Browsing Category:

Kids Activities

  • Kids Activities

    Berlomba Saat Libur Sekolah

     photo B312D6EB-4D93-4DDB-B16A-BFF7CC633C05_zpsjyqaepyi.jpg

    Kemarin, di hari ke-18 kami berlibur di Sidoarjo, kakak Cinta ikut kompetisi New Era Mencari Bintang edisi kota Sidoarjo yang diadakan oleh New Era. Banyak bidang yang dilombakan, mulai dari Matematika, Bahasa Inggris, Sains, Mewarnai (Ibu dan Anak) sampai Top Model dan Fashion. Tapi (awalnya) kakak cuma mau ikut lomba Bahasa Inggris dan Mewarnai.

    Sampai di Lippo Plaza, tempat lomba berlangsung, anak-anak pun mulai duduk manis di arena yang disediakan sambil menunggu lomba bahasa Inggris dimulai. Sementara Keenan ditemani papanya main di playground yang ada di dalam mall.

    Sejujurnya saya nggak berharap banyak, dengan Cinta mau membuka diri untuk ikut lomba semacam ini, saya sudah cukup senang. Meskipun agak bingung memilih kategori untuk lomba bahasa Inggrisnya. Ya gimana, di Brunei Cinta baru saja menyelesaikan kelas 2, sementara teman-teman seangkatannya di Indonesia sudah menjalani satu semester di kelas 3. Kalau diikutin kelas 3, saya khawatir Cinta nggak bisa ngikutin materinya. Sementara kalau ikut kelas 2, ya jelas dia lebih advance 6 bulan daripada anak kelas 2 di Indonesia yang baru satu semester belajar materi kelas 2.

    image//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Tapi akhirnya Cinta tetap ikut kategori kelas 2 yang ternyata hanya diikuti oleh 2 orang. Hahaha. Jelas ya, gelar juara ada di tangan, pikir saya. Dan benar aja, nggak sampai 30 menit Cinta sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. “I checked it twice,” jawabnya ketika diminta untuk memeriksa lagi jawabannya sebelum dikumpulkan ke panitia.

    Setelah bahasa Inggris, ternyata masih ada lomba Sains sebelum lomba mewarnai dimulai. Melihat soal dan tata cara lomba yang cukup mudah, yaitu tiap peserta hanya perlu menjawab soal-soal pilihan ganda yang sesuai dengan kelasnya, saudaranya Cinta yang ngeliat si kakak ikut lomba ternyata pengen nyoba juga. Dan ternyata Cinta juga mau ikut. Ya sudah, akhirnya daftar on the spot deh mereka berdua dengan membayar Rp 40.000,00 per orang.

    Ternyata peserta lomba Sains lebih banyak dari bahasa Inggris dan sepertinya soalnya lebih sulit. Kemungkinan sih karena pertanyaannya dalam bahasa Indonesia. Sementara meski di Brunei belajar bahasa Melayu, Cinta masih agak kesulitan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga dia mengumpulkan jawabannya nyaris ketika waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal habis.

    lomba sains, new era, sidoarjo, kompetisi anak

    Tapi alhamdulillah, Cinta berhasil meraih juara pertama untuk bahasa Inggris kelas 2 dan harapan tiga untuk Sains. Not bad eh.

    Sedangkan untuk lomba mewarnai, Cinta dan saudara-saudaranya Belva dan Levina, harus puas mendapatkan piala peserta aja. Nggak apa-apa sih. Karena seharusnya untuk lomba merwarnai ini mereka dibantu oleh ibunya, secara nama temanya Lomba Mewarnai (Ibu dan Anak) gitu. Sementara mama-mamanya Cinta dan Levina sibuk ngurusin adik-adik mereka, dan Belva cuma didampingi Oma. Jadi ya sudah wajar kalau nggak menang.

    lomba mewarnai, sidoarjo, kompetisi, new era

    Lagipula, skill mereka belum secanggih peserta lain. Karena di antara mereka bertiga cuma Levina yang ikut les mewarnai, sedangkan Cinta baru 2 kali ikut kelasnya Levina dan Belva nggak ikut les. Kesamaan ketiga anak ini adalah mereka suka mewarnai.

