Browsing Category:

Life as Mom

  • Family Health

    Serunya Menyusui Sambil Bekerja

    Disclaimer: Menyusui adalah pengalaman personal bagi setiap ibu. Cerita yang ditampilkan di tulisan ini hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan semangat bahwa apapun kondisinya yang penting adalah usaha ibu untuk dapat memberikan ASI bagi buah hati.

     

    Sesuai dengan tema ‘Pekan ASI Sedunia” yang berlangsung dari tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman beberapa teman yang menyusui sambil bekerja (di kantor). Saya sendiri sempat menyusui sambil bekerja selama tiga bulan saja pada tahun 2008, waktu Cinta umur 7 bulan dan berhenti memompa ASI di kantor saat dia berusia 10 bulan. Meski demikian saya tetap menyusui langsung dan memompa sesempatnya di rumah sampai ia berusia 2 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini, salah satunya adalah kurangnya tepatnya manajemen asi perah.

    Alhamdulillah sekarang saya melihat semakin banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui sambil bekerja di kantor. Rupanya kesibukan menjalani aktivitas profesional mereka nggak menghalangi usaha untuk memberikan air susu ibu bagi bayinya.

    Seperti yang dilakukan oleh teman baik saya, Indah Purnamawati. Ipung, panggilan akrabnya setiap hari membawa Zyzy ke kantor supaya bisa menyusui secara langsung karena anak ketiganya itu menolak minum ASIP dari dot maupun sendok. Selain itu Ipung merasa setiap kali memompa setelah Zyzy habis menyusu secara langsung, hasilnya kurang banyak.

    Meskipun awalnya ragu membawa Zyzy ke kantornya yang terletak di daerah industri, kondisi ini membuat Ipung terpaksa melakukannya. Zyzy mulai ikut kerja usia 2,5 bulan, setelah cuti melahirkan selesai. “Alhamdulillah anaknya anteng. Setelah kenyang didorong-dorong di stroller langsung tidur,” ujarnya. Kondisi ini berlangsung selama 8 bulan, “Kalau aku kerja sama orang lain pasti aku lebih milih resign daripada menjalani seperti itu. Tapi karena kerja bantuin perusahaan Bapak ya terpaksa dijalani,” imbuh ibu dari 2 putra dan 1 putri ini.

    Tapi, kondisi ini jadi pengalaman berharga baginya. “Di kantorku jadi seperti boyongan. Ada stroller, mainan bayi, karpet dan celemek menyusui,” ceritanya. “Tapi senang bisa bawa anak ke kantor dan menyusui langsung meski kita bekerja. Kita jadi tahu perkembangannya setiap hari dan alhamdulillah selama itu Zyzy nggak pernah sakit meski batuk pilek sekalipun. Menurut dokter sih karena Zyzy full ASI jadi badannya kuat,”  jelasnya menutup perbincangan kami melalui whatsapp malam itu.

    Mantan teman sekerja saya dulu, Yoke Pratiwi yang bekerja di bank menghadapi tantangan yang nggak kalah serunya selama menyusui. Namun keinginannya untuk dapat memberikan asupan gizi yang terbaik bagi Keanu sangat kuat sehingga Yoke dengan gigih memompa ASI di sela-sela jam kerjanya. “Saya sadar bahwa saya adalah ibu bekerja yang nggak bisa selalu bersama dengan anak saya. Hal yang bisa saya berikan dan nggak bisa digantikan dengan orang lain yang mengasuh anak saya adalah ASI. Alhamdulillah nggak ada kendala yang bisa membuat saya untuk berhenti memberikan ASI hingga usia Keanu berusia 2 tahun, bahkan nyatanya sampe 3 tahun.”

    Saat cuti melahirkan Yoke mulai menabung stok ASI perah baik dengan memompa setiap 2 jam juga dengan menyusui secara langsung. “Saat Keanu menyusu, saya memompa juga di PD1 satunya. Kadang saya rela nggak tidur supaya dapat memompa ASI ketika bayi saya tidur,” kenang Yoke. Dan terbukti caranya berhasil. Saat ia kembali bekerja stok ASInya dapat mencukupi kebutuhan Keanu.

