Browsing Category:

Babbles

  • Babbles

    Menyongsong Program Matrikulasi Ibu Profesional

    Sebenarnya nama Institut Ibu Profesional bukan hal yang asing bagi saya. Sudah sejak beberapa tahun lalu nama pendirinya, ibu Septi Peni Wulandari menghiasi linimasa media sosial saya, baik tentang kiprahnya menjadi ibu professional maupun tulisan-tulisannya yang inspiratif yang banyak dibagikan oleh teman-teman saya. Namun, sampai tahun lalu saya belum tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Institut Ibu Profesional. Mungkin karena waktu itu saya sedang dalam fase jenuh belajar parenting.

    Gimana nggak jenuh, saat itu banyak sekali pakar parenting yang saya ikuti di media sosial dengan berbagai teorinya tapi entah kenapa nggak ada satu pun yang berhasil saya terapkan secara konsisten kepada anak-anak sampai saya merasa gagal sebagai orang tua. Nggak mau berlama-lama terpuruk dalam kegagalan, saya sampai pada kesimpulan bahwa ilmu parenting itu nice to know tapi untuk penerapan dan hasilnya nggak bisa diharapkan sama untuk semua anak. Jadi, saya mundur sejenak. Saya seleksi lagi pakar-pakar parenting mana yang teorinya dapat diterapkan pada saya dan anak-anak. Saya memilih untuk mengikuti kata hati.

    Sampai tahun lalu, tiba-tiba banyak sekali teman-teman saya di media sosial yang mengikuti Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional dan mereka secara masif membagikan hal-hal yang mereka pelajari maupun tugas-tugas yang harus mereka kerjakan di media sosial mereka. Bahkan dua orang teman saya di grup Arisan Blogger rajin sekali berbagi ilmu baik di media sosial mereka maupun di grup WA. Hal yang mereka bagi itu sedikit demi sedikit membuat saya tertarik dan penasaran, sehingga saat mbak Susi Ernawati memberi info bahwa program matrikulasi batch 6 akan dibuka, saya langsung pasang alarm di ponsel.

     

    Pada hari H, lagi-lagi mbak Susi mengingatkan saya dan teman-teman di WAG Arisan Blogger untuk siap-siap mendaftar. Saya dan beberapa teman pun mencoba peruntungan kami di detik pertama pendaftaran dibuka. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu yang terpilih untuk mengikuti Program Matrikulasi Batch 6 kelas Luar Negeri. Antara bersyukur karena dari ribuan calon peserta yang mendaftar saya bisa terpilih. Dan deg-degan, karena meski ini bukan kelas online pertama saya, program Matrikulasi IIP ini merupakan salah satu dari dua kelas dengan durasi yang panjang yang saya ikuti.

    Begitu grup whatsapp dibentuk dan saya berkenalan dengan teman-teman observer, peserta dan fasilitator, hal yang saya rasakan adalah kagum kepada mereka. Kebanyakan dari teman-teman di WAG Matrikulasi LN Batch 6 masih muda tapi prestasinya keren-keren. Sedangkan saya termasuk salah satu yang paling tua dan gini-gini aja hahaha. Saya juga salut dengan antusias teman-teman saat materi dibagikan dan sesi tanya jawab dengan para pengajar di IIP dibuka. Pertanyaan dari teman-teman tuh suka nggak kepikiran gitu sama saya sehingga banyak sekali info baru di luar materi yang saya dapatkan dari jawaban para pengajar terhadap pertanyaan teman-teman. Sementara saya sendiri memang lebih suka mengamati jalannya diskusi daripada mengajukan pertanyaan.

    Kebiasaan inilah yang membuat saya agak khawatir dalam mengikuti program Matrikulasi ini. Karena dalam berbagai kesempatan, para observer dan fasilitator meminta peserta untuk aktif baik saat pembagian materi maupun saat diskusi. Ya, semoga saja dengan berjalannya waktu, saya bisa mengikuti ritme peserta yang lain dan dapat memaksakan diri untuk aktif bertanya dalam setiap sesi diskusi. Kekhawatiran saya yang lain adalah komitmen untuk hadir dalam setiap sesi materi dan diskusi. Kebetulan, waktu yang disepakati saat ini bertepatan dengan waktu antar jemput kakak Cinta ke sekolah Ugama. Saya sudah mencoba untuk mengantarnya lebih awal supaya saat sampai rumah tepat saat sesi online dimulai. Tapi kok kasian sama anaknya karena waktu istirahat di rumahnya jadi berkurang dan dia harus menunggu lama di sekolah. Yah, rasanya nggak adil kalau anak harus berkorban hanya supaya ibunya bisa masuk kelas kan ya. Eh, mungkin sih adil adil aja tapi saya yang nggak tega. Kalau sesekali nggak papa tapi kalau tiap hari yaaa…

