Browsing Category:

Family Health

  • molluscum contagiosum, kutil pada anak, penyakit kulit pada anak
    Family Health

    Ada Kutil di Kulit si Anak? Mungkin itu Molluscum Contagiosum. 

    Menjelang akhir tahun 2016 saya melihat ada bintik-bintik kecil di kakinya Keenan. Awalnya saya pikir cuma efek kulit sensitifnya yang kering dan bakal hilang sendiri karena nggak merah dan nggak berair. Tapi setelah beberapa minggu nggak hilang suami mulai aware dan beberapa kali tanya tentang bintik-bintik itu. Saya masih tetap santai karena ketika ditanyakan ke Keenan dia jawab nggak sakit dan nggak gatal.

    Sebulan kemudian saat saya membawa Keenan periksa ke dokter karena batuk pilek yang berkepanjangan, sekalian saya tanya tentang bintik-bintiknya. Beberapa pertanyaan yang diajukan dokter, yaitu:

    “Sudah berapa lama?” “Sebulan lebih.”

    “Terasa gatal, sakit atau panas nggak?” “Enggak.”

    “Sebelum bintik-bintiknya muncul apa Keenan berenang di kolam renang umum?” “Iya, kebetulan 2 bulan sebelumnya kami berenang di sebuah waterpark dan pantai.”

    molluscum contagiosum, kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

    Dari hasil pemeriksaan dan pertanyaan, dokter menyimpulkan bahwa Keenan terkena virus HPV yang menular lewat air di kolam renang umum. Virus HPV tipe yang menyebabkan kutil ini nggak berbahaya, bahkan cukup umum dialami oleh anak dan orang dewasa khususnya laki-laki. Karena penyebabnya virus ya bisa sembuh sendiri dalam 2-3 bulan tanpa perlu mengkonsumsi obat. Hanya saja kalau imunitas tubuh Keenan sedang turun bisa terinfeksi virus itu lagi.

    Okelah, alhamdulillah penjelasan dokter membuat saya tenang. PR saya waktu itu hanyalah meningkatkan daya tahan tubuh Keenan supaya bisa melawan virusnya.

    Tapi setelah lebih dari 4 bulan, kutilnya nggak menghilang. Malah muncul beberapa lagi di dada dan perutnya. Keenan pun mulai sering menggaruk bagian kakinya yang berkutil, apalagi saat kulitnya kering. Kulit Keenan ini memang gampang kering sejak bayi, sampai dia hanya bisa pakai Sebamed bayi. Sabun lain bakal bikin kulitnya makin kering. Susahnya lagi dia nggak suka minum air. Dalam 1 hari paling mentok 2 botol air minum kapasitas 450ml. Jadi, kondisi seperti ini semakin membuatnya nggak nyaman dan saya kekhawatiran saya muncul lagi.

    Nah, sebelum bulan Ramadhan 2017, kami dapat kesempatan untuk ke dokter lain. Waktu itu, kakak Cinta dapat rekomendasi dari dokter sekolah untuk bertemu dengan dokter di Pusat Kesihatan Sg. Liang. Sekalian deh saya periksakan Keenan ke dokter.

    Senada dengan dokter sebelumnya, dokter ini juga bilang kena virus tanpa menyebutkan nama virusnya dan bakal bisa hilang sendiri. Beliau meresepkan salep anti gatal yang sayangnya saat itu sedang nggak tersedia di sana. Saya coba bersabar lagi sambil tetap mengoleskan body lotion khusus untuk bayi ke kulitnya yang kering.

    Waktu mudik ke Sidoarjo untuk merayakan Idul Fitri 2017, saya dan suami mencoba memeriksakan Keenan ke dokter spesialis anak di salah satu klinik ibu dan anak di Sidoarjo. Dokter yang baik dan ramah itu menyimpulkan kutil tersebut disebabkan oleh alergi. Beliau meresepkan 2 buah salep, 1 lotion untuk melembabkan kulit kering dan 1 sirup untuk mengurangi efek alerginya.

    Setelah pemakaian hampir seminggu, nggak ada tanda-tanda kutilnya membaik. Tapi alhamdulillah memang kulit Keenan jadi lebih lembab sehingga dia nggak terlalu merasa gatal. Akhirnya kami hentikan pemakaian salepnya karena hydrocortisone kan memang nggak boleh untuk pemakaian jangka panjang. Lalu memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit.

    Karena masih dalam rangka libur lebaran, nggak gampang cari dokter spesialis kulit yang praktik di hari Sabtu, alhamdulillah ada di RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Dokter spesialis kulit kelamin yang saya lupa namanya itu (maaf, Dok), memeriksa kutil di kulit Keenan dan mendengarkan penjelasan kami dengan sabar. Kemudian beliau menerangkan bahwa penyebab kutil yang dimiliki Keenan bukanlah virus HPV melainkan infeksi viral yang disebut Molluscum Contagiosum. Wah, saya baru sekali ini dengar namanya meskipun ternyata cukup umum dialami oleh anak-anak usia 1-12 tahun.

    Molluscum Contagiosum adalah infeksi viral yang menyebabkan bintik-bintik kecil pada kulit yang penampakannya mirip dengan kutil dan biasanya berwarna putih (seperti punya Keenan), pink atau sewarna dan kulit. Bintik mollusca ini biasanya halus, mengkilat seperti mutiara dan kadang penyok atau berisi di tengahnya. Dan umumnya terdapat di dada, perut, lengan, ketiak, kaki, area genital dan wajah.

    Molluscum Contagiosum, kutil pada anak, menyembuhkan kutil pada anak, penyebab kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

    Penyebab penyakit ini adalah virus molluscum contagiosum (MCV) yang masih bagian dari poxvirus. Menurut kidshealth.org, anak terinfeksi MCV ketika virus memasuki bagian kulit yang terluka. Banyak orang yang tubuhnya secara otomatis membangun kekebalan untuk melawan virus ini ketika terinfeksi sehinggga nggak muncul bintik molluscanya. Tapi bagi sebagian yang nggak kebal, pertumbuhan mollusca atau kutil muncul 2 sampai 7 minggu setelah terinfeksi MCV.

    Biasanya virus ini menyebar di daerah yang hangat, lembab dan padat penduduk. Agak aneh sih karena meski hangat dan lembab tapi tempat kami tinggal nggak padat penduduk. Tapi bisa juga tertular lewat teman-teman di kelas ya.

