Browsing Category:

Life as Mom

  • inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall
    Parenting

    Inspirasi Hadiah Ulang Tahun Istimewa untuk Anak Perempuan

    Ulang tahun menjadi momen bahagia bagi sebagian besar orang, tak terkecuali untuk anak-anak. Sudah bisa dibayangkan betapa gembiranya anak-anak ketika mendapatkan hadiah di hari istimewanya. Selain mempertimbangkan harga hadiah yang akan diberikan, hadiah tersebut juga harus bermanfaat bagi anak-anak.

    Sering bingung memilihkan hadiah ulang tahun untuk anak perempuan?

    inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall

    Beberapa ide berikut ini tentu bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat bagi kita :

    Perlengkapan Sekolah

    Anak perempuan yang sudah memasuki usia sekolah pasti membutuhkan perlengkapan sekolah untuk menunjang aktivitasnya. Tas ransel, alat tulis, dan meja belajar mini tentu akan membuatnya makin bersemangat saat belajar. Jangan lupa memilihkan perlengkapan sekolah dengan tokoh kartun favoritnya agar anak-anak merasa terkejut ketika menerima hadiah yang ia sukai.

    Tablet PC

    Advan PC Tablet, Tablet PC, Advan, hadiah ulang tahun untuk anak perempuan

    Karena anak-anak masa kini sudah mengenal internet, tablet PC juga bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat. Aneka koleksi tablet Advan di bawah 1 juta yang ada di MatahariMall memudahkan kita untuk memberikan hadiah. Jangan lupa mencermati spesifikasi tablet PC sebelum membelinya agar tablet PC tersebut sesuai dengan kebutuhan mobile anak-anak.

    Sepeda Baru

    Sepeda akan membuat anak-anak lebih aktif bermain di luar rumah. Jika jarak rumah dan sekolah berdekatan, sepeda juga membuat anak perempuan bisa berangkat sendiri ke sekolah. Ajarkan peraturan lalu lintas sederhana pada anak supaya anak bisa mengendarai sepeda barunya dengan baik saat berada di jalan.

    Aneka Buku Cerita

    Tak sekadar membuat anak terhibur, buku cerita juga melatih kemampuan anak dalam hal menyimak dan berimajinasi. Kumpulan dongeng nusantara atau fabel populer dunia tentu disukai oleh anak-anak. Ajak pula anak untuk merawat buku-bukunya dengan benar sehingga buku tersebut tahan lama dan tak mudah rusak.

    Dekorasi Kamar Pribadi

    girl bedroom, inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift

    Menata ulang kamar anak bisa menjadi hadiah yang istimewa dan tak terlupakan. Gunakan warna-warna favorit anak, lemari dan meja belajar, seta ranjang baru untuk membuat suasana kamar anak lebih istimewa. Selanjutnya, ajaklah anak untuk menjaga kebersihan kamar pribadinya dengan baik setiap hari.

     

    Sumber foto:

    Pixabay.com, MatahariMall.com, House.rarevancouver.com

  • arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting
    Blogger Profiles, Parenting

    Tips Mengajak Anak Berkomunitas Oleh Susi Ernawati

    Oke, peringatan hari Kartini sudah lewat 2 minggu yang lalu. Menyisakan foto-foto bocah-bocah lucu mengenakan aneka pakaian daerah atau kostum profesi yang masih rajin beredar di media sosial. Serta perdebatan tiada akhir tentang kenapa Kartini yang dipilih pemerintah untuk menjadi simbol perjuangan wanita Indonesia. Kenapa bukan Cut Nyak Dien yang ditakuti penjajah, kenapa bukan Dewi Sartika yang memiliki beberapa Sakola Istri untuk perempuan, kenapa bukan Martha Christina Tiahahu yang turun langsung ke medan perang, kenapa bukan pahlawan nasional wanita lainnya yang jasanya nyata demi kemerdekaan Indonesia.

