Browsing Category:

Life with My Kids

  • Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria
    Daily Stories, Life in Brunei, Traveling

    Jumat Pagi di Sudut Seria Bersama Keenan

    Nggak seperti Indonesia yang sekolah libur di hari Sabtu dan Minggu, di Brunei sekolah kerajaan dan swasta lokal libur di hari Jumat dan Minggu. Namun, hari Jumat kemarin kakak Cinta harus latihan di sekolah untuk acara Sports Day 2 minggu lagi. Jadi kalau biasanya kami bermalas-malasan di Jumat pagi kali ini harus bersiap-siap untuk mengantar kakak sekolah. Tapi tetap aja sih kebiasaan bangun agak siang di hari Jumat nggak bisa hilang, sehingga Keenan nggak sempat sarapan di rumah. Akhirnya setelah mengantar kakak ke sekolah dia minta diajak sarapan di dekat sekolah kakak.

    Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria

    Foto ini diambil pada Jumat siang ketika semua aktivitas perekonomian di Seria berhenti setiap pukul 12 – 2 siang supaya orang Muslim bisa melakukan ibadah sholat Jumat.

    Sekolah kakak dan rumah kami terletak di mukim Seria, sekitar 80 km dari Bandar Seri Begawan. Seria adalah kota kecil yang menjadi pusat eksplorasi minyak dan gas bumi, sumber kekayaan negerinya Sultan Hassanal Bolkiah. Dari rumah ke sekolah kakak dan Keenan berjarak 8 km yang biasanya kalau nggak macet bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Nggak banyak yang bisa dilihat dari Seria ini, pusat kotanya terletak di area yang bisa dikelilingi selama 15 menit dengan berjalan kaki. Mulai dari aneka tempat makan, bank, hotel, terminal bus, toko buku, deretan penjahit, kedai gunting rambut dan toko baju ada di sini. Meskipun nggak besar dan berkesan kota tua, aneka makanan enak ada di lokasi itu. Sebut saja resto sushi halal Kaizen Sushi favorit yang selalu penuh di jam makan siang dan malam dan Gohan Sushi yang nggak kalah enaknya. Restoran fast food modern seperti Jollibee, KFC, Burger King dan SugarBun bersebelahan dengan kedai-kedai masakan khas India dan Brunei yang sudah buka selama beberapa generasi. Nggak terlalu jauh dari area ini ada kantor polisi yang berseberangan dengan kantor pos.

    Bingung juga awalnya mau makan apa karena jam segitu tempat makan yang menyediakan menu fast food favoritnya belum ada yang buka. Tadinya berencana ajak dia makan roti telur a la kedai India aja, kebetulan Keenan memang suka sama roti-rotian semacam itu. Tapi dipikir-pikir kok nggak kenyang ya dan saya lagi malas mencium aroma kari-karian hihihi. Setelah muter-muter di area Plaza Seria yang kebetulan dekat sekali sama sekolah kakak, akhirnya memutuskan untuk makan di My Booney Cafe aja.  

    My Booney Cafe, Seria, Brunei Darussalam, halal food

    My Booney Cafe & Restaurant di Seria

    Seperti biasa, tiap makan di My Booney, Keenan selalu order dimsum siomay. Sayangnya pagi itu, siomay kesukaannya sudah habis. Setelah melihat aneka dimsum yang disajikan di meja, akhirnya dia milih siomay udang. Trus saya tawarin kolomee. Eh, dia mau.

    Kolomee, Kolomee Seria, Seria, Brunei local food, Brunei halal food, Brunei Darussalam, kolomee wonton

    Wonton Kolomee. Edisi sarapan porsinya lebih kecil.

    Kolomee itu kalau di Indonesia mungkin sejenis mie ayam, tapi di sini isinya kita bisa pilih mulai dari daging/ayam cincang, wonton rebus, roasted chicken dan masih banyak lagi. Rasanya juga agak beda sih, namun buat saya kolomee di My Booney Seria ini yang paling cocok di lidah saya dari beberapa kolomee yang pernah saya coba di Brunei ini karena bumbunya berasa banget sampai ke mienya dan rasanya cenderung gurih asin. Meskipun kadang terlalu medok dan kalau makan porsi gede agak eneq. Untungya di kafe ini kalau mulai dari jam 6 sampai 11 pagi ada menu sarapan yang porsi kolomeenya lumayan kecil. Jadi nggak khawatir nggak habis deh. Sementara saya yang tadinya nggak mau order karena udah ada siomay udang akhirnya tergoda untuk memesan set roti dan telur setengah matang plus teh hangat. Duh, apa kabar #menujulangsing2017?

    Setelah makan, Keenan tiba-tiba ngajak ngasih makan burung. Di dekat My Booney ada terminal bus yang nggak terlalu besar dan di salah satu sudutnya suka banyak burung ngumpul. Nah, kadang orang-orang iseng kasih makan burung di situ. Karena masih pagi, meskipun sudah lumayan panas, saya iyakan saja permintaan Keenan. 

    bus station, Seria, Brunei Darussalam

    Terminal Bus dan Tempat Parkir Taxi, Seria, Brunei Darussalam

    Sebelumnya kami nyeberang dulu dari My Booney ke deretan kedai runcit di depan terminal bus untuk beli makanan burung. Hampir semua kedai runcit di situ jual makanan burung, jadi nggak susah milihnya. Dengan uang B$ 1, kami sudah bisa dapat 1 kg jagung kering. 

    Seria, Brunei Darussalam

    Deretan kedai runcit (toko kelontong) di Seria

    Anak 4 tahun yang merasa sudah besar dan mandiri itu, langsung berinisiatif membawa sendiri tas plastik berisi jagung itu. Baru saja mau nyebrang ke terminal, eh tasnya jatuh di jalan. Jadilah jagung berhamburan di jalan raya dan langsung dikerubuti burung, sementara Keenan mau nangis ngeliat bawaannya jatuh :)) Akhirnya kami kembali lagi ke kedai dan membeli 1 kantong jagung lagi demi niat memberi makan burung terlaksana.

    Sampai di terminal, Keenan seneng banget bisa melempar-lempar jagung ke kawanan burung sambil sesekali berlari berusaha menangkap burung. Hihihi, kebahagiaan anak kecil itu sederhana ya. Alhamdulillah di sudut terminal bus yang itu nggak banyak mobil lewat, ada beberapa yang datang dan pergi untuk parkir namun masih aman untuk anak-anak ngasih makan burung di situ.

    Simply happiness

    Cukup lama juga kita nongkrong di situ, nggak peduli diliatin orang lewat. Bahkan ada sepasang kakek nenek yang sampai senyum-senyum ngeliatin si Keenan. Begitu jagungnya habis, eh malah minta beli jagung lagi. Karena sayanya sudah kepanasan saya tawarin beli permen lollipop aja untuk dimakan di rumah. Untungnya dia setuju. Tapi begitu sampai di kedai langsung minta es krim. “It’s very hot, Mom. I want to eat ice cream,” katanya. Ya sudahlah, kami beli es krim trus nyebrang lagi ke Kompleks Sri Selera Seria untuk numpang duduk makan es krim.

    Seria, food court, Seria food court, halal food in Brunei, non halal food in Brunei, Brunei Darussalam, Seria local food, Brunei local food

    Food court di Seria dengan sisi sebelah kanan untuk aneka gerai makanan halal dan sisi sebelah kiri untuk gerai makanan non halal

    Kompleks Sri Selera Seria ini semacam food court. Cukup besar tempatnya dengan dua sisi berseberangan yang menyediakan makanan halal dan non halal. Pagi ini sisi makanan non halal lebih ramai daripada sisi makanan halal. Keadaan biasanya berbalik di waktu makan siang dan malam. Di sisi makanan halal, menu yang tersedia beragam, mulai dari sate, pecel, aneka gorengan, bakso, sayur-sayuran sampai sup tulang, salah satu menu khas Brunei. Kadang kalau lagi kangen masakan Indonesia sederhana atau gorengan tapi terlalu malas bikin sendiri saya suka beli di sini meski rasanya ya sudah disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Misalnya soto rasa sup atau bebek goreng yang ukuran bebeknya gede banget.

