Browsing Category:

Family Health

  • Family Health

    Senam Yuk Senam

    Baca ceritanya Echie tentang senam hamil jadi kangen ikut senam rame-rame sesama bumil di RSIA. Dulu waktu hamil Cinta dibela-belain pulang kantor ikut senam di YPK padahal antara GatSu ke Menteng meski deket tapi macetnya amit-amit. Pas udah mau lahiran dan mudik ke Sidoarjo pun niat banget ikut senam di RS Mitra Keluarga Darmo Satelit padahal jauuuuh 😀 Tapi ya waktu itu angin-anginan sih, kalo pengen ikut kalo enggak ya tiduran aja di rumah hehehe. Setelah Cinta lahir blas nggak pernah olahraga.

    Nah sejak di Brunei dan punya waktu luang selama Cinta sekolah jadi kepikiran buat olahraga biar badan nggak gampang lemes. Tadinya sih ikut aerobic di salah satu klub fitnes 3x seminggu tapi cuma sebulan karena bosan. Akhirnya terinspirasi beberapa teman di twitter yang hobi lari ikutan deh lari seminggu 2-3x di playground yang ada jogging tracknya. Sayang begitu hamil kegiatan ini sempat berhenti karena nggak tahu apakah aman untuk ibu yang lagi hamil di trimester pertama.

    Setelah browsing dan nanya-nanya ke bidan juga teman yang ahli di bidang olahraga, mereka bilang selama kehamilannya sehat justru bumil disarankan olahraga. Minimal jalan kaki setiap hari selama 30 menit non stop. Berhubung saya nggak selalu bisa ke taman untuk jalan, akhirnya cari-cari deh di youtube senam hamil yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Dan dari sekian banyak video yang ada, nemu beberapa yang paling nyaman dan sering saya lakukan.

    Biasanya sekali senam langsung 1 set sekaligus, bisa 3 video dari Dr. Cathy, 3 videonya Baby Fit atau ikut panduan dari  VCD Antenatal Yoga yang saya beli dari salah satu situs hypnobirthing di Indonesia. Selang-seling aja tergantung kondisi fisik dan hati. Itupun nggak setiap hari dan nggak berani memaksakan diri, yah maksimal seminggu 4x. Kadang kalau lagi kumat malasnya kurang fit ya bisa seminggu nggak workout sama sekali.

    Meski video-video ini membantu sekali untuk latihan di rumah tapi tetap aja merasa ada yang kurang, terutama sih karena instrukturnya nggak bisa langsung lihat kita dan ngasih tahu kalau ada gerakan yang kurang tepat. Juga belum nemu nggak ada latihan pernafasan dan persiapan melahirkan. Tapi untuk sekadar supaya badan tetap bugar dan mengurangi keluhan-keluhan bumil seperti sakit pinggang, otot kaku, kaki kram, workout semacam ini lumayan sekali. Moga-moga juga bisa membantu tetap fit selama proses persalinan nanti ya.

    Kalau mommies, ikut senam hamil juga nggak? Atau olahraga apa yang dilakukan selama hamil? Sharing yuuuuk 🙂

  • Family Health

    To Judge or To Support

    Baca curhatnya Yayas yang baru melahirkan 2 minggu yang lalu soal perjuangannya menyusui Nja, saya jadi teringat pengalaman sendiri menyusui Cinta 5,5 tahun yang lalu.

    Di saat ibu-ibu lain bisa menyusui dengan mudah, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Mulai dari ASI yang keluar sedikit sampai Cinta harus menyusu hampir tiap jam dan bisa 30 menit sekali saat growth spurt, nipple crack karena pelekatan yang nggak sempurna dan rasanya aduhai sekali, baby blues, mastitis dan kurangnya support dari lingkungan terdekat.

    Ya sih saya tahu, banyak yang mengalami hal yang sama dan tetap berhasil menyusui. Tapi saat disertai kondisi bayi yang kolik hampir tiap hari sehingga saya harus puasa makan daging ayam serta seafood selama hampir 6 bulan dan suami yang jauh serta post partum depression, membuat saya hampir menyerah. Bahkan di bulan pertama, sempat Cinta diberi susu formula sebagai tambahan ASI. Ini juga salah satu penyesalan terbesar saya selama menyusui.

    Meski akhirnya di bulan-bulan berikutnya bisa terus menyusui tanpa susu tambahan sampai usia 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun, pengalaman tersebut menjadikan saya untuk nggak mudah menghakimi para mama yang hampir atau akhirnya menyerah menyusui bayinya. Apalagi kalau saya hanya kenal di dunia maya dan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka sebenarnya.