    Well, karena Kartini menurut saya mewakili banyak perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan cerdas, bercita-cita tinggi, memiliki kemauan kuat tapi terpaksa tunduk pada adat dan peran domestik. Kartini berjuang dengan caranya sendiri dalam keterbatasannya sebagai seorang anak yang berbakti, istri yang mengabdi pada suaminya, as a devoted mother (for her step children)And, she’s a writer. Kartini menuliskan semua kisahnya, impian dan isi hatinya lewat surat kepada sahabat-sahabatnya. Meski tak semua impiannya menjadi nyata karena ia meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, seperti juga yang banyak terjadi pada perempuan di Indonesia, surat-surat tersebut kemudian menjadi legacynya. Menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Bahwa meski tetap tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti ia akan berhenti bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bahwa tidak harus mengangkat senjata untuk menjadi pahlawan.

    Kartini adalah kita. Para ibu yang menulis, berbagi inspirasi kepada orang lain. Para ibu yang di sela waktu luangnya mengabdikan diri untuk kegiatan-kegiatan sosial. Kartini adalah Susi Ernawati. Seorang blogger dari Jepara, founder dan admin grup Mompreuner Indonesia, penggagas beberapa gerakan sosial di Jepara dan seorang istri dan ibu dari 2 orang anak lelaki.

    SUSI ERNAWATI SUSINDRA

    Sebagai seorang blogger, kiprah Susindra, begitu beliau dikenal, tak perlu diragukan lagi. Lifestyle blog ‘Cakrawala Susindra‘ miliknya telah mencapai Alexa Rank di angka 390ribuan dalam waktu 1,6 tahun setelah domain http://susindra.com diluncurkan. Nilai DA/PAnya pun berada di angka cukup bagus yaitu 30 dan 41 dengan total page views mendekati 1,7juta.

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    Selain Cakrawala Susindra, Susi juga mengelola beberapa blog lain serta menjadi admin di komunitas Warung Blogger dan founder merangkap koordinator Blogger Jepara Community. Dalam blognya, Susi banyak sekali mengulas tentang kegiatan atau tempat-tempat menarik di Jepara. Karena pengetahuannya yang luas tentang kabupaten tercintanya dan kefasihannya berbahasa Perancis, Susi juga sering menjadi pemandu bagi turis atau peminat furniture asal Perancis.  

    Baca Juga: Siapa Susindra

    Ia juga aktif di berbagai kegiatan sosial di Jepara, salah satunya adalah Gerakan Pungut Sampah. Tak hanya itu, kesibukan sehari-harinya selain mengurus rumah tangga adalah mengelola toko furniture Susindra Furniture. Benar-benar contoh nyata Kartini masa kini yang bermanfaat bagi sekitarnya ya.

    Saat aktif berkomunitas, tak jarang Susi mengajak kedua buah hatinya Destin dan Binbin, apalagi jika acara tersebut berlangsung di akhir pekan. Jadi sekali dayung dua pulau terlampaui, yaitu melakukan kegiatan sosial sambil menikmati waktu berkualitas bersama anak-anak. Selama ini, anak-anak Susi dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan hati riang. Dan menurut penghobi kerajinan tangan ini, ia memang sengaja melibatkan anak-anak agar kelak mereka menjadi pribadi yang ramah dan pandai berorganisasi.

     

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    The Susindra. Sumber foto FB susi.susindra

    Tapi gimana sih caranya supaya anak mau mengikuti kegiatan orangtuanya berkomunitas? Kan selama ini kegiatan anak-anak identik dengan bermain dengan gadget, jalan-jalan di mall, menelusuri tempat wisata di luar atau dalam kota atau paling banter ya nonton tv. Tips berikut ini mungkin bisa kita ikuti:

    1. Kenali Kepribadian Anak

    Sebelum kita mengajak anak mengikuti kegiatan komunitas yang sebagian besar anggotanya orang tua, sebaiknya kita kenali dulu usia dan kepribadian anak kita. Anak yang outgoing mungkin bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sedangkan anak introvert dan pemalu membutuhkan pendampingan lebih lama untuk dapat merasa nyaman dalam komunitas kita.

