Browsing Category:

Life as Mom

  • Parenting

    Menyapih, Bukan Proses Instan

    Menyapih, bukan proses instan. Weaning should be a process, rather than an event. Begitu kutipan yang saya peroleh dari situs Breastfeedingbasic.com saat sedang mencari tip untuk menyapih batita. Cocok banget dengan kondisi saya yang sedang berusaha menyapih Keenan. Iya, di usianya ke 2,7 tahun ini saya sudah 2 kali gagal saat mencoba menyapih Keenan.

    Percobaan pertama saya lakukan ketika Keenan persis berusia dua tahun, gagal karena kemudian dia demam dan sakit. Percobaan kedua dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kali ini saya lebih siap secara mental. Apalagi dokter spesialis anak juga mendukung saya menyapih Keenan karena berat badan Keenan yang nggak beranjak dari angka 10kg.

    Saat itu saya sengaja memilih long weekend dengan harapan suami bisa membantu saat Keenan tantrum minta nenen di malam hari. Dan benar saja, selain tantrum setiap minta nenen nggak dikasih, Keenan pun jadi mogok makan dan susah tidur. Akibatnya dia jadi cranky. Dikit-dikit marah, dikit-dikit bete. Setelah 68 jam tanpa nenen akhirnya proses menyapih itu saya hentikan. Nggak tega rasanya melihat Keenan nggak nyaman hanya karena nggak bisa menyusu.

    Padahal sebenarnya kadang saya sudah merasa nggak nyaman lagi menyusui. Sering kesal karena setiap Keenan terbangun tengah malam selalu minta nenen. Apalagi biasanya bisa terjadi lebih dari 3 kali dalam semalam. I need my beauty sleep. Hiks. Lagipula seringkali dia nggak nenen beneran alias cuma ngempeng. And that’s annoying. Duh.

    Nggak lama kemudian, bertepatan dengan World Breastfeeding Week 2015, kami pergi ke Mobahai Shopping Complex yang kebetulan sedang mengadakan acara World Breastfeeding Day. Di sana saya bertemu dengan para konsultan laktasi dari Jabatan Kesehatan Brunei. Nah, kesempatan ini saya pergunakan untuk berkonsultasi tentang proses menyapih. Saat saya bertanya cara menyapih, beliau malah bertanya, “Why do you want to wean him? Are you expecting a new baby?“. Saya pun menjelaskan bahwa Keenan sudah lebih dari 2 tahun dan alasan-alasan lain. Beliau justru menjawab bahwa nggak perlu menyapih Keenan, tunggu saja sampai dia menyapih dirinya sendiri. Sayang waktu itu saya nggak sempat ngobrol lebih lama karena anak-anak sudah heboh minta pulang.

    Akhirnya saya curhat dong ke Path dan ke teman-teman sesama (mantan) busui. Kebanyakan memberikan saran yang sama. Dan satu hal yang harus digaris bawahi adalah saat menyapih yang penting adalah kesiapan kedua belah pihak, terutama ibu. Kalau ibu ragu sedikit saja biasanya anak juga akan merasa, sehingga ya kejadian seperti Keenan itu deh, tantrum, rewel dan sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kesiapan Keenan saja sambil terus disounding kalau Keenan sudah besar, sudah waktunya berhenti nenen, nenen hanya untuk bayi, mama tetap sayang meski Keenan nggak nenen lagi dan sebagainya.

    Lagipula sebenarnya Keenan pun sudah mulai menyapih dirinya sendiri. Sejak usia 2 tahun dia hanya minta menyusu saat ingin tidur. Selebihnya sudah nggak pernah minta lagi. Mungkin karena sejak lahir saya selalu menyusui dia saat mau tidur, sehingga Keenan berasumsi bahwa menyusu adalah cara ternyaman untuk membuatnya tidur. Sepertinya PR saya adalah mencari cara untuk mengantarkan Keenan tidur selain dengan menyusu. Dan sampai sekarang belum berhasil hihihi. Tapi memang menyapih sebaiknya nggak dilakukan secara instan dan perlu usaha banyak pihak, sama seperti saat kita mulai menyusui dulu. Diawali dengan baik harus diakhiri dengan indah juga kan.

    Untuk memantapkan hati, saya pun meminta saran kepada seorang teman yang juga konselor laktasi dan anggota aktif Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jatim, Mia Deazy Mayangsari. Saran-saran dari Mia tentang weaning with love dan self weaning serta beberapa bacaan yang dia sarankan akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Sementara itu boleh dong, sharing pengalaman menyapihnya, Moms.

  • Parenting

    Bermain Dengan Makanan. Ya atau Tidak?

    Sensory play, sensory bin, sensoy bin ideas, playing with foods, bermain dengan makanan,

    Bermain dengan makanan selalu jadi dilema bagi saya. Saking galaunya beberapa waktu yang lalu saya pernah pasang status tentang perasaan saya melihat makanan atau bahan makanan yang dipakai sebagai alat permainan untuk anak-anak, khususnya batita.

