Monthly Archives

March 2012

  • Uncategorized

    Galau

    Sekali-kali mau curhat dan ngeluh boleh ya? Eh, tapi sepertinya belakangan ini lumayan sering curhat ya? Hehehe…

    Sebenarnya nggak suka juga sih ngeluh geje di blog atau sosmed gitu, kapok. Karena dulu pernah waktu lagi ada masalah, layaknya abege labil dikit-dikit update status marah-marah dan selalu mengeluh. Eh tiba-tiba salah satu teman di Facebook yang juga temen kantor nyokap, bilang ke beliau, “Mi, itu Nia nggak apa-apa tah? Dibawa ke psikiater aja deh, sepertinya kok sudah gawat gitu.” Eaaaa… Sejak saat itu suka nahan-nahan deh kalau mau ngeluh di sosmed daripada disangka yang iya-iya sama orang.

    Jadi ceritanya beberapa hari ini perasaan lagi nggak enak banget. Mungkin karena komplikasi menstrual cramp, batuk, pilek, maag, sakit tenggorokan yang gantian datang selama hampir 2 minggu ini dan bikin badan nggak enak semua. Juga entah kenapa jadi merasa jenuh sekali. Mau ngapa-ngapain malas, pengennya tiduran aja sambil baca buku atau main iPad.

    Tiba-tiba kangen sekali sama rumah dan nyokap, kangen suasana makan malam yang ramai, ngobrol ngalur ngidul berbagi cerita kegiatan hari itu sambil ngemilin lauk di meja makan, meski perut sudah terasa penuh. Terutama saat mendengar cerita bahwa beliau sekarang sudah tinggal bertiga saja sama 2 ART setelah adik saya dan istrinya menempati rumah mereka sendiri. Duh, suka merasa sedih, kasihan dan khawatir kalau inget nyokap.

    Juga rindu makanan Indonesia: soto Ambengan, bakso Solo, nasi bebek, sambal bu Rudi, soto Betawi, siomay, batagor, mie kluntung kuah nyemek-nyemek, aaaaarrghh. Apalagi pas parah-parahnya flu kemarin, terbayang aja gitu soto Ambengan dengan aroma jeruk nipis dan sambel yang mantap. Boleh nggak tuh rombong soto diimpor ke Brunei aja setukang masaknya.

    Pun ribang akan serunya kumpul bersama teman-teman. Baik sekadar berkisah tentang anak dan gosip terbaru atau berbagi ilmu mengenai apa saja. Maklum, di sini saya belum punya teman. Entah kenapa sulit sekali menemukan komunitas ibu-ibu, baik offline maupun online di Brunei ini. Paling ngobrol sama teman-teman di gym, yang meski sekadar basa-basi tapi lumayan bisa memenuhi kebutuhan saya bersosialisasi.

    Ah, bukan saya nggak berterimakasih akan keadaan di sini. Malah dalam kondisi seperti ini, banyak sekali hal yang saya syukuri. Seperti ketika sedang terkapar karena period cramp, anak 4 tahun 9 bulan saya tiba-tiba terlihat begitu mandiri, mulai dari bangun tidur lalu makan, mandi dan bermain lalu merapikan sendiri mainan dan kertas-kertas gambarnya TANPA disuruh. Atau suami yang rela memijat dan menggosok punggung saya dengan minyak kayu putih tiap malam untuk meringankan flu meskipun dia sendiri lelah bekerja. Cleaning service yang membersihkan apartemen setiap 2 hari, rumah makan di bawah apartemen yang menyajikan berbagai macam menu juga salah satu hal yang membuat saya berlega hati. Sungguh, sebenarnya Tuhan itu selalu memberikan kemudahan dalam tiap kesulitan yang kita alami ya 🙂

    Tapi namanya manusia, tak selamanya tegar dan kuat. Adakalanya merasa jenuh dan lelah. Seperti yang sedang saya rasakan sekarang. Yah, semoga saja setelah kondisi badan membaik, semua galau inipun ikut berlalu.

  • Relationship

    #IstimewaItuKamu

    Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan. – Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

    Untuk Suamiku,

    Seperti mencari rumah yang cocok, menemukanmu di antara begitu banyak pilihan di luar sana tidaklah mudah. Tapi begitu mengenalmu, aku seakan tak ingin berpaling. Seakan yakin bahwa kamulah shelter terakhirku. Tempatku berlabuh. Rumahku.

    Erat pelukmu, seolah memastikan bahwa aku akan selalu terlindungi. Berlabuh di dadamu, tanpa banyak bicara membuatku merasa nyaman dan aman. Sikap tenangmu, menunjukkan kedewasaan dan matang cara berpikir. Terpadu sempurna. Bagai sebuah rumah mungil yang kokoh dan hangat.