    Saya paham betul bahwa yang dibutuhkan saat berada dalam situasi seperti itu bukanlah ceramah, “Cuma sekian persen ibu di dunia ini yang secara medis ASInya nggak keluar. Sisanya pasti bisa, cuma nggak mau usaha aja.” Uh yeah, mungkin yang ngomong gitu belum ngerasain total tidur cuma 1 jam sehari selama beberapa hari berturut-turut karena terus-terusan menyusui bayinya.

    Atau, “Anak manusia itu minumnya ya susu manusia, bukan susu sapi. Yang minum susu sapi ya anak sapi.” Bahkan, “ASI is the best, sufor itu racun. Kamu tega apa ngeracunin anak sendiri dengan nggak mau ngasih ASI.” Nggak mau katanya, nggak tahu sini sudah jungkir balik mencoba berbagai cara supaya ASInya cukup untuk si bayi.

    “Banyak sedikitnya ASI itu cuma soal state of mind. Kamu harus yakin kalo ASImu cukup!” Tentu mudah dilakukan kalo nggak harus mendengar, “Sudahlah, ASImu itu nggak cukup. Liat anakmu nangis terus karena lapar. Mana berat badannya nggak naik-naik. Nggak usahlah sok ASI eksklusif-eksklusifan kalau bikin anak menderita gitu,” hampir tiap hari.

    Apalagi saat ibu-ibu lain dengan bangganya bercerita indahnya proses menyusui, ASI yang berlimpah sampai merembes-rembes di BH, sementara kami harus berjuang supaya hasil perahan di kantor bisa lebih dari 100cc tiap kalinya agar bisa dibawa pulang untuk minum si bayi. Asli, yang seperti itu sangat tidak membantu, bahkan nggak jarang bisa membuat kami makin down, akibatnya produksi ASI menurun karena stres.

    Tentu, banyak momen-momen indah yang dialami saat menyusui, melihat bayi mungil lahap menyusu dan tertidur dengan lelap setelah kenyang; eye to eye dan skin to skin contact yang meningkatkan hormon oksitosin dan terus merangsang let down reflex sehingga ASI keluar banyak menjadikan semua perjuangan itu terbayar lunas. Kebahagiaan melihat anak tumbuh sehat hanya dari ASI yang sekadar cukup (boro-boro mau donor ASI, bisa memenuhi stok untuk kejar tayang tiap hari aja sudah bersyukur sekali) membuat kami ikhlas harus menjalani semua itu.

    Hanya saja, seringkali dalam proses tersebut banyak hal yang dilakukan ibu-ibu lain atas dasar kepedulian dan niat baik malah justru bikin perjuangan kami makin berat karena cara yang kurang tepat.

    Yang kami butuhkan adalah telinga untuk mendengar, hati yang besar untuk bisa memahami kesulitan yang dialami serta penghargaan atas kemajuan usaha kami. Sederhana memang tapi nggak semua orang bisa melakukannya.

    Instead of saying things like I meant before, please kindly ask, “What can I do to help your breastfeeding process easier?” and mean it. Tawarkan solusi, bukan teori.

    “Aku ada kenalan konselor laktasi, kita ke sana yuk siapa tahu kamu bisa terbantu.”
    “Kamu mau ke dokter anak kenalanku yang pro ASI? Ajak ibumu sekalian biar bisa dukung kamu kasih ASI Eksklusif.”
    “Ini ada cara pijat payudara, siapa tahu bisa membantu melancarkan ASImu, bikin rileks juga lho.”
    “Temenku juga ada yang harus berjuang menyusui kaya kamu gini. Mau ngobrol sama dia? Ntar aku kenalin, siapa tahu dia bisa kasih tips-tips yang bisa membantu.”
    “Ada lho, grup ibu-ibu menyusui di daerah kita ini, ikutan gabung yuk pas kumpul-kumpul. Pasti seneng deh kalo bisa curhat di sana.”

    Bahkan seringkali mendengarkan kami curhat tanpa lantas memberi ceramah, menghibur, atau sekadar ngobrolin hal-hal lucu tentang kejadian sehari-hari bisa menjadi salah satu bentuk support yang efektif. Seperti yang dilakukan teman saya dulu, sesama busui yang menjalani long distance marriage dengan suami yang sering terbangun dini hari untuk menyusui.

    Meski dia jauh lebih beruntung karena ASInya berlimpah tak sekalipun menyombongkan diri. Bahkan kami saling bertukar info tentang krim yang bisa menyembuhkan nipple crack sampai menghilangkan stretch mark, saling curhat karena nggak bisa enak makan ayam dan seafood, tuker-tukeran resep sayur atau makanan yang bisa ngeboost volume ASI dan banyak hal sederhana lain. I was so grateful to have her as one of my support system beside my mom, husband dan kumpulan busui yang kemudian jadi cikal bakal terbentuknya asosiasi ibu menyusui di Surabaya.