    2. Pilih Kegiatan yang Ramah Anak

    Nggak semua kegiatan komunitas yang harus dihadirinya, Susi mengajak anak-anak. Destin dan Binbin hanya ikut kegiatan seperti piknik atau tadabur alam yang diadakan oleh Folkom (Forum Lintas Komunitas) atau acara yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional Jepara yang selalu berorientasi pada anak, seperti Play Day for Kids with Morinaga Chil-Go. Kegiatan yang menyenangkan seperti ini dapat membuat anak-anak ikut dengan senang hati dan mendapatkan pengalaman berharga.

    3. Beri Kesempatan Anak Bermain dengan Teman-Temannya

    Meskipun Susi kerap memanfaatkan kegiatan sosial dengan komunitasnya sebagai family time, ia tetap memberikan waktu kepada anak-anak untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan teman-teman sebaya mereka di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian anak-anak dapat menikmati dunianya sendiri.

    Nah, ternyata nggak susah kan mengajak anak-anak berkegiatan dengan komunitas kita? Yuk, kita coba.

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • pra remaja, anak pra remaja,
    Blogger Profiles, Parenting

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol dengan teman baik saya Shelvy Waseso tentang suka duka membesarkan anak-anak gadis kami yang beranjak remaja. Karena Air berusia lebih tua 2 tahun dari Cinta, tentu saya yang lebih banyak belajar kepada Vei. Dari perbincangan itu, terpikir untuk membuat blogpost tentang bagaimana caranya supaya kita tetap dekat dengan si pra remaja. Tapi, karena kesibukan, ide itu menguap begitu saja, sampai saya mengunjungi blog elisakaramoy.com.

    Pada blog yang dimiliki oleh Mutia Erlisa Karamoy ini, saya menemukan sebuah cerita menarik tentang hobi terbaru putra sulungnya yang berusia 12 tahun. Dalam postingan yang berjudul Nak, Apa Sih Menariknya Klakson Bus Telolet?, Mutia, panggilan akrab ibu beranak 3 ini, bercerita tentang tren yang sedang kekinian di kalangan anak pra remaja saat ini, yaitu merekam aneka klakson bus dan mengunggahnya di akun instagram mereka. Menarik juga ya? 

    Ternyata, bukan hanya cerita tersebut yang membuat saya betah berlama-lama di blog penulis lepas yang juga berprofesi sebagai ghost writer ini. Karena saya lebih sering browsing menggunakan telepon genggam, blog yang responsive atau mobile friendly tentu lebih nyaman dibaca seperti blog elisakaramoy.com ini. Tulisan-tulisan yang ada di dalamnya juga diramu dengan apik, sehingga nggak membosankan meski cukup panjang. Seperti cerita tentang klakson bus itu, saya bisa membayangkan anaknya Mutia berlari-lari bersama teman-temannya mendatangi bus yang terparkir di dekat perumahan mereka.

    Tampilan blog Mutia juga manis dan sederhana. Meski menggunakan theme bawaan dari blogspot, nggak terkesan kaku. Kebetulan juga kapan hari ada teman yang ingin membuat blog tapi bingung mengutak-atik tampilan blognya supaya nggak kaku. Nah, sepertinya saya akan menyarankan supaya dia belajar dari Mutia aja ya.

    elisa karamoy, lifestyle blogger, blogger perempuan, indonesia blogger

    Kembali ke cerita klakson bus, saya pun jadi teringat ide membuat blogpost tentang mengasuh anak pra remaja dan akhirnya menghubungi Mutia untuk meminta saran-sarannya. Senangnya, beliau pun memberikan respon positif, sehingga tulisan ini akhirnya selesai juga.

    Apa sih menariknya membahas tentang hubungan orangtua dengan ABG? Well, menurut saya, usia pra remaja yang berada di rentang 10-12 tahun ini cukup tricky. Di satu sisi mereka sudah nggak bisa lagi disebut anak-anak, bahkan mungkin ada yang sudah memasuki akil baligh. Di sisi lain, belum cukup dewasa untuk diberi kebebasan lebih seperti remaja pada umumnya. Nanggung gitulah.