    Sementara untuk sisi makanan non halal saya nggak tahu isinya apa aja, nggak pede juga mau nengok-nengok ke sana karena di setiap sisi dindingnya ada papan kecil merah bertuliskan, “Bukan Tempat Makan Orang Muslim.” Kalau pakai kerudung kaya saya melipir ke sebelah sana pasti diliatin deh hihihi. Pokoknya mah, nggak usah khawatir cari makan di Brunei. Gerai dan rumah makan yang menyajikan masakan non halal pasti akan memasang papan kecil tersebut di dekat pintu masuk atau minimal di tempat yang mudah terlihat. Kalau nggak ada tandanya, insyaAllah masakannya halal.

    Salah satu sudut Seria yang menunjukkan deretan kedai runcit dan tampak belakang Plaza Seria diambil dari depan Komplek Sri Selera Seria

    Kencan di Jumat pagi bersama Keenan di Seria berakhir setelah es krimnya habis. Perutnya yang kenyang dan hatinya yang riang karena sempat bermain di luar memudahkan saya untuk mengajaknya pulang sambil berjanji lain waktu akan membawanya memberi makan burung lagi dengan anggota keluarga yang lebih lengkap.

  • Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja
    Traveling

    Serunya Berwisata Sejarah di Kotagede Jogja

    Sebenarnya sudah lama sekali saya nggak main ke Jogja. Terakhir ke sana bareng keluarga kira-kira 6 atau 7 tahun yang lalu waktu Cinta masih berusia 3-4 tahun. Padahal sebelum saya menikah, cukup sering ke Jogja baik bersama keluarga atau teman-teman kuliah. Maklum, sejak kami pindah ke Brunei, setiap kali mudik selalu kami gunakan untuk berkumpul bersama keluarga di Sidoarjo atau Tuban. Kalaupun pergi berwisata ya nggak jauh-jauh dari kota-kota tersebut.

    Baca Juga: Pantai Camplong Madura

    Lebaran tahun lalu, Mama saya tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk berlibur bareng keluarga besar ke Jogja. “Naik mobil aja,” kata beliau sambil mengenang masa-masa kami sering melakukan perjalanan darat dari Sidoarjo ke Jogja. Kenapa Jogja? Selain karena ada saudara mama yang tinggal di sana, Jogja seakan tidak pernah berhenti menyuguhkan pesonanya. Mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, kuliner, sampai wisata-wisata dengan wahana atraktif dan modern, semua bisa kita nikmati di Jogja.

    Tapi biasanya kalau berlibur ke Jogja, saya dan keluarga lebih sering mengunjungi lokasi-lokasi wisata populer di pusat kota. Padahal, nggak jauh dari lokasi tersebut, ada salah satu destinasi wisata sejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi, yaitu Kotagede.

    Kotagede merupakan salah satu kecamatan yang terletak sekitar 5 km di sebelah timur Keraton Yogyakarta. Kawasan ini memiliki sejumlah peninggalan kerajaan Mataram yang sebenarnya sayang jika kita lewatkan saat berlibur di Kota Jogja.

    Nah, berhubung ada rencana untuk berlibur ke Jogja, saya coba mencari info tempat-tempat wisata menarik untuk dikunjungi di Kotagede dan ini adalah beberapa di antaranya:

    1. Masjid Gedhe, Mataram

     Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Masjid Gedhe – Wikipedia.org

    Masjid dengan desain arsitektur unik yang berdiri di Kotagede ini merupakan masjid tertua di Jogja. Masjid ini didirikan sejak zaman Kerajaan Mataram oleh Sultan Agung pada tahun 1640.

    Pada saat itu, mayoritas penduduknya menganut agama Hindu dan Buddha. Itulah mengapa, saat berada di dalam masjid tersebut, kita bisa menemukan beberapa ornamen berciri khas Hindu dan Buddha, seperti yang terdapat pada tiang kayu dan gapura masjid.

    Meskipun sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung ini masih tetap berdiri kokoh dan digunakan sebagai tempat beribadah oleh masyarakat sekitar.

    2. Pemukiman Tradisional

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Pemukiman Tradisional – Gogonesiatravelblog.com

    Di kota tempat saya tinggal sekarang, pusat kotanya masih memiliki bangunan kuno yang terawat dan dijadikan sebagai pusat perekonomian. Senang banget ngeliat tiap pagi para kakek duduk menikmati udara pagi di bangku-bangku di pinggir jalan atau sarapan di kopitiam yang sudah dikelola selama beberapa generasi.

    Baca juga: Seria, Kota Minyak dalam Hitam dan Putih

    Nah, katanya kalau ingin merasakan suasana Jogja tempo dulu, pemukiman tradisional di Kotagede adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Di sana, kita bisa menemukan berbagai rumah kuno yang berdiri sejak zaman Kerajaan Mataram dan zaman kolonial.

    Tidak mengherankan, beragam jenis bangunan rumah di sana memiliki ciri khas yang bervariasi. Ada yang bergaya Eropa, namun tidak sedikit pula yang berdesain arsitektur asli Jawa dengan bentuk bangunan menyerupai pendopo.

    3. Reruntuhan Benteng

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Reruntuhan Benteng – Indoturs.com

    Pada zaman dahulu, reruntuhan benteng ini merupakan benteng pertahanan Keraton Mataram yang bernama Benteng Baluwerti. Benteng ini sebenarnya mempunyai luas mencapai 400×400 m. Namun seiring waktu berlalu, benteng yang telah runtuh tersebut, kini hanya tersisa sebagian kecilnya saja. Saat ini, sisa benteng tersebut masih tampak kokoh, dengan panjang sekitar 50 m dan ketebalan dinding 1,2 m.

    4. Kompleks Pemakaman Raja

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Komplek Pemakaman Raja – Initempatwisata.com

    Lokasi wisata bersejarah yang bisa kita kunjungi di Kotagede berikutnya adalah kompleks pemakaman Raja-raja Mataram. Ketika memasuki kawasan kompleks pemakaman ini, kita akan disambut 3 rangkap gapura yang memiliki arsitektur khas Hindu.

    Sementara di area pemakaman, ada beberapa bangunan pendopo kecil, yang masing-masing memiliki nama yang berbeda, seperti: Bangsal Duda, Bangsal Witana, Bangsal Pengapit Ler, dan Bangsal Pengapit Kidul. Selain itu, ada juga Sendang Seliran, yang pada zaman dahulu merupakan tempat pemandian Panembahan Senopati atau pendiri Kerajaan Mataram.

    5. Pasar Legi

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Pasar Legi – Wisatayogyakarta.com

    Pasar tradisional yang berlokasi di Jalan Mondorakan Kotagede ini sekilas memang tampak seperti pasar pada umumnya. Namun ternyata, pasar ini memiliki sejarah panjang, dan bahkan sudah ada sebelum Kerajaan Mataram berdiri. Beberapa bangunan peninggalan masa lalu juga masih terlihat di sekitar pasar, misalnya tugu penanda jalan dan rumah-rumah kuno di sekitar pasar.

    6. Wisata Kerajinan Perak

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Kerajinan Perak – Tourandtravelwisataindonesia.com

    Sekalinya ke Kotagede, tujuan utama saya dan keluarga selalu ke tempat kerajinan perak. Aduh, nggak bisa dipungkiri, aneka kerajinan perak yang ada di Kotagede ini menggugah hati dan merongrong dompet. Bagus-bagus banget dan banyak pilihan.

    Kerajinan perak di Kotagede konon sudah ada sejak abad ke-9. Namun kerajinan ini baru mulai dikenal ketika Kerajaan Mataram mulai berkuasa, yakni di sekitar abad ke-16. Sejak saat itu, perdagangan perak di Kotagede terus mengalami kemajuan.

    Kini, di Kotagede sudah ada lebih dari 100 toko yang menyediakan kerajian perak. Masih dengan cara yang sama, perak-perak tersebut dibuat dengan tangan, sebagaimana pembuatan perak di masa Kerajaan Mataram.

    TIPS BERWISATA DI KOTAGEDE

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Kotagede – Pusakatours.com

    Wisata sejarah di Kota Gede tidak hanya berguna untuk menambah koleksi foto-foto cantik kita di media sosial. Lebih dari itu, liburan semacam ini juga bisa memperkaya pengetahuan, serta menjadikan kita semakin memahami budaya asli dalam negeri.

    Baca juga: Mempersiapkan Anak Untuk Liburan di Pantai

    Lalu, apa saja yang perlu dipersiapkan saat akan berwisata ke Kotagede? Berikut beberapa tips untuk kita.

    1. Persiapkan Akomodasi Jauh-jauh Hari

    Meskipun tidak berada tepat di pusat kota, namun Kotagede cukup ramai dikunjungi wisatawan, terutama di saat musim liburan. Apabila ingin mendapatkan suasana yang tenang, sebaiknya kita mempersiapkan akomodasi perjalanan dan penginapan jauh-jauh hari.