    Sesi online kedua juga bertepatan dengan jam tidur anak-anak. Masa ini nggak bisa diganggu gugat atau dialihkan ke orang lain karena anak-anak maunya ya mama yang harus bacakan cerita untuk mereka, bahkan si Keenan maunya tidur dengan kepala beralaskan lengan mama hahaha hadeuuuh. Ke depannya sih berusaha memajukan jam tidur secara bertahap karena sejak jam sekolah Ugama kakak jadi semakin panjang 30 menit mulai awal bulan Juli ini, otomatis jam tidur pun ikut mundur. Tapi semoga sih semua aktivitas di malam hari bisa dimampatkan supaya jam tidur bisa kembali ke waktu semula dan saya dapat mengikuti sesi online kedua. Namun, sementara ini masuk kelas sesempatnya aja, minimal setor kehadiran, sedangkan materi dan diskusi dibaca belakangan saat ada waktu luang.

    Tapi saya tetap semangat kok mengikuti program Matrikulasi ini. Berbagai materi yang saya terima saat kelas foundation aja sudah menarik sekali. Mulai dari pengenalan tentang Ibu Profesional, teknis perkuliahan yang akan kami ikuti sampai materi manajemen gawai membuat saya betah menunggu-nunggu materi apa saja yang akan kami terima berikutnya. Semoga program matrikulasi IP ini bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin waktu dan produktif serta ke depannya menjadi ibu yang lebih baik bagi keluarga saya dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya.

    Teman-teman pembaca Pojok Mungil ada yang sudah atau sedang mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional? Boleh lah sharing pengalamannya di kolom komentar. Saya tunggu ya…

  • Babbles

    Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

    Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

    Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

    Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

    Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

    Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

    Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

    Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

     

    • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
      Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
    • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
      Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
    • Hormati privasi anak di bawah umur.
      Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
    • Atur komentar pengguna pada video Anda.
      Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
    • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
      Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

    Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

    Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

    Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

    • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
    • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
    • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
    • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
    • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
    • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
    • Faktor lainnya mencakup:
      • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
      • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
      • Sudut dan fokus kamera
      • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
      • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

    Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

    Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

    Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

    Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

    Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.

     

     

     

     

  • Babbles

    Happy Birthday, Dear Daughter

    When I held you for the first time,
    my life began to shine.
    I knew then this life wasn’t just mine.

    I would do what it takes,
    To help you correct your mistakes.
    To get by the challenges you may face.

    For our freedom many have fought,
    Somedays will be good, others will not.
    Always thank God for the life you got.

    The world isn’t perfect as you will see,
    Having you here made it better for me.
    When you’re in need, by your side I’ll be.

    For you are my daughter for eternity.

    Source: https://www.familyfriendpoems.com/poem/for-you-are-my-daughter-for-eternity

     

  • Babbles, Beauty & Fashion

    Serunya Rebutan Belanja di Toko Online

    Sebenarnya saya nggak sering-sering amat belanja online. Apalagi produk fesyen yang dijual lewat Instagram. Penyebabnya adalah beberapa kali kecewa dengan kualitas bahan dan model yang nggak sesuai dengan foto yang dipajang. Sejak saat itu, kalau beli baju atau hijab saya lebih suka lewat Zalora atau Hijabenka.
    Karena itulah saya sedikit banget follow akun online shop di akun IG utama saya. Padahal awal-awal mainan IG yang saya follow kebanyakan ols, bahkan sampai bikin akun IG khusus untuk mengikuti toko-toko online. Tapi kemudian saya coba lebih selektif. Yang sering posting SFS sehari 10 posting jelas saya unfollow. Pening bok kalau liat timeline IG isinya iklan semua. Beberapa akun yang tetap saya ikuti sampai sekarang antara lain karena pernah beli dan suka dengan kualitas barangnya, ols punya teman, foto-fotonya bagus dan nggak ikut SFSan gitu.

