Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

——-

Need to know :

JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

Sebagian ulama mengatakan:

“Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
Berhati-hatilah.

Menulis Biar Waras

Pernah nggak sih merasa isi kepala itu penuh dengan berbagai hal tapi nggak bisa diomongin ke orang lain? Seperti abis baca berita lalu pengen komentar tapi nggak ada teman diskusi. Kesal sama pasangan tapi nggak bisa diungkapkan secara verbal. Atau sekadar mikir menu masakan hari ini yang lantas berlanjut ke harga bahan makanan yang semakin mahal, terbayang cucian alat dapur yang harus dicuci dan banyak lagi. Saya sering!

 photo E4007300-6977-410D-80A0-250A30EAF743_zpsk94q2eyg.jpg

Terlahir sebagai orang introvert yang lebih sering menyimpan sesuatu bagi diri sendiri membuat saya sering menahan diri saat ingin berbagi hal yang ada dalam pikiran saya secara verbal. Sesekali mungkin nggak apa-apa ya. Toh memang nggak semua hal harus diucapkan. Orang pintar suka bilang, “Some things are better left unsaid.

 photo 1CE88EE0-71E0-4ADE-8706-89FA91EDCA65_zpsgdzfavvq.jpg

Tapi kalau terus menerus dalam kondisi seperti itu, seperti halnya tempat sampah, kalau sudah terlalu penuh isinya akan berhamburan keliar tak terkontrol. Tentu nggak bagus juga ya.

Jujur saya sering iri sama teman-teman yang outspoken. Yang bisa mengutarakan apa saja yang mereka pikirkan tanpa harus berpikir apakah hal itu benar, berguna, bermanfaat dan tidak akan menyakiti orang lain. Bisa bicara tentang apapun tanpa mengkhawatirkan reaksi orang. Sementara saya nggak bisa seperti itu.

Maka itu saya butuh menulis. Karena dengan itulah saya bisa menuangkan isi pikiran saya dengan susunan kata lebih baik. Dengan menulis saya bisa mengubah khayalan-khayalan ajaib saya menjadi sebuah fiksi. Atau bercerita tentang pengalaman tapi diaku sebagai milik orang lain tanpa ada yang tahu.

Saya butuh ngeblog, untuk bercerita tentang hal-hal yang saya alami sehari-hari tanpa harus mengganggu telinga orang lain yang mungkin tak mau mendengar. Bebas mengeluh tanpa harus berpikir apakah orang yang saya curhatin ini sedang lapang hati mendengar keluhan saya atau sebaliknya. Atau berpendapat tentang sesuatu tanpa takut dihakimi. Yah, macam buku harianlah. Hanya saja bentuknya berbeda.

Banyak yang bilang, blog saya isinya remeh temeh. It’s okay. Saya memang nggak pernah berniat membuat blog saya sebagai bacaan berat, kok. Ini sekadar sarana katarsis saya. Tempat saya mengosongkan isi kepala. Ben waras; cek ora edan kalau orang Surabaya bilang. Yah, syukur-syukur dari cerita sehari-hari itu ada yang bisa diambil hikmahnya sama orang lain.

Kalau kamu, tipe yang lebih ekspresif dalam tulisan atau lebih suka berkomunikasi secara verbal?

Tahun Baru, Desain Blog Baru

Tepat tanggal 1 Januari nanti, domain pojokmungil.com ini berusia 4 tahun. Huaaaa nggak terasa sudah selama itu nulis cerita macem-macem di blog ini. Meski jumlah postingannya belum terlalu banyak (230 postingan dalam 4 tahun itu sedikit kan ya?) karena penulisnya yang moody berbagai macam kesibukan yang bikin malas nggak sempat nulis, blog ini berarti banget buat saya.

Kebetulan sejak mulai ngeblog tahun 2004, saya agak cerewet soal theme blog. Pertama kali bikin blog sih seorang teman lama berbaik hati ngajarin cara menghias blog dan kode-kodenya sampai bisa bikin desain blog (waktu itu masih di blogspot.com) sendiri. Tapi sekarang saya sudah nggak pernah lagi update ilmu sehingga akhirnya pasrah dengan themes-themes gratisan dari wordpress atau penyedia layanan template blog lain. Apalagi setelah pindahan ke wordpress.com yang mau nggak mau harus pakai themes yang sudah tersedia dan nggak bisa diutak-atik.

