembang. Mereka belajar dari mana saja, menyerap apa saja lantas mengolahnya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Hasil yang tertera dalam rapor bukan hanya tanggung jawab anak semata tapi juga ada peran orang tua dan guru di dalamnya.

    Lalu bagaimana cara membaca nilai rapor? Apa sih makna sebenarnya yang tercantum di dalam rapor dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi isi rapor tersebut. Silakan disimak tips dari Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan yang juga kepala sekolah TK Bestariku, Alzena Masykouri, M.Psi dalam gambar di bawah ini. Semoga bisa membantu yaaa…

  • Parenting

    A Tell-Tale

    Barusan baca lagi Upper Forth at Malory Towers dan menyadari kalau Enid Blyton punya tema khusus yang dibahas di setiap bukunya. Seperti di buku yang mengisahkan kehidupan Darell Rivers dan kawan-kawannya sebagai siswa tahun ke-empat di Malory Towers ini temanya adalah a tell-tale.

    tell·tale
    ˈtelˌtāl/Submit
    adjective
    1.
    revealing, indicating, or betraying something.
    “the telltale bulge of a concealed weapon”
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    noun
    noun: telltale; plural noun: telltales; noun: tell-tale; plural noun: tell-tales
    1.
    a person, especially a child, who reports others’ wrongdoings or reveals their secrets.
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    2.
    a device or object that automatically gives a visual indication of the state or presence of something.
    (on a sailboat) a piece of string or fabric that shows the direction and force of the wind.

    Kalau bahasa Indonesianya, tell-tale itu berarti tukang ngadu. Dalam hal ini tentu yang diaduin adalah kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain. Ya contohnya kalau anak-anak berantem terus salah satu datang ke orang tuanya dan bilang, “Mah, adek itu gangguin aku terus.”

    Banyak hal yang menjadi penyebab seseorang mengadu. Antara lain untuk curhat, menggalang dukungan, meningkatkan percaya diri dan mendapatkan perhatian. Atau bisa juga seperti yang dilakukan June dalam buku di atas, mengadukan pesta tengah malamnya anak-anak kelas senior untuk membalas dendam.

    Apapun itu, asal tahu aja, enggak semua orang suka sama si tukang ngadu ini. Percaya deh, mereka-mereka yang seperti ini beresiko kehilangan teman. Padahal mah nyari teman aja sudah susah ya.

    Lalu gimana caranya supaya anak nggak jadi tukang ngadu?

    Pertama, kita harus pastikan dulu tujuan si anak mengadu ini untuk apa? Sekadar nyari perhatian kah atau memang memberi tahu sesuatu yang berbahaya. Tentu berbeda kan antara anak bilang, “Maaa, adek nih rebut-rebut mainanku terus.” dengan, “Ma, adek naik-naik kursi nih. Sudah mau jatuh.” Yang pertama namanya ngadu, yang kedua pemberitahuan.

    Anak balita yang kemampuan komunikasinya belum terlalu baik mungkin belum mengerti perbedaan tersebut, bisa jadi ia tidak menyadari bahwa pengaduannya itu bisa mengadu domba orang lain atau teman sebayanya. Untuk itu sebaiknya kita mengapresiasi saat dia ‘memberi tahu’ dan abaikan ketika anak mulai mengadu (domba). Sambil pelan-pelan dijelaskan bagaimana cara memberi tahu yang baik.

    Kedua, ajarkan anak untuk mengatasi masalah dengan cara selain mengadu. Ada beberapa orang tua yang tidak mau terlibat dalam pertengkaran antar saudara, ini bagus. Tapi saat situasi mulai membahayakan tentu kita harus turun tangan. Untuk itu perlu kita beri mereka pilihan solusi dalam menyelesaikan masalah setelah sebelumnya diajak bersama-sama memahami masalah yang terjadi.

    Ketiga, jangan memihak. Tentu ini berat ya, apalagi sebagai orang tua bawaannya pasti mau belain anak. Tapi kalau kita memihak akan meningkatkan perilaku mengadu ini karena anak tahu orang tuanya akan selalu melindungi dia.

