Monthly Archives: February 2012

Beradaptasi di Sekolah Baru

Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin *grin*. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan *tepok jidat*.

Continue reading

Titipan

“Ndri, Paman titip Ningsih ya. Soalnya kalau sekolah di Desa. Paling banter dia cuman jadi lulusan SMP. Kamu tahu kan kalau di desaku itu sekolah cuman sampe SMP aja,” pesan Pamanku–Rudi sebelum naik ke dalam kereta.

“Iya Paman, Insya Allah saya dan Mila akan berusaha menjaga Ningsih dengan baik.”

“Paman percayakan Ningsih sama kalian ya Ndri. Paman ingin Ningsih bisa jadi orang sukses yang taat pada jalan Allah seperti kamu dan Mila.”

“Insya Allah Paman, kami akan jaga Ningsih sebisa mungkin.”

“Ya, sudah kalau gitu. Paman berangkat dulu.”

“Hati-hati, Paman.

Sejak hari itu Ningsih, keponakanku itu secara resmi tinggal bersama kami.

Aku dan Mila adalah seorang pekerja kantoran dengan jam kerja yang lumayan sibuk. Kami berdua baru sampai di rumah menjelang malam, bahkan kalau lemburnya gila-gilaan bisa hingga dini hari. Hal inilah yang mungkin menyebabkan kami susah untuk mendapatkan momongan. Sampai menginjak tiga tahun pernikahan, kami belum direstui untuk memiliki momongan.

Mengajak Ningsih untuk tinggal bersama kami adalah rencana awal dari Mila. Kata dia rumah ini terlalu sepi, dan kebetulan pamanku sedang mengalami kendala ekonomi untuk menyekolahkan anaknya. Akhirnya kami memutuskan untuk membantu menyekolahkan Ningsih.

****
Continue reading

I Do (Not) Like Cooking

Honestly, I’m not into cooking much. Well, I cook but because I have to not because I love to :D

Buat aku masak itu ribet, banyak sekali langkah-langkah sebelum sebuah masakan terhidang di meja. Apa aja, hmmm let see:

1. Bikin menu: mikirin masak apa hari ini, kira-kira makanan apa aja yang disuka dan bergizi untuk suami dan anak.

2. Belanja: berbekal menu harian, mendatangi supermarket, pasar atau tukang sayur. Memilih-milih bahan makanan yang sesuai dengan apa yang mau dimasak hari ini atau bahkan minggu ini. Menghitung apakah yang akan dibeli sesuai budget atau tidak. Kalau yang dicari nggak ada, berarti harus ganti menu.

Continue reading

Bye Bye Blackberry

Bukan… Memutuskan untuk nggak pakai Blackberry lagi bukan karena saya pindah “keyakinan” ke Android atau iPhone. Bukan juga karena ingin hidup lebih tenang tanpa bunyi “Ping” atau notifikasi pesan masuk yang tanpa henti. Alasan saya untuk nggak lagi langganan layanan Blackberry adalah murni karena faktor ekonomi.

Jujur aja meski Blackberry fiturnya nggak semenyenangkan iPhone atau bahkan mungkin Android tapi fasilitas BBMnya bikin saya berat melepas smartphone satu itu. Berada jauh dari keluarga seperti ini komunikasi paling lancar rasanya ya dengan BBM. Bisa kapan aja di mana aja. Belum lagi BB grup keluarga besar, sahabat-sahabat kuliah dan Circle Moms yang selalu ada dan siap mencerahkan hari atau memberi nasihat setiap kali dibutuhkan.

Continue reading

One Step At A Time

Sebelum pindah, suami sudah wanti-wanti kalau nanti di sini kita nggak bisa punya ART seperti di Indonesia. Awalnya saya pikir nggak masalah, semua pasti bisa ditangani dengan baik. Yang penting bisa pindah dan kumpul dengan suami dan anak.

Tapiiiiii… Ternyata buat perempuan yang dibesarkan dengan fasilitas ART dan dimanjakan dengan oleh support system yang mudah didapat di Indonesia, nggak mudah untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga plus ngurus anak sendiri. Belum lagi ngatur waktu untuk nulis. Rasanya ngos-ngosan.

Seminggu pertama sih masih santai, makan selalu diluar, Cinta juga gampang tidur dan makannya. Masih sering pergi jadi nggak suntuk di rumah. Masuk minggu kedua, mulai stres karena setrikaan numpuk, rumah berantakan terus, Cinta sudah mulai bosen pergi dan maunya nonton tv aja di rumah. Mau masak cari bumbu dapur dan bahan yang fresh susah, begitu dapet bingung mau masak apa. Makan di luar selain lama-lama tekor juga bosen terus-terusan makan masakan Cina dan India. Sekalinya nemu nasi bebek eh rasanya bikin pengen nangis. Aaarrrgghhh…

Continue reading