Browsing Category:

Life as Mom

  • Movies & Music, Parenting

    Inside Out: Ketika Emosi Punya Perasaan

    Jujur aja meski berkali-kali lihat trailernya di Disney Channel awalnya saya nggak tertarik untuk nonton film terbaru dari Disney Pixar ini. Apalagi baca resensinya di IMDB banyak yang ngasih kurang dari 5 bintang, bahkan ada yang 1! Beberapa top review bilang film ini membosankan, nggak seperti film-film Disney Pixar yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa film ini bukan untuk anak-anak dan masih banyak kritikan lain.

    Tapi karena di minggu pertama penayangannya di Indonesia –yang kebetulan bertepatan dengan waktu penayangan di Brunei– banyak yang posting nonton Inside Out dan rata-rata bilang film yang dibintangi oleh Amy Poehler dan Phyllis Smith ini bagus, saya pun tergoda untuk nonton. Biar kekinian gitu lah.

    Karena rating film IO adalah PG1 saya coba cek dulu di Parents Guide for Inside Out di IMDB untuk mengetahui apakah ada yang kurang sesuai ditonton oleh anak seumur Cinta. Setelah yakin semuanya cukup aman baru deh saya mengajak kakak Cinta untuk movie date nonton film Inside Out di PSB Dualplex Seria.

    Dan ternyata film ini menguras air mata, sodara-sodara. Asli mulai dari 15 menit film ditayangkan sampai akhir berkali-kali saya harus diam-diam mengusap mata yang basah karena terharu melihat adegan-adegan di dalamnya.

     photo AC4D118E-2DB2-473B-9D70-E1FDF6437650_zpskgfrjgru.jpg

    Cerita dimulai saat Riley baru lahir dan muncul Joy yang mengontrol perasaannya bersama dengan keempat rekannya Sadness, Anger, Fear dan Disgust. Kemudian waktu pun bergulir dengan menampilkan Riley yang tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, punya hubungan emosional yang erat dengan ortunya, suka hoki dan melakukan hal-hal konyol berkat dominasi Joy, sampai suatu saat Riley harus pindah ke San Fransisco bersama ayah dan ibunya.

    Di sinilah konflik perasaan mulai muncul. Joy, Sadness, Anger, Fear dan Disgust berganti-ganti memainkan peran pada emosi Riley yang harus beradaptasi pada banyak hal. Rumah baru, moving van yang nggak kunjung datang, sekolah baru dan pekerjaan ayah yang menyita waktunya.

    Kebingungan menghadapi keadaan ini, Joy berusaha mengontrol perasaan, ia setengah memaksa teman-temannya untuk selalu bergembira. Joy meminta Fear untuk membuat daftar hal buruk yang bisa terjadi pada hari pertama sekolah dan berusaha mengantisipasinya. Bahkan ia berusaha mengisolasi Sadness yang beberapa kali membuat Riley sedih. Joy ingin Riley selalu senang apalagi saat Ibu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung karena pada kondisi yang penuh tekanan seperti ini keceriaan Riley memberikan semangat bagi orangtuanya.

    Tapi saking inginnya Joy membuat Riley merasa bahagia, kecelakaan pun terjadi. Joy dan Sadness tanpa sengaja terlempar dari markas dan terdampar di tempat penyimpangan long term memory. Mereka pun berusaha kembali ke markas dengan membawa core memories ((The core memories are objects of major importance inInside Out. Like all memory orbs, core memories represent past events of Riley‘s life. However, they have a much greater importance than usual memories. They represent key moments that have defined Riley’s current personality. Core memories appear brighter than any other memory and power each Island of Personality. – source: Pixar Wikia)) .

    Dalam perjalanan ini Joy dan Riley menyaksikan bagian-bagian masa lalu Riley yang membentuk kepribadiannya runtuh satu persatu. Sementara di markas keadaan semakin memburuk karena Fear, Anger dan Disgust kebingungan dan kendali emosi membuat Riley melakukan hal-hal di luar kebiasaannya.

