Browsing Category:

Life as Mom

  • baby blues, post partum depression, kehamilan
    Family Health

    Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

    Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

    fakta baby blues, fakta postpartum depression

    Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

    Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

    Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

    Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

    Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

    Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

    Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

    Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

    baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

    Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

    Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

    Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

    Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

    Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

    Olahraga

    olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

    Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

    Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

    8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

    Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

    Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

    Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

    Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

    “Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

    Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

    Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

    Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

    Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

    Pelajari Teknik Relaksasi
    relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

    Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

    Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

    Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

    Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

    Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

    Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

    Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

  • Recipe

    Taco Ala Ala Nan Sedap

    Kenapa namanya Taco Ala-Ala sih?

    Karena emang bikinnya apa adanya dan serba instan hahaha.

    taco, menu sarapan, menu brunch

    Maklum, nggak pernah bikin taco sebelumnya, dan entah dapat angin dari mana, anak gadis yang keseringan nonton acara makan dan masak-masak di saluran tivi luar negeri itu minta dibikinin sarapan pake Taco.

    Untungnya di Supa Save sudah ada Taco Shells siap pakai, jadi tinggal beli bahan-bahan isiannya aja. Tadinya saya sudah berniat bikin bahan isian sendiri, sampai cari-cari resep di google. Eh, ternyata waktu beli si taco shells ada aja dong bumbu instannya. Ya udah, angkut ajalah hehehe.

    Ternyata dengan serba instan, taco buatan saya disukai sama Cinta. Keenan sih cuma suka ngemilin taco shellnya. Apalagi dengan isian, sayuran dan keju yang saya siapkan di piring-piring tersendiri membuat Cinta semangat meramu isi taco sesuai seleranya. Alhamdulillah yaaa…

    Tapi sebenarnya sih kalau liat resep-resep yang ada di google, nggak susah kok bikin isian taco tanpa bumbu instan. Cuma ya kalau ada yang mudah kenapa enggak. Apalagi untuk menu sarapan yang memang harus disiapkan secara cepat. Mungkin lain kali saya bakal belajar buat isian sendiri tanpa bumbu instan.

    Yah, siapa tahu ada yang terinspirasi untuk bikin taco ala saya. Ini dia resepnya:

    TACO ALA ALA

    Bahan:

    1 boks Taco Shell siap pakai isi 12 (saya pakai 6 saya untuk 6 porsi taco), siapkan sesuai petunjuk dalam boks

    1 bungkus bumbu instan Tacos Garlic & Paprika (saya pakai 1/2 bungkus)

    200 gram daging giling (blansir dulu dengan air mendidih sebelum dimasak)

    1/2 buah bawang bombay iris dadu

    1 genggam paprika hijau

    1 genggam wortel parut

    2 sendok makan jagung manis

    50 ml air

    Garam gula merica secukupnya

    Lettuce secukupnya iris tipis

    Timun secukupnya iris dadu

    Keju cheddar parut secukupnya

    taco, resep, menu sarapan,

    Cara Membuat:

    1. Panaskan sedikit minyak dalam penggorengan, masukkan bawang bombay. Tumis sampai harum.
    2. Masukkan daging giling, tumis sampai berubah warna.
    3. Masukkan wortel parut, paprika dan jagung. Aduk rata.
    4. Tambahkan bumbu instan Tacos Garlic & Paprika
    5. Tuang air, aduk rata dan biarkan sampai air mengering.
    6. Sajikan isian taco dengan lettuce, timun, keju cheddar dan tentu saja taco shells.

    Selamat menikmati.

  • bola nasi keju, nasi, keju, masak dengan anak, cooking with children, resep, camilan anak
    Kids Activities, Recipe

    Bola Bola Nasi Keju

    Halo…

    Kembali lagi dalam seri Cooking with Cinta. Kali ini kami mau bikin camilan berbahan nasi dan keju. Kenapa memilih itu? Karena anak-anak suka banget yang namanya keju. Kadang kalau lagi nggak doyan makan, dikasih nasi yang ditaburi keju parut aja udah deh lahap makannya.

    bola nasi keju, bekal sekolah, camilan anak, masak bersama anak, resep

    Biar nggak bosan ngemilin nasi dan keju dalam bentuk yang itu-itu lagi, saya coba ajak Cinta membuat bola-bola nasi keju. Caranya gampang sekali. Bahannya pun mudah dan takarannya bisa disesuaikan dengan selera keluarga. Anak-anak pasti bisa deh bikin sendiri. Paling cuma perlu bantuan orangtua untuk menggorengnya. Dan rasanya juga enak. Yah, semua yang pakai keju pasti enak ya hehehe. Yang jelas sih, rasanya yang ngeju tapi nggak terlalu bikin eneg membuat anak-anak suka banget ngemil ini sambil nonton tv di jam-jam nanggung antara setelah makan siang dan sebelum makan malam.

    Oya, bola-bola nasi keju ini juga bisa lho, untuk variasi bekal sekolah anak-anak. Supaya nggak repot bikinnya, siapkan aja pada malam hari. Setelah dilapisi tepung roti, bola nasi keju dapat disimpan dalam freezer selama 1 minggu. Jadi pada pagi hari tinggal dikeluarkan dari kulkas dan digoreng. Praktis kan.

    Yuk, biar nggak lama-lama langsung aja tonton tutorialnya dan contek resepnya di bawah ini.

