Browsing Category:

Daily Stories

  • Pemadam Kebakaran, Field Trip, BSP Fire Station, Panaga Brunei
    Daily Stories, Kids Activities, Life in Brunei

    Keenan’s Field Trip To BSP Fire Station

    Tanggal 22 November 2017 yang lalu, Keenan dan teman-temannya dari KG 2 CCMS diajak jalan-jalan atau istilah bulenya Field Trip ke Brunei Shell Petroleum Co Sdn Bhd (BSP) Fire Brigade. Murid-murid dari 4 kelas KG dibagi 2 sesi, jam 8 dan jam 10. Kebetulan Keenan dapat yang sesi siang. Acara ini dilakukan setelah ujian akhir tahun 2017, sebagai reward atas kerja keras anak-anak belajar dalam satu tahun tersebut.

    Pada hari H, saya, Keenan dan kakak Cinta mendatangi BSP Fire Station yang terletak di Jalan Tengah, Panaga. Sempat bingung di mana bisa parkir mobil, karena lokasinya yang persis terletak di jalan besar dan nggak nampak ada mobil parkir di pelataran depannya. Setelah mengikuti mobil lain, baru tahu kalau ada gedung-gedung kecil dan tempat parkir di belakang bomba (sebutan fire station dalam bahasa Melayu). Keenan pun antusias sekali kepingin segera masuk ke dalam area bomba dan bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, panaga brunei, field trip

    Duduk manis mendengarkan safety briefing dari officer BSP Fire and Emergency Response

    Sesampainya di dalam, anak-anak masih harus menunggu beberapa saat sebelum sesi siang dimulai. Kakak Cinta yang sudah pernah mengikuti acara serupa di stasiun pemadam kebakaran Seria pun mulai merasa bosan karena nggak ada temannya. Untuk mengusir kebosanannya, kakak pun ikut duduk di samping Keenan dan teman-temannya serta mengikuti berbagai aktivitas yang diberikan oleh para petugas dan officer BSP Fire Station.

    Aktivitas dimulai dengan membagi murid-murid sesi siang ini ke dalam dua kelompok. Kelompoknya Keenan diajak untuk melihat aneka peralatan yang dipakai oleh para pemadam kebakaran, mulai dari baju sampai aneka selang. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mengenakan seragam pemadam kebakaran. Lucu deh, ada yang semangat seperti Keenan, ada yang mau coba lebih dari sekali, ada juga yang nggak mau.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, field trip

    Aneka perlengkapan yang digunakan oleh pemadam kebakaran

    Setelah itu, anak-anak diajak melihat truk pemadam kebakaran dan ambulance. Ternyata banyak sekali panel dan perlengkapan di fire truck ya. Saking banyaknya sampai saya nggak bisa mengikuti satu persatu penjelasan petugas tentang fungsi panel-panel tersebut. Fix lah jadi pemadam kebakaran itu selain perlu fisik yang kuat juga perlu keahlian khusus.

    fire truck, bsp fire station, panaga brunei, field trip, pemadam kebakaran

    Bagian dari BSP Fire Truck

    Anak-anak juga diajak duduk di dalam ambulance sambil melihat isi di dalamnya. Jadi ingat pengalaman naik ambulance waktu lagi hamil besar Keenan bareng kakak Cinta hihihi. Setelah itu, kedua kelompok anak, guru dan orangtua dikumpulkan di pelataran belakang untuk melihat demonstrasi truk pemadam kebakaran mengeluarkan air dari selangnya.

    BSP Fire Truck, mobil pemadam kebakaran, pemadam kebakaran, fire station, Panaga Brunei, field trip

    Demo truk pemadam kebakaran

    Acara berakhir pada pukul 11 dengan pembagian snack dan minum sambil mendengarkan sedikit cerita dari officer BSP Fire Station. Terima kasih CCMS dan BSP Fire Station. We had fun. Dan terima kasih untuk Borneo Bulletin yang sudah meliput acara kunjungan ke BSP Fire Station, kami jadi punya kenang-kenangan nih. Yaiy.

    field trip, ide studi wisata, studi wisata anak TK, Panaga Fire Station, Seria, brunei

    Studi wisata ke Panaga Fire Station diliput oleh Borneo Bulletin

    Keseruan Field Trip ke Panaga Fire Station dalam video:

  • Daily Stories, Life in Brunei, Life with My Kids

    Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

    Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

    Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

    Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

    Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

    Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

    Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

    Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

    Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

    Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

    Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

    Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

    Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

    Photo Credit: CCMS Primary Seria

    Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

    Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

    Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

    Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

    Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

    Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

    Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

    Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

    Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

    Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

    Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

     

  • Daily Stories, Life in Brunei, Uncategorized

    Teacher’s Day

    Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

    Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

    Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

    Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

    Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

    Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

    Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

    Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

    Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

    Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

    Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

    Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.

  • Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria
    Daily Stories, Life in Brunei, Traveling

    Jumat Pagi di Sudut Seria Bersama Keenan

    Nggak seperti Indonesia yang sekolah libur di hari Sabtu dan Minggu, di Brunei sekolah kerajaan dan swasta lokal libur di hari Jumat dan Minggu. Namun, hari Jumat kemarin kakak Cinta harus latihan di sekolah untuk acara Sports Day 2 minggu lagi. Jadi kalau biasanya kami bermalas-malasan di Jumat pagi kali ini harus bersiap-siap untuk mengantar kakak sekolah. Tapi tetap aja sih kebiasaan bangun agak siang di hari Jumat nggak bisa hilang, sehingga Keenan nggak sempat sarapan di rumah. Akhirnya setelah mengantar kakak ke sekolah dia minta diajak sarapan di dekat sekolah kakak.

    Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria

    Foto ini diambil pada Jumat siang ketika semua aktivitas perekonomian di Seria berhenti setiap pukul 12 – 2 siang supaya orang Muslim bisa melakukan ibadah sholat Jumat.

