Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

“Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
  • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
  • Mampu berpikir positif dan kompromi.
  • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
  • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
  • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
  • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

__________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

12 Replies to “Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?”

  1. nyonyasepatu says:

    Belon pernah LDM tapi ditinggal seminggu 2 minggu aja udah complain hehe. Kayaknya udah gak mau lagi deh jauh2an kalau bisa. Capek dulu LDR pas pacaran

    1. alfakurnia says:

      Iya, emang capek sih. Pernah LDM 4 tahun ngejalaninnya biasa aja tapi setelah kumpul rasanya nggak pengen lagi LDM.

  2. enci harmoni says:

    belum pernah LDR, sempat sih di tinggal beberapa hari, itupun telfonan melulu, tapi kalo merupakan suatu keharusan, kayaknya kudu bisa juga mbak…

    1. alfakurnia says:

      Iya ya, Mbak. Kalau terpaksa pasti bisa.

  3. waduh kalau saya sih ngak kuat mak hehehe

    1. alfakurnia says:

      Hehehe kalau terpaksa mau nggak mau harus kuat, Mak. Makasih ya sudah mampir.

  4. Saya belum pernah LDR. Rasanya saya belum snaggup LDR-an, Mbak 🙂

    1. alfakurnia says:

      Kalau memungkinkan enakan nggak LDR, Mbak 😀

Komentar ditutup.