    Nah, beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman berencana untuk patungan beli kado ulang tahun untuk seorang sahabat, sebut saja namanya Mawar. Karena pilihan barang keren dan modis tapi terjangkau di Brunei ini sedikit, kami memutuskan untuk belanja online di Indonesia untuk kemudian dibawa ke Brunei oleh Melati yang lagi mudik. Kami pun mulai stalking online shop yang difollow si Mawar ini, yang membuat saya akhirnya follow akun-akun itu untuk ngeliat barang-barangnya karena kebanyakan akun mereka digembok. Dari situlah saya sadar kalau barang-barang jualan di IG sekarang udah keren-keren banget dan kualitasnya bagus-bagus dilihat dari testinya. Apalagi mereka nggak segan-segan endorse beauty blogger atau hijaber yang memang terkenal selektif pilihan barangnya. 

    Bertepatan dengan itu, setibanya di Brunei, Melati ngasih oleh-oleh berupa 2 pashmina yang bahannya enak banget dipake dan mudah diatur. Dan nggak lama kemudian, seorang teman yang lain cerita tentang jilbab instant yang sering dia pakai dan saya suka karena modelnya manis juga bahannya nggak tipis meski lentur. Ketebalan bahan kerudung akhir-akhir ini agak penting buat saya karena mulai risih pakai yang nerawang meskipun saya juga pakai dalaman yang panjang sampai menutup leher. 

    Lantas, si teman ini, Anggrek, menyebut sebuah akun OLS di IG tempat dia membeli jilbab itu sambil bercerita kalau belinya pake rebutan. Yang ternyata sama dengan OLS tempat Melati beli pashmina oleh-oleh tadi. Sebenarnya nama akun itu nggak asing buat saya tapi saya males follow karena ya belinya pakai rebutan itu. Apalah enaknya beli harus cepet-cepetan kirim Line/WA. Emangnya saya kurang kerjaan banget mantengin IG demi menunggu waktu upload. 

    Eh, nggak lama kemudian, Anggrek ngasih tahu kalau si OLS itu mau upload produk dalam waktu dekat dan dia ngajakin order bareng dengan dia yang mesenin. Karena penasaran dan merasa nggak pake repot akhirnya saya ikut order. Alhamdulillah dapet. Dan setelah barang diterima, ternyata saya suka pake banget sodara-sodara. 

    Jadilah setelah itu saya jadi follow OLS tersebut dan mulai menemukan beberapa akun yang menjual lagi barang yang mereka beli dari si OLS. Istilahnya tangan kedua, bukan reseller. Kenapa ada tangan kedua? Ya karena barang yang dijual oleh OLS tersebut terbatas, bahkan satu alamat cuma boleh pesan dalam jumlah yang ditentukan. Jadi yang nggak kebagian bisa beli lewat tangan kedua itu tadi walaupun harganya jelas lebih mahal. 

    Nah, setelah beberapa kali titip order lewat Anggrek, saya iseng nyoba pesan sendiri dengan beberapa tips dari dia. Antara lain:

    1. Follow dan hidupkan notifikasi akun ols tersebut di IG jadi kita nggak ketinggalan info produk yang akan diupload dan waktu uploadnya.

    2. Pilih produk yang mau dibeli sebelum si OLS open order. Biasanya 1-2 hari sebelum open order, OLS itu akan upload pilihan warna dan produknya. 

    3. Siapkan format Line/WA sesuai petunjuk order mereka. Nah, di sini saya lebih suka pakai Line. Karena kita bisa nulis dulu dan meski keluar dari aplikasi, tulisan itu nggak terhapus. Jadi nggak capek copy paste.

    4. Pantengin waktu open ordernya. Biasanya 5 menit menjelang open order, si OLS akan upload foto yang berisi format order dan persiapan untuk order. 

    5. Dalam waktu 5 menit itu, rajin-rajin refresh timeline IG karena tepat pada waktu yang sudah ditentukan, si OLS akan upload foto yang bertuliskan “Send your chat now.” Percayalah, ketepatan & kecepatan mengirim chat ini pengaruh banget dalam perolehan barang hahaha. Secara dalam menit pertama aja biasanya dia menerima ratusan chat dari WA dan Line. 