    Kalau liat DIY mainan anak-anak yang berbahan beras, pasta, biji-bijian gitu tiap mau ikutan bikin rasanya kok eman-eman ya. Pernah ding beberapa kali bikin beras dan makaroni yang sudah hampir kadaluwarsa diwarnain, spaghetti yang sudah dimasak juga dikasih pewarna, trus buah dipotong-potong jadi stempel. Mainnya sih seru, giliran beberes terus ngebuang makanan-makanan itu jadi nyesel. Sayang aja gitu. Sama kek buang makanan sisa. Sedih.

    Status ini saya buat karena sering sekali melihat permainan sensoris yang menggunakan makanan atau bahan makanan sebagai alatnya. Seperti beras warna-warni, pasta (mentah maupun dimasak), tepung, kacang-kacangan dan sebagainya. Saya mengerti sih, alasan memakai bahan makanan adalah untuk keamanan anak dan kepraktisan.

    Maklum, anak usia di bawah 3 tahun memang masih sering memasukkan sesuatu ke mulutnya sehingga diperlukan permainan yang aman. Untuk itu biasanya orangtua membuatkan alat permainan dari makanan yang dipercaya lebih aman untuk anak. Ya, maksudnya sih nggak beracun gitu, kalau bahaya tersedak atau tertelan sepertinya masih tetap ada.

    Bermain dengan makanan juga lebih praktis bagi orangtua ketimbang mengumpulkan batu-batuan, pasir, daun-daunan kering, beads dan benda-benda lain. Sementara tepung, beras, kacang-kacangan, cereal, pewarna makanan, agar-agar, oatmeal, pasta adalah bahan-bahan yang biasanya tersedia di dapur. Jadi kalau perlu tinggal ambil saja untuk diolah sebagai alat permainan.

    Selain itu sebenarnya bermain dengan (bahan) makanan sudah biasa dilakukan oleh anak-anak pra sekolah sejak dulu, ya setidaknya sejak saya masih TK lah. Masih ingat kah teman-teman membuat prakarya dengan menempel beraneka kacang-kacangan di atas kertas yang sudah ada template gambarnya? Atau membuat karya seni dari potongan kentang, bengkuang atau buah belimbing yang diberi pewarna? Aktivitas serupa juga saya lakukan saat masih jadi asisten guru di Sanggar Kreativitas yang dikelola oleh fakultas tempat saya kuliah sekian belas tahun yang lalu. And it was super fun for the kids and the teachers.

    Ada manfaat yang bisa didapat dari kegiatan bermain dengan makanan ini. Pertama, anak bisa bereksplorasi dengan aman sekaligus mengenal bahan-bahan makanan yang biasa dimakan. Hal ini dipercaya bisa mengurangi kecenderungan picky eater. Kedua, anak dapat belajar science dengan menggunakan buah atau sayur sebagai pewarna alami. Ketiga, juga dilakukan dengan benar, anak juga dapat belajar keterampilan dasar di dapur seperti mencuci beras, membersihkan sayuran, mengupas buah-buah also how to stay safe in the kitchen.

    Namun entah kenapa saya pribadi selalu memiliki perasaan bersalah setiap kali mencoba bermain dengan bahan makanan, khususnya beras dan pasta. Mungkin karena dua benda ini adalah bahan makanan pokok untuk sebagian besar orang. Apalagi dengan kondisi ekonomi seperti sekarang di mana semakin banyak orang yang susah untuk makan sehari-hari rasanya saya nggak bisa membuang-buang beras atau pasta.

    Kalau tepung-tepungan, biji-bijian dan bumbu dapur sih masih oke karena belum berhasil menemukan bahan pengganti untuk membuat playdough dan aneka dough lain. Lagipula saya mikirnya kalau tepung kan harus diolah dulu dengan bahan lain untuk dijadikan makanan, begitu juga biji-bijian. Rasanya jarang menemukan orang makan kacang hijau rebus begitu saja kan.

    Solusinya sih sementara ini saya berusaha memakai bahan makanan yang memang sudah tidak layak dimakan, misalnya mendekati tanggal kedaluwarsa. Atau sudah lama dibuka dari kemasannya tapi sisa yang belum terpakai masih banyak sementara saran penggunaan maksimal beberapa minggu setelah kemasan dibuka.