    Supaya lebih praktis, kita bisa memesan tiket kereta api secara online di: https://www.traveloka.com/kereta-api. Tidak hanya itu, melalui Traveloka.com, kita juga bisa mendapatkan penginapan di Jogja dengan pilihan harga yang kompetitif. Dengan demikian, kita tidak akan kesulitan menemukan akomodasi yang tepat dan nyaman.

    2. Catat Jalur Bus TransJogja

    Akses ke Kotagede dari pusat Kota Jogja tergolong cukup mudah. Dari stasiun kereta api, kita hanya perlu mencari halte bus TransJogja terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan dan turun di halte Tegal Gendu, Kotagede.

    Lokasi-lokasi wisata di Kotagede berada tidak jauh dari halte, sehingga bisa kita capai hanya dengan berjalan kaki.

    3. Kenakan Pakaian Sopan

    Sebagai wilayah bekas Kerajaan Mataram, kawasan wisata Kotagede sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, terutama dalam hal berpakaian. Untuk itu, sebelum berwisata ke Kotagede, pastikan kita sudah mengenakan pakaian yang sopan.

    Apabila sudah mempersiapkan semua rencana dengan matang, kini saatnya kita bersiap-siap membawa pulang cerita sejarah dari Kerajaan Mataram.

    Ada yang mau ikut liburan bareng saya ke Jogja?

  • mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival
    Daily Stories, Life in Brunei

    Mooncake Festival di CCMS

    Karena Cinta bersekolah di sekolah Cina, otomatis kita belajar mengenali budaya-budayanya. Minimal tradisi dan perayaan hari-hari istimewa yang dirayakan di sekolah. Salah satunya adalah mooncake festival yang diadakan di hari ke-15 bulan ke-8 menurut kalender Cina, yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016. Oya, penanggalan Cina ini mengikuti sistem peredaran bulan lho, sama seperti kalender Hijriyah.

    Kenapa perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Mid Autumn Festival jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8? Menurut beberapa sumber bulan ke-8 kalender Cina adalah bulan kedua musim gugur dan karena 1 musim terdiri dari 3 bulan, maka tanggal 15 bulan 8 tepat berada di pertengahan musim gugur. Pada tanggal ini juga biasanya bulan sudah penuh dan terang. Bahkan dipercaya sebagai bulan purnama yang paling terang dalam 1 tahun. Sehingga kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk kumpul keluarga, makan bersama dan menikmati keindahan bulan serta kelezatan mooncake, kue tradisional masyarakat Cina. Pada saat yang sama, biasanya para petani juga mulai memasuki masa panen, sehingga festival ini juga bermaksud sebagai perayaan panen sekaligus mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan.

    Selain mooncake, perayaan mid autumn identik pula dengan lampion. Pada jaman dulu, lampion digunakan oleh para perantau untuk menerangi jalan mereka yang mereka lalui saat mudik ke kampung halaman di pertengahan musim gugur ini. Konon lampion dipercaya untuk mengusir roh halus dan mencegah datangnya hal-hal buruk pada malam festival berlangsung. Sekarang, meski jalanan di mana-mana sudah terang dan orang-orang nggak perlu lagi jalan kaki untuk pulang ke kampung, tradisi lampion tetap dilestarikan. Bahkan semakin seru dengan aneka model lampion yang cantik. Waktu Cinta masih ikindergarten dulu malah ada lomba bikin lampion lho, terus diterbangkan ramai-ramai di malam perayaan festival bulan ini.

    mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

    Tapi, tahun ini sekolahnya Cinta memutuskan untuk mengadakan perayaan yang lebih sederhana dan diadakan di pagi hari sekolah. Tepatnya hari Sabtu, 24 September yang lalu. Iya, di Brunei anak sekolah (kecuali sekolah internasional) dan pegawai kerajaan (civil servant) masuk di hari Sabtu dan libur di hari Jumat serta Minggu. Kebetulan juga, waktu itu mertua dan kakak ipar sedang berkunjung ke sini, jadi deh kami ajak untuk menikmati mooncake celebration festival sekaligus lihat-lihat sekolahnya Cinta.

    Meskipun sederhana dan hanya berlangsung selama 1 jam, acara perayaan musim gugur yang diadakan di sekolahnya Cinta cukup seru dan menyenangkan. Tepat jam 7.30, murid-murid dan guru-guru sudah duduk manis di lapangan sekolah, sementara orangtua yang datang berdiri di selasar depan kelas. Acara dibuka dengan sambutan dan cerita tentang mooncake festival yang (sayangnya) disampaikan dalam bahasa Cina (sehingga saya nggak ngerti sama sekali, hiks). Dilanjutkan dengan pertunjukan Chinese Drama yang juga berbahasa Cina (yaeyalaah, masa berbahasa Korea). Pada sesi ini, penampilan salah satu siswa lower primary mencuri perhatian penonton karena totalitas dan semangatnya memerankan seorang murid dari sebuah perguruan jaman dulu.

    Sembari menunggu pertunjukan selanjutnya, beberapa guru memberikan teka-teki tentang lampion yang memang menjadi salah satu simbol mid autumn festival. Yang kemudian diteruskan oleh pembacaan puisi oleh murid-murid. Tak lama, Wushu, yang menjadi atraksi favorit saya di pagi itu tampil. Melihat kelincahan anak-anak dari berbagai kelas memperagakan bela diri khas Cina, bikin saya ingin si kakak ikut Wushu untuk kegiatan ekstrakurikulernya tahun depan. Tapi waktu anaknya ditanya dia jawab mau ikut cooking club dan scout aja. Padahal kan penting ya anak perempuan bisa bela diri hihihi. Tetep deh emaknya usaha. 

    Istirahat sejenak, beberapa guru kembali mengadakan kuis untuk para siswa dan kali ini Cinta serta teman-temannya dari kelas bahasa Cina C & D ikut maju. Di sekolah Cinta, kelas bahasa Cina dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan kefasihan murid berbahasa Cina. Sayang sih, belum beruntung dapat hadiah, wong anaknya juga bingung sendiri nggak ngerti pertanyaannya hehehe.

    Setelah itu pertunjukan diabolo atau yoyo tradisional Cina menghibur kami semua. Kagum deh melihat ketrampilan anak-anak ini main yoyo karena menurut saya itu nggak gampang ya. Saya yakin mereka pasti latihan dengan giat sampai bisa menampilkan pertunjukan keren seperti yang ada dalam video di atas.

    Acara hari itu ditutup dengan vocal group dan kemudian anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk belajar dan orangtua pulang ke rumah. Begitu saja, sederhana, ringkas tapi mengesankan. Hanya saja mungkin tahun depan saya harus berdiri dekat dengan teman saya yang bisa berbahasa Cina supaya paham apa saja yang ditampilkan.

    Oya, pernah makan mooncake, teman? Rasa apa favoritmu?

  • speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini
    Daily Stories, Life with My Kids

    Keenan, Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

    2 minggu yang lalu menjelang libur Idul Adha, rumah kami kedatangan petugas sensus. Seperti biasa si petugas bertanya tentang siapa saja yang tinggal di rumah dan data-data pribadi lain. Yang nggak biasa adalah petugasnya masih muda, taksiran saya usia anak-anak baru lulus SMA gitu deh, cewek lagi. Dan seperti biasanya lagi saya yang bertugas menjawab pertanyaan mbak-mbak sensus ini.

    Nah, waktu si mbak mendata umur dan sekolah anak-anak, dia sempat tertegun waktu saya menyebut usia dan sekolah Keenan, lalu bertanya, “3 tahun sudah sekolah?” yang cuma saya jawab dengan senyuman.

    speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

    Sebenarnya nggak cuma sekali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu. Rupanya menurut beberapa orang usia Keenan masih terlalu muda untuk sekolah, apalagi ketika ia memulai hari pertamanya di tahun ajaran 2016 ini, usianya masih 2 tahun 9 bulan. Nggak sedikit juga ahli parenting yang tidak setuju dengan ada anak masuk sekolah di usia dini seperti Keenan.

    “Umur segitu anak lebih baik di rumah belajar dengan ibunya.” 

    “Anak balita belum perlu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.”

    “Jangan paksa anak untuk belajar di usia terlalu dini, nanti dia bisa stres dan mogok sekolah di tahun-tahun berikutnya.”