    6. Sabar menunggu balasan. Beberapa kali chat dibalas setelah beberapa jam, pernah juga dibalas dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi pasti dibalas kok meski sekadar mengabarkan kalau barang yang kita pesan sudah habis.

    7. Kalau kehabisan barang tersebut tapi kita naksir banget, coba ke Shopee. Biasanya para tangan kedua menjual produk yang mereka dapat di sana, tentu dengan selisih harga mulai dari 5000-20000 lebih mahal dari harga aslinya.

    Setelah mempraktikkan tips tersebut, alhamdulillah beberapa kali berhasil mendapatkan barang pesanan saya di akun @heaven_lights dan @pulchragallery. Bahkan gantian dengan teman, saya menerima titipan order dari temen-temen yang lain. Tentu nggak memungut jasa titip ya. Wong sama tetangga dan untuk dipakai sendiri, bukan untuk dijual lagi. Kalaupun nggak dapat biasanya karena memang stoknya cuma ratusan. Sedangkan kalau ribuan, Insya Allah dapat. 

    Beda lagi dengan OLS yang menjual produk fesyennya lewat web meski info produk dan waktu open ordernya tetap diumumkan lewat akun instagramnya seperti @vanillahijab. Sejauh ini saya baru 2 kali berhasil rebutan lewat web. Kalau ini memang keberhasilan bergantung pada kecepatan internet dan keberuntungan rasanya. Tapi begitu dapet rasanya seneng banget.

    Perasaan deg-degan nunggu open order, kirim chat dan menanti balasan itu bikin kecanduan juga lho. Apalagi kualitas produk yang dijual memang bagus dan selalu aja ada produk atau warna baru yang bikin kita kepingin punya. Akhirnya nggak sadar orderan demi orderan bikin rupiah melayang dengan deras. Memang harganya nggak mahal-mahal amat. Untuk jilbab instant dan pashmina rata-rata 60000 – 85000, sementara baju seperti kemeja, tunik, dress dibandrol mulai 100000. Tapi kalau sampai ketagihan order kan ya tekor lah lama-lama.

    Jadi ya pinter-pinter deh milih mana yang dibutuhkan. Atau kalau memang nggak bisa menahan hasrat rebutan belanja online, sekalian aja terima jasa titip order lalu jual tangan kedua atau sekalian buka akun di Shopee. Kan lumayan menyalurkan hobi belanja tapi nggak keluar duit malah dapat pemasukan hehehe.

    Teman pojokmungil suka rebutan belanja di toko online juga nggak? Cerita yuk pengalaman serunya.

  • arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger
    Babbles, Blogger Profiles, Life Hacks

    Working At Home Mom: Blogger Profesional

    Sebagai istri, tugas utama kita adalah membantu suami mengurus rumah tangga dan anak-anak, ya Ma. Namun, beberapa di antara kita juga bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan, mulai untuk berkontribusi pada keuangan keluarga, mencari aktualisasi diri sampai ingin mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dengan susah payah di bangku kuliah. 

    Tapi bagaimana jika suami menginginkan kita untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan fokus mengurus anak dan dirinya? Bisakah kita tetap mengaplikasikan ilmu, membantu keuangan keluarga dan bermanfaat bagi masyarakat? Jawabnya, bisa! Kawan saya, Rahmah Usman Karateng yang lebih dikenal dengan nama pena Amma O’Chem telah membuktikannya.

    arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger

    Bergelar Magister di bidang ilmu Kimia dari Universitas Hasanudin, Makasar tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan yang berasal dari kota Maros, Sulawesi Selatan ini. Supaya ilmunya bermanfaat, Amma, panggilan akrabnya, bekerja sebagai dosen di Universitas Palangkaraya. Profesi ini ditekuninya sampai ia harus mengikuti suami pindah ke Surabaya. 

    Saat itulah, Amma harus rela meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga mendampingi suami dan merawat putri semata wayangnya. Namun, Amma tidak berhenti berkarya. Hobi menulis di blog yang dijalaninya sejak tahun 2008 dan mulai dikerjakan secara profesional pada tahun 2011, menjadi tempat Amma mengaktualisasikan diri. Di sela-sela waktunya, Amma mengelola 3 blog pribadi dengan tema yang berbeda. Dan ketiganya cukup sukses memiliki pembaca setia dengan statistik yang .

