Browsing Category:

Daily Stories

  • mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai
    Daily Stories, Life in Brunei

    Cinta dan Children’s Enikki Festa

    Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

    Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

    Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

    Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

    Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

    Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

    Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

    The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

    This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

    The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

    source: enniki.mitsubishi.or.jp

    Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

    Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

    Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

    mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

    Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.

  • blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa
    Daily Stories, Parenting

    Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

    Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

    Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

    Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

    Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

    Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

    Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

    Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

    Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

    Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

    Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

    Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

    anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

    Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

    Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

    Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

    Beri Waktu Untuk Berduka

    Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

    Berhati-Hati Dalam Berbicara

    Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

    mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi

    tulisan dikutip dari parentsdotcom

    Memberikan Pelukan

    Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

    Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

    Dengan cara:

    • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
    • Bernafas dalam-dalam.
    • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
    • Positive self-talk.
    • Mendengarkan musik.
    • Membaca buku.
    • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
    • Mandi air hangat.
    • Nonton film lucu.

    Berikan Contoh Positif

    Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

    Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

    Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

  • Daily Stories

    Ceroboh (Nyaris) Berakibat Fatal

    Sebagai orangtua, kadang kita melakukan kecerobohan dalam mengasuh dan menjaga anak-anak. Nggak peduli sekuat apapun kita berusaha melakukan yang terbaik bagi mereka.

     photo D8E09D79-ECCD-4D0E-90C7-BA87F89852F9_zpskfnduypx.jpg

    Hari Minggu yang lalu, saya kembali melakukan kecerobohan yang bisa saja berakibat fatal bagi keselamatan anak. Berawal dari permintaan kakak Cinta untuk main di playground Petani Mall, Tutong. Saya dan suami yang memang malas saat anak-anak main di playground karena berarti harus mengikuti kemana pun Keenan pergi, mengiyakan permintaan tersebut dengan syarat kakak harus jaga adik.

    Kebetulan beberapa bulan sebelumnya kakak Cinta sanggup melakukan hal itu di playground yang lebih besar di Bandar. Dia bermain bersama Keenan sementara kami duduk mengawasi dari luar arena permainan. Sesekali saya masuk untuk menemani Keenan bermain supaya Cinta bisa main di tempat-tempat yang nggak terjangkau oleh Keenan. But overall she did a great job.

    Kali ini saya nggak ikut masuk ke dalam arena karena lapar sekali dan ingin makan di tempat duduk yang berbatasan langsung dengan pagar arena bermain. Saya juga nggak bisa minta tolong suami untuk mengawasi anak-anak di dalam arena karena diapun sudah lelah nyetir. Selain itu kalau tiba-tiba ada mbak-mbak yang terpesona lihat suami saya momong Keenan main lalu ngebisikin kalau dalam Islam poligami itu diperbolehkan kan bisa bikin emosi jiwa ya hehehe.

    Nah, dari tempat duduk itu kami bisa mengawasi bouncy castle, tempat main toddler serta pintu keluar masuk. Jadi saya pikir cukup aman membiarkan mereka bermain berdua, apalagi arenanya jauh lebih kecil daripada playground yang di Bandar.

    Lima belas menit pertama semua berjalan lancar. Kemudian Keenan terdengar menangis, dan setelah dicek suami hanya karena dia jatuh di arena mandi bola. Setelah itu kembali aman. Sampai tiba-tiba terdengar rengekan Keenan di suatu tempat.

    Suami pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan setelah kakak mengaku nggak tahu keberadaan Keenan, dia mencari di luar arena bermain yang memang jadi satu dengan area display mainan, stationary, kitchenwares dan benda elektronik. Ternyata Keenan sudah berjalan ke area stationary sendirian dalam keadaan sudah memakai sepatu di kaki kiri dan kesulitan memakai sepatunya di kaki kanan. Sementara salah satu SPG sudah bersiap menghadang Keenan di antara rak alat tulis dan eskalator.

    Alhamdulilah Keenan masih dilindungi. Hal yang terus saya syukuri adalah dia nggak berhasil memakai salah satu sepatunya sendiri yang membuatnya merengek kesal sehingga kami bisa tahu bahwa dia keluar dari arena bermain. Dan mbak SPG yang cepat tanggap.