    Dan masih banyak lagi deretan komentar kontra pendidikan di usia dini baik dari sesama orangtua maupun dari pakar-pakar parenting.

    Saya pun tadinya ragu, antara tega dan nggak tega melepas Keenan sekolah karena menurut saya anak ini masih bayi banget hahaha. Beda gitu deh sama kakaknya yang sudah nampak lebih matang di usia sama seperti Keenan sehingga waktu itu saya mantap-mantap aja masukin Cinta ke baby school di usia 1,5 tahun.

    Tapi, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembangnya Keenan sejak ia lahir, kami pun sepakat untuk mendaftarkan Keenan ke sekolah sebagai pengganti terapi okupasi yang harusnya ia jalani. 

    Keenan dan Speech Delay

    Kenapa Keenan perlu terapi okupasi? Jadi gini ceritanya… 

    Sejak lahir, seperti anak-anak lain yang lahir di Brunei, Keenan diperiksa tumbuh kembangnya secara berkala oleh bidan di Pusat Kesihatan tempat saya periksa kehamilan dulu serta oleh dokter anak di RS Suri Seri Begawan tempat saya melahirkan. Alhamdulillah sejauh ini imunisasinya lengkap dan kesehatannya baik-baik saja meski berat badan yang selalu berada di bawah persentil 25. Tapi bidan dan dokter anak nggak pernah mempermasalahkan berat badannya, paling cuma disuruh nambah variasi makan, minum susu, mengurangi asupan gula dan sebagainya. Pokoknya pola makan gizi seimbang lah.

    Tapi, setelah Keenan berusia 1,5 tahun, saya mulai curiga karena untuk anak seusianya, bicaranya Keenan jauh tertinggal. Keenan baru bisa mengucapkan satu kata dan walaupun cerewet bahasanya masih bahasa planet. Sementara menurut milestone seusia Keenan harusnya menggabungkan 2 kata sederhana dan mulai membeo. Selain itu Keenan juga sepertinya belum memahami ucapan saya, papanya atau kakak. Sayang, keterlambatan ini saya anggap wajar karena pertama dia anak laki-laki yang biasanya lebih cepat berjalan daripada bicara. Dan kedua karena kami terbiasa berbicara dalam 2 bahasa di rumah, jadi mungkin Keenan mengalami kebingungan sehingga jadi lebih lambat ngomongnya.

    perkembangan bicara anak usia 18-24 bulan, speech delay, lambat bicara, milestone, perkembangan bahasa pada anak

    Bulan April 2015, ketika jadwal berkunjung ke Paediatric Clinic Suri Seri Begawan Hospital, Keenan yang biasanya diperiksa oleh dokter anak umum, karena kesalahan suster nulis lingkar kepala tiba-tiba diperiksa oleh Dr. Musheer dari Child Development Center (CDC) atau klinik tumbuh kembang gitulah. Dokter Musheer ini yang pertama kali memeriksa Keenan setelah keluar dari rumah sakit dan mengalami jaundice selama beberapa waktu. Oleh dokter Musheer, Keenan diajak ngobrol berdua sambil main lego di meja kecil, trus dites warna, gambar binatang dan diajak main lempar tangkap bola. Selama proses pemeriksaan yang berjalan santai dan seperti main-main itu, Dr. Musheer benar-benar fokus ke Keenan dan baru ngajak ngobrol saya setelah pemeriksaan selesai. Jadi Keenan benar-benar enjoy dan nyaman sekali dengan dokter (yang dari fisik dan logat bahasanya saya kira) berasal dari India ini.

    Dari hasil pemeriksaan baru deh ketahuan kalau memang ada milestone yang tertinggal. Meski demikian dokter tetap menyarankan supaya kami santai karena menganggap faktor keterlambatan bicara ini adalah efek bilingual dan kurangnya stimulasi. Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara hanya satu bahasa dengan Keenan, yaitu bahasa Inggris, dengan pertimbangan lingkungan di sekitar kami lebih banyak berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia atau Melayu. Dokter juga ngasih handout yang membantu saya memahami tentang perkembangan bahasa pada anak dan stimulasinya.

    “Nggak ada stimulasi yang lebih baik dari bermain dengan ibunya.”

    – Devi Sani, M.Psi, Psi

    Setelah 5 bulan berlalu, ternyata perkembangannya masih kurang baik, mungkin karena kurang stimulasi, bisa juga karena terlalu banyak screen time atau faktor-faktor lain saya nggak tahu. Dokter Musheer pun akhirnya mendiagnosa Keenan mengalami speech delay. Tapi, sekali lagi saya hanya diminta untuk memperbanyak stimulasi di rumah dan mengajak Keenan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya karena menurut beliau biasanya anak lebih cepat belajar dari situasi bermain bersama teman-temannya. Bersosialisasi ini juga menurut dokternya Keenan bisa membantu membentuk perilaku baik pada anak seperti berbagi mainan, bergantian, saling peduli dengan teman dan sebagainya. Karena, kalau anak cuma bermain sama orangtua, yang sering terjadi adalah orangtua akan mengalah ketika anak meminta sesuatu, atau membiarkan anak menang hanya supaya dia senang. 

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%202_zpsk1wr4wc3.jpg?resize=560%2C315

    Pada pertemuan berikutnya 5 bulan kemudian, mulai ada perkembangan. Mungkin karena waktu itu saya mulai rajin ngasih dia sensory play atau permainan ala Montessori yang banyak ditemukan di internet dan instagram, mungkin juga karena dia mulai tertarik untuk berkomunikasi. Keenan mulai bisa menggabungkan 2 kata sederhana saat menginginkan sesuatu. Tapi, pengucapannya masih belum jelas, baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Mirip seperti anak 1,5 tahun yang baru mulai bicara, sementara saat itu umur Keenan sudah 2 tahun 8 bulan. Dan ternyata saat itu Keenan juga memiliki short span attention. Sederhananya, anak kicik ini gampang bosan, jadi dia lebih suka aktif bergerak daripada mengerjakan sesuatu yang memerlukan koordinasi motorik halus seperti mewarna, memegang pensil, membaca (dibacakan buku). 

    Baca juga: Permainan Sensoris

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%203_zpsx9ujhpwo.png?resize=560%2C315

    Kebetulan waktu itu sekolah-sekolah sudah mulai buka pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 dan teman-teman mainnya Keenan di komunitas ibu-ibu KB Seria sudah mulai sekolah sehingga dia nggak punya temen main lagi kalau dibawa ke acara komunitas, saya akhirnya meminta saran dokter tentang kemungkinan Keenan bersekolah. Nggak nyangka ternyata dokter setuju, malah dia bilang kalau tadinya dia mau ngasih terapi okupasi seminggu sekali tapi sekolah justru lebih baik menurutnya. Jadi begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Keenan masuk ke KG (Kindergarten) 1 atau setara playgroup di Indonesia.

    Keenan dan Sekolah

    Sebenarnya selain sekolah, waktu itu dokter juga mendaftarkan Keenan untuk terapi hanya saja kami diminta bersabar karena tempat terapi di Kuala Belait hanya ada 1 dan itu penuh jadi harus ada sesi wawancara untuk memastikan apakah Keenan perlu diterapi atau enggak. Sampai kunjungan berikutnya ke dokter, kami belum mendapat telepon dari tempat terapi untuk diwawancara dan dokter pun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena melihat perkembangan bicara Keenan yang membaik.

    Iya, sejak sekolah memang perkembangan bicara Keenan mulai membaik, bahkan dia mulai bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Sekarang Keenan sudah bisa merangkai 5 kata sederhana dalam bahasa Inggris seperti, “Mami, I want to eat.” Sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaaannya seperti lapar, haus, marah, sedih, nggak mau sekolah, nggak mau pake sepatu, nggak mau mandi karena masih mau tidur dan kalimat sederhana sehari-hari. Dia juga mulai mengenal pagi, siang, sore dan malam. Juga aneka binatang, panas dingin, bentuk dan warna walau masih suka terbalik. 

    Tapi, semua itu nggak datang dengan mudah. Setidaknya nggak bagi saya meski saya anggap ini adalah bagian dari resiko menyekolahkan anak di usia sangat muda.

    Pertama, di bulan-bulan pertama sekolah Keenan selalu menangis waktu mau saya tinggal. Ya, saya maklum, anak ini sejak lahir hampir 24 jam selalu bersama emaknya. Jadi bagi saya wajar kalau Keenan merasa nggak nyaman harus berpisah dari saya meski hanya beberapa jam di tempat yang nggak dia kenal sebelumnya.  