    Blog istanacinta.com merupakan blog parenting yang berisi interaksi keseharian Rahmah dengan putrinya Salfa lengkap dengan info tempat wisata yang mereka kunjungi dan tips parenting. Dengan tulisan khas Amma yang apik, kategori yang cukup rapi dan tema blog manis minimalis bernuansa ungu dan putih, Istana Cintanya Amma dan Salfa menarik untuk dibaca dan dijadikan jujugan para ibu muda untuk mencari informasi atau sekadar bertukar cerita.

    Blog kedua adalah resensikata.com yang sesuai namanya didedikasikan untuk mengulas buku-buku yang telah ia baca atau mengikuti giveaway tentang buku. Blog ketiga dan blog utamanya Amma adalah ChemistRahmah yang memiliki tagline Al Chemist of Rahmah: Selaksa Kata si Jemari Ajaib. Lifestyle blog inilah yang kemudian membawa Rahmah mendapat predikat Emak Of The Month dari salah satu komunitas Blogger juga masuk sebagai Top Blog Indonesia no. 1 pada tahun 2013 dari Top Blog Indonesia. Tak melupakan ilmunya, Amma tetap berusaha berbagi ilmu dalam postingan-postingan di blognya yang berkategori Chemistry-Kimia di samping artikel tentang tempat wisata, masakan, curhat dan reportase event.

    arisan link, blogger perempuan, rahmah chemist, istana cinta, working at home mom, profesional blogger

    Keseriusan Amma mengelola ketiga blognya membuatnya dikenal di kalangan blogger dan beberapa kali dipercaya menyampaikan materi tentang blogging di kalangan umum maupun terbatas. Rupanya panggilan sebagai pengajar memang nggak bisa lepas dari penulis beberapa buku antologi ini. 

    Nah, jadi jangan takut kehilangan kesempatan untuk berkarya dan bermanfaat meski tinggal di rumah. Banyak jendela terbuka saat satu pintu tertutup jika kita mau ikhlas dan membuka hati. Banyak kesempatan yang bisa kita ambil, salah satunya dengan menjadi profesional blogger seperti Rahmah. Tapi tentu dibutuhkan ketekunan dan kerja pintar yang beretika agar dapat mendulang emas dari blogging.

    Memiliki blog yang dapat mendatangkan penghasilan bagi kita bukan hal yang mudah. Kapan hari waktu googling free printable blog planner,  saya menemukan bahwa banyak sekali hal yang harus dilakukan seorang blog sampai dapat disebut sebagai blogger profesional. Mulai dari menentukan konsep blog, tema postingan setiap minggu, membuat ilustrasi atau infografik bahkan video yang menarik, belajar SEO, dan masih banyak lagi. 

    bloggingorg, monetize blog, how to make money from blog

    it takes times, effort, money and commitment to be a professional blogger

    Jadi, sebelum memutuskan mengembangkan blog dari hobi menjadi pekerjaan profesional, yuk kita siapkan dulu kemampuan berikut ini:

    Manajemen Waktu

    Menjadi blogger profesional berarti kita konsisten untuk mengalokasikan waktu tertentu setiap hari untuk menulis, mencari ide, membuat konsep, blog walking sampai update status di media sosial. 

    Mengatasi Kegagalan

    Nggak mudah menjadi blogger profesional, kadang paid review kita dikritik klien karena nggak sesuai dengan yang dia minta, di waktu lain alexa rank melorot tajam karena ditinggal mudik selama beberapa minggu dan nggak tersentuh sama sekali, kali lain page view yang tiba-tiba menurun drastis. Apakah kita cukup kuat mengatasi semua hal itu dan membangun semangat menulis dari awal?

    Membuat Konsep dan Mengaplikasikannya

    Membangun blog dan brandingnya bukan hal yang bisa kita lakukan dalam semalam. Sejak awal kita harus menentukan mau di bawa ke mana hubungan kita blog yang kita kelola. Sekadar jadi tempat curhat kah, atau dimonetizekah. Memang banyak sih blogger profesional yang berawal dari blogger curhat atau sekadar berbagi pengalaman seperti Rahmah. Namun, kalau ingin mengejar mereka tentu kita nggak bisa menerapkan strategi yang sama. Jadi pikirkan dengan matang konsep blog yang kita inginkan, buat rencana pengembangannya dan aplikasikan.