    Tapi, seminggu yang lalu saya tergoda untuk membuat beras warna warni memakai beras baru. Senang deh bikinnya, apalagi karena berhasil membuat warna-warna yang cantik dan beras tetap kering. Keenan pun senang mainnya karena selama ini memang dia suka sekali mainan beras yang ada di dalam tempat penyimpanan beras. Persis seperti kakak Cinta dulu. Saya pikir biar deh sekali ini dibikinkan mainan khusus dari beras yang bisa dipegang-pegang tanpa harus saya larang. Lagipula harapan saya bisa disimpan untuk berkali-kali pakai. Ternyata kenyataannya nggak seperti itu. Saat dipakai main beras berwarna-warni itu langsung dicampur-campur dan berhamburan ke lantai. Alhamdulillah sih sebagian besar berhasil diselamatkan tapi sebagian lain terpaksa harus dibuang.

    Mungkin membuang bahan makanan buat sebagian orang bukanlah hal yang luar biasa. Saya pun dulu begitu. Kalau makan nggak habis baik di rumah atau di restoran ya sudah ditinggal saja. Ada sisa masakan pun langsung dibuang. Tapi setelah bekerja dan merasakan suka duka mencari uang sendiri serta capeknya masak mulai dari mikir menu, ngerajang bumbu, mengolah bahan sampai nyuci perkakas masaknya, pelan-pelan perilaku seperti itu berkurang. Yang ada sekarang kalau anak-anak nggak habis makannya ya terpaksa saya yang makan. Atau kalau ada sisa masakan disimpan untuk dimakan lagi besok atau didaur ulang menjadi makanan baru.

    Lagipula dengan memakai makanan sebagai bahan permainan sensoris, terutama yang sudah dimasak, saya khawatir Keenan akan menganggap kalau makanan memang BOLEH dibuat mainan. Dan ini sudah terjadi beberapa kali. Akhir-akhir ini Keenan sudah semakin pandai mengambil sesuatu dari tempat yang tinggi dan membuka sendiri pintu lemari dapur yang telah diamankan dengan “kunci” khusus. Nggak jarang tiba-tiba dia sudah ambil container isi tepung dari dalam lemari atau susu bubuk dari atas rak lalu dibuat mainan. Tadi sore saat saya menghaluskan tahu untuk dimasak, tiba-tiba ada tangan mungil berusaha meraih piring isi tahu dan setelah berhasil dia ikut memasukkan tangannya ke dalam piring dan meremas-remas tahu.

    Benar sih, dia cuma ingin tahu apa yang sedang mamanya masak dan bagaimana tekstur benda-benda tersebut. Begitu dia mengerti kalau tahu itu dingin dan lembut ya sudah nggak tertarik untuk bermain lebih jauh. Lain halnya dengan tepung yang bisa bikin dia betah mainnya. Belum lagi makanan di piring yang kadang dimasukkan ke dalam gelas, memindahkan isi minuman dalam gelas satu ke gelas lain. Hadeh, gemes aja gitu lihatnya.

    Maka itu sekarang saya berusaha lebih membatasi penggunaan makanan mentah apalagi matang untuk mainan. Meski repot mengumpulkannya, masih banyak benda lain yang bisa digunakan untuk isi meja sensoris seperti water beads, sobekan kertas, batu akuarium, pasir, dedaunan dan ranting pohon atau manik-manik. Tentu sesekali saya nggak keberatan Keenan mengenal bahan-bahan makanan selama itu dalam konteks membantu saya memasak atau membuat kue, bukan khusus untuk bermain.

    Dan ternyata setelah lebih rajin browsing ke sana ke mari, masih banyak benda yang bisa digunakan sebagai filling sensory bin selain makanan. Seperti di bawah ini:

    Earth sensory bin with water beads.

    Earth Sensory Bin Earth Day Activity

    Frozen blocks of ice.

    Favourite non-food sensory play ideas shared by http://youclevermonkey.com

    Kalau menurut teman-teman, oke kah bermain dengan bahan makanan?

  • Kids Activities, Recipe

    Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

    chocolate chip cookies

    Masih dalam suasana libur sekolah 2 minggu yang lalu. Sebenarnya di hari Jumat yang hujan itu, hasrat hati pengen rebahan aja karena memang lagi capek banget. Tapi kok nggak bisa gitu lihat anak-anak berkegiatan tak tentu arah. Si kakak sibuk mantengin youtube, sedangkan Keenan lari ke sana ke mari sambil sesekali lompat-lompat ke badan saya. Mungkin dalam imajinasinya badan mamanya ini semacam trampolin gitu ya.

    Akhirnya coba cari resep kue kering yang gampang dan bahannya ada di rumah, secara sudah mendekati jam 12 siang dan nggak mungkin keluar rumah untuk beli bahan-bahan yang nggak ada. Maklum, setiap hari Jumat semua toko, restoran dan kantor di Brunei tutup selama 2 jam pada pukul 12-14 siang untuk memberi kesempatan bagi yang ingin melaksanakan sholat Jumat.