    Kondisi inilah yang saya sadari sering muncul dalam perilaku Cinta saat ia harus menghadapi pengalaman baru atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Perubahan kepribadian dan perilaku yang tidak biasa. Seringkali saya bilang meminta ia untuk tetap ceria, nggak terima saat dia merasa sedih atau marah, bahkan takut. Padahal semua perasaan itu ya harus diterima apa adanya.

    Kita nggak bisa terus-menerus menekan dan menyembunyikan kesedihan, nggak bagus juga menahan marah dan takut. Konon merepresi perasaan negatif ini akan membuat kita mudah sakit ya.

    Ternyata boleh kok merasa sedih, marah dan takut, hanya saja harus disalurkan dalam perilaku yang aman dan nyaman.

    Saat berduka boleh sedih dan menangis karena itu akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dilakukan oleh Sadness ketika Bing Bong merasa sedih. Alih-alih mengabaikan kesedihannya seperti yang dilakukan Joy, Sadness berempati dan menggali kesedihan Bing Bong sambil duduk di sampingnya sampai Bing Bong merasa lega. Persis pekerjaan psikolog.

    Film ini benar-benar jadi pengingat bagi saya. Setelah beberapa waktu lalu membaca cuplikan buku “Kata Siapa Tidak Boleh Marah” karya Zhizhi Siregar di Instagram fufuelmart tentang perbedaan reaksi anak ketika ia marah dan diabaikan dengan dipeluk saat ia merasa marah. Kali ini saya diajari untuk menerima perasaan sedih. Tahu nggak benang merahnya adalah pada acceptance.

    Menerima dan mengenali perasaan diri kita dan anak adalah hal yang penting. Sesungguhnya yang diperlukan saat kita berada pada kondisi yang tidak nyaman adalah, “Hey, saya mengerti kamu sedih/marah/takut/kecewa. Wajar kok kamu merasa seperti ini. Saya juga pasti akan merasakan hal yang sama,” plus pelukan hangat. Seringkali sebuah pelukan erat tanpa kata-kata saja sudah bisa mengungkapkan hal tersebut. Dan itu cukup.

    Buat mahasiswa psikologi wajib banget deh nonton ini. Kalian akan tahu tentang short term memories, long term memories, subconcious, sampai imaginary friend yang selama ini nampak abstrak. Buat para orangtua film ini bagus untuk memahami kondisi emosi anak. Sedangkan untuk anak-anak, mereka akan terhibur dengan cerita penuh warna, mengetahui pulau-pulau yang ada dalam peta emosi mereka. Cinta pun terpesona sambil bilang, “Is this what really happen inside my brain?”

    Bahkan dia bisa merecall salah satu pulau ketika kami bepergian hari Minggu kemarin dan Keenan asik menunjuk-nunjuk keluar mobil sambil mengoceh, “Dinosaurs.” Saat saya dan papanya mengomentari hal tersebut, Cinta berujar, “He’s imaginating you know. Kids do that.” “Oh iya, seperti Imagination Land-nya Riley ya, Kak.” “Yes, it’s a fun land,” jawabnya.

    9 bintang deh buat film Inside Out.

    Kalau menurut kalian bagaimana?

    1. Parental Guidance Suggested: Parents urged to give “parental guidance.” May contain some materials parents might not like for their young children []
  • Relationship

    Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

    Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

    Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

    Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

    Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

    Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

    “Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

    Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

    Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

    • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
    • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
    • Mampu berpikir positif dan kompromi.
    • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
    • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
    • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
    • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

    Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

    __________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

    Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

    Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

    Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

    Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

    Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

    1. Biaya
      Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
    1. Omongan orang.
      Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
    1. Merasa seperti orang tua tunggal.
      Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
    1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
      Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
    2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

    Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

    Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

    Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

    __________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Family Health

    Serunya Menyusui Sambil Bekerja

    Disclaimer: Menyusui adalah pengalaman personal bagi setiap ibu. Cerita yang ditampilkan di tulisan ini hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan semangat bahwa apapun kondisinya yang penting adalah usaha ibu untuk dapat memberikan ASI bagi buah hati.

