Browsing Category:

Life as Mom

  • DIY, Life as Mom

    Bros Dari Pita Ala Ibu-Ibu KB Seria

    Yang namanya kumpul-kumpul sambil arisan kayanya nggak lepas dari keseharian ibu-ibu Indonesia ya. Coba deh mulai dari arisan di perumahan, arisan bareng ibu-ibu di sekolah anak (kalau anaknya 2, arisannya bisa ikut dua kelompok), arisan sama ibu-ibu seprofesi, you name it. Jenis arisannya sendiri sekarang makin banyak. Kalau jaman mama kita dulu mungkin cuma arisan uang dan arisan panci, jaman digital gini ada dong arisan emas, arisan buku, arisan iPhone dan kamera mirrorles, arisan jalan-jalan dan masih banyak lagi yang dikelola secara online. Asli deh, yang kaya gini ini diperlukan modal kepercayaan yang besar ya. Setor uang ke orang-orang yang secara fisik belum pernah kita temui di dunia nyata. 

    Buat sebagian ibu (baca: khususnya saya) jumlah arisan nggak penting, yang penting ngumpulnya, karena acara ngumpul inilah yang sebenarnya seru. Makanya saya jarang ikut arisan dengan jumlah besar, selain sayang uangnya juga karena tujuan utamanya bukan itu.

    Tapi sebagian lain, memanfaatkan arisan sebagai kesempatan untuk nabung. Masuk akal juga sih, dengan ikut arisan mau nggak mau kan kita menyisihkan sejumlah tertentu uang belanja yang bisa diambil kemudian saat tiba waktunya. Sebenarnya tabungan formal jenis ini sudah ada di beberapa bank, seperti CIMB Niaga dengan nama Tabungan Mapan, di mana kita setor ke bank jumlah tertentu setiap bulan dalam jangka waktu tertentu. Dan setelah waktunya berakhir, dana kita bisa langsung cair ke tabungan utama. Kenapa saya ngasih contohnya tabungan dari bank CIMB Niaga? Ya karena saya tahunya itu, secara mantan pegawai gitu :))

    Cuma, sepertinya tabungan jenis ini masih kalah pamornya dengan arisan ya. Setidaknya di lingkungan saya sih seperti itu, ibu-ibunya lebih memilih ikut arisan atau menginvestasikan uangnya ke asuransi unit link dan reksadana. Nah, sejak merantau ke Brunei saya kira nggak akan ketemu lagi sama yang namanya arisan tapi ternyata saya salah. Hari pertama saya gabung dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di wilayah Seria dan Kuala Belait (biasa disebut ibu-ibu KB Seria), langsung diajak arisan yang baru memulai putaran barunya. Jadilah, sejak saat itu sampai sekarang saya sudah ikut 3 putaran arisan di komunitas ini. Dan, sahabat-sahabat saya di Jakarta, para mamak bundar alias Circle Moms, rencananya akan mulai juga arisan putaran baru bulan ini setelah lama vakum. Tujuan kedua arisan ini sama, supaya bisa ngumpul secara rutin dan mempererat persaudaraan antar anggotanya.

    Indonesian ladies in KB – Seria

    A post shared by Alfa Kurnia | PojokMungil.com (@alfakurnia) on

    Karena tujuan itulah, arisan di komunitas KB Seria bukan jadi acara utama setiap kali kami berkumpul di hari Rabu, minggu pertama bulan berjalan, sehingga yang nggak ikut arisan pun sangat diperbolehkan untuk bergabung. Dan sejak 2 tahun lalu, pada acara yang diberi judul silaturahmi ini selalu ada sharing session dari salah seorang ibu yang ditunjuk karena memiliki keahlian sesuai tema bulanan. Jadi misalnya bulan Januari temanya cooking class ya dicari seorang ibu yang mau berbagi ketrampilan memasaknya. Sejauh ini sudah pernah ada kelas investasi, bikin cireng, dekor kue, kesehatan organ intim wanita, bikin bunga dari manik-manik dan masih banyak lagi. Nggak harus sulit kok, sederhana pun nggak apa-apa yang penting bermanfaat dan acara silaturahmi nggak sekadar menjadi ajang bertukar gosip. 

    Nah, pada hari Rabu kemarin kegiatan silaturahmi ibu-ibu KB Seria selain arisan juga diisi dengan crafty class membuat bros dari pita.

    Pengajarnya adalah mbak Yulisma Jamalin yang biasa kita panggil mbak Uun. Mbak Uun ini memang terkenal kreatif. Selain pandai crochet tanpa pola, cross stitch, bikin bunga dari manik-manik juga akhir-akhir ini merambah ke bidang doodling dan coloring yang lagi ngetren itu. Jadi nggak heran lah kalau beliau yang ditunjuk untuk mengisi crafty class.

    Silaturahmi ibu-ibu KB Seria bulan September 2016

    A post shared by Alfa Kurnia | PojokMungil.com (@alfakurnia) on

     

    Karena keterbatasan waktu, maklum, ibu-ibu KB Seria kan bagaikan Cinderella, jam 12 teng sudah harus bergegas memacu kendaraan masing-masing untuk menjemput anak-anaknya pulang sekolah, menyiapkan makanan untuk para suami yang pulang makan siang di rumah, dan aktivitas lain, maka mbak Uun pun memilihkan ketrampilan sederhana untuk kami. Selain mudah dibuat, bahannya pun gampang dicari. Jadi, kami pun bisa ngajarin anak-anak untuk membuat sendiri di rumah. Senang lah. Pas banget untuk isi kegiatan libur sekolah minggu depan.

    Bros Dari Pita

    Bahan:

    4 buah pita hijau dengan panjang berbeda
    3 buah pita perak dengan panjang berbeda
    (Selisih antara ketujuh pita ini masing-masing 1 cm)
    Kain keras dipotong kotak untuk alas pin
    Pin
    Manik-manik
    Lem tembak

     

    Cara Membuat:

    1. Lipat masing-masing pita menjadi dua bagian sama panjang sampai terbentuk garis lipatan di tengah pita, lalu buka lagi.
    2. Bubuhkan lem panas ke garis lipatan di tengah pita, lalu bawa ujung kanan kiri pita ke tengah, tempel. Lakukan hal yang sama pada semua pita.
    3. Susun pita dari yang paling panjang di bawah sampai yang paling pendek di atas sesuai selera. Setelah puas dengan susunan pita, lem bagian belakang masing-masing pita agar menempel satu sama lain.
    4. Bubuhkan lem ke bagian tengah pita paling atas, susun manik-manik di atasnya.
    5. Tempel kain keras di bagian paling belakang pita, lalu tempel pin di atas kain keras.
    6. Bros dari pita siap digunakan.