    BOLA-BOLA NASI KEJU ALA CINTA

    Bahan:

    Nasi putih secukupnya
    Keju parut secukupnya
    1 butir telur, kocok lepas
    Tepung roti secukupnya
    Keju mozarella secukupnya (optional)
    Minyak untuk menggoreng

    Cara Membuat:

    1. Campur nasi putih dengan keju sampai rata.
    2. Letakkan 1 sendok makan nasi di telapak tangan, lalu isi dengan keju mozarella. Kemudian bentuk bola dengan keju mozarella di tengahnya. Lakukan sampai nasi habis.
    3. Lapisi bola dengan telur dan gulingkan dalam tepung roti.
    4. Goreng dalam minyak banyak yang sudah hangat sampai bola-bola nasi berwarna kekuningan.
    5. Bola-bola nasi keju siap disantap hangat-hangat.

    Catatan:

    • Kami menggunakan keju mozarella supaya ada efek keju leleh di dalamnya. Tanpa itu pun sudah enak.
    • Supaya lebih sehat, bisa juga ditambahkan wortel parut yang sudah direbus ketika mencampur nasi dan keju.
    • Tambahkan sedikit mixed herbs atau bumbu seperti oregano, basil, merica agar lebih beraroma. Saya nggak pakai karena tepung roti yang saya gunakan sudah mengandung garam, bawang putih dan bumbu-bumbu lain.

    Selamat mencoba.

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Bisa Di Mana Saja

    Ini sebenarnya very late post, kisah tentang liburan Desember kemarin waktu kami mudik sebulan ke Indonesia.

    Ceritanya, saya minta tolong mama saya untuk mencarikan tempat kursus yang punya program liburan untuk mengisi waktunya Cinta. Ya, daripada di rumah cuma nonton tv dan youtube kan lebih baik kalau bisa les gambar kek, pesantren kilat kah, les bikin robot, les renang atau kegiatan apalah yang bermanfaat gitu. Mumpung banyak waktu luang dan ada yang bisa antar jemput.

    Sayangnya, dari dua lembaga bimbingan belajar ternama yang didatangi mama, nggak ada yang menawarkan short course. Yang satu, sebut saja Kumon, bilangnya kegiatan mereka adalah aktivitas jangka panjang yang nggak bisa dipelajari cuma dengan tiga empat kali pertemuan. Ya, masuk akal sih, model-model gitu memang harus kontinyu kalau mau mendapatkan hasil yang baik.

    Sedangkan lembaga kursus yang satu lagi, yang bergerak di bidang seni, nggak secara langsung bilang bisa atau enggak. Dia cuma menanyakan nomer telepon dan berjanji akan mengabari kami lagi. Padahal saat ditelpon mama saya, dia bilangnya bisa, tapi waktu saya datang untuk daftar dan Cinta dites lalu saya bilang lagi bahwa saya hanya perlu program singkat untuk mengisi liburan, lagi-lagi cuma janji bakal ngabarin. Yang sampai saya kembali ke sini nggak pernah saya dengar kabarnya lagi.

    Sebenarnya to be fair, mbak resepsionisnya sudah menawarkan supaya saya daftar penuh aja karena tempat kursus ini cabangnya ada di berbagai negara, termasuk Brunei, jadi saya nanti bisa meneruskan ke cabang di sini setelah liburan usai. Tapi saya nggak mengiyakan karena belum tahu sistemnya yang di Brunei seperti apa. Kan rugi saya nanti kalau harus bayar biaya pendaftaran yang lumayan mahal itu dua kali hihihi #emakpelit.

    Akhirnya setelah sempat mati gaya selama beberapa waktu, saudara saya menawarkan Cinta untuk ikut les mewarnai di tempat les yang diikuti oleh anaknya. “Cuma seminggu sekali, Mbak. Murah lagi. Tinggal beli krayon sama meja gambarnya aja.”

    Berhubung anaknya mau, ya udah saya ikutin deh les mewarna di sana. Sesuai dengan saran saudara saya itu, sebelum ke tempat les mampir dulu ke toko Pelangi cari krayon Titi 48 warna dan meja gambar. Trus jemput ponakan untuk sama-sama ke tempat lesnya.

    Sesampainya di sana, ibu pengurus sanggar langsung menyambut dengan ramah, dan mempersilakan anak-anak masuk ke ruangan tempat mereka belajar. Cinta sempat kaget liat tempatnya, sambil bisik-bisik dia bilang, “I thought the place would be nicer.” Mungkin dia ngebandingin sama tempat les satunya itu. Tapi, saat pulang les, Cinta sudah nggak lagi mempermasalahkan soal tempat. Dia dengan semangat menunjukkan hasil lesnya dan mencoba bikin PRnya di rumah.

    Menurut saya yang orang awam soal seni ini, teknik mewarna yang diajarin oke juga. Selain gradasi warna, anak-anak juga belajar menentukan tentang bayangan, bagian yang harus ditebal tipiskan sampai cara mencampur warna supaya nampak natural. Gambar yang harus diwarna pun bertahap dari yang sederhana sampai rumit. Sayang sih, buku mewarnanya Cinta nggak kebawa ke Brunei jadi saya nggak punya foto hasil mewarnanya.

    sanggar lukis anak devina sidoarjo, sidoarjo, sanggar lukis anak, les menggambar, kursus mewarna

    Cinta dan Levina di Sanggar Devina Cab. Lemah Putro, Sidoarjo. Look at their happy faces.