    Hmmm, sebenarnya Cinta sukanya menggambar. Dia biasanya mengeluh kalau diminta untuk mewarnai. Nggak sabar, nggak telaten. Sampai setelah ujian akhir tahun selesai dan nggak ada lagi pelajaran di sekolah, tiba-tiba dia suka mewarnai. Lalu secara otodidak belajar tentang gradasi warna dari youtube. Dan semakin semangat mewarnai ketika hasil mewarnanya banyak disukai teman-teman sekolahnya.

    Buat saya, keberhasilan Cinta meraih 2 gelar juara sangat berarti. Bukan untuk kebanggaan saya lho. Beneran deh. Tapi untuk meningkatkan kepercayaan diri Cinta sendiri. Memang selama ini Cinta selalu keliatan cuek soal pelajaran di sekolah. Tapi, saya tahu kalau diam-diam dia stres mengikuti teman-temannya yang kompetitif. Kelihatan sekali dari hasil-hasil mid dan end year test-nya yang meningkat cukup tajam dari first term. Selain itu, beberapa kali saya mendengar dia bilang, “I’m stupid.”

    Jadi, harapan saya setelah ini Cinta bisa lebih percaya diri karena pernah punya prestasi. Dan nggak lagi menganggap dirinya kurang pintar dibanding teman-teman sendiri. Lagipula toh, setiap anak punya keistimewaannya masing-masing. Saya dan suami nggak memaksa Cinta (dan Keenan) nanti untuk bisa menguasai semua bidang di sekolah. Kami cuma minta dan membantu supaya setidaknya bisa mendapatkan nilai minimum untuk naik kelas. Kalau ternyata anaknya termotivasi dan mampu lebih ya alhamdulillah. Usaha mereka patut diapresiasi lebih.

    Oya, di lomba New Era kemarin, setiap nomer peserta bisa ditukar voucher Papa Ron’s pizza senilai Rp 25.000,00 yang bisa diakumulasikan dan digunakan tanpa ada syarat minimum pembelian. Jadi karena kemarin Cinta dapat 3 nomer peserta untuk masing-masing lomba seharusnya bisa ditukar 3 voucher. Tapi sayang nomer peserta lomba bahasa dan sains sudah diserahkan duluan ke panitia untuk ditukar piala kemenangannya. Tapi lumayan lah, abis lomba kita rame-rame makan Papa Ron’s pizza.

  • Kids Activities

    Hiasan Dinding Dari Kulit Telur

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Kulit telur yang biasanya kita buang ternyata bisa jadi kerajinan tangan yang unik lho, apalagi jika dipadukan dengan kreativitas anak-anak yang tanpa batas. Aktivitas seperti ini pernah saya lakukan bersama Cinta beberapa tahun lalu. Tapi kali ini saya ingin membuat sesuatu yang bisa jadi penanda milestone anak-anak. Seperti yang kami buat ini, hiasan dinding dari kulit telur berupa telapak tangan mereka.

    Bahan yang diperlukan sederhana saja:

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Kulit telur yang sudah dicuci bersih luar dan dalam. Untuk proyek ini kami menggunakan empat kulit telur.
    Template gambar apa saja
    Lem
    Cat akrilik
    Kuas atau spon untuk mewarnai
    Frame

    Cara membuat:

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

     Pecahkan kulit telur menjadi serpihan kecil.

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Beri lem pada gambar

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Tempelkan kulit telur pada kertas.