    Akhirnya ketemu juga resep chocolate chip cookies yang lumayan gampang di sini. Diam-diam saya persiapkan semua peralatan perang dan bahan-bahan. Pengennya mengeksekusi sendiri gitu. Tapi ternyata kedua bocah itu benar-benar lagi haus hiburan. Mendengar mamanya ribut di dapur langsung pada nyamperin dan ikut bikin ribut juga *inhaleee exhaleeee* *oles peace and calming* sampai harus saya suruh keluar dapur dulu.

    Pas saya selesai mempersiapkan bahan, kakak Cinta masuk lagi ke dapur. “Are you going to bake something?” tanyanya. “Yes, I do. Do you want to help?” ujar saya. “Yes!” balasnya penuh semangat.

    Biasanya sih tiap mau bikin kue saya selalu melibatkan kakak Cinta mulai dari persiapan bahan. Tapi kali ini melihat kehebohan Keenan yang juga ingin terlibat, saya bisa memperkirakan tingkat keberantakannya bakal seperti apa dan karena lagi nggak mood membereskan dapur, akhirnya langkah itu saya kerjakan sendiri.

     photo F18EC174-A18A-4746-9086-3AB528F2F151_zpsqnxlfo0h.jpg

    Jadi kakak Cinta mulai terlibat pada tahap membuat adonan saja. Semua dia lakukan sendiri. Mulai dari mengocok mentega dan gula, mengayak tepung dan soda kue, mencampur bahan kering dan bahan basah sampai mencetak adonan. Keenan juga bantu sih. Bantu ngeliatin kakak mixer adonan dan mencicipi adonan yang sudah dicetak.

    Alhamdulillah, meski belum seindah kukis kemasan atau yang dijual di bakery, kukis buatan kami masuk dalam kategori layak makan. Bahkan nyaris ludes dalam waktu 24 jam oleh suami. Entah karena dia doyan atau nggak ada pilihan camilan yang lain hihihi. Hanya saja waktu baru dingin rasanya sedikit terlalu manis untuk selera kami.

    Setelah dievaluasi, rasa yang terlalu manis itu ternyata disebabkan penggunaan unsalted butter sementara resep asli menggunakan salted butter. Saya juga lupa memasukkan 1/2 sendok teh garam seperti yang tertulis di resep. Eaaaa.

    Nah, kalau belum ada rencana akhir pekan ini, bikin kue aja sama si kecil. Ini dia resep yang sudah kami adaptasi sesuai dengan keberadaan bahan yang ada di rumah:

    chocolate chip cookies
    Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

    Bahan:

    150 gram unsalted butter
    80 gram light brown muscovado sugar
    80 gram granulated brown sugar
    2 sendok teh vanila extract
    1 buah telur ukuran besar (AA)
    225 gram tepung terigu serbaguna
    1/2 sendok teh soda kue
    1/2 sendok teh garam
    Chocolate chips plain secukupnya

    Cara Membuat:

    1. Panaskan oven pada suhu 190• C, beri alas baking paper pada loyang.
    2. Kocok mentega (butter) dan gula sampai creamy. Lalu masukkan ekstrak vanila dan telur. Aduk rata.
    3. Ayak campuran tepung terigu, soda kue dan garam ke dalam adonan mentega. Aduk menggunakan sendok kayu. Masukkan coklat chip lalu aduk sampai rata.
    4. Ambil sesendok teh adonan dan atur di atas loyang dengan jarak yang cukup renggang. Panggang selama 9-10 menit dengan api atas bawah sampai kue nampak kecoklatan di pinggir tapi empuk di tengahnya.
    5. Biarkan kue di atas loyang selama beberapa menit lalu pindahkan ke rak pendingin.

    Resep asli oleh Valerie Barret yang dimuat oleh situs bbcgoodfood.

    Selamat mencoba ya.

  • Parenting

    Permainan Sensoris

    sensory play quotes

    Permainan sensoris atau sensory play akhir-akhir ini sering sekali muncul di linimasa akun media sosial saya. Mulai dari yang sederhana dengan bahan seadanya sampai yang canggih. Tapi sebenarnya apa sih sensory play itu? Kenapa saya baru dengar sekarang? Kayanya jaman Cinta kecil dulu nggak ada mainan seperti ini. Atau saya aja yang kudet ya? Hihihi.

    Setelah browsing ke sana ke mari, saya mendapat sebuah penjelasan yang cukup lengkap tentang permainan ini dari situs PBS. Dalam artikel di situs itu (link ada di akhir tulisan ini) disebutkan bahwa sensory play atau permainan sensoris adalah aktivitas yang dapat menstimulasi panca indra balita kita: yaitu indra penglihat, pendengar, pencium, perasa dan peraba. Dan ternyata tanpa kita sadari, banyak kegiatan anak-anak yang bisa digolongkan dalam sensory play. Seperti, lompat-lompat di atas tempat tidur atau minum dari sedotan yang dapat menstimulasi indra peraba. Sedangkan bermain bayangan di dinding dengan bantuan lilin atau senter juga aktivitas mewarna serta main cilukba termasuk aktivitas yang bisa menstimulasi indra penglihat.

    sensory play infographic

    Kalau mau flashback ke jaman kita kecil, sebenarnya banyak permainan kita yang termasuk dalam sensory play ini. Jalan-jalan telanjang kaki di taman berumput atau di jalanan depan rumah sambil menemani ibu belanja; bermain di pantai; menyusun balok-balok kayu sampai finger painting dari lem kanji dan pewarna makanan. Ingat kan?