    Catatan:

    Kalau nggak ada lem tembak, bisa juga dijahit dan saya pribadi sepertinya lebih suka dijahit karena manik-maniknya gampang lepas kalau cuma ditempel dengan lem tembak.

    Nah, gampang kan? Rencananya mau ajak Cinta bikin ini juga setelah dia pulang dari Science Camp minggu depan. Lumayan untuk isi liburan sekolah. Yuk coba yuk.

     

  • working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga
    Life as Mom, Life Hacks

    Dari Ibu Bekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga. Siapa Takut?

    Saya nggak bisa lupa ketika mama saya kembali bekerja untuk menafkahi keluarga setelah perceraiannya dengan ayah saya. It was 25 years ago, I was 9 or 10, my siblings was 6 and 5 years old. Mama saya tadinya adalah ibu rumah tangga dengan berbagai aktivitas seperti terima jahitan baju, buka salon, buka katering juga kalau nggak salah. Walaupun demikian beliau selalu ada di rumah setiap saat saya membutuhkannya. Tapi hari itu, saya pulang ke rumah kakek dan nenek sepulang sekolah, tempat kami tinggal selama beberapa tahun setelah perpisahan orangtua saya, dan tidak menemukan mama saya di sana. Seketika itu juga, saya -yang terlahir sebagai drama queen- tidak berhenti menangis. Ada rasa khawatir beliau nggak akan pulang lagi ke rumah seperti ayah saya dan berbagai perasaan lain. Malamnya, sepulang kerja, beliau menasihati saya supaya memahami kondisi kami saat itu, bahwa beliau harus bekerja karena alasan yang sangat kuat. Hari pun berlalu, perlahan saya dan adik-adik terbiasa dengan status mama sebagai ibu bekerja dan beliau tetap bekerja sampai pensiun beberapa tahun lalu. I’m very proud of her, everybody does. 

    Lantas, ketika saya beranjak remaja, saya menyadari bahwa saya tumbuh di lingkungan di mana para ibunya bekerja di luar rumah. Mama saya, Bude, Tante, mama tiri, juga sebagian besar sepupu mama saya bekerja di luar rumah. Iya, bahkan nenek-nenek saya adalah ibu bekerja. Jadilah saya pun tumbuh dengan mereka sebagai role model, menjadi wanita karir adalah impian saya. Cita-cita saya nggak tanggung-tanggung, diplomat dan jurnalis dengan harapan dapat bekerja secara mobile, bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter dan menikmati berbagai lingkungan baru.

    Saat kuliah, saya pun mulai menapaki dunia kerja, dari menjadi asisten guru di playgroup yang dikelola oleh Fakultas tempat saya belajar sampai menjadi customer service di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris franchise yang cukup besar di Surabaya dan pertama di Sidoarjo saat itu. Dan saya menikmatinya, sampai akhirnya kuliah terbengkalai karena nggak bisa membagi waktu sehingga ayah tiri saya dan mama harus memberi ultimatum supaya saya segera menyelesaikan skripsi atau tidak lagi dibiayai kuliah. Setelah memperoleh gelar sarjana, saya berusaha mewujudkan cita-cita sebagai wanita karir meski bukan sebagai diplomat atau jurnalis.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga

    Long story short, setelah menikah dan pindah ke Jakarta untuk kedua kalinya, saya pun terpaksa mengganti blazer dengan daster sebagai seragam “kerja” sehari-hari. Seperti yang sering dirasakan kebanyakan ibu bekerja yang beralih menjadi ibu rumah tangga, satu bulan pertama sangat menyenangkan, bisa seharian di rumah, nggak harus buru-buru bangun pagi supaya nggak telat ngantor, santai (apalagi karena punya ART), bisa jalan-jalan kapanpun dan bisa main sama anak sepanjang hari. Pokoknya mah, indah dunia saat itu. Sampai kemudian dunia api menyerang saya mulai jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang berulang, pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai serta merasa kehilangan identitas diri karena hanya dikenal sebagai mamanya Cinta dan istrinya pak Lukito.

    Apalagi karena memang nggak punya role model ibu rumah tangga dan sejak kecil terbiasa dibantu asisten rumah tangga, saya merasa bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan pembantu. Jadi ada perasaan kecil hati ketika harus diam di rumah dan mengerjakan sendiri hal-hal yang biasa dilakukan si Inem. Sedihnya lagi, kok kaya nggak ada apresiasi dari suami dan anak-anak akan “pengorbanan” saya sebagai IRT. Akibatnya, saya mengalami masa transisi yang cukup berat dan walau sudah menjalani peran ini selama 6 tahun, kadang perasaan itu datang lagi, membuat saya rindu masa-masa bekerja di kantor. 

    Baca Juga: Pekerjaan Saya Keren

    Awalnya saya kira cuma saya yang mengalami perasaan seperti ini dan membuat saya merasa bersalah karena seakan nggak ikhlas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi ternyata banyak juga ibu bekerja yang merasakan hal yang sama dalam masa transisi menjadi stay at home mom. Dan ternyata lagi, meskipun gegar budaya ini mungkin tidak dapat dihindari, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat masa-masa ini menjadi lebih mudah and I really wish I knew these earlier

    1. Cari Support Group Baik di Dunia Nyata Maupun di Dunia Maya.

    Rasanya ini mudah dilakukan ya di jaman sekarang. Banyak sekali komunitas atau grup ibu-ibu (dan ayah) rumah tangga yang dapat kita temui, nggak usah jauh-jauh, coba cari majelis taklim di sekitar kita, dekati ibu-ibu tetangga yang biasanya cuma kita sapa saat akan berangkat ke kantor. Masih nggak pede atau nggak punya banyak waktu untuk keluar rumah karena anak masih bayi? Mainlah ke forum-forum ibu-ibu di dunia maya. Walau nggak bertemu muka, kadang bisa chatting, curhat, baca candaan seru di grup bisa membuat kita lebih bersemangat. Selain itu biasanya mereka akan mengatur playdate untuk ibu dan anak di waktu tertentu.