    Bagi anak besar beri tantangan untuk bisa menempel di dalam garis. Sedangkan untuk anak yang lebih kecil biarkan dia berkreasi sesuka hatinya. Di bagian ini, Keenan cuma betah menempel selama beberapa menit. Selebihnya ya mama yang menyelesaikan hihihi. Tapi buat saya sudah cukup karena rentang konsentrasi batita memang hanya maksimal 15 menit. Apalagi tipe Keenan yang aktif, bisa duduk tenang selama 5 menit untuk menempel sudah merupakan prestasi tersendiri. Menjumput kulit telur yang kecil lalu menempelkannya di kertas, bermanfaat untuk melatih kesabaran dan kekuatan otot-otot tangan dan jari anak usia pra sekolah yang kelak berguna ketika anak belajar menulis.

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Warnai kulit telur

    Ini bagian favorit anak-anak nih. Kakak yang memang senang menggambar dan mengecat dengan telaten mewarnai kulit telurnya. Sedangkan bagi Keenan mencampur cat yang berwarna-warni itu ternyata lebih menarik daripada mewarnai. Jadi ya setelah semua catnya tercampur dan berwarna coklat, lagi-lagi mama yang menyelesaikan hehehe.

    Setelah semua selesai dan cat kering, telapak tangan mereka saya gunting lalu ditempelkan pada kertas yang lebih tebal. Satu telapak tangan dari masing-masing anak. Kemudian pasang pigura. Jadi deh hiasan dinding yang unik dari kulit telur. Yuk, bikin juga. Mumpung akhir pekan nih, bisa jadi alternatif aktivitas di rumah bersama si kecil.

     

  • fingerpaint, diy fingerpaint, fingerpaint homemade, messy play
    DIY, Kids Activities

    Finger Paint: Homemade vs Factory Made

    Rasanya sudah lama sekali nggak main pakai finger paint. Padahal dulu aktivitas ini jadi salah satu favorit kakak Cinta. Tapi berhubung saya suka kesal karena bekas yang selalu nempel di lantai dan dinding padahal sudah dikasih alas, akhirnya finger paint sempat jadi mainan terlarang di rumah. Sampai kemarin saya lihat ada diskonan finger paint di sebuah toko buku. Kebetulan dia juga ngeklaim kalau produknya non-toxic dan aman untuk anak-anak di atas 3 tahun. Akhirnya saya beli deh tuh finger paint. Pas kakak Cinta juga kepingin bikin art project pakai cat jenis ini.

    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint

    Setelah hampir seminggu dianggurin, akhirnya hari Jumat yang lalu saya mengajak anak-anak bermain menggunakan finger paint ini. Tapi berhubung Keenan belum 3 tahun, saya pun mencoba membuat lagi finger paint dari bahan-bahan yang ada di dapur yang lebih aman untuknya. Sekaligus ingin membandingkan finger paint pabrikan dengan yang buatan rumah. Setelah browsing  dari berbagai pilihan resep finger paint yang ada di internet, pilihan saya jatuh ke resepnya Martha Stewart karena nampak mudah dan bahan-bahannya ada di rumah semua.

    Martha Stewart Finger Paints

    Bahan

    • 4 sendok makan gula
    • 1/2 cup tepung maizena
    • 2 cups air dingin
    • Containers
    • Pewarna makanan

     

    Cara Pembuatan

    1. Aduk rata gula dan tepung maizena di dalam panci. Tambahkan 2 gelas air lalu masak dengan api sendang sampai adonan menjadi kental. (Adonan akan lebih kental saat dingin)
    2. Bagi ke dalam beberapa wadah plastik. Tambahkan pewarna makanan. Aduk rata sambil dinginkan adonan.

    Tekstur finger paint rumahan jauh berbeda dari yang pabrikan. Karena dibuat dari tepung jagung yang dimasak, finger paint rumahan ini seperti lem, kental dan slimmy. Jenis pewarna yang digunakan juga ternyata berpengaruh terhadap kepekatan warna. Saya menggunakan pewarna makanan cair yang ketika dioleskan ke kertas jadi transparan.