    Menginvestasikan Sebagian Uang yang Kita Peroleh Untuk Mengembangkan Blog Kita

    Siapa yang begitu dapat honor job review langsung belanja online? Sayaaaa!!! Berarti saya belum punya mental sebagai blogger profesional nih hehehe. Seharusnya kita menginvestasikan minimal 20% dari penghasilan kita untuk mengembangkan blog. Mulai untuk membeli domain TLD dan hosting, membeli template blogger yang SEO friendly, kursus SEO, kursus menulis, berlangganan internet yang cepat dan dapat diandalkan, membeli kamera bagus supaya dapat menghasilkan gambar-gambar cantik untuk ilustrasi blog dan masih banyak lagi.

    Kalau kita sudah merasa mampu melakukan hal-hal tersebut, berarti kita sudah siap nih melangkah menjadi blogger profesional, karena sebenarnya bagian tersulit dari memulai pekerjaan ini adalah mengembangkan kualitas dan disiplin diri kita sendiri. 

    Mau belajar lebih lanjut? Sekarang sudah banyak buku dan situs yang memberi informasi bagaimana membuat blog profesional dan mendapatkan uang darinya, seperti artikel yang menjadi salah satu sumber tulisan ini  How to Make Money Blogging: From Start to Business. Yuk, semangat lagi ngeblog biar bisa keren seperti mbak Amma dan alexa rank nggak melorot terus. 

     

    Image source: https://blogging.org/blog/how-to-make-money-blogging

     

  • Babbles

    Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

    Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

    ——-

    Need to know :

    JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

    Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

    Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

    Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

    Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

    Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

    Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

    Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

    Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

    Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

    Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

    Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

    Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

    Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

    Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

    Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

    Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

    Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

    Sebagian ulama mengatakan:

    “Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

    Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

    1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

    2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

    3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

    4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

    5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

    6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

    7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

    Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
    Berhati-hatilah.

  • Babbles

    Menulis Biar Waras

    Pernah nggak sih merasa isi kepala itu penuh dengan berbagai hal tapi nggak bisa diomongin ke orang lain? Seperti abis baca berita lalu pengen komentar tapi nggak ada teman diskusi. Kesal sama pasangan tapi nggak bisa diungkapkan secara verbal. Atau sekadar mikir menu masakan hari ini yang lantas berlanjut ke harga bahan makanan yang semakin mahal, terbayang cucian alat dapur yang harus dicuci dan banyak lagi. Saya sering!

     photo E4007300-6977-410D-80A0-250A30EAF743_zpsk94q2eyg.jpg

    Terlahir sebagai orang introvert yang lebih sering menyimpan sesuatu bagi diri sendiri membuat saya sering menahan diri saat ingin berbagi hal yang ada dalam pikiran saya secara verbal. Sesekali mungkin nggak apa-apa ya. Toh memang nggak semua hal harus diucapkan. Orang pintar suka bilang, “Some things are better left unsaid.

     photo 1CE88EE0-71E0-4ADE-8706-89FA91EDCA65_zpsgdzfavvq.jpg

    Tapi kalau terus menerus dalam kondisi seperti itu, seperti halnya tempat sampah, kalau sudah terlalu penuh isinya akan berhamburan keliar tak terkontrol. Tentu nggak bagus juga ya.

    Jujur saya sering iri sama teman-teman yang outspoken. Yang bisa mengutarakan apa saja yang mereka pikirkan tanpa harus berpikir apakah hal itu benar, berguna, bermanfaat dan tidak akan menyakiti orang lain. Bisa bicara tentang apapun tanpa mengkhawatirkan reaksi orang. Sementara saya nggak bisa seperti itu.

    Maka itu saya butuh menulis. Karena dengan itulah saya bisa menuangkan isi pikiran saya dengan susunan kata lebih baik. Dengan menulis saya bisa mengubah khayalan-khayalan ajaib saya menjadi sebuah fiksi. Atau bercerita tentang pengalaman tapi diaku sebagai milik orang lain tanpa ada yang tahu.

    Saya butuh ngeblog, untuk bercerita tentang hal-hal yang saya alami sehari-hari tanpa harus mengganggu telinga orang lain yang mungkin tak mau mendengar. Bebas mengeluh tanpa harus berpikir apakah orang yang saya curhatin ini sedang lapang hati mendengar keluhan saya atau sebaliknya. Atau berpendapat tentang sesuatu tanpa takut dihakimi. Yah, macam buku harianlah. Hanya saja bentuknya berbeda.