    Anak-anak dapat terinfeksi virus molluscum contagiosum melalui skin-to-skin contact atau menyentuh benda yang sudah terpapar virus tersebut seperti mainan, baju, handuk dan alas tidur. Dan mollusca bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya ketika tangan yang digunakan untuk menyentuh atau menggaruk mollusca menyentuh bagian tubuh yang lain.

    Menurut dokter SPKK dari Mitra Keluarga Waru Sidoarjo itu, satu-satunya cara menghilangkan kutil pada anak ini  dengan mengeluarkan isinya dengan alat seperti pinset. Tapi karena prosesnya sakit dan dapat menimbulkan trauma pada anak, dokter nggak melakukannya saat itu juga. Beliau hanya memberikan lotion untuk mengurangi gatalnya dan obat anti virus untuk meningkatkan imunitas tubuhnya supaya kutilnya nggak semakin banyak menyebar.

    Sejak itu saya mulai rutin memakaikan lotion rekomendasi dokter ke kulitnya Keenan setiap habis mandi atau setiap kali dia merasa gatal. Perlahan, kondisi kulitnya mulai membaik meski kutilnya tetap ada. Tapi, suami rupanya masih gemas melihat kutil di kulitnya Keenan dan berusaha untuk mengeluarkannya sendiri dengan menekannya seperti mengeluarkan isi jerawat. Awalnya saya nggak setuju, takut Keenan kesakitan dan khawatir kutilnya makin parah.

    Namun suami tetap keukeuh dan akhirnya saya biarkan saja, apalagi melihat Keenan sering menggaruk kutilnya sendiri hingga berdarah.  Memang sih dia mengeluh sakit tiap kali papanya memencet si kutil tapi begitu isinya keluar ya sudah santai aja dia. Proses mengeluarkan kutil-kutil ini tentu nggak dilakukan sekaligus melainkan satu persatu. Dalam waktu beberapa bulan saja, alhamdulillah akhirnya kulit Keenan sudah bebas dari kutil.

    Molluscum contagiosum, kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

    Sekarang sudah 1 tahun sejak Keenan terinveksi virus Molluscum Contagiosum dan alhamdulillah sudah sembuh, tinggal bekas-bekasnya saja yang masih ada sedikit. Semoga sih nggak muncul-muncul lagi virusnya. Aamiin. Karena penularan virus ini adalah melalui direct skin-to-skin contact dan menyentuh benda yang terinfeksi virus, tentu lebih aman jika kita biasakan anak-anak mencuci tangan dengan sabun atau cairan pembersih tangan setiap kali mereka keluar dari arena bermain atau menggunakan fasilitas umum. Jangan biasakan anak untuk bertukar handuk, lap atau baju terutama jika tinggal di daerah yang lembab.

    Nah, untuk sahabat pojokmungil yang ingin tahu lebih jauh tentang Molluscum Contagiosum atau yang sering dikenal juga dengan kutil pada anak, berikut beberapa situs yang bisa dibaca untuk referensi. Tapi sebaiknya langsung ke dokter spesialis kulit untuk kepastian diagnosanya jika ada kutil di kulit si kecil ya. Stay healthy, sahabat pojokmungil.

    The Royal Children Hospital Melbourne.
    KidsHealth.org

  • Anak Demam, Anak demam saat traveling, tempra syrup
    Family Health, Traveling

    Merawat Anak Demam Saat Traveling

    Hai, Sahabat PojokMungil. Hari ini, kita sudah memasuki awal tahun 2018. Beberapa dari kita mungkin sudah mulai bersiap-siap dengan aktivitas normal setelah libur panjang sekolah dan akhir tahun. Anak-anak saya juga sudah masuk sekolah lagi setelah libur lebih dari satu bulan.

    Iya, di Brunei tahun ajaran sekolah berakhir di akhir bulan November. Sehingga anak-anak libur kenaikan kelas mulai dari awal Desember sampai awal Januari. Tapi tahun ini saya dan anak-anak memulai liburan lebih awal demi tiket mudik yang lebih murah.

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap libur panjang akhir tahun kami selalu berusaha untuk mudik ke Sidoarjo, walaupun 2 tahun belakangan ini suami nggak bisa ikut karena sibuk dengan pekerjaannya. Alhamdulillah, meski cuma berangkat bertiga, perjalanan kami cukup lancar. Anak-anak kooperatif sekali selama di pesawat. Bahkan kali ini Keenan yang biasanya sangat aktif, bisa duduk tenang sambil main gadget selama di pesawat. Mereka juga nggak mengeluh saat harus berjalan cukup jauh menuju tempat pemeriksaan imigrasi dan menunggu bagasi. Mungkin karena mereka sangat bersemangat untuk berlibur di rumah neneknya ya.

    Maklum, liburan di rumah nenek memang selalu menyenangkan. Selain bisa jalan-jalan ke mall dan tempat-tempat bermain, mereka juga bisa main bareng paman, tante dan sepupu-sepupunya.

    Hanya saja, kesibukan selama mudik nggak jarang bikin anak-anak kecapekan dan sakit. Seperti yang dialami Keenan waktu liburan kemarin. Tiba-tiba saja suatu sore sepulang kami dari suatu tempat, badannya demam, padahal nggak ada tanda-tanda batuk atau pilek. Saya pikir cuma masuk angin, jadi setelah mandi sore saya oleskan minyak kayu putih dan perbanyak minum karena dia menolak untuk makan.

    anak demam, anak sakit saat traveling. tempra syrup

    Menjelang malam, demam Keenan makin tinggi, saya pun akhirnya meminta supir mama untuk membelikan obat penurun panas. Mama saya menganjurkan untuk beli Tempra, “Kalian dulu kalau panas juga mama kasih Tempra kok,” ujarnya.

    Meski ada adegan salah beli varian Tempra, akhirnya tersedia 1 botolTempra SyrupParacetamol di rumah. Tempra menjadi pilihan kami karena aman di lambung, tidak perlu dikocok karena larut 100% dan memiliki dosis yang tepat asal digunakan sesuai petunjuk dalam kemasan.

    Di hari pertama demam, selain memperbanyak asupan cairan saya juga memberikan Keenan Tempra setiap 4 jam untuk membantunya merasa nyaman karena demamnya mencapai 38,5 derajat C. Alhamdulillah, dengan kandungan 150mg paracetamol pada setiap 5ml Tempra, obat ini bekerja sebagai antipiretika yang berfungsi menurunkan panas dengan cepat dan meningkatkan ambang rasa sakit sehingga dapat mengurangi rasa nyeri saat demam dan membantu Keenan untuk tidur lebih nyenyak.