    Setelah saya tanya-tanya, meski sederhana, ternyata tempat les itu lumayan terkenal sekabupaten Sidoarjo, cabangnya banyak. Namanya Sanggar Lukis Anak Devina. Cabang tempat Cinta dan Yasmine belajar beralamat di Lemah Putro Kelurahan no 6-8 Sidoarjo, dengan pembina Pak Rahman dan Bu Novi.

    Biaya kursusnya cukup terjangkau kok. Untuk tingkat dasar hanya perlu membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000, uang kaos Rp 65.000 dan bulanan Rp 50.000. Karena Cinta cuma ikut program liburan, bu Novinya bilang nggak perlu bayar uang pendaftaran dan beli kaos. Jadi saya hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk 4 kali pertemuan dalam sebulan. Sudah dapat 1 jilid buku mewarna lagi. Kalau perlu tambahan buku mewarna tinggal bayar Rp 5.000 per buku. Murah banget kaaaan. Bahagianya emak irit ini.

    Baca juga Berlomba Saat Libur Sekolah

    Dari Sanggar Lukis Devina ini juga Cinta bisa ikut lomba mewarnai New Era Desember yang lalu. Dan rupanya mereka juga sering mengadakan acara lomba seperti itu. Sayang sih, Cinta cuma sempat belajar 2 kali pertemuan. Tapi tetap ada ilmu yang dia dapat dan bisa terapkan sampai sekarang. Malahan yang dulunya dia nggak suka mewarnai sekarang jadi lebih telaten main gradasi warna.

    Baca juga Cinta dan Children’s Enikki Festa.

    Jadi ya pengalaman buat saya, yang namanya belajar itu bisa dari mana saja, dari siapa saja. Mungkin yang mahal dan bergengsi itu bagus tapi yang sederhana pun seringkali tidak kalah kualitasnya. Yang penting semangat belajarnya aja yang dijaga. Bener nggak?

    Hmmm, insya Allah Juni nanti mau mudik lagi. Pengen bawa Cinta belajar di Sanggar Lukis Devina lagi ah, trus belajar apa lagi ya? Ada masukan ide, mungkin?

  • cheesy meatloaf, recipe, resep, daging giling, kids meal, menu favorit anak, menu sehat anak, keju
    Recipe

    Cheesy Meatloaf. Menu Mudah Favorit Anak

    Masak untuk anak-anak saya itu lumayan menantang. Pertama, karena mereka nggak suka sayur. Kedua, mereka cuma mau makan lauk dari daging ayam dan tempe (khusus Cinta). Ketiga, waktu yang ada untuk menyiapkan makanan terbatas karena tanpa bantuan asisten rumah tangga penuh waktu, selain mengurus rumah saya juga harus mondar mandir antar jemput sekolah bocah-bocah.

    Biasanya sih, kalau nggak sempat masak saya bawa aja anak-anak makan di luar atau beli makanan jadi yang mereka suka menunya. Tapi susahnya, menu yang dipesan ya itu itu aja. Padahal untuk anak seusia mereka perlu banget variasi makanan kan ya. Apalagi, belakangan nafsu makan anak-anak alhamdulillah semakin besar jadi ya sebentar-sebentar minta makan. Tekor juga kalau harus jajan melulu.

    cheesy meatloaf, menu favorit anak, menu praktis untuk anak, menu sehat anak, keju, daging giling, telur

    Sampai beberapa bulan yang lalu, saya mencoba bikin salah satu menu berbahan daging giling yang waktu itu rajin sliweran di linimasa facebook. Itu lho, yang daging giling dibentuk bola, diisi telur rebus trus digoreng kemudian dipanggang. Cinta kinda like it. Tapi dia protes waktu saya kasih tahu nama masakannya ada meatloaf-meatloafnya gitu. “But meatloaf supposed to be rectangle, Ma. Because it baked in a loaf pan, like bread. That’s why it called meatloaf. Can you make me a real meatloaf next time?” Dan, akhirnya menu meatloaf “beneran” ini jadi favoritnya.

    Favorit saya juga sebenarnya, karena bikinnya gampang meski bahannya agak banyak. Tinggal aduk-aduk trus panggang deh. Sambil nunggu selesai dipanggang, saya bisa kerjain macem-macem. Begitu selesai, langsung bisa disantap anget-anget.

    Sampai terakhir saya bikin ini, Cinta kalau disajikan menu ini pasti makannya lahap banget. Sampai nambah-nambah. Keenan juga suka sih, asal dipanggang dalam muffin tin jadi keliatan seperti camilan aja, bukan lauk. Buat saya, menu ini selain praktis juga bermanfaat sekali supaya anak-anak mau makan daging sapi karena mereka perlu asupan zat besi. Dan paling bagus kalau minumnya jus jeruk supaya kandungan vitamin C-nya membantu tubuh menyerap zat besi dengan optimal.