    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint

    Finger paint homemade ini cocok untuk anak pra sekolah yang sedang mengenal tekstur, seperti Keenan. Entah kenapa dia nggak suka kalau tangannya kotor dan lengket. Aktivitas ini bisa bermanfaat untuk mengurangi rasa jijiknya dengan cara yang menyenangkan. Yah, pada percobaan ini sih belum berhasil ya. Keenan cuma mau main sebentar. Tapi sudah ada kemajuan dari yang awalnya menggunakan stik es krim lama-lama dia mau mencelupkan jarinya ke dalam cat, meski setelah itu buru-buru minta dilap.

    Selain mengenal tekstur, cat rumahan ini juga bermanfaat mengenalkan anak akan perubahan suhu dari hangat ke dingin. Juga kita bisa menambahkan aromatherapy supaya anak belajar bau-bauan. Pasti seru ya.

    Kekuranganya, finger paint rumahan ini nggak bisa disimpan. Kemarin karena sisa banyak saya coba simpan dalam container plastik kedap udara. Lantas diletakkan dalam lemari dengan suhu ruang. Setelah beberapa hari ternyata teksturnya jadi berubah lebih cair. Juga berbau asam yang tajam. Jadi sebaiknya sih bikin sedikit-sedikit aja supaya bisa habis sekali pakai.

    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint

    Sementara finger paint buatan pabrik yang digunakan oleh Cinta warnanya lebih pekat, teksturnya juga lebih halus. Seperti cat air atau cat akrilik pada umumnya. Cat ini menurut saya memang lebih cocok untuk anak lebih besar yang sudah mulai ‘serius’ membuat karya seni. Warna-warnanya yang pekat juga seusai untuk belajar mengenal warna sekunder karena campuran dari warna-warna primernya nampak lebih jelas.

    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint
    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint

    Keenan sendiri nampak lebih nyaman ketika diajak bermain dengan finger paint pabrikan ini. Dia nggak keberatan tangan dan kakinya saya olesi cat untuk kemudian ditempel di kertas. Bahkan beberapa kali minta diulang. Mungkin karena nggak terasa lengket jadi dia nggak risih ya.

    Well, apapun medianya, baik yang buatan sendiri maupun bikinan pabrik, banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dari messy play seperti ini. Salah satu yang utama adalah merangsang imajinasi dan kreativitas anak. Selain itu dengan finger painting anak bisa:

    1. Memperoleh pengalaman menyenangkan yang bisa menstimulasi indra peraba
    2. Mendapat pengetahuan tentang warna primer dan sekunder dengan mencampur berbagai macam warna.
    3. Terstimulasi indra penglihatannya.
    4. Menguatkan otot-otot tangan dan jarinya dan melatih motorik halusnya.
    5. Lebih tenang dan belajar konsentrasi.
    6. Bersenang-senang!

     

    finger paint, homemade finger paint, diy finger paint, sensory play, manfaat finger paint

  • Kids Activities, Recipe

    Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

    chocolate chip cookies

    Masih dalam suasana libur sekolah 2 minggu yang lalu. Sebenarnya di hari Jumat yang hujan itu, hasrat hati pengen rebahan aja karena memang lagi capek banget. Tapi kok nggak bisa gitu lihat anak-anak berkegiatan tak tentu arah. Si kakak sibuk mantengin youtube, sedangkan Keenan lari ke sana ke mari sambil sesekali lompat-lompat ke badan saya. Mungkin dalam imajinasinya badan mamanya ini semacam trampolin gitu ya.

    Akhirnya coba cari resep kue kering yang gampang dan bahannya ada di rumah, secara sudah mendekati jam 12 siang dan nggak mungkin keluar rumah untuk beli bahan-bahan yang nggak ada. Maklum, setiap hari Jumat semua toko, restoran dan kantor di Brunei tutup selama 2 jam pada pukul 12-14 siang untuk memberi kesempatan bagi yang ingin melaksanakan sholat Jumat.

    Akhirnya ketemu juga resep chocolate chip cookies yang lumayan gampang di sini. Diam-diam saya persiapkan semua peralatan perang dan bahan-bahan. Pengennya mengeksekusi sendiri gitu. Tapi ternyata kedua bocah itu benar-benar lagi haus hiburan. Mendengar mamanya ribut di dapur langsung pada nyamperin dan ikut bikin ribut juga *inhaleee exhaleeee* *oles peace and calming* sampai harus saya suruh keluar dapur dulu.