    Keempatteach them a lesson. Segala cara sudah dicoba tapi anak masih suka mengadu? Yah, biarkan saja lingkungan yang mengajarkan dia. Kita cukup mengingatkan resiko apa saja yang bisa dialami oleh orang yang suka mengadu domba.

    Namun, perlu diingat juga kalau perilaku mengadu ini sebenarnya cukup kompleks. Anak harus punya perasaan aman untuk menceritakan apa saja atau minta bantuan kepada orang tua, terutama untuk hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, meski itu termasuk membicarakan keburukan orang lain. Oleh karena itu kembali lagi ke poin pertama, bijaksanalah dalam mendengarkan pengaduan anak dan meresponnya. Sulit? Mungkin iya? Tapi lebih baik repot di awal daripada kelak orang lain yang kerepotan menghadapi anak dewasa kita masih suka mengadu domba rekannya. Betul? 😉

  • Parenting

    Gimana Gaya Salimmu?

    Gegara grup yang lagi hits itu, beberapa hari ini hobi banget mantengin Facebook sambil senyum-senyum sendiri mengenang kegokilan masa lalu. Rasanya tumbuh besar di tahun 80-90an itu seru dan menyenangkan sekali.

    Nah, kemarin ada postingan yang bikin saya tergelitik untuk komen panjang dan serius. Padahal biasanya sih komen haha hihi aja. Isi postingannya tentang cara cium tangan atau biasa disebut salim anak dulu (generasi saya) dan anak sekarang (usia 15 tahun ke bawah). Nggak cuma soal perbedaan cara tapi juga caption dan komen-komen yang menyebutkan bahwa cara salim anak sekarang kelihatan nggak sopan. Seperti apa sih? Ini dia

    Perbedaan cara salim anak jaman dulu (kiri) dan anak jaman sekarang (kanan)

    Kebetulan saya bukan penggemar fanatik budaya salim ini. Buat saya pribadi cium tangan hanya dilakukan kepada orang-orang yang saya kenal dekat dan hormati, seperti kakek, nenek, ayah, ibu, bude, tante, mertua dan suami. Oh iya, plus guru sekolah jaman kecil dulu. Begitu juga akhirnya saya mengajarkan ke anak-anak saya. Mereka cuma wajib salim ke orang-orang tersebut. Kalau ke teman-teman saya atau suami ya terserah anak-anak aja, mau salim (biasanya karena yang tua yang menyodorkan tangan terlebih dahulu) silakan, nggak juga nggak apa-apa.

    Cara cium tangan mereka setelah saya perhatikan adalah dengan menempelkan ujung hidung ke tangan. Malah Keenan si 18 bulan mencium tangan dengan bibirnya dan berbunyi, “Muaaah.” Tapi saya sendiri lebih suka kalau anak-anak menempelkan keningnya ke tangan yang diajak salim. Bukan apa-apa, masalah higienitas saja. Kalau ke saya atau suami sih biasanya salim hanya saat akan berpamitan berangkat sekolah atau pergi dan dalam kondisi tangan saya atau suami bersih. Tapi kalau orang lain kan kita nggak tahu apakah dia sedang sehat atau sakit, habis pegang sesuatu yang kotor atau bau dan belum cuci tangan. Bayangkan kalau bakteri dan virus-virus yang ada di tangan itu langsung masuk ke saluran pernafasan dan menyebabkan sakit. Belum lagi kalau yang tangannya dicium habis ngerokok atau pegang rokok, eaaaa baunya itu lho hehehe.

    Saya sendiri nggak pernah mewajibkan anak orang untuk salim ke saya, meski keponakan sendiri. Kecuali kalau lagi iseng pengen godain. Kalau ada yang minta salim dan sadar tangan saya nggak bersih juga biasanya saya tolak. Kasian jeh, anak orang kalau sakit nanti emaknya yang repot kan, bukan saya.