    Di hari kedua, demamnya mulai turun dan Keenan mulai ceria. Tapi saya belum bisa bernafas lega karena tiba-tiba saat malam hari Keenan kembali demam.

    Demam yang dialami Keenan tentu membuat saya menunda beberapa acara. Tapi untungnya kakak Cinta nggak ikut mati gaya karena paman dan tantenya mengajak dia dan sepupunya untuk menginap di apartemen mereka. Sementara Keenan harus tinggal di rumah sampai benar-benar fit lagi.

    Di hari ketiga, karena demamnya masih naik turun dan Keenan mulai lemas karena nggak mau makan, akhirnya saya memutuskan untuk membawa Keenan ke dokter. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa amandelnya Keenan radang dan beliau memberikan 2 buah obat untuk dikonsumsi Keenan. Obat pertama saya tolak karena berupa puyer penurun demam dan pereda nyeri. Keenan nggak biasa minum puyer sih, daripada malah nggak terminum saya meminta alternatif lain. Lalu dokter menganjurkan saya meneruskan konsumsi obat penurun panas yang saya punya, dengan catatan jika sampai hari kelima masih ada demamnya, maka Keenan harus kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    Alhamdulillah di hari keempat Keenan sudah mulai membaik, meski sesekali bilang pengen pulang ke rumah Brunei dan kangen sama papanya. Setelah Keenan benar-benar pulih, baru saya berani mengajak dia melanjutkan agenda-agenda yang sempat tertunda.

    Anak sakit saat kita sedang bepergian memang bisa bikin perasaan jadi nggak karuan ya. Tapi, karena hal ini cukup sering terjadi pada kami, saya punya beberapa tips yang biasa saya lakukan:

    Tips Merawat Anak Demam Saat Traveling

    1. Mencari Akses Kesehatan Terdekat

    Sebelum berangkat ke tempat tujuan, saya cari info dulu tentang klinik kesehatan atau RS terdekat dari hotel atau tempat kami menginap dan bagaimana menuju ke sana, terutama jika kami nggak bawa kendaraan sendiri.

    2. Membawa First Aid Travel Kit

    anak demam, first aid travel kit, obat yang harus dibawa saat bepergian, tempra syrup

    Ini adalah bawaan yang wajib ada di dalam bagpack saya tiap kali kami bepergian. Isinya plester luka, obat luka, oralit atau pedialit, paracetamol dan obat maag untuk saya, minyak kayu putih, termometer dan obat penurun demam untuk anak-anak. Biasanya saya membawa Tempra Syrup. Kemasannya yang anti pecah dengan tutup yang nggak gampang terbuka membuatnya aman diletakkan di dalam tas. Saya juga nggak takut disuruh membuang Tempra Syrup jika naik pesawat. Volumenya yang cuma 60ml masih di bawah standar maksimal cairan yang boleh dibawa masuk ke dalam kabin pesawat.

    3. Istirahat

    Saat anak mulai merasa nggak enak badan, langsung batalkan semua agenda dan biarkan anak beristirahat. Anak yang sakit perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi badannya. Kalau dipaksakan, perjalanan juga jadi nggak menyenangkan karena anak akan rewel dan kita jadi nggak tenang. Jika kita pergi sekeluarga, biarkan suami yang membawa anak-anak lain jalan-jalan sementara kita menemani dan merawat anak yang sakit di tempat penginapan atau sebaliknya.

    4. Rehidrasi

    Saat anak demam, perbanyak asupan cairannya. Minum air mineral yang banyak atau oralit jika perlu supaya ia tidak dehidrasi.

    5. Waspadai Tanda Kegawatdaruratan Demam

    Anak dikatakan demam kalau suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Demam biasanya disebabkan karena tubuh anak sedang melawan kuman yang berusaha menginfeksi tubuh. Sebagian besar demam tidak berbahaya. Tapi kita juga nggak boleh menyepelekan demam begitu saja. Pelajari kapan kita harus membawa anak ke RS saat dia demam.

    6. Dampingi Anak Saat Ia Demam

    Beberapa anak tetap ceria dan aktif saat ia demam, tapi anak-anak saya biasanya jadi lesu dan nggak bersemangat ketika suhu tubuhnya meninggi. Saat-saat seperti ini biasanya saya memilih untuk mendampingi mereka, meskipun harus mengorbankan agenda liburan saya. Saat anak-anak masih bayi, saya suka melakukan skin-to-skin contact dan membiarkan mereka berbaring di atas dada saya untuk membuat mereka nyaman. Berendam di air hangat juga sering jadi pilihan untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya. Banyak yang menyarankan supaya memakaikan anak baju yang sejuk saat demam, tapi anak-anak saya justru lebih memilih baju yang hangat atau tidur dengan selimut di ruangan yang sejuk saat mereka demam. Ketika suhu tubuh anak mencapai 38 derajat Celcius dan ia jadi rewel dan nggak nyaman karena demamnya baru deh dikasih obat penurun panas.

    merawat anak demam, anak sakit saat traveling, tempra syrup

    Anak yang sakit saat demam memang bisa membuat agenda traveling berantakan. Apalagi kalau rencana kita berkunjung di tempat tersebut hanya beberapa hari dan ingin mengeksplorasi daerah tersebut. Kehilangan 1-2 hari karena anak sakit tentu sedikit banyak bikin kecewa. Untuk itu kita bisa melakukan hal ini agar anak tetap fit selama traveling:

    1. Atur agenda traveling sesuai dengan ritme tubuh anak. Jangan paksakan bepergian sepanjang hari sehingga anak kurang istirahat, terutama jika usianya masih sangat muda atau baru pertama kali bepergian jauh. Beri kesempatan anak untuk beristirahat dengan nyaman sehingga tetap fit.

    2. Banyak minum dan makan yang teratur. Selalu sediakan air minum dan bekal makanan di dalam tas agar mudah dikonsumsi anak. Kadang jadwal bepergian membuat kita nggak bisa makan tepat waktu, bekal makanan berupa roti atau buah bisa mengisi perut anak agar dia nggak kelaparan.

    3. Minum suplemen makanan atau vitamin jika perlu. Kadang saat bepergian, makanan yang kita santap nggak bisa seideal saat kita sedang di rumah, sehingga anak-anak kekurangan vitamin yang dibutuhkan tubuh. Untuk mengatasinya kita boleh memberikan mereka tablet vitamin atau suplemen makanan sesuai yang direkomendasikan oleh dokter anak.

    4. Selalu cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sebelum dan sesudah makan untuk mencegah kuman masuk ke dalam tubuh anak.