    Pas saya selesai mempersiapkan bahan, kakak Cinta masuk lagi ke dapur. “Are you going to bake something?” tanyanya. “Yes, I do. Do you want to help?” ujar saya. “Yes!” balasnya penuh semangat.

    Biasanya sih tiap mau bikin kue saya selalu melibatkan kakak Cinta mulai dari persiapan bahan. Tapi kali ini melihat kehebohan Keenan yang juga ingin terlibat, saya bisa memperkirakan tingkat keberantakannya bakal seperti apa dan karena lagi nggak mood membereskan dapur, akhirnya langkah itu saya kerjakan sendiri.

     photo F18EC174-A18A-4746-9086-3AB528F2F151_zpsqnxlfo0h.jpg

    Jadi kakak Cinta mulai terlibat pada tahap membuat adonan saja. Semua dia lakukan sendiri. Mulai dari mengocok mentega dan gula, mengayak tepung dan soda kue, mencampur bahan kering dan bahan basah sampai mencetak adonan. Keenan juga bantu sih. Bantu ngeliatin kakak mixer adonan dan mencicipi adonan yang sudah dicetak.

    Alhamdulillah, meski belum seindah kukis kemasan atau yang dijual di bakery, kukis buatan kami masuk dalam kategori layak makan. Bahkan nyaris ludes dalam waktu 24 jam oleh suami. Entah karena dia doyan atau nggak ada pilihan camilan yang lain hihihi. Hanya saja waktu baru dingin rasanya sedikit terlalu manis untuk selera kami.

    Setelah dievaluasi, rasa yang terlalu manis itu ternyata disebabkan penggunaan unsalted butter sementara resep asli menggunakan salted butter. Saya juga lupa memasukkan 1/2 sendok teh garam seperti yang tertulis di resep. Eaaaa.

    Nah, kalau belum ada rencana akhir pekan ini, bikin kue aja sama si kecil. Ini dia resep yang sudah kami adaptasi sesuai dengan keberadaan bahan yang ada di rumah:

    chocolate chip cookies
    Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

    Bahan:

    150 gram unsalted butter
    80 gram light brown muscovado sugar
    80 gram granulated brown sugar
    2 sendok teh vanila extract
    1 buah telur ukuran besar (AA)
    225 gram tepung terigu serbaguna
    1/2 sendok teh soda kue
    1/2 sendok teh garam
    Chocolate chips plain secukupnya

    Cara Membuat:

    1. Panaskan oven pada suhu 190• C, beri alas baking paper pada loyang.
    2. Kocok mentega (butter) dan gula sampai creamy. Lalu masukkan ekstrak vanila dan telur. Aduk rata.
    3. Ayak campuran tepung terigu, soda kue dan garam ke dalam adonan mentega. Aduk menggunakan sendok kayu. Masukkan coklat chip lalu aduk sampai rata.
    4. Ambil sesendok teh adonan dan atur di atas loyang dengan jarak yang cukup renggang. Panggang selama 9-10 menit dengan api atas bawah sampai kue nampak kecoklatan di pinggir tapi empuk di tengahnya.
    5. Biarkan kue di atas loyang selama beberapa menit lalu pindahkan ke rak pendingin.

    Resep asli oleh Valerie Barret yang dimuat oleh situs bbcgoodfood.

    Selamat mencoba ya.

  • Kids Activities

    Cloud Dough: Permainan Sensoris Sederhana

    cloud dough

    Cloud dough, permainan sensoris yang sederhana. Cloud dough atau yang sering juga disebut dengan moon dough dan moon sand, atau indoor sand kata Cinta adalah salah satu alat yang sering dipakai dalam meja sensoris. Tekstur cloud dough yang lembut dan dapat dibentuk serta baunya yang harum membuat mainan ini jadi favorit anak-anak. Bahannya pun mudah didapat sehingga kita bisa membuatnya sendiri di rumah dengan resep ini:

    Cloud Dough Recipe

    1/2 cup baby oil

    4 cup tepung terigu

    Aduk rata dengan tangan atau sendok kayu sampai semua tercampur.