    Kok bisa ya aktivitas sederhana itu digolongkan dalam permainan sensoris? Menurut Sue Gasgoyne dalam bukunya Sensory Play (Play in the EYFS), saat sedang berjalan dengan telanjang kaki di taman, kita akan merasakan tekstur rumput, tanah, bebatuan juga hembusan angin menerpa kulit kita. Kita akan mencium aroma rumput, melihat aneka warna alami alam dan mendengar berbagai suara yang ada di sekitar kita. Saat bermain di pantai kita akan merasakan lembutnya pasir pantai, asinnya air laut dan hangatnya sinar matahari. Kita juga belajar membuat sesuatu dari pasir.

    Sedangkan saat melakukan finger painting, indra peraba kita akan mengenal lem kanji yang dingin dan lengket. Lalu indra penglihat akan mempelajari aneka warna dasar dan perpaduannya saat diulaskan ke kertas. Bahkan dari menyusun balok kayu yang sederhana itu kita belajar mengenal bentuk dan mengembangkan imajinasi kita dalam membangun kastil, rumah, kereta yang distimulasi dari bentuk, tekstur dan warna balok kayu.

    Selain menstimulasi perkembangan panca indra anak, permainan sensoris ini juga berfungsi melatih motorik kasar dan halusnya. Penelitian juga membuktikan bahwa aktivitas ini membangun sambungan syaraf di otak yang dapat membantu anak melakukan tugas-tugas yang lebih kompleks. Bermain sensoris sangat bermanfaat untuk mengembangkan imajinasi serta kemampuan berbahasa. Anak juga belajar untuk bersosialisasi dan memecahkan masalah.

    Seiring dengan perkembangan jaman, ibu-ibu sekarang lebih kreatif dalam menyajikan permainan yang menarik bagi balitanya. Salah satunya adalah dengan membuat sensory table yang dapat memfasilitasi anak untuk belajar tentang proses ilmiah sambil belajar dan berkreasi.

    Kotak inilah yang sering saya lihat di akun instagram para ibu muda yang rajin dan kreatif. Biasanya sih kotak ini berisi dengan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk belajar sensoris seperti air, pasir, beras, manik-manik yang bisa disentuh, disendok, dituang, diayak, dicetak dan sebagainya.

    Meskipun sangat menyenangkan, jujur aja setelah beberapa kali mencoba membuat kotak sensoris untuk Keenan, saya merasa kerepotan karena banyak yang harus dipersiapkan dan berantakannya itu bikin stres. Tapi melihat manfaat dan kegembiraan Keenan saat bermain dengan kotak sensorisnya meski seringkali cuma bertahan 15 menit, membuat saya senang mencari ide permainan sensoris sederhana. Seperti ini:

    Sensory Bottle Top “Bubble” Soap

    Sensory Bubble Bottle Top Soup

    Rainbow Rice Bags

    Wave Bottle

    Shake shake shake the wave bottle!

    A Tub Full of Seeds

    Cloud Dough

    cloud dough

    Untuk mengantisipasi berantakannya, biasanya Keenan saya ajak main di halaman belakang, sekalian berjemur di pagi hari gitu. Malah, kadang kalau lagi nggak sempat menyiapkan apa-apa, saya biarkan saja Keenan main di halaman belakang dengan perlengkapan berkebunnya sambil menemani saya menjemur pakaian. Dia dengan asik akan menyiram rumput, mencongkel tanah lalu membawa mini figur dinosaurusnya untuk bermain di tanah. Atau kalau cuaca atau situasi sedang  nggak memungkinkan ya bikin kotak sensoris yang nggak bikin kotor. Banyak sekali idenya di Pinterest atau instagram. Tinggal cari saja ‘sensory play ideas‘ dan keluarlah berbagai macam pilihan yang bisa ditiru atau dimodifikasi sesuai bahan yang tersedia di rumah. Selamat bermain!

    Sumber:

    <

    p style=”text-align: justify;”>PBS.org
    Homeschoolingmama
    Sensory Play (Play in the EYFS) by Sue Gasgoyne. Penerbit: Practical Pre-School Books, A Division of MA Education Ltd.