    Tapi, saya tetap senang lihat anak yang salim dengan cara mencium takzim tangan orang yang dijabatnya. Apalagi kalau masih kecil, lucu aja gitu kecil-kecil bisa salim. Cuma, buat saya itu bukan tolak ukur kesopanan seseorang. Nggak ada hubungannya malah. Banyak kok yang cium tangan dengan sikap sempurna tapi nggak mau antri atau nggak mau kasih tempat duduk di kendaraan umum atau ngomongnya kasar ke orang lain atau ngebego-begoin orang di sosial media. Sementara yang nggak terbiasa salim malah lebih santun.

    Jadi janganlah soal cium tangan ini dijadikan alasan untuk menghakimi anak itu sopan atau enggak. Apalagi lantas menganggap sebuah generasi lebih baik dari generasi lain. Ini hanya soal pilihan dan selalu ada alasan di baliknya. Hargai saja.

    Kalau kamu, gimana gaya salimmu?

    *Foto diambil dari grup FB Hits From The 80s & 90s

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Teguran

    Berdasarkan peraturan sekolah, anjuran seragam untuk siswi muslim adalah baju kurung. Sejak Cinta masih di KG 3 sudah dikasih tahu dan dia setuju untuk pakai seragam model baju kurung dengan syarat cuma mau bertudung saat matpel Ugama.

    Tapi pada praktiknya, banyak temannya sesama siswi muslim yang pakai seragam lengan dan rok pendek. Cinta yang dari awal beberapa kali mengeluh nggak nyaman berbaju kurung pun protes, “My friends A, B, C wear short skirt and short sleeves uniform. I know they are moslem but they don’t wear baju kurong. Why should I?”

    Hmmm… Mamanya nggak bisa ngasih argumen yang kuat, seperti baju panjang dan tudung itu wajib untuk muslimah. Lha wong sendirinya belum melakukan hal yang sama. Atau bahwa itu aturan sekolah yang wajib diikuti kalau banyak yang tidak patuh.

    Akhirnya diputuskan Cinta bisa pakai baju seragam biasa hanya di hari Sabtu saat nggak ada pelajaran Ugama. And she’s very happy.

     photo 005D51E5-47FF-411B-BB5B-6E343CEED894_zpsefy2x4n0.jpg

    Memang benar ya, monkey see monkey do. Eh, bukan berarti Cinta monyet. Maksudnya, anak belajar dari melihat dan menyontoh orang tua. Mau berbusa-busa nyuruh anak taat agama; pakai jilbab; rajin ngaji kalau ortunya sendiri masih banyak melanggar dan nggak melakukan hal yang dia bilang, ya nggak masuk akal.

    Mungkin ini teguran juga buatku untuk memperbaiki diri. Semoga bisa, sebelum terlambat. Aamiin..

  • Parenting

    Teaching Men Not To Rape

    Selama ini…

    Kita ajarin anak perempuan pakai pakaian yang sopan, tapi kita anggap lucu anak laki-laki yang ngintip celana dalam teman perempuannya pakai kaca. “Namanya juga anak-anak,” kita bilang.

    Kita suruh anak perempuan menundukkan pandangan, tapi kita biarkan anak lelaki kita dan temen-temennya nyuit-nyuitin kawan perempuannya. “Ah, pinter. Udah tahu aja cewek cantik,” gitu kita banggakan ke orang-orang.

    Kita ajarin anak perempuan kita bela diri, tapi nggak kita ajarin anak lelaki kita untuk menjauhkan tangannya dari tubuh perempuan. “Cuma becanda. Lucu-lucuan aja kok. Nggak usah dimasukin hati,” bela kita saat si buyung menyolek bagian pribadi saudara perempuannya.

    Kita suruh anak-anak perempuan baca buku-buku bermuatan positif, tapi kita tidak menjauhkan anak-anak lelaki dari majalah-majalah pria dewasa atau situs-situs porno.

