Bye Bye Blackberry

Bukan… Memutuskan untuk nggak pakai Blackberry lagi bukan karena saya pindah “keyakinan” ke Android atau iPhone. Bukan juga karena ingin hidup lebih tenang tanpa bunyi “Ping” atau notifikasi pesan masuk yang tanpa henti. Alasan saya untuk nggak lagi langganan layanan Blackberry adalah murni karena faktor ekonomi.

Jujur aja meski Blackberry fiturnya nggak semenyenangkan iPhone atau bahkan mungkin Android tapi fasilitas BBMnya bikin saya berat melepas smartphone satu itu. Berada jauh dari keluarga seperti ini komunikasi paling lancar rasanya ya dengan BBM. Bisa kapan aja di mana aja. Belum lagi BB grup keluarga besar, sahabat-sahabat kuliah dan Circle Moms yang selalu ada dan siap mencerahkan hari atau memberi nasihat setiap kali dibutuhkan.

Awalnya ingin terus pakai BB di sini tapi setelah browsing dan datang ke counter salah satu operator seluler, pelan-pelan keinginan itu pudar. Di Brunei, cuma satu operator yang menyediakan layanan Blackberry, itupun hanya bagi pengguna kartu pascabayar. Supaya bisa tetap menggunakan semua fasilitas yang ada di BB, pertama saya harus berlangganan kartu pascabayar yang minimal pembayarannya BND 35 per bulan. Lalu ditambah lagi bayar bulanan Blackberry BND 25. Itu belum termasuk biaya sms dan telpon (keluar masuk) ke operator lain. Bisa-bisa sebulan ngabisin BND 70 hanya untuk komunikasi. Hiks…

Bukannya pelit sih tapi rasanya kok sayang gitu ngeluarin uang yang kalau dikurskan jadi sekitar Rp 420.000,00 tiap bulan, sementara yang saya butuhkan hanya BBMnya. Padahal suami yang pakai iPhone aja cuma abis BND 40 sudah puas browsing, telpon, sms dan menggunakan semua aplikasi di gadgetnya. Lumayan kan bedanya #emakirit. Apalagi sementara kami tinggal di apartment ini sudah free akses internet yang dengan WiFi router bisa dipakai di laptop dan iPad. Dan saya sendiri lebih suka browsing, cek email bahkan nulis di blog dan melakukan pekerjaan sebagai freelance writer dari laptop.

Dengan alasan-alasan itulah akhirnya saya (setelah maju mundur beberapa kali) untuk sementara ini memutuskan nggak pakai Blackberry lagi. Entah kalau satu dua bulan berubah pikiran lagi. Moga-moga aja nggak sakau BBMan hehehe. Jadi kalau mau hubungi saya silakan via email: alfa[dot]kurnia[at]ymail[dot]com, FB: http://www.facebook.com/alfakurnia atau Twitter @alfakurnia. Stay in touch yaaaa 🙂

Foto koleksi pribadi. Difoto oleh: Awie R.

4 Replies to “Bye Bye Blackberry”

  1. Alfa..aku suka banget baca tulisan2mu..keren..so inspiring..:), semoga bosan pake BB nya ga lama…krn akan sangat merindukanmu..:), kalo ke Indonesia..berkabar ya say…:) miss u..hug hug..:D

  2. Halo mbak, setahun yg lalu aku pernah mampir ke MP-mu, tapi lantas lupa alamatnya. Eh kok kebetulan melihat avatarmu di kolom komen blognya Mbak Ira 🙂

    Ngemeng2 soal BB, sudah mau 2 bulan ini aku juga udah gak pake BB. Jujur aja akhir2 ini kangen sama keyboard qwerty-nya yg membuat ritual posting di tumblr ataupun wordpress mjd begitu mudah.

    Kalo BBM-nya sih, ya kebetulan aku gak suka chatting. Sukanya tweeting 🙂

  3. Blackberry-nya Aktif Lagi? | Pojok Mungil says:

    […] ini pesan seperti itu sering sekali masuk ke BBM saya. Memang setelah sebulan BBless, melihat propic atau status saya di BBM berganti, atau tiba-tiba saya aktif lagi di BB Group, […]

  4. hiii mbak 🙂
    kebetulan saya akan melakukan trip ke brunei november ini 🙂
    bisakah anda menyarankan kartu yg bisa digunakan supaya saya tetap bbm-an selama disana 🙂
    thank you

Komentar ditutup.