    Sayangnya, pihak sekolah nggak mengijinkan saya untuk menemani Keenan di kelas sampai ia siap ditinggal sendiri, guru-gurunya meminta saya untuk pergi supaya Keenan terbiasa dan teman-temannya yang lain nggak rewel ngeliat Keenan ditungguin. Jujur aja saya nggak tega, di minggu-minggu pertama juga rasanya berat sekali ngeliat Keenan nangis nggak mau sekolah. Chaos banget deh suasana kelas saat itu. Anak-anak kecil nangis-nangis, guru-guru yang nampak kebingungan juga para orangtua yang nggak tega tapi harus menegakan diri. Tapi lama-lama ya dia terbiasa sih ditinggal di sekolah meski sampai sekarang saya kadang masih merasa bersalah.

    Kedua, bulan-bulan awal sekolah Keenan nggak mau pake seragam dan cuma mau pake sandal Crocks. Jadi saya sering sekali ditegur gurunya karena masalah ini. Plus, hampir setiap kali saya menjemput Keenan gurunya laporan kalau, “Keenan nggak mau duduk diam,” “Keenan suka mukul temannya,” “Keenan nggak mau mewarna,” “Keenan nggak mau berbagi mainan,” “Keenan begini… Keenan begitu…” yang isinya jelek-jelek semua. *lap keringet*

    Sampai saya sedih lho, anak saya ini kok gitu banget ya. Jangan-jangan sebenernya saya salah nih nyekolahin Keenan semuda ini. Maklum kalau urusan anak, saya emang orangnya baperan hehehe. Tapi kebaperan ini lama-lama hilang karena ternyata bukan saya seorang yang suka dilaporin gitu hahaha. Yah, mungkin bu guru lelah.

    Ketiga, sampai sekarang pun kalau dibangunin pagi hari Keenan selalu nangis nggak mau mandi dan sekolah. Padahal kalau sudah sampai di sekolah ya dia happy aja gitu masuk ke ruang kelas dan nggak nengok-nengok mamanya lagi. Kan capek ya kalau tiap hari selalu ngadepin anak rewel gitu.

    Waktu saya konsultasikan ke dokternya bulan Juli lalu, beliau justru senang liat perkembangannya Keenan, baik dari segi bahasa maupun perilaku. Memang sih, perilaku agresifnya Keenan jadi jauh berkurang, kecuali ke kakaknya. Trus ngomongnya juga jadi lebih banyak dan jelas. Keenan sudah mulai ngerti kalau ditanya sesuatu dan bisa ngasih jawaban yang sesuai juga sesekali ngasih alasan. Misalnya kalau dulu dia bilang, “I no want shoes.” Trus ditanya kenapa, ya jawabnya hanya, “I no want shoes!” sambil jerit-jerit frustasi karena menganggap emaknya ini nggak bisa ngertiin dia. Sekarang dia bisa jawab, “Because my feet hurts. I want Light shoes.” Tinggal daya konsentrasinya ini yang masih terus dilatih.

    Soal laporan-laporan dari gurunya, pak dokter menenangkan saya dengan menjelaskan kalau tujuan kami (orangtua dan dokter) memasukkan Keenan ke sekolah kan awalnya sebagai pengganti terapi okupasi, yaitu memperbaiki lifeskillnya dan hasilnya sudah cukup baik. Tapi kita juga harus paham kalau guru punya target yang berbeda jadi ya nggak perlu sakit hati kalau dilaporin yang jelek-jelek terus. Sementara kalau dilihat dari laporan pendidikannya, sebenarnya banyak sekali peningkatan yang dialami Keenan di sekolah seperti mewarnanya mulai rapi dan di dalam garis, meski pegang pensil belum sempurna tapi sudah bisa tahan lebih lama, di rumah suka bernyanyi mengulangi lagu-lagu yang diajarin di sekolah dan dia jadi suka main sekolah-sekolahan ngikutin gaya gurunya kalau ngajar. Role play istilah kerennya mah. 

    Pak dokter juga ngasih tahu alasan kenapa Keenan sering malas bangun pagi adalah karena tidurnya nggak cukup. “Kalau anak tidur cukup, dia akan bangun dengan segar dan berangkat sekolah dengan riang. Tapi kalau tidurnya nggak cukup, ya wajar kalau mandi aja nangis, trus nggak mau sarapan sehingga akhirnya di sekolah pun jadi moody.” Dan memang setelah saya observasi kalau Keenan tidur lebih awal dan bangun pagi sendiri, lebih mudah ngajak dia mandi dan sarapan lalu berangkat sekolah.

    Jadi itulah alasan Keenan bersekolah di usia dini selain supaya emaknya punya lebih banyak me time, pasti ada plus minusnya tapi untuk saat ini buat kami lebih banyak plusnya daripada minusnya. Apalagi sekolahnya sekarang termasuk santai sebenarnya karena sedikit mengadopsi sistem Montessori yang lebih banyak mengajarkan lifeskill daripada mengejar-ngejar untuk bisa calistung. Di sekolah juga Keenan belajar untuk lebih percaya diri karena sering ada performance kelas yang disaksikan orangtua. Juga di sekolah ini ada playground yang cukup luas dan sand box untuk anak-anak bermain.

    Tapi, tahun depan karena berbagai macam alasan Keenan sepertinya nggak akan lanjut di sekolah ini dan kami sedang mencari sekolah lain yang sama atau bahkan lebih baik dari sekolahnya sekarang dan bisa menerima kondisi Keenan serta membantu kami mendidik Keenan menjadi lebih baik. Doakan yaaa. 

  • traveloka, tips liburan bersama anak, ke pantai bersama anak, tips liburan
    Traveling

    Mempersiapkan Anak Untuk Liburan di Pantai

    Beberapa waktu yang lalu seorang teman curhat tentang liburannya yang gagal karena putranya yang berusia 2 tahun merasa nggak nyaman ketika diajak bermain di pantai. Saya bisa memahami kekecewaannya karena pernah mengalami hal serupa dengan kakak Cinta 8 tahun yang lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya kami sekeluarga membawa kakak Cinta yang belum genap berusia 1 tahun berlibur ke Bali. Namanya juga liburan ke Bali ya nggak afdol dong ya kalau nggak main ke pantai apalagi hotel tempat kami menginap punya akses langsung ke pantai.

    Tapi bayangan untuk bersantai di pantai sambil bikin istana pasir dan main air bersama si kecil langsung sirna ketika Cinta menolak untuk turun ke air, bahkan menangis ketika kakinya menyentuh pasir pantai. Akhirnya kami pun hanya duduk-duduk di atas kain yang dibeli dari pedagang di sekitar pantai sambil memandangi orang-orang yang seseruan mandi di pantai. Hiks.

    Walaupun demikian, kami nggak kapok mengajak kakak Cinta ke pantai. Pengalaman berikutnya kami mengajaknya ke Lombok dan pantai Camplong, Madura. Perlahan-lahan Cinta mulai menikmati bermain di pantai, mulai dari hanya mau main pasir trus berenang sampai sekarang susah diajak pulang kalau sudah ke pantai. Hal ini berbeda dengan Keenan yang sejak umur 12 hari sudah dibawa ke pantai dekat apartemen kami di Brunei. Nggak perlu waktu lama untuk bocah kecil itu jadi anak pantai sampai sekarang.

    traveloka, tips liburan bersama anak, ke pantai bersama anak, tips liburan

    Apakah sahabat pojokmungil pernah mengalami hal yang sama? Atau sedang deg-degan karena akan membawa si kecil ke pantai untuk pertama kalinya dan khawatir ia akan nggak menikmatinya? No worries, berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan supaya liburan ke pantai pertama kali bersama si kecil sukses. Apa aja? Ini dia:

    Perkenalkan Dengan Suasana Pantai

    Ajak anak membaca buku cerita atau menonton acara televisi yang bertemakan pantai. Ceritakan kepada mereka tentang apa saja yang akan mereka temui di pantai, bagaimana suasananya dan apa saja yang bisa dilakukan bersama-sama di sana. 

    Sensory Play

    Beberapa masalah yang sering terjadi adalah balita takut dengan pantai yang besar dan risih dengan pasir pantai yang menempel di kaki dan tangannya. Untuk itu ajaklah anak-anak untuk bermain sensori dengan materi yang mirip dengan pasir pantai, seperti kinetic sand. Biarkan mereka bebas merasakan tekstur pasir di tangan dan kakinya sambil kita ceritakan betapa serunya membuat istana pasir di pantai nanti. 