    Padahal dari situlah para anak lelaki belajar untuk tidak menghargai perempuan. Dari hal yang nampaknya remeh. Dari dini sekali.

    Yuk ah, lets start teaching men not to rape. Mulai dari mengajarkan anak-anak lelaki kesayangan kita ini cara menghargai perempuan dan dirinya sendiri. Ingat, real men don’t rape.

    *tutup twitter*
    *masukin kepala ke kulkas*

    Makasih bun An untuk status FBnya yang inspiratif malam ini.

     

  • Life as Mom, Parenting

    Ibu, Cinta Tanpa Akhir

    Dear Mama,

    Selamat Hari Ibu atau Hari Perempuan atau apapunlah namanya.

    Selamat atas peluncuran buku antologi-nya bersama komunitas Perempuan Menulis para alumnus Sirikit School of Writing. I’m a very proud daughter, as always.

    Mama,

    Terima kasih telah menyintaiku tanpa batas. Terima kasih selalu mengingatkanku bahwa untuk bisa menyayangi keluarga, aku harus bisa menyintai diriku sendiri. Kalau kata pramugari di maskapai penerbangan sih, “Safe yourself before helping others.”

    Terima kasih selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan aku curhat walaupun kita dibatasi oleh laut. Untuk selalu memberiku semangat, saran dan kritik. Tak bosan menyuruhku untuk bersujud kepadaNya saat semua terasa melelahkan.

    Dear Mama,

    Mungkin semilyar kata terima kasih tak akan cukup membalas semua kasih sayangmu terhadapku maupun cucu-cucumu. Sungguh, aku bersyukur karena Tuhan mengijinkanmu membantuku melewati masa post partum depression. Entah apa yang akan terjadi padaku dan cucumu, kalau mama tak sigap menolongku waktu itu.

    Aku tahu kita tak selalu sejalan tapi cintamu yang begitu besar membuatmu mau berusaha memahami kami. Bahkan saat kami tak layak dicintai sekalipun.

    Darimu aku belajar bahwa cinta itu tidak berarti memberi semua, tidak selalu melayani. Disiplin dan tegas adalah caramu mendidik kami. Cobaan yang kita hadapi bersama dulu, menjadikanmu keras supaya kami bisa tetap hidup layak meski tanpa sosok seorang ayah mendampingi kita.

    Masih teringat saat mama membelikan sepatu bermerk untuk Keenan. “Dulu, mamamu mau beli sepatu aja susah, Nak. Alhamdulillah sekarang anak-anaknya bisa dapat semua yang bagus,” ujarmu kala itu.

    Ya, limpahan kasih kepada ketiga cucu mama mungkin merupakan caramu menebus apa yang tidak mampu kita lakukan dulu. Bukan hanya soal materi tapi juga hal yang sederhana, seperti pelukan.

    “Mama dulu kan nggak ngalamin sama kalian peluk-peluk. Ya agak kaget juga tidur sama Cinta tahu-tahu dia meluk mama. Oh, gini to rasanya dipeluk tangan kecil,” kenangmu saat mengunjungi kami di Brunei.

    Ya Ma, mungkin kita dulu tak banyak bersentuhan secara fisik. Tidak pula mengumbar kata sayang. Tapi aku tahu mama selalu menyayangi kami. Selamanya. Tanpa pernah berakhir. Semoga.

  • family dinner, makan malam bersama keluarga
    Parenting

    6 Manfaat Makan Bersama Keluarga

    Adakah yang keluarganya punya rutinitas makan bersama di rumah sambil berbagi pengalaman dan perasaan mereka? Di keluarga saya rutinitas itu dimulai 20 tahun yang lalu, ketika kami menempati rumah sendiri setelah bertahun-tahun tinggal di rumah almarhum Opa dan Mami.

    Hampir setiap malam -dan kalau akhir pekan ketambahan waktu sarapan dan makan siang- kami duduk dan makan bersama. Ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Mulai dari kejadian di sekolah, pengalaman di kantor, supir angkot yang rese, kejadian lucu bersama pacar masing-masing sampai mengatur kegiatan untuk keesokan harinya.