    Kalau ada tetangga, saudara atau teman kantor yang sedang hamil ajak ikut seminar-seminar atau pelatihan laktasi. Kasih brosur atau buku-buku tentang menyusui tanpa embel-embel, “Harus bisa kasih ASI ya, itu kewajiban ibu, blablabla.” Just let it be their choice. Yang penting kita sudah berusaha.

    Seandainya sudah benar-benar nggak tahan pengen ngejudge karena segala usaha sebaik dan sehalus apapun yang kita lakukan nggak berhasil, sebisa mungkin simpan untuk diri sendiri atau ngobrolah dengan suami. Jadikan bahan pelajaran supaya kita siap dan tahu harus bagaimana seandainya hal seperti itu terjadi sama kita atau orang-orang terdekat.

    Stop judging, start supporting.

  • Family Health

    Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya

    Beberapa waktu lalu, saya dapat leaflet ini dari bidan tempat saya periksa kehamilan di Suri Seri Begawan Hospital, Brunei. Isinya bagus, tentang mitos-mitos yang menghambat inisiasi menyusu dini atau IMD secara normal. Tadinya sih mau dishare via twitter tapi setelah bikin draftnya lha kok jadinya buanyak banget. Jadi mending ditulis di sini aja deh, biar sekalian ada filenya juga, siapa tahu besok-besok perlu lagi.

    Leaflet Mistaken Beliefs Barriers To Normal Breastfeeding Initiation ini dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Negara Brunei Darussalam dalam menyambut World Breastfeeding Week 2007, udah lama banget ya. Jadi kalo ada yang lebih update mohon koreksinya yah.

    Mitos-Mitos yang Menghambat IMD
    (Mistaken Beliefs Barriers to Normal Breastfeeding Initiation)

    1. Bayi akan kedinginan selama proses IMD
      Fakta:
      Bayi berada pada suhu yang aman saat terjadi skin-to-skin contact dengan ibu. Bahkan yang menakjubkan, suhu di daerah payudara ibu meningkat 0,5ºC dalam waktu 2 menit begitu bayi diletakkan di dada ibu.
    2. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi.
      Fakta:
      Kolostrum sangat penting bagi bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat:
      * Berfungsi sebagai imunisasi pertama yang melindungi bayi dari infeksi saluran cerna dan infeksi lain
      * Berfungsi sebagai pencahar (purgative) untuk mempersering pembuangan kotoran yang berwarna kehitaman untuk mengurangi sakit kuning (jaundice) pada bayi.
    3. Bayi tidak akan mendapatkan cukup makanan atau minuman bila hanya diberi kolostrum dan ASI
      Fakta:
      Kolostrum cukup untuk makanan pertama bayi. Adalah hal yang normal bila bayi baru lahir kehilangan 3-6% dari berat badannya saat lahir. Bayi dilahirkan dengan cadangan air dan gula dalam tubuh yang digunakan di hari-hari pertamanya.
    4. Bayi baru lahir membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum diberi ASI.
      Fakta:
      Cairan prelaktal apapun (yang diberikan sebelum proses menyusui dimulai) dapat meningkatkan resiko infeksi pada bayi, mengurangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan memperpendek waktu menyusui.
    5. Ibu terlalu lelah setelah persalinan dan melahirkan untuk dapat segera menyusui bayinya.
      Fakta:
      Sentuhan kulit secara langsung antara bayi dan ibu serta proses IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membuat ibu merasa tenang setelah bersalin.
    6. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan waktu yang lama untuk membantu ibu melakukan IMD.
      Fakta:
      Ketika bayi berada di dada ibunya, petugas penolong persalinan dalam melanjutkan penilaian rutin terhadap ibu dan bayinya serta pekerjaan lain. Ini akan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari jalan sendiri ke payudara ibunya.
    7. Ibu membutuhkan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit setelah persalinan.
      Fakta: Kebanyakan ibu tidak memerlukannya. Terapi pengganti dan pendamping persalinan yang suportif dapat membantu ibu menahan rasa sakit. Obat penahan sakit atau bius hanya akan menyebabkan bayi mengantuk dan memperlambat inisiasi menyusu sampai beberapa jam atau hari.

    Nah, kalau sudah tahu faktanya jadi nggak ragu lagi kan untuk meminta dokter atau bidan memberikan kita kesempatan melakukan inisiasi menyusu dini segera setelah bayi dilahirkan.

    Dulu saat melahirkan Cinta tahun 2007, saya nggak dapat IMD padahal selama dokter dan bidan mengeluarkan placenta, menjahit perineum dan melakukan pemeriksaan, bayi diberikan ke saya meski dalam keadaan sudah terbungkus selimut. Payahnya saking bingung dan excited menimang bayi yang baru lahir itu, saya cuma bisa meluk sambil ngeliatin takjub si bayi.

