Monthly Archives: May 2010

Coretan Iseng

I need to write…
I need to talk…
To release all these crazy feelings

But…

Don’t know what to write
Already ran out of words
Can’t talk anymore

Aaaarrrgggghhhh!!!!

Stop coming back to me
Stop haunting me!
I just wanna be free
Be happy
Just like I used to be

Luka Lama

Seharian ini aku membenahi album foto di halaman facebookku. Mengenang satu persatu kisah yang pernah terjadi. Tersenyum, meringis, menangis. Lalu, sampailah aku pada suatu masa, dimana aku dan kamu pernah terasa sangat jauh. Tiba-tiba saja kurasakan lagi semua emosi yang kualami saat itu. Aku terguncang lagi, terluka lagi.

Kalau boleh meminta kepadaNya, aku ingin sekali menghapus bagian itu dari hidupku atau minimal dari ingatanku. Aku tak sanggup merasakannya berulang-ulang. Karena aku tahu, kamu dan aku, sekuat apapun berusaha, kita tak akan pernah sama lagi.

Diposting juga di Ngerumpi.

Jangan Asal Posting

Baca tulisannya MbakDos di blognya yang keren itu, membuat saya teringat pada percakapan dengan suami beberapa malam lalu. Waktu itu saya sedang kesal karena timeline Twitter penuh dengan RT-an twit seorang public figure yang sedang menerangkan suatu hal. Kalau sekedar RT, saya nggak masalah tapi kali ini dan tiap kali orang tersebut ngetwit mengenai suatu hal, pasti banyak sekali RT-an twit dia yang ditambah dengan caci maki. Sayangnya kebanyakan orang yang nge-RT itu nggak follow bapak itu.

Kebetulan saya follow beliau, jujur saya suka baca twit-twitnya tentang banyak hal. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tiap beliau membahas sesuatu. Setuju atau tidak dengan pendapat beliau, itu lain soal. Karena saya mengikuti kicauannya, jelas saya tahu apa yang dia maksud. Sedangkan mereka-mereka yang tidak mengikuti beliau cuma sekedar meneruskan RT dari temannya, temannya lagi tanpa mau bersusah payah menengok timeline bapak itu. Sehingga pesan yang didapat hanya separuh dan yang separuh itu kadang bisa menyesatkan lalu muncul caci maki dan sumpah serapah di timeline saya.

Saya kesal bukan karena ngefans sama beliau sehingga nggak terima beliau dicacimaki gitu. Asli enggak! Saya kesal karena para pekicau itu hanya mau membaca apa yang mereka mau baca. Sama seperti kesal karena memperoleh broadcast message atau email atau sms berantai, dimana si pengirim tidak mau sedikit berupaya konfirmasi kebenaran, yang belakangan ternyata salah. Kalau tidak merugikan pihak lain sih mungkin nggak papa, anggap saja iseng tapi jika lantas ada yang merasa tersakiti lalu menuntut kita atas pesan-pesan itu bagaimana?

Seruan Pikir Sebelum Publish dari MbakDos ini merupakan pengingat bagi saya juga untuk berhati-hati dalam menuliskan sesuatu di tempat yang bisa diakses umum, termasuk disini, Facebook, Twitter, Plurk dan jaringan sosial lainnya.

My Little Baker Wannabe

Setiap kali saya bikin kue, Cinta selalu mau “bantu”. Awalnya sih selalu saya ijinkan, maksudnya supaya jadi pengalaman yang menyenangkan berdua. Biasanya dia saya kasih tugas megangin mixer atau memasukkan tepung ke dalam adonan yang sudah dimixer. Tapi ternyata belum cukup buat Cinta. Lama-lama dia mulai mencampur apa yang tidak seharusnya atau belum waktunya dicampur. Jadinya… Rusuuuuuuh *jambakjambakrambut*

Sering juga dia minta dibuatkan kue yang akhirnya nggak dimakan. Akhirnya saya iseng browsing resep kue yang gampang dibuat untuk anak dan bahannya sedikit dan ketemulah situs Cooking With Kids. Kali ini mencoba buat yang paling mudah, yaitu Barbie’s Pink Party Cake dengan resep sebagai berikut:

Barbie’s Pink Party Cake

Bahan-bahan (sudah saya modifikasi):

  • 5 sdm tepung terigu (saya pakai Segitiga Biru)
  • 1/4 sdk teh baking powder
  • 1/8 sdk teh garam
  • 1/4 sdk teh vanila bubuk
  • 5 sdk teh gula
  • 4 sdk teh minyak sayur
  • 8 sdk teh susu cair rasa strawberry (saya pakai Frisian Flag Strawberry)

Cara Membuat:

  1. Panaskan oven pada suhu 180 der C.
  2. Olesi loyang kecil bentuk hati dengan margarin, alasi dengan kertas roti.
  3. Campur semua bahan menjadi satu
  4. Aduk hingga rata
  5. Tuang adonan ke dalam loyang.
  6. Panggang selama 15-20 menit.