    Meski demikian di kantor, ibu satu anak ini tetap semangat memompa. Setiap 2-3 jam sekali ia pergi ke ruang meeting untuk memompa ASI. “Kalau ruangannya dipakai ya saya mompa di kamar mandi,” ujarnya. Tapi kondisi ini nggak bikin Yoke patah semangat. “Teman sekantor juga sangat mendukung dan nggak keberatan saya tinggal tiap 2-3 jam untuk memompa ASI. Toh dengan menggunakan pompa elektrik bisa cepat dan hasilnya lumayan banyak. Nggak sampai 15 menit biasanya dapat 100 ml.”

     photo 0A11F22A-5967-4F9D-BA4A-1570AED59CB0_zpsysjtb0ze.jpg

    Yoke dan Keanu

    Karena mengumpulkan stok ASI perah di kantor, Yoke pun kemana-mana membawa cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca. Termasuk saat outing ke luar kota atau bepergian ke tempat wisata. “Oleh-oleh berharga untuk si bocah,” katanya.

    Yoke pun berhenti memompa ASI setelah Keanu berusia 2 tahun. “Saya rasa sudah cukup ya waktu untuk menyusui dan sudah capek juga memompa hehehe.” Namun ia tetap menyusui sampai Keanu berusia 3 tahun.

    “Saya harap ibu-ibu bekerja tetap semangat dan selalu percaya bahwa pasti bisa menyusui sambil bekerja selagi kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk menjalaninya. Tipsnya adalah rajin memompa atau memerah serta follow akun-akun yang mendukung pemberian ASI seperti ayahasi,” pesannya.

    Nantikan tips-tips sukses menyusui sambil bekerja di postingan berikutnya yaaa….

    1. payudara []
  • Relationship

    Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

    Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

    True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

    Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

    • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
    • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
      • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
      • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
      • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
      • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
      • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
    • Anak
      • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
      • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
    • Orangtua
      • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
      • Orangtua sakit.

    Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

    ____________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Daily Stories, Parenting

    THR untuk Anak. Yaiy or Nay?

    Libur Lebaran sudah usai ya. Banyak dari kita yang sudah kembali beraktivitas secara normal setelah menghabiskan akhir minggu berkunjung ke sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri. Saya sendiri tahun ini nggak mudik ke Indonesia dan merayakan Lebaran hanya di Brunei. Kalau biasanya hari Raya selalu berkumpul bersama keluarga besar, kali ini cukup berempat saja. Lumayan sepi hehehe.

    Nah, di tengah-tengah sunyinya berhari raya tanpa ada anak-anak tetangga yang datang ke rumah untuk minta angpau, saya baca ceritanya Uwi di Path tentang anak-anak di daerahnya yang sengaja bersilaturahmi ke rumah tetangga saat hari raya hanya untuk mendapatkan angpau atau Tunjangan Hari Raya (THR). Cerita tersebut membuat saya teringat pengalaman hunting THR jaman dahulu kala. Berhubung mau komen di status bakalan panjang sekali, akhirnya memutuskan untuk bikin blog post aja deh.

    Kebetulan di keluarga besar saya tradisi bagi-bagi THR ini bisa dibilang antara ada dan tiada. Dulu waktu masih kecil-kecil, usia SD gitu lah, biasanya almarhum Opa dari mama yang suka bagi-bagi THR ke cucu-cucunya. Itupun hanya saat semua cucunya kumpul semua yang nggak selalu terjadi tiap Lebaran.

    Sementara dari Bude, Pakde, Om dan Tante kadang dapat kadang enggak tapi waktu itu rasanya dapat THR bukanlah hal yang paling ditunggu meskipun tetap menyenangkan. Buat kami keistimewaan Lebaran adalah bisa berkumpul dan bermain bersama para sepupu sambil menyantap masakan khas Lebaran ala almarhumah Mami (nenek).

    Baru setelah merayakan Lebaran bersama papa, saya mengalami yang namanya hunting THR. Bersama anak-anak tetangga, kami berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bersilaturahim, makan kue dan mendapat salam tempel. Jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp 100 sampai Rp 5000. Rasanya senang sekali dalam sehari bisa dapat banyak uang meskipun pada akhirnya uang-uang tersebut habis tak berbekas untuk jajanan dan mainan-mainan kecil atau kadang entah menghilang kemana.

    Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya kok malu ya hahaha. Dulu niat banget sampai rumah yang jauh pun kami datangi, padahal kenal pun enggak. Tanpa dampingan orang tua lagi. Padahal mama selalu mengingatkan untuk nggak boleh minta-minta ke orang lain. Jangankan ke orang tak dikenal, minta dibelikan boneka ke nenek sendiri aja sampai dimarahin.