    Dalam resep asli yang saya peroleh dari sini, jumlah baby oil dan tepung terigu yang digunakan adalah 1:4. Tapi setelah dicoba, hasilnya menurut saya terlalu lengket sehingga susah dikeluarkan dari cetakan. Akhirnya saya tambahkan tepung lagi sampai teksturnya sesuai dengan yang saya inginkan. Lembut dan mudah dibentuk. Mirip pasir pantai.

     photo 61A47FDA-6DA3-4BED-A8FC-E781F225E379_zps2zurzqrv.jpg

    Dalam membuat cloud dough, akan lebih seru kalau anak-anak dilibatkan dalam pembuatannya sehingga mereka belajar mengenal perubahan tekstur. Proses menguleni adonan tepung dengan baby oil ini juga memberikan efek relaxing lho. Apalagi kalau dikasih sedikit aromaterapi seperti lavender. Ya kalau nggak adapun bau harum baby oil saja juga sudah cukup kok.

    Keenan dan kakak Cinta suka sekali main dengan cloud dough ini. Mulai dari dicetak sampai jadi arena main mobil-mobilan. Pura-puranya si hotwheels lagi jalan di gurun pasir terus terjebak dalam badai. Pada  kegiatan penuh imajinasi ini biasanya saya ajak Keenan ngobrol tentang petualangan si mobil. Sekaligus untuk merangsang perkembangan bahasanya. Biasanya sih adalah satu atau dua kosakata baru yang berhasil ditirukan Keenan.

    Saking serunya main seringkali cloud dough sampai berhamburan di lantai yang bikin lantai jadi licin. Jadi untuk anak yang lebih kecil sebaiknya lantai diberi alas plastik atau koran  supaya nggak terpeleset remahan cloud dough. Bisa juga main di halaman aja supaya nggak repot bersih-bersih.

    Setelah anak-anak bosan main, cloud dough saya simpan dalam plastic wrap dan dimasukkan ke dalam kotak plasik tertutup. Dengan cara ini cloud dough bisa tahan selama beberapa minggu sebelum habis terpakai.

    Hmmm kira-kira bisa dipakai untuk main apalagi ya? Ada ide? Share di komen ya, Mamas.

  • Kids Activities

    Menanam Kacang Hijau

    Awal tahun ini punya resolusi untuk lebih sering mengajak anak-anak beraktivitas di luar ruang, minimal 1 jam lah. Kadang sepulang sekolah Ugama sekitar jam 4 sore, saya bawa mereka main di taman bermain tapi seringnya sih karena capek dan masih banyak tanggungan pekerjaan rumah ya saya suruh mereka main di halaman belakang. Karena bosan cuma main-main nggak jelas, saya ajak Cinta untuk bikin science project sekaligus berkebun dengan menanam kacang hijau.

    Kenapa kacang hijau? Karena biji kacang hijau mudah sekali ditanam. Masih ingat proyek IPA jaman SD kan? Kacang hijau diletakkan dalam wadah yang sudah diberi kapas basah lalu didiamkan dalam ruangan yang terkena sinar matahari. Tak lama kemudian si kacang hijau bertunas menjadi tauge. Niat awalnya memang cuma mau bikin tauge, sekaligus membandingkan mana yang lebih subur dan cepat tumbuh antara biji yang diletakkan di ruang terang dengan yang ada di ruang gelap.

     

    Setelah si tauge tumbuh daun dan semakin besar, Cinta punya ide untuk menanamnya di halaman belakang. Dia bikin sendiri lubangnya, memindahkan tanaman dari mangkuk plastik ke dalam tanah dan menyiraminya hampir setiap hari.