    Banyak yang bilang, blog saya isinya remeh temeh. It’s okay. Saya memang nggak pernah berniat membuat blog saya sebagai bacaan berat, kok. Ini sekadar sarana katarsis saya. Tempat saya mengosongkan isi kepala. Ben waras; cek ora edan kalau orang Surabaya bilang. Yah, syukur-syukur dari cerita sehari-hari itu ada yang bisa diambil hikmahnya sama orang lain.

    Kalau kamu, tipe yang lebih ekspresif dalam tulisan atau lebih suka berkomunikasi secara verbal?

  • Babbles

    Tahun Baru, Desain Blog Baru

    Tepat tanggal 1 Januari nanti, domain pojokmungil.com ini berusia 4 tahun. Huaaaa nggak terasa sudah selama itu nulis cerita macem-macem di blog ini. Meski jumlah postingannya belum terlalu banyak (230 postingan dalam 4 tahun itu sedikit kan ya?) karena penulisnya yang moody berbagai macam kesibukan yang bikin malas nggak sempat nulis, blog ini berarti banget buat saya.

    Kebetulan sejak mulai ngeblog tahun 2004, saya agak cerewet soal theme blog. Pertama kali bikin blog sih seorang teman lama berbaik hati ngajarin cara menghias blog dan kode-kodenya sampai bisa bikin desain blog (waktu itu masih di blogspot.com) sendiri. Tapi sekarang saya sudah nggak pernah lagi update ilmu sehingga akhirnya pasrah dengan themes-themes gratisan dari wordpress atau penyedia layanan template blog lain. Apalagi setelah pindahan ke wordpress.com yang mau nggak mau harus pakai themes yang sudah tersedia dan nggak bisa diutak-atik.

    Nah, rencananya tahun depan pengen kembali beli hosting untuk blog ini dengan tetap pakai platform wordpress dong, platform blog yang ternyaman menurut saya. Tapi kalau themes-nya masih gitu-gitu aja ya agak males juga sih. Untung mbak Shintaries berbaik hati bikin Giveaway: Blog Make Over, di mana pemenangnya nanti dapat didesainkan blog yang sesuai dengan keinginannya.

    Desain blog impian saya nggak ribet kok. Saya suka yang simpel-simpel aja seperti blognya mama idola keluarganugraha.net dan mbak ShintaRies sendiri. Yang penting background dasarnya putih polos dengan 2 kolom serta detil feminin dan warna-warna pastel. Tentunya lengkap dengan custom header dan icon-icon sosmed yang saya ikuti. Ya kira-kira temanya seperti yang ada di Pinterest Board saya ini.

    Kombinasi Warna

     

    Inspirasi Header dan Detil Blog

    Manis kan ya tema blognya, warnanya kalem dan hangat trus detilnya meski sederhana tetap feminin. Kebayang cantiknya blog saya nanti kalau didesainkan dengan inspirasi seperti ini. Apalagi saya lihat desain-desain mbak ShintariesI garis besarnya sesuai dengan desain blog impian saya. Yaaa, semoga saya beruntung menjadi salah satu pemenang giveaway ini. Supaya di tahun baru nanti blog tercinta ini punya wajah baru yang lebih segar.

  • Babbles, Life Hacks

    Think Twice Before You Tweet

    Belakangan ini, teman saya suhu Yohanes Hans lagi rajin ngetwit setelah sekian lama menghilang dari linimasa. Dan topiknya tentang awareness di sosial media, asli bikin saya merasa tertampar tamparbalik.

    Intinya sih, beliau mengingatkan kalau di era digital begini orang yang mau berbuat jahat bisa dengan mudah mengumpulkan informasi pribadi dari hal-hal yang kita bagi di internet, terutama twitter. Seringkali tanpa sadar kita menuliskan hal-hal yang bisa digunakan orang untuk mengumpulkan data, menganalisa dan membuat profiling tentang kita (langsung berasa nonton Criminal Minds). Huaaaa masa sih?

    Serius lho, pernah nggak sih kita ngetwit:

    Selamat ulang tahun mamaku tersayang, ibu (nama lengkap) yang ke-65.