    Jujur saya sempat kecewa karena Cinta tidak mengawasi adiknya sampai bisa keluar tanpa ada orang yang tahu. Padahal dari tempat keluar dan tempat penyimpanan sepatu memerlukan beberapa langkah. Belum lagi fakta bahwa Keenan sudah memakai sepatunya sendiri. Meski yang sebelah hanya masuk separuh, waktu yang dibutuhkan sampai Keenan mencapai lokasi tempat dia ditemukan untuk ukuran anak 2,5 tahun cukup lama.

    Berarti selama itu pula kami sebagai orangtuanya lalai. Tidak seharusnya tanggungjawab mengawasi anak diserahkan sepenuhnya kepada kakaknya yang baru berusia 8 tahun. Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa kakak sayang sekali sama adiknya, mengingat kesayangan pertama saya itu masih perlu diingatkan untuk menyiapkan buku pelajaran dan seragam sekolahnya setiap hari, rasanya tanggungjawab itu terlalu besar. Apalagi ketika ditanya alasannya tidak mengawasi adik, dia menjawab, “Because I want to play something else that he can’t do.”

    Wiiii langsung tertohok rasanya. Kakak masih di bawah umur. Hak dia adalah bermain dengan bebas. Benar memang kita harus mengajarkan anak peduli pada saudaranya dan saling menjaga sejak dini. Tapi dia masih 8 tahun. Keinginan untuk bermain tentu lebih besar dari rasa tanggungjawabnya. Apalagi di tempat yang nggak setiap hari bisa ia datangi.

    Jadi pada malam hari saat kami makan bersama, kami mengucapkan terima kasih karena kakak sudah bersedia menjaga adik di playground. Saya juga berpesan kalau lain waktu kakak sedang main berdua adik dan tiba-tiba ingin main sendiri tolong bilang mama atau papa, supaya ada yang mengawasi adik.

    Semoga kejadian ini jadi pelajaran buat kami. Banyak hal yang harus diperbaiki dan diubah. Terutama rasa malas. Jadi orangtua harus mau repot demi keamanan anak-anak. Setuju?

  • Daily Stories, Parenting

    THR untuk Anak. Yaiy or Nay?

    Libur Lebaran sudah usai ya. Banyak dari kita yang sudah kembali beraktivitas secara normal setelah menghabiskan akhir minggu berkunjung ke sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri. Saya sendiri tahun ini nggak mudik ke Indonesia dan merayakan Lebaran hanya di Brunei. Kalau biasanya hari Raya selalu berkumpul bersama keluarga besar, kali ini cukup berempat saja. Lumayan sepi hehehe.

    Nah, di tengah-tengah sunyinya berhari raya tanpa ada anak-anak tetangga yang datang ke rumah untuk minta angpau, saya baca ceritanya Uwi di Path tentang anak-anak di daerahnya yang sengaja bersilaturahmi ke rumah tetangga saat hari raya hanya untuk mendapatkan angpau atau Tunjangan Hari Raya (THR). Cerita tersebut membuat saya teringat pengalaman hunting THR jaman dahulu kala. Berhubung mau komen di status bakalan panjang sekali, akhirnya memutuskan untuk bikin blog post aja deh.

    Kebetulan di keluarga besar saya tradisi bagi-bagi THR ini bisa dibilang antara ada dan tiada. Dulu waktu masih kecil-kecil, usia SD gitu lah, biasanya almarhum Opa dari mama yang suka bagi-bagi THR ke cucu-cucunya. Itupun hanya saat semua cucunya kumpul semua yang nggak selalu terjadi tiap Lebaran.

    Sementara dari Bude, Pakde, Om dan Tante kadang dapat kadang enggak tapi waktu itu rasanya dapat THR bukanlah hal yang paling ditunggu meskipun tetap menyenangkan. Buat kami keistimewaan Lebaran adalah bisa berkumpul dan bermain bersama para sepupu sambil menyantap masakan khas Lebaran ala almarhumah Mami (nenek).

    Baru setelah merayakan Lebaran bersama papa, saya mengalami yang namanya hunting THR. Bersama anak-anak tetangga, kami berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bersilaturahim, makan kue dan mendapat salam tempel. Jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp 100 sampai Rp 5000. Rasanya senang sekali dalam sehari bisa dapat banyak uang meskipun pada akhirnya uang-uang tersebut habis tak berbekas untuk jajanan dan mainan-mainan kecil atau kadang entah menghilang kemana.

    Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya kok malu ya hahaha. Dulu niat banget sampai rumah yang jauh pun kami datangi, padahal kenal pun enggak. Tanpa dampingan orang tua lagi. Padahal mama selalu mengingatkan untuk nggak boleh minta-minta ke orang lain. Jangankan ke orang tak dikenal, minta dibelikan boneka ke nenek sendiri aja sampai dimarahin.

    Setelah punya anak dan ponakan, saya dan suami pun awalnya nggak membiasakan diri memberikan angpau untuk mereka. Mama, papa, mertua, adik-adik dan ipar pun lebih suka ngasih hadiah berupa barang seperti baju atau mainan. Namun 3 tahun belakangan ini setelah jumlah ponakan semakin banyak, adik-adik dan ipar pun mulai menyiapkan THR untuk ponakan-ponakannya. Akhirnya saya pun mengikuti jejak mereka. Tapi ini khusus untuk anggota keluarga karena kebetulan memang jarang sekali ada anak-anak tetangga yang datang berkunjung ke rumah untuk berlebaran. Kalaupun ada mama dan mertua sudah menyiapkan amplop khusus untuk mereka. Jadi ya saya nggak perlu nyiapin lagi hihihi.

    Cinta sih senang ya dapat THR, biasanya dia gunakan untuk membeli mainan yang sudah lama diidamkan atau main di FunWorld. Belakangan ini uangnya dia titipkan ke saya untuk ditabung. Dan sejak mengenal konsep berbagi dia nggak segan mengeluarkan uangnya untuk memberikan sumbangan pada anak-anak yang kurang mampu atau membelikan adiknya sesuatu.

    Buat saya pribadi tradisi memberikan THR kepada anak atau keponakan dan keluarga dekat adalah hal yang baik asal disertai pesan untuk menggunakan uang tersebut sebaik mungkin. Sedangkan untuk anak-anak, awalnya saya selalu berpesan untuk tidak meminta uang atau barang kepada orang lain, apalagi ke kakek neneknya. Mereka cuma boleh minta ke kami orang tuanya. Namun, namanya kakek nenek, tante, bude, om kan pengen juga ya menyenangkan cucu dan keponakannya, jadi saya ijinkan anak-anak untuk menerima tawaran mereka untuk membelikan sesuatu. Tentu dengan nominal yang nggak terlalu besar. Toh, saya juga masih senang kalau ditraktir mama atau papa makan atau belanja sesuatu hihihi.

    Momen pemberian THR ini bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan anak berbagi. Ajak mereka bersama-sama menghitung uang yang didapat lalu menyisihkan sebagian uang yang mereka terima untuk berbagi dengan sesama. Entah dengan menyerahkan langsung ke kerabat yang kurang beruntung dalam bentuk barang maupun uang maupun lewat kotak-kotak sumbangan yang banyak bertebaran di supermarket atau tempat makan. Ajak juga mereka untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau bank sambil dijelaskan manfaat menabung. Untuk anak-anak yang lebih besar, sarankan mereka menggunakan uangnya untuk membeli barang yang bermanfaat supaya nggak habis begitu saja. Beberapa anak pra remaja yang saya kenal baik bisa membeli smartphone atau tablet dari uang THRnya. Beberapa lagi membeli peralatan sekolah yang pasti bermanfaat terutama di tahun ini yang libur Lebaran bertepatan dengan awal tahun ajaran baru di Indonesia.

    Yang paling penting adalah mengajarkan kepada anak-anak bahwa Hari Raya tidak identik dengan angpau atau THR. Kalau ada yang memberi ucapkan terima kasih atas kebaikan mereka tapi kalau tidak diberi jangan sampai meminta apalagi sampai punya anggapan orang yang nggak ngasih THR itu pelit. Hari Raya adalah momen berkumpul bersama keluarga, mempererat ikatan persaudaraan, menyambung tali silaturahim. Bermain bersama sepupu yang belum tentu sebulan sekali bisa jumpa, bermanja-manja pada nenek dan kakek dan berbagi cerita dengan tante atau paman merupakan pengalaman yang tak ternilai harganya.