Nah, rencananya tahun depan pengen kembali beli hosting untuk blog ini dengan tetap pakai platform wordpress dong, platform blog yang ternyaman menurut saya. Tapi kalau themes-nya masih gitu-gitu aja ya agak males juga sih. Untung mbak Shintaries berbaik hati bikin Giveaway: Blog Make Over, di mana pemenangnya nanti dapat didesainkan blog yang sesuai dengan keinginannya.

Desain blog impian saya nggak ribet kok. Saya suka yang simpel-simpel aja seperti blognya mama idola keluarganugraha.net dan mbak ShintaRies sendiri. Yang penting background dasarnya putih polos dengan 2 kolom serta detil feminin dan warna-warna pastel. Tentunya lengkap dengan custom header dan icon-icon sosmed yang saya ikuti. Ya kira-kira temanya seperti yang ada di Pinterest Board saya ini.

Kombinasi Warna

 

Inspirasi Header dan Detil Blog

Manis kan ya tema blognya, warnanya kalem dan hangat trus detilnya meski sederhana tetap feminin. Kebayang cantiknya blog saya nanti kalau didesainkan dengan inspirasi seperti ini. Apalagi saya lihat desain-desain mbak ShintariesI garis besarnya sesuai dengan desain blog impian saya. Yaaa, semoga saya beruntung menjadi salah satu pemenang giveaway ini. Supaya di tahun baru nanti blog tercinta ini punya wajah baru yang lebih segar.

Think Twice Before You Tweet

Belakangan ini, teman saya suhu Yohanes Hans lagi rajin ngetwit setelah sekian lama menghilang dari linimasa. Dan topiknya tentang awareness di sosial media, asli bikin saya merasa tertampar tamparbalik.

Intinya sih, beliau mengingatkan kalau di era digital begini orang yang mau berbuat jahat bisa dengan mudah mengumpulkan informasi pribadi dari hal-hal yang kita bagi di internet, terutama twitter. Seringkali tanpa sadar kita menuliskan hal-hal yang bisa digunakan orang untuk mengumpulkan data, menganalisa dan membuat profiling tentang kita (langsung berasa nonton Criminal Minds). Huaaaa masa sih?

Serius lho, pernah nggak sih kita ngetwit:

Selamat ulang tahun mamaku tersayang, ibu (nama lengkap) yang ke-65.

Tahu nggak kalau nama ibu kandung itu adalah informasi penting yang digunakan oleh bank dan kartu kredit untuk verifikasi data. Once people know about our mother’s name; bank yang kita gunakan dari status seperti:

Lagi antri nih di Bank Capek Antri, kalo nggak perlu buat online shop, males deh punya tabungan di sini

alamat rumah:

Bu ibu, jangan lupa ya ntar sore dateng arisan ke rumah gue. Alamatnya: Jalan xxxxxx

dan tanggal lahir kita:

alhamdulillah, udah tambah lagi umur gue hari ini. 25 is great, right?

bisa mereka jadikan alat untuk bobol rekening kita di bank. Serem yeuuuh.

Menurut suhu Yo, twit tentang kondisi kita di suatu keadaan tertentu juga bisa digunakan orang untuk merancang situasi yang bisa bikin kita lengah, dia contohin beberapa status:

Duh, naik sepeda malem-malem keluar kompleks gini bikin bingung dan takut.

lagi di taksi, tidur dulu ah

tiap pakai high heels selalu pusing dan mau pingsan

tiap hisap asap rokok, pikiran selalu blank.

Dengan ngumpulin twit seperti ini, orang tinggal perlu cari konsistensi dari perilaku kita terhadap kondisi itu untuk menjadikan kita korban kejahatannya.