    Buat saya, rutinitas sederhana ini sangat berarti. Maklum, kedua orang tua saya bekerja dan di momen makan bersama inilah quality time kami sebagai keluarga terjaga. Saya dan adik-adik bisa ketemu dan berkomunikasi dengan orang tua, beliau juga tetap bisa memantau perkembangan kami sehari-hari.

    Setelah beranjak dewasa, jenis obrolan pun berubah. Bukan melulu kegiatan sehari-hari tapi juga rencana masa depan, pengalaman-pengalaman inspiratif, masalah-masalah yang sedang dihadapi masing-masing anggota keluarga, sharing ilmu parenting sampai gosip artis, politik, ekonomi dan hal-hal yang lagi ramai dibicarakan media massa.

    Apalagi ketika saya masih tinggal di rumah setelah melahirkan Cinta, cerita-cerita dari mama dan adik-adik adalah penghubung saya dengan dunia luar. Pengobat rindu akan dinamika kantor.

    Dari meja makanlah saya tahu gedung anu sedang direnovasi, jalan di dekat kantor itu rusak parah sampai menimbulkan kemacetan berkilo-kilo meter, adik saya yang bungsu sedang bertengkar dengan sahabat-sahabatnya, si tengah mau resign dari pekerjaannya, bagaimana usaha mama dan timnya menghadapi orang-orang yang melakukan demonstrasi di kantor, saudara yang ini mau menikah atau bercerai dan masih banyak lagi.

    Banyak permasalahan yang selesai di meja makan, nggak sedikit juga air mata yang tumpah saat sesak hati terbagi di sana tapi canda dan tawa pun acap kali mengalir manis. Meski makanan di piring sudah habis, obrolan akan terus berlanjut sampai ada yang memulai beranjak dari kursi.

    Sekarang, setelah merantau jauh dari rumah, ketukan lembut di pintu kamar dan suara si bibik yang memanggil, “Mbak, diajak makan sama Ibu,” yang diikuti suara pintu-pintu terbuka menandakan penghuninya keluar kamar masing-masing serta riuh kursi yang digeret dan denting sendok beradu dengan piring adalah salah satu hal yang paling saya rindukan. Karena setelah itulah keseruan dimulai.

    Sayang, kebiasaan itu belum bisa rutin saya terapkan setelah berumah tangga sendiri, karena seringkali saya dan anak-anak makan sendiri-sendiri sementara suami belum pulang kerja. Tapi sebisa mungkin saya membiasakan ngobrol sama anak-anak saat mereka makan (walaupun kadang sambil diselingi nonton tv hehehe). Baik tentang cerita tv yang dia tonton, kejadian di sekolahnya sampai imajinasi-imajinasinya yang heboh.

    Update 2/9/2016

    Namun, sejak kakak Cinta mulai puasa, kami selalu berusaha untuk berbuka puasa bersama di meja makan. Meskipun hanya makan untuk takjil. Dan ternyata hal ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk Cinta dan Keenan. Setiap adzan Maghrib berbunyi, mereka langsung berlari ke meja makan dan duduk manis menyantap camilan di sana sambil ngobrol dan merencanakan menu untuk buka puasa keesokan harinya. Ketika Ramadan akan berakhir, kakak Cinta sempat merasa sedih karena akan merindukan momen makan bersama di meja makan. Ternyata hal sederhana seperti itu berarti sekali ya buat anak-anak.

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    Selain itu, banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari makan bersama keluarga di meja makan dan ini beberapa di antaranya:

    1. Mengeratkan Ikatan Batin Antar Anggota Keluarga

    Obrolan saat makan bersama meningkatkan bonding antar anggota keluarga. Kesempatan ini bisa kita gunakan untuk berbagi informasi dan berita yang terjadi hari ini yang pasti dianggap penting oleh si pencerita, membuat rencana akhir pekan, memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak setelah hari yang sibuk di sekolah dan tempat les. Kebiasaan ini jika dirutinkan dapat memberikan perasaan hangat, aman, dicintai dan saling memiliki, hal yang dibutuhkan anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang solid dan tidak mudah terpengaruh hal buruk di luar sana.