    Intinya, bergaulah dengan sesama ibu rumah tangga, nggak usah ambil peduli dengan stereotipe yang menyebut IRT hobinya cuma ngegosip. Sungguh, IRT jaman sekarang jauh lebih canggih dari itu lho. Nggak sedikit dari komunitas ibu rumah tangga ini yang membuat berbagai kegiatan menarik seperti seminar parentingcooking class dan sejenisnya. Jadi beredarlah di dunia nyata atau maya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    cari support group yang isinya penuh cinta ya

    Oh, ya. Di masa transisi ini, hindarilah segala perdebatan yang bertema ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Sesungguhnya ini cuma bikin kita makin galau dan mudah emosi. Mau membela ibu bekerja kok ya sudah nggak kerja lagi, tapi mau membela ibu rumah tangga toh ya kita masih jadi IRT newbie. Juga hindari dulu teman-teman dan keluarga yang hobinya mengomentari segala hal secara negatif. Yang ada kita makin baper kalau dibilang, “Duh, sayang amat. Kerjaan bagus-bagus kok ditinggal. Nggak sayang tuh sama gaji dan bonusnya? Nanti kalau sudah bosen jadi ibu rumah tangga susah lho mau cari kerjaan seperti itu lagi.” Please deh.

    2. Tekuni Hobi Kita

    Masak, fotografi, blogging, yoga, merajut, tenis, renang. Apa saja asalkan itu positif. Kemungkinannya bisa tak terbatas. Pastikan saja kita punya aktivitas tertentu yang kita sukai dan dapat kita tekuni, minimal 30 menit sehari saja cukup. Ada waktu luang untuk melakukannya lebih lama? Lebih bagus lagi. Namun, usahakan dilakukan secara rutin. Karena ada penelitian yang membuktikan bahwa, hobi yang ditekunin selama 30 menit setiap hari secara rutin akan memberikan hasil yang signifikan dari yang hanya dilakukan sesempatnya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    tapi jangan sampai kaya gini yah

    Aktivitas ini dapat membantu kita untuk mengisi waktu luang, mengurangi kejenuhan daaaan membuat kita tetap memiliki identitas dan kebanggaan pribadi. Oya, nggak sedikit dari teman-teman saya yang akhirnya memperoleh penghasilan dari hobinya ini lho. Berawal dari sekadar bikin kue untuk anak-anak  lalu dibagi ke tetangga, sekarang bisa jadi bakul kue rumahan dengan omset jutaan rupiah setiap bulan. Niatnya cuma menyalurkan hobi berenang eh lantas diminta menjadi pelatih renang untuk ibu-ibu dan anak-anak. Tadinya hanya belajar decoupage dan lettering untuk dekorasi rumah sendiri, sekarang kewalahan menerima pesanan. Nah, lumayan banget kan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

    Baca Juga: Kisekii. Jadilah Diri Sendiri dan Temukan Keajaibannya

    3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi, Terutama Di Awal Masa Transisi

    Mungkin, di hari pertama berhenti kerja, kita membayangkan diri kita seperti Martha Stewart yang dapat menghidangkan aneka masakan sehat dan lezat; membuat berbagai kerajinan tangan sebagai alat belajar dan bermain anak-anak, sekaligus Dr. Sears dan personil Nanny 911 yang dapat memahami segala perilaku anak lantas membuat mereka berperilaku baik dan tenang seharian. Lalu di akhir hari, suami dan anak-anak akan membuatkan kita piagam atau medali sebagai ibu terbaik di dunia.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    hmmm yayaya

    Harapan yang tinggi seringkali membuat kita jadi kecewa luar biasa ketika nggak teraih, Makanya kita perlu menyadari bahwa perlu waktu untuk dapat melakukan peran sebagai ibu rumah tangga dengan lancar, terutama bagi yang tadinya terbiasa dibantu asisten rumah tangga. Kacau dan bingung di awal itu wajar. Sama wajarnya ketika anak-anak dan suami seakan-akan tidak menghargai hasil kerja kita. Tapi percaya deh, kehadiran kita di rumah, makanan hangat yang tersedia di meja, senyum riang kita saat menemani anak-anak bermain dan suami nonton tv, terutama dukungan serta kasih sayang kita sangat berarti bagi mereka meski mungkin nggak diucapkan.

    4. Temukan Kenyamanan Kita Sendiri

    Pakai celana yoga atau daster untuk anter anak sekolah karena nggak sempat dandan? Nggak masalah.
    Bikin stok nugget, chicken roll, dan segala makanan siap goreng di kala sempat supaya praktis ketika menyiapkan bekal suami dan anak-anak. Silakan!
    Merasa nggak pandai masak dan lebih memilih menggunakan jasa katering harian supaya suami dan anak-anak terjamin makannya sambil kita belajar masak? Nggak ada yang ngelarang juga.
    Pakai laundry kiloan? Boleh!
    Rumah berantakan dengan mainan dan hasil karya anak-anak? Yah, nggak papa juga.

    Atur rumah dan aktivitas sehari-hari sepraktis dan senyaman mungkin bagi mama dan keluarga. Tempatkan breakfast/snack station di salah satu sudut rumah supaya anak-anak dapat mengambil sendiri sarapan dan camilannya tanpa harus mengotori dapur. Jika memungkinkan siapkan satu area khusus untuk tempat bermain anak-anak agar nggak mengotori seluruh rumah.

    Kalaupun mama merasa sanggup memasak, membuat hasta karya, mencuci dan setrika baju, membersihkan rumah serapi mungkin dan anak-anak dapat menjaganya, itu bagus banget. Tapi sekali lagi, nggak semua mama mampu menjadi seperti Astri Nugraha. Yang penting mama, suami dan anak-anak nyaman, sehat dan bahagia. Nothing else matter.

    5. Aplikasikan Keahlian dan Ketrampilan Kita di Kantor Dulu Dalam Mengatur Rumah dan Keluarga

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Menjadi ibu rumah tangga pun memerlukan manajemen waktu dan emosi yang baik. Dan pengalaman kita sebagai ibu bekerja dapat membantu pekerjaan rumah menjadi lebih efektif dan efisien dengan membuat to do list dan skala prioritas. Tapi kalaupun meleset dari jadwal ya sudah, namapun kita mengurus anak ya, bukan benda mati, nikmati saja. Dan seperti para pekerja di kantor, kita juga perlu meningkatkan ketrampilan seperti ikut kursus masak, seminar parenting, update info-info terkini soal pendidikan anak, kemampuan bahasa asing dan sebagainya supaya dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga.