    Pilih Pantai yang Nyaman

     

    Pilihlah pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai di kunjungan pertama ke pantai bersama anak. Lebih baik lagi jika di sekitarnya ada tempat bermain untuk anak-anak atau tempat makan outdoor sehingga kita (dan anak) punya pilihan untuk beraktivitas di pantai selain main pasir dan air ketika anak masih merasa kurang nyaman.

    Kalau khusus berlibur di daerah yang terkenal dengan keindahan pantainya seperti Bali, akan lebih baik jika bisa menginap di hotel yang memiliki akses khusus ke pantai sehingga sebelum benar-benar ke sana, kita bisa memperlihatkan situasi pantai kepada anak saat berenang di kolam renang, sarapan atau makan malam di pinggir pantai. Hotel seperti ini memang biasanya lebih mahal atau sulit mendapatkan kamar tapi kita bisa menggunakan layanan di situs Traveloka untuk memesan hotel dan tiket pesawat dengan harga yang lebih murah.

    Do It Slowly

    traveloka, tips berlibur, tips berlibur ke pantai, berlibur ke pantai bersama anak

    Jangan memaksa anak ketika dia menolak untuk langsung bermain di pantai apalagi memarahinya gara-gara dia minta digendong karena nggak mau kakinya terkena pasir. Pahami ketakutannya, pangku anak sambil kita duduk di atas pasir sementara pasangan membuat aneka bentuk dari pasir. Gendong anak ke pinggir pantai dan biarkan dia melihat ayah atau ibunya bermain air. Percaya deh lama kelamaan anak akan tertarik untuk mengikuti ayah dan ibunya. 

    Bawa Alas dan Perlengkapan Pantai 

    Bawa cetakan pasir, tikar, tenda, mainan favorit anak, minuman dan camilan supaya anak betah berlama-lama duduk di pantai. Membawa peralatan bermain juga bisa menarik anak-anak di sekitar kita untuk ikut beraktivitas bersama-sama. Biasanya anak akan lebih cepat beradaptasi di lingkungan baru jika melihat teman sebayanya bermain dengan gembira. 

    Pilih Waktu Yang Tepat Untuk Anak

    Biasanya setelah anak sarapan atau makan sore dan matahari belum terlalu panas adalah waktu yang tepat untuk bermain di pantai bersama anak. Pastikan anak tidak mengantuk atau lapar karena dua kondisi itu bisa membuat moodnya jelek dan menolak untuk bermain. Oya, sebelum ke pantai pakaikan sunblock ke anak ya, minimal 30 menit sebelum keluar dari rumah atau hotel untuk melindungi kulitnya dari sengatan sinar matahari.

    Nah, gimana? Sudah siap membawa anak bermain di pantai liburan yang akan datang? Selamat berlibur, jangan lupa bagi-bagi cerita dan pengalaman serunya ya dengan pojokmungil. 

  • DIY, Life as Mom

    Bros Dari Pita Ala Ibu-Ibu KB Seria

    Yang namanya kumpul-kumpul sambil arisan kayanya nggak lepas dari keseharian ibu-ibu Indonesia ya. Coba deh mulai dari arisan di perumahan, arisan bareng ibu-ibu di sekolah anak (kalau anaknya 2, arisannya bisa ikut dua kelompok), arisan sama ibu-ibu seprofesi, you name it. Jenis arisannya sendiri sekarang makin banyak. Kalau jaman mama kita dulu mungkin cuma arisan uang dan arisan panci, jaman digital gini ada dong arisan emas, arisan buku, arisan iPhone dan kamera mirrorles, arisan jalan-jalan dan masih banyak lagi yang dikelola secara online. Asli deh, yang kaya gini ini diperlukan modal kepercayaan yang besar ya. Setor uang ke orang-orang yang secara fisik belum pernah kita temui di dunia nyata. 

    Buat sebagian ibu (baca: khususnya saya) jumlah arisan nggak penting, yang penting ngumpulnya, karena acara ngumpul inilah yang sebenarnya seru. Makanya saya jarang ikut arisan dengan jumlah besar, selain sayang uangnya juga karena tujuan utamanya bukan itu.

    Tapi sebagian lain, memanfaatkan arisan sebagai kesempatan untuk nabung. Masuk akal juga sih, dengan ikut arisan mau nggak mau kan kita menyisihkan sejumlah tertentu uang belanja yang bisa diambil kemudian saat tiba waktunya. Sebenarnya tabungan formal jenis ini sudah ada di beberapa bank, seperti CIMB Niaga dengan nama Tabungan Mapan, di mana kita setor ke bank jumlah tertentu setiap bulan dalam jangka waktu tertentu. Dan setelah waktunya berakhir, dana kita bisa langsung cair ke tabungan utama. Kenapa saya ngasih contohnya tabungan dari bank CIMB Niaga? Ya karena saya tahunya itu, secara mantan pegawai gitu :))

    Cuma, sepertinya tabungan jenis ini masih kalah pamornya dengan arisan ya. Setidaknya di lingkungan saya sih seperti itu, ibu-ibunya lebih memilih ikut arisan atau menginvestasikan uangnya ke asuransi unit link dan reksadana. Nah, sejak merantau ke Brunei saya kira nggak akan ketemu lagi sama yang namanya arisan tapi ternyata saya salah. Hari pertama saya gabung dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di wilayah Seria dan Kuala Belait (biasa disebut ibu-ibu KB Seria), langsung diajak arisan yang baru memulai putaran barunya. Jadilah, sejak saat itu sampai sekarang saya sudah ikut 3 putaran arisan di komunitas ini. Dan, sahabat-sahabat saya di Jakarta, para mamak bundar alias Circle Moms, rencananya akan mulai juga arisan putaran baru bulan ini setelah lama vakum. Tujuan kedua arisan ini sama, supaya bisa ngumpul secara rutin dan mempererat persaudaraan antar anggotanya.

    Indonesian ladies in KB – Seria

    A post shared by Alfa Kurnia | PojokMungil.com (@alfakurnia) on

    Karena tujuan itulah, arisan di komunitas KB Seria bukan jadi acara utama setiap kali kami berkumpul di hari Rabu, minggu pertama bulan berjalan, sehingga yang nggak ikut arisan pun sangat diperbolehkan untuk bergabung. Dan sejak 2 tahun lalu, pada acara yang diberi judul silaturahmi ini selalu ada sharing session dari salah seorang ibu yang ditunjuk karena memiliki keahlian sesuai tema bulanan. Jadi misalnya bulan Januari temanya cooking class ya dicari seorang ibu yang mau berbagi ketrampilan memasaknya. Sejauh ini sudah pernah ada kelas investasi, bikin cireng, dekor kue, kesehatan organ intim wanita, bikin bunga dari manik-manik dan masih banyak lagi. Nggak harus sulit kok, sederhana pun nggak apa-apa yang penting bermanfaat dan acara silaturahmi nggak sekadar menjadi ajang bertukar gosip. 

    Nah, pada hari Rabu kemarin kegiatan silaturahmi ibu-ibu KB Seria selain arisan juga diisi dengan crafty class membuat bros dari pita.

    Pengajarnya adalah mbak Yulisma Jamalin yang biasa kita panggil mbak Uun. Mbak Uun ini memang terkenal kreatif. Selain pandai crochet tanpa pola, cross stitch, bikin bunga dari manik-manik juga akhir-akhir ini merambah ke bidang doodling dan coloring yang lagi ngetren itu. Jadi nggak heran lah kalau beliau yang ditunjuk untuk mengisi crafty class.

    Silaturahmi ibu-ibu KB Seria bulan September 2016

    A post shared by Alfa Kurnia | PojokMungil.com (@alfakurnia) on

     

    Karena keterbatasan waktu, maklum, ibu-ibu KB Seria kan bagaikan Cinderella, jam 12 teng sudah harus bergegas memacu kendaraan masing-masing untuk menjemput anak-anaknya pulang sekolah, menyiapkan makanan untuk para suami yang pulang makan siang di rumah, dan aktivitas lain, maka mbak Uun pun memilihkan ketrampilan sederhana untuk kami. Selain mudah dibuat, bahannya pun gampang dicari. Jadi, kami pun bisa ngajarin anak-anak untuk membuat sendiri di rumah. Senang lah. Pas banget untuk isi kegiatan libur sekolah minggu depan.