Yang saya jadikan highlight dari beberapa twitnya om suhu (sebenarnya banyak contoh-contoh lain, silakan mampir di akun twitternya @yohanes_hans yah) adalah betapa seringnya kita eh saya ding, berbagi data tentang keluarga, terutama anak. Siapa namanya, berapa umurnya, di mana sekolahnya plus check in tiap jemput anak di foursquare, siapa nama gurunya, kelas berapa sampai berapa kali kita terlambat jemput mereka di sekolah. Ternyata itu bahaya banget sodara-sodara. Kepikiran nggak dengan data-data itu yang bisa dilacak dengan mudah di twitter, foursquare, google maps, orang yang emang niat jahat bisa gampang menculik anak di sekolah.

Lantas saya jadi mikir sendiri, kalau begitu sama dong dengan status-status:

si Ayah nih nggak pulang-pulang dari kantor, udah ngantuk banget nungguinnya.

paling nggak suka kalau suami dinas luar kaya gini. pusing ngurusin rumah sendirian, takut juga kalau malam.

duh, ayang nih, selalu terlambat jemput kantornya. Jadi bengong bego deh di tempat abang siomay. Mana sendirian lagi.

yang memberikan informasi bahwa di hari-hari tertentu kita sedang sendiri dan merasa tidak nyaman dalam kondisi tersebut. Tinggal tunggu informasi selanjutnya dan konsistensinya aja, misal si ayang telat jemputnya hari apa aja sih, suami dinas luar berapa minggu sekali dan berapa hari, juga si ayah telat pulang hari apa aja biasanya. Jadi deh kita calon korban yang empuk. Jeng jeeeeng….

Memang sih, kita bebas mau nulis apapun di sosial media tapi juga harus tahu resiko yang dihadapi itu apa aja. Kalau kata suhu Yo, “Disarankan untuk tidak menulis alamat rumah kita, nomor mobil kita dan kebiasaan buruk kita yang berhubungan dengan semua hal itu.” Nggak ada ruginya kok lebih berhati-hati saat eksis di dunia maya sekarang, apalagi om suhu bilang, “Belakangan saya punya firasat kuat kalo sindikat perdagangan wanita & anak di Indonesia udah semakin paham memakai info di dunia maya.”

Oya, satu lagi pesannya, “Yang juga penting adalah men-setting agar foto foto bersifat personal di akun Facebook kita tidak ‘open for public‘ yg artinya bisa dilihat oleh semua orang yg tidak masuk dalam friend list kita. Foto foto yg disetting ‘open for public‘ hanya disarankan utk item atau produk dagangan yg diperjualbelikan. Kita bisa melihat kesalahan semacam ini dilakukan oleh para remaja putri ABG sekarang yg settingan foto di akun Facebook mereka bisa dilihat oleh semua orang asing yang bukan teman mereka. Untuk jaman sekarang hal seperti itu kurang baik karena mengundang hal yang beresiko, yang kita tidak tahu apa yang bisa dimanfaatkan dari foto foto tersebut.”

Uh well, better safe than sorry kan yah?

Langkah Kecil Buku Berkaki

Krucil Buki dan Adik-Adik PA Marhamah

“Never get tired of doing little things to others, because sometimes those little things may mean so much to them.”

Ya, melakukan hal kecil untuk orang lain, yang mungkin sederhana bagi kita, ternyata bisa sangat berarti untuk mereka. Itu pelajaran yang saya dapat saat kunjungan ke Panti Asuhan Marhamah bersama krucil Buku Berkaki bulan Desember kemarin.

Siapa sangka aktivitas sederhana seperti membawakan buku bacaan, main games dan sharing session bisa membuat mereka begitu antusias dan senang. Buku-buku yang kami bawa langsung diserbu dan meski awalnya malu-malu saat diajak bermain akhirnya bisa seru dan heboh. Bahkan yang kalah saat permainan  pun mendendangkan lagu Insya Allah-nya Maher Zein dengan percaya diri.

Buku Buki untuk Adik-adik Panti Asuhan Marhamah

Beraktivitas bersama adik-adik di PA Marhamah pun membawa kenangan tersendiri buat saya. Betapa di balik kesederhanaan dan kekurangan mereka, tetap tersimpan keinginan untuk bisa berguna bagi orang lain. Pun melihat senyum dan celoteh mereka yang semangat mengikuti sesi membuat dan menulis blog, membuat saya ingin melihat lebih banyak lagi anak-anak yang mendapatkan manfaat dari kegiatan Buku Berkaki.