    Setelah punya anak dan ponakan, saya dan suami pun awalnya nggak membiasakan diri memberikan angpau untuk mereka. Mama, papa, mertua, adik-adik dan ipar pun lebih suka ngasih hadiah berupa barang seperti baju atau mainan. Namun 3 tahun belakangan ini setelah jumlah ponakan semakin banyak, adik-adik dan ipar pun mulai menyiapkan THR untuk ponakan-ponakannya. Akhirnya saya pun mengikuti jejak mereka. Tapi ini khusus untuk anggota keluarga karena kebetulan memang jarang sekali ada anak-anak tetangga yang datang berkunjung ke rumah untuk berlebaran. Kalaupun ada mama dan mertua sudah menyiapkan amplop khusus untuk mereka. Jadi ya saya nggak perlu nyiapin lagi hihihi.

    Cinta sih senang ya dapat THR, biasanya dia gunakan untuk membeli mainan yang sudah lama diidamkan atau main di FunWorld. Belakangan ini uangnya dia titipkan ke saya untuk ditabung. Dan sejak mengenal konsep berbagi dia nggak segan mengeluarkan uangnya untuk memberikan sumbangan pada anak-anak yang kurang mampu atau membelikan adiknya sesuatu.

    Buat saya pribadi tradisi memberikan THR kepada anak atau keponakan dan keluarga dekat adalah hal yang baik asal disertai pesan untuk menggunakan uang tersebut sebaik mungkin. Sedangkan untuk anak-anak, awalnya saya selalu berpesan untuk tidak meminta uang atau barang kepada orang lain, apalagi ke kakek neneknya. Mereka cuma boleh minta ke kami orang tuanya. Namun, namanya kakek nenek, tante, bude, om kan pengen juga ya menyenangkan cucu dan keponakannya, jadi saya ijinkan anak-anak untuk menerima tawaran mereka untuk membelikan sesuatu. Tentu dengan nominal yang nggak terlalu besar. Toh, saya juga masih senang kalau ditraktir mama atau papa makan atau belanja sesuatu hihihi.

    Momen pemberian THR ini bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan anak berbagi. Ajak mereka bersama-sama menghitung uang yang didapat lalu menyisihkan sebagian uang yang mereka terima untuk berbagi dengan sesama. Entah dengan menyerahkan langsung ke kerabat yang kurang beruntung dalam bentuk barang maupun uang maupun lewat kotak-kotak sumbangan yang banyak bertebaran di supermarket atau tempat makan. Ajak juga mereka untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau bank sambil dijelaskan manfaat menabung. Untuk anak-anak yang lebih besar, sarankan mereka menggunakan uangnya untuk membeli barang yang bermanfaat supaya nggak habis begitu saja. Beberapa anak pra remaja yang saya kenal baik bisa membeli smartphone atau tablet dari uang THRnya. Beberapa lagi membeli peralatan sekolah yang pasti bermanfaat terutama di tahun ini yang libur Lebaran bertepatan dengan awal tahun ajaran baru di Indonesia.

    Yang paling penting adalah mengajarkan kepada anak-anak bahwa Hari Raya tidak identik dengan angpau atau THR. Kalau ada yang memberi ucapkan terima kasih atas kebaikan mereka tapi kalau tidak diberi jangan sampai meminta apalagi sampai punya anggapan orang yang nggak ngasih THR itu pelit. Hari Raya adalah momen berkumpul bersama keluarga, mempererat ikatan persaudaraan, menyambung tali silaturahim. Bermain bersama sepupu yang belum tentu sebulan sekali bisa jumpa, bermanja-manja pada nenek dan kakek dan berbagi cerita dengan tante atau paman merupakan pengalaman yang tak ternilai harganya.

    Seperti yang disarankan oleh Asrorun Niam, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam sebuah artikel di detiknews,

    Lebaran harus jadi momentum yang baik untuk merekatkan hubungan harmoni dengan seluruh anggota keluarga, serta keluarga besarnya. Ini bisa menjadi jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan anak kontemporer, seperti kekerasan anak, penelantaran, kenakalan remaja yang seringkali pemicunya adalah tidak hadirnya lembaga keluarga dalam menjamin perlindungan terhadap anak-anaknya.

    Lebaran harus dimanfaatkan untuk memberi pengalaman spiritual bagi anak, yang menyenangkan dengan merekatkan tali silaturrahmi dengan handai taulan dan menjelaskan arti kekerabatan. Termasuk juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya merajut persaudaraan, etika relasi dengan yang lebih tua, menghormati yang lebh tua serta menyayangi yang lebih muda.

  • Parenting

    Jangan Rebutan Anak.