    6. Saling Dukung Dengan Pasangan

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Ketika kita berhenti bekerja, otomatis pasangan kita menjadi pencari nafkah tunggal bagi keluarga. Buat sebagian keluarga mungkin bukan masalah besar, tapi bagi sebagian lain tertutupnya satu sumur bisa jadi menimbulkan problem baru. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, sebaiknya kita diskusi dengan pasangan, bagaimana mengatasi hal ini. Begitu juga dengan pembagian pekerjaan rumah. Karena merasa sebagai pencari nafkah, ada yang merasa tidak perlu lagi membantu di rumah. Kalau kita merasa nggak masalah dengan hal itu ya nggak papa. Tapi, di awal masa transisi, bisa jadi kita merasa kelelahan karena tidak biasa mengerjakan semua hal sendiri. Oleh karena itu dukungan dari pasangan sangat diperlukan di masa ini. Baik bagi yang bertugas mencari nafkah di luar rumah maupun untuk yang bertanggungjawab mengurus rumah tangga. Bicarakan harapan sampai kecemasan kita dengan pasangan dan cari jalan keluarnya. Dengan demikian masa transisi menjadi ibu rumah tangga akan menjadi lebih mudah dijalani.

    Setelah beberapa bulan, biasanya kita sudah mulai bisa menguasai medan perang peran baru kita dengan lebih baik dan menikmatinya. Jadi tak perlu khawatir berganti peran. Menjadi ibu rumah tangga mungkin nggak semenarik pekerja kantoran tapi percayalah, kita tetap bisa bersenang-senang serta menjadi versi terbaik dari diri kita dengan peran tersebut.

  • arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger
    Babbles, Blogger Profiles, Life Hacks

    Working At Home Mom: Blogger Profesional

    Sebagai istri, tugas utama kita adalah membantu suami mengurus rumah tangga dan anak-anak, ya Ma. Namun, beberapa di antara kita juga bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan, mulai untuk berkontribusi pada keuangan keluarga, mencari aktualisasi diri sampai ingin mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dengan susah payah di bangku kuliah. 

    Tapi bagaimana jika suami menginginkan kita untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan fokus mengurus anak dan dirinya? Bisakah kita tetap mengaplikasikan ilmu, membantu keuangan keluarga dan bermanfaat bagi masyarakat? Jawabnya, bisa! Kawan saya, Rahmah Usman Karateng yang lebih dikenal dengan nama pena Amma O’Chem telah membuktikannya.

    arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger

    Bergelar Magister di bidang ilmu Kimia dari Universitas Hasanudin, Makasar tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan yang berasal dari kota Maros, Sulawesi Selatan ini. Supaya ilmunya bermanfaat, Amma, panggilan akrabnya, bekerja sebagai dosen di Universitas Palangkaraya. Profesi ini ditekuninya sampai ia harus mengikuti suami pindah ke Surabaya. 

    Saat itulah, Amma harus rela meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga mendampingi suami dan merawat putri semata wayangnya. Namun, Amma tidak berhenti berkarya. Hobi menulis di blog yang dijalaninya sejak tahun 2008 dan mulai dikerjakan secara profesional pada tahun 2011, menjadi tempat Amma mengaktualisasikan diri. Di sela-sela waktunya, Amma mengelola 3 blog pribadi dengan tema yang berbeda. Dan ketiganya cukup sukses memiliki pembaca setia dengan statistik yang .

    Blog istanacinta.com merupakan blog parenting yang berisi interaksi keseharian Rahmah dengan putrinya Salfa lengkap dengan info tempat wisata yang mereka kunjungi dan tips parenting. Dengan tulisan khas Amma yang apik, kategori yang cukup rapi dan tema blog manis minimalis bernuansa ungu dan putih, Istana Cintanya Amma dan Salfa menarik untuk dibaca dan dijadikan jujugan para ibu muda untuk mencari informasi atau sekadar bertukar cerita.

    Blog kedua adalah resensikata.com yang sesuai namanya didedikasikan untuk mengulas buku-buku yang telah ia baca atau mengikuti giveaway tentang buku. Blog ketiga dan blog utamanya Amma adalah ChemistRahmah yang memiliki tagline Al Chemist of Rahmah: Selaksa Kata si Jemari Ajaib. Lifestyle blog inilah yang kemudian membawa Rahmah mendapat predikat Emak Of The Month dari salah satu komunitas Blogger juga masuk sebagai Top Blog Indonesia no. 1 pada tahun 2013 dari Top Blog Indonesia. Tak melupakan ilmunya, Amma tetap berusaha berbagi ilmu dalam postingan-postingan di blognya yang berkategori Chemistry-Kimia di samping artikel tentang tempat wisata, masakan, curhat dan reportase event.

    arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger

    Keseriusan Amma mengelola ketiga blognya membuatnya dikenal di kalangan blogger dan beberapa kali dipercaya menyampaikan materi tentang blogging di kalangan umum maupun terbatas. Rupanya panggilan sebagai pengajar memang nggak bisa lepas dari penulis beberapa buku antologi ini. 

    Nah, jadi jangan takut kehilangan kesempatan untuk berkarya dan bermanfaat meski tinggal di rumah. Banyak jendela terbuka saat satu pintu tertutup jika kita mau ikhlas dan membuka hati. Banyak kesempatan yang bisa kita ambil, salah satunya dengan menjadi profesional blogger seperti Rahmah. Tapi tentu dibutuhkan ketekunan dan kerja pintar yang beretika agar dapat mendulang emas dari blogging.

    Memiliki blog yang dapat mendatangkan penghasilan bagi kita bukan hal yang mudah. Kapan hari waktu googling free printable blog planner,  saya menemukan bahwa banyak sekali hal yang harus dilakukan seorang blog sampai dapat disebut sebagai blogger profesional. Mulai dari menentukan konsep blog, tema postingan setiap minggu, membuat ilustrasi atau infografik bahkan video yang menarik, belajar SEO, dan masih banyak lagi. 

    bloggingorg, monetize blog, how to make money from blog

    it takes times, effort, money and commitment to be a professional blogger

    Jadi, sebelum memutuskan mengembangkan blog dari hobi menjadi pekerjaan profesional, yuk kita siapkan dulu kemampuan berikut ini:

    Manajemen Waktu

    Menjadi blogger profesional berarti kita konsisten untuk mengalokasikan waktu tertentu setiap hari untuk menulis, mencari ide, membuat konsep, blog walking sampai update status di media sosial. 

    Mengatasi Kegagalan

    Nggak mudah menjadi blogger profesional, kadang paid review kita dikritik klien karena nggak sesuai dengan yang dia minta, di waktu lain alexa rank melorot tajam karena ditinggal mudik selama beberapa minggu dan nggak tersentuh sama sekali, kali lain page view yang tiba-tiba menurun drastis. Apakah kita cukup kuat mengatasi semua hal itu dan membangun semangat menulis dari awal?