    Seperti yang disarankan oleh Asrorun Niam, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam sebuah artikel di detiknews,

    Lebaran harus jadi momentum yang baik untuk merekatkan hubungan harmoni dengan seluruh anggota keluarga, serta keluarga besarnya. Ini bisa menjadi jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan anak kontemporer, seperti kekerasan anak, penelantaran, kenakalan remaja yang seringkali pemicunya adalah tidak hadirnya lembaga keluarga dalam menjamin perlindungan terhadap anak-anaknya.

    Lebaran harus dimanfaatkan untuk memberi pengalaman spiritual bagi anak, yang menyenangkan dengan merekatkan tali silaturrahmi dengan handai taulan dan menjelaskan arti kekerabatan. Termasuk juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya merajut persaudaraan, etika relasi dengan yang lebih tua, menghormati yang lebh tua serta menyayangi yang lebih muda.

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []
  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Teguran

    Berdasarkan peraturan sekolah, anjuran seragam untuk siswi muslim adalah baju kurung. Sejak Cinta masih di KG 3 sudah dikasih tahu dan dia setuju untuk pakai seragam model baju kurung dengan syarat cuma mau bertudung saat matpel Ugama.

    Tapi pada praktiknya, banyak temannya sesama siswi muslim yang pakai seragam lengan dan rok pendek. Cinta yang dari awal beberapa kali mengeluh nggak nyaman berbaju kurung pun protes, “My friends A, B, C wear short skirt and short sleeves uniform. I know they are moslem but they don’t wear baju kurong. Why should I?”

    Hmmm… Mamanya nggak bisa ngasih argumen yang kuat, seperti baju panjang dan tudung itu wajib untuk muslimah. Lha wong sendirinya belum melakukan hal yang sama. Atau bahwa itu aturan sekolah yang wajib diikuti kalau banyak yang tidak patuh.

    Akhirnya diputuskan Cinta bisa pakai baju seragam biasa hanya di hari Sabtu saat nggak ada pelajaran Ugama. And she’s very happy.

     photo 005D51E5-47FF-411B-BB5B-6E343CEED894_zpsefy2x4n0.jpg

    Memang benar ya, monkey see monkey do. Eh, bukan berarti Cinta monyet. Maksudnya, anak belajar dari melihat dan menyontoh orang tua. Mau berbusa-busa nyuruh anak taat agama; pakai jilbab; rajin ngaji kalau ortunya sendiri masih banyak melanggar dan nggak melakukan hal yang dia bilang, ya nggak masuk akal.

    Mungkin ini teguran juga buatku untuk memperbaiki diri. Semoga bisa, sebelum terlambat. Aamiin..

  • Daily Stories

    MPASI Keenan

    Mulai tanggal 5 September 2013 kemarin, masa ASI Eksklusif Keenan berakhir sudah. Di usianya yang genap 6 bulan, Keenan mulai berkenalan dengan makanan pendamping ASI. Alhamdulillah, selama 10 hari ini semuanya masih lancar dalam arti Keenan semangat sekali mencoba makanan baru.

    Nggak cuma itu, si kakak Cinta juga ikut heboh nyemangatin adiknya makan. Bahkan sering ngingetin mamanya untuk menyiapkan bubur saat waktu makan Keenan tiba. Cinta juga suka ingin bantu nyuapin adik.

    3 hari pertama, menu mpasinya adalah bubur dari tepung beras merah Gasol. Sengaja pilih serealia karena menurut berbagai referensi termasuk bidan di klinik tempat biasa Keenan kontrol tumbuh kembang tiap bulan, beras sebagai makanan pokok kita paling jarang menimbulkan reaksi alergi. Karena perut Keenan agak sensitif berusaha untuk pilih makanan yang seaman mungkin. Beras merah juga mengandung zat besi yang dibutuhkan bayi. Kenapa Gasol? Ya biar praktis aja nggak perlu bikin tepung beras sendiri hehehe.

    Keenan lumayan doyan sih makan bubur beras merahnya. Di percobaan pertama dibuat seencer mungkin dan dari 2 sendok makan bubur dia bisa habis 3/4 porsi. Hari kedua dan ketiga tekstur bubur mulai dibuat lebih kental. Tetap lahap meski porsi makannya berkurang. Nggak apa-apa, namanya baru kenalan sama tekstur baru ya.