    Selain itu selama di rumah sakit juga nggak bisa ngasih ASI Eksklusif karena saya nggak minta! Bego ya. Padahal sudah banyak belajar melalui milis ASI. Duh, nyesel banget tiap inget masa-masa itu. Makanya, kalau dikasih kesempatan melahirkan lagi nanti, sebisa mungkin pengen bisa IMD  yang seperti di video bikinan UNICEF Indonesia ini:

    Kebetulan RS di Brunei sini, khususnya Suri Seri Begawan Hospital sangat peduli terhadap pemberian ASI Eksklusif, sehingga mereka mendorong ibu yang melahirkan di sana untuk menjalani IMD dan rawat gabung (rooming in) dengan bayi.

    Tapi kalau ternyata berubah pikiran untuk melahirkan di Indonesia, sepertinya harus cari RS atau rumah bersalin di daerah Sidoarjo atau Surabaya Selatan yang mau melakukan IMD dan rawat gabung. Ada rekomendasi kah, moms/dads? Kalau moms sendiri pengalaman IMDnya dulu gimana? Cerita yuk 🙂

  • Family Health

    Combo DPaT & IPV

    Doctors do not yet have drugs to cure diseases caused by viruses. But they can give you shots to prevent some of these diseases.”
    Germs Make Me Sick – by Melvin Berger, Ilustrated by Marylin Hafner.

    Usia 5 tahun adalah waktunya Cinta mendapatkan booster imunisasi DPT, Polio dan MMR. Jauh hari sebelumnya saya sudah memberitahu Cinta tentang hal ini yang selalu mengakibatkan dia histeris karena masih trauma saat imunisasi Typhoid dan Hep. A tahun kemarin. Entah kenapa semakin besar, anak-anak semakin takut disuntik, padahal sampai usia 2 tahun si bocah ini anteng-anteng aja tiap waktunya imunisasi.

    Berdasarkan hasil konsultasi dengan mbak Anna Surti Nina melalui akun twitternya, saya pun mencoba berbicara lagi dengan Cinta. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-5, setelah makan malam saya bilang, “Kak, kan sekarang sudah 5 tahun nih, berarti waktunya untuk…” “Imunisasi ya Ma? dia balik bertanya. “Iya, sudah waktunya untuk imunisasi,” jawab saya. “Oke Ma, sekarang?” Huoooo jawaban yang sama sekali nggak saya duga. “Enggak kak, kita pilih sama-sama yuk tanggalnya, kapan kakak mau imunisasi,” saran saya.

    Akhirnya ditentukanlah tanggal 23 Juni 2012 yang jatuh di hari Sabtu. Beberapa hari sebelumnya saya bertanya-tanya ke mbak Suci, teman sesama warga negara Indonesia yang tinggal di Brunei dan Fey, resepsionis apartemen kami mengenai di mana kami bisa mendapatkan imunisasi untuk anak-anak. Mereka pun menyarankan ke Pusat Kesihatan. Dan kebetulan di dekat apartemen ada Pusat Kesihatan (semacam puskesmas kalau di Indonesia sih) yang bagus.
    Sepulang Cinta sekolah, kami pun ke Pusat Kesihatan Sg. Liang yang sayangnya sedang tutup karena istirahat makan siang. Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi sore hari. Saat kembali, ternyata kami belum beruntung karena klinik anak tidak lagi menerima pasien imunisasi di Sabtu sore dan kami diminta kembali di hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012.

    Awalnya mereka nggak mau lho memberikan vaksinasi setelah tahu kami bukan penduduk lokal atau permanent resident Brunei. “Sebaiknya imunisasi di Indon sajalah, kan bulan delapan kamu mau pulang toh?” kira-kira begitulah ujar salah satu suster, tentu saja dalam bahasa Melayu. Baiklah kakaaaaak. Tapi suster yang lain sambil memeriksa kartu imunisasi Cinta (yang untungnya selalu saya bawa ke mana-mana sampai lecek) terus bertanya banyak hal, sampai akhirnya memutuskan Cinta bisa dapat imunisasi di sana karena ia bersekolah di Brunei.

    Dibantu satu orang suster senior yang sangat ramah, suster muda yang baik ini mengisikan kartu medis untuk Cinta. Didata lagi imunisasi apa saja yang pernah didapat dari lahir. Lalu menuliskan waktu perjanjian dan tata cara bertemu dokter. Selama itu Cinta merengek-rengek di pelukan papanya karena takut disuntik dan akhirnya tersenyum lega karena batal.

    Sesuai saran mbak Anna, pada tanggal 28 Juni, apapun yang terjadi kami kembali ke Pusat Kesihatan. Setelah ambil nomer antrian, dicek data dan kondisi kesehatan oleh suster, kami pun antri di bagian suntik untuk mendapatkan imunisasi DPaT dan IPV. Cinta yang kali ini cuma pergi sama saya nggak tampak cemas sama sekali. Malah asik main sampai namanya dipanggil. Dipikir-pikir, ini bocah cuma ngalem kalo ada papanya.