     
    Akhir-akhir ini makin banyak berita kehilangan anak di sosmed yang ternyata diambil atau dijemput atau pergi bersama ayah/ibunya tanpa sepengetahuan orang tua lainnya. Di satu sisi senang lah ya kalau si anak sehat selamat bersama orang yang sayang sama dia.

    Tapi di sisi lain miris juga melihat para orang tua yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik sehingga anak jadi korban. Akibatnya pengguna sosmed jadi parno karena mengira makin banyaknya berita penculikan, polisi yang (mungkin juga ikut) kerepotan dan dituduh nggak bisa menemukan anak hilang.

    Perceraian memang bisa menimbulkan rasa benci, marah, sakit hati pada mantan pasangan. Mungkin juga pada diri sendiri. Tapi tolonglah, kesampingkan semua itu demi anak. Jangan jadikan mereka alat untuk melampiaskan dendam. Kasian.

    Sejelek-jeleknya mantan pasangan di mata Anda, bagi anak tetaplah sosok ayah atau ibu yang mereka cintai. Kecuali dia pernah terbukti menyiksa anak-anak, menerlantarkan, membahayakan mereka secara fisik dan psikis, rasanya nggak ada hak untuk membatasi apalagi memutus tali silaturahmi anak dan orang tuanya. Salah-salah, mereka bisa membenci ayah/ibu yang mengasuhnya karena menjauhkan anak dari orang yang mereka sayang. So, be wise, Parents.
    Foto diambil dari sini.

  • Babbles

    Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

    Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

    ——-

    Need to know :

    JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

    Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

    Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

    Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

    Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

    Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

    Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

    Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

    Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

    Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

    Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

    Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

    Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

    Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

    Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

    Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

    Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

    Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

    Sebagian ulama mengatakan:

    “Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

    Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

    1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

    2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

    3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

    4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

    5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

    6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

    7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

    Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
    Berhati-hatilah.

  • Life as Mom, Parenting

    Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan

    Repost dari WA Grup Circle Moms. Thanks For Sharing, Ica

    Para Ayah dan calon Ayah.. disimak yaa

    RESUME SEMINAR : Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan
    Bertempat di Sekolah Alam Cikeas, Februari 2015
    Narasumber : Elly Risman, Psi

    〰〰〰〰〰
    Ayah adalah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga), yang bertanggungjawab :
    1. Menentukan visi misi keluarga
    2.  Menyediakan keuangan
    3. Menyediakan makanan dan pakaian
    4. Menyediakan rumah dan isinya
    5. Membimbing anak
    6. Membuat kebijakan dan peraturan
    7. Menentukan standar keberhasilan
    8. Menyediakan training dan pemantauan
    9. Menyediakan perawatan dr harta dan benda
    10. Melakukan pengontrolan
    11. Mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas

    Survey membuktikan ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan, memberikan kasih sayang, perhatian dan interaksi yang cukup, akan membuat anak:
    >> Lebih sehat fisik dan mental
    >> Lebih sociable – mudah berinteraksi, berteman dan menyesuaikan diri
    >> Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih
    >> Mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah
    >> Anak lebih mendapatkan sense of independence
    >> Lebih percaya diri dan tidak cemas di tempat baru
    >> Lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan rutinitas
    >> Lebih bisa beradaptasi dalam menghadapi kekecewaan
    >> Anak tumbuh menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur orang lain
    >> Punya harga diri yang tinggi
    〰〰〰〰〰〰
    Apa akibat berayah ada berayah tiada? Baik ketiadaan fisik maupun emosional :
    >> mudah terlibat kriminalitas dan kekerasan
    >> Cenderung memiliki hasil tes dan prestasi rendah
    >> Remaja yang tumbuh dengan hanya ibu lebih sexually active
    >> Remaja kurang mendapat pengontrolan dan pendampingan
    >> Anak kehilangan rasa aman
    >> Anak lebih sering temper tantrum
    >> Anak 3x lebih mungkin tidak naik kelas, 4x lbh mungkin DO dari sekolah
    >> Biasanya dapat nilai lebih rendah dlm tes dan buruk dlm semua pelajaran
    >> Lebih mudah depresi
    >> Lebih antisocial — bullying or being bullied, agresif, sensitif terhadap kritik
    >> Lebih sering sakit dan buruk dalam penilaian kesehatan — emosional, fisik, psikologis, sosial.