    Saya mungkin bukan ibu yang sempurna dan penuh kelembutan. Tapi insyaAllah saat anak-anak membutuhkan, saya akan berada di sisi mereka, terutama saat mereka sakit. Setidaknya ini salah satu cara saya menunjukkan bahwa selalu ada cinta di hati saya untuk mereka.

    Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

  • Family Health, Life as Mom

    Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik dengan Alat Pembersih Debu

    Kemarin waktu beres-beres file di komputer, saya menemukan banyak sekali foto-foto Cinta semasa bayi. Maklum ya, namanya juga anak pertama. Pasti setiap langkahnya nggak lewat dari jepretan kamera walaupun hasilnya masih ala kadarnya. Menyenangkan juga nostalgia ke masa dia bayi. Mengenang masa-masa saya masih awam dengan dunia peribuan dan masih suka bingung menghadapi bayi yang tiba-tiba nangis nggak berhenti mulai maghrib sampai menjelang tengah malam.

    Akibat kebingungan itu, Cinta sempat berkali-kali kami bawa ke dokter yang berakhir dengan gebokan obat yang harus dikonsumsinya dan instruksi diet untuk saya karena masih menyusui. Konon, menurut dokter, makanan yang dikonsumsi ibu menyusui juga bisa berpengaruh terhadap pencernaan anak. Jadi waktu itu saya harus mengurangi makan daging ayam, ikan, telur, juga sayuran yang bisa menyebabkan perut kembung seperti kubis.

    Tapi ternyata episode menangis di malam hari sambil menekuk tubuhnya seolah-olah perutnya sakit itu masih sering berlangsung. Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya di buku The Baby Book karangan William Sears, MD yang setebal batu bata. Dari buku itulah saya mengetahui kalau gejala yang dialami oleh Cinta itu berjudul kolik. Walaupun kemudian Dr. Sears bilang sebenarnya nggak mudah mendiagnosa bayi mengalami kolik. Dan beliau lebih suka menyebut bayi yang terus menerus menangis dalam periode tertentu itu sebagai, ‘the hurting baby‘. Tapi sebagian besar dokter anak dan situs-situs kesehatan sudah terlanjur mengenal gejala tersebut sebagai kolik. 

    apa dan bagaimana kolik

    Dengan mengandalkan koneksi internet yang masih terbatas waktu itu dan sumber informasi yang belum sebanyak sekarang, saya coba berbagai metode yang dipercaya untuk menenangkan bayi yang terus menerus menangis karena gangguan perut yang nggak diketahui penyebabnya ini. Mulai dari menggosok perut pakai minyak telon, pijat bayi, diayun-ayun, gendong kanguru sampai yang sepintas nggak masuk akal seperti menyalakan hair dryer dan alat pembersih debu. 

    Tapi yang dua terakhir ini cukup efektif lho buat Cinta dulu. Ternyata alat pembersih debu termasuk salah satu alat elektronik yang mengeluarkan white noise, selain hair dryer. White noise adalah suara bising yang mengandung banyak frekuensi dengan intensitas yang sama dan dapat menenggelamkan suara yang lain. Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, bayi terutama yang baru lahir, suka sekali dengan white noise karena mirip dengan suara yang mereka dengar selama berada di dalam rahim. 

    Nah, karena itulah suara dari alat pembersih debu dapat menenangkan bayi, terutama yang belum terbiasa dengan keriuhan dunia luar. Kalau bayi tenang, otomatis dia bisa tidur dengan mudah kan ya. Jadi meskipun aneh, metode ini cukup masuk akal juga dipraktikkan, bahkan salah seorang blogger luar negeri pernah cerita saking seringnya bayinya rewel karena kembung, dia jadi tergantung sama alat pembersih debu ini sampai mesinnya rusak karena terlalu sering dinyalakan. Jadi lumayan ya, selain untuk membersihkan rumah, alat pembersih debu juga bermanfaat menenangkan bayi yang rewel.

     

     

    7-tips-menenangkan-bayi-rewel-3

    Tentunya, selain dengan white noise dari alat pembersih debu, hair dryer, kipas angin, humidifier dan suara yang dihasilkan ketika siaran TV habis trus cuma keliatan layar berbintik-bintik seperti semut, ada banyak metode yang bisa kita lakukan saat anak rewel karena merasa nggak nyaman dengan kondisi tubuhnya atau lingkungannya. Ini dia 7 di antaranya:

    1. Bedong

    Membungkus bayi dalam kain bedong kayanya sekarang sudah mulai ditinggalkan karena banyak yang bilang nggak baik untuk kesehatan anak. Tapi dalam beberapa kasus, seperti bayi yang rewel terus karena kolik, dibedong bagi mereka seperti berada dalam rahim. Menenangkan dan nyaman. Hanya saja pastikan bedong nggak terlalu kencang, sekadar agar tangan dan kaki anak nggak bisa keluar.

    2. Nyalakan White Noise

    Masih dengan alasan yang sama seperti bedong, suara-suara ‘putih’ yang dikeluarkan oleh alat pembersih debu, pengering rambut, pencuci piring mirip dengan yang didengar bayi saat dalam kandungan. Suara-suara itu dikenal sebagai soothing sound yang dapat membuat bayi lebih tenang. 

    3. Shh!

    Bukan, ini buat suara shhh dalam nada membentak ya. Ini suara shhh yang kita gunakan untuk menimang bayi, kebayang kan? Nah, gendong bayi dalam posisi berdiri trus bisikkan shhhh panjang ke dekat telinganya dengan volume yang lebih keras dari suara tangisannya.

    4. Naik Mobil

    Kalau punya mobil, cara ini lumayan ampuh lho untuk menenangkan bayi yang rewel. Dulu juga kalau Cinta rewel semaleman, adik-adik dan sepupu saya yang tinggal di rumah (mama saya) bergantian nyetirin mobil keliling komplek perumahan sampai dia tertidur. Biasanya sih, nggak sampai 5 menit muter Cinta sudah tidur. Menurut WebMD, cara ini efektif karena sejak dalam kandungan, bayi terbiasa ikut bergerak. Jadi kalau kita bawa naik mobil, diayun, kita pangku sambil duduk di kursi goyang atau didudukkan dalam kursi bayi yang punya mode getar, bisa membuat bayi nyaman karena mengingatkannya pada keadaan saat dalam kandungan.