    Begitu masuk ruang suntik, bidannya ngecek lagi umurnya Cinta dan memastikan kami ke situ untuk mendapatkan suntikan bagi anak usia 5 tahun sesuai yang ditulis suster di bagian pendaftaran. Setelah siap, saya diminta memangku Cinta yang sudah mulai menangis heboh. Sekian detik kemudian imunisasi pun selesai dan kami dipersilahkan pulang tanpa harus membayar sepeser pun. Hah, lunas sudah hutang imunisasi tahap pertama. Tinggal nanti saat mudik mau melengkapi booster MMR dan Hep. A.

    Oya, tadinya saat membujuk Cinta untuk imunisasi saya menjanjikan Cinta membelikan mainan apa saja yang ia inginkan tapi selalu ditolak. Nah, setelah selesai vaksin, saya kembali bertanya apa yang Cinta inginkan sebagai hadiah karena sudah berani disuntik dan dia bilang cuma mau tidur sambil dipeluk mama sambil baca buku “Germs Make Me Sick” karangan Melvin Berger dan Marylin Hafner terbitan Scholastic favoritnya yang ada adegan anak diimunisasi.

    Jadilah siang itu kami tidur berpelukan, sambil membaca tak lupa saya puji dan ucapkan terima kasih atas kesediaannya melakukan imunisasi. Saya juga bilang, “Insya Allaah setelah ini kakak makin sehat dan kuat, karena imunisasi tadi akan membentuk kekebalan tubuh di badan kakak.” Aamiin…

    Selamat hari Jumat, semua…. Sudahkah imunisasi anak-anak dilengkapi? Yuk cek jadwal imunisasi IDAI 2012 atau jika berencana pindah ke luar negeri cek jadwal imunisasi CDC atau WHO. Jangan lupa selalu bawa kartu medis atau medical record anak ya, minimal kartu imunisasinya. It would come in handy when you visit a doctor or need to catch up their vaccination.

    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 0 – 6 Tahun (PDF)
    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 7 – 18 Tahun (PDF)

  • Family Health, Recipe

    Sore Throat Remedies

    Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit tenggorokan yang sakitnya terasa menusuk-nusuk sampai telinga, nggak enak banget. Mau makan susah, nggak makan laper. Ditambah demam bikin badan lemas selama beberapa hari. Saya tahu sakit tenggorokan kebanyakan disebabkan oleh virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya tapi rasanya nggak dosa kan ya kalau mencari cara meringankan gejala supaya tetap dapat beraktivitas seperti biasa.

    Setelah browsing dan menemukan serta mencoba beberapa cara seperti kumur-kumur pakai air hangat dan garam, minum air jeruk hangat sampai makan mie instan super pedas dan belum menunjukkan tanda-tanda tenggorokan mulai membaik, akhirnya saya mencoba bertanya kepada teman-teman di twitter. Mereka pun berbaik hati memberikan saya beberapa cara home treatment untuk meringankan sakit tenggorokan. Berikut saya copas twit teman-teman, siapa tahu ada yang membutuhkan:

    @hildayie: strepsils ma air putih anget. Trus tidurnya agak tinggi kpalanya, klo gak pasti guatel dan memicu batuk

    @as3pram: minum anget2 ama ndusel bojo

    @_plukz: makan indomi pedes pake bubuk cabe banyak juga membantu. kasi telor setengah mateng dan suwiran ayam

    @cahyayu: coldizo tablet! Tablet kunyah yg mengandung ekstrak tumbuhan..obgyn di RS sy suka meresepkan bwt bumil

    @yohanes_hans: masalah tenggorokan yg paling enak minum jeruk panas. yg agak ekstrim ngunyah jahe 😀

    @kabarburung: Kumur dg larutan garam dan air hangat ..

    @merkrisnanti: Teh crysanthium Mbak

    @DyahYantie: Biasanya aku minum air rebusan daun pecut kuda,cespleng. FG Troches malah bikin batuk Mbak

    @faroex: 1. minum pke air hangat ex: lemon tea/teh hangat+madu

    @faroex: 2. Kumur2 dg air garam hangat (1/2 sndok teh garam dlarutkan dlm 1 gelas air), kumur2 2-3x shari

    @ndutyke: mie direbus bareng ama tomat dibelah 4 jg enak. Jadinya asem2 seger gt 🙂 enak klo pas lg idung buntu.

    @ndutyke: kalo #sorethroatremedies, coba konsumsi habbatussauda, jeng. Manjur kalo buat aku n suami, so far sih ya..

    Kalau cara kalian gimana?

