6-in-1

Kemarin setelah nemenin Cinta makan siang di Fratini’s Pizza Seria lalu anter dia lagi ke sekolah untuk ikut after school program, Keenan kontrol rutin 1 bulanan sekaligus vaksinasi di maternity & child health (MCH) Clinic, Pusat Kesihatan Sg. Liang. Meski terlambat 15 menit dari jadwal perjanjian dan nunggu untuk daftar di resepsionis klinik selama 20 menit karena implementasi program Bru-HIMS yang belum lancar, ternyata yang antri di MCH masih sedikit.

Setelah ditimbang, ukur tinggi badan & lingkar kepala dengan hasil 5,7 kg; 56 cm dan 37,5 cm, duduk sebentar untuk nunggu giliran ketemu bidan. Sempat ditanya-tanya juga sama suster di ruang timbangan soal Bobita Wrap yang saya pakai untuk menggendong Keenan. Menurut mereka gendongannya unik dan nyaman. Bahkan dipuji, “Pandai kamu bungkus dia seperti itu. Tidak sejuk (kedinginan).”

Sambil nunggu dan nyusuin Keenan dalam Bobita wrapnya, browsing lagi soal vaksinasi yang akan dia dapat hari ini. Jujur aja agak ragu awalnya karena sejak dikasih jadwal vaksin bulan lalu belum pernah tahu tentang vaksinasi 6-in-1 yang terdiri dari DTaP-HiB-IPV-Hep B ini.

Terakhir kali saya tahu 4 tahun lalu kombinasi vaksin masih 4-in-1 DTaP-HiB plus polio oral atau Pediarix dan Pentacel. Ternyata sekarang adalagi yang 6 vaksin dalam satu suntikan. Sempat terpikir juga apa itu kombinasi Pentacel yang dijadikan 1 suntikan dengan single dose of Hep B. Baru setelah browsing tahu kalau memang ada 6-in-1 vaccine keluaran GlaxoSmithKline Australia dengan nama dagang Infanrix Hexa. Hmmm… Di Indonesia harganya berapa ya? Masih inget aja dulu tiap vaksin DTaP dan HiB di RS Swasta tuh bisa habis lebih dari Rp 500.000 termasuk jasa dokternya.

Lumayan lama nunggu diperiksa bidan sampai Keenan mulai rewel dan lebih lama lagi saat antri dokter karena ada masalah data online pasien yang sudah diinput suster nggak bisa diakses dokter. Sampai akhirnya dipanggil dokter pun, bukannya konsultasi soal kesehatan Keenan, malah dia curhat tentang kacaunya implementasi Bru-HIMS. Mana Keenannya sudah nangis jejeritan karena ngantuk. Hadeeuuh :))

Setelah dicek dokter dan dinyatakan cukup sehat untuk menerima imunisasi meski sedang pilek, pindah ke Bilik Suntikan dan disuntiklah paha kanan anak lanang diiringi tangisnya yang melengking. Abis itu dikasih paracetamol dan alat ukurnya buat jaga-jaga kalau demam sembari diingatkan untuk nggak ngasih minyak, salep atau apapun di bekas suntikannya semisal bengkak, “Cukup diusap pakai air hangat saja di sekitar bengkaknya.”

Sudah selesai? Belum! Masih harus balik lagi ke bilik timbangan untuk bikin jadwal perjanjian bulan depan. Ribet ya? Biar deh, namapun gratis kan jadi ya dinikmati sajah hehehe. Untung bisa minta tolong teman seapartemen supaya setelah after school program Cinta bisa pulang bareng dia dan anaknya yang satu sekolah sama Cinta sehingga nggak perlu lagi jemput ke sana.

Alhamdulillah sampai hari ini belum ada tanda-tanda ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) meski sedikit rewel akibat pilek. Bahkan semalam tidur cukup nyenyak begitu juga sesiangan ini walaupun beberapa kali maunya tidur dalam Hanaroo Wrap hadiah dari sister in law. Sehat terus ya, Nak.

May 10, 2013
Previous Post Next Post

You may also like