    Anak-anak pra remaja ini biasanya mulai mengalami perubahan hormon yang besar sebagai proses yang berujung pada kematangan seksual, dan sebagai mama, kita tahu dong efek perubahan hormon ini bagaimana. Kalau tiap bulan kita mengalami mood swing dan merasa labil karena efek pre menstruasi syndromeya kira-kira begitulah yang sedang mereka alami, tentu dengan kadar yang berbeda dan rentang waktu yang lebih panjang. 

    Tekanan dari teman-teman sepermainan, keinginan mereka untuk mandiri, kurang fokus dengan keluarga seringkali membuat perilaku abege kita berubah. Hal ini kerap jadi konflik antara ortu dan anak, sehingga nggak jarang akhirnya papa dan mama memilih untuk menjaga jarak dengan anak baru gedenya. Padahal, di masa seperti ini, anak membutuhkan rumah yang aman dan nyaman sebagai landasan mereka untuk melebur ke dunia luar yang menarik sekaligus menakutkan bagi mereka.

    Dan satu-satunya cara supaya anak dapat melalui masa pra remaja ini dan menciptakan landasan yang kokoh bagi masa remaja yang hadir setelahnya, adalah dengan mempertahankan ikatan yang kuat dengan mereka. Untuk itu, meskipun sebagai blogger dan penulis ia aktif di aneka kegiatan yang melibatkan blogger dan suka berkomunitas di Emak Blogger, Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Komunitas Ummi Menulis, Mutia selalu berusaha supaya tetap dekat dengan anak-anaknya yang tengah dan hendak memasuki usia pra remaja dengan cara seperti berikut ini:

    pra remaja, anak pra remaja,

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Melek Teknologi

    “Anak saya dekat dengan saya karena saya tahu sedikit banyak tentang teknologi, hal yang menarik bagi remaja.”

    Anak sekarang atau yang sering disebut generasi digital, bisa dibilang tumbuh besar dengan perkembangan teknologi. Mulai dari tv, komputer, telepon genggam, tablet, game console dan masih banyak lagi. Mereka juga sangat akrab dengan media sosial meski sebagian besar memberikan syarat usia minimum 13 tahun bagi seseorang untuk memiliki akun media sosial.

    Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal bahkan kalau perlu ikut update dengan perkembangan dunia digital ini. Nggak perlu sampai menjadi ahli tapi minimal kita bisa jadi tempat bertanya bagi anak. Seperti Mutia yang nggak segan belajar tentang teknologi secara otodidak sebagai efek samping sebagai blogger dan penulis. 


    pre remaja, parenting, generasi digital, orangtua melek teknologi

    Kenali Teman-Temannya

    “Saya berusaha kenal dengan teman akrabnya. Kadang teman-temannya saya suruh main ke rumah. Biarin deh ribut ngobrol, yang penting saya bisa memantau perilaku dan cara bergaul mereka.”

    Pada usia ini, anak-anak biasanya lebih dekat dengan peer groupnya atau bahasa gaulnya, teman sepermainan. Untuk itu usahakan kita selalu mengenal teman-teman mereka, bahkan kalau perlu kita berteman juga orangtuanya. Tapi tentu tidak bijaksana melarang anak kita bergaul dengan teman tertentu hanya karena orangtua atau lingkungannya kurang baik. Justru ini menjadi kesempatan kita dan anak untuk belajar menerima orang lain dengan tangan terbuka dan hati yang hangat. Untuk itu, anak harus dibekali landasan yang kuat terlebih dahulu supaya nggak mudah terjerumus ke dalam lingkungan yang negatif.

    Selain itu, menjadikan rumah kita markas atau tempat berkumpul anak dan teman-temannya juga dapat menjadi cara supaya kita tetap dekat dengan anak. Meskipun rumah kita jadi berisik dan berantakan, dengan cara ini bisa jadi teman anak-anak pun dekat dengan kita. Sehingga kita dapat memantau mereka atau mendapatkan informasi dari temannya tentang hal-hal yang mungkin nggak diberitahukan anak ke kita.

    Stay Connected


    “Menurut saya yang paling penting (kita) harus dekat dengan si ABG. Sering ngobrol layaknya teman biar bisa menjajaki dunianya.”