    Hasil Riset Ibu Diah Karim, trainer senior Yayasan Kita dan Buah Hati, membuktikan bauwa kurangnya peran ayah pada :
    Anak dan remaja laki-laki, menimbulkan masalah sosial yaitu :
    ☑kenakalan remaja
    ☑agresif (kejahatan remaja)
    ☑narkoba
    ☑seks bebas
    Anak dan remaja perempuan, menimbulkan masalah :
    ☑Depresi
    ☑seks bebas

    Jika memang peran ayah sudah harus tiada, kuatkan jiwa anak dengan high quality positive parenting dengan anggota keluarga lainnya Ayah tidak aktif lebih baik daripada perceraian. Perceraian lebih baik daripada lingkungan keluarga yang selalu bertikai atau ayah yang bermasalah. Bila cerai, pertemuan dengan fisik ayah saja tidak cukup, hadirkan pula jiwanya. Perceraian itu antara ayah dengan ibu, bukan perceraian ayah dengan anak-anaknya.

    Peran kita adalah sbg BABY SITTER ALLAH, anak adalah amanah, kenikmatan, ujian & musuh. Dalam melaksanakan amanah ini, butuh perjuangan yang tidak mudah. Dibutuhkan totalitas pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya.

    Miliki visi misi pengasuhan : akan lebih mudah saat akan beraksi
    – Visi pengasuhan keluarga nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) :
    1. Penyelamatan aqidah
    2. Pembiasaan ibadah
    3. Pembentukan akhlakul qarimah
    4. Pengajaran lifeskill (kemampuan bertahan hidup dan bermanfaat bagi umat dengan profesional)

    – Visi keluarga Imran (QS Al Imran : 35) menjadi hamba Allah yang taat

    Jika anak adalah lukisan, ayah adalah penentu lukisan apa yang akan dibuat. Naturalis kah? Abstrak kah? Sketsa kah? Ayah adalah penentu tujuan pengasuhan dalam keluarga, akan dijadikan apa anak-anak dalam keluarganya. Ayah juga yang menyediakan cat, tinta, dan kuasnya. Ia yang menentukan nilai-nilai dan kultur apa saja yang disapukan pada kanvas jiwa anak-anaknya. Sesungguhnya, keindahan lukisan jiwa seseorang adalah bukti otentik amanah seorang ayah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah
    〰〰〰〰
    Dikembangkan dari resume volunteer Rizki Ardila, oleh Tim Yayasan Kita dan Buah Hati
    〰〰〰〰
    #GreatFather #PeranAyah.
    #fwd dari Pipi (tim YKBH)

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []
  • Recipe

    Food Challenge, Day 2

    Tantangan terbesar saya tiap ditodong untuk ikut tantangan adalah menyelesaikannya. Entah sudah berapa tantangan yang putus di tengah jalan. Biasanya sih karena enggak ada waktu dan malas hahaha. Nah, mumpung masih bisa mengerjakan food challenge hari kedua, mari dipamerkan sekalian :))

    #Day2FoodChallenge

     photo CADAFAED-DCD2-496C-8EC4-ECA022AFB56B_zps2pwv9inc.jpg

    Salah satu yang saya suka dari slow cooker adalah bisa bikin bubur nggak pakai repot. Tinggal masukin beras, air, garlic granule, garam lalu set low dan tinggal tidur deh. Besok pagi tambahin labu, jagung dan ubi ke dalamnya, set ke high. Sambil nunggu empuk rebus kangkung, goreng ikan asin jambal roti. Jadi deh Bubur Manado ala ala untuk sarapan.

    Anak lanang suka banget menu ini, sampai ludes dan nangis waktu mangkuknya diangkat untuk diisi lagi.
    Untuk mamanya, biar makin sedap tambahin sambal roa Oshin Healthy Food yang direkomendasiin Pianggy. Yummyyyy…

    Resep Bubur Manado saya contek dari situs majalah Femina, sebagai berikut:

    Bubur Manado
    Bahan:
    200 g beras, cuci bersih, tiriskan
    2 L air
    1 1/2 sdt garam
    100 g ubi jalar merah, kupas, potong dadu 1 cm
    100 g labu kuning, kupas, potong dadu 1 cm
    300 g jagung muda pipilan
    50 g daun melinjo muda, cuci bersih
    50 g daun kangkung, cuci bersih
    25 g daun kemangi, cuci bersih
    Pelengkap:
    150 g ikan asin jambal, potong dadu ½ cm, cuci, goreng hingga kering.