    Bros Dari Pita

    Bahan:

    4 buah pita hijau dengan panjang berbeda
    3 buah pita perak dengan panjang berbeda
    (Selisih antara ketujuh pita ini masing-masing 1 cm)
    Kain keras dipotong kotak untuk alas pin
    Pin
    Manik-manik
    Lem tembak

     

    Cara Membuat:

    1. Lipat masing-masing pita menjadi dua bagian sama panjang sampai terbentuk garis lipatan di tengah pita, lalu buka lagi.
    2. Bubuhkan lem panas ke garis lipatan di tengah pita, lalu bawa ujung kanan kiri pita ke tengah, tempel. Lakukan hal yang sama pada semua pita.
    3. Susun pita dari yang paling panjang di bawah sampai yang paling pendek di atas sesuai selera. Setelah puas dengan susunan pita, lem bagian belakang masing-masing pita agar menempel satu sama lain.
    4. Bubuhkan lem ke bagian tengah pita paling atas, susun manik-manik di atasnya.
    5. Tempel kain keras di bagian paling belakang pita, lalu tempel pin di atas kain keras.
    6. Bros dari pita siap digunakan.

    Catatan:

    Kalau nggak ada lem tembak, bisa juga dijahit dan saya pribadi sepertinya lebih suka dijahit karena manik-maniknya gampang lepas kalau cuma ditempel dengan lem tembak.

    Nah, gampang kan? Rencananya mau ajak Cinta bikin ini juga setelah dia pulang dari Science Camp minggu depan. Lumayan untuk isi liburan sekolah. Yuk coba yuk.

     

  • pout care, pout hair and body care, hair product for children
    Beauty & Fashion, Daily Stories

    Yang Alami Untuk Rambut Si Kecil: Pout Care

    Mencari produk perawatan tubuh dan rambut untuk anak menurut saya bukan hal yang mudah. Kulit dan rambut anak yang masih sensitif seringkali membuat saya harus memeriksa dengan teliti kandungan apa saja yang ada dalam produk tersebut. Inginnya sih semua serba alami dan aman bagi anak.

    Tadinya saya menggunakan salah satu produk dari sebuah merek ternama bagi anak-anak saya. Tapi, Cinta yang mulai memasuki masa pra remaja merasa nggak puas dengan sampo “bayi” tersebut sehingga sering memakai sampo saya atau papanya. Padahal produk perawatan rambut tersebut belum tentu aman baginya.

    Sampai suatu hari seorang teman menyarankan saya menggunakan produk perawatan rambut dari Pout yang diklaim alami dan cocok untuk anak. Pucuk dicinta ulam tiba, saya mendapat satu paket berisi produk perawatan rambut buatan Australia ini. Mulai dari sampo, kondisioner, hair spray sampai hair wax untuk dicoba bersama anak-anak.

    pout care, pout hair and body care, hair product for children

    Jadi, selama sebulan ini, anak-anak menggunakan produk-produk dari Pout, and they we love it.

    Keenan suka dengan karakter pada kemasan produk yang anak-anak banget (especially the Blueberry Potion yang menggambarkan karakter ksatria berkuda); kakak Cinta suka dengan wanginya yang lembut dan kemasannya yang nggak “bayi”; sedangkan saya suka sekali dengan hasilnya di rambut anak-anak.

    Kemasan Pout sendiri benar-benar menyenangkan dilihat. Karakter putri, ksatria berkuda, peri, penyihir baik hati, ilmuwan dan bajak laut yang sedang menaiki carrousel atau komidi putar dengan warna warna cerah.

    Bahan-bahannya juga aman bagi anak, bahkan yang memiliki kulit sensitif sekalipun, karena dibuat dari bahan alami berkualitas tinggi tanpa kandungan sulfat atau paraben. Rangkaian produk Pout juga dilengkapi dengan berbagai ekstrak bunga serta tanaman organik yang berasal dari Australia, seperti Alfalfa, Sage dan Rosemary untuk menutrisi dan menguatkan rambut anak-anak.

    pout care, pout hair & body care, natural hair product for children

    Favorit saya sejauh ini adalah pout Care Blueberry Potion Natural Shampoo. Wanginya lembut, nggak pedih di mata, dan membuat rambut terasa lembut dan mudah disisir.  Oya, produk sampo Pout ini waktu dibilas nggak meninggalkan kesan kesat di rambut, jadi kalau terbiasa dengan produk sampo di pasaran seperti saya, awalnya mengira sampo ini susah dibilas. Padahal sebaliknya. Dan kelembaban pada rambut setelah dibilas itu yang membuatnya mudah disisir. Bahkan untuk rambut tebal dengan helaian besar seperti rambutnya kakak Cinta.

    Merawat rambutnya Cinta ini memang agak tricky. Helaiannya yang tebal tapi halus seringkali membuat rambut lurusnya sulit diatur dan mudah berantakan. Nah, untuk itu saya pakaikan pout Care Peaches and Cream Natural Detangler setiap habis keramas supaya mudah disisir. 

    Hair detangler ini juga sering dipakai Cinta saat harus berangkat lagi sekolah Ugama di siang hari setelah sepagian tertutup kerudung supaya kulit kepalanya terasa segar. Produk ini mengandung minyak Argan yang bermanfaat menstimulasi pertumbuhan rambut dan mencegah ujung rambut pecah-pecah. 

    Manfaat hair detangler ini juga tampak di rambutnya Keenan, lho. Setelah rutin memakai selama sebulan lebih, rambut Keenan jadi kelihatan lebih tebal. Selain itu, dia jadi gampang diajak menyisir rambut setelah mandi karena suka saat rambutnya disemprot pout Care Peaches and Cream Natural Detangler ini.

    Setelah memakai detangler, biasanya saya menata rambut Keenan dengan pout Huckleberry Sorbet Natural Wax. Saya suka sekali produk ini karena membantu saya menata rambut Keenan dengan model-model lucu tanpa takut rambut bayinya rusak. Kandungan akar Burdoch organik, Rosemary dan ekstrak Yarrow berfungsi menguatkan dan mencegah kerusakan rambut. Pelembab yang terkandung di dalamnya membuat rambut mudah ditata. Biasanya sih, kalau nggak banyak dipegang, tatanan rambut yang menggunakan hair wax ini bisa tahan selama 4 jam. Cocok banget buat cowok-cowok kecil kita yang stylish, ya Ma.

    pout hair and body care, pout care, natural hair product for children

    Selain ketiga produk tersebut, anak-anak juga berkesempatan mencoba pout Care Strawbery Magic Natural Shampoo yang diperkaya dengan tumbuhan Sage, Comfrey dan Parsley organik yang berguna menguatkan rambut serta menstimulasi sirkulasi darah pada kulit kepala sehingga rambut kakak dan Keenan nampak lebih berkilau dan sehat. Dan untuk melengkapinya, kami juga sesekali menggunakan pout Green Apple Whoosh Hydrating Conditioner yang mengandung Alfalfa organik, Calendula dan ekstrak Elderflower untuk melindungi kulit kepala yang sensitif dan rambut dari lingkungan yang kurang sehat. Biasanya kondisioner ini kami pakai setelah berenang atau beraktivitas di pantai, sehingga rambut anak-anak yang terpapar klorin dan sinar matahari kembali lembut dan sehat.

    Sementara ini produk-produk Pout baru dapat kita jumpai di beberapa toko di Singapura dan beberapa cube di Brunei. Tapi kita juga bisa beli online lewat websitenya: pout Hair & Body Care karena pout melayani pengiriman ke Singapura, Indonesia, Brunei, Malaysia, Filipina sampai Thailand. 

     

     

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • kids activity, outdoor, games, permainan seru untuk balita
    Kids Activities

    5 Aktivitas Outdoor Yang Seru Untuk Balita

    Hari Kamis tanggal 17 Maret, sekolah Keenan mengadakan Sports Day untuk menandai berakhirnya kegiatan belajar mengajar pada term ke-1 sekaligus mulai libur sekolah selama 2 minggu. Pada acara ini, anak-anak KG 1 sampai KG 3 diajak berkegiatan di luar ruangan, khususnya olahraga. Tapi ternyata olahraga yang dilakukan nggak seperti yang saya bayangkan.