  • Daily Stories, Family Health, Parenting

    Membujuk Anak untuk Imunisasi

    Semakin besar, Cinta semakin susah diajak imunisasi. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan pernah pengalaman diimunisasi paksa, sehingga tiap diingetin jadwalnya imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, bulan ini pas ulang tahunnya ke-5, waktunya dia booster DTP, MMR dan Hep. A tapi masih bingung cara bujuknya. Nanya ke twitternya mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, beliau memberikan saran seperti ini:

    Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ / ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan. Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D. Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi. Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian ‘wah kamu pasti tambah kuat & sehat sekarang’ atau ‘mama bangga sama kamu’.

    Saran ini sedang saya praktikkan dan tadi malam sudah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu.hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah. Doakan kami berhasil di hari H ya 😀

  • Family Health

    Pemberian ASI Ibu Bekerja

    Ceritanya, kemarin saya periksa kesehatan di Eka Hospital, BSD. Waktu lagi ambil nomer antrian, saya melihat brosur “Pemberian ASI Ibu Bekerja” ini di meja pendaftaran. Iseng saya ambil dan baca. Ternyata isinya (menurut saya lho) cukup lengkap dan informatif.

    Saat menyerahkan nomer antrian ke poliklinik yang saya tuju, brosur ini juga terpampang jelas dan manis. Selama saya menunggu giliran masuk ke ruang periksa, cukup banyak ibu hamil yang mengambil brosur tersebut. Yah, meski ada poin yang harus diperbaiki (misalnya soal kapan sebaiknya mulai memompa ASI), semoga dengan adanya brosur itu yang diletakkan di tempat yang mudah dijangkau di sebuah rumah sakit, bisa membantu ibu hamil dan ibu menyusui yang bekerja untuk tetap memberikan ASI kepada buah hatinya.

    Untuk info yang lebih lengkap tentang manajemen pemberian ASI Ibu Bekerja, kita bisa lho ikut kelas-kelas pelatihan ASI yang sudah banyak dilakukan oleh konsultan-konsultan laktasi yang tergabung dalam AIMI (cek agendanya di sini) ataupun KLASI YOP. Selain ilmunya lebih banyak juga diajarkan teknik-teknik memerah atau memompa ASI yang baik. Berguna sekali untuk para ibu bekerja.

    Kalau kurang jelas silakan diklik gambar brosurnya untuk versi gambar yang lebih besar. Atau sila baca salinannya berikut:

    Pemberian ASI Ibu Bekerja

    Ibu sibuk bekerja ataupun banyak beraktifitas bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya, karena ASI dapat disimpan terlebih dahulu.

    Selain itu ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, maka dari itu pemberian ASI adalah suatu kewajiban. ASI tidak dapat diganti dengan susu yang mempunyai formula terbaik sekalipun.

    Manfaat ASI

    • Sebagai sumber nutrisi untuk bayi
    • Meningkatkan kecerdasan anak
    • Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak
    • Meningkatkan daya tahan tubuh anak

    Ketahanan ASI Terhadap Suhu

    1. Suhu ruangan:
      Tahan kurang lebih 4 jam (apabila ASI tidak digunakan dalam waktu 4 jam, masukkan ke dalam lemari pendingin)
    2. Lemari Pendingin:
      – ASI dapat bertahan 48 jam (apabila dimasukkan ke dalam freezer, ASI dapat bertahan lebih dari 48 jam)
      – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
    3.  Freezer (suhu lebih rendah dari -20 derajat C)
      – ASI dapat bertahan kurang lebih 4 bulan
      – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
    4. Freezer (suhu lebih rendari dari -70 derajat C)
      – ASI dapat bertahan 6-12 bulan

    Hal Yang Harus Diperhatikan Bila ASI Telah Dihangatkan

    1. ASI hanya bertahan kurang lebih 1 jam (disimpan di suhu ruangan setelah dihangatkan)
    2. Dari lemari pendingin/freezer: Tahan hingga 24 jam (jangan lupa ubah label sesuai tanggal & waktu penghangatan)
    3. ASI jangan dibekukan lagi

    Hal Yang Harus Diperhatikan Untuk Memperbanyak Produksi ASI

    1. Berikan ASI minimal 12 kali dalam 24 jam
    2. Berikan ASI setiap anak Anda menginginkannya
    3. Lakukan teknik menyusui dengan benar
    4. Ibu makan makanan bergizi
    5. Minum air putih sebelum dan sesudah menyusui
    6. Ibu istirahat/tidur yang cukup (kurang lebih 8 jam sehari)
    7. Ibu harus yakin dapat memberikan ASI