    5. Pijat Bayi

    Menurut penelitian, bayi yang dipijat cenderung jarang menangis dan mudah tidur nyenyak. Nah, awalnya saya kira pijat bayi yang paling efektif adalah di tempat terapis pijat bayi gitu. Tapi ternyata itu nggak berlaku untuk Cinta. Setiap dipijat dia selalu menangis heboh meskipun setelah itu bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

    Akhirnya saya coba belajar pijat bayi sendiri lewat buku dan VCD, ternyata Cinta suka banget. Sentuhan lembut kulit kita dengan si bayi selain menenangkan bayi ternyata juga menenangkan kita. Dan bisa meningkatkan bonding ibu dan bayi serta dapat mengeluarkan gas di dalam perut yang biasanya membuat bayi kesakitan.

    6. Sendawakan Bayi

    Satu cara yang sering dianjurkan oleh para dokter yang kami kunjungi dalam periode tangisan tak berujung ini adalah rajin menyendawakan bayi setelah dia minum susu atau menangis. Seringkali, udara yang ikut masuk saat anak minum susu atau menangis menyebabkan perutnya kembung dan bergas, sehingga semakin parah rewelnya.

    7. Kunjungi Dokter

    Banyak faktor yang menyebabkan anak menangis tiada henti, sehingga untuk menentukan faktor penyebabnya dan menemukan cara terbaik untuk membuatnya nyaman adalah dengan berkonsultasi dengan dokter anak langganan kita. Takutnya ada kondisi medis yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu menurut pengalaman pribadi, setiap kali merasa galau dengan kondisi anak, berkunjung dan berkonsultasi dengan dokter bisa membuat kita lebih tenang. Tentu pilih dokter yang mau diajak berdiskusi ya, bukan yang hanya periksa 1 menit langsung kasih obat.

    Hal yang terpenting dalam menghadapi bayi yang rewel karena kolik ini adalah kita harus tetap tenang dan pastikan bahwa rewelnya anak bukan karena lapar atau mengantuk. Nggak gampang memang, saya tahu banget itu. Tapi semakin kita bingung dan panik yang berujung marah-marah, bayi juga jadi makin nggak nyaman sehingga makin rewel. Kalau sudah benar-benar nggak tahan dengan kerewelan bayi, letakkan dia di tempat yang aman atau titipkan pada orang rumah sementara kita minum teh, makan atau mandi supaya segar. Dan yakinlah ini semua akan berakhir kok. Biasanya setelah 6 bulan, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis terus menerus. So, hang in there, Mom.

  • baby blues, post partum depression, kehamilan
    Family Health

    Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

    Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

    fakta baby blues, fakta postpartum depression

    Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

    Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

    Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

    Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

    Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

    Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

    Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

    Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

    baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

    Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

    Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

    Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

    Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

    Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

    Olahraga

    olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

    Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

    Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

    8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

    Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

    Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

    Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

    Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

    “Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

    Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

    Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

    Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

    Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

    Pelajari Teknik Relaksasi
    relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

    Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

    Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

    Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

    Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

    Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

    Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

    Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

    Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

  • weaning with love, menyapih dengan cinta, breastfeeding, menyusui
    Family Health, Parenting

    Weaning With Love

    Weaning with love.  Istilah itu pasti familiar bagi kita para ibu menyusui ya, terutama yang berencana menyapih bayinya seperti saya.

    Sebenarnya apa sih weaning with love? Menurut konselor laktasi, Mia Deazy Mayangsariweaning with love adalah cara menyelesaikan atau menutup kegiatan menyusui dengan kasih sayang dan cinta. Dimana proses menyapih ini dilakukan tanpa paksaan dan tanpa memanipulasi seperti menggunakan pahit-pahitan.

    Hmmm, waktu berusaha menyapih Cinta dulu saya sempat tuh pakai mengoleskan parutan kunyit ke payudara. Rasanya sampai sekarang masih terbayang ekspresi traumanya Cinta melihat payudara mamanya yang berwarna kuning saat dia minta nenen karena mengantuk. Seketika itu juga dia langsung menangis histeris sampai si mbak pengasuh turun tangan dan menggendong Cinta sampai tertidur.

    Gara-gara itu ketika ditawarin nenen lagi, Cinta sempat menolak sambil bilang, “Mimik mama sakit kan.” Meski kemudian dia mau kembali menyusu sampai akhirnya berhenti sendiri beberapa bulan kemudian, perasaan bersalah itu masih tersimpan sampai sekarang. Sehingga saya bertekad untuk menyapih Keenan secara perlahan tanpa menggunakan hal-hal seperti itu lagi.

    Memang jadi lebih lama sih, nggak bisa sehari jadi. Tapi kan menyapih memang butuh waktu, nggak bisa instan. Prosesnya sendiri bisa dimulai sejak bayi diperkenalkan dengan makanan padat sebagai pendamping ASI.

    Biasanya setelah anak mulai makan, secara perlahan frekuensi menyusui akan berkurang sedikit demi sedikit. Nah, di usia 1 tahun, anak bisa mulai disounding dan diberi afirmasi positif sebagai ‘anak besar’.

    Ketika anak sudah lebih besar dan mulai menunjukkan tanda-tanda siap disapih seperti mengurangi frekuensi menyusu dan bisa tidur sepanjang malam, berarti ibu dan anak sudah mulai bisa bersiap untuk menyapih dan disapih dengan cinta. Tapi jangan sampai keliru dengan nursing strike ya.

    Proses weaning ini juga memerlukan keterlibatan ayah lho. Seluruh keluarga harus sepakat untuk tetap meneruskan atau menghentikan pemberian ASI di usia 2 tahun. Kesepakatan ini secara emosional akan sangat membantu ibu ketika ada pihak lain yang mempertanyakan ketika anaknya belum juga disapih meski sudah berusia 2 tahun. Biasanya ada tuntutan dari pihak keluarga seperti kakek dan nenek untuk menyapih anak ketika ia tepat berusia 2 tahun. Ini memang kendala yang sering dihadapi oleh ibu menyusui.

    Padahal banyak sekali manfaat yang didapat oleh anak yang disusui sampai lebih dari 2 tahun. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel darah putih, zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi sampai ia berhenti menyusu. Menurut Mia, ASI pada tahun kedua justru mengandung lebih banyak antibodi yang sangat berguna bagi anak karena pada usia itu anak sudah mulai bergaul dengan banyak orang dan bereksplorasi di berbagai tempat.

