Akhir minggu kemarin saya bertemu dengan 2 orang teman lama. Sudah hampir setahun saya tidak bertemu dengan mereka, komunikasi yang kami lakukan via telfon, sms atau ym pun hanya basa basi menanyakan keadaan. Sekedar mempertahankan keberadaan kami.
Terakhir bertemu dengan mereka, saya yang sedang dalam keadaan terpuruk dan mereka duduk di samping saya. Mendengarkan, memeluk dan membesarkan hati saya. Tapi kali ini ternyata giliran saya yang mendengarkan dan membesarkan hati mereka.
Teman-teman saya itu adalah 2 orang wanita lajang, lulusan S2 universitas ternama di kota kami, sukses dalam karir, modis dan sangat berkecukupan secara materi. Sore itu mereka datang dengan baju terusan cantik, make up lengkap dan harum parfum menguar dari tubuh mereka. Sedangkan saya hanya memakai polo shirt, jeans dan dandanan yang sudah luntur karena berkeringat mengejar si kecil di playground. Saya mulai merasa rendah diri. Sampai mereka mulai bercerita. Mengisahkan perjalanan mereka selama ini yang telah banyak saya lewatkan.
Hidup mereka yang saya anggap begitu menakjubkan ternyata sangat rumit. Hubungan pertemanan dengan seorang lagi sahabat kami nyaris rusak karena masalah laki-laki. Salah satu dari mereka ternyata telah menikah dengan lelaki beristri yang berbeda agama dan tidak diperbolehkan memiliki anak oleh keluarga sang suami. Teman yang lain baru saja putus dari kekasihnya setelah 5 tahun berpacaran karena berbeda suku dan tidak disetujui oleh keluarga si lelaki. Teman satunya lagi yang menjadi topik bahasan kami sore itu justru lebih pelik lagi kisahnya.
Saya tersentak dan sedih. Betapa kami dulu tumbuh bersama, berbagi tawa dan tangis. Untuk kemudian mulai berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Dan sekarang ternyata jalan yang kami tempuh sangat berliku dan berbatu. Hal-hal yang saya kagumi dari mereka ternyata tidak membuat mereka hidup bahagia.
Di penghujung hari, saya memeluk suami saya dan berkata kepadanya bahwa seburuk apapun yang terjadi di antara kami tahun kemarin ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan rumitnya kehidupan teman-teman saya. Sungguh, malam itu saya bersyukur memiliki sesuatu yang sangat berharga: kehidupan saya juga suami & anak saya.
Gambar dipinjam dari sini







kata orang jawa hidup itu sawang sinawang, orang sering terpaku pada gelasnya, bukan kopinya
padahal siapa tahu justru kopi yang enak disajikan di gelas kaca biasa
Saya pernah komen di satu artikel di ngerumpi, bahwa kadang kita menganggap orang yang secara penampilan dan materi membuat kagum, kehidupan mereka akan lebih mudah dan bahagia dari kita.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu
iya, saya baru sadar belakangan ini. setelah banyak mengeluh tentang banyaknya cobaan yang harus saya hadapi.
wah.. bagus. ternyata kesulitan kita tidak sebesar dan seberat kesulitan orang lain.
yup, kadang ketika sedang diberi ujian kita merasa diri kita lah yang paling malang tapi kalau mau melihat ke samping kiri, kanan dan bawah masih banyak yang kurang beruntung daripada kita.
makasih ya udah mampir