    Caramu merawatku saat sakit, kesungguhanmu bermain dengan si kecil meski sedang lelah, kesabaranmu menemaninya membuat pekerjaan rumah, senyum jahil dan tingkah konyolmu menghangatkan hati. Dan di tiap malamku, kehadiranmu menyempurnakan hari.

    Selamat ulang tahun suamiku, seribu doa terbaik selalu mengiringi langkahmu, lelaki istimewa yang dipilihkan Tuhan untuk mendampingiku. Menjadi rumahku 🙂

  • financial planning
    Life Hacks

    Ketika Hal Buruk Terjadi

    Kemarin mamak Astri Kunto melalui akun twitternya ngomongin tentang perempuan yang hidupnya tergantung penuh pada suami, alias nggak punya penghasilan sendiri. Yang dibahas adalah, bagaimana seandainya suami meninggal lebih dahulu? Ini tentu berat karena untuk ibu rumah tangga seperti saya kehilangan suami selain kehilangan pasangan hidup, orang yang saya cintai, berarti hilang juga pencari nafkah utama dalam keluarga.

    financial planning

    Akhir-akhir ini jujur saja hal itu sering terlintas dalam pikiran saya. Hidup cuma bertiga di negeri orang dengan kendali penuh rekening keluarga pada suami, gimana kalau terjadi sesuatu padanya. How will we survive? Can we?

    Begitu juga seandainya suami memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan kita memilih hidup dengan anak-anak daripada menjalani poligami (amit-amit jabang bayi *ketok meja 3x), sampai kapan kita mampu bertahan hidup dari harta gono gini.

    Maka itu penting sekali merencanakan safety steps dalam menghadapi keadaan darurat ini. Toh, yang namanya umur dan jodoh itu meski kita sudah berusaha sebaik mungkin tetap saja ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa saja sih? Ini adalah beberapa yang terpikir oleh saya, silakan menambahkan jika ada yang kurang:


    Bekerja

    Bekerja nggak harus di kantor. Membuat online shop seperti yang banyak dilakukan ibu rumah tangga belakangan ini, menggeluti MLM, menjadi paid blogger juga termasuk bekerja. Istilah kerennya working at home mom. Minimal kita punya penghasilan sendiri yang rutin agar tidak 100% tergantung secara finansial kepada suami.

    Nggak tahu mau kerja apa? Nah hobinya apa? Masak? Bikin kue? Fotografi? Nulis? Ngetwit dan punya ribuan follower? Semua itu bisa jadi lahan pekerjaan lho kalau ditekuni dengan serius. Suka masak bisa bikin katering, hobi bikin kue bisa dikembangkan jadi toko kue online. Nggak sedikit kok ibu-ibu yang sukses di bidang ini.

    Saving for Rainy Days

    Dilarang bekerja oleh suami? Marilah kita menyisihkan sebagian uang belanja untuk ditabung. Tentu harus didiskusikan lebih dulu sama suami ya, karena saya baru diingatkan seorang teman bahwa harta suami yang diamanahkan ke kita itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

    Tabungan ini penting. WAJIB punya, apalagi kalau kendali keuangan sepenuhnya dipegang oleh suami. Usahakan minimal kita punya tabungan minimal sebesar 3 kali pengeluaran bulanan. Masukkan dalam pos dana darurat yang hanya bisa digunakan benar-benar saat keadaan darurat. Ingat, The Great Singapore Sale saat lagi bokek berat bukan termasuk kondisi darurat, meski tas idaman diskon 70% dan yang kita punya sudah butut sekalipun.

    Keadaan darurat ya berarti yang saya sebutkan di atas, saat kehilangan pencari nafkah (suami di PHK, meninggal atau bercerai) atau orang tua sakit dan butuh biaya perawatan.

    Asuransi Jiwa

    Ketika pencari nafkah utama kita meninggal dalam kondisi kita tidak bekerja, uang yang didapat dari asuransi jiwa ini bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara sampai kita mendapatkan pekerjaan. Please remember bahwa nggak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini, apalagi kalau sudah sekian tahun tidak bekerja. Dengan adanya asuransi jiwa ini minimal kita nggak akan langsung jatuh miskin meski pasti harus mengetatkan beberapa pos pengeluaran. Biaya anak-anak sekolah pun tetap bisa tercover.

    Nah, yuk mari berdiskusi dengan suami, menyiapkan tindakan preventif jika terjadi kondisi darurat. Belajar mengatur keuangan sebaik mungkin, jangan boros untuk hal-hal yang sifatnya tersier *ngomong sama kaca*.

