Galau

Sekali-kali mau curhat dan ngeluh boleh ya? Eh, tapi sepertinya belakangan ini lumayan sering curhat ya? Hehehe…

Sebenarnya nggak suka juga sih ngeluh geje di blog atau sosmed gitu, kapok. Karena dulu pernah waktu lagi ada masalah, layaknya abege labil dikit-dikit update status marah-marah dan selalu mengeluh. Eh tiba-tiba salah satu teman di Facebook yang juga temen kantor nyokap, bilang ke beliau, “Mi, itu Nia nggak apa-apa tah? Dibawa ke psikiater aja deh, sepertinya kok sudah gawat gitu.” Eaaaa… Sejak saat itu suka nahan-nahan deh kalau mau ngeluh di sosmed daripada disangka yang iya-iya sama orang.

Jadi ceritanya beberapa hari ini perasaan lagi nggak enak banget. Mungkin karena komplikasi menstrual cramp, batuk, pilek, maag, sakit tenggorokan yang gantian datang selama hampir 2 minggu ini dan bikin badan nggak enak semua. Juga entah kenapa jadi merasa jenuh sekali. Mau ngapa-ngapain malas, pengennya tiduran aja sambil baca buku atau main iPad.

Tiba-tiba kangen sekali sama rumah dan nyokap, kangen suasana makan malam yang ramai, ngobrol ngalur ngidul berbagi cerita kegiatan hari itu sambil ngemilin lauk di meja makan, meski perut sudah terasa penuh. Terutama saat mendengar cerita bahwa beliau sekarang sudah tinggal bertiga saja sama 2 ART setelah adik saya dan istrinya menempati rumah mereka sendiri. Duh, suka merasa sedih, kasihan dan khawatir kalau inget nyokap.

[Read more...]

#IstimewaItuKamu

Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan. – Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Untuk Suamiku,

Seperti mencari rumah yang cocok, menemukanmu di antara begitu banyak pilihan di luar sana tidaklah mudah. Tapi begitu mengenalmu, aku seakan tak ingin berpaling. Seakan yakin bahwa kamulah shelter terakhirku. Tempatku berlabuh. Rumahku.

Erat pelukmu, seolah memastikan bahwa aku akan selalu terlindungi. Berlabuh di dadamu, tanpa banyak bicara membuatku merasa nyaman dan aman. Sikap tenangmu, menunjukkan kedewasaan dan matang cara berpikir. Terpadu sempurna. Bagai sebuah rumah mungil yang kokoh dan hangat.

Caramu merawatku saat sakit, kesungguhanmu bermain dengan si kecil meski sedang lelah, kesabaranmu menemaninya membuat pekerjaan rumah, senyum jahil dan tingkah konyolmu menghangatkan hati. Dan di tiap malamku, kehadiranmu menyempurnakan hari.

Selamat ulang tahun suamiku, seribu doa terbaik selalu mengiringi langkahmu, lelaki istimewa yang dipilihkan Tuhan untuk mendampingiku. Menjadi rumahku :)

Ketika Hal Buruk Terjadi

Kemarin mamak Kopi melalui akun twitternya ngomongin tentang perempuan yang hidupnya tergantung penuh pada suami, alias nggak punya penghasilan sendiri. Bagaimana seandainya suami meninggal lebih dahulu? Kehilangan suami selain kehilangan pasangan hidup, orang yang saya cintai, berarti hilang juga pencari nafkah dalam keluarga.

Akhir-akhir ini jujur saja pertanyaan itu sering terlintas dalam pikiran saya. Hidup cuma bertiga di negeri orang dengan kendali penuh rekening keluarga pada suami, gimana kalau terjadi sesuatu padanya. How will we survive? Can we?

Begitu juga seandainya suami memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan kita memilih hidup dengan anak-anak daripada menjalani poligami (amit-amit jabang bayi *ketok meja 3x), sampai kapan kita mampu bertahan hidup dari harta gono gini.

Maka itu penting sekali merencanakan safety steps dalam menghadapi keadaan darurat ini. Toh, yang namanya umur dan jodoh itu meski kita sudah berusaha sebaik mungkin tetap saja ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa saja sih? Ini adalah beberapa yang terpikir oleh saya, silakan menambahkan jika ada yang kurang:

[Read more...]

Flesh and Blood

part of me wants to call you up and talk to you like a friend. but there’s a part of me that wants to shut you out and never see your face again. how can we be like enemies when we’re only flesh and blood? – Flesh and Blood by Wilson Phillips

Abis baca twit mbak @AlissaWahid dan postingan mamak Kopi di Ngerumpi sore ini, aku jadi sadar kalau nggak semua orang punya hubungan indah dengan orang tuanya.

Waktu kecil-remaja, wajar bila ada org yang tak suka pada orangtuanya. Wajarnya orang dewasa, tak suka itu berubah menjadi tak setuju saja. – Alissa Wahid

Bahkan aku pun saat remaja punya masa-masa nggak suka dengan orang tua. Lebih memilih dekat dengan teman yang menurutku lebih bisa memahami gejolak masa muda daripada Mama, Dad dan Papa yang suka ngelarang ini itu.

Kalau kita sudah dewasa & masih tidak suka kepada orangtua kita, ada baiknya kita tengok diri. We have a real problem.. Mengapa real problem? Ya karena ‘tidak menyukai orangtua’ menunjukkan bahwa kita tak bisa membedakan ‘tidak setuju’ dengan ‘tidak suka’. – Alissa Wahid

Tapi setelah menginjak middle 20’s apalagi setelah menikah, hidup sendiri dan punya anak, hubungan dengan orang tua jadi jauh lebih baik. Aku jadi bisa memahami kenapa mereka dulu bersikap seperti orang tua, karena sekarang aku pun begitu terhadap Cinta. Pun saat ada masalah, larinya ya ke Mama, ketika teman or they so called best friends itu menghilang karena sudah lelah mendengarkan keluh kesah tak berujungku.

[Read more...]