  • Recipe

    Frittata Muffins. Sarapan Mudah Bergizi.

     photo 955E7D8A-8EB9-4FA2-A78E-6F66251C7724_zpscume7xtz.jpg

    Frittata Muffins. Beberapa waktu yang lalu, saat lagi cari ide menu sarapan praktis yang sekaligus bisa dibawa sebagai potluck acara silaturahim ibu-ibu komunitas oil & gas di KB-Seria, Brunei Darussalam, saya melihat resep frittata ini muncul di newsfeed akun Facebook saya. Dan menurut saya resep dari Health.com itu sesuai dengan kriteria penganan yang saya cari. Bahannya mudah, bergizi, masaknya simpel dan tingkat keberhasilan memasaknya tinggi.

    Frittata sendiri sebenarnya adalah makanan berbahan dasar telur yang berasal dari Italia yang digoreng (fried). Bentuk dan isinya mirip dengan omelet. Hanya saja adonan telur resep ini dipanggang dalam loyang muffin sehingga disebut frittata muffin.

    Untuk resep ini ada beberapa bahan yang saya tambahkan, ada pula yang tidak saya pakai. Bisa juga diutak atik sesuai selara dan keberadaan bahan yang ada di rumah. Hanya saja telur sebagai bahan utamanya harus ada ya, namanya juga telur panggang hehehe.

    Supaya lebih mudah, bahan-bahan frittata saya siapkan sore sebelumnya, jadi di pagi hari tinggal siapkan adonan telur, tumis dan panggang. Total waktu yang diperlukan sekitar 45 menit saja.

    Mau coba juga? Ini dia resepnya. Kalau mau resep asli bisa langsung meluncur ke sini ya. Di sana juga ada video pembuatannya. Selamat menikmati!

     

    Bahan:

    1 sdm olive oil.
    1/2 bawang bombay, potong dadu
    1/2 paprika, potong dadu
    100 gr jamur kancing, iris tipis
    100 gr dada ayam, potong dadu
    6 butir telur
    2 sdm susu cair
    3 sdm keju parut
    Garam, merica

    Cara Pembuatan:

    1. Panaskan oven dalam suhu 175• C
    2. Olesi loyang muffin dengan minyak
    3. Kocok telur dengan susu cair, garam dan merica
    4. Tumis bawang bombay sampai harum, masukkan paprika, jamur dan ayam. Masak sampai matang.
    5. Tuang 1 sdm tumisan ke dalam loyang muffin
    6. Tuang telur sampai loyang muffin penuh
    7. Taburi keju parut
    8. Panggang selama 15-17 menit
    9. Setelah 5 menit lepaskan frittata dari loyang. Siap dinikmati.

    Untuk 8 porsi
    Diadaptasi dari: Health.com

  • Family Health

    Ringankan Gejala Flu dengan Essential Oils

    Mengalami gejala flu dan selesma atau yang biasa dikenal sebagai common cold pasti bukan hal yang menyenangkan. Hidung tersumbat atau justru nggak berhenti meler, tenggorokan gatal, kadang juga disertai demam yang seringkali bikin susah tidur. Bagi orang dewasa saja kondisi ini sangat mengganggu ya apalagi jika dialami oleh batita yang ngomong aja belum lancar sehingga dia nggak bisa mengutarakan apa yang dirasakan seperti Keenan beberapa minggu yang lalu.

    Meski dia masih aktif di siang hari tapi di malam hari jadi susah tidur karena hidungnya tersumbat. Padahal supaya cepat sembuh, Keenan perlu banyak istirahat. Belum lagi virusnya bisa nularin seisi rumah yang kenyataannya terjadi hanya dua hari setelah Keenan mulai pilek, papanya pun ikut sakit.

    Seperti biasa untuk gejala flu yang disebabkan oleh virus, meski nggak tega lihat anaknya nggak nyaman, saya berusaha untuk nggak ngasih obat kecuali paracetamol ketika demam. Saat Keenan mulai pilek, suami pun menyarankan supaya saya sering-sering ngasih Keenan honey lemon suam terutama setiap bangun tidur untuk meningkatkan imunitasnya. Selain itu setiap mau tidur saya ajak Keenan berendam air hangat untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya supaya dapat tidur lebih nyenyak.

     photo F7319C61-C239-4719-9C4E-A9BD9B6182F1_zpsphyekndw.jpg

    Sayangnya kedua hal itu masih belum bisa mengurangi gejala flunya Keenan. Akhirnya saya menggunakan diffuser Young Living yang belakangan jarang dipakai karena anak-anak sudah jarang sakit. Seperti biasa tiap ada yang mengalami gejala flu, saya meneteskan 3 oils andalan untuk pilek, yaitu lemon, peppermint dan thieves dalam diffuser tiap waktu tidur siang dan malam, masing-masing 4 tetes.

    Saya pilih ketiga oil itu karena lemon berfungsi untuk meningkatkan vitalitas dan energi jika didifuse dan dihirup. Juga mengandung antivirus yang dapat membunuh kuman-kuman dalam udara. Bermanfaat sekali saat ada anggota keluarga yang sakit kan.