    Memompa ASI

    1. ASI sudah mulai dipompa 3 hari sebelum ibu mulai bekerja dan disimpan di lemari pendingin
    2. Saat di tempat bekerja, lakukan pemompaan setiap 2-3 jam
    3. Simpan ASI yang sudah dipompa di botol yang telah direbus
    4. Gunakan pemompa yang dapat disterilkan di bagian yang terkena ASI

    Cara Menghangatkan ASI

    1. Bila disimpan di suhu ruangan, tidak perlu dihangatkan
    2. Bila dalam lemari pendingin/freezer, diamkan di suhu ruangan selama 30 menit kemudian rendam dengan air hangat
    3. Tidak boleh dihangatkan menggunakan microwave, di atas kompor atau di dalam air panas karena dapat menurunkan nilai gizi ASI
  • Family Health, Parenting

    ASI is The Best

    “Dan apakah ASI pasti jadi pilihan yang paling tepat?”

    Kutipan itu saya ambil dari sebuah tulisan di salah satu media online yang sedang membahas tentang ASI vs Sufor. Yayaya topik itu memang nggak ada matinya, yes. Di tengah gencarnya kampanye bawah tanah tentang pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun, kubu sebaliknya juga nggak mau kalah. Semakin banyak iklan-iklan susu formula dengan formatnya yang bikin ibu-ibu meyakini bahwa sufor pun tak kalah baiknya dari ASI. Bahkan nggak sedikit tenaga kesehatan dan rumah sakit yang langsung memberikan susu formula kepada bayi baru lahir tanpa persetujuan ibunya dengan alasan air susu ibu belum keluar sampai bayi kuning.

    Kenapa saya bilang kampanye ASI adalah gerakan bawah tanah? Karena meski didukung oleh dinas kesehatan tapi pelaksanaannya masih berupa sosialisasi dari mulut ke mulut. Via penyuluhan di posyandu, kelas-kelas edukasi oleh organisasi nirlaba pendukung pemberian ASI, support group dan media online. Belum ada dana besar yang dikucurkan untuk pembuatan iklan ASI eksklusif seperti halnya susu formula.

    Saya sendiri nggak anti susu formula, Cinta juga nggak sukses-sukses amat ASI eksklusifnya karena 2 minggu pertama masih minum susu formula. Bahkan ketika saya bekerja, di usia 9 bulan, Cinta terpaksa diberi tambahan susu formula karena stok ASI Perah saya nggak cukup. Kesalahan yang saya sesali adalah tidak mempersiapkan stok ASIP ini dari awal, sehingga meski dalam perjalanan berangkat kerja, di kantor dan pulang kerja saya bisa memompa 4x tapi tetap saja nggak bisa memenuhi kebutuhannya akan susu.

    Saya setuju bahwa tidak bisa memberikan ASI bukan berarti saya ibu yang kurang baik dibandingkan ibu-ibu yang sukses memberikan air susunya untuk bayi mereka. Masih banyak faktor lain yang harus diperhitungkan untuk menilai seorang ibu itu ibu yang baik atau bukan. Ada pola asuh, pemberian nutrisi & asupan gizi, dll. Dan menurut saya yang berhak menilai pun anaknya sendiri, bukan sesama orang tua. Apa yang baik menurut kita belum tentu cocok untuk diterapkan di keluarga lain, bukan.

    Para ibu yang sudah berusaha memberi ASI namun gagal juga tak perlu rendah diri. Yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Tapi saya tetap percaya bahwa ASI adalah pilihan yang terbaik. No question, about it. Kegagalan sekarang bisa jadi pemacu untuk belajar lebih banyak lagi tentang ilmu dan manajemen ASI. Apalagi saat ini sudah semakin banyak konselor laktasi yang siap membantu. Semangat!

  • Family Health, Foods and Places

    Klinik Anakku BSD

    Klinik Anakku BSD

    Hari Sabtu kemarin, karena Cinta makin lemas dan demamnya sampai 40 derajat Celcius, akhirnya saya memutuskan untuk bawa Cinta ke dokter. “Hah, batuk pilek demam aja ke dokter? Baca lagi dong guidelinesnya. Common cold nggak perlu ke dokter. Nanti juga sembuh sendiri!” Wuah, iya deh… Gini ya, menurut saya meski udah hafal guidelines common problems in pediatric tapi ya namanya saya bukan dokter, pengen dong konsultasi sama yang ahlinya. Setidaknya untuk memastikan dugaan saya kalau batuk pilek demamnya Cinta itu memang cuma common cold. Lagipula apa salahnya sih diskusi sama dokter? Yang penting kita udah punya pegangan jadi enak nanya-nanya ke dokternya.

    Nah, karena deket rumah nggak ada dokter anak yang bagus akhirnya hunting dokter spesialis anak di sekitaran BSD. Awalnya sih mau ke Eka Hospital tapi takutnya hari Sabtu nggak ada yang praktek. Lagipula agak malas juga kalau harus ke RS karena pengalaman suka banyak banget pasiennya, antri dokter sama antri obat bisa berjam-jam. Keburu makin lemes deh ah si Cinta.