    Membuat Konsep dan Mengaplikasikannya

    Membangun blog dan brandingnya bukan hal yang bisa kita lakukan dalam semalam. Sejak awal kita harus menentukan mau di bawa ke mana hubungan kita blog yang kita kelola. Sekadar jadi tempat curhat kah, atau dimonetizekah. Memang banyak sih blogger profesional yang berawal dari blogger curhat atau sekadar berbagi pengalaman seperti Rahmah. Namun, kalau ingin mengejar mereka tentu kita nggak bisa menerapkan strategi yang sama. Jadi pikirkan dengan matang konsep blog yang kita inginkan, buat rencana pengembangannya dan aplikasikan.

    Menginvestasikan Sebagian Uang yang Kita Peroleh Untuk Mengembangkan Blog Kita

    Siapa yang begitu dapat honor job review langsung belanja online? Sayaaaa!!! Berarti saya belum punya mental sebagai blogger profesional nih hehehe. Seharusnya kita menginvestasikan minimal 20% dari penghasilan kita untuk mengembangkan blog. Mulai untuk membeli domain TLD dan hosting, membeli template blogger yang SEO friendly, kursus SEO, kursus menulis, berlangganan internet yang cepat dan dapat diandalkan, membeli kamera bagus supaya dapat menghasilkan gambar-gambar cantik untuk ilustrasi blog dan masih banyak lagi.

    Kalau kita sudah merasa mampu melakukan hal-hal tersebut, berarti kita sudah siap nih melangkah menjadi blogger profesional, karena sebenarnya bagian tersulit dari memulai pekerjaan ini adalah mengembangkan kualitas dan disiplin diri kita sendiri. 

    Mau belajar lebih lanjut? Sekarang sudah banyak buku dan situs yang memberi informasi bagaimana membuat blog profesional dan mendapatkan uang darinya, seperti artikel yang menjadi salah satu sumber tulisan ini  How to Make Money Blogging: From Start to Business. Yuk, semangat lagi ngeblog biar bisa keren seperti mbak Amma dan alexa rank nggak melorot terus. 

     

    Image source: https://blogging.org/blog/how-to-make-money-blogging

     

  • rian luthfi, relationship, long distance marriage, pernikahan jarak jauh, relationship, family, blogger, arisan llink, blogger perempuan
    Relationship

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    Menjalani pernikahan jarak jauh alias suami istri tinggal di kota atau negara yang berbeda mungkin bukan pilihan yang populer bagi pasangan suami istri. Tapi, seperti yang telah saya tulis di sini, banyak alasan mengapa pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk menjalani pernikahan jarak jauh. Seperti yang dilakukan oleh teman saya dari Grup V Arisan Link Blogger PerempuanRian Rosita Luthfi. Rian, pemilik blog bernama unik Kompor Mledug ini, telah menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah, bahkan sejak mereka pacaran, dengan total 5 tahun.

    Pasangan yang dikaruniai seorang anak laki-laki lucu berusia 1,5 tahun ini terpaksa berpisah kota karena pekerjaan mereka sebagai abdi negara. Meskipun penuh perjuangan dengan segala suka dukanya, pernikahan jarak jauh ternyata memiliki berbagai manfaat bagi pelakunya. Berikut adalah lima di antaranya:

    2

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    1. Menguji Kepercayaan dan Komitmen

    Kepercayaan dan komitmen adalah fondasi sebuah hubungan. Untuk itu diperlukan usaha kedua belah pihak untuk dapat mempertahankan kepercayaan dan komitmen pasangannya supaya hubungan tersebut dapat berhasil. Karakter yang terbangun saat menjalani pernikahan jarak jauh ini dapat membantu pasangan suami istri tetap kokoh setelah tidak lagi melakukan long distance marriage.

    2. Belajar Komunikasi dan Menyelesaikan Konflik Secara Efektif

    Jarak yang jauh, kadang ditambah dengan perbedaan waktu dan kesibukan yang berbeda, membuat pasangan berusaha untuk menghargai setiap waktu yang tersedia dengan belajar berkomunikasi dengan baik serta menyelesaikan konflik secara efektif. Biasanya, suami istri yang menjalani pernikahan jarak jauh memiliki interaksi yang lebih bermakna dan dalam. Pertengkaran pun lebih jarang terjadi mengingat perjuangan yang tidak mudah untuk dapat bertemu.

    3. Menciptakan Momen Berkesan

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Ketika memiliki waktu untuk bertemu, pasangan LDR ini biasanya akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan momen yang berharga. Seperti yang dilakukan Rian dan suami. Mereka berusaha melakukan hal-hal yang berkualitas seperti jalan-jalan atau sekadar cuddling di rumah. Dengan cara itu, meski suami hanya dapat bertemu dengan anak 1 kali dalam sebulan, Keenan, putra Rian, tetap dekat dengan ayahnya.

    4. Melatih Kesabaran dan Kemandirian

    Tidak mudah menjadi seorang ibu muda yang bekerja untuk mengurus sendiri batitanya, namun ini dianggap Rian sebagai latihan kesabaran dan kemandirian. Walaupun sebenarnya pemilik blog yang beralamat di http://superduperlebay.wordpress.com ini sudah terbiasa hidup mandiri karena menjalani masa pendidikan SMA dan D3nya di sekolah berasrama jauh dari orang tua. Sejak menikah dan jauh dari suami, Rian terbiasa untuk menangani permasalahan yang terjadi dalam rumah sendirian, seperti mengurus anak sakit sampai naik toren untuk mengecek persediaan air seperti yang ditulisnya dalam postingan berjudul “Menjadi Multitasking“.

    5. Memiliki Banyak Waktu Untuk Melakukan Hal Lain

    Rian adalah perempuan yang aktif. Menjadi istri dan ibu yang bekerja tidak mengurangi keaktifannya. Pernikahan jarak jauh memberinya waktu untuk melakukan berbagai kegiatan seperti kursus bikin kue, berkomunitas dengan ibu-ibu dari forum The Urban Mama, membuat sendiri permainan sensori untuk Keenan, blogging sampai berolahraga.

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Menulis di blog adalah salah satu aktivitas Rian di sela-sela waktu luangnya sejak tahun 2009. Dengan desain yang sederhana dan mobile friendly, blog Kompor Mledug ini memanjakan mata pembacanya. Apalagi Rian menulis dengan gaya yang menarik, ringan dan enak dibaca. Blog ini juga menggambarkan perubahaan dalam perjalanan hidup seorang Rian dari seorang gadis cuek yang meledak-ledak menjadi sosok ibu muda yang lebih kalem meski tetap smart, aktif, mandiri, kuat, lucu dan apa adanya. Benar-benar menghibur, terutama bagi saya, pembaca kepo yang menggemari blog curhat seperti blognya Rian ini. 