    Sekolah kakak dan rumah kami terletak di mukim Seria, sekitar 80 km dari Bandar Seri Begawan. Seria adalah kota kecil yang menjadi pusat eksplorasi minyak dan gas bumi, sumber kekayaan negerinya Sultan Hassanal Bolkiah. Dari rumah ke sekolah kakak dan Keenan berjarak 8 km yang biasanya kalau nggak macet bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Nggak banyak yang bisa dilihat dari Seria ini, pusat kotanya terletak di area yang bisa dikelilingi selama 15 menit dengan berjalan kaki. Mulai dari aneka tempat makan, bank, hotel, terminal bus, toko buku, deretan penjahit, kedai gunting rambut dan toko baju ada di sini. Meskipun nggak besar dan berkesan kota tua, aneka makanan enak ada di lokasi itu. Sebut saja resto sushi halal Kaizen Sushi favorit yang selalu penuh di jam makan siang dan malam dan Gohan Sushi yang nggak kalah enaknya. Restoran fast food modern seperti Jollibee, KFC, Burger King dan SugarBun bersebelahan dengan kedai-kedai masakan khas India dan Brunei yang sudah buka selama beberapa generasi. Nggak terlalu jauh dari area ini ada kantor polisi yang berseberangan dengan kantor pos.

    Bingung juga awalnya mau makan apa karena jam segitu tempat makan yang menyediakan menu fast food favoritnya belum ada yang buka. Tadinya berencana ajak dia makan roti telur a la kedai India aja, kebetulan Keenan memang suka sama roti-rotian semacam itu. Tapi dipikir-pikir kok nggak kenyang ya dan saya lagi malas mencium aroma kari-karian hihihi. Setelah muter-muter di area Plaza Seria yang kebetulan dekat sekali sama sekolah kakak, akhirnya memutuskan untuk makan di My Booney Cafe aja.  

    My Booney Cafe, Seria, Brunei Darussalam, halal food

    My Booney Cafe & Restaurant di Seria

    Seperti biasa, tiap makan di My Booney, Keenan selalu order dimsum siomay. Sayangnya pagi itu, siomay kesukaannya sudah habis. Setelah melihat aneka dimsum yang disajikan di meja, akhirnya dia milih siomay udang. Trus saya tawarin kolomee. Eh, dia mau.

    Kolomee, Kolomee Seria, Seria, Brunei local food, Brunei halal food, Brunei Darussalam, kolomee wonton

    Wonton Kolomee. Edisi sarapan porsinya lebih kecil.

    Kolomee itu kalau di Indonesia mungkin sejenis mie ayam, tapi di sini isinya kita bisa pilih mulai dari daging/ayam cincang, wonton rebus, roasted chicken dan masih banyak lagi. Rasanya juga agak beda sih, namun buat saya kolomee di My Booney Seria ini yang paling cocok di lidah saya dari beberapa kolomee yang pernah saya coba di Brunei ini karena bumbunya berasa banget sampai ke mienya dan rasanya cenderung gurih asin. Meskipun kadang terlalu medok dan kalau makan porsi gede agak eneq. Untungya di kafe ini kalau mulai dari jam 6 sampai 11 pagi ada menu sarapan yang porsi kolomeenya lumayan kecil. Jadi nggak khawatir nggak habis deh. Sementara saya yang tadinya nggak mau order karena udah ada siomay udang akhirnya tergoda untuk memesan set roti dan telur setengah matang plus teh hangat. Duh, apa kabar #menujulangsing2017?

    Setelah makan, Keenan tiba-tiba ngajak ngasih makan burung. Di dekat My Booney ada terminal bus yang nggak terlalu besar dan di salah satu sudutnya suka banyak burung ngumpul. Nah, kadang orang-orang iseng kasih makan burung di situ. Karena masih pagi, meskipun sudah lumayan panas, saya iyakan saja permintaan Keenan. 

    bus station, Seria, Brunei Darussalam

    Terminal Bus dan Tempat Parkir Taxi, Seria, Brunei Darussalam

    Sebelumnya kami nyeberang dulu dari My Booney ke deretan kedai runcit di depan terminal bus untuk beli makanan burung. Hampir semua kedai runcit di situ jual makanan burung, jadi nggak susah milihnya. Dengan uang B$ 1, kami sudah bisa dapat 1 kg jagung kering. 

    Seria, Brunei Darussalam

    Deretan kedai runcit (toko kelontong) di Seria

    Anak 4 tahun yang merasa sudah besar dan mandiri itu, langsung berinisiatif membawa sendiri tas plastik berisi jagung itu. Baru saja mau nyebrang ke terminal, eh tasnya jatuh di jalan. Jadilah jagung berhamburan di jalan raya dan langsung dikerubuti burung, sementara Keenan mau nangis ngeliat bawaannya jatuh :)) Akhirnya kami kembali lagi ke kedai dan membeli 1 kantong jagung lagi demi niat memberi makan burung terlaksana.

    Sampai di terminal, Keenan seneng banget bisa melempar-lempar jagung ke kawanan burung sambil sesekali berlari berusaha menangkap burung. Hihihi, kebahagiaan anak kecil itu sederhana ya. Alhamdulillah di sudut terminal bus yang itu nggak banyak mobil lewat, ada beberapa yang datang dan pergi untuk parkir namun masih aman untuk anak-anak ngasih makan burung di situ.

    Simply happiness

    Cukup lama juga kita nongkrong di situ, nggak peduli diliatin orang lewat. Bahkan ada sepasang kakek nenek yang sampai senyum-senyum ngeliatin si Keenan. Begitu jagungnya habis, eh malah minta beli jagung lagi. Karena sayanya sudah kepanasan saya tawarin beli permen lollipop aja untuk dimakan di rumah. Untungnya dia setuju. Tapi begitu sampai di kedai langsung minta es krim. “It’s very hot, Mom. I want to eat ice cream,” katanya. Ya sudahlah, kami beli es krim trus nyebrang lagi ke Kompleks Sri Selera Seria untuk numpang duduk makan es krim.