    Mau coba juga? Ini dia resepnya:

    CHESSY MEATLOAF

    Bahan:

    300 gr daging giling, blansir dengan air mendidih selama 2-3 menit, tiriskan dan sisihkan
    1/2 buah bawang bombay
    2 siung bawang putih
    1/2 cup tepung roti
    1 cup keju cheddar parut
    1/2 genggam keju mozarella (optional)
    1/4 cup susu cair
    1 butir telur

    cheesy meatloaf, menu favorit anak, menu praktis untuk anak, menu sehat untuk anak, resep, daging giling, oven, keju

    Bumbu:
    1 sdm saus tomat
    Garam
    Oregano
    Basil
    Merica

    Cara Membuat:
    1. Panaskan oven dengan suhu 180 derajat Celcius.

    2. Aduk rata daging giling, telur, bawang bombay, bawang putih, tepung roti, keju cheddar, mozzarella, saus tomat, susu dan bumbu-bumbu.

    3. Pindahkan ke loyang roti atau pinggan tahan panas. Panggang selama 1 jam.

    4. Sajikan hangat dengan tumis sayuran.

    Catatan:

    Untuk memenuhi kebutuhan sayuran pada anak, bisa juga tambahkan brokoli rebus yang sudah dipetik kecil atau parutan wortel ke dalam adonan sebelum dipanggang.

    Saya menambahkan keju mozzarela supaya ada efek lelehan keju di bagian atas. Tapi tanpa mozzarela pun sudah enak kok.

    cheesy meatloaf, menu sehat anak, menu favorit anak, menu praktis untuk anak, keju, daging giling, telur

    Tingkat kesulitan: Mudah
    Waktu menyiapkan: 20 menit
    Waktu masak: 1 jam

  • blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa
    Daily Stories, Parenting

    Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

    Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

    Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

    Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

    Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

    Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

    Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

    Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

    Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

    Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

    Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

    Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

    anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

    Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

    Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

    Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

    Beri Waktu Untuk Berduka

    Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

    Berhati-Hati Dalam Berbicara

    Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

    mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi

    tulisan dikutip dari parentsdotcom

    Memberikan Pelukan

    Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

    Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

    Dengan cara:

    • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
    • Bernafas dalam-dalam.
    • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
    • Positive self-talk.
    • Mendengarkan musik.
    • Membaca buku.
    • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
    • Mandi air hangat.
    • Nonton film lucu.

    Berikan Contoh Positif

    Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

    Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

    Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

  • internet safety, media sosial untuk anak, internet sehat
    Parenting

    5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah di Media Sosial

    Jangan sembarangan upload foto anak di media sosial. Begitu anjuran seorang psikolog dan pakar parenting di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri beberapa tahun lalu. Beliau bahkan menyarankan kami, para orangtua, untuk selalu meminta ijin kepada anak saat kita akan mengunggah fotonya di media sosial. Saat itu sih saya masih cuek aja. Pikir saya untuk apa sih minta ijin ke anak, kan kita mengunggah fotonya sebagai bentuk kebanggaan karena kelucuannya, kecantikannya, kepinterannya dan apalah apalah yang lain. Lagipula anaknya waktu itu masih kecil dan belum ngerti tentang media sosial kan jadi ya masih masa bodoh lah walaupun sedikit-sedikit mulai berkurang frekuensi mengunggah foto-fotonya.

    Berkurang itu dalam arti cuma yang bagus aja yang diunggah atau saat ada peristiwa yang menarik dan menurut saya perlu dibagikan ke khalayak ramai. Sebelumnya wah, hampir setiap langkahnya saya unggah ke multiply dan facebook. Mulai dari bangun tidur masih pake piyama, makan, outfit of the day, langkah pertama, lagi kelonan, ocehan pertama, lagi mandi nggak pake baju, lagi berenang, sampai akhirnya mau tidur lagi. Semua ajalah saya upload.

    Defensenya adalah untuk dokumentasi pribadi. Biar kalau filenya hilang masih ada back upnya di media sosial. Pembelaan ini bertambah ketika kami tinggal jauh dari kampung halaman. Alasannya supaya kakek nenek tante paman budenya bisa tetap mengikuti perkembangan si kecil dari jauh melalui facebook. Gitu. Masuk akal kan ya.

    Tapi semakin ke sini semakin banyak yang mengingatkan untuk lebih berhati-hati mengunggah foto-foto anak di media sosial. Apalagi dengan semakin maraknya kasus child shaming, penculikan, pedofilia, pencurian foto untuk hal-hal yang nggak senonoh dan masih banyak lagi deh. Akhirnya, lama-lama saya makin jarang upload foto anak-anak di media sosial, khususnya Facebook. Kalaupun upload, saya buat hanya dapat dilihat oleh circle tertentu, yaitu keluarga dan sahabat dekat. Dan yang saya unggah pun hanyalah foto-foto yang bersifat umum, misalnya sedang mengunjungi tempat tertentu atau sedang bersama keluarga besar.