    Ingin mengenal ibu muda ini lebih dalam lagi? Baca saja cerita-cerita menariknya dalam blog atau kunjungi IGnya di @rianluthfi.

  • inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall
    Parenting

    Inspirasi Hadiah Ulang Tahun Istimewa untuk Anak Perempuan

    Ulang tahun menjadi momen bahagia bagi sebagian besar orang, tak terkecuali untuk anak-anak. Sudah bisa dibayangkan betapa gembiranya anak-anak ketika mendapatkan hadiah di hari istimewanya. Selain mempertimbangkan harga hadiah yang akan diberikan, hadiah tersebut juga harus bermanfaat bagi anak-anak.

    Sering bingung memilihkan hadiah ulang tahun untuk anak perempuan?

    inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall

    Beberapa ide berikut ini tentu bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat bagi kita :

    Perlengkapan Sekolah

    Anak perempuan yang sudah memasuki usia sekolah pasti membutuhkan perlengkapan sekolah untuk menunjang aktivitasnya. Tas ransel, alat tulis, dan meja belajar mini tentu akan membuatnya makin bersemangat saat belajar. Jangan lupa memilihkan perlengkapan sekolah dengan tokoh kartun favoritnya agar anak-anak merasa terkejut ketika menerima hadiah yang ia sukai.

    Tablet PC

    Advan PC Tablet, Tablet PC, Advan, hadiah ulang tahun untuk anak perempuan

    Karena anak-anak masa kini sudah mengenal internet, tablet PC juga bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat. Aneka koleksi tablet Advan di bawah 1 juta yang ada di MatahariMall memudahkan kita untuk memberikan hadiah. Jangan lupa mencermati spesifikasi tablet PC sebelum membelinya agar tablet PC tersebut sesuai dengan kebutuhan mobile anak-anak.

    Sepeda Baru

    Sepeda akan membuat anak-anak lebih aktif bermain di luar rumah. Jika jarak rumah dan sekolah berdekatan, sepeda juga membuat anak perempuan bisa berangkat sendiri ke sekolah. Ajarkan peraturan lalu lintas sederhana pada anak supaya anak bisa mengendarai sepeda barunya dengan baik saat berada di jalan.

    Aneka Buku Cerita

    Tak sekadar membuat anak terhibur, buku cerita juga melatih kemampuan anak dalam hal menyimak dan berimajinasi. Kumpulan dongeng nusantara atau fabel populer dunia tentu disukai oleh anak-anak. Ajak pula anak untuk merawat buku-bukunya dengan benar sehingga buku tersebut tahan lama dan tak mudah rusak.

    Dekorasi Kamar Pribadi

    girl bedroom, inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift

    Menata ulang kamar anak bisa menjadi hadiah yang istimewa dan tak terlupakan. Gunakan warna-warna favorit anak, lemari dan meja belajar, seta ranjang baru untuk membuat suasana kamar anak lebih istimewa. Selanjutnya, ajaklah anak untuk menjaga kebersihan kamar pribadinya dengan baik setiap hari.

     

    Sumber foto:

    Pixabay.com, MatahariMall.com, House.rarevancouver.com

  • arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting
    Blogger Profiles, Parenting

    Tips Mengajak Anak Berkomunitas Oleh Susi Ernawati

    Oke, peringatan hari Kartini sudah lewat 2 minggu yang lalu. Menyisakan foto-foto bocah-bocah lucu mengenakan aneka pakaian daerah atau kostum profesi yang masih rajin beredar di media sosial. Serta perdebatan tiada akhir tentang kenapa Kartini yang dipilih pemerintah untuk menjadi simbol perjuangan wanita Indonesia. Kenapa bukan Cut Nyak Dien yang ditakuti penjajah, kenapa bukan Dewi Sartika yang memiliki beberapa Sakola Istri untuk perempuan, kenapa bukan Martha Christina Tiahahu yang turun langsung ke medan perang, kenapa bukan pahlawan nasional wanita lainnya yang jasanya nyata demi kemerdekaan Indonesia.

    Well, karena Kartini menurut saya mewakili banyak perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan cerdas, bercita-cita tinggi, memiliki kemauan kuat tapi terpaksa tunduk pada adat dan peran domestik. Kartini berjuang dengan caranya sendiri dalam keterbatasannya sebagai seorang anak yang berbakti, istri yang mengabdi pada suaminya, as a devoted mother (for her step children)And, she’s a writer. Kartini menuliskan semua kisahnya, impian dan isi hatinya lewat surat kepada sahabat-sahabatnya. Meski tak semua impiannya menjadi nyata karena ia meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, seperti juga yang banyak terjadi pada perempuan di Indonesia, surat-surat tersebut kemudian menjadi legacynya. Menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Bahwa meski tetap tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti ia akan berhenti bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bahwa tidak harus mengangkat senjata untuk menjadi pahlawan.

    Kartini adalah kita. Para ibu yang menulis, berbagi inspirasi kepada orang lain. Para ibu yang di sela waktu luangnya mengabdikan diri untuk kegiatan-kegiatan sosial. Kartini adalah Susi Ernawati. Seorang blogger dari Jepara, founder dan admin grup Mompreuner Indonesia, penggagas beberapa gerakan sosial di Jepara dan seorang istri dan ibu dari 2 orang anak lelaki.

    SUSI ERNAWATI SUSINDRA

    Sebagai seorang blogger, kiprah Susindra, begitu beliau dikenal, tak perlu diragukan lagi. Lifestyle blog ‘Cakrawala Susindra‘ miliknya telah mencapai Alexa Rank di angka 390ribuan dalam waktu 1,6 tahun setelah domain http://susindra.com diluncurkan. Nilai DA/PAnya pun berada di angka cukup bagus yaitu 30 dan 41 dengan total page views mendekati 1,7juta.

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    Selain Cakrawala Susindra, Susi juga mengelola beberapa blog lain serta menjadi admin di komunitas Warung Blogger dan founder merangkap koordinator Blogger Jepara Community. Dalam blognya, Susi banyak sekali mengulas tentang kegiatan atau tempat-tempat menarik di Jepara. Karena pengetahuannya yang luas tentang kabupaten tercintanya dan kefasihannya berbahasa Perancis, Susi juga sering menjadi pemandu bagi turis atau peminat furniture asal Perancis.  

    Baca Juga: Siapa Susindra

    Ia juga aktif di berbagai kegiatan sosial di Jepara, salah satunya adalah Gerakan Pungut Sampah. Tak hanya itu, kesibukan sehari-harinya selain mengurus rumah tangga adalah mengelola toko furniture Susindra Furniture. Benar-benar contoh nyata Kartini masa kini yang bermanfaat bagi sekitarnya ya.