    Seria, food court, Seria food court, halal food in Brunei, non halal food in Brunei, Brunei Darussalam, Seria local food, Brunei local food

    Food court di Seria dengan sisi sebelah kanan untuk aneka gerai makanan halal dan sisi sebelah kiri untuk gerai makanan non halal

    Kompleks Sri Selera Seria ini semacam food court. Cukup besar tempatnya dengan dua sisi berseberangan yang menyediakan makanan halal dan non halal. Pagi ini sisi makanan non halal lebih ramai daripada sisi makanan halal. Keadaan biasanya berbalik di waktu makan siang dan malam. Di sisi makanan halal, menu yang tersedia beragam, mulai dari sate, pecel, aneka gorengan, bakso, sayur-sayuran sampai sup tulang, salah satu menu khas Brunei. Kadang kalau lagi kangen masakan Indonesia sederhana atau gorengan tapi terlalu malas bikin sendiri saya suka beli di sini meski rasanya ya sudah disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Misalnya soto rasa sup atau bebek goreng yang ukuran bebeknya gede banget.

    Sementara untuk sisi makanan non halal saya nggak tahu isinya apa aja, nggak pede juga mau nengok-nengok ke sana karena di setiap sisi dindingnya ada papan kecil merah bertuliskan, “Bukan Tempat Makan Orang Muslim.” Kalau pakai kerudung kaya saya melipir ke sebelah sana pasti diliatin deh hihihi. Pokoknya mah, nggak usah khawatir cari makan di Brunei. Gerai dan rumah makan yang menyajikan masakan non halal pasti akan memasang papan kecil tersebut di dekat pintu masuk atau minimal di tempat yang mudah terlihat. Kalau nggak ada tandanya, insyaAllah masakannya halal.

    Salah satu sudut Seria yang menunjukkan deretan kedai runcit dan tampak belakang Plaza Seria diambil dari depan Komplek Sri Selera Seria

    Kencan di Jumat pagi bersama Keenan di Seria berakhir setelah es krimnya habis. Perutnya yang kenyang dan hatinya yang riang karena sempat bermain di luar memudahkan saya untuk mengajaknya pulang sambil berjanji lain waktu akan membawanya memberi makan burung lagi dengan anggota keluarga yang lebih lengkap.

  • mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival
    Daily Stories, Life in Brunei

    Mooncake Festival di CCMS

    Karena Cinta bersekolah di sekolah Cina, otomatis kita belajar mengenali budaya-budayanya. Minimal tradisi dan perayaan hari-hari istimewa yang dirayakan di sekolah. Salah satunya adalah mooncake festival yang diadakan di hari ke-15 bulan ke-8 menurut kalender Cina, yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016. Oya, penanggalan Cina ini mengikuti sistem peredaran bulan lho, sama seperti kalender Hijriyah.

    Kenapa perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Mid Autumn Festival jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8? Menurut beberapa sumber bulan ke-8 kalender Cina adalah bulan kedua musim gugur dan karena 1 musim terdiri dari 3 bulan, maka tanggal 15 bulan 8 tepat berada di pertengahan musim gugur. Pada tanggal ini juga biasanya bulan sudah penuh dan terang. Bahkan dipercaya sebagai bulan purnama yang paling terang dalam 1 tahun. Sehingga kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk kumpul keluarga, makan bersama dan menikmati keindahan bulan serta kelezatan mooncake, kue tradisional masyarakat Cina. Pada saat yang sama, biasanya para petani juga mulai memasuki masa panen, sehingga festival ini juga bermaksud sebagai perayaan panen sekaligus mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan.

    Selain mooncake, perayaan mid autumn identik pula dengan lampion. Pada jaman dulu, lampion digunakan oleh para perantau untuk menerangi jalan mereka yang mereka lalui saat mudik ke kampung halaman di pertengahan musim gugur ini. Konon lampion dipercaya untuk mengusir roh halus dan mencegah datangnya hal-hal buruk pada malam festival berlangsung. Sekarang, meski jalanan di mana-mana sudah terang dan orang-orang nggak perlu lagi jalan kaki untuk pulang ke kampung, tradisi lampion tetap dilestarikan. Bahkan semakin seru dengan aneka model lampion yang cantik. Waktu Cinta masih ikindergarten dulu malah ada lomba bikin lampion lho, terus diterbangkan ramai-ramai di malam perayaan festival bulan ini.

    mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

    Tapi, tahun ini sekolahnya Cinta memutuskan untuk mengadakan perayaan yang lebih sederhana dan diadakan di pagi hari sekolah. Tepatnya hari Sabtu, 24 September yang lalu. Iya, di Brunei anak sekolah (kecuali sekolah internasional) dan pegawai kerajaan (civil servant) masuk di hari Sabtu dan libur di hari Jumat serta Minggu. Kebetulan juga, waktu itu mertua dan kakak ipar sedang berkunjung ke sini, jadi deh kami ajak untuk menikmati mooncake celebration festival sekaligus lihat-lihat sekolahnya Cinta.

    Meskipun sederhana dan hanya berlangsung selama 1 jam, acara perayaan musim gugur yang diadakan di sekolahnya Cinta cukup seru dan menyenangkan. Tepat jam 7.30, murid-murid dan guru-guru sudah duduk manis di lapangan sekolah, sementara orangtua yang datang berdiri di selasar depan kelas. Acara dibuka dengan sambutan dan cerita tentang mooncake festival yang (sayangnya) disampaikan dalam bahasa Cina (sehingga saya nggak ngerti sama sekali, hiks). Dilanjutkan dengan pertunjukan Chinese Drama yang juga berbahasa Cina (yaeyalaah, masa berbahasa Korea). Pada sesi ini, penampilan salah satu siswa lower primary mencuri perhatian penonton karena totalitas dan semangatnya memerankan seorang murid dari sebuah perguruan jaman dulu.