    Peppermint berguna untuk melegakan pernafasan dan mengencerkan dahak. Sedangkan thieves berfugsi menjaga daya tahan tubuh serta membersihkan ruangan dari bakteri dan kuman.

    Alhamdulillah, aroma lemon, peppermint dan thieves yang didifuse sekaligus bisa membantu melegakan pernafasan dan membuat tidur lebih nyenyak. Nggak cuma untuk Keenan tapi juga mamanya hihihi.

    Selain didifuse, campuran ini juga saya oleskan di telapak kaki anak-anak terutama pada bagian bawah jari kakinya sambil dipijat lembut untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi demam.

    Karena campuran lemon, peppermint dan thieves paling sering saya gunakan baik didifuse atau dioles, saya mencampur ketiga oil ini ke dalam satu botol kosong yang sudah disteril dengan perbandingan 1:1:1 menggunakan pipet bersih.

    Cara ini memudahkan saya saat ingin menggunakan dan tentu lebih praktis membawa satu botol ke mana-mana daripada 3 botol sekaligus ya. Apalagi saat cuaca nggak menentu di Brunei seperti sekarang. Tiap pulang sekolah saya oles ke telapak kaki kakak Cinta untuk menjaga imunitasnya sampai Keenan benar-benar sembuh.

    Alhamdulillah dalam tiga hari, gejala selesma Keenan sudah berkurang. Meskipun memerlukan waktu hampir seminggu sampai benar-benar sembuh, setidaknya Keenan lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak. Sayangnya saya kurang rajin ngedifuse dan mengoleskan oil-oil ini ke suami sehingga common cold yang dia alami lebih lama sembuhnya meski sudah minum obat bebas.

    Oya, essential oils ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat ya. Bagi saya dan keluarga, minyak-minyak ini hanya berguna untuk meringankan gejala penyakit. Kalau sakit terus berlanjut tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

  • Movies & Music, Parenting

    Inside Out: Ketika Emosi Punya Perasaan

    Jujur aja meski berkali-kali lihat trailernya di Disney Channel awalnya saya nggak tertarik untuk nonton film terbaru dari Disney Pixar ini. Apalagi baca resensinya di IMDB banyak yang ngasih kurang dari 5 bintang, bahkan ada yang 1! Beberapa top review bilang film ini membosankan, nggak seperti film-film Disney Pixar yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa film ini bukan untuk anak-anak dan masih banyak kritikan lain.

    Tapi karena di minggu pertama penayangannya di Indonesia –yang kebetulan bertepatan dengan waktu penayangan di Brunei– banyak yang posting nonton Inside Out dan rata-rata bilang film yang dibintangi oleh Amy Poehler dan Phyllis Smith ini bagus, saya pun tergoda untuk nonton. Biar kekinian gitu lah.

    Karena rating film IO adalah PG1 saya coba cek dulu di Parents Guide for Inside Out di IMDB untuk mengetahui apakah ada yang kurang sesuai ditonton oleh anak seumur Cinta. Setelah yakin semuanya cukup aman baru deh saya mengajak kakak Cinta untuk movie date nonton film Inside Out di PSB Dualplex Seria.

    Dan ternyata film ini menguras air mata, sodara-sodara. Asli mulai dari 15 menit film ditayangkan sampai akhir berkali-kali saya harus diam-diam mengusap mata yang basah karena terharu melihat adegan-adegan di dalamnya.

     photo AC4D118E-2DB2-473B-9D70-E1FDF6437650_zpskgfrjgru.jpg

    Cerita dimulai saat Riley baru lahir dan muncul Joy yang mengontrol perasaannya bersama dengan keempat rekannya Sadness, Anger, Fear dan Disgust. Kemudian waktu pun bergulir dengan menampilkan Riley yang tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, punya hubungan emosional yang erat dengan ortunya, suka hoki dan melakukan hal-hal konyol berkat dominasi Joy, sampai suatu saat Riley harus pindah ke San Fransisco bersama ayah dan ibunya.

    Di sinilah konflik perasaan mulai muncul. Joy, Sadness, Anger, Fear dan Disgust berganti-ganti memainkan peran pada emosi Riley yang harus beradaptasi pada banyak hal. Rumah baru, moving van yang nggak kunjung datang, sekolah baru dan pekerjaan ayah yang menyita waktunya.

    Kebingungan menghadapi keadaan ini, Joy berusaha mengontrol perasaan, ia setengah memaksa teman-temannya untuk selalu bergembira. Joy meminta Fear untuk membuat daftar hal buruk yang bisa terjadi pada hari pertama sekolah dan berusaha mengantisipasinya. Bahkan ia berusaha mengisolasi Sadness yang beberapa kali membuat Riley sedih. Joy ingin Riley selalu senang apalagi saat Ibu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung karena pada kondisi yang penuh tekanan seperti ini keceriaan Riley memberikan semangat bagi orangtuanya.