    Cara membuat:
    • Masak beras bersama air dan garam hingga setengah matang. Masukkan ubi merah, labu kuning, dan jagung, aduk rata. Masak kembali hingga lunak.
    • Tambahkan sisa sayuran, sambil aduk perlahan hingga matang dan kental. Angkat.
    • Sajikan bubur dengan pelengkap dan sambal. (f)

    Untuk 6 porsi

    Seperti biasa resep di atas saya modifikasi sedikit sesuai selera. Nah untuk tantangan berikut saya persilakan bun @fiki0102 operan tongkat estafet #FoodChallenge #Day2. Syaratnya masih sama seperti yang kemarin:
    1. Posting foto makanan 5 hari berturut-turut.
    2. Boleh bikin sendiri atau beli.
    3. Boleh foto lama atau baru.
    4. Tag 1 teman untuk setiap harinya.

  • Recipe

    Food Challenge, Day 1

    #Day1FoodChallenge

     photo 26729F76-579D-44DD-98DF-BA688C774BA8_zpsrmbitizz.jpg

    Memberanikan diri menerima tongkat estafet dari ibuknya Kika dalam rangka meramaikan kehebohan #FoodChallenge di sosial media. Berhubung ibu kreatif ini mintanya makanan Brunei, untuk tantangan hari pertama saya pajang menu maksi yang populer di Brunei ini. Kalau di Indonesia disebutnya Mie Ayam, di Brunei (dan Sarawak) dikenal dengan nama Kolo Mee atau Mi Kolok. Menu sederhana dan murah ini bisa dijumpai di kedai makan lokal. Tapi siang ini pengen nyoba bikin sendiri mumpung kemarin di supermarket nemu fresh kolomee noodles.

    Versi asli (dan halal) kolo mee disajikan bersama irisan ayam saus barbecue/rebus. Tapi di sini saya cukup menumis dada ayam dengan bumbu minimalis karena saus kolo mee sendiri sudah penuh dengan msg XD Dan seharusnya sih mie yang biasa disajikan untuk kolo mee ini tipis-tipis tapi karena saya ngerebusnya lebih lama dari instruksi jadi ya ngembang gendut-gendut kaya yang masak gitu. Hasilnya malah enak, lembut dan saus kolo mee jadi lebih meresap sehingga anak-anak doyan makannya.

    Resep Kolo Mee sederhana ini saya ambil dari sini yang saya modifikasi sesuai dengan bahan yang ada di rumah dan selera. Gampang kok kalau mau nyoba. Ini bahan dan cara bikinnya:

    Bahan-bahan:
    Daging ayam cincang (saya pakai daging sapi cincang)
    1/2 ekor ayam, potong kecil-kecil (optional. Saya pakai fillet dada ayam)
    Fresh kolo mee noodles

    Saus kolo mee:
    *Takaran bahan sesuai selera*
    Saus tiram
    Saus kedelai (saya pakai kecap manis)
    Merica
    Gula
    Minyak wijen
    (Campur semua bahan, sisihkan sedikit untuk rendaman daging cincang)

    Bawang goreng untuk taburan
    Daun bawang untuk taburan

    Cara membuat:

    • Pertama, bumbui fillet dada ayam dengan minyak wijen, garam dan mixed herbs. Diamkan selama 15 menit atau sampai bumbu meresap lalu potong sesuai selera dan tumis dengan sedikit minyak sampai matang.
    • Rendam daging cincang dalam saus selama 15 menit. Lalu tumis sampai matang.
    • Masak saus dengan sedikit air sampai mendidih dan kental. Sisihkan.
    • Rebus mie dalam air mendidih selama 1-2 menit, buang airnya lalu bilas dengan air dingin yang mengalir. Kemudian rendam dalam air panas sebentar untuk menghangatkan mie.
    • Letakkan mie dalam mangkuk besar, siram dengan saus dan aduk rata. Pindahkan ke piring, sajikan dengan daging ayam, daging cincang, daun bawang dan bawang goreng. Sajikan segera.

    Ada yang mau menerima tongkat estafet selanjutnya? Di FB dan IG sih sudah saya serahkan ke pemilik toko kue online Antique’s Cake. Tapi kalau ada yang berani terima tantangan ini sih boleh aja ikutan. Aturannya gampang kok:
    1. Posting foto makanan selama 5 hari berturut-turut
    2. Boleh bikinan sendiri atau wisata kuliner
    3. Boleh foto baru atau lama
    4. Tag 1 teman setiap harinya untuk meneruskan tantangan selanjutnya.

    Yuk ikut. Kan lumayan buat nambah postingan blog tiap hari #eh. Happy cooking or eating, teman.