    Sembari menunggu pertunjukan selanjutnya, beberapa guru memberikan teka-teki tentang lampion yang memang menjadi salah satu simbol mid autumn festival. Yang kemudian diteruskan oleh pembacaan puisi oleh murid-murid. Tak lama, Wushu, yang menjadi atraksi favorit saya di pagi itu tampil. Melihat kelincahan anak-anak dari berbagai kelas memperagakan bela diri khas Cina, bikin saya ingin si kakak ikut Wushu untuk kegiatan ekstrakurikulernya tahun depan. Tapi waktu anaknya ditanya dia jawab mau ikut cooking club dan scout aja. Padahal kan penting ya anak perempuan bisa bela diri hihihi. Tetep deh emaknya usaha. 

    Istirahat sejenak, beberapa guru kembali mengadakan kuis untuk para siswa dan kali ini Cinta serta teman-temannya dari kelas bahasa Cina C & D ikut maju. Di sekolah Cinta, kelas bahasa Cina dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan kefasihan murid berbahasa Cina. Sayang sih, belum beruntung dapat hadiah, wong anaknya juga bingung sendiri nggak ngerti pertanyaannya hehehe.

    Setelah itu pertunjukan diabolo atau yoyo tradisional Cina menghibur kami semua. Kagum deh melihat ketrampilan anak-anak ini main yoyo karena menurut saya itu nggak gampang ya. Saya yakin mereka pasti latihan dengan giat sampai bisa menampilkan pertunjukan keren seperti yang ada dalam video di atas.

    Acara hari itu ditutup dengan vocal group dan kemudian anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk belajar dan orangtua pulang ke rumah. Begitu saja, sederhana, ringkas tapi mengesankan. Hanya saja mungkin tahun depan saya harus berdiri dekat dengan teman saya yang bisa berbahasa Cina supaya paham apa saja yang ditampilkan.

    Oya, pernah makan mooncake, teman? Rasa apa favoritmu?

  • speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini
    Daily Stories, Life with My Kids

    Keenan, Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

    2 minggu yang lalu menjelang libur Idul Adha, rumah kami kedatangan petugas sensus. Seperti biasa si petugas bertanya tentang siapa saja yang tinggal di rumah dan data-data pribadi lain. Yang nggak biasa adalah petugasnya masih muda, taksiran saya usia anak-anak baru lulus SMA gitu deh, cewek lagi. Dan seperti biasanya lagi saya yang bertugas menjawab pertanyaan mbak-mbak sensus ini.

    Nah, waktu si mbak mendata umur dan sekolah anak-anak, dia sempat tertegun waktu saya menyebut usia dan sekolah Keenan, lalu bertanya, “3 tahun sudah sekolah?” yang cuma saya jawab dengan senyuman.

    speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

    Sebenarnya nggak cuma sekali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu. Rupanya menurut beberapa orang usia Keenan masih terlalu muda untuk sekolah, apalagi ketika ia memulai hari pertamanya di tahun ajaran 2016 ini, usianya masih 2 tahun 9 bulan. Nggak sedikit juga ahli parenting yang tidak setuju dengan ada anak masuk sekolah di usia dini seperti Keenan.

    “Umur segitu anak lebih baik di rumah belajar dengan ibunya.” 

    “Anak balita belum perlu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.”

    “Jangan paksa anak untuk belajar di usia terlalu dini, nanti dia bisa stres dan mogok sekolah di tahun-tahun berikutnya.”

    Dan masih banyak lagi deretan komentar kontra pendidikan di usia dini baik dari sesama orangtua maupun dari pakar-pakar parenting.

    Saya pun tadinya ragu, antara tega dan nggak tega melepas Keenan sekolah karena menurut saya anak ini masih bayi banget hahaha. Beda gitu deh sama kakaknya yang sudah nampak lebih matang di usia sama seperti Keenan sehingga waktu itu saya mantap-mantap aja masukin Cinta ke baby school di usia 1,5 tahun.

    Tapi, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembangnya Keenan sejak ia lahir, kami pun sepakat untuk mendaftarkan Keenan ke sekolah sebagai pengganti terapi okupasi yang harusnya ia jalani. 

    Keenan dan Speech Delay

    Kenapa Keenan perlu terapi okupasi? Jadi gini ceritanya… 

    Sejak lahir, seperti anak-anak lain yang lahir di Brunei, Keenan diperiksa tumbuh kembangnya secara berkala oleh bidan di Pusat Kesihatan tempat saya periksa kehamilan dulu serta oleh dokter anak di RS Suri Seri Begawan tempat saya melahirkan. Alhamdulillah sejauh ini imunisasinya lengkap dan kesehatannya baik-baik saja meski berat badan yang selalu berada di bawah persentil 25. Tapi bidan dan dokter anak nggak pernah mempermasalahkan berat badannya, paling cuma disuruh nambah variasi makan, minum susu, mengurangi asupan gula dan sebagainya. Pokoknya pola makan gizi seimbang lah.

    Tapi, setelah Keenan berusia 1,5 tahun, saya mulai curiga karena untuk anak seusianya, bicaranya Keenan jauh tertinggal. Keenan baru bisa mengucapkan satu kata dan walaupun cerewet bahasanya masih bahasa planet. Sementara menurut milestone seusia Keenan harusnya menggabungkan 2 kata sederhana dan mulai membeo. Selain itu Keenan juga sepertinya belum memahami ucapan saya, papanya atau kakak. Sayang, keterlambatan ini saya anggap wajar karena pertama dia anak laki-laki yang biasanya lebih cepat berjalan daripada bicara. Dan kedua karena kami terbiasa berbicara dalam 2 bahasa di rumah, jadi mungkin Keenan mengalami kebingungan sehingga jadi lebih lambat ngomongnya.

    perkembangan bicara anak usia 18-24 bulan, speech delay, lambat bicara, milestone, perkembangan bahasa pada anak

    Bulan April 2015, ketika jadwal berkunjung ke Paediatric Clinic Suri Seri Begawan Hospital, Keenan yang biasanya diperiksa oleh dokter anak umum, karena kesalahan suster nulis lingkar kepala tiba-tiba diperiksa oleh Dr. Musheer dari Child Development Center (CDC) atau klinik tumbuh kembang gitulah. Dokter Musheer ini yang pertama kali memeriksa Keenan setelah keluar dari rumah sakit dan mengalami jaundice selama beberapa waktu. Oleh dokter Musheer, Keenan diajak ngobrol berdua sambil main lego di meja kecil, trus dites warna, gambar binatang dan diajak main lempar tangkap bola. Selama proses pemeriksaan yang berjalan santai dan seperti main-main itu, Dr. Musheer benar-benar fokus ke Keenan dan baru ngajak ngobrol saya setelah pemeriksaan selesai. Jadi Keenan benar-benar enjoy dan nyaman sekali dengan dokter (yang dari fisik dan logat bahasanya saya kira) berasal dari India ini.