    Sedangkan untuk para suami yang lebih suka istrinya di rumah, total menjadi ibu rumah tangga mengurus Anda dan anak, please make sure orang-orang yang menyayangi Anda ini tidak terlantar saat Anda diPHK, meninggal atau memilih untuk bercerai.

  • Life as Mom

    Flesh and Blood

    part of me wants to call you up and talk to you like a friend. but there’s a part of me that wants to shut you out and never see your face again. how can we be like enemies when we’re only flesh and blood? – Flesh and Blood by Wilson Phillips

    Abis baca twit mbak @AlissaWahid dan postingan mamak Kopi di Ngerumpi sore ini, aku jadi sadar kalau nggak semua orang punya hubungan indah dengan orang tuanya.

    Waktu kecil-remaja, wajar bila ada org yang tak suka pada orangtuanya. Wajarnya orang dewasa, tak suka itu berubah menjadi tak setuju saja. – Alissa Wahid

    Bahkan aku pun saat remaja punya masa-masa nggak suka dengan orang tua. Lebih memilih dekat dengan teman yang menurutku lebih bisa memahami gejolak masa muda daripada Mama, Dad dan Papa yang suka ngelarang ini itu.

    Kalau kita sudah dewasa & masih tidak suka kepada orangtua kita, ada baiknya kita tengok diri. We have a real problem.. Mengapa real problem? Ya karena ‘tidak menyukai orangtua’ menunjukkan bahwa kita tak bisa membedakan ‘tidak setuju’ dengan ‘tidak suka’. – Alissa Wahid

    Tapi setelah menginjak middle 20’s apalagi setelah menikah, hidup sendiri dan punya anak, hubungan dengan orang tua jadi jauh lebih baik. Aku jadi bisa memahami kenapa mereka dulu bersikap seperti orang tua, karena sekarang aku pun begitu terhadap Cinta. Pun saat ada masalah, larinya ya ke Mama, ketika teman or they so called best friends itu menghilang karena sudah lelah mendengarkan keluh kesah tak berujungku.

    Orang yang matang bisa membedakan antara perilaku dengan orang. Terhadap orangtua, kalau kita melihat orangtua sangat buruk, itu tidak sehat. – Alissa Wahid

    Mungkin karena pada usia itu, cara pandangku sudah mulai berubah dari remaja labil menjadi perempuan (lebih) dewasa yang sedang belajar bertanggungjawab akan diri dan hidupnya. Mama dan Dad sebagai orang tua juga seiring dengan bertambahnya usia dan makin banyaknya pengalaman juga berubah.

    Pada usia dewasa muda itu, peran orang tua sebenarnya juga mulai berubah. Dari pendidik menjadi penyokong, pendukung anaknya. Hal ini juga yang bisa membuat kami lebih banyak bicara saat menghadapi suatu masalah. Konflik tetap ada, tapi seringkali salah satu mengalah.

    Kita lebih sibuk menuntut hak kita, berusaha menjamin semua pihak lain memenuhinya. Lupa bahwa kita pun berkontribusi. Kita kadang terlalu sibuk dengan kewajiban orangtua terhadap hak kita sebagai anak. ‘Orangtuaku harusnya bla3x..’ dan melupakan sebaliknya. – Alissa Wahid

    Setelah ada anak, justru kasih sayang orang tua lebih terasa. Betapa mereka begitu memperhatikan Cinta, mengurus aku yang mengalami post partum depression, menyediakan telinga dan bahu ketika butuh tempat bersandar. Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa belum ada seujung kukupun semua kebaikan itu kubalas.

    Most parents did the best, with whatever they had, for the children. If it’s wrong? They just didn’t know any better. – Alissa Wahid

    Jadi orang tua itu nggak mudah, now I feel it. Lihat Cinta tantrum, membentak-bentak saat dia kesal aja aku sudah patah hati. Nah, berkonflik dengan orang tua sampai lari dan menjauh dari mereka tentu menyakitkan. Makanya aku suka sedih melihat teman-teman yang berantem sama ibunya karena nggak sepakat tentang pemberian ASI, MPASI, pengasuhan anak lalu benci sama ibu atau mertuanya. Bayangkan betapa terlukanya para nenek ini.

    In the end, let’s just remember: walau tidak 100% seperti harapan, our parents did what they thought the best for their children. – Alissa Wahid

    Apapun masalahnya, jangan sampai deh saat orang tua nggak ada baru kita menyesal pernah membenci mereka. Karena permintaan maaf, pelukan erat, suara tegas namun hangat itu nggak akan bisa kita dapatkan lagi.