    Berdasarkan penelitian terhadap 250 batita di Kenya bagian barat, ASI dapat memenuhi 32% dari total asupan energi yang dibutuhkan oleh anak. Studi yang dilakukan di Bangladesh juga membuktikan bahwa ASI pada tahun kedua dan ketiga menjadi sumber vitamin A yang sangat penting bagi anak. Selain itu menyusui pada tahun kedua dan ketiga juga bermanfaat bagi kecerdasan anak, perkembangan sosial dan kesehatan mentalnya.1

    Jangan khawatir anak yang disusui lebih dari 2 tahun akan menjadi manja dan tergantung pada ibunya. Justru sebaliknya, kok. Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam “Extended Breastfeeding and the Law,

    Breastfeeding is a warm and loving way to meet the needs of toddlers and young children. It not only perks them up and energizes them; it also soothes the frustrations, bumps and bruises, and daily stresses of early childhood. In addition, nursing past infancy helps little ones make a gradual transition to childhood.

    Intinya sih, menurut teori psikososial, perilaku bayi pada usia 0-2 tahun didorong oleh rasa percaya dan tidak percaya anak terhadap lingkungan sekitarnya. Dan menyusui adalah salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan anak dalam membentuk kepercayaan tersebut. Anak yang memiliki rasa percaya bahwa dunia sosialnya adalah tempat yang aman dan orang-orang yang ia temui dapat dipercaya dan saling menyayangi akan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan baru dan lebih mandiri.

    Jadi nggak perlu buru-buru menyapih anak apalagi dengan cara paksa. Hal ini justru akan membuat anak menjadi rewel berhari-hari seperti yang dialami Keenan, payudara ibu bengkak dan secara psikologis dapat membuat anak merasa ditolak oleh ibunya.

    Kalau masih ada keluarga yang meminta ibu untuk menyapih bayinya hanya karena sudah berusia 2 tahun, ayah bisa maju untuk memberikan penjelasan. Yah, secara ibu kan biasanya lebih emosional apalagi soal menyusui. Sedangkan ayah diharapkan bisa lebih tenang dan logis saat memberikan pengertian tentang manfaat extended breastfeeding ini.

    Ayah juga dapat membantu ibu saat kesepakatan untuk menghentikan proses menyusu ini sudah tercapai. Misalnya dengan mengencourage anak bahwa dia sudah besar, sudah waktunya minum menggunakan gelas. Atau ketika anak terbangun tengah malam untuk nenen, ayah bisa menggendong atau menidurkannya lagi. Memang proses weaning with love ini panjang dan melelahkan ya sepertinya, tapi percaya deh worth to fight kok. Yuk, berusaha sama-sama! Semangat!

    1. Referensi: Artikel Breastfeeding Past Infancy: Fact Sheet By Kelly Bonyata, BS, IBCLC – http://kellymom.com/ages/older-infant/ebf-benefits/ []
  • Family Health

    Ringankan Gejala Flu dengan Essential Oils

    Mengalami gejala flu dan selesma atau yang biasa dikenal sebagai common cold pasti bukan hal yang menyenangkan. Hidung tersumbat atau justru nggak berhenti meler, tenggorokan gatal, kadang juga disertai demam yang seringkali bikin susah tidur. Bagi orang dewasa saja kondisi ini sangat mengganggu ya apalagi jika dialami oleh batita yang ngomong aja belum lancar sehingga dia nggak bisa mengutarakan apa yang dirasakan seperti Keenan beberapa minggu yang lalu.

    Meski dia masih aktif di siang hari tapi di malam hari jadi susah tidur karena hidungnya tersumbat. Padahal supaya cepat sembuh, Keenan perlu banyak istirahat. Belum lagi virusnya bisa nularin seisi rumah yang kenyataannya terjadi hanya dua hari setelah Keenan mulai pilek, papanya pun ikut sakit.

    Seperti biasa untuk gejala flu yang disebabkan oleh virus, meski nggak tega lihat anaknya nggak nyaman, saya berusaha untuk nggak ngasih obat kecuali paracetamol ketika demam. Saat Keenan mulai pilek, suami pun menyarankan supaya saya sering-sering ngasih Keenan honey lemon suam terutama setiap bangun tidur untuk meningkatkan imunitasnya. Selain itu setiap mau tidur saya ajak Keenan berendam air hangat untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya supaya dapat tidur lebih nyenyak.

     photo F7319C61-C239-4719-9C4E-A9BD9B6182F1_zpsphyekndw.jpg

    Sayangnya kedua hal itu masih belum bisa mengurangi gejala flunya Keenan. Akhirnya saya menggunakan diffuser Young Living yang belakangan jarang dipakai karena anak-anak sudah jarang sakit. Seperti biasa tiap ada yang mengalami gejala flu, saya meneteskan 3 oils andalan untuk pilek, yaitu lemon, peppermint dan thieves dalam diffuser tiap waktu tidur siang dan malam, masing-masing 4 tetes.

    Saya pilih ketiga oil itu karena lemon berfungsi untuk meningkatkan vitalitas dan energi jika didifuse dan dihirup. Juga mengandung antivirus yang dapat membunuh kuman-kuman dalam udara. Bermanfaat sekali saat ada anggota keluarga yang sakit kan.

    Peppermint berguna untuk melegakan pernafasan dan mengencerkan dahak. Sedangkan thieves berfugsi menjaga daya tahan tubuh serta membersihkan ruangan dari bakteri dan kuman.

    Alhamdulillah, aroma lemon, peppermint dan thieves yang didifuse sekaligus bisa membantu melegakan pernafasan dan membuat tidur lebih nyenyak. Nggak cuma untuk Keenan tapi juga mamanya hihihi.

    Selain didifuse, campuran ini juga saya oleskan di telapak kaki anak-anak terutama pada bagian bawah jari kakinya sambil dipijat lembut untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi demam.

    Karena campuran lemon, peppermint dan thieves paling sering saya gunakan baik didifuse atau dioles, saya mencampur ketiga oil ini ke dalam satu botol kosong yang sudah disteril dengan perbandingan 1:1:1 menggunakan pipet bersih.

    Cara ini memudahkan saya saat ingin menggunakan dan tentu lebih praktis membawa satu botol ke mana-mana daripada 3 botol sekaligus ya. Apalagi saat cuaca nggak menentu di Brunei seperti sekarang. Tiap pulang sekolah saya oles ke telapak kaki kakak Cinta untuk menjaga imunitasnya sampai Keenan benar-benar sembuh.

    Alhamdulillah dalam tiga hari, gejala selesma Keenan sudah berkurang. Meskipun memerlukan waktu hampir seminggu sampai benar-benar sembuh, setidaknya Keenan lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak. Sayangnya saya kurang rajin ngedifuse dan mengoleskan oil-oil ini ke suami sehingga common cold yang dia alami lebih lama sembuhnya meski sudah minum obat bebas.