    Dari hasil pemeriksaan baru deh ketahuan kalau memang ada milestone yang tertinggal. Meski demikian dokter tetap menyarankan supaya kami santai karena menganggap faktor keterlambatan bicara ini adalah efek bilingual dan kurangnya stimulasi. Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara hanya satu bahasa dengan Keenan, yaitu bahasa Inggris, dengan pertimbangan lingkungan di sekitar kami lebih banyak berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia atau Melayu. Dokter juga ngasih handout yang membantu saya memahami tentang perkembangan bahasa pada anak dan stimulasinya.

    “Nggak ada stimulasi yang lebih baik dari bermain dengan ibunya.”

    – Devi Sani, M.Psi, Psi

    Setelah 5 bulan berlalu, ternyata perkembangannya masih kurang baik, mungkin karena kurang stimulasi, bisa juga karena terlalu banyak screen time atau faktor-faktor lain saya nggak tahu. Dokter Musheer pun akhirnya mendiagnosa Keenan mengalami speech delay. Tapi, sekali lagi saya hanya diminta untuk memperbanyak stimulasi di rumah dan mengajak Keenan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya karena menurut beliau biasanya anak lebih cepat belajar dari situasi bermain bersama teman-temannya. Bersosialisasi ini juga menurut dokternya Keenan bisa membantu membentuk perilaku baik pada anak seperti berbagi mainan, bergantian, saling peduli dengan teman dan sebagainya. Karena, kalau anak cuma bermain sama orangtua, yang sering terjadi adalah orangtua akan mengalah ketika anak meminta sesuatu, atau membiarkan anak menang hanya supaya dia senang. 

    https://i1.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%202_zpsk1wr4wc3.jpg?resize=560%2C315

    Pada pertemuan berikutnya 5 bulan kemudian, mulai ada perkembangan. Mungkin karena waktu itu saya mulai rajin ngasih dia sensory play atau permainan ala Montessori yang banyak ditemukan di internet dan instagram, mungkin juga karena dia mulai tertarik untuk berkomunikasi. Keenan mulai bisa menggabungkan 2 kata sederhana saat menginginkan sesuatu. Tapi, pengucapannya masih belum jelas, baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Mirip seperti anak 1,5 tahun yang baru mulai bicara, sementara saat itu umur Keenan sudah 2 tahun 8 bulan. Dan ternyata saat itu Keenan juga memiliki short span attention. Sederhananya, anak kicik ini gampang bosan, jadi dia lebih suka aktif bergerak daripada mengerjakan sesuatu yang memerlukan koordinasi motorik halus seperti mewarna, memegang pensil, membaca (dibacakan buku). 

    Baca juga: Permainan Sensoris

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%203_zpsx9ujhpwo.png?resize=560%2C315

    Kebetulan waktu itu sekolah-sekolah sudah mulai buka pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 dan teman-teman mainnya Keenan di komunitas ibu-ibu KB Seria sudah mulai sekolah sehingga dia nggak punya temen main lagi kalau dibawa ke acara komunitas, saya akhirnya meminta saran dokter tentang kemungkinan Keenan bersekolah. Nggak nyangka ternyata dokter setuju, malah dia bilang kalau tadinya dia mau ngasih terapi okupasi seminggu sekali tapi sekolah justru lebih baik menurutnya. Jadi begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Keenan masuk ke KG (Kindergarten) 1 atau setara playgroup di Indonesia.

    Keenan dan Sekolah

    Sebenarnya selain sekolah, waktu itu dokter juga mendaftarkan Keenan untuk terapi hanya saja kami diminta bersabar karena tempat terapi di Kuala Belait hanya ada 1 dan itu penuh jadi harus ada sesi wawancara untuk memastikan apakah Keenan perlu diterapi atau enggak. Sampai kunjungan berikutnya ke dokter, kami belum mendapat telepon dari tempat terapi untuk diwawancara dan dokter pun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena melihat perkembangan bicara Keenan yang membaik.

    Iya, sejak sekolah memang perkembangan bicara Keenan mulai membaik, bahkan dia mulai bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Sekarang Keenan sudah bisa merangkai 5 kata sederhana dalam bahasa Inggris seperti, “Mami, I want to eat.” Sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaaannya seperti lapar, haus, marah, sedih, nggak mau sekolah, nggak mau pake sepatu, nggak mau mandi karena masih mau tidur dan kalimat sederhana sehari-hari. Dia juga mulai mengenal pagi, siang, sore dan malam. Juga aneka binatang, panas dingin, bentuk dan warna walau masih suka terbalik. 

    Tapi, semua itu nggak datang dengan mudah. Setidaknya nggak bagi saya meski saya anggap ini adalah bagian dari resiko menyekolahkan anak di usia sangat muda.

    Pertama, di bulan-bulan pertama sekolah Keenan selalu menangis waktu mau saya tinggal. Ya, saya maklum, anak ini sejak lahir hampir 24 jam selalu bersama emaknya. Jadi bagi saya wajar kalau Keenan merasa nggak nyaman harus berpisah dari saya meski hanya beberapa jam di tempat yang nggak dia kenal sebelumnya.  