     

    Sesuai dengan tema ‘Pekan ASI Sedunia” yang berlangsung dari tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman beberapa teman yang menyusui sambil bekerja (di kantor). Saya sendiri sempat menyusui sambil bekerja selama tiga bulan saja pada tahun 2008, waktu Cinta umur 7 bulan dan berhenti memompa ASI di kantor saat dia berusia 10 bulan. Meski demikian saya tetap menyusui langsung dan memompa sesempatnya di rumah sampai ia berusia 2 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini, salah satunya adalah kurangnya tepatnya manajemen asi perah.

    Alhamdulillah sekarang saya melihat semakin banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui sambil bekerja di kantor. Rupanya kesibukan menjalani aktivitas profesional mereka nggak menghalangi usaha untuk memberikan air susu ibu bagi bayinya.

    Seperti yang dilakukan oleh teman baik saya, Indah Purnamawati. Ipung, panggilan akrabnya setiap hari membawa Zyzy ke kantor supaya bisa menyusui secara langsung karena anak ketiganya itu menolak minum ASIP dari dot maupun sendok. Selain itu Ipung merasa setiap kali memompa setelah Zyzy habis menyusu secara langsung, hasilnya kurang banyak.

    Meskipun awalnya ragu membawa Zyzy ke kantornya yang terletak di daerah industri, kondisi ini membuat Ipung terpaksa melakukannya. Zyzy mulai ikut kerja usia 2,5 bulan, setelah cuti melahirkan selesai. “Alhamdulillah anaknya anteng. Setelah kenyang didorong-dorong di stroller langsung tidur,” ujarnya. Kondisi ini berlangsung selama 8 bulan, “Kalau aku kerja sama orang lain pasti aku lebih milih resign daripada menjalani seperti itu. Tapi karena kerja bantuin perusahaan Bapak ya terpaksa dijalani,” imbuh ibu dari 2 putra dan 1 putri ini.

    Tapi, kondisi ini jadi pengalaman berharga baginya. “Di kantorku jadi seperti boyongan. Ada stroller, mainan bayi, karpet dan celemek menyusui,” ceritanya. “Tapi senang bisa bawa anak ke kantor dan menyusui langsung meski kita bekerja. Kita jadi tahu perkembangannya setiap hari dan alhamdulillah selama itu Zyzy nggak pernah sakit meski batuk pilek sekalipun. Menurut dokter sih karena Zyzy full ASI jadi badannya kuat,”  jelasnya menutup perbincangan kami melalui whatsapp malam itu.

    Mantan teman sekerja saya dulu, Yoke Pratiwi yang bekerja di bank menghadapi tantangan yang nggak kalah serunya selama menyusui. Namun keinginannya untuk dapat memberikan asupan gizi yang terbaik bagi Keanu sangat kuat sehingga Yoke dengan gigih memompa ASI di sela-sela jam kerjanya. “Saya sadar bahwa saya adalah ibu bekerja yang nggak bisa selalu bersama dengan anak saya. Hal yang bisa saya berikan dan nggak bisa digantikan dengan orang lain yang mengasuh anak saya adalah ASI. Alhamdulillah nggak ada kendala yang bisa membuat saya untuk berhenti memberikan ASI hingga usia Keanu berusia 2 tahun, bahkan nyatanya sampe 3 tahun.”

    Saat cuti melahirkan Yoke mulai menabung stok ASI perah baik dengan memompa setiap 2 jam juga dengan menyusui secara langsung. “Saat Keanu menyusu, saya memompa juga di PD1 satunya. Kadang saya rela nggak tidur supaya dapat memompa ASI ketika bayi saya tidur,” kenang Yoke. Dan terbukti caranya berhasil. Saat ia kembali bekerja stok ASInya dapat mencukupi kebutuhan Keanu.