    Tapi saking inginnya Joy membuat Riley merasa bahagia, kecelakaan pun terjadi. Joy dan Sadness tanpa sengaja terlempar dari markas dan terdampar di tempat penyimpangan long term memory. Mereka pun berusaha kembali ke markas dengan membawa core memories ((The core memories are objects of major importance inInside Out. Like all memory orbs, core memories represent past events of Riley‘s life. However, they have a much greater importance than usual memories. They represent key moments that have defined Riley’s current personality. Core memories appear brighter than any other memory and power each Island of Personality. – source: Pixar Wikia)) .

    Dalam perjalanan ini Joy dan Riley menyaksikan bagian-bagian masa lalu Riley yang membentuk kepribadiannya runtuh satu persatu. Sementara di markas keadaan semakin memburuk karena Fear, Anger dan Disgust kebingungan dan kendali emosi membuat Riley melakukan hal-hal di luar kebiasaannya.

    Kondisi inilah yang saya sadari sering muncul dalam perilaku Cinta saat ia harus menghadapi pengalaman baru atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Perubahan kepribadian dan perilaku yang tidak biasa. Seringkali saya bilang meminta ia untuk tetap ceria, nggak terima saat dia merasa sedih atau marah, bahkan takut. Padahal semua perasaan itu ya harus diterima apa adanya.

    Kita nggak bisa terus-menerus menekan dan menyembunyikan kesedihan, nggak bagus juga menahan marah dan takut. Konon merepresi perasaan negatif ini akan membuat kita mudah sakit ya.

    Ternyata boleh kok merasa sedih, marah dan takut, hanya saja harus disalurkan dalam perilaku yang aman dan nyaman.

    Saat berduka boleh sedih dan menangis karena itu akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dilakukan oleh Sadness ketika Bing Bong merasa sedih. Alih-alih mengabaikan kesedihannya seperti yang dilakukan Joy, Sadness berempati dan menggali kesedihan Bing Bong sambil duduk di sampingnya sampai Bing Bong merasa lega. Persis pekerjaan psikolog.

    Film ini benar-benar jadi pengingat bagi saya. Setelah beberapa waktu lalu membaca cuplikan buku “Kata Siapa Tidak Boleh Marah” karya Zhizhi Siregar di Instagram fufuelmart tentang perbedaan reaksi anak ketika ia marah dan diabaikan dengan dipeluk saat ia merasa marah. Kali ini saya diajari untuk menerima perasaan sedih. Tahu nggak benang merahnya adalah pada acceptance.

    Menerima dan mengenali perasaan diri kita dan anak adalah hal yang penting. Sesungguhnya yang diperlukan saat kita berada pada kondisi yang tidak nyaman adalah, “Hey, saya mengerti kamu sedih/marah/takut/kecewa. Wajar kok kamu merasa seperti ini. Saya juga pasti akan merasakan hal yang sama,” plus pelukan hangat. Seringkali sebuah pelukan erat tanpa kata-kata saja sudah bisa mengungkapkan hal tersebut. Dan itu cukup.

    Buat mahasiswa psikologi wajib banget deh nonton ini. Kalian akan tahu tentang short term memories, long term memories, subconcious, sampai imaginary friend yang selama ini nampak abstrak. Buat para orangtua film ini bagus untuk memahami kondisi emosi anak. Sedangkan untuk anak-anak, mereka akan terhibur dengan cerita penuh warna, mengetahui pulau-pulau yang ada dalam peta emosi mereka. Cinta pun terpesona sambil bilang, “Is this what really happen inside my brain?”

    Bahkan dia bisa merecall salah satu pulau ketika kami bepergian hari Minggu kemarin dan Keenan asik menunjuk-nunjuk keluar mobil sambil mengoceh, “Dinosaurs.” Saat saya dan papanya mengomentari hal tersebut, Cinta berujar, “He’s imaginating you know. Kids do that.” “Oh iya, seperti Imagination Land-nya Riley ya, Kak.” “Yes, it’s a fun land,” jawabnya.

    9 bintang deh buat film Inside Out.

    Kalau menurut kalian bagaimana?

    1. Parental Guidance Suggested: Parents urged to give “parental guidance.” May contain some materials parents might not like for their young children []
  • Relationship

    Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

    Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

    Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

    Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

    Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

    Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

    “Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

    Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

    Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

    • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
    • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
    • Mampu berpikir positif dan kompromi.
    • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
    • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
    • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
    • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

    Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

    __________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

    Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

    Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

    Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

    Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

    Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

    1. Biaya
      Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
    1. Omongan orang.
      Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
    1. Merasa seperti orang tua tunggal.
      Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
    1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
      Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
    2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

    Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

    Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

    Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

    __________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.