    Sayangnya, pihak sekolah nggak mengijinkan saya untuk menemani Keenan di kelas sampai ia siap ditinggal sendiri, guru-gurunya meminta saya untuk pergi supaya Keenan terbiasa dan teman-temannya yang lain nggak rewel ngeliat Keenan ditungguin. Jujur aja saya nggak tega, di minggu-minggu pertama juga rasanya berat sekali ngeliat Keenan nangis nggak mau sekolah. Chaos banget deh suasana kelas saat itu. Anak-anak kecil nangis-nangis, guru-guru yang nampak kebingungan juga para orangtua yang nggak tega tapi harus menegakan diri. Tapi lama-lama ya dia terbiasa sih ditinggal di sekolah meski sampai sekarang saya kadang masih merasa bersalah.

    Kedua, bulan-bulan awal sekolah Keenan nggak mau pake seragam dan cuma mau pake sandal Crocks. Jadi saya sering sekali ditegur gurunya karena masalah ini. Plus, hampir setiap kali saya menjemput Keenan gurunya laporan kalau, “Keenan nggak mau duduk diam,” “Keenan suka mukul temannya,” “Keenan nggak mau mewarna,” “Keenan nggak mau berbagi mainan,” “Keenan begini… Keenan begitu…” yang isinya jelek-jelek semua. *lap keringet*

    Sampai saya sedih lho, anak saya ini kok gitu banget ya. Jangan-jangan sebenernya saya salah nih nyekolahin Keenan semuda ini. Maklum kalau urusan anak, saya emang orangnya baperan hehehe. Tapi kebaperan ini lama-lama hilang karena ternyata bukan saya seorang yang suka dilaporin gitu hahaha. Yah, mungkin bu guru lelah.

    Ketiga, sampai sekarang pun kalau dibangunin pagi hari Keenan selalu nangis nggak mau mandi dan sekolah. Padahal kalau sudah sampai di sekolah ya dia happy aja gitu masuk ke ruang kelas dan nggak nengok-nengok mamanya lagi. Kan capek ya kalau tiap hari selalu ngadepin anak rewel gitu.

    Waktu saya konsultasikan ke dokternya bulan Juli lalu, beliau justru senang liat perkembangannya Keenan, baik dari segi bahasa maupun perilaku. Memang sih, perilaku agresifnya Keenan jadi jauh berkurang, kecuali ke kakaknya. Trus ngomongnya juga jadi lebih banyak dan jelas. Keenan sudah mulai ngerti kalau ditanya sesuatu dan bisa ngasih jawaban yang sesuai juga sesekali ngasih alasan. Misalnya kalau dulu dia bilang, “I no want shoes.” Trus ditanya kenapa, ya jawabnya hanya, “I no want shoes!” sambil jerit-jerit frustasi karena menganggap emaknya ini nggak bisa ngertiin dia. Sekarang dia bisa jawab, “Because my feet hurts. I want Light shoes.” Tinggal daya konsentrasinya ini yang masih terus dilatih.

    Soal laporan-laporan dari gurunya, pak dokter menenangkan saya dengan menjelaskan kalau tujuan kami (orangtua dan dokter) memasukkan Keenan ke sekolah kan awalnya sebagai pengganti terapi okupasi, yaitu memperbaiki lifeskillnya dan hasilnya sudah cukup baik. Tapi kita juga harus paham kalau guru punya target yang berbeda jadi ya nggak perlu sakit hati kalau dilaporin yang jelek-jelek terus. Sementara kalau dilihat dari laporan pendidikannya, sebenarnya banyak sekali peningkatan yang dialami Keenan di sekolah seperti mewarnanya mulai rapi dan di dalam garis, meski pegang pensil belum sempurna tapi sudah bisa tahan lebih lama, di rumah suka bernyanyi mengulangi lagu-lagu yang diajarin di sekolah dan dia jadi suka main sekolah-sekolahan ngikutin gaya gurunya kalau ngajar. Role play istilah kerennya mah. 

    Pak dokter juga ngasih tahu alasan kenapa Keenan sering malas bangun pagi adalah karena tidurnya nggak cukup. “Kalau anak tidur cukup, dia akan bangun dengan segar dan berangkat sekolah dengan riang. Tapi kalau tidurnya nggak cukup, ya wajar kalau mandi aja nangis, trus nggak mau sarapan sehingga akhirnya di sekolah pun jadi moody.” Dan memang setelah saya observasi kalau Keenan tidur lebih awal dan bangun pagi sendiri, lebih mudah ngajak dia mandi dan sarapan lalu berangkat sekolah.

    Jadi itulah alasan Keenan bersekolah di usia dini selain supaya emaknya punya lebih banyak me time, pasti ada plus minusnya tapi untuk saat ini buat kami lebih banyak plusnya daripada minusnya. Apalagi sekolahnya sekarang termasuk santai sebenarnya karena sedikit mengadopsi sistem Montessori yang lebih banyak mengajarkan lifeskill daripada mengejar-ngejar untuk bisa calistung. Di sekolah juga Keenan belajar untuk lebih percaya diri karena sering ada performance kelas yang disaksikan orangtua. Juga di sekolah ini ada playground yang cukup luas dan sand box untuk anak-anak bermain.

    Tapi, tahun depan karena berbagai macam alasan Keenan sepertinya nggak akan lanjut di sekolah ini dan kami sedang mencari sekolah lain yang sama atau bahkan lebih baik dari sekolahnya sekarang dan bisa menerima kondisi Keenan serta membantu kami mendidik Keenan menjadi lebih baik. Doakan yaaa. 

  • pout care, pout hair and body care, hair product for children
    Beauty & Fashion, Daily Stories

    Yang Alami Untuk Rambut Si Kecil: Pout Care

    Mencari produk perawatan tubuh dan rambut untuk anak menurut saya bukan hal yang mudah. Kulit dan rambut anak yang masih sensitif seringkali membuat saya harus memeriksa dengan teliti kandungan apa saja yang ada dalam produk tersebut. Inginnya sih semua serba alami dan aman bagi anak.