    Meski demikian di kantor, ibu satu anak ini tetap semangat memompa. Setiap 2-3 jam sekali ia pergi ke ruang meeting untuk memompa ASI. “Kalau ruangannya dipakai ya saya mompa di kamar mandi,” ujarnya. Tapi kondisi ini nggak bikin Yoke patah semangat. “Teman sekantor juga sangat mendukung dan nggak keberatan saya tinggal tiap 2-3 jam untuk memompa ASI. Toh dengan menggunakan pompa elektrik bisa cepat dan hasilnya lumayan banyak. Nggak sampai 15 menit biasanya dapat 100 ml.”

     photo 0A11F22A-5967-4F9D-BA4A-1570AED59CB0_zpsysjtb0ze.jpg

    Yoke dan Keanu

    Karena mengumpulkan stok ASI perah di kantor, Yoke pun kemana-mana membawa cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca. Termasuk saat outing ke luar kota atau bepergian ke tempat wisata. “Oleh-oleh berharga untuk si bocah,” katanya.

    Yoke pun berhenti memompa ASI setelah Keanu berusia 2 tahun. “Saya rasa sudah cukup ya waktu untuk menyusui dan sudah capek juga memompa hehehe.” Namun ia tetap menyusui sampai Keanu berusia 3 tahun.

    “Saya harap ibu-ibu bekerja tetap semangat dan selalu percaya bahwa pasti bisa menyusui sambil bekerja selagi kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk menjalaninya. Tipsnya adalah rajin memompa atau memerah serta follow akun-akun yang mendukung pemberian ASI seperti ayahasi,” pesannya.

    Nantikan tips-tips sukses menyusui sambil bekerja di postingan berikutnya yaaa….

    1. payudara []
  • Relationship

    Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

    Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

    True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

    Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

    • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
    • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
      • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
      • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
      • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
      • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
      • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
    • Anak
      • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
      • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
    • Orangtua
      • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
      • Orangtua sakit.

    Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

    ____________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Daily Stories, Parenting

    THR untuk Anak. Yaiy or Nay?

    Libur Lebaran sudah usai ya. Banyak dari kita yang sudah kembali beraktivitas secara normal setelah menghabiskan akhir minggu berkunjung ke sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri. Saya sendiri tahun ini nggak mudik ke Indonesia dan merayakan Lebaran hanya di Brunei. Kalau biasanya hari Raya selalu berkumpul bersama keluarga besar, kali ini cukup berempat saja. Lumayan sepi hehehe.

    Nah, di tengah-tengah sunyinya berhari raya tanpa ada anak-anak tetangga yang datang ke rumah untuk minta angpau, saya baca ceritanya Uwi di Path tentang anak-anak di daerahnya yang sengaja bersilaturahmi ke rumah tetangga saat hari raya hanya untuk mendapatkan angpau atau Tunjangan Hari Raya (THR). Cerita tersebut membuat saya teringat pengalaman hunting THR jaman dahulu kala. Berhubung mau komen di status bakalan panjang sekali, akhirnya memutuskan untuk bikin blog post aja deh.

    Kebetulan di keluarga besar saya tradisi bagi-bagi THR ini bisa dibilang antara ada dan tiada. Dulu waktu masih kecil-kecil, usia SD gitu lah, biasanya almarhum Opa dari mama yang suka bagi-bagi THR ke cucu-cucunya. Itupun hanya saat semua cucunya kumpul semua yang nggak selalu terjadi tiap Lebaran.

    Sementara dari Bude, Pakde, Om dan Tante kadang dapat kadang enggak tapi waktu itu rasanya dapat THR bukanlah hal yang paling ditunggu meskipun tetap menyenangkan. Buat kami keistimewaan Lebaran adalah bisa berkumpul dan bermain bersama para sepupu sambil menyantap masakan khas Lebaran ala almarhumah Mami (nenek).

    Baru setelah merayakan Lebaran bersama papa, saya mengalami yang namanya hunting THR. Bersama anak-anak tetangga, kami berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bersilaturahim, makan kue dan mendapat salam tempel. Jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp 100 sampai Rp 5000. Rasanya senang sekali dalam sehari bisa dapat banyak uang meskipun pada akhirnya uang-uang tersebut habis tak berbekas untuk jajanan dan mainan-mainan kecil atau kadang entah menghilang kemana.

    Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya kok malu ya hahaha. Dulu niat banget sampai rumah yang jauh pun kami datangi, padahal kenal pun enggak. Tanpa dampingan orang tua lagi. Padahal mama selalu mengingatkan untuk nggak boleh minta-minta ke orang lain. Jangankan ke orang tak dikenal, minta dibelikan boneka ke nenek sendiri aja sampai dimarahin.

    Setelah punya anak dan ponakan, saya dan suami pun awalnya nggak membiasakan diri memberikan angpau untuk mereka. Mama, papa, mertua, adik-adik dan ipar pun lebih suka ngasih hadiah berupa barang seperti baju atau mainan. Namun 3 tahun belakangan ini setelah jumlah ponakan semakin banyak, adik-adik dan ipar pun mulai menyiapkan THR untuk ponakan-ponakannya. Akhirnya saya pun mengikuti jejak mereka. Tapi ini khusus untuk anggota keluarga karena kebetulan memang jarang sekali ada anak-anak tetangga yang datang berkunjung ke rumah untuk berlebaran. Kalaupun ada mama dan mertua sudah menyiapkan amplop khusus untuk mereka. Jadi ya saya nggak perlu nyiapin lagi hihihi.

    Cinta sih senang ya dapat THR, biasanya dia gunakan untuk membeli mainan yang sudah lama diidamkan atau main di FunWorld. Belakangan ini uangnya dia titipkan ke saya untuk ditabung. Dan sejak mengenal konsep berbagi dia nggak segan mengeluarkan uangnya untuk memberikan sumbangan pada anak-anak yang kurang mampu atau membelikan adiknya sesuatu.

    Buat saya pribadi tradisi memberikan THR kepada anak atau keponakan dan keluarga dekat adalah hal yang baik asal disertai pesan untuk menggunakan uang tersebut sebaik mungkin. Sedangkan untuk anak-anak, awalnya saya selalu berpesan untuk tidak meminta uang atau barang kepada orang lain, apalagi ke kakek neneknya. Mereka cuma boleh minta ke kami orang tuanya. Namun, namanya kakek nenek, tante, bude, om kan pengen juga ya menyenangkan cucu dan keponakannya, jadi saya ijinkan anak-anak untuk menerima tawaran mereka untuk membelikan sesuatu. Tentu dengan nominal yang nggak terlalu besar. Toh, saya juga masih senang kalau ditraktir mama atau papa makan atau belanja sesuatu hihihi.

    Momen pemberian THR ini bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan anak berbagi. Ajak mereka bersama-sama menghitung uang yang didapat lalu menyisihkan sebagian uang yang mereka terima untuk berbagi dengan sesama. Entah dengan menyerahkan langsung ke kerabat yang kurang beruntung dalam bentuk barang maupun uang maupun lewat kotak-kotak sumbangan yang banyak bertebaran di supermarket atau tempat makan. Ajak juga mereka untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau bank sambil dijelaskan manfaat menabung. Untuk anak-anak yang lebih besar, sarankan mereka menggunakan uangnya untuk membeli barang yang bermanfaat supaya nggak habis begitu saja. Beberapa anak pra remaja yang saya kenal baik bisa membeli smartphone atau tablet dari uang THRnya. Beberapa lagi membeli peralatan sekolah yang pasti bermanfaat terutama di tahun ini yang libur Lebaran bertepatan dengan awal tahun ajaran baru di Indonesia.

    Yang paling penting adalah mengajarkan kepada anak-anak bahwa Hari Raya tidak identik dengan angpau atau THR. Kalau ada yang memberi ucapkan terima kasih atas kebaikan mereka tapi kalau tidak diberi jangan sampai meminta apalagi sampai punya anggapan orang yang nggak ngasih THR itu pelit. Hari Raya adalah momen berkumpul bersama keluarga, mempererat ikatan persaudaraan, menyambung tali silaturahim. Bermain bersama sepupu yang belum tentu sebulan sekali bisa jumpa, bermanja-manja pada nenek dan kakek dan berbagi cerita dengan tante atau paman merupakan pengalaman yang tak ternilai harganya.