    Sebelumnya, saya mengira mereka akan diajak main sepakbola, lari atau apalah, secara namanya aja sudah sports day gitu. Ternyata yang dilakukan adalah kegiatan outdoor yang biasa dijumpai saat peringatan 17 Agustus, seperti lomba membawa bola dalam sendok, tug of war alias tarik tambang dan sebagainya. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Jadi kegiatan anak KG1 yang baru berusia 3 tahun tentu berbeda dengan kakak-kakak kelasnya yang lebih besar.

    kids activity, outdoor, games, permainan seru untuk balita

    Karena Keenan ada di KG1, aktivitasnya lebih simpel. Maklumlah anak umur segitu kan baru bisa memahami instruksi sederhana ya, tenaganya juga belum terlalu kuat. Jadi, nggak ada deh lomba basket, tarik tambang atau memasukkan pulpen ke dalam botol.

    Meskipun demikian, anak-anak tetap senang lho beraktivitas rame-rame di luar kelas. Apalagi berkompetisi gitu, walau akhirnya juga nggak ada kalah atau menang. Lha, gimana mau ada yang dimenangkan, kalau lomba bawa bola dalam sendok aja masih ada yang muter-muter sambil megangin sendoknya instead of jalan lurus ke garis finish. Kalaupun bisa jalan lurus, hampir semua bolanya jatuh sehingga mereka sibuk mengejar bola. Lucu sekaligus seru.

    Yang lebih menyenangkan lagi adalah melihat orangtua yang nggak heboh menyuruh anaknya untuk adu cepat. Gimana mau adu cepat, wong baris untuk lomba lari aja belum selesai hitung 1, 2, 3 sudah ada yang kabur duluan karena ngeliat mamanya ada di garis finish. Jadi ya, benar-benar acara untuk bersenang-senang aja. 

    Menurut saya, bagus juga guru-gurunya memikirkan kegiatan seperti itu, padahal kita tahu kan, mengurus anak-anak usia 3 tahun berkegiatan di luar ruang itu cukup merepotkan. Sehingga seringkali setiap ada acara family gathering atau lomba tujuh belasan, anak-anak kecil ini terabaikan. 

    Padahal ternyata cukup banyak aktivitas outdoor yang bisa kita lakukan bersama mereka. Berikut ini adalah 5 di antaranya:

    Spoon Race

    Kegiatan ini cukup sederhana dan hanya memerlukan sendok, bola plastik serta kapur atau tali untuk membuat garis start dan finish. Tingkat kesulitannya tentu bisa disesuaikan dengan usia peserta. Bagi anak 3 tahun, cukup dengan meminta mereka memegang sendok berisi bola kemudian berjalan dari garis start ke garis finish. Percayalah, bagi mereka, terutama yang nggak terbiasa bermain bola sendok, kegiatan ini nggak semudah yang kita bayangkan.

    spoon race for toddler, permainan bola sendok untuk balita

    Sedangkan, untuk anak di atas 4 tahun, yang keseimbangannya sudah lebih baik, bisa diminta untuk meletakkan sendok di dalam mulut. Tantangan selain berjalan ke garis finish adalah menjaga supaya bola tidak jatuh. Seru pasti.

    Walaupun sederhana, aktivitas ini bermanfaat melatih keseimbangan, konsentrasi dan motorik kasar anak lho. Tapi, ingat, Sahabat, jangan marahi anak jika bolanya terjatuh ya. Beri dukungan dan sorakan aja supaya anak-anak tetap dapat menikmati permainan tersebut. Seperti yang terjadi pada Keenan dan teman-teman sekelasnya. Saking senangnya dan penasaran dengan permainan ini, satu putaran nggak cukup bagi mereka. Yang ada, anak-anak pada bergantian meminta giliran ulang bermain. Meski akhirnya ya tetap muter-muter ngejarin bola yang jatuh :))

    Running Race

    Nah, ini anak-anak pasti suka deh. Siapa yang bisa menolak lomba lari? Apalagi bocah-bocah kecil yang sedang aktif-aktifnya. Kegiatan ini bisa menyalurkan energi mereka dan kita cukup menyediakan kapur atau tali untuk menandai garis start dan finish.

    running race, outdoor activities, outdoor games for toddler, permainan seru untuk balita

    Namun, sebelum memulai, pastikan kita beri contoh dulu ya, ke mana mereka harus berlari dan aturan yang harus diikuti, seperti menunggu sampai hitungan ketiga baru berlari. Karena, kalau enggak, saking semangatnya anak-anak bisa langsung lari tanpa menunggu aba-aba dimulai. Dan selalu sambut mereka di garis finish dengan senyum lebar, pelukan hangat serta pujian atas usahanya tanpa memedulikan hasilnya. Bahkan ketika anak terjatuh sekalipun. Kita dapat menyemangatinya dengan berkata, “Wah, mama bangga lho, adek bisa bangun sendiri dan lari lagi setelah jatuh tadi.”

    Sekali lagi yang penting anak berani mencoba dan bersenang-senang. Menang kalah urusan ke-123!

    Ball Race

    Permainan ini juga cukup sederhana dan mudah bagi balita. Mereka hanya diminta untuk memindahkan bola-bola dari keranjang pada garis start ke keranjang pada garis finish. Pemenangnya adalah anak yang memiliki bola paling banyak dalam keranjang di garis akhir.

    Untuk aktivitas ini, kita hanya perlu menyiapkan banyak bola dalam satu ukuran. Boleh bola tenis atau bola plastik warna-warni serta keranjang plastik atau kardus-kardus bekas seperti yang digunakan ibu-ibu KB Seria saat perlombaan memperingati Hari Kemerdekaan RI tahun 2013 yang lalu pada foto di bawah ini.

     photo BALL_zpsad4i6wfb.jpg

    Kegiatan ini, selain mengajarkan anak untuk berkompetisi, juga melatih keseimbangan, konsentrasi, motorik kasar dan halus serta melatih mereka untuk berstrategi dan berhitung. Seru ya.

    Musical Chair

    Permainan ini populer sekali, dan hampir selalu ada di setiap pesta ulang tahun. Alat yang diperlukan hanyalah kursi sejumlah anak, musik dan playernya. Anak diminta untuk duduk di kursi mereka masing-masing, kemudian saat musik dimainkan, mereka harus berdiri. Saat itu, kita ambil dua atau tiga kursi sekaligus, lantas anak diberi instruksi untuk duduk ketika musik berhenti berputar. Mereka yang nggak kebagian kursi harus keluar dari arena bermain. Pemenangnya adalah anak yang bertahan di dalam arena sampai akhir.

    musical chair, permainan outdoor untuk balita

    Meski tampaknya mudah, ternyata saat dimainkan oleh anak usia pra sekolah, mereka cukup kebingungan dengan instruksinya, sehingga beberapa anak mungkin harus dipandu untuk duduk dan berdiri pada saat yang tepat. Juga kita sebagai orangtua atau guru harus mengantisipasi anak-anak yang menangis karena kecewa nggak kebagian tempat duduk.

    Aktivitas ini bagus untuk mengajarkan motorik kasar serta ketrampilan sosial pada anak seperti berbagi atau berempati kepada orang lain.

     Water Play

    Last but not least, permainan yang pasti dinantikan oleh anak-anak dan banyak versinya. Tapi kali ini saya mau kasih satu contoh saja yang dimainkan pada acara sports day di sekolah Keenan.

     photo 3_zpsyobir1r6.jpg

    Perlombaannya adalah memasukkan air ke dalam botol melalui corong dan kemudian dituang ke dalam ember terpisah pada garis finish. Pada aktivitas ini ada 3 tantangan sekaligus yang harus dipenuhi anak, yaitu: memasukkan air ke dalam botol melalui corong, berlari atau berjalan ke arah garis akhir sambil membawa botol berisi air dan menuang air dalam botol ke dalam ember. Ember yang isinya paling penuh adalah pemenangnya. Supaya irit ember, lomba ini bisa dilakukan berkelompok. Semakin menyenangkan pasti.

    Dan meski waktu sudah habis, anak-anak biasanya akan tetap melanjutkan bermain air. Jadi selain menyiapkan corong plastik, botol air mineral bekas pakai, gelas plastik, ember berisi air dan ember kosong, juga sediakan baju ganti dan handuk.

    Begitulah, acara sports day di sekolah Keenan berakhir dengan makan bersama makanan yang dibawa oleh para orangtua. Anak-anak senang, orangtua pun banyak belajar. Lain kali, kalau ada acara yang melibatkan keluarga besar atau family gathering kantor atau reunian bersama anak-anak, si pra sekolah ini bisa juga kita buatkan kegiatan seru agar tidak merasa diabaikan. Kira-kira, ada lagi ide aktivitas lainnya kah, Sahabat?