    Tanaman ini tumbuh semakin subur, apalagi saat masih sering hujan. Menurut beberapa informasi yang saya peroleh dari om google, tanaman ini dapat tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur, memiliki curah hujan optimal dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Lama-lama setelah hampir nggak ada hujan, daunnya mulai menguning tapi tetap hidup. Seminggu sekali ditambah tanah yang sudah mengandung pupuk supaya tetap bertahan di antara serangan semut dan cuaca yang terlalu terik.

    Sejak bulan Maret lalu, mulai muncul polongnya. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan dan mengira polong yang mulai menghitam itu adalah daun yang mengering. Ternyata bukan. Karena serbuan asap dari kebakaran semak-semak di hutan dekat rumah, anak-anak saya larang main di halaman, saya pun hanya keluar untuk mencuci dan menjemur pakaian. Si kacang hijau pun sempat terlantar meski tetap disirami setiap 2 hari.

    Baru satu minggu yang lalu kami memutuskan untuk memanen kacang hijau yang sudah banyak sekali polongnya. Tadinya saya kira polong yang hitam menunjukkan kacangnya sudah rusak, eh dugaan saya salah. Justru polong yang berwarna coklat dan hijau menandakan kacang hijau sudah dapat dipanen. Sedangkan polong yang masih hijau masih belum matang benar.

    Seru juga berkebun dengan anak-anak. Cinta belajar tentang proses tumbuhnya tanaman dan merawat tanaman. Keenan asik bermain air dan tanah saat menyiram dan menambahkan tanah pada kacang hijau, saya pun mendapat pengetahuan baru tentang si kacang hijau. Abis ini mau nyoba menanam apalagi ya? Ada masukan?

  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • DIY, Kids Activities

    Akuarium Mainan

    Ceritanya mau ngikut Anggit dan mom Carra bikin akuarium dari kardus bekas buat mengisi waktu di hari pertama libur sekolah.

    Di pagi hari, kita sudah sibuk belanja peralatan perang, mulai dari art paper, doubletape, cat poster, glitter, dan beberapa printilan lainnya. Maklum, di kepala si mama ini udah kebayang itu akuarium mau dibungkus yang cantik, dicat warna-warni, trus dikasih dekorasi dari kerang yang kita kumpulin dari pantai kapan hari dan glitter-glitter cantik.

    Setelah itu kita mulai bekerja. Sementara si mama gunting-gunting kardus bekas biskuit sampai berlubang di tengah dan ngasih doubletape, Cinta dapat tugas bikin ikan dan menghiasnya.

    Abis itu dasar kardus dilapisi dengan art paper warna biru dan siapin apa saja yang mau dimasukan dalam akuarium, seperti rumput laut, gelembung air, batu-batuan, dll.

    Sambil nunggu Cinta selesai menggunting rumput laut dan menghias ikan-ikan, saya tinggal sebentar untuk brunch sambil buka-buka twitter. Pokoknya mah percaya penuh Cinta bakal selesaikan tugas bagiannya dengan bagus. Dan ternyata, she did it beyond expectation, saudara-saudara. Begitu saya selesai makan, ikan dan rumput laut sudah ditempel dengan manis di dinding kardus dan dihiasi glitter banyak sekali. Huehehehe

    Yah, baiklah tugas si mama tinggal merapikan sedikit, kasih plastik untuk menutup lubang kardus dan bungkus kardus dengan art paper. Dan beginilah jadinya. Tadaaaa…

    Nggak benar-benar persis seperti yang ada di bayangan saya sih tapi inilah hasil kreativitas Cinta sendiri. Lumayan deh. Yang penting kami menikmati prosesnya dan bocah 5,5 tahun saya itu menyukai hasilnya. Hmmm, abis gini bikin apalagi ya?

  • Kids Activities

    Jalan-jalan Ke Giant

    Hari ini, 20 Oktober 2011, Cinta dan teman-teman sekolahnya jalan-jalan ke Giant Pamulang Square bersama para bunda guru. Kegiatan field trip ini sudah diumumkan ke orang tua dan murid sejak awal Oktober, jadilah Cinta sangat menantikan waktu jalan-jalan ini. Hampir tiap bangun pagi dia tanya, “hari ini aku ke Giant ya?” Padahal sih, nggak harus nunggu field trip pun, Cinta sudah sering sekali ke Giant.