    Tahu nggak kalau nama ibu kandung itu adalah informasi penting yang digunakan oleh bank dan kartu kredit untuk verifikasi data. Once people know about our mother’s name; bank yang kita gunakan dari status seperti:

    Lagi antri nih di Bank Capek Antri, kalo nggak perlu buat online shop, males deh punya tabungan di sini

    alamat rumah:

    Bu ibu, jangan lupa ya ntar sore dateng arisan ke rumah gue. Alamatnya: Jalan xxxxxx

    dan tanggal lahir kita:

    alhamdulillah, udah tambah lagi umur gue hari ini. 25 is great, right?

    bisa mereka jadikan alat untuk bobol rekening kita di bank. Serem yeuuuh.

    Menurut suhu Yo, twit tentang kondisi kita di suatu keadaan tertentu juga bisa digunakan orang untuk merancang situasi yang bisa bikin kita lengah, dia contohin beberapa status:

    Duh, naik sepeda malem-malem keluar kompleks gini bikin bingung dan takut.

    lagi di taksi, tidur dulu ah

    tiap pakai high heels selalu pusing dan mau pingsan

    tiap hisap asap rokok, pikiran selalu blank.

    Dengan ngumpulin twit seperti ini, orang tinggal perlu cari konsistensi dari perilaku kita terhadap kondisi itu untuk menjadikan kita korban kejahatannya.

    Yang saya jadikan highlight dari beberapa twitnya om suhu (sebenarnya banyak contoh-contoh lain, silakan mampir di akun twitternya @yohanes_hans yah) adalah betapa seringnya kita eh saya ding, berbagi data tentang keluarga, terutama anak. Siapa namanya, berapa umurnya, di mana sekolahnya plus check in tiap jemput anak di foursquare, siapa nama gurunya, kelas berapa sampai berapa kali kita terlambat jemput mereka di sekolah. Ternyata itu bahaya banget sodara-sodara. Kepikiran nggak dengan data-data itu yang bisa dilacak dengan mudah di twitter, foursquare, google maps, orang yang emang niat jahat bisa gampang menculik anak di sekolah.

    Lantas saya jadi mikir sendiri, kalau begitu sama dong dengan status-status:

    si Ayah nih nggak pulang-pulang dari kantor, udah ngantuk banget nungguinnya.

    paling nggak suka kalau suami dinas luar kaya gini. pusing ngurusin rumah sendirian, takut juga kalau malam.

    duh, ayang nih, selalu terlambat jemput kantornya. Jadi bengong bego deh di tempat abang siomay. Mana sendirian lagi.

    yang memberikan informasi bahwa di hari-hari tertentu kita sedang sendiri dan merasa tidak nyaman dalam kondisi tersebut. Tinggal tunggu informasi selanjutnya dan konsistensinya aja, misal si ayang telat jemputnya hari apa aja sih, suami dinas luar berapa minggu sekali dan berapa hari, juga si ayah telat pulang hari apa aja biasanya. Jadi deh kita calon korban yang empuk. Jeng jeeeeng….

    Memang sih, kita bebas mau nulis apapun di sosial media tapi juga harus tahu resiko yang dihadapi itu apa aja. Kalau kata suhu Yo, “Disarankan untuk tidak menulis alamat rumah kita, nomor mobil kita dan kebiasaan buruk kita yang berhubungan dengan semua hal itu.” Nggak ada ruginya kok lebih berhati-hati saat eksis di dunia maya sekarang, apalagi om suhu bilang, “Belakangan saya punya firasat kuat kalo sindikat perdagangan wanita & anak di Indonesia udah semakin paham memakai info di dunia maya.”

    Oya, satu lagi pesannya, “Yang juga penting adalah men-setting agar foto foto bersifat personal di akun Facebook kita tidak ‘open for public‘ yg artinya bisa dilihat oleh semua orang yg tidak masuk dalam friend list kita. Foto foto yg disetting ‘open for public‘ hanya disarankan utk item atau produk dagangan yg diperjualbelikan. Kita bisa melihat kesalahan semacam ini dilakukan oleh para remaja putri ABG sekarang yg settingan foto di akun Facebook mereka bisa dilihat oleh semua orang asing yang bukan teman mereka. Untuk jaman sekarang hal seperti itu kurang baik karena mengundang hal yang beresiko, yang kita tidak tahu apa yang bisa dimanfaatkan dari foto foto tersebut.”

    Uh well, better safe than sorry kan yah?