    Dengan cara makan malam bersama sambil mendengarkan cerita-ceritanya di sekolah hari ini. Tahu nggak sih, mom, anak yang terbiasa makan bersama keluarga memiliki resiko lebih rendah dari menggunakan narkoba, minum alkohol, melakukan hubungan seks di usia dini dan mengalami depresi atau kecemasan. 

    Manfaatkan juga waktu sebelum tidur untuk ngobrol dengan ABG kita, biasanya saat santai seperti itu anak lebih mudah untuk cerita. Tapi berusahalah jadi pendengar yang baik, ya, Mom. Kalau mereka bercerita tentang sesuatu yang kita nggak suka jangan langsung dihakimi. Nanti bisa-bisa mereka malas ngobrol lagi sama kita.

    Nah, itu dia beberapa saran dari Mutia. 

    Bagaimana dengan sahabat Pojok Mungil? Apa cara yang mama atau papa lakukan supaya tetap dekat dengan anak di usia pra remajanya? Sharing di kolom komentar, yuk.

  • muffin, banana muffin, muffin pisang, banana yoghurt muffin, muffin pisang dengan yoghurt
    Recipe

    Resep Banana Muffin Yang Lembut dan Mudah

    Tanggal 23 Februari kemarin suami dan anak-anak libur kerja dan sekolah karena ada peringatan National Day Brunei. Karena kebanyakan toko dan restoran tutup setengah hari, saya pun nggak bisa memaksa mereka untuk sarapan di luar meskipun isi kulkas kosong dan sedang kehabisan ide mau bikin apa untuk sarapan.

    Tiba-tiba teringat stok pisang yang sudah mulai terlalu matang. Biasanya sih saya masukin freezer untuk jadi campuran green smoothies. Tapi karena akhir-akhir ini lagi malas bikin smoothies jadinya pisang itu harus segera diolah supaya nggak terbuang sia-sia. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat banana muffin dan menemukan salah satu resep muffin yang konon lembut karena menggunakan yoghurt sebagai salah satu bahannya. Kebetulan banget ada stok yoghurt di rumah yang mendekati masa kadaluarsa.

     photo 2_zpsvdblhql5.jpg

    Saya suka bikin muffin karena mudah dan praktis, nggak perlu pake mixer dan timbangan. Bahan-bahan biasanya cukup ditakar dengan cangkir (cup) dan diaduk manual pakai sendok kayu atau whisker, sehingga anak-anak pun bisa ikut bantu.

    Namun kali ini saya lagi pengen me time sambil baking. Tsah, gaya banget ya, me timenya baking. Tapi emang iya sih, pernah ada masanya bikin kue itu jadi salah satu stress relieve saya. Asal nggak direcokin anak-anak hahaha. Jadi ya akhirnya bikinnya diem-diem aja di dapur sementara mereka lagi asik nonton tv sama bapaknya.

    Hasil akhirnya, si banana muffin ini moist dan enak. Apalagi ditambah taburan keju parut di atasnya. Manis gurih dan ringan, cocok buat sarapan. Dan karena sudah pakai yoghurt, muffin ini jadi lebih sedikit menggunakan minyak dan tanpa butter sehingga lebih sehat. Yuk, coba bareng untuk sarapan hari Minggu besok. Ini resep yang saya adaptasi dari food.com.

    [yumprint-recipe id=’1′]

  • baby blues, post partum depression, kehamilan
    Family Health

    Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

    Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

    fakta baby blues, fakta postpartum depression

    Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

    Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

    Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

    Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

    Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

    Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

    Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

    Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

    baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

    Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

    Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

    Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

    Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

    Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

    Olahraga

    olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

    Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

    Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

    8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

    Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

    Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

    Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

    Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

    “Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

    Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

    Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

    Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

    Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

    Pelajari Teknik Relaksasi
    relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

    Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

    Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

    Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

    Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

    Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

    Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

    Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

  • Recipe

    Taco Ala Ala Nan Sedap

    Kenapa namanya Taco Ala-Ala sih?