    Tadinya saya menggunakan salah satu produk dari sebuah merek ternama bagi anak-anak saya. Tapi, Cinta yang mulai memasuki masa pra remaja merasa nggak puas dengan sampo “bayi” tersebut sehingga sering memakai sampo saya atau papanya. Padahal produk perawatan rambut tersebut belum tentu aman baginya.

    Sampai suatu hari seorang teman menyarankan saya menggunakan produk perawatan rambut dari Pout yang diklaim alami dan cocok untuk anak. Pucuk dicinta ulam tiba, saya mendapat satu paket berisi produk perawatan rambut buatan Australia ini. Mulai dari sampo, kondisioner, hair spray sampai hair wax untuk dicoba bersama anak-anak.

    pout care, pout hair and body care, hair product for children

    Jadi, selama sebulan ini, anak-anak menggunakan produk-produk dari Pout, and they we love it.

    Keenan suka dengan karakter pada kemasan produk yang anak-anak banget (especially the Blueberry Potion yang menggambarkan karakter ksatria berkuda); kakak Cinta suka dengan wanginya yang lembut dan kemasannya yang nggak “bayi”; sedangkan saya suka sekali dengan hasilnya di rambut anak-anak.

    Kemasan Pout sendiri benar-benar menyenangkan dilihat. Karakter putri, ksatria berkuda, peri, penyihir baik hati, ilmuwan dan bajak laut yang sedang menaiki carrousel atau komidi putar dengan warna warna cerah.

    Bahan-bahannya juga aman bagi anak, bahkan yang memiliki kulit sensitif sekalipun, karena dibuat dari bahan alami berkualitas tinggi tanpa kandungan sulfat atau paraben. Rangkaian produk Pout juga dilengkapi dengan berbagai ekstrak bunga serta tanaman organik yang berasal dari Australia, seperti Alfalfa, Sage dan Rosemary untuk menutrisi dan menguatkan rambut anak-anak.

    pout care, pout hair & body care, natural hair product for children

    Favorit saya sejauh ini adalah pout Care Blueberry Potion Natural Shampoo. Wanginya lembut, nggak pedih di mata, dan membuat rambut terasa lembut dan mudah disisir.  Oya, produk sampo Pout ini waktu dibilas nggak meninggalkan kesan kesat di rambut, jadi kalau terbiasa dengan produk sampo di pasaran seperti saya, awalnya mengira sampo ini susah dibilas. Padahal sebaliknya. Dan kelembaban pada rambut setelah dibilas itu yang membuatnya mudah disisir. Bahkan untuk rambut tebal dengan helaian besar seperti rambutnya kakak Cinta.

    Merawat rambutnya Cinta ini memang agak tricky. Helaiannya yang tebal tapi halus seringkali membuat rambut lurusnya sulit diatur dan mudah berantakan. Nah, untuk itu saya pakaikan pout Care Peaches and Cream Natural Detangler setiap habis keramas supaya mudah disisir. 

    Hair detangler ini juga sering dipakai Cinta saat harus berangkat lagi sekolah Ugama di siang hari setelah sepagian tertutup kerudung supaya kulit kepalanya terasa segar. Produk ini mengandung minyak Argan yang bermanfaat menstimulasi pertumbuhan rambut dan mencegah ujung rambut pecah-pecah. 

    Manfaat hair detangler ini juga tampak di rambutnya Keenan, lho. Setelah rutin memakai selama sebulan lebih, rambut Keenan jadi kelihatan lebih tebal. Selain itu, dia jadi gampang diajak menyisir rambut setelah mandi karena suka saat rambutnya disemprot pout Care Peaches and Cream Natural Detangler ini.

    Setelah memakai detangler, biasanya saya menata rambut Keenan dengan pout Huckleberry Sorbet Natural Wax. Saya suka sekali produk ini karena membantu saya menata rambut Keenan dengan model-model lucu tanpa takut rambut bayinya rusak. Kandungan akar Burdoch organik, Rosemary dan ekstrak Yarrow berfungsi menguatkan dan mencegah kerusakan rambut. Pelembab yang terkandung di dalamnya membuat rambut mudah ditata. Biasanya sih, kalau nggak banyak dipegang, tatanan rambut yang menggunakan hair wax ini bisa tahan selama 4 jam. Cocok banget buat cowok-cowok kecil kita yang stylish, ya Ma.

    pout hair and body care, pout care, natural hair product for children

    Selain ketiga produk tersebut, anak-anak juga berkesempatan mencoba pout Care Strawbery Magic Natural Shampoo yang diperkaya dengan tumbuhan Sage, Comfrey dan Parsley organik yang berguna menguatkan rambut serta menstimulasi sirkulasi darah pada kulit kepala sehingga rambut kakak dan Keenan nampak lebih berkilau dan sehat. Dan untuk melengkapinya, kami juga sesekali menggunakan pout Green Apple Whoosh Hydrating Conditioner yang mengandung Alfalfa organik, Calendula dan ekstrak Elderflower untuk melindungi kulit kepala yang sensitif dan rambut dari lingkungan yang kurang sehat. Biasanya kondisioner ini kami pakai setelah berenang atau beraktivitas di pantai, sehingga rambut anak-anak yang terpapar klorin dan sinar matahari kembali lembut dan sehat.

    Sementara ini produk-produk Pout baru dapat kita jumpai di beberapa toko di Singapura dan beberapa cube di Brunei. Tapi kita juga bisa beli online lewat websitenya: pout Hair & Body Care karena pout melayani pengiriman ke Singapura, Indonesia, Brunei, Malaysia, Filipina sampai Thailand. 

     

     

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Bisa Di Mana Saja

    Ini sebenarnya very late post, kisah tentang liburan Desember kemarin waktu kami mudik sebulan ke Indonesia.