    Nah, ketika bikin tulisan tentang hate comments kemarin, saya menemukan beberapa tulisan yang bertema foto-foto seperti apa yang sebaiknya nggak kita unggah ke media sosial. Akhirnya saya coba rangkum dan tulis di sini untuk mengingatkan diri sendiri, ini dia:

    internet safety, internet sehat, anak dan media sosial

    5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah ke Media Sosial:

    1. Anak bersama teman-temannya tanpa seijin orangtua masing-masing.
      Waktu baru pindah ke sini juga seorang teman yang berkebangsaan Jepang, yang kebetulan tetangga apartemen saya dan anaknya satu sekolah dengan anak saya selalu minta ijin sebelum mengunggah foto anak-anak lagi main bareng. Dari dialah saya tahu kalau di beberapa negara, aturan ini cukup ketat ternyata. Nggak sembarangan orang bisa mengunggah foto anaknya yang lagi berpose dengan sekumpulan anak lain. Apalagi kalau anaknya nggak dia kenal baik, seperti foto lagi main bareng di taman bermain atau teman seperjalanan yang nggak saling kenal.Hal ini bertujuan melindungi privacy orang lain. Nggak semua orangtua suka foto anaknya ada di media sosial apapun alasannya. Ada yang memang supaya anaknya nggak diekspos seperti anak-anaknya artis, ada yang mungkin sedang dalam program perlindungan saksi, ada yang mungkin lagi melarikan diri dari pasangan yang abusive dan nggak mau keberadaan mereka diketahui, dan macam-macam alasan lain.
      Solusinya ketika berada di area publik ya sebaiknya hanya mengambil foto anak atau blur wajah-wajah anak lain di sekitar anak kita.

      Blur foto teman karena belum minta ijin ortunya

       

    2. Sedang berada di sekolah.
      Oke, siapa yang nggak bangga kalau anak kita sekolah di sekolah yang bagus, berprestasi di sekolah atau ambil bagian dalam pentas akhir tahun. Saya rasa wajar aja kan ya kalau kita upload foto mereka lengkap dengan nama acara, prestasi yang mereka raih dan nama sekolahnya. Wajar pake banget! Kebanggaan gitu lho. Mungkin juga kebanggaan bagi pihak sekolah apalagi kalau follower IG kita ribuan orang gitu. Lumayan kan jadi dipromosikan. Tapi mungkin kita juga sudah banyak baca ya postingan viral tentang penculikan anak di sekolah hanya karena ortu iseng upload foto hari pertama sekolah lengkap dengan nama dan tag locationnya. Oke oke, artikel itu bisa jadi cuma ilustrasi, bukan kejadian beneran. Tapi nggak ada salahnya lebih berhati-hati. Kalaupun memang mau pasang foto anak di sekolah, keep it private for our children sake. Nggak perlu juga seluruh dunia tahu di mana anak kita bersekolah kan.
    3. Bath or Potty Time

      Lebih lucu foto main air kan, daripada foto berendam di bak mandi 😀

       

      Nggak ada yang lebih lucu dari foto anak lagi duduk di dalam bak mandi berbalut busa sabun sambil main rubber ducky ya. They look so cute and innocentWell, yes, until someone steal their picture and post it to some IG accounts that encourage their follower to do role playing with the pictures. Yes they exist lho. Coba cari hestek #babyrp #babyroleplay #adoptionrp #pedorp #pedophilerp #childfetish. Lagian sih, saya sendiri nggak mau kalau foto kecil saya sedang setengah telanjang tersebar di media sosial betapapun lucunya. Masa iya saya mau melakukan hal yang sama ke anak saya 😀

    4. Yang memuat Identitas Lengkap Anak
      Beberapa teman menganjurkan saya untuk nggak menulis nama lengkap anak di sekolah, bahkan banyak blogger luar negeri seringkali cuma mencantumkan nama alias atau nickname anaknya. Saya belum bisa sih, belum bisa sepenuhnya. Untuk kakak Cinta mungkin lebih mudah karena orang tahunya ya nama dia adalah Cinta, karena memang itu panggilan sayang kami sekeluarga yang akhirnya terbawa ke dunia maya. Hanya keluarga, teman dekat dan teman sekolahnya yang tahu nama lengkap Cinta. Sedangkan Keenan, kami nggak punya ide bikin nickname, paling yang bisa saya lakukan adalah nggak mempublish nama belakangnya. Emang kenapa sih?

      Gini, di dunia digital seperti sekarang mudah sekali kan orang nyari tahu tentang kita di dunia maya. Tinggal masukin nama lengkap aja bisa deh ketahuan data-data dan foto yang pernah kita post di media sosial. Nah, bayangin kan kalau kelak anak mau apply beasiswa atau mau ngelamar kerja atau ada temen onlinenya yang iseng googling terus menemukan foto-foto anak yang nggak pengen dia liatin ke orang lain. Kalau yang kita posting baik-baik aja sih nggak apa-apa, tapi kalau misalnya rapor yang kurang baik, kan kasian ya.
    5. Yang Memalukan Anak
      Nah, ini dia poin yang saya maksud di awal tulisan ini. Sebelum pasang foto anak di media sosial, mintalah ijin terlebih dahulu, terutama kalau anaknya sudah bisa diajak diskusi. Atau minimal bayangkan kita ada di posisinya, mau nggak kalau foto itu dilihat banyak orang di dunia maya. Kenal child shamming kan ya? Sekarang banyak sekali anak yang merasa dipermalukan karena orangtuanya pasang foto-foto konyol baik secara sengaja atau enggak. Coba kalau foto kita yang lagi nggak banget dipasang teman di FB misalnya, pasti juga sebal kan ya?

    Kalau foto lagi cakep gini dan sudah ijin anaknya, bolehlah diupload.