    Seperti yang disarankan oleh Asrorun Niam, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam sebuah artikel di detiknews,

    Lebaran harus jadi momentum yang baik untuk merekatkan hubungan harmoni dengan seluruh anggota keluarga, serta keluarga besarnya. Ini bisa menjadi jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan anak kontemporer, seperti kekerasan anak, penelantaran, kenakalan remaja yang seringkali pemicunya adalah tidak hadirnya lembaga keluarga dalam menjamin perlindungan terhadap anak-anaknya.

    Lebaran harus dimanfaatkan untuk memberi pengalaman spiritual bagi anak, yang menyenangkan dengan merekatkan tali silaturrahmi dengan handai taulan dan menjelaskan arti kekerabatan. Termasuk juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya merajut persaudaraan, etika relasi dengan yang lebih tua, menghormati yang lebh tua serta menyayangi yang lebih muda.

  • Parenting

    Jangan Rebutan Anak.

     
    Akhir-akhir ini makin banyak berita kehilangan anak di sosmed yang ternyata diambil atau dijemput atau pergi bersama ayah/ibunya tanpa sepengetahuan orang tua lainnya. Di satu sisi senang lah ya kalau si anak sehat selamat bersama orang yang sayang sama dia.

    Tapi di sisi lain miris juga melihat para orang tua yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik sehingga anak jadi korban. Akibatnya pengguna sosmed jadi parno karena mengira makin banyaknya berita penculikan, polisi yang (mungkin juga ikut) kerepotan dan dituduh nggak bisa menemukan anak hilang.

    Perceraian memang bisa menimbulkan rasa benci, marah, sakit hati pada mantan pasangan. Mungkin juga pada diri sendiri. Tapi tolonglah, kesampingkan semua itu demi anak. Jangan jadikan mereka alat untuk melampiaskan dendam. Kasian.

    Sejelek-jeleknya mantan pasangan di mata Anda, bagi anak tetaplah sosok ayah atau ibu yang mereka cintai. Kecuali dia pernah terbukti menyiksa anak-anak, menerlantarkan, membahayakan mereka secara fisik dan psikis, rasanya nggak ada hak untuk membatasi apalagi memutus tali silaturahmi anak dan orang tuanya. Salah-salah, mereka bisa membenci ayah/ibu yang mengasuhnya karena menjauhkan anak dari orang yang mereka sayang. So, be wise, Parents.
    Foto diambil dari sini.

  • Babbles

    Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

    Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

    ——-

    Need to know :

    JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

    Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

    Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

    Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

    Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

    Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

    Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

    Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

    Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

    Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

    Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

    Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

    Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

    Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

    Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

    Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

    Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

    Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

    Sebagian ulama mengatakan:

    “Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

    Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

    1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

    2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

    3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

    4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

    5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

    6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

    7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

    Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
    Berhati-hatilah.

  • Life as Mom, Parenting

    Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan

    Repost dari WA Grup Circle Moms. Thanks For Sharing, Ica

    Para Ayah dan calon Ayah.. disimak yaa

    RESUME SEMINAR : Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan
    Bertempat di Sekolah Alam Cikeas, Februari 2015
    Narasumber : Elly Risman, Psi

    〰〰〰〰〰
    Ayah adalah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga), yang bertanggungjawab :
    1. Menentukan visi misi keluarga
    2.  Menyediakan keuangan
    3. Menyediakan makanan dan pakaian
    4. Menyediakan rumah dan isinya
    5. Membimbing anak
    6. Membuat kebijakan dan peraturan
    7. Menentukan standar keberhasilan
    8. Menyediakan training dan pemantauan
    9. Menyediakan perawatan dr harta dan benda
    10. Melakukan pengontrolan
    11. Mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas

    Survey membuktikan ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan, memberikan kasih sayang, perhatian dan interaksi yang cukup, akan membuat anak:
    >> Lebih sehat fisik dan mental
    >> Lebih sociable – mudah berinteraksi, berteman dan menyesuaikan diri
    >> Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih
    >> Mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah
    >> Anak lebih mendapatkan sense of independence
    >> Lebih percaya diri dan tidak cemas di tempat baru
    >> Lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan rutinitas
    >> Lebih bisa beradaptasi dalam menghadapi kekecewaan
    >> Anak tumbuh menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur orang lain
    >> Punya harga diri yang tinggi
    〰〰〰〰〰〰
    Apa akibat berayah ada berayah tiada? Baik ketiadaan fisik maupun emosional :
    >> mudah terlibat kriminalitas dan kekerasan
    >> Cenderung memiliki hasil tes dan prestasi rendah
    >> Remaja yang tumbuh dengan hanya ibu lebih sexually active
    >> Remaja kurang mendapat pengontrolan dan pendampingan
    >> Anak kehilangan rasa aman
    >> Anak lebih sering temper tantrum
    >> Anak 3x lebih mungkin tidak naik kelas, 4x lbh mungkin DO dari sekolah
    >> Biasanya dapat nilai lebih rendah dlm tes dan buruk dlm semua pelajaran
    >> Lebih mudah depresi
    >> Lebih antisocial — bullying or being bullied, agresif, sensitif terhadap kritik
    >> Lebih sering sakit dan buruk dalam penilaian kesehatan — emosional, fisik, psikologis, sosial.

    Hasil Riset Ibu Diah Karim, trainer senior Yayasan Kita dan Buah Hati, membuktikan bauwa kurangnya peran ayah pada :
    Anak dan remaja laki-laki, menimbulkan masalah sosial yaitu :
    ☑kenakalan remaja
    ☑agresif (kejahatan remaja)
    ☑narkoba
    ☑seks bebas
    Anak dan remaja perempuan, menimbulkan masalah :
    ☑Depresi
    ☑seks bebas

    Jika memang peran ayah sudah harus tiada, kuatkan jiwa anak dengan high quality positive parenting dengan anggota keluarga lainnya Ayah tidak aktif lebih baik daripada perceraian. Perceraian lebih baik daripada lingkungan keluarga yang selalu bertikai atau ayah yang bermasalah. Bila cerai, pertemuan dengan fisik ayah saja tidak cukup, hadirkan pula jiwanya. Perceraian itu antara ayah dengan ibu, bukan perceraian ayah dengan anak-anaknya.

    Peran kita adalah sbg BABY SITTER ALLAH, anak adalah amanah, kenikmatan, ujian & musuh. Dalam melaksanakan amanah ini, butuh perjuangan yang tidak mudah. Dibutuhkan totalitas pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya.

    Miliki visi misi pengasuhan : akan lebih mudah saat akan beraksi
    – Visi pengasuhan keluarga nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) :
    1. Penyelamatan aqidah
    2. Pembiasaan ibadah
    3. Pembentukan akhlakul qarimah
    4. Pengajaran lifeskill (kemampuan bertahan hidup dan bermanfaat bagi umat dengan profesional)

    – Visi keluarga Imran (QS Al Imran : 35) menjadi hamba Allah yang taat

    Jika anak adalah lukisan, ayah adalah penentu lukisan apa yang akan dibuat. Naturalis kah? Abstrak kah? Sketsa kah? Ayah adalah penentu tujuan pengasuhan dalam keluarga, akan dijadikan apa anak-anak dalam keluarganya. Ayah juga yang menyediakan cat, tinta, dan kuasnya. Ia yang menentukan nilai-nilai dan kultur apa saja yang disapukan pada kanvas jiwa anak-anaknya. Sesungguhnya, keindahan lukisan jiwa seseorang adalah bukti otentik amanah seorang ayah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah
    〰〰〰〰
    Dikembangkan dari resume volunteer Rizki Ardila, oleh Tim Yayasan Kita dan Buah Hati
    〰〰〰〰
    #GreatFather #PeranAyah.
    #fwd dari Pipi (tim YKBH)