    Oya, essential oils ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat ya. Bagi saya dan keluarga, minyak-minyak ini hanya berguna untuk meringankan gejala penyakit. Kalau sakit terus berlanjut tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

  • Family Health

    Serunya Menyusui Sambil Bekerja

    Disclaimer: Menyusui adalah pengalaman personal bagi setiap ibu. Cerita yang ditampilkan di tulisan ini hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan semangat bahwa apapun kondisinya yang penting adalah usaha ibu untuk dapat memberikan ASI bagi buah hati.

     

    Sesuai dengan tema ‘Pekan ASI Sedunia” yang berlangsung dari tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman beberapa teman yang menyusui sambil bekerja (di kantor). Saya sendiri sempat menyusui sambil bekerja selama tiga bulan saja pada tahun 2008, waktu Cinta umur 7 bulan dan berhenti memompa ASI di kantor saat dia berusia 10 bulan. Meski demikian saya tetap menyusui langsung dan memompa sesempatnya di rumah sampai ia berusia 2 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini, salah satunya adalah kurangnya tepatnya manajemen asi perah.

    Alhamdulillah sekarang saya melihat semakin banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui sambil bekerja di kantor. Rupanya kesibukan menjalani aktivitas profesional mereka nggak menghalangi usaha untuk memberikan air susu ibu bagi bayinya.

    Seperti yang dilakukan oleh teman baik saya, Indah Purnamawati. Ipung, panggilan akrabnya setiap hari membawa Zyzy ke kantor supaya bisa menyusui secara langsung karena anak ketiganya itu menolak minum ASIP dari dot maupun sendok. Selain itu Ipung merasa setiap kali memompa setelah Zyzy habis menyusu secara langsung, hasilnya kurang banyak.

    Meskipun awalnya ragu membawa Zyzy ke kantornya yang terletak di daerah industri, kondisi ini membuat Ipung terpaksa melakukannya. Zyzy mulai ikut kerja usia 2,5 bulan, setelah cuti melahirkan selesai. “Alhamdulillah anaknya anteng. Setelah kenyang didorong-dorong di stroller langsung tidur,” ujarnya. Kondisi ini berlangsung selama 8 bulan, “Kalau aku kerja sama orang lain pasti aku lebih milih resign daripada menjalani seperti itu. Tapi karena kerja bantuin perusahaan Bapak ya terpaksa dijalani,” imbuh ibu dari 2 putra dan 1 putri ini.

    Tapi, kondisi ini jadi pengalaman berharga baginya. “Di kantorku jadi seperti boyongan. Ada stroller, mainan bayi, karpet dan celemek menyusui,” ceritanya. “Tapi senang bisa bawa anak ke kantor dan menyusui langsung meski kita bekerja. Kita jadi tahu perkembangannya setiap hari dan alhamdulillah selama itu Zyzy nggak pernah sakit meski batuk pilek sekalipun. Menurut dokter sih karena Zyzy full ASI jadi badannya kuat,”  jelasnya menutup perbincangan kami melalui whatsapp malam itu.

    Mantan teman sekerja saya dulu, Yoke Pratiwi yang bekerja di bank menghadapi tantangan yang nggak kalah serunya selama menyusui. Namun keinginannya untuk dapat memberikan asupan gizi yang terbaik bagi Keanu sangat kuat sehingga Yoke dengan gigih memompa ASI di sela-sela jam kerjanya. “Saya sadar bahwa saya adalah ibu bekerja yang nggak bisa selalu bersama dengan anak saya. Hal yang bisa saya berikan dan nggak bisa digantikan dengan orang lain yang mengasuh anak saya adalah ASI. Alhamdulillah nggak ada kendala yang bisa membuat saya untuk berhenti memberikan ASI hingga usia Keanu berusia 2 tahun, bahkan nyatanya sampe 3 tahun.”

    Saat cuti melahirkan Yoke mulai menabung stok ASI perah baik dengan memompa setiap 2 jam juga dengan menyusui secara langsung. “Saat Keanu menyusu, saya memompa juga di PD1 satunya. Kadang saya rela nggak tidur supaya dapat memompa ASI ketika bayi saya tidur,” kenang Yoke. Dan terbukti caranya berhasil. Saat ia kembali bekerja stok ASInya dapat mencukupi kebutuhan Keanu.

    Meski demikian di kantor, ibu satu anak ini tetap semangat memompa. Setiap 2-3 jam sekali ia pergi ke ruang meeting untuk memompa ASI. “Kalau ruangannya dipakai ya saya mompa di kamar mandi,” ujarnya. Tapi kondisi ini nggak bikin Yoke patah semangat. “Teman sekantor juga sangat mendukung dan nggak keberatan saya tinggal tiap 2-3 jam untuk memompa ASI. Toh dengan menggunakan pompa elektrik bisa cepat dan hasilnya lumayan banyak. Nggak sampai 15 menit biasanya dapat 100 ml.”

     photo 0A11F22A-5967-4F9D-BA4A-1570AED59CB0_zpsysjtb0ze.jpg

    Yoke dan Keanu

    Karena mengumpulkan stok ASI perah di kantor, Yoke pun kemana-mana membawa cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca. Termasuk saat outing ke luar kota atau bepergian ke tempat wisata. “Oleh-oleh berharga untuk si bocah,” katanya.

    Yoke pun berhenti memompa ASI setelah Keanu berusia 2 tahun. “Saya rasa sudah cukup ya waktu untuk menyusui dan sudah capek juga memompa hehehe.” Namun ia tetap menyusui sampai Keanu berusia 3 tahun.

    “Saya harap ibu-ibu bekerja tetap semangat dan selalu percaya bahwa pasti bisa menyusui sambil bekerja selagi kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk menjalaninya. Tipsnya adalah rajin memompa atau memerah serta follow akun-akun yang mendukung pemberian ASI seperti ayahasi,” pesannya.

    Nantikan tips-tips sukses menyusui sambil bekerja di postingan berikutnya yaaa….

    1. payudara []
  • Family Health

    Pijat Refleksi Untuk Melancarkan ASI

    Sebagai ibu, tentu kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak tercinta ya. Salah satu yang bisa dimulai sejak awal kelahirannya adalah ASI atau air susu ibu. Nggak perlu lah saya jelaskan lagi manfaat ASI karena sudah banyak yang membahasnya. Yang pasti cairan hidup ini adalah asupan istimewa karena mengandung berbagai kebaikan untuk bayi maupun ibu.