    Karena emang bikinnya apa adanya dan serba instan hahaha.

    taco, menu sarapan, menu brunch

    Maklum, nggak pernah bikin taco sebelumnya, dan entah dapat angin dari mana, anak gadis yang keseringan nonton acara makan dan masak-masak di saluran tivi luar negeri itu minta dibikinin sarapan pake Taco.

    Untungnya di Supa Save sudah ada Taco Shells siap pakai, jadi tinggal beli bahan-bahan isiannya aja. Tadinya saya sudah berniat bikin bahan isian sendiri, sampai cari-cari resep di google. Eh, ternyata waktu beli si taco shells ada aja dong bumbu instannya. Ya udah, angkut ajalah hehehe.

    Ternyata dengan serba instan, taco buatan saya disukai sama Cinta. Keenan sih cuma suka ngemilin taco shellnya. Apalagi dengan isian, sayuran dan keju yang saya siapkan di piring-piring tersendiri membuat Cinta semangat meramu isi taco sesuai seleranya. Alhamdulillah yaaa…

    Tapi sebenarnya sih kalau liat resep-resep yang ada di google, nggak susah kok bikin isian taco tanpa bumbu instan. Cuma ya kalau ada yang mudah kenapa enggak. Apalagi untuk menu sarapan yang memang harus disiapkan secara cepat. Mungkin lain kali saya bakal belajar buat isian sendiri tanpa bumbu instan.

    Yah, siapa tahu ada yang terinspirasi untuk bikin taco ala saya. Ini dia resepnya:

    TACO ALA ALA

    Bahan:

    1 boks Taco Shell siap pakai isi 12 (saya pakai 6 saya untuk 6 porsi taco), siapkan sesuai petunjuk dalam boks

    1 bungkus bumbu instan Tacos Garlic & Paprika (saya pakai 1/2 bungkus)

    200 gram daging giling (blansir dulu dengan air mendidih sebelum dimasak)

    1/2 buah bawang bombay iris dadu

    1 genggam paprika hijau

    1 genggam wortel parut

    2 sendok makan jagung manis

    50 ml air

    Garam gula merica secukupnya

    Lettuce secukupnya iris tipis

    Timun secukupnya iris dadu

    Keju cheddar parut secukupnya

    taco, resep, menu sarapan,

    Cara Membuat:

    1. Panaskan sedikit minyak dalam penggorengan, masukkan bawang bombay. Tumis sampai harum.
    2. Masukkan daging giling, tumis sampai berubah warna.
    3. Masukkan wortel parut, paprika dan jagung. Aduk rata.
    4. Tambahkan bumbu instan Tacos Garlic & Paprika
    5. Tuang air, aduk rata dan biarkan sampai air mengering.
    6. Sajikan isian taco dengan lettuce, timun, keju cheddar dan tentu saja taco shells.

    Selamat menikmati.

  • bola nasi keju, nasi, keju, masak dengan anak, cooking with children, resep, camilan anak
    Kids Activities, Recipe

    Bola Bola Nasi Keju

    Halo…

    Kembali lagi dalam seri Cooking with Cinta. Kali ini kami mau bikin camilan berbahan nasi dan keju. Kenapa memilih itu? Karena anak-anak suka banget yang namanya keju. Kadang kalau lagi nggak doyan makan, dikasih nasi yang ditaburi keju parut aja udah deh lahap makannya.

    bola nasi keju, bekal sekolah, camilan anak, masak bersama anak, resep

    Biar nggak bosan ngemilin nasi dan keju dalam bentuk yang itu-itu lagi, saya coba ajak Cinta membuat bola-bola nasi keju. Caranya gampang sekali. Bahannya pun mudah dan takarannya bisa disesuaikan dengan selera keluarga. Anak-anak pasti bisa deh bikin sendiri. Paling cuma perlu bantuan orangtua untuk menggorengnya. Dan rasanya juga enak. Yah, semua yang pakai keju pasti enak ya hehehe. Yang jelas sih, rasanya yang ngeju tapi nggak terlalu bikin eneg membuat anak-anak suka banget ngemil ini sambil nonton tv di jam-jam nanggung antara setelah makan siang dan sebelum makan malam.