    Memang sih kalau cuma common cold juga bisa periksa di dokter umum dan di kompleks ada dokter umum langganan para ibu yang anaknya sakit. Jadi mestinya bagus dong ya. Tapi saya masih belum sreg nih karena belum pernah bawa Cinta periksa di dokter umum selain ke UGD dulu karena demam tinggi.

    Lantas saya ingat kalau nggak salah ada klinik khusus untuk anak di BSD dan setelah browsing nemu Klinik Anakku. Klinik ini lokasinya di Ruko Golden Madrid 2 Blok I-8, Jl. Letnan Sutopo (depan Pasar Modern BSD). Untuk memastikan bahwa ada dokter yang praktik, saya telpon dulu ke nomor 021-531 64830 dan 021-7091 3227. Alhamdulillah, bagian pendaftarannya memastikan kalau dokter praktik sampai jam 11.

    Begitu sampai di sana ternyata kliniknya sepi, jadi sambil nunggu saya daftar, Cinta bisa main di ruang tunggu. Permainannya nggak banyak sih, cuma lumayan lah daripada lu manyun 😀 eh, maksudnya cukup menghibur. Kalau malas main juga bisa nonton TV. Berhubung pasiennya cuma kita, abis daftar langsung diajak ke ruang praktik dokter di lantai 2. Setelah ditimbang dan ditanya keluhannya oleh suster, kita masuk kamar periksa.

    Ruang periksanya khas ruang periksa dokter spesialis anak. Dinding bercat terang, wallpaper Pooh, tempat tidur beralas lucu dan penuh boneka di atasnya. Di meja dokter juga ada mainan-mainan yang berjejer, bahkan stetoskopnya dikasih sarung yang ada bonekanya. Dekorasi seperti itu bikin anak nyaman dan mungkin bisa sedikit berkurang rasa takutnya.

    Dokternya sendiri ramah dan mau berkomunikasi dengan Cinta, minimal tanya nama, umur, sekolah, dan ngobrol sedikit untuk mencairkan suasana gitu lah. Abis ngomong ama Cinta, beliau tanya tentang gejala yang dialami Cinta. Sempat kaget juga begitu saya kasih tahu kalau demam sampai 40 der C, ditanya kejang nggak. Ya Alhamdulillah sih nggak pakai kejang demam. Waktu periksa pun Cinta nggak disuruh tiduran, cukup duduk di atas tempat tidur, jadi dia nggak tegang. Begitu selesai diperiksa, dokter bilang cuma batuk pilek dan ada radang lalu menuliskan resep *nyengir*. Cinta langsung bilang, “bu dokter, obatnya jangan yang pahit ya. Cinta nggak suka.” Beliau dengan ramah menjawab, “Oh, enggak kok. Nanti ada yang rasa jeruk ya obatnya.” Eh, dibalas lagi sama Cinta, “Maunya yang rasa blueberry muffin aja bu dokter, sama Stimuno.” Yang dijawab, “Yah, kalau Stimuno nanti lama sembuhnya.” Hihihi, ada-ada aja si Cinta.

    Sambil menunggu dokter nulis resep saya tanya obat apa aja yang dikasih dan seperti dokter pada umumnya, beliau cuma bilang obat buat batuk, pilek dan demam berupa puyer plus antibiotik buat radangnya dan ibuprofen untuk demam. Lagi-lagi, saya cuma nyengir aja karena lagi males ngobrol panjang lebar. Yang penting saya tahu kalau memang gejala yang dialami Cinta itu common cold aja.

    Abis periksa turun ke bawah, nunggu obat yang langsung diambil di situ. Begitu selesai dicek oleh apoteker, saya bayar sekitar Rp 250,000.00 untuk dokter dan obat plus bonus majalah Anakku karena Cinta adalah pasien baru. Cinta pun main lagi sambil nunggu obat selesai diracik. Bosan main, dia liat-liat etalase di situ yang memajang mainan. Sedangkan saya asik liat lemari yang isinya buku-buku tentang parenting dan kesehatan. Ternyata nggak terlalu lama nunggu obatnya. Sekitar 15 menit aja udah bisa diambil.

    Well, overall sih pelayanan dan tempatnya cukup bagus dan cepat ya.  Buat saya yang penting nggak terlalu ramai, sehingga antrinya nggak terlalu lama dan bikin capek. Biaya yang dikeluarkan juga standar lah. Soal dokter dan obat-obatan, kalau memang kepengin yang rational use medicine ya harus kitanya yang cerewet nanya-nanya. Sekalian “ngasih tahu” dokter kan kalau pasien sekarang udah punya sedikit ilmu dan bisa diajak diskusi.