    Pagi ini akhirnya hari yang ditunggu datang. Setelah mandi, sarapan oatmeal dan sereal Honey Star, tepat jam 7.30 kami berangkat ke sekolah Cinta. Sampai di sana ternyata teman-teman yang sudah tiba lebih dulu, sedang berbaris masuk kelas untuk berdoa lebih dulu. Karena ingin menemani Cinta, saya dan pak suami pun menunggu di luar sekolah untuk kemudian bersama-sama ke Giant.

    Pada field trip kali ini, bundanya sudah memberi tahu bahwa transportasi disediakan oleh sekolah, tidak seperti tahun kemarin yang menggunakan mobil dari orang tua murid. Beliau juga mengatakan bahwa kami boleh menemani ke Giant tapi diminta untuk menunggu di tempat yang agak jauh, supaya mereka nggak merengek minta ini itu.

    Saat menunggu, datanglah 5 angkot kosong yang langsung parkir di sekitar area sekolah. Agak kaget juga sih, masa iya anak-anak ini mau disuruh naik angkot. Dan ternyata benar, transportasi yang disediakan sekolah adalah angkutan kota. Dieeengg. Waktu ketemu kepala sekolah, beliau minta maaf karena menggunakan kendaraan umum, katanya biar anak-anak juga merasakan naik angkot seperti apa.

    Well yah, karena jaraknya dekat, saya berusaha untuk mengikhlaskan Cinta naik angkot. Meski rada khawatir karena di angkot yang berisi lebih dari 10 anak itu hanya didampingi oleh 1 orang guru. Mungkin kalau jaraknya lebih dari 5 km, saya akan pikir-pikir lagi untuk mengijinkan Cinta naik angkot.

    Bukan saya sombong lho, nggak mau naik angkot. Lha wong saya dari SD kalo pas nggak ada yang nganter ya sekolah sampai kerja pun naik angkutan kota. Malah jaraknya Sidoarjo-Surabaya yang belasan kilometer itu.  Cinta pun suka saya ajak naik kendaraan umum. Cuma, menurut saya, untuk kegiatan sekolah seperti ini, anak usia KB – TK kok belum waktunya ya dilepas naik angkutan umum hanya dengan pengawasan 1 orang guru. Namun, berhubung Cintanya sendiri sih tampak ceria dan senang bisa pergi rame-rame sama teman-temannya. Saya pun agak tenang melepasnya.

    Sampai di sana, anak-anak berkumpul dulu sebelum masuk Giant yang lalu dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama ikut cooking class bikin donat sementara kelompok kedua keliling Giant sambil berbelanja dengan bekal uang Rp 10.ooo,00 yang sudah disiapkan oleh orang tua. Kebetulan Cinta dan teman-teman sekelasnya masuk dalam kelompok pertama. Mereka pun dengan semangat ikut kelas belajar membuat donat.

    Setelah semua duduk manis menghadap meja panjang, adonan donat yang sudah disiapkan tim Giant pun dibagikan ke anak-anak. Lalu mereka yang sebelumnya sudah cuci tangan dan melumuri tangannya dengan tepung diminta untuk membuat lubang di tengah adonan tersebut. Abis itu dikumpulkan di loyang untuk digoreng di dapur Giant. Sambil menunggu donat matang, kelompok pertama berkeliling Giant bergantian dengan kelompok kedua.

    Selesai berkeliling, anak-anak duduk bersama di dalam Giant sambil makan donat dan beristirahat sampai semua siap dan tiba waktunya pulang. Selain bawa pulang belanjaan, Cinta dan teman-temannya juga dapat goody bag dan balon dari Giant. Terima kasih bunda guru dan kakak-kakak dari Giant, Cinta senang sekali dengan acara jalan-jalan hari ini.