    Oya, bola-bola nasi keju ini juga bisa lho, untuk variasi bekal sekolah anak-anak. Supaya nggak repot bikinnya, siapkan aja pada malam hari. Setelah dilapisi tepung roti, bola nasi keju dapat disimpan dalam freezer selama 1 minggu. Jadi pada pagi hari tinggal dikeluarkan dari kulkas dan digoreng. Praktis kan.

    Yuk, biar nggak lama-lama langsung aja tonton tutorialnya dan contek resepnya di bawah ini.

    BOLA-BOLA NASI KEJU ALA CINTA

    Bahan:

    Nasi putih secukupnya
    Keju parut secukupnya
    1 butir telur, kocok lepas
    Tepung roti secukupnya
    Keju mozarella secukupnya (optional)
    Minyak untuk menggoreng

    Cara Membuat:

    1. Campur nasi putih dengan keju sampai rata.
    2. Letakkan 1 sendok makan nasi di telapak tangan, lalu isi dengan keju mozarella. Kemudian bentuk bola dengan keju mozarella di tengahnya. Lakukan sampai nasi habis.
    3. Lapisi bola dengan telur dan gulingkan dalam tepung roti.
    4. Goreng dalam minyak banyak yang sudah hangat sampai bola-bola nasi berwarna kekuningan.
    5. Bola-bola nasi keju siap disantap hangat-hangat.

    Catatan:

    • Kami menggunakan keju mozarella supaya ada efek keju leleh di dalamnya. Tanpa itu pun sudah enak.
    • Supaya lebih sehat, bisa juga ditambahkan wortel parut yang sudah direbus ketika mencampur nasi dan keju.
    • Tambahkan sedikit mixed herbs atau bumbu seperti oregano, basil, merica agar lebih beraroma. Saya nggak pakai karena tepung roti yang saya gunakan sudah mengandung garam, bawang putih dan bumbu-bumbu lain.

    Selamat mencoba.

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Bisa Di Mana Saja

    Ini sebenarnya very late post, kisah tentang liburan Desember kemarin waktu kami mudik sebulan ke Indonesia.

    Ceritanya, saya minta tolong mama saya untuk mencarikan tempat kursus yang punya program liburan untuk mengisi waktunya Cinta. Ya, daripada di rumah cuma nonton tv dan youtube kan lebih baik kalau bisa les gambar kek, pesantren kilat kah, les bikin robot, les renang atau kegiatan apalah yang bermanfaat gitu. Mumpung banyak waktu luang dan ada yang bisa antar jemput.

    Sayangnya, dari dua lembaga bimbingan belajar ternama yang didatangi mama, nggak ada yang menawarkan short course. Yang satu, sebut saja Kumon, bilangnya kegiatan mereka adalah aktivitas jangka panjang yang nggak bisa dipelajari cuma dengan tiga empat kali pertemuan. Ya, masuk akal sih, model-model gitu memang harus kontinyu kalau mau mendapatkan hasil yang baik.

    Sedangkan lembaga kursus yang satu lagi, yang bergerak di bidang seni, nggak secara langsung bilang bisa atau enggak. Dia cuma menanyakan nomer telepon dan berjanji akan mengabari kami lagi. Padahal saat ditelpon mama saya, dia bilangnya bisa, tapi waktu saya datang untuk daftar dan Cinta dites lalu saya bilang lagi bahwa saya hanya perlu program singkat untuk mengisi liburan, lagi-lagi cuma janji bakal ngabarin. Yang sampai saya kembali ke sini nggak pernah saya dengar kabarnya lagi.

    Sebenarnya to be fair, mbak resepsionisnya sudah menawarkan supaya saya daftar penuh aja karena tempat kursus ini cabangnya ada di berbagai negara, termasuk Brunei, jadi saya nanti bisa meneruskan ke cabang di sini setelah liburan usai. Tapi saya nggak mengiyakan karena belum tahu sistemnya yang di Brunei seperti apa. Kan rugi saya nanti kalau harus bayar biaya pendaftaran yang lumayan mahal itu dua kali hihihi #emakpelit.