    Selama 3 hari ngasih mpasi nggak ada tanda-tanda alergi seperti diare, bentol-bentol, sesak nafas, sembelit, dll. Hari berikutnya coba tambah menu baru dan sayur yang dipilih adalah brokoli. Nah, si Keenan juga suka menu ini. Porsi makannya sudah lebih banyak, dari 3 sendok makan bubur beras merah + puree brokoli bisa habis 1/2 sampai 3/4 porsi. Juga nggak ada reaksi alergi. Semua oke sampai di hari kelima baca panduan di buku MPASI Perdana Cihuy! yang menyebutkan kalau pemberian brokoli sebaiknya di usia 8 bulan *tepokjidat*. Aaaak, kenapa bisa lupa sik!

    Di hari ke-7, mulai nyoba buah-buahan. Pir adalah pilihan pertama karena paling gampang didapat. Tinggal koprol ke supermarket bawah aja. Sayang Keenan nggak doyan. Mungkin karena teksturnya yang lebih kasar meski sudah dibuat agak encer. Malamnya abis mandiin Keenan, tiba-tiba lihat bintik-bintik merah di pipinya dan berasumsi itu muncul setelah makan pir sore sebelumnya. Akhirnya diputuskan untuk putus hubungan sama pir sampai bulan depan. Dan benar aja, setelah nggak makan pir, bintik-bintik merahnya hilang.

    Makan brokoli salah, pir alergi. Balik lagi ke karbohidrat aja deh. Kali ini nyoba oatmeal. Pakai quaker oat yang quick cooking, disaring dan diencerkan sedikit. Keenan suka banget. Paling lahap deh makannya pakai menu ini. Tapi lantas perutnya kembung. Curiga antara nggak cocok sama tekstur oatmeal yang masih terlalu kental atau karena saya kebanyakan makan KitKat Bites di hari yang sama. Kasian banget jadi nggak nyenyak tidurnya semalaman.

    http://youtu.be/fyWN0LvubjY

    Hari ini coba lagi makan oatmeal tapi lebih encer dari kemarin. Saya juga berhenti makan coklat. Alhamdulillah makan tetap semangat dan kembungnya berkurang. Di hari ke-10 ini juga Keenan mulai mau minum air putih lebih dari 3 sendok bayi. Dia pun mulai makan 2 kali sehari.

    Terima kasih sudah mau sama-sama belajar makan, Keenan. Semoga tetap semangat mencoba menu-menu baru selanjutnya!

  • Daily Stories, Life in Brunei

    Gundul Gundul Pacul

    Sejak kecil (ya, sekarang masih kecil juga sih menurut emaknya) Cinta itu nggak suka banget lihat papanya dicukur gundul. Sementara suami sukanya cukur gundul meski nggak sampai plontos. Gara-gara perbedaan selera ini Cinta pernah nggak mau deket-deket si papa karena nekat cukur gundul, padahal waktu itu masih jarang ketemu akibat long distance marriage. Sejak itu tiap mau potong rambut suami selalu minta ijin anak gadisnya supaya dibolehin cukur cepak. Untungnya, beranjak besar Cinta sudah mulai cuek sama rambut papanya jadi nggak terlalu cerewet lagi ngelarang si papa gundul.

    Nah, menjelang Keenan 2 bulan kami mulai kasak kusuk berencana memotong rambutnya. Awalnya mama mertua nyaranin untuk potong di tukang cukur aja bareng sama suami yang langsung ditolak karena dia pengen nyukur sendiri rambut anak-anaknya. Rupanya suami belum kapok dengan pengalaman mencukur rambut Cinta dengan gunting dan cukuran kumis hampir 5,5 tahun lalu yang makan waktu 1 jam. Asli yang nggendong dan nyusuin sampai pegel karena nggak selesai-selesai.

    Belajar dari situ dan cerita papa mertua tentang ponakan yang digundul bapaknya pakai alat cukur elektrik, kami pun hunting alat pencukur rambut dan menemukan benda ini di Soon Lee Megamart, Kuala Belait seharga B$ 39. A bit pricey sih menurut saya tapi dengan pertimbangan bisa buat potong rambut Keenan selanjutnya akhirnya dibeli juga Pritech Hair Trimmer Child-Spesific itu.