    Tapi tidak jarang kita dihantui perasaan khawatir akan kecukupan ASI. Apalagi kalau anak nampak selalu lapar, hasil perahan lebih sedikit dibandingkan dengan mama perah yang lain dan berat badan anak sepertinya tidak bertambah secara signifikan. Padahal sih produksi ASI selalu berdasarkan permintaan dan nggak akan ada kata ASI kurang karena yang keluar sesuai dengan kebutuhan bayi.

    Untuk meningkatkan ASI banyak cara yang bisa dilakukan busui seperti minum air, jus atau sup yang lebih banyak dari biasanya. Beristirahat dan melakukan sesuatu yang menyenangkan juga bisa merangsang produksi ASI. Beberapa mama memilih mengkonsumsi suplemen atau makanan yang dipercaya mampu memperbanyak ASI.

     photo 4A010E12-8659-44D1-859C-98E0CA9237B1_zpsiam8u5wg.jpg

    Selain itu kita juga bisa coba pijat refleksi lho. Titik-titik tertentu di tubuh kita diyakini dapat merangsang diproduksinya hormon prolaktin di otak. Hormon inilah yang mempengaruhi banyak sedikitnya ASI.

    Menurut Dokter Spesialis Akupunktur Rumah Sakit Umum Islam Yarsis Surakarta, dr. H.M Daris Raharjo, Akp yang dilansir oleh joglosemar.com tiga titik pijatan yang utama untuk memperlancar ASI, berada di bagian payudara sendiri; yaitu satu titik di atas puting, tepat di puting payudara, dan titik di bawah puting. Selain itu, pada titik di bawah lutut dan titik di punggung yang segaris dengan payudara juga bisa dipijat untuk memperlancar produksi ASI. Pijatan dapat dilakukan dengan cara memutar ujung jari telunjuk sebanyak 30 kali di titik-titik tersebut dan dilakukan 2-3 kali sehari.

    Tidak hanya di titik tersebut, banyak bagian lain yang jika dipijat bisa meningkatkan produksi ASI seperti gambar di bawah ini yang saya peroleh dari Irni, penulis sekaligus ibu menyusui yang tengah menanti kelahiran anak keduanya:

     photo 06E27473-651E-4142-9ECC-07EECBA22CEB_zpsk5dgbdqy.jpg

    Nggak ada salahnya kita coba ya, Ma. Apalagi kalau yang memijat suami. Selain perasaan rileks dan nyaman karena pijatan, rasa bahagia karena disayang suami juga bisa jadi breastmilk booster yang ampuh. Kita senang, ASI berlimpah, bayipun sehat. Berkat bantuan ayah ASI tersayang.

  • Family Health, Life in Brunei

    6-in-1

    Kemarin setelah nemenin Cinta makan siang di Fratini’s Pizza Seria lalu anter dia lagi ke sekolah untuk ikut after school program, Keenan kontrol rutin 1 bulanan sekaligus vaksinasi di maternity & child health (MCH) Clinic, Pusat Kesihatan Sg. Liang. Meski terlambat 15 menit dari jadwal perjanjian dan nunggu untuk daftar di resepsionis klinik selama 20 menit karena implementasi program Bru-HIMS yang belum lancar, ternyata yang antri di MCH masih sedikit.

    Setelah ditimbang, ukur tinggi badan & lingkar kepala dengan hasil 5,7 kg; 56 cm dan 37,5 cm, duduk sebentar untuk nunggu giliran ketemu bidan. Sempat ditanya-tanya juga sama suster di ruang timbangan soal Bobita Wrap yang saya pakai untuk menggendong Keenan. Menurut mereka gendongannya unik dan nyaman. Bahkan dipuji, “Pandai kamu bungkus dia seperti itu. Tidak sejuk (kedinginan).”

    Sambil nunggu dan nyusuin Keenan dalam Bobita wrapnya, browsing lagi soal vaksinasi yang akan dia dapat hari ini. Jujur aja agak ragu awalnya karena sejak dikasih jadwal vaksin bulan lalu belum pernah tahu tentang vaksinasi 6-in-1 yang terdiri dari DTaP-HiB-IPV-Hep B ini.

    Terakhir kali saya tahu 4 tahun lalu kombinasi vaksin masih 4-in-1 DTaP-HiB plus polio oral atau Pediarix dan Pentacel. Ternyata sekarang adalagi yang 6 vaksin dalam satu suntikan. Sempat terpikir juga apa itu kombinasi Pentacel yang dijadikan 1 suntikan dengan single dose of Hep B. Baru setelah browsing tahu kalau memang ada 6-in-1 vaccine keluaran GlaxoSmithKline Australia dengan nama dagang Infanrix Hexa. Hmmm… Di Indonesia harganya berapa ya? Masih inget aja dulu tiap vaksin DTaP dan HiB di RS Swasta tuh bisa habis lebih dari Rp 500.000 termasuk jasa dokternya.

    Lumayan lama nunggu diperiksa bidan sampai Keenan mulai rewel dan lebih lama lagi saat antri dokter karena ada masalah data online pasien yang sudah diinput suster nggak bisa diakses dokter. Sampai akhirnya dipanggil dokter pun, bukannya konsultasi soal kesehatan Keenan, malah dia curhat tentang kacaunya implementasi Bru-HIMS. Mana Keenannya sudah nangis jejeritan karena ngantuk. Hadeeuuh :))

    Setelah dicek dokter dan dinyatakan cukup sehat untuk menerima imunisasi meski sedang pilek, pindah ke Bilik Suntikan dan disuntiklah paha kanan anak lanang diiringi tangisnya yang melengking. Abis itu dikasih paracetamol dan alat ukurnya buat jaga-jaga kalau demam sembari diingatkan untuk nggak ngasih minyak, salep atau apapun di bekas suntikannya semisal bengkak, “Cukup diusap pakai air hangat saja di sekitar bengkaknya.”

    Sudah selesai? Belum! Masih harus balik lagi ke bilik timbangan untuk bikin jadwal perjanjian bulan depan. Ribet ya? Biar deh, namapun gratis kan jadi ya dinikmati sajah hehehe. Untung bisa minta tolong teman seapartemen supaya setelah after school program Cinta bisa pulang bareng dia dan anaknya yang satu sekolah sama Cinta sehingga nggak perlu lagi jemput ke sana.

    Alhamdulillah sampai hari ini belum ada tanda-tanda ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) meski sedikit rewel akibat pilek. Bahkan semalam tidur cukup nyenyak begitu juga sesiangan ini walaupun beberapa kali maunya tidur dalam Hanaroo Wrap hadiah dari sister in law. Sehat terus ya, Nak.