    Akhirnya setelah sempat mati gaya selama beberapa waktu, saudara saya menawarkan Cinta untuk ikut les mewarnai di tempat les yang diikuti oleh anaknya. “Cuma seminggu sekali, Mbak. Murah lagi. Tinggal beli krayon sama meja gambarnya aja.”

    Berhubung anaknya mau, ya udah saya ikutin deh les mewarna di sana. Sesuai dengan saran saudara saya itu, sebelum ke tempat les mampir dulu ke toko Pelangi cari krayon Titi 48 warna dan meja gambar. Trus jemput ponakan untuk sama-sama ke tempat lesnya.

    Sesampainya di sana, ibu pengurus sanggar langsung menyambut dengan ramah, dan mempersilakan anak-anak masuk ke ruangan tempat mereka belajar. Cinta sempat kaget liat tempatnya, sambil bisik-bisik dia bilang, “I thought the place would be nicer.” Mungkin dia ngebandingin sama tempat les satunya itu. Tapi, saat pulang les, Cinta sudah nggak lagi mempermasalahkan soal tempat. Dia dengan semangat menunjukkan hasil lesnya dan mencoba bikin PRnya di rumah.

    Menurut saya yang orang awam soal seni ini, teknik mewarna yang diajarin oke juga. Selain gradasi warna, anak-anak juga belajar menentukan tentang bayangan, bagian yang harus ditebal tipiskan sampai cara mencampur warna supaya nampak natural. Gambar yang harus diwarna pun bertahap dari yang sederhana sampai rumit. Sayang sih, buku mewarnanya Cinta nggak kebawa ke Brunei jadi saya nggak punya foto hasil mewarnanya.

    sanggar lukis anak devina sidoarjo, sidoarjo, sanggar lukis anak, les menggambar, kursus mewarna

    Cinta dan Levina di Sanggar Devina Cab. Lemah Putro, Sidoarjo. Look at their happy faces.

    Setelah saya tanya-tanya, meski sederhana, ternyata tempat les itu lumayan terkenal sekabupaten Sidoarjo, cabangnya banyak. Namanya Sanggar Lukis Anak Devina. Cabang tempat Cinta dan Yasmine belajar beralamat di Lemah Putro Kelurahan no 6-8 Sidoarjo, dengan pembina Pak Rahman dan Bu Novi.

    Biaya kursusnya cukup terjangkau kok. Untuk tingkat dasar hanya perlu membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000, uang kaos Rp 65.000 dan bulanan Rp 50.000. Karena Cinta cuma ikut program liburan, bu Novinya bilang nggak perlu bayar uang pendaftaran dan beli kaos. Jadi saya hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk 4 kali pertemuan dalam sebulan. Sudah dapat 1 jilid buku mewarna lagi. Kalau perlu tambahan buku mewarna tinggal bayar Rp 5.000 per buku. Murah banget kaaaan. Bahagianya emak irit ini.

    Baca juga Berlomba Saat Libur Sekolah

    Dari Sanggar Lukis Devina ini juga Cinta bisa ikut lomba mewarnai New Era Desember yang lalu. Dan rupanya mereka juga sering mengadakan acara lomba seperti itu. Sayang sih, Cinta cuma sempat belajar 2 kali pertemuan. Tapi tetap ada ilmu yang dia dapat dan bisa terapkan sampai sekarang. Malahan yang dulunya dia nggak suka mewarnai sekarang jadi lebih telaten main gradasi warna.

    Baca juga Cinta dan Children’s Enikki Festa.

    Jadi ya pengalaman buat saya, yang namanya belajar itu bisa dari mana saja, dari siapa saja. Mungkin yang mahal dan bergengsi itu bagus tapi yang sederhana pun seringkali tidak kalah kualitasnya. Yang penting semangat belajarnya aja yang dijaga. Bener nggak?

    Hmmm, insya Allah Juni nanti mau mudik lagi. Pengen bawa Cinta belajar di Sanggar Lukis Devina lagi ah, trus belajar apa lagi ya? Ada masukan ide, mungkin?