    Ceritanya, saya minta tolong mama saya untuk mencarikan tempat kursus yang punya program liburan untuk mengisi waktunya Cinta. Ya, daripada di rumah cuma nonton tv dan youtube kan lebih baik kalau bisa les gambar kek, pesantren kilat kah, les bikin robot, les renang atau kegiatan apalah yang bermanfaat gitu. Mumpung banyak waktu luang dan ada yang bisa antar jemput.

    Sayangnya, dari dua lembaga bimbingan belajar ternama yang didatangi mama, nggak ada yang menawarkan short course. Yang satu, sebut saja Kumon, bilangnya kegiatan mereka adalah aktivitas jangka panjang yang nggak bisa dipelajari cuma dengan tiga empat kali pertemuan. Ya, masuk akal sih, model-model gitu memang harus kontinyu kalau mau mendapatkan hasil yang baik.

    Sedangkan lembaga kursus yang satu lagi, yang bergerak di bidang seni, nggak secara langsung bilang bisa atau enggak. Dia cuma menanyakan nomer telepon dan berjanji akan mengabari kami lagi. Padahal saat ditelpon mama saya, dia bilangnya bisa, tapi waktu saya datang untuk daftar dan Cinta dites lalu saya bilang lagi bahwa saya hanya perlu program singkat untuk mengisi liburan, lagi-lagi cuma janji bakal ngabarin. Yang sampai saya kembali ke sini nggak pernah saya dengar kabarnya lagi.

    Sebenarnya to be fair, mbak resepsionisnya sudah menawarkan supaya saya daftar penuh aja karena tempat kursus ini cabangnya ada di berbagai negara, termasuk Brunei, jadi saya nanti bisa meneruskan ke cabang di sini setelah liburan usai. Tapi saya nggak mengiyakan karena belum tahu sistemnya yang di Brunei seperti apa. Kan rugi saya nanti kalau harus bayar biaya pendaftaran yang lumayan mahal itu dua kali hihihi #emakpelit.

    Akhirnya setelah sempat mati gaya selama beberapa waktu, saudara saya menawarkan Cinta untuk ikut les mewarnai di tempat les yang diikuti oleh anaknya. “Cuma seminggu sekali, Mbak. Murah lagi. Tinggal beli krayon sama meja gambarnya aja.”

    Berhubung anaknya mau, ya udah saya ikutin deh les mewarna di sana. Sesuai dengan saran saudara saya itu, sebelum ke tempat les mampir dulu ke toko Pelangi cari krayon Titi 48 warna dan meja gambar. Trus jemput ponakan untuk sama-sama ke tempat lesnya.

    Sesampainya di sana, ibu pengurus sanggar langsung menyambut dengan ramah, dan mempersilakan anak-anak masuk ke ruangan tempat mereka belajar. Cinta sempat kaget liat tempatnya, sambil bisik-bisik dia bilang, “I thought the place would be nicer.” Mungkin dia ngebandingin sama tempat les satunya itu. Tapi, saat pulang les, Cinta sudah nggak lagi mempermasalahkan soal tempat. Dia dengan semangat menunjukkan hasil lesnya dan mencoba bikin PRnya di rumah.

    Menurut saya yang orang awam soal seni ini, teknik mewarna yang diajarin oke juga. Selain gradasi warna, anak-anak juga belajar menentukan tentang bayangan, bagian yang harus ditebal tipiskan sampai cara mencampur warna supaya nampak natural. Gambar yang harus diwarna pun bertahap dari yang sederhana sampai rumit. Sayang sih, buku mewarnanya Cinta nggak kebawa ke Brunei jadi saya nggak punya foto hasil mewarnanya.

    sanggar lukis anak devina sidoarjo, sidoarjo, sanggar lukis anak, les menggambar, kursus mewarna

    Cinta dan Levina di Sanggar Devina Cab. Lemah Putro, Sidoarjo. Look at their happy faces.

    Setelah saya tanya-tanya, meski sederhana, ternyata tempat les itu lumayan terkenal sekabupaten Sidoarjo, cabangnya banyak. Namanya Sanggar Lukis Anak Devina. Cabang tempat Cinta dan Yasmine belajar beralamat di Lemah Putro Kelurahan no 6-8 Sidoarjo, dengan pembina Pak Rahman dan Bu Novi.

    Biaya kursusnya cukup terjangkau kok. Untuk tingkat dasar hanya perlu membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000, uang kaos Rp 65.000 dan bulanan Rp 50.000. Karena Cinta cuma ikut program liburan, bu Novinya bilang nggak perlu bayar uang pendaftaran dan beli kaos. Jadi saya hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk 4 kali pertemuan dalam sebulan. Sudah dapat 1 jilid buku mewarna lagi. Kalau perlu tambahan buku mewarna tinggal bayar Rp 5.000 per buku. Murah banget kaaaan. Bahagianya emak irit ini.

    Baca juga Berlomba Saat Libur Sekolah

    Dari Sanggar Lukis Devina ini juga Cinta bisa ikut lomba mewarnai New Era Desember yang lalu. Dan rupanya mereka juga sering mengadakan acara lomba seperti itu. Sayang sih, Cinta cuma sempat belajar 2 kali pertemuan. Tapi tetap ada ilmu yang dia dapat dan bisa terapkan sampai sekarang. Malahan yang dulunya dia nggak suka mewarnai sekarang jadi lebih telaten main gradasi warna.

    Baca juga Cinta dan Children’s Enikki Festa.

    Jadi ya pengalaman buat saya, yang namanya belajar itu bisa dari mana saja, dari siapa saja. Mungkin yang mahal dan bergengsi itu bagus tapi yang sederhana pun seringkali tidak kalah kualitasnya. Yang penting semangat belajarnya aja yang dijaga. Bener nggak?

    Hmmm, insya Allah Juni nanti mau mudik lagi. Pengen bawa Cinta belajar di Sanggar Lukis Devina lagi ah, trus belajar apa lagi ya? Ada masukan ide, mungkin?