    Saat aktif berkomunitas, tak jarang Susi mengajak kedua buah hatinya Destin dan Binbin, apalagi jika acara tersebut berlangsung di akhir pekan. Jadi sekali dayung dua pulau terlampaui, yaitu melakukan kegiatan sosial sambil menikmati waktu berkualitas bersama anak-anak. Selama ini, anak-anak Susi dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan hati riang. Dan menurut penghobi kerajinan tangan ini, ia memang sengaja melibatkan anak-anak agar kelak mereka menjadi pribadi yang ramah dan pandai berorganisasi.

     

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    The Susindra. Sumber foto FB susi.susindra

    Tapi gimana sih caranya supaya anak mau mengikuti kegiatan orangtuanya berkomunitas? Kan selama ini kegiatan anak-anak identik dengan bermain dengan gadget, jalan-jalan di mall, menelusuri tempat wisata di luar atau dalam kota atau paling banter ya nonton tv. Tips berikut ini mungkin bisa kita ikuti:

    1. Kenali Kepribadian Anak

    Sebelum kita mengajak anak mengikuti kegiatan komunitas yang sebagian besar anggotanya orang tua, sebaiknya kita kenali dulu usia dan kepribadian anak kita. Anak yang outgoing mungkin bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sedangkan anak introvert dan pemalu membutuhkan pendampingan lebih lama untuk dapat merasa nyaman dalam komunitas kita.

    2. Pilih Kegiatan yang Ramah Anak

    Nggak semua kegiatan komunitas yang harus dihadirinya, Susi mengajak anak-anak. Destin dan Binbin hanya ikut kegiatan seperti piknik atau tadabur alam yang diadakan oleh Folkom (Forum Lintas Komunitas) atau acara yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional Jepara yang selalu berorientasi pada anak, seperti Play Day for Kids with Morinaga Chil-Go. Kegiatan yang menyenangkan seperti ini dapat membuat anak-anak ikut dengan senang hati dan mendapatkan pengalaman berharga.

    3. Beri Kesempatan Anak Bermain dengan Teman-Temannya

    Meskipun Susi kerap memanfaatkan kegiatan sosial dengan komunitasnya sebagai family time, ia tetap memberikan waktu kepada anak-anak untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan teman-teman sebaya mereka di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian anak-anak dapat menikmati dunianya sendiri.

    Nah, ternyata nggak susah kan mengajak anak-anak berkegiatan dengan komunitas kita? Yuk, kita coba.

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • pra remaja, anak pra remaja,
    Blogger Profiles, Parenting

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol dengan teman baik saya Shelvy Waseso tentang suka duka membesarkan anak-anak gadis kami yang beranjak remaja. Karena Air berusia lebih tua 2 tahun dari Cinta, tentu saya yang lebih banyak belajar kepada Vei. Dari perbincangan itu, terpikir untuk membuat blogpost tentang bagaimana caranya supaya kita tetap dekat dengan si pra remaja. Tapi, karena kesibukan, ide itu menguap begitu saja, sampai saya mengunjungi blog elisakaramoy.com.

    Pada blog yang dimiliki oleh Mutia Erlisa Karamoy ini, saya menemukan sebuah cerita menarik tentang hobi terbaru putra sulungnya yang berusia 12 tahun. Dalam postingan yang berjudul Nak, Apa Sih Menariknya Klakson Bus Telolet?, Mutia, panggilan akrab ibu beranak 3 ini, bercerita tentang tren yang sedang kekinian di kalangan anak pra remaja saat ini, yaitu merekam aneka klakson bus dan mengunggahnya di akun instagram mereka. Menarik juga ya? 

    Ternyata, bukan hanya cerita tersebut yang membuat saya betah berlama-lama di blog penulis lepas yang juga berprofesi sebagai ghost writer ini. Karena saya lebih sering browsing menggunakan telepon genggam, blog yang responsive atau mobile friendly tentu lebih nyaman dibaca seperti blog elisakaramoy.com ini. Tulisan-tulisan yang ada di dalamnya juga diramu dengan apik, sehingga nggak membosankan meski cukup panjang. Seperti cerita tentang klakson bus itu, saya bisa membayangkan anaknya Mutia berlari-lari bersama teman-temannya mendatangi bus yang terparkir di dekat perumahan mereka.

    Tampilan blog Mutia juga manis dan sederhana. Meski menggunakan theme bawaan dari blogspot, nggak terkesan kaku. Kebetulan juga kapan hari ada teman yang ingin membuat blog tapi bingung mengutak-atik tampilan blognya supaya nggak kaku. Nah, sepertinya saya akan menyarankan supaya dia belajar dari Mutia aja ya.

    elisa karamoy, lifestyle blogger, blogger perempuan, indonesia blogger

    Kembali ke cerita klakson bus, saya pun jadi teringat ide membuat blogpost tentang mengasuh anak pra remaja dan akhirnya menghubungi Mutia untuk meminta saran-sarannya. Senangnya, beliau pun memberikan respon positif, sehingga tulisan ini akhirnya selesai juga.

    Apa sih menariknya membahas tentang hubungan orangtua dengan ABG? Well, menurut saya, usia pra remaja yang berada di rentang 10-12 tahun ini cukup tricky. Di satu sisi mereka sudah nggak bisa lagi disebut anak-anak, bahkan mungkin ada yang sudah memasuki akil baligh. Di sisi lain, belum cukup dewasa untuk diberi kebebasan lebih seperti remaja pada umumnya. Nanggung gitulah.

    Anak-anak pra remaja ini biasanya mulai mengalami perubahan hormon yang besar sebagai proses yang berujung pada kematangan seksual, dan sebagai mama, kita tahu dong efek perubahan hormon ini bagaimana. Kalau tiap bulan kita mengalami mood swing dan merasa labil karena efek pre menstruasi syndromeya kira-kira begitulah yang sedang mereka alami, tentu dengan kadar yang berbeda dan rentang waktu yang lebih panjang. 

    Tekanan dari teman-teman sepermainan, keinginan mereka untuk mandiri, kurang fokus dengan keluarga seringkali membuat perilaku abege kita berubah. Hal ini kerap jadi konflik antara ortu dan anak, sehingga nggak jarang akhirnya papa dan mama memilih untuk menjaga jarak dengan anak baru gedenya. Padahal, di masa seperti ini, anak membutuhkan rumah yang aman dan nyaman sebagai landasan mereka untuk melebur ke dunia luar yang menarik sekaligus menakutkan bagi mereka.