    Jadi orangtua di dunia digital memang nggak gampang sih. Saya sering banget pengen upload foto bocah-bocah di medsos tapi suka saya tahan. Tapi kadang ngeliat teman-teman lain posting foto-foto anaknya trus ikutan juga. Masih labil lah intinya. Akhirnya seringnya saya kirim aja ke grup wa keluarga, grup bbm atau saya buat seprivate mungkin alias cuma saya dan keluarga yang bisa liat. Kecuali foto-foto liburan di suatu tempat yang benar-benar berkesan buat kami, misalnya. Selebihnya semua foto masih tersimpan manis di folder hp dan laptop. Mungkin nanti mau bikin album foto aja sih biar bisa dibuka setiap saat. Like the old times.

  • anak dan media sosial
    Parenting

    Hate Comments dan Media Sosial untuk Anak

    Kemarin sore saya baca postingannya Ira tentang seseartis yang sering sekali dibully hatersnya di media sosial. Nggak nyangka juga euy kalau hate comments yang dia terima di setiap postingannya di media sosial ternyata bisa berakibat seburuk itu untuk keluarganya, terutama anak-anaknya yang beranjak remaja. Nah, kalau diamat-amati ternyata nggak cuma artis yang diceritakan Ira dalam blognya itu yang sering dapat hate comment, banyak banget tokoh publik yang bernasib sama.

    Coba aja tengok instagramnya teteh princess Syahrini atau Marshanda atau nggak usah artis deh, tokoh-tokoh negara yang harusnya kita hormati seperti Presiden Jokowi atau pendahulunya pak SBY pun nggak kurang-kurang hatersnya di media sosial. Sampai seringkali saya suka mikir, itu tangannya kok pada lemes banget ya nulis hal-hal seperti itu.

    Sayangnya, hate comments ternyata nggak mengenal status sosial dan jenis postingan. Iya, dulu pernah ada yang bilang kalau status kontroversilah yang paling sering menuai hate comments tapi ternyata enggak juga lho. Saya kebetulan follow akun IG @cutegirlshairstyles dan anak-anaknya. Awalnya komen-komen di postingan mereka selalu positif karena kebetulan followernya adalah abege-abege yang sepertinya memang perlu role model positif. Tapi belakangan ini, ketika follower mereka sudah ribuan mulai ada beberapa yang suka komen, “You look so ugly,” “That outfit is ugly,” gitu-gitu deh. Padahal kalau diliat profilnya ya kebanyakan yang nulis gitu anak remaja lho. Kan jadi ngeri yah. Ini anak diajarin apa sama emak bapaknya kok bisa-bisanya komen seperti itu di akun media sosial orang yang nggak mereka kenal secara pribadi.

    Makanya saya jadi maju mundur mau ngasih kakak Cinta akun media sosial pribadi meski sifatnya parent runs account. Bahkan upload videonya anak-anak di Youtube aja sekarang mikirnya berkali-kali lipat. Padahal dia sudah lama pengen punya channel Youtube atau minimal videonya diupload di channel Youtube saya, karena sering liat video-video keren yang dibawakan oleh anak-anak seusianya.

    Lha gimana nggak ragu, wong video tentang menit-menit pertama setelah Cinta lahir aja ada yang iseng kasih komen jelek. Saya kan jadi takut kalau misalnya nanti video yang dia buat dengan susah payah tiba-tiba dikomen nggak enak. Saya nggak yakin dia sudah siap mental, jangankan dia, saya aja nggak siap. Ya, maklumin aja ya, namapun bukan seleb, dapat komen negatif di postingan blog sendiri aja sudah baper apalagi kalau anak yang dikomen.

    komen yang saya terima di video Newborn Cinta

    Iya sih, di dunia maya itu selalu ada troll, orang-orang yang emang hobi banget komen jelek di postingan siapa aja. Dan benar juga, adalah tugas saya untuk memfilter semua komen yang masuk sebelum anak baca. Plus nggak salah kalau ada yang bilang, kita nggak bisa selalu melindungi anak dari hal-hal negatif, termasuk komen di media sosial. Tapiiii, untuk saat ini saya memilih untuk menghindari sajalah.

    Banyak orang di luar sana yang beranggapan kalau mereka berhak komen apapun di setiap postingan orang, kenal atau tidak. “Ya, kalau sudah berani posting harus terima resiko dikomen apa aja, dong!” Gitu biasanya pembelaan mereka. Padahal, sebenarnya kita kan selalu punya pilihan ya, mau komen atau tidak. Kalau nggak suka liat postingan orang bisa ditutup aja, unfollow atau apalah. Bukankah kita selalu diajarin untuk diam kalau tidak bisa berkata baik. Benar?

    Maka itu saya sementara ini memilih untuk menunda ngasih Cinta main di media sosial. Kebetulan juga teman-temannya sekarang belum ada yang punya akun medsos. Entahlah kalau 2-3 tahun lagi.

    Saya baru ngasih dia main Line dan BBM untuk komunikasi dengan keluarg. Dan memang dalam akun tersebut cuma ada keluarga di daftar temannya. Itupun nggak sering dia pakai karena Cinta lebih suka nonton tv dan youtube daripada chatting. Baru beberapa hari ini aja dia whatsapp-an sama sahabatnya di sekolah pakai akun WA saya di hp saya. Jadi semuanya bisa terkontrol.

    Sembari menunggu waktu yang tepat mengijinkan Cinta menggunakan media sosial, berikut adalah beberapa PR yang harus saya selesaikan bareng Cinta untuk menyiapkan dia menghadapi “unik”nya interaksi di dunia maya.