    Pas tanggal 5 Mei kemarin, di usia Keenan yang tepat dua bulan, tanpa diawali prosesi apapun -nggak kaya Cinta yang acara potong rambutnya dibarengkan sama akikahnya-, dengan anak bayi digendong yangtinya yang nggak berhenti mengucap basmallah dan tasbih, suami mencukur rambut anak lanang kesayangannya. Alhamdulillah, lancar banget prosesnya dan selesai hanya dalam waktu 15 menit. Lebih cepat dari durasi mandinya Cinta pagi itu, sehingga dia nggak sempat lihat adeknya dicukur.

    Kata suami, alat cukurnya enak banget, mudah dibersihkan dan aman. Kebetulan selama dicukur Keenan cuma gerak sedikit jadi nggak ada yang luka. Hasil cukurannya juga rapi. Puas deh sama si Pritech ini.

    Rambut yang dicukur, setelah dikira-kira beratnya untuk mengeluarkan sedekah seharga emas sesuai berat rambut, dititipkan ke mertua untuk ditanam di halaman depan rumah mereka seperti rambut cucu laki-lakinya yang lain. Sedangkan rambut Cinta dulu karena anak perempuan ditanam di halaman belakang. Nggak tahu juga sih alasan perbedaan depan belakang ini, kepercayaan orang Jawa aja katanya.

    Selamat ulang bulan ke-2, Keenan Aditya. Sehat terus, makin kuat, cepat besar dan tambah pintar.

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Adaptasi di Sekolah Baru

    Hari Sabtu kemarin, saya dan pak suami menghadiri acara Parents’ Day di sekolahnya Cinta. Yah, semacam pembagian report card tengah semester gitu lah. Aneh juga sih, bagi-bagi raportnya justru setelah liburan sekolah bukan sebelumnya seperti yang biasa di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir agenda ujian dan libur sekolah kan sudah ditetapkan sama pemerintah dalam kalender nasional Brunei, di mana semua sekolah ya masa ujian dan liburnya barengan, nah padahal belum tentu sekolah itu sudah selesai bikin laporan hasil kegiatan belajar mengajar muridnya. Jadi akhirnya gitu deh, libur dulu baru terima raport sotoy.

    Jujur aja saya agak deg-degan akan penilaian gurunya terhadap Cinta, secara bulan pertama dan kedua kami (Cinta, kami orangtuanya dan gurunya) mengalami masa-masa penyesuaian yang cukup berat.

    Yah nggak heran, banyak sekali hal baru yang harus dihadapi Cinta saat itu. Dari gaya mengajar guru yang jauh berbeda dengan guru-guru sekolah lamanya di Indonesia yang lembut penuh kasih dan telaten. Guru di sini lebih tegas, disiplin dan nggak jarang menggunakan nada tinggi saat menegur anak-anak. Sampai harus belajar berkomunikasi dengan bahasa Melayu, Cina dan Inggris.

    Saking beratnya proses adaptasi itu, Cinta pun berontak. Mulai dari susah bangun pagi, gampang marah dan bersikap agresif di kelas dan di rumah, nilai spelling test yang dapat 20 sampai tantrum setiap mau berangkat sekolah.

    Sampai suatu pagi ketika tantrum di mobil, saya diamkan sambil terus nyetir. Setelah tangisnya reda kami mampir ke toko roti langganan untuk beli bekal dan sambil menunggu dia makan, saya ajak dia ngobrol di mobil.

    Saya bilang, “Kak, Mama tahu kakak lebih suka di rumah karena bisa nonton tivi dan main iPad seharian kan?” yang disambut dengan anggukan dan mulut penuh roti. “Iya, Mama juga suka di rumah main sama Cinta. Tapi, kakak tahu kan kalau kakak ini anak pintar? Mama tahu. Kakak suka belajar, ya kan? Belajar tentang serangga, tubuh manusia, belajar berhitung, menggambar, bikin prakarya. Nah, Mama merasa nggak bisa ngajarin Cinta sendirian. Jadi mama butuh bantuan guru-guru di sekolah yang lebih ngerti untuk anak seumur  Cinta ini sebaiknya belajar apa, supaya kepintarannya kakak bisa berkembang. Mungkin berat ya buat kakak belajar di sekolah, sampai kakak selalu marah-marah. Mama tahu Cinta capek. Tapi kan ada Mama sama Papa yang selalu bantu Cinta kalau ada yang susah. Don’t worry.