    Dan satu-satunya cara supaya anak dapat melalui masa pra remaja ini dan menciptakan landasan yang kokoh bagi masa remaja yang hadir setelahnya, adalah dengan mempertahankan ikatan yang kuat dengan mereka. Untuk itu, meskipun sebagai blogger dan penulis ia aktif di aneka kegiatan yang melibatkan blogger dan suka berkomunitas di Emak Blogger, Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Komunitas Ummi Menulis, Mutia selalu berusaha supaya tetap dekat dengan anak-anaknya yang tengah dan hendak memasuki usia pra remaja dengan cara seperti berikut ini:

    pra remaja, anak pra remaja,

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Melek Teknologi

    “Anak saya dekat dengan saya karena saya tahu sedikit banyak tentang teknologi, hal yang menarik bagi remaja.”

    Anak sekarang atau yang sering disebut generasi digital, bisa dibilang tumbuh besar dengan perkembangan teknologi. Mulai dari tv, komputer, telepon genggam, tablet, game console dan masih banyak lagi. Mereka juga sangat akrab dengan media sosial meski sebagian besar memberikan syarat usia minimum 13 tahun bagi seseorang untuk memiliki akun media sosial.

    Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal bahkan kalau perlu ikut update dengan perkembangan dunia digital ini. Nggak perlu sampai menjadi ahli tapi minimal kita bisa jadi tempat bertanya bagi anak. Seperti Mutia yang nggak segan belajar tentang teknologi secara otodidak sebagai efek samping sebagai blogger dan penulis. 


    pre remaja, parenting, generasi digital, orangtua melek teknologi

    Kenali Teman-Temannya

    “Saya berusaha kenal dengan teman akrabnya. Kadang teman-temannya saya suruh main ke rumah. Biarin deh ribut ngobrol, yang penting saya bisa memantau perilaku dan cara bergaul mereka.”

    Pada usia ini, anak-anak biasanya lebih dekat dengan peer groupnya atau bahasa gaulnya, teman sepermainan. Untuk itu usahakan kita selalu mengenal teman-teman mereka, bahkan kalau perlu kita berteman juga orangtuanya. Tapi tentu tidak bijaksana melarang anak kita bergaul dengan teman tertentu hanya karena orangtua atau lingkungannya kurang baik. Justru ini menjadi kesempatan kita dan anak untuk belajar menerima orang lain dengan tangan terbuka dan hati yang hangat. Untuk itu, anak harus dibekali landasan yang kuat terlebih dahulu supaya nggak mudah terjerumus ke dalam lingkungan yang negatif.

    Selain itu, menjadikan rumah kita markas atau tempat berkumpul anak dan teman-temannya juga dapat menjadi cara supaya kita tetap dekat dengan anak. Meskipun rumah kita jadi berisik dan berantakan, dengan cara ini bisa jadi teman anak-anak pun dekat dengan kita. Sehingga kita dapat memantau mereka atau mendapatkan informasi dari temannya tentang hal-hal yang mungkin nggak diberitahukan anak ke kita.

    Stay Connected


    “Menurut saya yang paling penting (kita) harus dekat dengan si ABG. Sering ngobrol layaknya teman biar bisa menjajaki dunianya.”

    Dengan cara makan malam bersama sambil mendengarkan cerita-ceritanya di sekolah hari ini. Tahu nggak sih, mom, anak yang terbiasa makan bersama keluarga memiliki resiko lebih rendah dari menggunakan narkoba, minum alkohol, melakukan hubungan seks di usia dini dan mengalami depresi atau kecemasan. 

    Manfaatkan juga waktu sebelum tidur untuk ngobrol dengan ABG kita, biasanya saat santai seperti itu anak lebih mudah untuk cerita. Tapi berusahalah jadi pendengar yang baik, ya, Mom. Kalau mereka bercerita tentang sesuatu yang kita nggak suka jangan langsung dihakimi. Nanti bisa-bisa mereka malas ngobrol lagi sama kita.

    Nah, itu dia beberapa saran dari Mutia. 

    Bagaimana dengan sahabat Pojok Mungil? Apa cara yang mama atau papa lakukan supaya tetap dekat dengan anak di usia pra remajanya? Sharing di kolom komentar, yuk.

  • muffin, banana muffin, muffin pisang, banana yoghurt muffin, muffin pisang dengan yoghurt
    Recipe

    Resep Banana Muffin Yang Lembut dan Mudah

    Tanggal 23 Februari kemarin suami dan anak-anak libur kerja dan sekolah karena ada peringatan National Day Brunei. Karena kebanyakan toko dan restoran tutup setengah hari, saya pun nggak bisa memaksa mereka untuk sarapan di luar meskipun isi kulkas kosong dan sedang kehabisan ide mau bikin apa untuk sarapan.

    Tiba-tiba teringat stok pisang yang sudah mulai terlalu matang. Biasanya sih saya masukin freezer untuk jadi campuran green smoothies. Tapi karena akhir-akhir ini lagi malas bikin smoothies jadinya pisang itu harus segera diolah supaya nggak terbuang sia-sia. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat banana muffin dan menemukan salah satu resep muffin yang konon lembut karena menggunakan yoghurt sebagai salah satu bahannya. Kebetulan banget ada stok yoghurt di rumah yang mendekati masa kadaluarsa.

     photo 2_zpsvdblhql5.jpg

    Saya suka bikin muffin karena mudah dan praktis, nggak perlu pake mixer dan timbangan. Bahan-bahan biasanya cukup ditakar dengan cangkir (cup) dan diaduk manual pakai sendok kayu atau whisker, sehingga anak-anak pun bisa ikut bantu.

    Namun kali ini saya lagi pengen me time sambil baking. Tsah, gaya banget ya, me timenya baking. Tapi emang iya sih, pernah ada masanya bikin kue itu jadi salah satu stress relieve saya. Asal nggak direcokin anak-anak hahaha. Jadi ya akhirnya bikinnya diem-diem aja di dapur sementara mereka lagi asik nonton tv sama bapaknya.

    Hasil akhirnya, si banana muffin ini moist dan enak. Apalagi ditambah taburan keju parut di atasnya. Manis gurih dan ringan, cocok buat sarapan. Dan karena sudah pakai yoghurt, muffin ini jadi lebih sedikit menggunakan minyak dan tanpa butter sehingga lebih sehat. Yuk, coba bareng untuk sarapan hari Minggu besok. Ini resep yang saya adaptasi dari food.com.

    [yumprint-recipe id=’1′]