Cita-Cita Mulia Adik-Adik Panti Asuhan Marhamah

Yah, mungkin langkah Buki masih sedikit. Tapi dengan bantuan kita -para donatur, yang ikhlas menyumbangkan buku, uang bahkan waktu dan tenaga, Insya Allah gerakan ini bisa semakin luas.

Nggak harus banyak kok, sisihkan saja buku-buku yang sudah tidak kita baca. Daripada hanya berdebu dalam lemari tentu lebih berguna kalau dipinjamkan kepada mereka yang ingin membaca tapi tak punya akses. Buku bisa dikirim ke Ria Soraya. Komp. Graha Asri Sektor Lavender, Jln. Ciherang Timur 2 Blok SS No. 6, Simpangan- Cikarang.

Atau kalau punya waktu luang di hari Minggu, bisa ikut berkegiatan bersama krucil Buki lainnya. Nggak punya energi untuk itu? Bisa dengan menyumbangkan uang, tinggal transfer ke CIMB Niaga Syariah No. Rek. 520-010-938-7116 a.n Diana Siti Khadijah. Kode 022 untuk transfer via bank Nanti uangnya kita belikan buku. Sedikit pun tak apa. Pasti akan sangat berarti kok. Trust me! 

Atau buat teman-teman yang datang di acara Ngerumpi Awarding Night, bisa bawa buku apa saja. Novel, komik, buku cerita anak, teenlit bahkan buku karangan teman-teman sendiri bisa disumbangkan ke Krucil Buki yang akan presentasi di sana. Yuk, berbagi buku untuk keceriaan adik-adik di panti asuhan. Bantu kami melebarkan langkah, menyampaikan amanah, menyenangkan anak yatim. Kebahagiaan mereka, kebahagiaan kita juga kan 🙂

PhotobucketPhotobucket

Semakin Bijaksana, Bukan Semakin Hebat

Lama-lama capek juga ngikutin twitwarnya Marissa Haque dan keluarga Addie MS (iya iya emang nggak ada yang nyuruh kok, saya aja yang terlalu kepo). Dari yang awalnya semangat bacain blog dan twitternya tante doktor sampai akhirnya memutuskan untuk report as spam akun twitternya.

Terlepas dari keraguan apakah blog dan akun itu benar-benar milik beliau, postingan yang sudah menyerang pribadi orang lain dan spam lama-lama bikin gerah juga. Apalagi meski nggak follow ibu hebat itu tapi masih aja sliweran retweetannya di timeline.

Kehebohan beliau dan reaksi orang-orangpun bikin saya berharap jangan sampai kelak saya seperti itu. Yah, memang levelnya beda sih, dia lulusan S3 dari 2 universitas ternama di Indonesia, belum lagi gelar S2nya yang berderet-deret. Selain artis hebat di jamannya juga mantan anggota DPR RI. Sementara saya cuma ibu rumah tangga yang lulusan S1. Dan masih jadi mahasiswa abadi di universitas kehidupan, fakultas ilmu parenting.

Bagaimanapun, saya berterima kasih sama tante Icha karena twit-twitnya menunjukan nggak semua orang siap memiliki ilmu dan gelar yang bejibun. Bahwa pohon tinggi yang angkuh lebih rentan tumbang dan merugikan orang banyak ketimbang padi yang selalu merunduk saat isinya makin berat.

Saya juga belajar banyak dari twitwar dan blog beliau, kadang orang yang mengaku dirinya hebat belum tentu dihargai orang lain.  Sedangkan orang bijaksana dan bermanfaat bagi orang lain selalu memberi warna indah bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan ini memicu saya supaya terus introspeksi diri. Berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan dan dibanggakan oleh anak-anak saya. Memikirkan betul tiap langkah dan keputusan yang saya ambil agar tak mempermalukan orang tua, suami dan anak-anak. Thank you 🙂