    2. Sarana Belajar Etika

    Waktu makan bersama keluarga bisa jadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan anak tentang tata krama di meja makan serta etika makan yang baik yang berguna untuk kemampuan sosialisasinya kelak. Tentu suasananya harus dibuat nyaman sih, jangan dikit-dikit dimarahin kalau ada yang tumpah atau anak makan pakai tangan kiri atau mengambil sendok yang salah. Berikan saja contoh. Ingat, anak belajar dari meniru.

    3. Kesempatan Untuk Mengenalkan Makanan Baru

    Si kecil dan suami picky eater? Nah, makan bersama ini bisa kita pergunakan untuk mengenalkan satu jenis makanan baru bagi mereka. Sajikan bersama menu lain yang sudah familiar dan ajak anak untuk mencicipinya. Pertama kali ditolak itu biasa, konon perlu 8-10 kali pengenalan terhadap satu jenis makanan sampai anak mau mencobanya. Manfaat mengenal makanan baru ini seperti memulai hobi baru, dapat mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan anak dengan cara:

    1. Coba masakan dari budaya atau negara yang berbeda.
    2. Pilih sayuran segar dari penjual sayur di pasar.
    3. Minta anak memilih sendiri masakan yang ingin dia coba dari buku resep, situs penyedia resep masakan, majalah atau buku ceritanya.

    4. Memberikan Gizi Yang Seimbang

    Sebenarnya malu nulis yang ini karena jujur aja, menu masakan di rumah saya belum seimbang banget. Tapi setidaknya masakan rumah lebih sehat dari makanan cepat saji karena biasanya dibuat dengan bahan-bahan terbaik dan kurang bahan pengawet atau penyedap rasa. 

    5. Mengajarkan Anak Untuk Mandiri

    Dengan mengajak anak untuk menyiapkan makan malam, meskipun jadi lebih lambat dan berantakan, biasanya anak akan lebih lahap makannya. Selain itu, mereka juga jadi mengamati bagaimana makanan bisa sampai di meja makan sehingga diharapkan nggak lagi membuang-buang makanan. Bikinnya susah, bok. Ketrampilan menyiapkan makanan ini tentu akan bermanfaat saat mereka besar dan harus hidup mandiri nanti ya. Jadi ajak aja si batita menyobek daun selada untuk salad, memetik kacang panjang (ssstt, bisa melatih motorik halusnya juga lho), atau mengatur alas piring di meja makan. Sementara kakak yang sudah SD dapat membantu mengupas buah atau membuat adonan. Sedangkan si remaja dapat diberi tugas untuk mengiris bumbu, membumbui lauk, menggoreng, dan memanggang. Hmmm, trus mama tinggal jadi mandor aja yaaa hihihi. Senang kan.

    6. Mengurangi Perilaku Buruk dan Meningkatkan Nilai Akademis

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    it’s messy but it works

    Ini lho yang belakangan ini sering disuarakan oleh para pakar parenting. Mereka mengajak para orangtua, terutama ayah untuk meluangkan waktu makan bersama anak-anaknya di rumah, karena ternyata penelitian membuktikan bahwa anak yang secara rutin makan malam bersama keluarga minimal 5 kali dalam seminggu memiliki kecenderungan lebih rendah terlibat narkoba, merokok dan minum minuman keras. Kenapa? Kembali ke poin pertama, saat anak merasa nyaman dan dicintai, mereka nggak akan cari pengakuan di luar rumah kan. Dengan demikian mereka akan lebih bersemangat untuk belajar dan berprestasi di sekolah. Tapi gimana kalau nggak bisa 5 kali dalam seminggu? Ya sesempatnya saja, tapi jadikan itu hal yang rutin dan pastikan acara makan bersama menjadi ajang yang menyenangkan, bukan tempat anak dimarahin, diberi nasihat atau dihakimi. 