    1. Mengenalkan Cinta ke akun-akun populer termasuk komen-komen negatif di dalamnya.

    Dengan begini Cinta bisa punya bayangan apa saja yang bisa dia hadapi saat posting sesuatu di dunia maya tanpa harus mengalaminya sendiri. Kami juga bisa berdiskusi tentang perasaan yang kira-kira dialami oleh pemilik akun saat membaca komen-komen negatif tersebut. Harapannya, kelak Cinta bisa lebih kuat mental, tidak melakukan hal yang sama (hate commnet) dan berpikir terlebih dahulu sebelum posting atau komen.

    2. Set up the rules

    Seperti tidak berteman dengan orang asing, harus lapor kalau dapat inbox dari orang tak dikenal, block teman yang suka komen negatif, be nice to people, nggak posting atau kirim pesan yang bisa mempermalukan orang lain dan berpikir sebelum posting. Ini penting lho, di jaman digital seperti sekarang orang bisa dengan mudah menilai kepribadian kita hanya dengan status-status di media sosial. Jadi ya sejak awal pengennya Cinta dan Keenan bisa lebih berhati-hati saat posting sesuatu. Berlaku juga untuk saya sih. Sebisa mungkin nggak posting sesuatu yang bisa bikin mereka malu.

    aturan di media sosial untuk anak, media sosial untuk anak, anak dan media sosial

    3. Mengajarkan Cinta tentang Privacy Setting.

    Kapan hari saya baca di status FBnya mbak Chichi Utami kalau ABG sekarang lagi hobi tukeran password akun medsos dengan teman segengnya. Nah, bayangkan bahayanya kalau si teman ternyata nggak amanah misalnya, trus posting atau kirim pesan yang kurang baik atas nama si pemilik akun. Duh, saya kok jadi parnoan gini ya. Tapi nggak apa-apa, jadi pelajaran juga buat saya untuk selalu mengamankan password, setting postingan hanya untuk teman dan keluarga demi keamanan bersama. Better safe than sorry, right?

    4. Jadi Contoh

    Children see, children do. Kalau kita nggak bisa ngasih contoh bermedia sosial yang santun, gimana anak mau niru. Saya suka tuh ngintipin akun IGnya anak-anak artis seperti anaknya Ersamayori, Mona Ratuliu dan yang lagi ngetop sekarang Nauranya Nola Be3. Nah, ada aja lho komentator anak-anak yang suka nanya, “Eh, kamu sekolahnya di (sekolah Islam) tapi kok bajunya kaya gitu,” “Ih, gayanya nggak banget deh,” atau apalah komen-komen kepo nggak penting. Jadi ngebayangin jangan-jangan bapak ibunya juga gitu ya kalau di dunia nyata atau maya. Kepoan trus suka ngejudge pilihan orang yang berbeda. Aduh, amit-amit deh. Jangan lah yaaa.

    Pengennya saya Cinta dan Keenan nanti bisa menghormati apa saja postingan temennya di dunia maya (kecuali pornografi, harus diblock tanpa ampun), nggak perlu ikut-ikutan posting sesuatu yang lagi tren kalau nggak sesuai dengan norma keluarga dan masyarakat, nggak share sesuatu yang belum bisa dipastikan keakuratannya. Jadi ya sekarang saya pun harus belajar bermedia sosial seperti itu. Berat? Iya. Seperti yang ditulis seseblogger tentang FoMO, pasti ada ketakutan untuk ketinggalan tren di media sosial. Takut dianggap nggak gaul. Tapi ya sudahlah, nggak semua yang lagi hits itu keren kok. Pinter-pinternya milih aja.

    Ribet ya sepertinya. Mau ngasih anak main media sosial aja banyak PRnya. Dan jujur saya yakin sebenarnya dunia media sosial nggak sekejam itu. Banyak kok orang dan anak-anak santun yang pinter berinteraksi di dunia maya. Seperti di akun anak-anak artis itu. Banyak abege yang ngingetin teman-temannya yang ngasih komen negatif dengan cara yang baik.

    Nah, itu jadi salah satu parenting goals saya di era digital ini. Menghasilkan anak melek teknologi digital yang tetap smart dan santun di dunia nyata dan maya. Repot banyak ya gapapa, memang resiko jadi orangtua. Semoga sih bisa. Aamiin.

  • weaning with love, menyapih dengan cinta, breastfeeding, menyusui
    Family Health, Parenting

    Weaning With Love

    Weaning with love.  Istilah itu pasti familiar bagi kita para ibu menyusui ya, terutama yang berencana menyapih bayinya seperti saya.

    Sebenarnya apa sih weaning with love? Menurut konselor laktasi, Mia Deazy Mayangsariweaning with love adalah cara menyelesaikan atau menutup kegiatan menyusui dengan kasih sayang dan cinta. Dimana proses menyapih ini dilakukan tanpa paksaan dan tanpa memanipulasi seperti menggunakan pahit-pahitan.

    Hmmm, waktu berusaha menyapih Cinta dulu saya sempat tuh pakai mengoleskan parutan kunyit ke payudara. Rasanya sampai sekarang masih terbayang ekspresi traumanya Cinta melihat payudara mamanya yang berwarna kuning saat dia minta nenen karena mengantuk. Seketika itu juga dia langsung menangis histeris sampai si mbak pengasuh turun tangan dan menggendong Cinta sampai tertidur.