Hasilnya lumayan memuaskan, manis walaupun rasanya tepungnya kuat banget. Itupun setelah dihias, tiup lilin dan dipotong juga nggak dimakan sama Cinta dan si kue berakhir di perut emaknya. Tapi Cinta suka saat-saat dia diijinkan “membuat” sendiri kuenya. Mencampur dan mengaduk bahan, menunggu kuenya matang di depan oven, menghias kue. Yah, siapa tahu kelak Cinta bisa jadi pembuat kue andal dan sukses dengan toko kuenya sendiri :D

Pemuda Kecil Itu

Namanya Irvan*, waktu itu usianya 10 tahun, kelas 4 SD swasta ternama di Surabaya. Saya mengenalnya 7 tahun yang lalu saat masih bekerja sebagai asisten di lembaga konsultasi Psikologi. Dia klien kami, dibawa ibunya karena obsesif impulsif terhadap AC (iya, AC yang Air Conditioner itu), mencuri, berbohong, memberontak, bertengkar dengan teman-temannya, nilai sekolah jelek.

Tidak mudah bagi saya mendekati Irvan saat itu. Penolakan demi penolakan saya terima. Di satu sesi terapi tiba-tiba ia lari keluar ruangan dan setelah mencari kemana-mana ternyata duduk di salah satu sudut gedung untuk mengamati kompresor AC. Di sesi lain hanya ingin menggambar AC, bercerita tentang AC dan berlangsung selama 1 jam. Kadang ia mogok, diam duduk di sudut ruangan tanpa melakukan apa-apa. Butuh waktu cukup lama sampai ia merasa nyaman dengan saya. Dan ketika waktu itu tiba sesi terapi mendadak menjadi mudah dan menyenangkan.

Ia pun mulai berkisah. Mama papanya tak akur di rumah, papanya acuh tak acuh atas mama dan dirinya. Sedangkan mamanya terlalu sibuk dengan masalah rumah tangganya. Sementara bocah malang yang sehari-hari diasuh neneknya ini dituntut untuk selalu bersikap sesuai dengan keinginan orangtuanya. Hardikan, kata-kata “goblok”, “nakal” kerap ia terima begitu juga hukuman fisik saat tidak mau mengikuti kata-kata papa dan mama.

Sesi terapi pun selalu menjadi hal yang ia nantikan kata mamanya. “Kok bisa sih selalu nyariin mba? Sama saya aja nggak begitu.” tanyanya suatu ketika. Bahkan kadang Irvan berusaha mengulur waktu selesainya terapi. Sampai akhirnya ia menjadi posesif. Saat bersamanya, saya tidak boleh berbicara dengan orang lain, menerima telpon. Begitupun dia tidak mau didekati oleh siapa-siapa bahkan atasan saya sekalipun. Irvan bisa mendadak ngambek ketika kami berjalan-jalan di area kampus dan saya menyapa satu dua orang teman.

Saya terpaksa berpisah dengan Irvan walaupun terapinya belum selesai. Orangtuanya tak mampu lagi membayar biaya terapi. Atasan saya menyerahkan Irvan ke grup mahasiswa yang melakukan terapi gratis di bawah bimbingannya dan itu tidak termasuk saya *mahasiswamatre*. Tapi kemajuan Irvan saat itu cukup menggembirakan. Obsesinya terhadap AC sudah mulai berkurang, ia tidak lagi bermasalah di sekolah. Bahkan ketika kami mengunjunginya di sekolahnya ia tampak bangga dan senang sekali. Irvan juga mulai mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Sesi terakhir kami diwarnai ketegangan emosi. Ia menyebut saya jahat, tidak sayang kepadanya. Dia bilang benci sama saya. I feel him. I really do. Saya hanya bisa minta maaf dan mengatakan saya tidak berniat meninggalkannya. Tapi ia terlanjur marah.

Setiap kali melihat Irvan saya seakan melihat diri saya belasan tahun sebelumnya. Saat saya masih seumur Irvan. Luka hati yang sama, pola didik keluarga yang sama, orangtua yang berpisah. Hanya saja saya jauh lebih beruntung dari Irvan. Hari ini saya sedang mengingatnya, pertemuan dengan Irvan adalah salah satu hal yang memberi banyak pelajaran bagi saya. Semoga saat ini ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.