    Sampai sekarang, tradisi makan bersama keluarga di meja makan, masih lestari di rumah mama saya. Meja makan yang sudah menemani kami makan selama lebih dari 20 tahun itu menjadi saksi bisu kehangatan, pertengkaran dan keriuhan keluarga kami. Saking betahnya, kadang selepas makan pun kami nggak langsung beranjak, apalagi setelah saling berjauhan seperti saat ini. Obrolan terus berlanjut sampai anak-anak meminta perhatian kami orangtuanya.

    Jadi, apa topik obrolan meja makanmu hari ini?

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Adaptasi di Sekolah Baru

    Hari Sabtu kemarin, saya dan pak suami menghadiri acara Parents’ Day di sekolahnya Cinta. Yah, semacam pembagian report card tengah semester gitu lah. Aneh juga sih, bagi-bagi raportnya justru setelah liburan sekolah bukan sebelumnya seperti yang biasa di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir agenda ujian dan libur sekolah kan sudah ditetapkan sama pemerintah dalam kalender nasional Brunei, di mana semua sekolah ya masa ujian dan liburnya barengan, nah padahal belum tentu sekolah itu sudah selesai bikin laporan hasil kegiatan belajar mengajar muridnya. Jadi akhirnya gitu deh, libur dulu baru terima raport sotoy.

    Jujur aja saya agak deg-degan akan penilaian gurunya terhadap Cinta, secara bulan pertama dan kedua kami (Cinta, kami orangtuanya dan gurunya) mengalami masa-masa penyesuaian yang cukup berat.

    Yah nggak heran, banyak sekali hal baru yang harus dihadapi Cinta saat itu. Dari gaya mengajar guru yang jauh berbeda dengan guru-guru sekolah lamanya di Indonesia yang lembut penuh kasih dan telaten. Guru di sini lebih tegas, disiplin dan nggak jarang menggunakan nada tinggi saat menegur anak-anak. Sampai harus belajar berkomunikasi dengan bahasa Melayu, Cina dan Inggris.

    Saking beratnya proses adaptasi itu, Cinta pun berontak. Mulai dari susah bangun pagi, gampang marah dan bersikap agresif di kelas dan di rumah, nilai spelling test yang dapat 20 sampai tantrum setiap mau berangkat sekolah.

    Sampai suatu pagi ketika tantrum di mobil, saya diamkan sambil terus nyetir. Setelah tangisnya reda kami mampir ke toko roti langganan untuk beli bekal dan sambil menunggu dia makan, saya ajak dia ngobrol di mobil.

    Saya bilang, “Kak, Mama tahu kakak lebih suka di rumah karena bisa nonton tivi dan main iPad seharian kan?” yang disambut dengan anggukan dan mulut penuh roti. “Iya, Mama juga suka di rumah main sama Cinta. Tapi, kakak tahu kan kalau kakak ini anak pintar? Mama tahu. Kakak suka belajar, ya kan? Belajar tentang serangga, tubuh manusia, belajar berhitung, menggambar, bikin prakarya. Nah, Mama merasa nggak bisa ngajarin Cinta sendirian. Jadi mama butuh bantuan guru-guru di sekolah yang lebih ngerti untuk anak seumur  Cinta ini sebaiknya belajar apa, supaya kepintarannya kakak bisa berkembang. Mungkin berat ya buat kakak belajar di sekolah, sampai kakak selalu marah-marah. Mama tahu Cinta capek. Tapi kan ada Mama sama Papa yang selalu bantu Cinta kalau ada yang susah. Don’t worry.

    Nggak tahu deh waktu itu Cinta mengerti atau tidak, atau menurut para ahli ilmu parenting itu benar atau tidak tapi jujur aja waktu itu saya sudah nyaris putus asa karena setiap hari menghadapi tantrumnya Cinta. Dan itulah satu-satunya cara yang terpikir. Tak disangka, jawaban Cinta saat itu, “I’m a smart girl ya Ma? Smart girl goes to school , ya? Oke, now let’s go to school.” adalah titik balik dari “pemberontakan”nya.