    Gara-gara itu ketika ditawarin nenen lagi, Cinta sempat menolak sambil bilang, “Mimik mama sakit kan.” Meski kemudian dia mau kembali menyusu sampai akhirnya berhenti sendiri beberapa bulan kemudian, perasaan bersalah itu masih tersimpan sampai sekarang. Sehingga saya bertekad untuk menyapih Keenan secara perlahan tanpa menggunakan hal-hal seperti itu lagi.

    Memang jadi lebih lama sih, nggak bisa sehari jadi. Tapi kan menyapih memang butuh waktu, nggak bisa instan. Prosesnya sendiri bisa dimulai sejak bayi diperkenalkan dengan makanan padat sebagai pendamping ASI.

    Biasanya setelah anak mulai makan, secara perlahan frekuensi menyusui akan berkurang sedikit demi sedikit. Nah, di usia 1 tahun, anak bisa mulai disounding dan diberi afirmasi positif sebagai ‘anak besar’.

    Ketika anak sudah lebih besar dan mulai menunjukkan tanda-tanda siap disapih seperti mengurangi frekuensi menyusu dan bisa tidur sepanjang malam, berarti ibu dan anak sudah mulai bisa bersiap untuk menyapih dan disapih dengan cinta. Tapi jangan sampai keliru dengan nursing strike ya.

    Proses weaning ini juga memerlukan keterlibatan ayah lho. Seluruh keluarga harus sepakat untuk tetap meneruskan atau menghentikan pemberian ASI di usia 2 tahun. Kesepakatan ini secara emosional akan sangat membantu ibu ketika ada pihak lain yang mempertanyakan ketika anaknya belum juga disapih meski sudah berusia 2 tahun. Biasanya ada tuntutan dari pihak keluarga seperti kakek dan nenek untuk menyapih anak ketika ia tepat berusia 2 tahun. Ini memang kendala yang sering dihadapi oleh ibu menyusui.

    Padahal banyak sekali manfaat yang didapat oleh anak yang disusui sampai lebih dari 2 tahun. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel darah putih, zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi sampai ia berhenti menyusu. Menurut Mia, ASI pada tahun kedua justru mengandung lebih banyak antibodi yang sangat berguna bagi anak karena pada usia itu anak sudah mulai bergaul dengan banyak orang dan bereksplorasi di berbagai tempat.

    Berdasarkan penelitian terhadap 250 batita di Kenya bagian barat, ASI dapat memenuhi 32% dari total asupan energi yang dibutuhkan oleh anak. Studi yang dilakukan di Bangladesh juga membuktikan bahwa ASI pada tahun kedua dan ketiga menjadi sumber vitamin A yang sangat penting bagi anak. Selain itu menyusui pada tahun kedua dan ketiga juga bermanfaat bagi kecerdasan anak, perkembangan sosial dan kesehatan mentalnya.1

    Jangan khawatir anak yang disusui lebih dari 2 tahun akan menjadi manja dan tergantung pada ibunya. Justru sebaliknya, kok. Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam “Extended Breastfeeding and the Law,

    Breastfeeding is a warm and loving way to meet the needs of toddlers and young children. It not only perks them up and energizes them; it also soothes the frustrations, bumps and bruises, and daily stresses of early childhood. In addition, nursing past infancy helps little ones make a gradual transition to childhood.

    Intinya sih, menurut teori psikososial, perilaku bayi pada usia 0-2 tahun didorong oleh rasa percaya dan tidak percaya anak terhadap lingkungan sekitarnya. Dan menyusui adalah salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan anak dalam membentuk kepercayaan tersebut. Anak yang memiliki rasa percaya bahwa dunia sosialnya adalah tempat yang aman dan orang-orang yang ia temui dapat dipercaya dan saling menyayangi akan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan baru dan lebih mandiri.

    Jadi nggak perlu buru-buru menyapih anak apalagi dengan cara paksa. Hal ini justru akan membuat anak menjadi rewel berhari-hari seperti yang dialami Keenan, payudara ibu bengkak dan secara psikologis dapat membuat anak merasa ditolak oleh ibunya.

    Kalau masih ada keluarga yang meminta ibu untuk menyapih bayinya hanya karena sudah berusia 2 tahun, ayah bisa maju untuk memberikan penjelasan. Yah, secara ibu kan biasanya lebih emosional apalagi soal menyusui. Sedangkan ayah diharapkan bisa lebih tenang dan logis saat memberikan pengertian tentang manfaat extended breastfeeding ini.

    Ayah juga dapat membantu ibu saat kesepakatan untuk menghentikan proses menyusu ini sudah tercapai. Misalnya dengan mengencourage anak bahwa dia sudah besar, sudah waktunya minum menggunakan gelas. Atau ketika anak terbangun tengah malam untuk nenen, ayah bisa menggendong atau menidurkannya lagi. Memang proses weaning with love ini panjang dan melelahkan ya sepertinya, tapi percaya deh worth to fight kok. Yuk, berusaha sama-sama! Semangat!

    1. Referensi: Artikel Breastfeeding Past Infancy: Fact Sheet By Kelly Bonyata, BS, IBCLC – http://kellymom.com/ages/older-infant/ebf-benefits/ []