    Nggak tahu deh waktu itu Cinta mengerti atau tidak, atau menurut para ahli ilmu parenting itu benar atau tidak tapi jujur aja waktu itu saya sudah nyaris putus asa karena setiap hari menghadapi tantrumnya Cinta. Dan itulah satu-satunya cara yang terpikir. Tak disangka, jawaban Cinta saat itu, “I’m a smart girl ya Ma? Smart girl goes to school , ya? Oke, now let’s go to school.” adalah titik balik dari “pemberontakan”nya.

    Tentu nggak lantas semuanya jadi mudah. Sempat beberapa kali saya konsultasi online ke beberapa psikolog anak termasuk pak Toge Apriliyanto dan mbak Anna Surti Nina via twitter seperti yang saya tulis di sini. Terpikir juga untuk pindah sekolah yang bukan chinese school dengan harapan lebih sesuai dengan kepribadian Cinta. Tapi setelah diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk bersabar dulu, saling mendukung dan membantu Cinta melalui proses adaptasinya di Chung Ching Kindergarten.

    Toh, di Brunei pindah sekolah bukan hal yang mudah karena selain sekolah lain jaraknya bisa 30 km dari rumah (yang sekarang aja sudah 20 km) juga harus mengurus student pass di imigrasi yang membutuhkan proses yang lama.

    Akhirnya kami pun berusaha membuat berangkat sekolah menjadi hal yang menyenangkan, seperti memutar lagu-lagunya Sherina saat bangun pagi, mampir di pantai dekat kantor suami tiap pagi sekadar untuk melihat ombak, bunga, rumput dan menghirup udara segar. Atau ke toko-toko yang berbeda tiap pagi untuk  membeli snack atau roti. Kami juga belajar lebih sabar dan memahami kondisi Cinta karena memang cuma itu kuncinya, sabar.

    Lama-lama tantrum pun berkurang, Cinta sudah lebih ceria di sekolah. Bu Guru yang tadinya curhat kalau Cinta (meski bisa tapi) nggak mau mengikuti instruksinya di kelas bilang kalau sekarang sudah jauh membaik. Sudah mampu dan mau bermain sama teman-teman, bahkan tiap pagi datang ke kelas selalu dikerubutin teman-temannya untuk diajak main. “But sometime she’s too playful, so time after time I had to separate her from Avvani or they will disturb the other kids,” said teacher. Cinta juga dipercaya jadi anggota group dance kelasnya untuk acara ultah sekolah Oktober/November nanti, “She’s good at singing, dancing and following the rythim.” kata gurunya di pembagian raport kemarin. Duh, terharu sekali dengernya.

    Sekarang Cinta jadi lebih bersemangat belajar, meski belum bisa membaca tapi keinginannya untuk bisa membaca dan menulis besar sekali. Begitu pula berhitung, semua-mua maunya dihitung. Aaah, alhamdulillaah senang sekali rasanya. Akhirnya kerja keras kami mulai ada hasilnya. Cinta pun memberi kami bonus dengan meraih peringkat ketiga di kelasnya saat pembagian raport kemarin. Semua berkat pertolongan Allaah melalui usaha keras Cinta, kesabaran Teacher Yee membantu Cinta menyesuaikan diri di kelas dan tentu saja ketelatenan pak suami untuk  belajar bahasa Cina bersama Cinta.

    Oya, ada satu hal yang saya suka dari buku raport Cinta. Di halaman belakangnya ada reminder  dari pihak sekolah yang berbunyi seperti ini:

    This report shows the performance of your child in the activities at Chung Ching kindergarten. Evaluation and grading are done carefully, but in some way it mau not be fully valid or accurate. Parents shall not reprimand or punish the children based on the results given in this report as it may affect his/her interest and performance at school.

    Each child is different and special. Your child has his/her own strenghts and weakness and therefore is incomparable with other children. During the Kindergarten years, your child undergoes rapid changes and development. Appreciate and praise your child if his/her skills are appropriate and in place; on the other hand assist and support your child if he/she is manifesting delayed skills. Giving too much pressure to your child to perform according to your high expectation may be sometimes counterproductive and retard his/her development.

    Selamat hari Senin, bagaimana raport anak-anak kemarin? Sudah mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha keras mereka di sekolah kan?