    Tentu nggak lantas semuanya jadi mudah. Sempat beberapa kali saya konsultasi online ke beberapa psikolog anak termasuk pak Toge Apriliyanto dan mbak Anna Surti Nina via twitter seperti yang saya tulis di sini. Terpikir juga untuk pindah sekolah yang bukan chinese school dengan harapan lebih sesuai dengan kepribadian Cinta. Tapi setelah diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk bersabar dulu, saling mendukung dan membantu Cinta melalui proses adaptasinya di Chung Ching Kindergarten.

    Toh, di Brunei pindah sekolah bukan hal yang mudah karena selain sekolah lain jaraknya bisa 30 km dari rumah (yang sekarang aja sudah 20 km) juga harus mengurus student pass di imigrasi yang membutuhkan proses yang lama.

    Akhirnya kami pun berusaha membuat berangkat sekolah menjadi hal yang menyenangkan, seperti memutar lagu-lagunya Sherina saat bangun pagi, mampir di pantai dekat kantor suami tiap pagi sekadar untuk melihat ombak, bunga, rumput dan menghirup udara segar. Atau ke toko-toko yang berbeda tiap pagi untuk  membeli snack atau roti. Kami juga belajar lebih sabar dan memahami kondisi Cinta karena memang cuma itu kuncinya, sabar.

    Lama-lama tantrum pun berkurang, Cinta sudah lebih ceria di sekolah. Bu Guru yang tadinya curhat kalau Cinta (meski bisa tapi) nggak mau mengikuti instruksinya di kelas bilang kalau sekarang sudah jauh membaik. Sudah mampu dan mau bermain sama teman-teman, bahkan tiap pagi datang ke kelas selalu dikerubutin teman-temannya untuk diajak main. “But sometime she’s too playful, so time after time I had to separate her from Avvani or they will disturb the other kids,” said teacher. Cinta juga dipercaya jadi anggota group dance kelasnya untuk acara ultah sekolah Oktober/November nanti, “She’s good at singing, dancing and following the rythim.” kata gurunya di pembagian raport kemarin. Duh, terharu sekali dengernya.

    Sekarang Cinta jadi lebih bersemangat belajar, meski belum bisa membaca tapi keinginannya untuk bisa membaca dan menulis besar sekali. Begitu pula berhitung, semua-mua maunya dihitung. Aaah, alhamdulillaah senang sekali rasanya. Akhirnya kerja keras kami mulai ada hasilnya. Cinta pun memberi kami bonus dengan meraih peringkat ketiga di kelasnya saat pembagian raport kemarin. Semua berkat pertolongan Allaah melalui usaha keras Cinta, kesabaran Teacher Yee membantu Cinta menyesuaikan diri di kelas dan tentu saja ketelatenan pak suami untuk  belajar bahasa Cina bersama Cinta.

    Oya, ada satu hal yang saya suka dari buku raport Cinta. Di halaman belakangnya ada reminder  dari pihak sekolah yang berbunyi seperti ini:

    This report shows the performance of your child in the activities at Chung Ching kindergarten. Evaluation and grading are done carefully, but in some way it mau not be fully valid or accurate. Parents shall not reprimand or punish the children based on the results given in this report as it may affect his/her interest and performance at school.

    Each child is different and special. Your child has his/her own strenghts and weakness and therefore is incomparable with other children. During the Kindergarten years, your child undergoes rapid changes and development. Appreciate and praise your child if his/her skills are appropriate and in place; on the other hand assist and support your child if he/she is manifesting delayed skills. Giving too much pressure to your child to perform according to your high expectation may be sometimes counterproductive and retard his/her development.

    Selamat hari Senin, bagaimana raport anak-anak kemarin? Sudah mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha keras mereka di sekolah kan?